Anda di halaman 1dari 22

SIKLUS BIOGEOKIMIA

Disusun untuk Memenuhi Tugas Individu pada Mata Kuliah


Mikrobiologi Tanah yang Diampu oleh Drs. Agung Suprihadi, M. Si dan
Dra. Susiana Purwantisari, M. Si

Oleh Kelompok 1 :

Dita Kusumawa W.
Erika Khusnul K.
Aniza Rachmawati
Ghaida Afra A.
Setiawan Wicaksono

24020113120028
24020113120038
24020113120044
24020113130082
24020113140103

DEPARTEMEN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN MATEMATIKA
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala
limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul Siklus Biogeokimia. Penyusunan makalah ini merupakan salah satu tugas dan
persyaratan untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Mikrobiologi Tanah di Universitas
Diponegoro.
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Bapak Drs. Agung Suprihadi, M.
Si dan Ibu Dra. Susiana Purwantisari, M. Si selaku dosen pengampu pada mata kuliah
Mikrobiologi Tanah yang telah memberikan banyak bimbingan dan arahan kepada kami
dalam penyusunan makalah ini. Tidak lupa peulis juga mengucapkan terima kasih
kepada semua pihak yang telah membantu dan memberikan dukungan pada penulis dalam
proses penyusunan makalah yang berjudul Siklus Biogeokimia. Demikian makalah ini
kami susun sebagai syarat tugas Fikologi, semoga dapat memberikan manfaat kepada
para pembaca dan bisa dijadikan referensi.
Semarang, September 2016

Penulis

DAFTAR ISI

ii

HALAMAN JUDUL................................................................................................i
KATA PENGANTAR..............................................................................................ii
DAFTAR ISI...........................................................................................................iii
1.1 Latar Belakang.........................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah....................................................................................2
1.3 Tujuan......................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN.........................................................................................3
2.1 Siklus Karbon (C)....................................................................................3
2.2 Siklus Fosfor (P) .....................................................................................5
2.2 Siklus Nitrogen (N) ..............................................................................10
2.2 Siklus Sulfur (S) ...................................................................................14
SIMPULAN...........................................................................................................18
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................19

iii

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Semua yang ada dibumi baik makhluk hidup maupun benda mati tersusun
oleh materi. Materi ini tersususn atas unsur-unsur kimia antara lain karbon (C),
fosfor (P), nitrogen (N) dan sulfur (S). Unsur-nsur kimia tersebut dimanfaatkan
produsen untuk membentuk bahan organik dengan bantuan matahari atau energi
yang berasal dari reaksi kimia. Bahan organik yang dihasilkan merupakan sumber
energi bagi organisme. Proses makan dan dimakan pada rantai makanan
mengakibatkan aliran materi dari rantai makanan yang satu ke rantai yang lain.
Walaupun makhluk hidup dalam satu rantai makanan mati, aliran materi akan
tetap berlangsung terus. Karena makhluk yang mati tersebut diurai oleh
dekomposer yang akhirnya akan masuk lagi ke rantai makanan berikutnya.
Demikian interaksi terjadi secara terus menerus sehingga membentuk suatu aliran
energi dan daur materi.
Materi yang menyusun tubuh organisme berasal dari bumi. Berbagai
ekosistem dihubungkan satu sama lain oleh proses-proses biologi, kimia dan
fisika. Ekosistem dari keseluruhan yang ada disebut biosfer. Biosfer terdiri dari
semua organisme hidup

dan lingkungan biosfer membentuk kulit tipis

disekeliling bumi. Siklus biogeokimia atau siklus organik anorganik adalah siklus
unsur atau senyawa kimia yang mengalir dari komponen abiotik ke biotik dan
kembali lagi ke komponen abiotik.

Siklus unsur-unsur tersebut tidak hanya

melalui organisme, tetapi juga melibatkan reaksi-reaksi kimia dalam lingkungan


abiotik.
Makhluk hidup terutama tumbuhan ikut mendapat pengaruh yang cukup
signifikan dari suplai hara dan energi. Di alam semua elemen-elemen kimiawi
dapat masuk dan keluar dari sistim untuk menjadi mata rantai siklus yang lebih
luas dan bersifat global. Namun demikian ada suatu kecenderungan sejumlah
elemen beredar secara terus menerus dalam ekosistem dan menciptakan suatu

siklus internal. Siklus ini dikenal sebagai siklus biogeokimia kaurena prosesnya
menyangkut perpindahan komponen buka jasad (geo) ke komponen jasad (bio)
dan kebalikannya. Siklus biogeokimia pada akhirnya cenderung mempunyai
mekanisme umpan-balik yang dapat mengatur sendiri yang menjaga siklus itu
dalam keseimbangan. Berdasarkan latar belakang tersebit maka disusunlah
makalah yang berjudul Siklus Biogeokimia.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1

Bagaimana terjadinya siklus karbon?

1.2.2

Bagaimana terjadinya siklus fosfor?

1.2.3

Bagaimana terjadinya siklus nitrogen?

1.2.4

Bagaimana terjadinya siklus sulfur?

1.3 Tujuan
1.3.1

Menjelaskan terjadinya siklus karbon.

1.3.2

Menjelaskan terjadinya siklus fosfor.

1.3.3

Menjelaskan terjadinya siklus nitrogen.

1.3.4

Menjelaskan terjadinya siklus sulfur.

BAB II
PEMBAHASAN

Siklus biogeokimia atau siklus anorganik adalah siklus unsur atau senyawa
kimia yang mengalir dari komponen abiotik ke biotik dan kembali lagi ke
komponen abiotik. Siklus unsur unsur tersebut tidak hanya melalui organisme
tetapi juga melibatkan reaksi-reaksi kimia dalam lingkungan abiotik sehingga
disebut siklus biogeokimia. Biogeokimia adalah pertukaran atau perubahan yang
terus menerus anata komponen biosfer yang hidup dengan tak hidup (Suyitno,
2009).
2.1 Siklus C (Karbon)
Siklus karbon (C) dalam ekosistem adalah proses pemanfaatan CO 2 di
udara untuk keperluan fotosintesis tumbuhan dan pembentukan CO2 kembali
sebagai hasil dari proses respirasi makhluk hidup. CO 2 atau karbon dioksida
merupakan gabungan dari satu molekul karbon dan 2 molekul oksigen. CO2
merupakan gas penyusun atmosfer yang ditemukan dalam jumlah sedikit yaitu
sekitar 0.03%. Kadar CO2 di atmosfer berbanding terbalik dengan banyaknya
tumbuhan hijau yang ada disekitarnya. Hal ini disebabkan karena CO 2 merupakan
komponen utama dalam proses fotosintesis tumbuhan (Firmansyah, dkk., 2009).
Pengertian lain dari siklus karbon yaitu siklus biogeokimia dimana karbon
dipertukarkan antara biosfer (pada makhluk hidup), geosfer (di dalam bumi),
hidrosfer (di air), dan atmosfer bumi (di udara). Dalam siklus ini terdapat empat
reservoir karbon utama yang dihubungkan oleh jalur pertukaran. Reservoirreservoir tersebut adalah atmosfer, biosfer teresterial (biasanya termasuk pula
freshwater system dan material non-hayati organik seperti karbon tanah (soil
carbon), lautan (termasuk karbon anorganik terlarut dan biota laut hayati dan nonhayati), serta sedimen (termasuk bahan bakar fosil). Pergerakan karbon,
pertukaran karbon antar reservoir, terjadi karena proses-proses kimia, fisika,
geologi, dan biologi yang bermaca-macam. Lautan mengadung kolam aktif
karbon terbesar dekat permukaan bumi, namun demikian laut dalam bagian
3

kolam ini mengalami pertukaran yang lambat dengan atmosfer (Kistinnah dan
Lestari, 2006).

Gambar 2.1 Siklus Karbon


Siklus karbon diawali dengan pembentukan karbon (CO2) di udara. CO2
dapat terbentuk karena 2 hal yaitu aktivitas organisme dan aktivitas alam.
Aktivitas organisme termasuk respirasi, dekomposisi makhluk hidup yang mati,
pembakaran batu bara, asap pabrik dll. serta aktivitas alam seperti erupsi vulkanis.
Semua aktivitas tersebut merupakan sumber CO 2 di alam ini. Terlalu banyak CO 2
di udara akan menyebabkan efek rumah kaca. CO 2 di udara kemudian
dimanfaatkan oleh tumbuhan untuk proses fotosintesis. Hasil akhir proses
fotosintesis adalah senyawa organik berupa oksigen dan glukosa. Oksigen yang
dihasilkan kemudian digunakan oleh manusia dan hewan untuk bernafas. Proses
pernafasan manusia dan hewan menghasilkan H2O dan CO2. CO2 tersebut
kemudian dimanfaatkan oleh tumbuhan kembali dan begitu seterusnya.
Sedangkan glukosa hasil dari fotosintesis merupakan sumber energi bagi
tumbuhan untuk pertumbuhannya. Kemudian, senyawa organik dari tumbuhan ini
digunakan oleh organisme lainnya (manusia, hewan) melalui rantai makanan.
Selain sebagai sumber energi, senyawa organik tersebut sebagian disimpan dalam

tubuh organisme. Senyawa organik pada tumbuhan banyak terkandung dalam


batang. Adapun pada manusia dan hewan, bahan organik banyak terdapat pada
bagian tulang. Jika organisme mati, senyawa karbon akan diuraikan dan
diendapkan menjadi batuan karbonat dan kapur. Jika tersimpan dalam perut bumi
dalam jangka waktu yang sangat lama, senyawa karbon sisa organisme mati dapat
menghasilkan bahan bakar fosil (minyak bumi). Akhirnya oleh kegiatan manusia
bahan bakar fosil tersebut kembali membebaskan CO2 ke udara (Subardi, dkk.,
2009).
Pada ekosistem air, pertukaran CO2 di air dengan di atmosfer berjalan
secara tidak langsung. CO2 berikatan dengan air membentuk asam karbonat yang
akan terurai menjadi ion bikarbonat. Bikarbonat adalah sumber karbon bagi alga
yang memproduksi makanan untuk diri mereka sendiri dan organisme heterotrof
lain. Begitu pula sebaliknya, saat organisme air berespirasi CO2 yang mereka
keluarkan menjadi bikarbonat. Proses timbal balik fotosintesis dan respirasi
makhluk hidup merupakan sumber utama CO2. Tinggi rendahnya kadar CO2 dan
O2 di atmosfer secara berkala disebabkan oleh penurunan aktivitas fotosintesis.
Semakin banyak populasi manusia dan hewan, maka kadar CO 2 dalam udara
semakin meningkat. Untuk menjaga keseimbangan kadar CO2 dan O2 maka harus
diimbangi dengan penanaman tumbuh-tumbuhan sebagai penghasil O2 (Suwarno,
2002).

2.2 Siklus P (Fosfor)


Fosfor memainkan peran utama di dalam metabolisme biologis.
Dibandingkan dengan mikro nutrien lain yang dibutuhkan oleh biota fosfor
memiliki kemelimpahan minimum dan umunya merupakan unsur pertama
pembatas produktivitas biologis. Orthofosfat (PO43-) merupakan bentuk fosfat
anorganik terlarut yang secara langsung dapat digunakan. Fosofor dengan
proporsi yang cukup besar di perairan tawar, terikat dalam fosfat organic dan selsel penyusun organisme hidup ataupun mati, serta di dalam atau diabsorbsi
menjadi koloid. Fosfor memasuki perairan tawar melalui presipitasi atmosfer dari
limpasan permukaan dan dari air tanah (Kanti, 2006).
5

Konsentrasi fosfor terlarut dan total danau oligotrofik menunjukan variasi


yang kecil dengan meningkatnya kedalaman, sedangkan di danau eutrofik yang
dengan profil oksigen elinograde yang kuat, pada umumnya menunjukan suatu
peningkatan yang sangat jelas kandungan fosfor di hipolimnion bagian bawah.
Bentuk fosfor yang meningkat di hipolimnion, sebagian besar dalam bentuk
terlarut pada bagian yang dekat antarmuka air sedimen. Pertukaran fosfor
melintasi antar muka air sedimen diatur oleh interaksi reduksi-oksidasi (redoks)
yang tergantung pada pasokan oksigen, kelarutan mineral, mekanisme sorptif,
aktivitas metabolisme bakteri dan fungi, serta turbulensi dari aktivitas biotik dan
fisik. Fosfor terlarut dapat terakumulasi dalam jumlah yang cukup besar di
hipolimnion anaerob. Dengan adanya sirkulasi musim gugur, besi fero dengan
segera dioksidasi dan mengendapkan banyak fosfat sebagai feeri fosfat.
Metebolisme bakteri dari bahan organic merupakan mekanisme utama konversi
fosfor organic menjadi fosfat di dalam sedimen, serta menciptakan kondisi
tereduksi yang diperlukan untuk pelepasan fosfat ke dalam air. Pergerakan fosfor
dari air di celah-celah sedimen dapat dipercepat oleh turbulensi fisik oleh biota
(Kanti, 2006). Tumbuhan air berakar mendapatkan fosfornya dari sedimen dan
dapat melepaskannya dalam jumlah yang cukup besar ke dalam air, baik selama
pertumbuhan aktif maupun selama proses menua dan mati. Kepadatan populasi
invertebrate penghuni sedimen yang tinggi seperti larva midge (serangga air)
dapat meningkatkan pertukaran fosfor melintasi antar muka air sedimen.
Studi siklus fosfor yang terbaru di wilayah trofogenik menunjukan bahwa
pertukaran fosfor di antara berbagai bentuknya seringkali cepat dan meliput
sejumlah lintasan yang kompleks. Sebagian besar sering di atas 95 %, fosfor
terikat di dalam fase partikel dari biota hidup terutama alga. Fosfor organic dari
seston perairan terbuka minimal terdiri dari dua fraksi utama yakni fosfor organic
terlarut dan koloid. Sedimentasi partikel mengakibatkan kehilangan fosfor secara
konstan dari wilayah trofogenik. Dengan demikian, harus ada pasokan fosfor baru
yang

memasuki

ekosistem

dalam

tahap

untuk

mempertahankan

atau

meningkatkan produktivitas. (Kanti, 2006).


Siklus fosfor lebih sederhana dibandingkan dengan siklus karbon atau
siklus nitrogen. Siklus fosfor tidak meliputi pergerakan melalui atmosfer, karena
6

tidak ada gas yang mengandung fosfor secara signifikan. Selain itu, fosfor hanya
ditemukan dalam satu bentuk fosfat (P043-) anorganik (pada air dan tanah) dan
yang diserap oleh tumbuhan dan digunakan untuk sintesis organik. Pelapukan
bebatuan secara perlahan-lahan menambah fosfat ke dalam tanah. Setelah
produsen menggabungkan fosfor ke dalam molekul biologis, fosfor dipindahkan
ke konsumen dalam bentuk organic. Fosfat organik dari hewan dan tumbuhan
yang mati diuraikan oleh dekomposer (pengurai) menjadi fosfat anorganik. Fosfat
anorganik yang terlarut di air tanah akan terkikis dan mengendap di sedimen. Oleh
karena itu, fosfat banyak terdapat di batu dan fosil. Fosfat dari batu dan fosil
terkikis dan membentuk fosfat anorganik terlarut di air tanah. Fosfat anorganik ini
kemudian akan diserap oleh akar tumbuhan lagi. Siklus ini berulang terus menerus
(Arfiati, 1989).
Menurut Pujianto (2011), daur fosfor meliputi beberapa tahapan meliputi:
1. Sebagian besar ketersediaan fosfor dalam tanah berasal dari pelapukan batuan
fosfat. Batuan tersebut lapuk oleh perubahan cuaca. Fosfat dari pelapukan
batuan fosfat meresap ke dalam tanah dan menyuburkan tanaman sekitarnya.

Gambar 2.2.1 Pelapukan batuan fosfat mengalirkan fosfat ke dalam tanah


2. Fosfat anorganik yang tersedia di dalam tanah diserap tumbuhan. Hewan tidak
dapat menyerap fosfat anorganik. Hewan hanya mampu menyerap fosfat

organik. Kebutuhan fosfor organik ini terpenuhi dengan cara memakan


tumbuhan melalui proses rantai makanan.

Gambar 2.2.2 Tumbuhan menyerap fosfat dari tanah dan hewan memakan
tumbuhan
3. Tumbuhan dan hewan yang mati, feses, dan urinnya akan terurai menjadi fosfat
organik. Bakteri menguraikan fosfat organik ini menjadi fosfat anorganik.
Fosfat ini akan tersimpan ke dalam tanah kembali dan diserap oleh tumbuhan.

Gambar 2.2.3 Jasad mati makhluk hidup terurai menjadi fosfat anorganik

4. Di dalam ekosistem air, juga terjadi daur fosfor. Fosfat yang terlarut di dalam
air diserap oleh ganggang dan tumbuhan air. Ikan-ikan mendapatkan fosfat
melalui rantai makanan. Dekomposer menguraikan organisme air yang mati
serta hasil ekskresinya menjadi fosfat anorganik.

Gambar 2.2.4 Fosfat larut dalam air menyuburkan ekosistem air


5. Selain hasil urai dekomposer, sumber fosfat dalam air berasal dari pelapukan
batuan mineral (endapan batuan fosfat, fosil tulang) yang hanyut di perairan.
Fosfat yang terlarut di lautan dalam akan membentuk endapan fosfor. Endapan
ini tidak dapat dimanfaatkan lagi karena tidak ada arus air di perairan dalam.
Fosfat yang terlarut di perairan dangkal teraduk oleh arus air sehingga
menyuburkan ekosistem. Ekosistem yang subur menjadi tempat hidup bagi
banyak biota air.

Gambar 2.2.6 Fosfat mengendap di dasar perairan


9

6. Di tempat tertentu, terjadi penimbunan fosfor karena penumpukan kotoran


burung guano. Burung guano adalah spesies burung laut yang memangsa ikanikan laut. Gerombolan burung ini membawa kembali fosfat dari laut menuju
darat melalui feses.

Gambar 2.2.7 Fosfat perairan kembali ke darat oleh aktivitas burung guano
2.3 Siklus N (Nitrogen)
Nitrogen merupakan elemen yang sangat esensial, menyusun bermacammacam persenyawaan penting, baik organik maupun anorganik. Ketersediaan
nitrogen dialam berada dalam beberapa bentuk persenyawaan, yaitu berupa: N 2
(72 % volume udara), N2O, NO, NO2, NO3 dan NH4+. Di dalam tanah, lebih dari
90% nitrogen adalah dalam bentuk N-organik. Di alam terjadi siklus N sebagai
bagian proses aliran materi. Persenyawaan nitrogen di luar tubuh organisme lebih
banyak sebagai N-anorganik. Sebagian berupa anion dan kation yang larut dalam
air, berada dalam sistem tanah. Sebagian lain persenyawaan nitrogen berada
dalam fase gas di udara. Terjadi perubahan siklis antara fase N-anorganik dan Norganik, yang melibatkan hewan, tumbuhan, jamur dan mikro organisme lain dan
faktor lingkungan abiotiknya (Suyitno, 2009).
Tumbuhan memperoleh material masukan yang sebagian besar berupa
kation maupun anion (N-anorganik) seperti NO3-, NH4+ dan urea. Pada keadaan
tertentu, tumbuhan dapat memperoleh pasokan N dari senyawa N-organik
sederhana

berupa

asam-asam

amino

tertentu.

Tumbuhan

tidak

dapat

memanfaatkan atau memfiksasi gas N2 udara secara langsung, kecuali kelompok


10

tumbuhan yang bersimbion dengan baktaeri pengikat zat lemas. Selanjutnya Nanorganik yang diserap akan dikonversi atau dimetabolisir di dalam sel menjadi
berbagai bentuk persenyawaan N-organik, sesuai kebutuhannya. Metabolisme N
penting dalam jaringan tumbuhan menyangkut : 1) asimilasi sumber nitrogen, 2)
sintesis asam amino, 3) sintesis amida dan peptida serta 4) sintesis dan
perombakan protein. Pada tumbuhan tinggi umumnya, sumber terpenting nitrogen
adalah ion nitrat (NO3=) yang diambil dari larutan tanah (Suyitno, 2009).
Di alam dikenal ada banyak bakteri terlibat dalam konversi nitrat menjadi
amonia, atau sebaliknya. Proses-proses pengubahan dari amonia menjadi nitrat
disebut nitrifikasi. Sebaliknya, terjadi peristiwa pengubahan nitrat , nitrit menjadi
amonia atau N2 yang disebut denitrifikasi. Proses nitrifikasi melibatkan bakteri
nitrosomonas dan nitrobakter. Pada proses pembusukan dari senyawa N-organik,
akan dihasilkan ion-ion amonia, yang prosesnya disebut amonifikasi. Menurut
Suyitno (2009) menyatakan beberapa proses yang terjadi pada siklus Nitrogen
meliputi:
1. Fiksasi N
Umumnya tumbuhan tidak dapat memanfaatkan nitrogen secara langsung
hanya beberapa tumbuhan rendah dan beberapa jenis bakteri yang mampu
mengikat N2 sebagai sumber nitrogennya, yakni dari kelompok algae dan bakteri
zat lemas. Bakteri-bakteri zat lemas (N2) sebagian hidup bebas, dan sebagian
hidup bersimbiosis dengan tumbuhan tertentu. Bakteri yang bebas, sebagian hidup
secara aerob (misal Azotobakter), dan anaerob (seperti Clostridium pasteurium).
Bahkan

ada

yang

autotrafik

yakni

melakukan

khemosintesis,

seperti

Rhodospirallum rubrum. Sedangkan bakteri yang bersimbion adalah Rhizobium


sp. Rhizobium bersimbion pada akar Leguminosae, yakng meliputi 3 familia
yakni Papilionaceae (berbunga kupu-kupu), Caesalpindaceae (bunga berbendera)
dan Mimosaceae (berbunga bongkol).
Mekanisme Fiksasi oleh Rhizobium di dalam bintil akar yang merupakan
tempaat bersimbion bakteri bintil dengan akar inang, terdapat pigmen, yang oleh
Virtanen disebut Leg-hemoglobin. Tetapi pigmen ini tidak dibentuk oleh bakteri
dan anabaena yang juga pengikat zat lemas. Dalam proses ini juga dibutuhkan
Molibdenum (Mo) dan kobalt (Co). Co menjadi bagian vitamin B12 yang diduga

11

sangat penting pada pembentukan leg-hemoglobin. Konversi N2 menjadi NH4+


terjadi secara bertahap. Sebagai produk awal fiksasi N2 adalah hidroksilamin
(NH2OH). Di samping itu pada bintil ditemukan asam oksaloasetat (OAA), asam
iminosuksinat dan asam amino aspartat sebagai produk yang disekresikan. NH 4+
yang terbentuk dikeluarkan dari bakterioid ke sitoso diubah menjadi asam
glutamat, senyawa amida seperti glutamin atau asparagin, atau senyawa yang kaya
akan nitrogen yang disebut ureida. Sel-sel akar diluar struktur bintil membantu
mentranspor amida atau ureida yang selanjutnya akan ditranspor ke pucuk.
Organisme non-bakteri yang mempu mengikat N2 udara bebas adalah dari
golongan Cyanobakter (blue-green algae), yaitu Nostoc sp dan Anabaena.
Anabaena ini ada yang bersimbion dengan azollae (paku air), disebut Anabaena
azollae. Ada juga yang bersimbion pada akar pakis haji (Cycas rumphii) yang
disebut Anabaena cycadae.
2. Asimilasi
Tanaman mendapatkan nitrogen dari tanah melalui absorbsi akar baik dalam
bentuk ion nitrat atau ion amonium. Sedangkan hewan memperoleh nitrogen dari
tanaman yang mereka makan. Tanaman dapat menyerap ion nitrat atau amonium
dari tanah melalui rambut akarnya. Jika nitrat diserap, pertama-tama direduksi
menjadi ion nitrit dan kemudian ion amonium untuk dimasukkan ke dalam asam
amino, asam nukleat, dan klorofil. Pada tanaman yang memiliki hubungan
mutualistik dengan rhizobia, nitrogen dapat berasimilasi dalam bentuk ion
amonium langsung dari nodul. Hewan, jamur dan organisme heterotrof lain
mendapatkan nitrogen sebagai asam amino, nukleotida dan molekul organik kecil.
Asimilasi merupakan Penyerapan dan penggabungan dengan unsur lain
membentuk zat baru dengan sifat baru. Senyawa Nitrat (NO 3)- diserap oleh
tumbuhan mengalami proses asimilasi menjadi bahan penyusun organ pada
tumbuhan.
3. Reduksi Nitrogen
Reaksi kedua dari proses reduksi nitrat adalah pengubahan nitrit menjadi
NH4. Nitrit yang ada di sitosol diangkut ke dalam kloroplas di daun atau ke dalam
proplastid di akar. Proses keseluruhan reduksi NO3- menjadi NH4 yaitu :
a. Reduksi Nitrat
Reaksi ini berlangsung di sitosol, enzim yang mengkatalis adalah nitrat
reduktase, enzim yang memindahkan dua elektron dari NADPH2, hasilnya
12

adalah nitrite, NAD (NADP) dan H2O. Nitrat reduktase adalh suatu enzim
besar dan kompleks yang terdiri dari FAD, satu sitokrom dan Molibdenum
(Mo) yang semuanya akan tereduksi dan teroksidasi pada waktu elektron
diangkut dari NADH2 ke atom nitrogen dalm NO3.
b. Reduksi Nitrit
Reaksi ini berlangsung di kloroplas (pada daun) atau pada proplastida (pada
akar), dengan enzim Nitrit reduktase. Meskipun Fd tereduksi merupakan donor
elektron yang khas bagi nitrit reduktase di daun.
4. Pengubahan NH4+ mejadi senyawa organik
NH4+ (ammonium) yang diserap langsung dari tanah atau yang dihasilkan
oleh fiksasi N2 tidak pernah dijumpai tertimbun dalam tubuh tumbuhan.
Ammonium ini bersifat racun, mungkin menghambat pembentukan ATP dalam
kloroplas maupun dalam mitokondria. Ammonium ini segera ditangkap oleh
asam glutamat untuk menjadi glutamin dengan enzim glutamin sintetase,
glutamin direaksikan dengan asam keto glutarat menjadi 2 molekul asam
glutamat. Untuk reaksi ini juga diperlukan elektron yang bersal dari Fd (dalam
kloroplas) dan NADH dalam proplastida dari sel-sel non-fotosintetik. Salah
satu dari kedua glutamate yang terbentuk diperlukan untuk mempertahankan
reaksi 1, sedang glutamat yang kedua dapat berubah langsung menjadi protein
lain yang diperlukan untuk sintesis protein, klorofil, asam nukleat dan lain-lain.
Glutamin dan asparagin menjadi senyawa nitrogen organik pertama yang
terbentuk, selanjutnya gugus NH2 dapat diberikan kepada keto karboksilat,
membentuk asam amino. Proses ini dinamakan transaminasi. Dengan
transaminasi berbagai asam amino dapat dibuat, tergantung pada keto
karboksilatnya.

13

Gambar 2.3 Gambar Siklus Nitrogen


2.4 Siklus S (Sulfur)
Unsur sulfur banyak terdapat dalam bentuk oksidanya serta dalam bentuk
sulfidanya. Unsur belerang yang diperlukan oleh tumbuh-tumbuhan adalah dalam
bentuk senyawa sulfatnya. Unsur ini lebih banyak terdapat di dalam tanah
daripada di atmosfer, sedangkan unsur nitrogen lebih banyak terdapat di atmosfer
daripada di dalam tanah. Unsur belerang yang terdapat di dalam tanah diubah oleh
bakteri menjadi bentuk sulfat yang larut dalam air kemudian digunakan oleh
tumbuh-tumbuhan untuk proses pertumbuhannya. Sulfur diserap oleh tanaman
dalam bentuk sulfat (SO42-) dan hanya sebagian kecil sulfur dalam bentuk gas SO 2
yang diserap langsung oleh tanaman dari tanah dan atmosfer.
Gas-gas oksida belerang dan gas H2S yang terdapat dalam lapisan atmosfer
banyak dihasilkan dari pembakaran minyak bumi. Gas-gas ini biasanya terlarut
dalam air hujan menjadi senyawa sulfat yang larut dalam air tanah. Senyawa
sulfat ini dapat berubah menjadi oksida belerangnya kembali dengan bantuan
lumut tertentu. Senyawa-senyawa sulfat yang larut dalam air tanah diambil oleh
tumbuhan selanjutnya diubah menjadi komponen pembentuk protein nabati.
Protein nabati dari tumbuhan yang telah mati akan diubah kembali oleh bakteri
menjadi belerang, oksida belerang, dan gas H2S yang terlarut dalam air tanah.
Senyawa sulfat dalam tanah dengan bantuan dari bakteri tertentu dapat

14

mengoksidasikan senyawa organik (yang berasal dari tumbuhan dan hewan yang
telah mati) yang terdapat dalam tanah melalui proses kimia berikut:
2RCH2OH + SO42-(aq) bakteri 2RCOO-+ 2H2O + H2S
CH2NH2COOH + SO42-(aq) bakteri H2S + 2HCO3-+ NH3
Badan sisa jasad renik ini diurai oleh berbagai jasad renik, akan terbentuk
pisahan yang mengandung sulfur, baik sebagai bahan yang diasimilasi oleh jasad
renik atau menjadi bahan yang diurai lebih lanjut oleh jasad renik lain sampai
akhirnya terbentuk hidrogen sulfida (H2S). Hidrogen sulfida ini dengan cepat
bereaksi dengan air dan oksigen atau dengan oksigen saja. Perubahan hidrogen
sulfida ini melibatkan beberapa bakteri. Bakteri sulfur yang tidak berwarna dari
spesies Beggiatoa mengoksidasi hidrogen sulfida menjadi sulfur sedangkan
spesies Thiobacillus mengoksidasi sulfur menjadi sulfat, beberapa spesies lain
dari Thiobacillus dapat mengoksidasi sulfida menjadi sulfur. Reaksi ini
merupakan reaksi aerobik yang memerlukan kehadiran oksigen agar reaksi dapat
berjalan (Kormondy, 1969). Reaksi umum dari proses ini adalah:
2H2S + O2 Beggiatoa/Thiobacillus 2H2O + S2
S2 + 3O2 + 2H2O Thiobacillus 2H2SO4
Sumber sulfur lainnya adalah pelikan-pelikan yang mengandung S yang
jika mengalami pelapukan akan menghasilkan senyawa sulfida dan sulfat.
Senyawa sulfida untuk selanjutnya akan mengalami oksidasi menjadi sulfat.
Kemudian senyawa sulfat yang dihasilkan akan bergabung dengan sulfat yang
dihasilkan oleh penguraian jasad renik (penguraian sulfur organik). Senyawa
sulfat tanah ini selanjutnya dapat melalui satu atau lebih mekanisme berikut : a)
diserap oleh akar tanaman, b) direduksi menjadi sulfida, c) terlindi, dan d) dijerap
pelikan liat.
Pada lingkungan anaerobik, senyawa sulfat cenderung tidak mantap dan
direduksi menjadi senyawa sulfida dengan melibatkan beberapa bakteri yang
tergolong dalam jenis Desulfovibrio dan Desulfotomaculum (Masud, 1992:).
Reaksi umum untuk proses ini adalah:

15

SO42- S2Serapan sulfat oleh akar dan konsumsi oleh jasad renik pemakan senyawa sulfat
merupakan mekanisme yang efektif yang akan mengembalikan senyawa sulfat ke
dalam peredaran sulfur. Ketersediaan S dalam tanah tergantung pada beberapa
faktor terutama redoks potensial tanah, kandungan bahan organik, aktivitas
mikroorganisme tanah, kualitas air pengairan dan air hujan (Blair et.al., 1977).
Dalam keadaan anaerob seperti pada lahan sawah yang tergenang terjadi reduksi
sulfat menjadi sulfida (H2S) oleh bakteri Desulvovibrio desulfuricans, yang
selanjutnya bereaksi dengan ion Fe2+ dalam larutan dan membentuk ferro sulfida
(FeS) atau macknawite, kemudian bereaksi dengan sulfur (S) dan menghasilkan
FeS2 (ferro disulfida) dengan reaksi sebagai berikut :
1. Fe(OH)2 + H2S FeS + 2 H2O
2. FeS + S +e FeS2
Reaksi tersebut berkaitan dengan oksidasi bahan organik (elektron donor
atau proton donor) atau respirasi yang memerlukan alternatif elektron akseptor
(oksigen, nitrat, oksida mangan, besi, sulfat yang akan direduksi). Sulfat dalam
tanah aerob dapat tereduksi oleh bakteri membentuk H2S yang pada gilirannya
akan bereaksi dengan logam-logam berat menghasilkan sulfida-sulfida yang
sangat tidak larut. Senyawa organik yang dilepaskan eksudat akar dan mikroba
memegang peranan penting dalam menentukan ketersediaan ion sulfat dalam
tanah. Kimura et.al. (1991) menyatakan bahwa ion sulfat dalam tanah akan
direduksi oleh H2 yang berasal dari eksudat dan H 2 yang dilepaskan oleh bahan
organik. Sejumlah sulfur ditemukan pada horizon permukaan dalam bentuk S
organik. Secara umum S organik pada top soil permukaan lebih tinggi dari pada
subsoil.

16

Gambar. 2.4 Siklus Sulfur

17

SIMPULAN

1. Siklus karbon diawali dengan pembentukan karbon (CO2) di udara. CO2 dapat
terbentuk karena 2 hal yaitu aktivitas organisme dan aktivitas alam. CO 2
dibutuhkan oleh tumbuhan untuk proses fotosintesis, hasil akhir proses
fotosintesis adalah senyawa organik berupa oksigen dan glukosa. Oksigen yang
dihasilkan kemudian digunakan oleh manusia dan hewan untuk bernafas.
2. Siklus fosfat meliputi beberapa tahapan yaitu, pelapukan batuan fosfat
mengalirkan fosfat ke dalam tanah, tumbuhan menyerap fosfat dari tanah serta
hewan memakan tumbuhan, jasad mati makhluk hidup terurai menjadi fosfat
anorganik, fosfat larut dalam air menyuburkan ekosistem air, fosfat mengendap
di dasar perairan dan fosfat perairan kembali ke darat oleh aktivitas burung
guano. Siklus tersebut berulang terus.
3. Siklus nitrogen meliputi beberapa tahapan yaitu fiksasi nitrogen (yang
melibatkan beberapa bakteri aerob misal Azotobakter dan anaerob seperti
Clostridium pasteurium), asimilasi, reduksi nitrogen dan pengubahan NH4+
mejadi senyawa organic.
4. Siklus sulfur, sulfur diserap oleh tanaman dalam bentuk sulfat (SO42-) dan
hanya sebagian kecil sulfur dalam bentuk gas SO2 yang diserap langsung oleh
tanaman dari tanah dan atmosfer. Proses ini melibatkan reaksi anaerobik,
adapun bakteri sulfur yang berperan yaitu spesies Beggiatoa mengoksidasi
hidrogen sulfida menjadi sulfur dan spesies Thiobacillus mengoksidasi sulfur
menjadi sulfat, beberapa spesies lain dari Thiobacillus juga dapat mengoksidasi
sulfida menjadi sulfur.

DAFTAR PUSTAKA
18

Arfiati,Diana.1989.Komunitas-Komunitas Alga Perifiton di sungai Cikarangelan,


Cikampek Jawa Barat sebagai Tempat Pembuangan Limbah Air Pabrik
Pupuk Urea.ITB.Bandung.
Blair, G.J., C.P. Mamaril and E.O. Momuat. 1977. The Sulfat Nutrient of Rice.
Contr. Centr. Res. Inst. Agric. Bogor No. 42, 13p
Firmansyah R, Mawardi AH, Riandi MU. 2009. Mudah dan Aktif Belajar Biologi
1. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
Kanti,Atit.2006.Merga Candida Khamir Tanah Pelarut Fosfat yang Diisolasi dari
Tanah Kebon Biologi Wamena Papua.
Kimura, M., Y. Miura, A. Watanabe, T. Katch, and H. Haraguchi. 1991. Methane
emission from paddy field (part 1). Effect fertilization, growth stage and
midsummer drainage : Pot experiment. Environ.Sci.
Kistinnah I, Lestari ES. 2006. Biologi Makhluk Hidup dan Lingkungannya.
Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
Kormondy, E.J. 1969. Concept of Ecology. New Jersey : Prentice-Hall Inc.
Masud, P. 1992. Telaah Kesuburan Tanah. Bandung: Penerbit Angkasa
Pujianto, S. 2011. Biologi Menjelajah Dunia Biologi 1. Solo: Tiga Serangkai
Pustaka Mandiri
Subardi, Nuryani, Pramono S. 2009. Biologi 1. Jakarta: Pusat Perbukuan
Departemen Pendidikan Nasional.
Suwarno. 2002. Panduan Pembelajaran Biologi. Jakarta: Pusat Perbukuan
Departemen Pendidikan Nasional.
Suyitno. 2009. Metabolisme Nitrogen. Yogyakarta: Biologi FMIPA UNY.

19

Anda mungkin juga menyukai