Anda di halaman 1dari 16

anestesyiaaaahseilaaa

Tujuan Golongan Obat


Nama Obat
Premed Benzodiazepine Midazolam
ikasi
(miloz,
transquilizer
sedacum)

Diazepam

Opioid inhibits
nociceptive
neurons

Fentanyl

Petidin
Morphin

Antikolinergik
parasimpatolitik
generates
simpatis
Induksi Propofol
fasilitasi neuron
inhibitorik
Ketamin inh.
NT eksitatori,

SA

Propofol,
safol,
recofol,
diprivan
Ketalar

Dosis
Prem (IM): 0,07
0,15 mg/kg
Sedasi : 0,01
0,1 mg/kg
Induksi : 0,1
0,4 mg/kg
Prem (or): 0,2
0,5 mb/kg
Sedasi: 0,04
0,2mg/kg
Induksi : 0,3
0,6 mg/kg
Intraop : 1 3
mcg/kg
Postop : 0,5 1,5
mcg/kg
1 2 mg/kg
Prem (IM) 0,05
0,2 mg/kg
Intraop : 0,1 1
mg/kg
Prem : 0,4
0,6mg/kg

Ind : 1 2,5
mg/kg
Main : 50
100mcg/kg/mnt
Ind : 1 2 mg/
kg

Sediaan
5 mg
dlm 5 cc

Onset
1- 3
mnt

Durasi
1 2 jam

10 mg
dlm 2 cc

12
mnt

4 8 jam

100 mcg
dlm 2 cc

12
dtk

30 60
mnt

100 mg
dlm 2 cc
10 mg
dlm 1cc

10 mnt

2 4 jam

15 20
mnt

2 7 jam

0,25
mg/cc

10 15
dtk

90 mnt

200 mg
dlm 20
cc

30 60
dtk

5 10 mnt Menurunkan TD hipotensi


bgt
Menurunkan cerebral
bloodflow nurunin TIK
30 60
Appear conscious but unable
mnt
to respond impulses

1%
30 dtk
(10mg/cc

Efek
Menurunkan TD, menurunkan
resistensi perifer,
Depress respon ventilasi thd
hiperkapni
Menurunkan konsumsi O2
otak

: analgesia, depresi respi


fentanil,morfin
: analgesia, sedasi morfin

Mencegah bradi, menurunkan


prod. saliva

edited

anestesyiaaaahseilaaa

disosiasi thalamus
& limbik

Muscle
relaxan

Main : 0,3 0,5


mg/kg

Barbiturate
depress RAAS

Pentotal
Thiopental

Halogenated
Fluorinated eter

Halotan
Isofluran
Sevofluran
N2O
Atracurium

Gas anorganik
Nondepol

Induksi : 3 6
mg/kg
Sedasi : 0,5
1,5mg/kg

10 - 20
dtk

Depol

Suksinil kolin

Intu : 0,5 mg/kg


Main : 0,1 mg/kg
Intu : 0,8
1mg/kg
Main : 0,15
mg/kg
1 1,5 mg/kg

5HT inh
antagonis 5HT3 di
CTZ
NSAID

ondansetron

0,05 0,1 mg/kg

4mg dlm
2cc

Ketorolac

0,5 1mg/kg

H2R inhibitor

Ranitidine

50 mg

Antifibrinolitik

Transamin

AChE inhibitors

Neostigmin

30 mg
dlm 1 cc
50 mg
dlm 2cc
500 mg
dlm 5 cc
0,5mg
dlm 1cc

Antagonis opioid

Nalokson

Rocuronium

Adjuva
nt

)
5%
(50mg/cc
)

0,04 0,08
mg/kg
0,4 mg/cc

50 mg
dlm 5cc

Stimulasi simpatis TD, HR


naik
Meningkatkan konsumsi O2
otak
5 15 mnt Menurunkan TD,
meningkatkan HR,
menurunkan respon ventilasi
thd hiperkapni, konstriksi
pb.darah serebral

2,5 3
mnt
1,5 mnt

30
45mnt
35
75mnt

30 60
dtk

< 10mnt

30 60
mnt
12
jam

4 6 jam

Inhibitor kompetitif dr ACh


Atra histamine release
Rocuro less potent

10 12
jam
Reverse muscle relaxan = Neo
: SA = 1:1
Afinitas tinggi thd reseptor

edited

anestesyiaaaahseilaaa

Agonis adrenergic

Ephedrine

Steroid

Dexamethason
e

oplos jadi 0,04


mg/cc
2,5 10 mg/kg

50 mg
dlm 1 cc
1 gr dlm
2 cc

Simpatomimetik

II.2. ANESTESI UMUM


Anestesi umum (general anesthesia) disebut pula dengan nama narkose umum (NU). Anestesi umum adalah suatu tindakan
anestesi yang dilakukan dengan menghilangkan rasa nyeri secara sentral disertai oleh hilangnya kesadaran dan bersifat pulih kembali
atau reversible.(1) Tindakan anestesi umum menggunakan obat-obatan sistemik, oleh karena itu dibutuhkan kehati-hatian dalam
melakukkannya. Terdapat beberapa keuntungan dan kerugian dari penggunaan teknik anestesi umum, antara lain :
Keuntungan menggunakan anestesi umum, antara lain :

Membuat pasien lebih tenang

Untuk operasi yang lama (Allows complete stillness for prolonged periods of time)

Fasilitas kontrol ABC (airway, breathing, and circulation) komplit

Dilakukkan pada kasus-kasus yang memiliki alergi terhadap agen anesthesia lokal

Dapat dilakukkan tanpa memindahkan pasien dari posisi supine (terlentang)

Dapat dilakukkan prosedur penanganan (pertolongan) dengan cepat dan mudah pada waktu-waktu yang tidak terprediksi

edited

anestesyiaaaahseilaaa

Kerugian menggunakan anestesi umum, antara lain :

Membutuhkan pemantauan ekstra selama anestesi berlangsung

Membutuhkan mesin-mesin yang lengkap

Membutuhkan persiapan pasien yang bertahap

Dapat menimbulkan komplikasi yang berat, seperti : kematian, infark myokard, dan stroke

Dapat menimbulkan komplikasi ringan seperti : mual, muntah, sakit tenggorokkan, sakit kepala. Resiko terjadinya komplikasi
pada pasien dengan general anestesi adalah kecil, bergantung beratnya kormobit penyakit pasiennya (2).

Dengan anestesi umum, akan diperoleh triad (trias) anestesia, yaitu(3) :


1. Hipnosis (tidur)
2. Analgesia (bebas dari nyeri)
3. relaksasi otot
Relaksasi otot diperlukan untuk mengurangi tegangnya tonus otot sehingga akan mempermudah tindakan pembedahan. Hanya
eter yang memiliki trias anestesia. Karena anestesi modern saat ini menggunakan obat-obat selain eter, maka trias anestesi diperoleh
dengan menggabungkan berbagai macam obat. Hipnosis didapat dari sedatif, anestesi inhalasi (halotan, enfluran, isofluran,
sevofluran). Analgesia didapat dari N2O, analgetika narkotik, NSAID tertentu. Sedangkan relaksasi otot didapatkan dari obat pelemas
otot (muscle relaxant)(2). Sebelum dilakukannya tindakan pembedahan, sebaiknya dilakukkan persiapan pra-bedah terlebih dahulu. Hal
ini penting karena persiapan pra-bedah yang kurang memadai merupakkan faktor terjadinya kecelakaan dalam anestesi. Sebelum
pasien di bedah, sebaiknya dilakukkan kunjungan pasien, sehingga pada waktu pasien dibedah pasien dalam keadaan bugar. Tujuan

edited

anestesyiaaaahseilaaa

pra-anestesi adalah untuk mengurangi angka kesakitan operasi, mengurangi biaya operasi, dan meningkatkan kualitas pelayanan
kesehatan.
II.3. INDUKSI ANESTESI UMUM
Induksi adalah usaha membawa / membuat kondisi pasien dari sadar ke stadium pembedahan (stadium III Skala Guedel). Koinduksi adalah setiap tindakan untuk mempermudah kegiatan induksi anestesi. Pemberian obat premedikasi di kamar bedah, beberapa
menit sebelum induksi anestesi dapat dikategorikan sebagai ko-induksi. Induksi anestesi umum dapat dikerjakan melalui cara / rute :
1.
2.
3.
4.

intravena (paling sering)


inhalasi
intramuskular
per-rektal.
Induksi intravena dapat dikerjakan secara full dose maupun sleeping dose. Induksi intravena sleeping dose yaitu pemberian

obat induksi dengan dosis tertentu sampai pasien tertidur. Sleeping dose ini dari segi takarannya di bawah dari full dose ataupun
maximal dose. Induksi sleeping dose dilakukan terhadap pasien yang kondisi fisiknya lemah (geriatri, pasien presyok). Induksi
intramuskular biasanya menggunakan injeksi ketamin. Induksi inhalasi dapat dikerjakan dengan teknik : steal induction, gradual
induction, single breath induction. Obat yang digunakan untuk induksi inhalasi adalah obat-obat yang memiliki sifat-sifat :
1. tidak berbau menyengat / merangsang
2. baunya enak
3. cepat membuat pasien tertidur.
Sifat-sifat tersebut ditemukan pada halotan dan sevofluran. Tanda-tanda induksi berhasil adalah hilangnya refleks bulu mata. Jika bulu
mata disentuh, tidak ada gerakan pada kelopak mata.

edited

anestesyiaaaahseilaaa

II.4. TEKNIK ANESTESI UMUM


1. INHALASI dengan Respirasi Spontan
a. Sungkup wajah
b. Intubasi endotrakeal
c. Laryngeal mask airway (LMA)
2. INHALASI dengan Respirasi kendali
a. Intubasi endotrakeal
b. Laryngeal mask airway
3. ANESTESI INTRAVENA TOTAL (TIVA)
a. Tanpa intubasi endotrakeal
b. Dengan intubasi endotrakeal
Anestesi dengan menggunakan sungkup wajah dianjurkan apabila :
1.
2.
3.
4.

pembedahan singkat - 1 jam tanpa membuka peritoneum


bukan operasi daerah kepala atau leher
lambung kosong
ASA 1 2.

( Jika di luar dari kriteria di atas, sebaiknya digunakan intubasi endotrakeal.)


Anestesi umum dengan menggunakan intubasi endotrakeal diindikasikan untuk :
1. pembedahan lama (> 1 jam)
2. pembedahan daerah kepala dan leher

edited

anestesyiaaaahseilaaa

3. jika kesulitan mempertahankan jalan napas karena berbagai sebab.


Teknik induksi anestesi umum respirasi spontan dengan menggunakan sungkup wajah dapat dilakukan dengan langkah-langkah
berikut :
1. Berikan O2 100% 5 L/menit selama 3-5 menit
2. Induksi dengan tiopental (4-6 mg/kg berat badan) atau propofol (2 mg/kg berat badan)
3. Pasien geriatri dosisnya dikurangi, sedang alkoholis dinaikkan dosisnya.
4. Setelah pasien tertidur (refleks bulu mata menghilang), sungkup wajah ditempelkan rapat-rapat menutupi mulut dan hidung
pasien.
5. Buka jalan napas pasien ekstensikan leher.
6. Buka / putar dial agent inhalasi dan N2O.
7. N20 diberikan 50%-70% dari volum semenit. Oksigen diberikan 30%-50% dari volum semenit.
8. Halotan/enfluran/Isofluran/Sevofluran diberikan dengan konsentrasi 2%, kemudian tiap lima kali inspirasi, kosentrasinya
tingkatkan secara bertahap sampai diperoleh kedalaman anestesi yang diinginkan.
9. Konsentrasi diturunkan jika anestesi terlalu dalam.
10. Lakukan rumatan anestesi.
11. Halotan/enfluran/isofluran/sevofluran dihentikan beberapa menit sebelum operasi.
12. N2O dihentikan ketika akhir penjahitan kulit.

edited

anestesyiaaaahseilaaa

13. Berikan O2 saja sampai pasien terbangun.


Teknik anestesi umum, respirasi spontan dengan intubasi endotrakeal dapat dikerjakan langkah sebagai berikut :
1. Lakukan langkah 1 7.
2. Buka Halotan/enfluran/Isofluran/Sevofluran diberikan dengan konsentrasi 2%
3. Berikan pelemas otot sesuai dosis.
4. Lakukan laringoskopi dan pemasangan pipa endotrakeal (intubasi endotrakeal).
5. Lakukan rumatan anestesi.
6. Halotan/enfluran/isofluran/sevofluran dihentikan beberapa menit sebelum operasi.
7. N2O dihentikan ketika akhir penjahitan kulit.
8. Berikan O2 saja sampai pasien terbangun.
Intubasi endotrakeal dapat dilakukan dengan bantuan pelemas otot ataupun tanpa pelemas otot. Pelemas otot yang dapat
digunakan antara lain suksinil kolin, atrakurium, vekuronium, pankuronium, mivakurium, dan rokuronium. Tiap-tiap obat pelemas
otot memiliki kelebihan dan kekurangan serta memiliki mula kerja (onset of action) dan durasi kerja (duration of action) yang
berbeda. Sehingga penggunaannya disesuaikan dengan kebutuhan. Atrakurium, misalnya, onset kerja setelah dua menit dan durasi
kerja di atas 25 menit. Oleh karena itu intubasi endotrakeal dilakukan setelah dua menit pemberian atrakurium. Untuk menghemat
waktu, atrakurium dapat diberikan 1 menit sebelum induksi. Jadi, setelah pasien tertidur, intubasi endotrakeal sudah dapat dilakukan 1
menit sesudah induksi. Karena durasi kerja atrakurium terbilang panjang, maka dilakukan pengendalian respirasi pasien oleh anestetis.
Suksinilkolin sering dipilih untuk teknik anestesi umum dengan respirasi spontan karena mula kerja yang sangat cepat (sekitar 40
detik) dan durasi kerja suksinil yang singkat (sekitar 5 menit) sehingga respirasi pasien yang semula dilumpuhkan dapat segera pulih.
Hanya saja, suksinilkolin menimbulkan fasikulasi ketika diberikan. Fasikulasi ini menyebabkan mialgia pasca anestesi. Selain

edited

anestesyiaaaahseilaaa

fasikulasi, suksinilkolin juga memiliki kelemahan lain. Untuk mengurangi fasikulasi, dua menit sebelum pemberian suksinil kolin,
terlebih dahulu diberikan pelemas otot nondepolarisasi dengan dosis dari dosis intubasi. Agar dapat melakukan intubasi tanpa
pelemas otot, diperlukan waktu yang lebih lama sejak induksi hingga tercapai kondisi ideal untuk dilakukan intubasi endotrakeal.
Kondisi ideal adalah apabila sudah terdapat relaksasi optimal pada otot-otot rahang (masseter), leher, dan abdomen. Setelah terpasang
pipa endotrakeal, apabila pasien masih bergerak-gerak, dapat diberikan 50-100 mg tiopental (pasien dewasa) atau 30-40 mg propofol
(pasien dewasa) atau dengan suksinilkolin dosis intubasi. Apabila diinginkan teknik respirasi kendali, berikan pelemas otot sesuai
dosis dan kondisi pasien. Pilihan pelemas otot misalnya atrakurium, pankuronium, vekuronium dan rokuronium.
II.5. RUMATAN ANESTESIA
Rumatan anestesi adalah menjaga tingkat kedalaman anestesi dengan cara mengatur konsentrasi obat anestesi di dalam tubuh
pasien. Jika konsentrasi obat tinggi maka akan dihasilkan anestesi yang dalam, sebaliknya jika konsentrasi obat rendah, maka akan
didapat anestesi yang dangkal. Anestesi yang ideal adalah anestesi yang adekuat. Untuk itu diperlukan pemantauan secara ketat
terhadap indikator-indikator kedalaman anestesi. Pada penggunaan eter sebagai anestetik tunggal, indikator kedalaman anestesi sangat
gampang dilihat. Anestetis tinggal mencocokkan dengan Skala Guedel. Namun ketika eter tidak lagi digunakan, maka cara menilai
kedalaman anestesi perlu modifikasi. Indikator klinis yang sering dipakai untuk menilai kedalaman anestesi adalah respon terhadap
rangsang bedah yaitu :
1. respon otonomik, berupa : tekanan darah, nadi, respirasi, air mata, dan keringat (PRST).
2. respon somatik, berupa : gerakan, batuk, dan menahan napas.
Hitungan secara kasar, kebutuhan rumatan anestesi pasien dewasa adalah :
1. N2O 3-4 liter per menit
2. O2 3 liter permenit
3. Halotan 1-2 volum %

edited

anestesyiaaaahseilaaa

4. Isofluran 2- 3 volum %
5. Enfluran 2 3 volum %
6. Sevofluran 2- 3 volum %
Angka-angka di atas disesuaikan dengan kondisi pasien, jenis pembedahan, dan teknik anestesi. Pasien lemah, bedah obstetri
(peripartum), dan respirasi kendali membutuhkan konsentrasi obat yang lebih sedikit. Pasien berotot kekar, atlet, dan respirasi spontan
membutuhkan konsentrasi obat yang lebih tinggi. Jika anestesi tanpa menggunakan N2O, maka kebutuhan konsentrasi
halotan/enfluran/isofluran/sevofluran menjadi lebih tinggi. Dalam melakukan rumatan anestesi, jika anestesi dangkal, maka lakukan
penambahan konsentrasi obat. Namun jika anestesi dalam, lakukan pengurangan konsentrasi obat. Tanda-tanda anestesi dangkal
(kurang dalam) di antaranya :
1. Takikardi
2. Hipertensi
3. keluar air mata
4. berkeringat (kening menjadi basah)
5. pasien bergerak-gerak (kecuali pasien mendapat pelemas otot)napas lebih cepat (jika respirasi spontan)
Untuk mengembalikan ke anestesi yang adekuat, dapat dilakukan cara-cara berikut :
1. hiperventilasi
2. penambahan narkotika
3. penambahan sedatif

edited

anestesyiaaaahseilaaa

4. penambahan pelemas otot


5. kombinasi semua di atas.
Jika pembedahan masih berlangsung lama, sementara durasi pelemas otot hampir berakhir dan teknik respirasi kendali tetap
ingin dipertahankan, maka dapat diberikan tambahan pelemas otot dengan dosis dari dosis intubasi. Jika durasi obat pelemas otot
adalah 30 menit, maka di menit 25 sudah harus diberikan tambahan obat.
II.6 OBAT-OBAT ANESTESI UMUM
Terdapat sejumlah obat-obat anestesi yang sering digunakan, penggunaan obat-obatan tersebut bergantung kepada keadaan
pasien.
Obat Induksi
Selama 50 tahun, obat golongan barbiturat telah banyak dan sering digunakkan sebagai obat induksi anestesi. Obat-obat
golongan barbiturat, antara lain : thiopental, methohexital, dan thiamylal. Obat ini masih digunakkan sampai saat ini, karena memiliki
tingkat keamanan yang cukup tinggi, dapat dipercaya, dan ekonomis. Akhir akhiri ini, propofol merupakan obat anestetik intravena
golongan nonbarbiturate yang menggantikan obat anestesi golongan barbiturat. Penggunaan propofol dihubungkan dengan
berkurangnya efek mual-muntah pasca operasi, dan lebih cepat masa pemulihannya. Terdapat pula efek sanping penggunaan propofol,
yang antara lain : nyeri saat disuntikkan, dan dapat menjadi media pertumbuhan bakteri yang cepat.
Induksi anestesi dapat pula dilakukkan dengan cara inhalasi. Cara ini dilakukkan terutama pada pasien-pasien yang kurang
operatif, seperti anak-anak. Dapat pula digunakan sebagai pilihan untuk anak dewasa. Halothane dan sevoflurane merupakan obat
yang sering digunakan.
Analgesik Narkotik

edited

anestesyiaaaahseilaaa

Morphine, meperidine, dan hydromorphone merupakan obat anestesi yang sangat luas, yang digunakan pada ruang emergensi,
pembedahan, dan kebidanan. Obat-obatan yang tergolong analgesik narkotik antara lain : fentanyl, sufentanil, alfentanil, and
remifentanil. Remifentanil merupakan obat kelas baru dari golongan analgesik narkotik, yang memiliki durasi singkat dan harus diberi
obat secara continuous.
Pelumpuh Otot
Succinylcholine, merupakan golongan obat pelumpuh otot depolarisasi short acting, obat ini memiliki onset yang timbul
dengan cepat,obat ini merupakan drug of choice saat efek pelumpuh otot dibutuhkan segera. Efek samping dari obat
succinylcholine, antara lain : nyeri otot pasca pemberian, nyeri otot ini dapat dikurangi dengan memberikan pelumpuh otot nondepolarisasi dosis kecil sebelumnya. Obat-obat relaxan atau pelumpuh otot memiliki lama durasi sekitar 15 menit hingga 2 jam. Pada
umumnya obat-obatan pelumpuh otot diekskresikan melalui ginjal. Terdapat obat Pancuronium yang merupakan obat dengan
spektrum luas, cukup dikenal, dan ekonomis.

BAB III
ANALISA KASUS

Pasien laki-laki usia 17 tahun dengan BB 60 kg, datang dengan keluhan jatuh dari motor sejak dua jam SMRS. Perut bagian
kanan terkena stang. Terdapat jejas di perut dan pasien muntah 1 kali. Pasien mengendarai motor tanpa menggunakan helm, pasien
menyangkal kepalanya cedera.
Pasien tidak memiliki riwayat penyakit asma dan riwayat alergi. Kondisi fisik pasien dinyatakan sebagai ASA IIE dengan
adanya penyakit sistemik ringan atau sedang dimana pasien tidak memiliki keterbatasan aktivitas akibat penyakitnya tersebut.
Keadaan umum pasien pada saat memasuki OK CITO adalah sadar penuh dan tampak sakit berat. Tekanan darah pasien 129/76
mmHg, frekuensi nadi 114 x/menit, frekuensi napas 20x/menit, dan suhu afebris.
edited

anestesyiaaaahseilaaa

Premedikasi ialah pemberian obat sebelum induksi anestesi dengan tujuan untuk melancarkan induksi, rumatan dan bangun
dari anestesi, diantaranya :
1)

Meredakan kecemasan dan ketakutan

2)

Memperlancar induksi anesthesia

3)

Mengurangi sekresi kelenjar ludah dan bronkus

4)

Meminimalkan jumlah obat anestetik

5)

Mengurangi mual-muntah pasca bedah

6)

Menciptakan amnesia

7)

Mengurangi isi cairan lambung

8)

Mengurangi reflek yang membahayakan.

Premedikasi yang diberikan pada pasien adalah midazolam 2 mg dan fentanyl 50 mcg IV. Fentanyl merupakan analgesic
opioid sintetik yang poten. Kekuatannya 100 kali lebih poten dari Morfin, dan biasa dikombinasikan dengan obat golongan
benzodiazepine. Dosis midazolam untuk premedikasi adalah 0,070,15 mg/kgBB, sementara dosis fentanyl untuk premedikasi adalah
5 mcg/kgBB. Dosis yang diberikan tidak sesuai. Seharusnya dengan BB pasien 60 kg dosis midazolam bisa diberikan 4,29 mg,
sementara fentanyl seharusnya diberikan 300 mcg. Midazolam digunakan untuk mengatasi kecemasan yang timbul saat operasi
(antikonvulsan), sementara fentanyl diberikan sebagai analgetik narkotik, dan untuk memberikan efek mengantuk, dan penurunan
tahanan perifer pada pasien. Efek samping dari fentanil antara lain hipotensi, bradikardia, euforia, konstipasi, mual dan muntah,
depresi napas.
Sebagai awal terapi reperfusi, diloading Ringer Laktat 500 ml, kemudian didapatkan tekanan darahnya 140/80 mmHg dan
frekuensi 110 x/ menit. Pada kondisi ini didapatkan MAP pasien telah melewati batas minimal yang ditentukan 110 mmHg, namun
resusitasi cairan terus dilakukan karena frekuensi nadi pasien masih takikardi. MAP pasien harus dipertahankan dengan range yang
lebih tinggi dari 65 mmHg. Terapi cairan dilanjutkan dengan Gelofusin 1000 ml. Setelah pemberian gelofusin, tekanan darah pasien

edited

anestesyiaaaahseilaaa

120/60 mmHg dan frekuensi nadi 115x/menit. Terapi cairan dilanjutkan dengan Ringer Laktat 1500 ml. Selama pemberian Ringer
laktat tidak terjadi perubahan tekanan darah dan frekuensi nadi yang signifikan. Perdarahan yang dialami pasien 200 ml. Pasien
diberi produk darah PRC 250 cc untuk mengurangi reaksi transfusi sekaligus untuk mencapai tujuan dilakukannya transfusi yaitu
tercapainya oksigenasi yang adekuat ke jaringan. Pasien hanya diberikan PRC untuk menghindari hipervolemik. Dengan demikian
total cairan yang masuk adalah 3250 ml.
Produksi urin pasien pada saat akhir proses operasi 800 ml. Pada kondisi normal, produksi urin minimal 0,5ml/kg/jam. Proses
anastesi berlangsung selama 10 jam. Produksi urin minimal yang harus dihasilkan pasien adalah (0,5 ml x 60 kg x 8 jam) = 240 ml.
Dengan demikian produksi urin pasien masih dalam batas normal.
Pada pasien ini dilakukan teknik anestesi umum menggunakan propofol 150 mg sebagai induksi. Pemilihan teknik anestesi
sudah benar dimana pada operasi daerah perut yang akan dibuka akan lebih aman dan nyaman bila pasien dianestesi umum. Propofol
dikemas dalam cairan emulsi lemak berwarna putih susu bersifat isotonik dengan kepekatan 1% (1 ml = 10 mg). Dosis bolus untuk
induksi 2-2,5 mg/kg, dosis rumatan untuk anestesi intravena 4-12 mg/kg/jam dan dosis sedasi untuk perawatan intensif 0,2
mg/kg.dosis yang diberikan pada pasien ini diberikan induksi propofol 150 mg sudah tepat dikarenakan berat badan pasien 60 kg.
Keuntungan dari propofol yaitu induksi dan pemulihannya cepat, konvulsi pasca bedah minimal, dan kurang menimbulkan mual
muntah pasca-bedah. Propofol juga tidak menimbulkan aritmia dan iskemia otot jantung dibandingkan Ketamin. Kerugiannya yaitu
nyeri pada saat penyuntikan. Hal ini dapat diminimalisir dengan premedikasi analgetik. Propofol juga dapat menyebabkan vasodilatasi
perifer dan menurunkan tekanan arteri sistemik sekitar 30%. Hal ini menjelaskan penurunan tekanan darah yang terjadi pada pasien
ini setelah induksi. Namun, tekanan darah sistemik dapat kembali normal setelah intubasi trakea. Efek samping propofol berupa reaksi
hipersensitifitas, seperti hipotensi, flushing, dan bronkospasme hanya dapat terjadi pada pemakaian propofol yang dilarutkan dalam
original vehicle (kremofor), tetapi tidak terjadi pada pemberian intralipid (emulsi fat intra vena).
Untuk relaksasi saat intubasi diberikan rokuronium. Rokuronium merupakan relaksan otot skelet nondepolarisasi (intermediate
acting), diberikan sebagai obat relaksasi otot dengan kerja singkat. Relaksasi otot ini dimaksudkan untuk membuat relaksasi otot

edited

anestesyiaaaahseilaaa

selama berlangsungnya operasi, menghilangkan spasme laring dan refleks jalan napas atas selama operasi, dan memudahkan
pernapasan terkendali selama anestesi. Rokuronium yang diberikan pada pasien ini sebanyak 20 mg. Dosis intubasi adalah 0,6-1
mg/kgBB. Berarti pada pasien ini dapat diberikan sebesar 36-60 mg. Pemberian rocuronium tidak sesuai dengan dosis, seharusnya
dengan BB pasien 60 kg dosis atracurium diberikan 36 mg. Lama aksi obat ini adalah 30-60 menit. Sehingga sebaiknya diberikan
dosis pemeliharaan 0,06 0,6 mg/kgBB, yaitu 3,6 mg 36 mg setiap 30-60 menit. Pada pasien ini, diberikan lima kali selama operasi
berlangsung.
Pada pasien ini diberikan obat ketamin setelah 15 menit dilakukan induksi dengan tujuan untuk memperoleh efek analgesik
yang kuat. Seperti yang telah diketahui sebelumnya bahwa selain mempunyai efek analgesik kuat, ketamin juga merupakan satusatunya anestetik intravena yang merangsang sistem kardiovaskular, yang akan meningkatkan tekanan darah dan curah jantung 24
menit setelah pemberian dan menurun perlahan-lahan sampai nilai normal setelah 10-20 menit teori ini terbukti pada pasien ini
tekanan darah awal pasien ini 129/76 mmhg dan setelah beberapa menit tekanan darahnya stabil rata-rata 140/75 mmHg. Oleh karena
itu, pemberian ketamin saat ini dapat digunakan pada penderita yang mengalami syok. Untuk dosis ketamin yang diberikan sebesar 30
mg, masih merupakan kisaran dosis terapi ketamin untuk memperoleh efek analgesik, yaitu 0,51 mg/KgBB.
Obat Ondansetron digunakan untuk mencegah terjadinya mual dan muntah yang dapat timbul akibat pemberian obat induksi.
Dosis yang diberikan pada pasien ini sebanyak 4 mg dengan BB pasien 60 kg dosis ini masih belum memenuhi dengan kisaran dosis
0,1-0,2 mg/kgBB/IV. Selain itu, pada pembedahan perut dapat diberikan ondansetron untuk menutupi adanya suatu ileus progresif dan
atau distensi lambung. Rantin (ranitidin) diberikan dengan alasan pasien mengalami mual-muntah saat operasi berlangsung dan untuk
menurunkan sekresi asam lambung, sehingga mencegah pneumonitis asam.
Pada pasien ini diberikan tramadol drip. Tramadol adalah analgesik kuat yang bekerja pada reseptor opiat. Tramadol mengikat
secara stereospesifik pada reseptor di sistem saraf pusat sehingga memblok sensasi rasa nyeri dan respon terhadap nyeri. Disamping
itu tramadol menghambat pelepasan neurotransmitter dari saraf aferen yang sensitif terhadap rangsang, akibatnya impuls nyeri
terhambat. Indikasi obat ini efektif untuk pengobatan nyeri akut dan kronik yang berat, termasuk nyeri pasca pembedahan, nyeri

edited

anestesyiaaaahseilaaa

akibat tindakan diagnostik. Obat yang digunakan i.v.: 100 mg (1 ampul), diinjeksikan secara lambat atau dilarutkan dalam larutan
infus, kemudian diinfuskan. Obat dexamethason diberikan sekitar 15 menit menjelang operasi selesai, hal ini ditujukan untuk
mengurangi reaksi peradangan pasca operasi.
N2O (gas gelak, laughing gas, nitrous oxide, dinitrogen monoksida) diperoleh dengan memanaskan ammonium nitrat sampai
240C. Pemberian anestesi dengan N2O harus disertai O2 minimal 25 %. Gas ini bersifat anestesik lemah, tetapi analgesinya kuat.
Pada anestesi inhalasi jarang digunakan sendirian, tetapi dikombinasi dengan salah satu anestesi lain.

edited