Anda di halaman 1dari 15

PERKEMBANGAN ANGGARAN SEKTOR PUBLIK

Oleh:

ANDINI UTARI PUTRI (01022681519002)


SASKIA ()
KELAS BKU AKUNTANSI REGULER PAGI
PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU EKONOMI

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS SRIWIJAYA
FAKULTAS EKONOMI
2016

I.

PENDAHULUAN
Kinerja satuan organisasi/kerja banyak menjadi sorotan akhir-akhir ini, terutama sejak

timbulnya iklim yang lebih demokratis dalam pemerintahan. Rakyat mulai mempertanyakan
akan nilai yang mereka peroleh atas pelayanan yang dilakukan. Walaupun anggaran rutin dan
pembangunan yang dikeluarkan oleh pemerintah semakin membengkak, nampaknya
masyarakat belum puas atas kualitas jasa maupun barang yang diberikan.
Di samping itu, selama ini pengukuran keberhasilan maupun kegagalan dari satuan
organisasi/kerja dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya sulit untuk dilakukan secara
objektif. Kesulitan ini disebabkan belum pernah disusun suatu sistem pengukuran kinerja
yang dapat menginformasikan tingkat keberhasilannya.
Kesulitan lain adalah pengukuran tingkat kinerja satuan organisasi/kerja lebih
ditekankan kepada kemampuannya dalam menyerap anggaran. Dengan kata lain, satuan
organisasi/kerja akan dinyatakan berhasil apabila menyerap 100% anggaran pemerintah,
walaupun hasil maupun dampak yang dicapai dari pelaksanaan program tersebut masih
berada jauh di bawah standar. Oleh karena itu, sudah mendesak untuk disusun suatu sistem
pengukuran kinerja yang dapat memberikan informasi atas efektivitas dan efisiensi
pencapaian kinerja satuan organisasi/kerja.
Selama tiga dekade terakhir, belum pernah dikembangkan suatu standar pengukuran
kinerja satuan organisasi/kerja yang dapat memberikan informasi kepada pimpinan, apakah
satuan organisasi/kerja tersebut telah melaksanakan tugasnya sesuai dengan rencana yang
telah ditetapkan. Dengan kata lain, terjadi jurang yang sangat luas antara perencanaan satuan
organisasi/kerja dengan pengukuran kinerja atas perencanaan tersebut. Karenanya, perlu
dikembangkan suatu model pengukuran kinerja yang membantu memberikan informasi
apakah program yang dilaksanakan sesuai dengan rencana. Hal ini juga sekaligus mengubah
paradigma lama bahwa satuan organisasi/kerja yang sukses dinilai atas keberhasilan
penyerapan anggaran, dan bukan atas pencapaian tujuan yang pada akhirnya memuaskan
masyarakat banyak.
Untuk dapat menjawab pertanyaan akan tingkat keberhasilan satuan organisasi/kerja,
maka seluruh aktivitasnya harus dapat diukur. Pengukuran tersebut tidak semata-mata pada
masukan (input) dari kegiatan tetapi lebih ditekankan kepada keluaran, manfaat, dan dampak
dari kegiatan tersebut bagi masyarakat. Dengan kata lain, sistem pengukuran kinerja yang
merupakan elemen pokok dari laporan akuntabilitas satuan organisasi/kerja akan mengubah
paradigma pengukuran keberhasilan. Selama ini, keberhasilan suatu satuan organisasi/kerja
lebih ditekankan kepada kemampuannya dalam menyerap sumber daya (terutama anggaran)
sebanyak-banyaknya, walaupun hasilnya sangat mengecewakan.

Melalui pengukuran kinerja, keberhasilan satuan organisasi/kerja akan lebih dilihat


dari kemampuannya, berdasarkan sumber daya yang dikelolanya, untuk mencapai hasil sesuai
dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya.
II.

KAJIAN TEORI
A. Pengertian Pengukuran Kinerja
Kinerja

merupakan

gambaran

dari

pencapaian

pelaksanaan

suatu

kegiatan/program/kebijakan untuk mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan visi organisasi.


Menurut Mardiasmo (2002), sistem pengukuran kinerja sektor publik adalah suatu sistem
yang bertujuan untuk membantu manajer sektor publik menilai pencapaian suatu strategi
melalui alat ukur finansial dan nonfinansial. Sistem pengukuran kinerja ini dapat dijadikan
sebagai alat pengendalian organisasi. Maksud dilakukannya pengukuran kinerja sektor publik
antara lain:
1. Membantu memperbaiki kinerja pemerintah agar dapat berfokus pada tujuan dan sasaran
program unit kerja yangn pada akhirnya akan meningkatkan efisiensi dan efektivitas
organisasi sektor publik dalam memberikan layanan kepada masyarakat.
2. Ukuran kinerja sektor publik digunakan untuk pengalokasian sumber daya dan pembuatan
keputusan.
3. Untuk mewujudkan tanggung jawab publik dan memperbaiki komunikasi kelembagaan.
Selain itu, pihak legislatif menggunakan ukuran kinerja ini untuk menentukan
kelayakan biaya pelayanan (cost of service) yang dibebankan kepada masyarakat pengguna
jasa publik karena mereka tidak mau selalu ditarik pungutan tanpa adanya peningkatan
kualitas dan kuantitas dari pelayanan yang diterima tersebut.
Kinerja sektor publik bersifat multidimensional, sehingga tidak ada indikator tunggal
yang dapat digunakan untuk menunjukkan kinerja secara komprehensif. Berbeda dengan
sektor swasta, karena sifat output yang dihasilkan sektor publik lebih banyak
bersifat intangible output, maka ukuran finansial saja tidak cukup untuk mengukur kinerja
sektor publik. Oleh karena itu, perlu dikembangkan ukuran kerja non-finansial.

B. Tujuan Sistem Pengukuran Kinerja


Tujuan sistem pengukuran kinerja antara lain:
1.
2.

Untuk mengkomunikasikan strategi secara lebih baik (top down and bottom up).
Untuk mengukur kinerja finansial dan non-finansial secara berimbang sehingga dapat
ditelusuri perkembangan pencapaian strateginya.

3.

Untuk mengakomodasi pemahaman kepentingan manajer level menengah dan bawah serta

4.

motivasi untuk mencapai good congruence.


Sebagai alat untuk mencapai kepuasan berdasarkan pendekatan individual dan kemampuan
kolektif yang rasional.
C. Manfaat Pengukuran Kinerja
Berikut ini adalah manfaat dari pengukuran kinerja:
1. Memberikan pemahaman mengenai ukuran yang digunakan untuk menilai kinerja
manajemen.
2. Memberikan arah untuk mencapai target kinerja yang ditetapkan.
3. Untuk memonitor dan mengawasi pencapaian kinerja dan membandingkannya dengan
target kinerja serta melakukan tindakan kolektif untuk memperbaiki kinerja.
4. Sebagai dasar untuk memberikan penghargaan dan hukuman (reward and punishment).
5. Sebagai alat komunikasi antara bawahan dan pimpinan dalam rangka memperbaiki kinerja
organisasi.
6. Membantu mengidentifikasikan apakah kepuasan pelanggan sudah terpenuhi.
7. Membantu memahami kegiatan instansi pemerintah.
8. Memastikan bahwa pengambilan keputusan dilakukan secara obyektif.
D. Prinsip-prinsip Pemilihan Ukuran Kinerja
Berikut ini merupakan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih ukuran-ukuran
kinerja instansi yang sesuai dengan skema indikator:
Evaluasi kembali ukuran yang ada Informasi kinerja tetap dibutuhkan oleh
manajemen. Apabila skema indikator kinerja
sudah tidak berfungsi, maka manajemen akan
mengembangkan skema baru.
Mengukur kegiatan yang penting, Kinerja selalu berorientasi hasil. Ukuran hasil
tidak hanya hasil

sering diformulasikan dalam rasio keuangan.


Pencapaian hasil akan menunjukkan adanya
permasalahan. Hasil tersebut tidak akan

menunjukkan diagnosis hasil.


Pengukuran harus mendorong tim Pembagian proses pengukuran menciptakan
kerja yang akan mencapai tujuan
Pengukuran
perangkat

harus
yang

lingkungan tim kerja yang aktivitasnya

diarahkan pada pencapaian tujuan organisasi.


merupakan Agar efektif, sistem pengukuran harus
terintegrasi, diciptakan sebagai perangkat terintegrasi

seimbang dalam penerapannya

yang diperoleh dari strategi perusahaan.

Sebagian

besar

perusahaan

berusaha

meminimalkan biaya, meningkatkan kualitas,


mengurangi waktu pelaksanaan produksi, dan
menciptakan pengembalian investasi yang
wajar.
Pengukuran harus memiliki fokus Ukuran internal yang umum dipakai dalam
eksternal jika memungkinkan

sebuah organisasi perbandingan kinerja dari


tahun ke tahun. Suatu perbandingan tertentu
dapat dilakukan ke tingkatan mikro: divisi,
departemen, kelompok, bahkan individu.

E. Skala Pengukuran
Skala pengukuran dapat dibedakan menjadi empat, yaitu:
1. Skala Nominal
Skala nominal merupakan skala pengukuran yang paling rendah tingkatannya karena
dengan skala ini obyek pengukuran hanya dapat dikelompokkan berdasarkan ciri-ciri yang
sama, yang berbeda dengan kelompok lain. Kelompok-kelompok atau golongan tidak
dibedakan berdasarkan tingkatan, karena kelompok yang satu tidak dapat dikatakan lebih
rendah atau lebih tinggi tingkatannya dari pada kelompok yang lain, tetapi hanya sekedar
berbeda.
2. Skala Ordinal
Skala ini lebih tinggi tingkatannya atau lebih baik dari pada skala nominal karena selain
memiliki ciri-ciri yang sama dengan skala nominal, yaitu dapat mengolongkan obyek
dalam golongan yang berbeda, skala ordinal juga mempunyai kelebihan dari skala
nominal, yaitu bahwa golongan-golongan atau klasifikasi dalam skala ordinal ini dapat
dibedakan tingkatannya. Ini berarti bahwa suatu golongan dapat dikatakan lebih tinggi
atau lebih rendah dari pada golongan yang lain.
3. Skala Interval
Skala interval memiliki kelebihan yaitu mempunyai unit pengukuran yang sama, sehingga
jarak antara satu titik dengan titik yang lain, atau antara satu golongan dengan golongan
yang lain dapat diketahui.
4. Skala rasio
Skala rasio merupakan skala yang paling tinggi tingkatannya karena skala ini mempunyai
ciri-ciri yang dimiliki oleh semua skala di bawahnya. Skala rasio memiliki titik nol yang
sebenarnya yang berarti bahwa apabila suatu obyek diukur dengan skala rasio dan berada
pada titik nol, maka gejala atau sifat yang diukur benar-benar tidak ada.

F. Siklus Pengukuran Kinerja


Pengukuran kinerja dilakukan dengan melalui lima tahapan berikut ini:
1. Perencanaan strategi: siklus pengukuran kinerja dimulai dengan proses penskemaan
strategi, yang berkenaan dengan penetapan visi, misi, tujuan dan sasaran, kebijakan,
program operasional dan kegiatan/aktivitas.
2. Penciptaan indikator kinerja: penciptaan indikator kinerja dilakukan setelah perumusan
strategi. Indikator yang mudah adalah untuk aktivitas yang dapat dihitung, contohnya
adalah jumlah klaim yang diproses.
3. Mengembangkan sistem pengukuran kinerja: tahap ini terdiri dari tiga langkah, yaitu:
pertama, meyakinkan keberadaan data yang diperlukan dalam siklus pengukuran kinerja.
Kedua, mengukur kinerja dengan data yang tersedia dan data yang dikumpulkan. Ketiga,
penggunaan data pengukuran yang dihimpun, harus dipresentasikan dalam cara-cara yang
dapat dimengerti dan bermanfaat.
4. Penyempurnaan ukuran: pada tahap ini dilakukan pemikiran kembali atas indikator hasil
(outcomes) dan indikator dampak (impacts) menjadi lebih penting dibandingkan dengan
pemikiran kembali atas indikator masukan (inputs) dan keluaran (outputs).
5. Pengintegrasian dengan proses manajemen: bagaimana menggunakan ukuran kinerja
tersedian secara efektif merupakan tantangan selanjutnya. Penggunaan data organisasi
dapat dijadikan alat untuk memotivasi tindakan dalam organisasi.

G. Informasi yang Digunakan Untuk Pengukuran Kinerja


1. Informasi Finansial
Penilaian laporan kinerja finansial diukur berdasarkan pada anggaran yang telah dibuat.
Penilaian tersebut dilakukan dengan menganalisis varians (selisih atau perbedaan) antara
kinerja aktual dengan anggaran yang dianggarkan.
Analisis varians secara garis besar berfokus pada :
a. Varians pendapatan (revenue varians)
Varians pendapatan adalah semua penerimaan dalam bentuk peningkatan aktiva atau
penurunan utang dari berbagai sumber dalam periode tahun anggaran yang
bersangkutan.
b. Varians pengeluaran (expenditure variance)
Varians belanja rutin

Anggaran belanja rutin adalah anggaran yang disediakan untuk membiayai


kegiatan-kegiatan yang sifatnya lancar dan terus menerus yang dimaksudkan untuk
menjaga kelemahan roda pemerintahan dan memelihara hasil-hasil pembangunan.
Varians belanja investasi/modal (recurrent expenditure variance)
Belanja investasi/modal adalah pengeluaran yang manfaatnya cenderung melebihi
satu tahun anggaran dan akan menambah aset atau kekayaanpemerintah, dan
selanjutnya akan menambah anggaran rutin untuk biaya operasional dan
pemeliharaan.
Setelah dilakukan analisis varians, maka tahap selanjutnya dilakukan identifikasi
sumber penyebab terjadinya varians dengan menelusuri varians tersebut hingga level
manajemen paling bawah.
2. Informasi Nonfinansial
Informasi nonfinansial dapat menambah keyakinan terhadap kualitas proses pengendalian
manajemen. Teknik pengukuran kinerja yang komprehensif dan banyak dikembangkan
oleh berbagai organisasi dewasa ini adalah Balanced Scorecard. Metode Balanced
Scorecard merupakan pengukuran kinerja organisasi berdasarkan aspek finansial dan juga
aspek nonfinasial. Balanced Scorecard dinilai cocok untuk organisasi sektor publik
karena Balanced Scorecard tidak hanya menekankan pada aspek kuantitatif-finansial,
tetapi juga aspek kualitatif dan nonfinansial. Hal tersebut sejalan dengan sektor publik
yang menempatkan laba bukan hanya sebagai ukuran kinerja utama, namun pelayanan
yang cenderung bersifat kualitatif dan nonkeuangan (Mahmudi, 2007). Pengukuran
dengan metode ini melibatkan empat aspek, antara lain :
a. Perspektif finansial (financial perspective)
Perspektif finansial menjadi perhatian dalam balanced scorecard karena ukuran
keuangan merupakan ikhtisar dari konsekuensi ekonomi yang terjadi yang disebabkan
oleh pengambilan keputusan. Aspek keuangan menunjukkan apakah perencanaan,
implementasi, dan pelaksanaan dari strategi memberikan perbaikan yang mendasar.
Pengukuran kinerja keuangan mempertimbangkan adanya tahapan dari siklus
kehidupan bisnis, yaitu:
Growth (bertumbuh) : tahapan awal siklus kehidupan perusahaan dimana
perusahaan memiliki potensi pertumbuhan terbaik. Disini manajemen terikat
dengan komitmen untuk mengembangkan suatu produk/jasa dan fasilitas produksi,

menambah kemampuan operasi, mengembangkan sistem, infrastruktur, dan


jaringan distribusi yang akan mendukung hubungan global, serta membina dan
mengembangkan hubungan dengan pelanggan.
Sustain (bertahan) : tahapan kedua dimana perusahaan masih melakukan investasi
dan reinvestasi dengan mengisyaratkan tingkat pengembalian terbaik. Pada tahap
ini, perusahaan mencoba mempertahankan pangsa pasar yang ada, bahkan
mengembangkannya jika memungkinkan.
Harvest (menuai) : Tahapan ketiga dimana perusahaan benar-benar menuai hasil
investasi ditahap-tahap sebelumnya. Tidak ada lagi investasi besar, baik ekspansi
pembangunan kemampuan baru, kecuali pengeluaran untuk pemeliharaan dan
perbaikan.
b. Perspektif kepuasan pelanggan (customer perspective)
Dalam perspektif ini, perhatian perusahaan harus ditujukan pada kemampuan internal
untuk peningkatan kinerja produk, inovasi, dan teknologi dengan memahami selera
pasar. Dalam perspektif ini, peran riset pasar sangat besar. Perspektif pelanggan
memiliki dua kelompok pengukuran, yaitu:
Core measurement group, yang memiliki beberapa komponen pengukuran, yaitu:
Pangsa Pasar (market share) : pangsa pasar ini menggambarkan proporsi bisnis
yang dijual oleh sebuah unit bisnis di pasar tertentu. Hal itu diungkapkan
dalam bentuk jumlah pelanggan uang yang dibelanjakan atau volume satuan

yang terjual.
Retensi Pelanggan (Customer Retention) : menunjukkan tingkat dimana
perusahaan dapat mempertahankan hubungan dengan pelanggan. Pengukuran
dapat dilakukan dengan mengetahui besarnya presentase pertumbuhan bisnis
dengan pelanggan yang ada saat ini.
1) Akuisisi Pelanggan (Customer Acquisition) : pengukuran ini menunjukkan
tingkat dimana suatu unit bisnis mampu menarik pelanggan baru
memenangkan

bisnis

baru.

Akuisisi

ini

dapat

diukur

dengan

membandingkan banyaknya jumlah pelanggan baru di segmen yang ada.


2) Kepuasan Pelanggan (Customer Satisfaction) : pengukuran ini berfungsi
untuk mengukur tingkat kepuasan pelanggan terkait dengan kriteria
spesifik dalam value proportion.
Customer Value Proportion yang merupakan pemicu kinerja yang terdapat pada
Core value proportion didasarkan pada atribut sebagai berikut:

Product/service attributes yang meliputi fungsi produk atau jasa, harga, dan
kualitas. Perusahaan harus mengidentifikasikan apa yang diinginkan

pelanggan atas produk atau jasa yang ditawarkan.


Customer relationship adalah strategi dimana perusahaan mengadakan
pendekatan agar perasaan pelanggan merasa puas atau produk atau jasa yang

ditawarkan perusahaan.
Image and reputation membangun image dan reputasi dapat dilakukan melalui
iklan dan menjaga kualitas seperti yang dijanjikan.

c. Perspektif efisiensi proses internal (internal process efficiency)


Dalam hal ini perusahaan berfokus pada tiga proses bisnis utama yaitu:
Proses inovasi
Dalam proses penciptaan nilai tambah bagi pelanggan, proses inovasi merupakan
salah satu kritikal proses, dimana efisiensi dan efektifitas serta ketepatan waktu
dari proses inovasi ini akan mendorong terjadinya efisiensi biaya pada proses
penciptaan nilai tambah bagi pelanggan. Proses inovasi dapat dibagi menjadi dua
yaitu:

Pengukuran terhadap proses inovasi yang bersifat penelitian dasar dan terapan.
Pengukuran terhadap proses pengembangan produk.

Proses Operasi
Pada proses operasi yang dilakukan oleh masing-masing organisasi bisnis, lebih
menitikberatkan pada efisiensi proses, konsistensi, dan ketepatan waktu dari barang
dan jasa yang diberikan kepada pelanggan.
Pelayanan Purna Jual
Tahap terakhir dalam pengukuran proses bisnis internal adalah dilakukannya
pengukuran terhadap pelayanan purna jual kepada pelanggan. Pengukuran ini
menjadi bagian yang cukup penting dalam proses bisnis internal, karena pelayanan
purna jual ini akan berpengaruh terhadap tingkat kepuasan pelanggan.
d. Perspektif pembelajaran dan pertumbuhan (learning and growth perspective).
Kaplan (Kaplan, 1996) mengungkapkan betapa pentingnya suatu organisasi bisnis
untuk terus mempertahankan karyawannya, memantau kesejahteraan karyawan, dan

meningkatkan

pengetahuan

karyawan

karena

dengan

meningkatnya

tingkat

pengetahuan karyawan akan meningkatkan pula kemampuan karyawan untuk


berpartisipasi dalam pencapaian hasil ketiga perspektif diatas dan tujuan perusahaan.
Perspektif pembelajaran dan pertumbuhan organisasi merupakan faktor pendorong
dihasilkannya kinerja yang istimewa dalam tiga perspektif Balanced Scorecard.
e. Perspektif/Faktor yang Dinilai Misi atau Visi
Jenis informasi non-finansial dapat dinyatakan dalam bentuk variabel kunci.Variabel
kunci adalah variabel yang mengindikasikan faktor-faktor yang menjadi penyebab
kesuksesan organisasi. Karakteristik variabel kunci, yaitu :
Menjel
askan faktor pemicu keberhasilan dan kegagalan organisasi
Sangat volatile (mudah berubah) dan dapat berubah dengan cepat
Perubahannya tidak dapat diprediksi
Jika terjadi perubahan perlu diambil tindakan segera
Variabel tersebut dapat diukur, baik secara langsung maupun melalui ukuran
antara (surrogate). Sebagai contoh, kepuasan masyarakat tidak dapat diukur secara
langsung akan tetapi dapat dibuat ukuran antaranya, misalnya jumlah aduan,
tuntutan dan demonstrasi dapat dijadikan variabel kunci.

Contoh Variabel Kunci:


Dinas/Unit Kerja Variabel Kunci
Rumah Sakit dan Tingkat hunian kamar (kamar yang dipakai : jumlah total
hotel
Klinik Kesehatan
Perusahaan

kamar yang tersedia)


Jumlah pelannggan (masyarakat) yang dilayani per hari
KWH yang terjual

Listrik Negara
Perusahaan

Jumlah pulsa yang terjual

Telekomunikasi
Perusahaan Air Jumlah debit air yang terjual
Minum
DLLAJ

Jumlah alat angkutan umum


Paid seats/capacity seats

Pekerjaan Umum

Panjang jalan yang dibangun/diperbaiki

Kepolisian

Panjang jalan yang disapu/dibersihkan


Jumlah kriminalitas yang tertangani
Jumlah kecelakaan/pelanggaran lalu lintas

DPR/DPRD

Jumlah pengaduan masyarakat yang tertangani


Jumlah pengaduan dan tuntutan masyarakat

yang

tertangani
Jumlah rapat yang dilakukan
Jumlah undang-undang atau perda yang dihasilkam
Dipenda

Jumlah peserta rapat per total anggota


Jumlah pendapatan yang terkumpul

Agar pengukuran kinerja dapat dilakukan dengan baik, berikut ini merupakan hal-hal
yang perlu diperhatikan:
1. Membuat suatu komitmen untuk mengukur kinerja dan memulainya dengan segera.
Hal yang perlu dilakukan oleh instansi adalah sesegera mungkin memulai upaya
pengukuran kinerja dan tidak perlu mengharap pengukuran kinerja akan langsung
sempurna. Nantinya, perbaikan atas pengukuran kinerja akan dilakukan.
2. Perlakuan pengukuran kinerja sebagai suatu proses yang berkelanjutan (on-going
process)
3. Pengukuran kinerja merupakan suatu proses yang bersifat interaktif.
Proses ini merupakan suatu cerminan dari upaya organisasi untuk selalu berupaya
memperbaiki kinerja.
4. Sesuaikan proses pengukuran kinerja dengan organisasi
Organisai harus menetapkan ukuran kinerja yang sesuai dengan besarnya organisasi,
budaya, visi, tujuan, dan struktur organisasi.
H.

Peranan Indikator Kinerja dalam Pengukuran Kinerja


Indikator kinerja digunakan sebagai indikator pelaksanaan strategi yang telah

ditetapkan. Indikator kinerja tersebut dapat berbentuk faktor-faktor keberhasilan utama


organisasi (critical success factors) dan indikator kinerja kunci (key performance indicator).
Faktor keberhasilan utama adalah suatu area yang mengindikasikan kesuksesan
kinerja unit kerja organisasi. Area ini merefleksikan preferensi manajerial dengan
memperhatikan variabel-variabel kunci finansial dan non-finansial pada kondisi waktu
tertentu.
Indikator kinerja kunci merupakan sekumpulan indikator yang dapat dianggap sebagai
ukuran kinerja kunci baik yang bersifat finansial maupun non-finansial untuk melaksanakan

operasi dan kinerja unit bisnis. Indikator ini digunakan oleh manajer untuk mendeteksi dan
memonitor capaian kinerja.
Komponen yang digunakan dalam penentuan indikator kinerja :

Biaya pelayanan (cost of service)


Indikator biaya diukur dalam bentuk biaya unit (unit cost), misalnya biaya per unit
pelayanan (panjang jalan yang diperbaiki, jumlah ton sampah yang terangkut, biaya per
siswa). Beberapa pelayanan mungkin tidak dapat ditentukan biaya unitnya karena
output yang dihasilkan tidak dapat dikuantifikasi atau tidak ada keseragaman tipe
pelayanan yang diberikan. Untuk kondisi tersebut maka dibuat indikator kinerja produksi
misalnya belanja per kapita.

Penggunaan (utilization)
Indikator ini membandingkan antara jumlah pelayanan yang ditawarkan (supply of
service)

dengan

permintaan

publik (public

demand). Indikator

ini

harus

mempertimbangkan preferensi publik sedangkan pengukurannya berupa volume absolut


atau presentase tertentu, misalnya presentase penggunaan kapasitas. Contoh lain yaitu
rata-rata jumlah penumpang per bus yang dioperasikan. Indikator kinerja ini digunakan
untuk mengetahui frekuensi operasi atau kapasitas kendaraan yang digunakan pada tiaptiap jalur.

Kualitas dan standar pelayanan (quality and standards)


Indikator ini merupakan indikator yang paling sulit diukur karena menyangkut
pertimbangan yang sifatnya subyektif. Contohnya yaitu perubahan jumlah komplain
masyarakat atas pelayanan tertentu.

Cakupan pelayanan (coverage)


Indikator ini perlu dipertimbangkan jika terdapat kebijakan atau peraturan perundangan
yang mensyaratkan untuk memberikan pelayanan dengan tingkat pelayanan minimal
yang telah ditetapkan.

Kepuasan (satisfaction)
Indikator kepuasan diukur melalui metode jajak pendapat secara langsung. Bagi
pemerintah daerah, metode penjaringan aspirasi masyarakat (need assessment) dapat juga
digunakan untuk menetapkan indikator kepuasan. Namun, dapat juga digunakan
indikator proksi misalnya jumlah komplain. Pembuatan indikator kinerja tersebut
memerlukan kerjasama antar unit kerja.
Contoh Pengembangan Indikator Kinerja:

Dinas/Unit Kerja
Rumah Sakit

Indikator Kinerja
Biaya total rata-rata rawat jalan per pasien yang masuk
Biaya rata-rata pelayanan medis dan paramedis per pasien
yang masuk
Biaya rata-rata pelayanan umum (non-klinis) per pasien
yang masuk
Penggunaan fasilitas
Rata-rata masa tinggal pasien di rumah sakit
Jumlah pasien rata-rata per bed per tahun
Rasio antara pasien baru dengan pasien lama yang masuk
kembali

Klinik Kesehatan

Proporsi tingkat hunian


Jumlah pelanggan yang dilayani per hari per jumlah total

Pekerjaan Umum

penduduk untuk wilayah tertentu


Panjang jalan yang dibangun atau diperbaiki/total panjang
jalan
Panjang jalan yang disapu atau dibersihkan/total panjang
jalan
Kondisi jalan

Kepolisian

Keamanan jalan (road safety)


% Jumlah kriminalitas yang tertangani/Jumlah kriminalitas
yang terdeteksi/tercatat
% Penurunan jumlah kecelakaan atau pelanggaran lalu
lintas
% Jumlah pengaduan masyarakat yang tertangani/Jumlah

DPR/DPRD

total pengaduan masyarakat yang masuk


% Jumlah pengaduan dan tuntutan masyarakat yang
tertangani/Jumlah total aspirasi yang masuk
Jumlah rapat yang dilakukan per bulan/tahun
Jumlah peraturan yang dihasilkan per bulan/tahun

Dispenda

% Jumlah peserta rapat per total anggota


% Jumlah pendapatan yang terkumpul/potensi

III.
IV.
V.

KASUS
PEMBAHASAN ARTIKEL
PENUTUP
Sistem pengukuran kinerja sektor publik adalah suatu sistem yang bertujuan untuk

membantu manajer sektor publik menilai pencapaian suatu strategi melalui alat ukur finansial
dan nonfinansial. Sistem pengukuran kinerja ini dapat dijadikan sebagai alat pengendalian
organisasi. Pengukuran kinerja dilakukan melalui lima tahapan, yaitu perencanaan strategi,
penciptaan indikator kinerja, mengembangkan sistem pengukuran kinerja, penyempurnaan
ukuran, dan pengintegrasian dengan proses manajemen.
Informasi yang digunakan untuk pengukuran kinerja meliputi informasi finansial dan
non-finansial dengan indikator value for money dibagi menjadi dua bagian, yaitu: indikator
alokasi biaya (ekonomi dan efisisensi), dan indikator kualitas pelayanan (efektifitas).
Langkah-langkah dalam pengukuran value for money yaitu sebagai berikut:
a. Pengukuran Ekonomi
b. Pengukuran Efisiensi
c. Pengukuran Efektifitas
d. Pengukuran Outcome
e. Estimasi Indikator Kinerja
f. Pertimbangan dalam Membuat Indikator Kinerja

DAFTAR PUSTAKA
Bastian, Indra. 2006. Akuntansi Sektor Publik: Suatu Pengantar. Jakarta: Erlangga.
Mahmudi. 2007. Manajemen Kinerja Sektor Publik. Yogyakarta: UPP AMP YKPN.
Mardiasmo. 2002. Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta: Penerbit Andi.
Teknik

Pengukuran

Kinerja

di

Lingkungan

Departemen

Agama.

(http://www.kemenag.go.id/file/dokumen/TekPengukuranKinerja.pdf) Diakses Pada


Tanggal 03 Oktober 2016.