Anda di halaman 1dari 6

-

Definisi
Psoriasis adalah penyakit peradangan pada kulit yang kronik residif ditandai oleh

plak eritematosa, diatasnya terdapat skuama kasar, transparan, berlapis-lapis, disertai adanya
fenomena tetesan lilin, Auspitz, dan Koebner. Psoriasis melibatkan kulit dan kuku, dan
berhubungan dengan sejumlah penyakit penyerta. Lesi pada psoriasis dapat menyebabkan
gatal, menimbulkan rasa terbakar, dan rasa sakit. Penyakit kulit psoriasis ini dimediasi oleh
beberapa proses proliferasi yang berlebihan dari keratinosit, proliferasi endotel pembuluh
darah dan infiltrasi sel inflamasi dari dermis dan epidermis (who, zohreh)
-

Epidemiologi

Prevalensi psoriasis bervariasi anatara 0,1-11,8% di berbagai populasi dunia. Insiden di


Asia cendrung rendah (0,4%). Tidak ada perbedaan insidens pada pria ataupun wanita.
Penyakit ini terjadi pada segala usia, tersering pada usia 15-30 tahun. Puncak usia kedua
tersering adalah 57-60 tahun. Psoriasis dapat timbul pada semua usia, tetapi jarang pada usia
kurang dari 10 tahun, biasanya sering terjadi antara usia 15 dan 30 tahun. Penyakit psoriasis
ini mempengaruhi 0,5% samapai 2% pada anak-anak dan remaja. Psoriasis ini juga
mempengaruhi 4% dari semua anak-anak dari usia 16 tahun dengan semua jenis ganguan
dermatologi. (dwindya)

Prevalensi Psoriasis pada anak

Data epidemiologi terjadinya psoriasis pada anak-anak sepenuhnya belum jelas tetapi
menurut laporan di Inggris oleh Gelfand et.al diperkirakan sekitar 0,55% pada usia 0-9 tahun
dan 1,37% pada anak-anak yang berusia 10-19 tahun, sedangkan pada anak-anak di Jerman
terjadi sekitar 0,18% pada anak yang berusia 0-9 tahun, berbeda dengan di Eropa prevalensi
untuk kejadian psoriasis pada anak-anak hanpir tidak ada dilaporkan pada data
epidemiologinya. Selain itu dari berbagai laporan lain telah melaporkan 10% dari kasus
terjadi sebelum usia 10 tahun, dan 2% terjadi sebelum usia 2 tahun. Sedangkan pada
penelitian yang dilakukan pada tahun 2011 di Southern California menunjukan prevalensi
psoriasis pada anak-anak adalah 30 anak dalam 100.000 populasi anak-anak. Insiden ini
bervariasi pada pria dan wanita menurut wilayah geografis. Pada populasi di Australia
melaporkan bahwa 71 % dari anak-anak yang menderita psoriasis memiliki keluraga dengan
riwayat menderita penyakit psoriasis juga, hal ini membuktikan bahwa peran genetik sangat
kuat pada penyakit psoriasis (brockers, masoud )

Tatalaksana
Terapi topikal

1. Kortikosteroid
Glukokortikoid

dapat

menstabilkan

dan

menyebabkan

translokasi

reseptor

glukokortikoid. Sediaan topikalnya dipergunakan sebagai lini pertama pengobatan psoriasis


ringan hingga sedang di area fleksural dan genitalia, karena obat topikal lain dapat
mencetuskan iritasi. Kortikosteroid ini memberikan efek anti inflamasi, vasokonstriksi dan
menurunkan tumover sel (sitostatik), sehingga kortikosteroid potensi sedang dan kuat lebih
sesuai untuk psoriasus oleh karena efek sitostatiknya. Dosisnya dapat dipakai 1-2 kali sehari,
dapat dikombinasikan dengan obat topikal lainnya, fototerapi, dan obat sistemik.
2. Vitamin D3 dan Analog
Setelah berikatan dengan reseptor vitamin D, vitamin D3 akan meregulasi pertumbuhan dan
diferensiasi sel, mempengaruhi fungsi imun, menghambat proliferasi keratinosit, memodulasi
diferensiasi epidermis, serta menghambat produksi beberapa sitokin pro-infl amasi seperti
interleukin 2 dan interferon gamma. Analog vitamin D3 yang telah digunakan dalam
tatalaksana penyakit kulit adalah calcipotriol, calcipotriene,maxacalcitrol, dan tacalcitol.
3. Anthralin (Dithranol)
Dithranol dapat digunakan untuk terapi psoriasis plakat kronis, dengan efek antiproliferasi
terhadap keratinosit dan antiinflamasi yang poten, terutama yang resisten terhadap terapi lain.
Dapat dikombinasikan dengan phototherapy UVB dengan hasil memuaskan (regimen
Ingram).
4. Tar Batubara
Penggunaan tar batubara dan sinar UV untuk pengobatan psoriasis telah diperkenalkan oleh
Goeckerman sejak tahun 1925. Efeknya antara lain mensupresi sintesis DNA dan mengurangi
aktivitas mitosis lapisan basal epidermis, serta beberapa komponen memiliki efek
antiinflamasi. Lebih sering digunakan sebagai terapi untuk kulit kepala dengan kortikosteroid
atau kombinasi dengan UVB.
5. Tazarotene
Merupakan generasi ketiga retinoid yang dapat digunakan secara topikal untuk mereduksi
skuama dan plak, walaupun efektivitasnya terhadap eritema sangat minim. Efi kasinya dapat
ditingkatkan bila dikombinasikan dengan glukokortikoid potensi tinggi atau phototherapy.
6. Inhibitor Calcineurin Topikal

Takrolimus merupakan antibiotik golongan makrolid yang bila berikatan dengan


immunophilin membentuk kompleks yang menghambat transduksi sinyal limfosit T dan
transkripsi interleukin 2. Meskipun takrolimus tidak efektif dalam pengobatan plak kronis
psoriasis, namun terbukti efektif untuk psoriasis vasialis inversa.
Phototherapy
Phototherapy biasanya digunakan pada pasien dengan psoriasis generalisata sedang
sampai berat dengan luas permukaan tubuh yang terkena >3%. Phototherapy ini dapat
mendeplesi sel limfosit T secara selektif, terutama di epidermis, melalui apoptosis dan
perubahan respons imun Th1 menjadi Th2.
1. Sinar Ultraviolet B (290-320 nm) Terapi UVB inisial berkisar antara 50-75% minimal
erythema dose (MED). Tujuan terapi adalah mempertahankan lesi eritema minimal sebagai
indikator tercapainya dosis optimal. Terapi diberikan hingga remisi total tercapai atau bila
perbaikan klinis lebih lanjut tidak tercapai dengan peningkatan dosis.
2. Psoralen dan Terapi Sinar Ultraviolet A (PUVA) PUVA merupakan kombinasi psoralen
dan longwave ultraviolet A yang dapat memberikan efek terapeutik, yang tidak tercapai
dengan penggunaan tunggal keduanya.
3. Excimer Laser
Diindikasikan untuk tatalaksana pasien psoriasis dengan plak rekalsitran, terutama di
bahu dan lutut.
4. Terapi Fotodinamik
Terapi fotodinamik telah dilakukan pada beberapa dermatosis infl amatorik termasuk
psoriasis. Meski demikian, terapi ini tidak terbukti memuaskan
Terapi Obat Sistemik Per Oral
1. Metotreksat
Metotreksat (MTX) merupakan pilihan terapi yang sangat efektif bagi psoriasis tipe plak
kronis, juga untuk tatalaksana psoriasis berat jangka panjang, termasuk psoriasis eritroderma
dan psoriasis pustular. MTX bekerja secara langsung menghambat hiperproliferasi epidermis
melalui inhibisi di hidrofolat reduktase. Efek antiinflamasi disebabkan oleh inhibisi enzim
yang berperan dalam metabolisme purin. Dosis diberikan sebagai dosis orang tunggal

mingguan. Dosis dapat ditingkatkan secara bertahap sampai mendapatkan respon pengobatan
yang optimal; dosis maksimal tidak boleh melebihi 30 mg/minggu.
2. Acitretin
Acitretin merupakan generasi kedua retinoid sistemik yang telah digunakan untuk pengobatan
psoriasis sejak tahun 1997. Monoterapi acitretin paling efektif bila diberikan pada psoriasis
tipe eritrodermik dan generalized pustular psoriasis.
3. Siklosporin A (CsA)
CsA per oral merupakan sangat efektif untuk psoriasis kulit ataupun kuku, terutama pasien
psoriasis eritrodermik. Dosis: 2.5-5.0 mg/kgBB/hari dosis terbagi. Dosis dikurangi 0.5-0.1
mg/kgBB/hari bila sudah berhasil atau terdapat efek samping. Pemakain jangka lama (>2
tahun) tidak dianjurkan karena dapat menyebabkan nefrotosisitas dan kemungkinan
keganasan
4. Ester Asam Fumarat
Preparat

ini

diabsorbsi

lengkap

di

usus

halus,

dihidrolisis

menjadi

metabolit

aktifnya,monometilfumarat, yang akan menghambat proliferasi keratinosit serta mengubah


respons sel Th1 menjadi Th2. Terapi ini dapat diberikan jangka lama (>2 tahun) untuk
mencegah relaps ataupun singkat (hinggatercapai perbaikan).
5.Steroid Sistemik
Steroid sistemik tidak rutin dalam tatalaksana psoriasis, karena risiko kambuh tinggi jika
terapi dihentikan. Preparat ini diindikasikan pada psoriasis persisten yang tidak terkontrol
dengan modalitas terapi lain, bentuk eritroderma, dan psoriasis pustular (Von Zumbuch).
6. Mikofenolat Mofetil
Merupakan bentuk pro-drug asam miko fenolat, yaitu inhibitor inosin

monophosphate

dehydrogenase. Asam mikofenolat mendeplesi guanosin limfosit T dan B serta menghambat


proliferasinya, sehingga menekan respons imun dan pembentukan antibodi.
7. Hidroksiurea
Hidroksiurea merupakan anti-metabolit yang dapat digunakan secara tunggal dalam
tatalaksana psoriasis, tetapi 50% pasien yang berespons baik terhadap terapi ini mengalami
efek samping supresi sumsum tulang (berupa leukopenia atau trombositopenia) serta ulkus
kaki. (Dwinidya, panduan pelayanan)

Tatalaksana pada anak


Untuk anak-anak dengan psoriasis, pengobatan awal difokuskan pada penggunaan

emolien dasar dan kortikosteroid topikal, Pilihan ini tergantung pada beratnya lesi kulit.
Untuk plak pada wajah, digunakan kortikosteroid topikal derajat ringan sampai sedang
(misalnya hidrokortison 1% atau methylprednisolone aceponate 0,1%). Sedangkan Untuk
plak pada tubuh, kortikosteroid topikal derajat sedang diperlukan misalnya Betametason
dipropionat dikombinasikan dengan kalsipotriol, yang lebih efektif untuk psoriasis. psoriasis
dapat awalnya diobati dengan topikal lotion kortikosteroid, seperti methylprednisolone
aceponate 0,1% atau betametason dipropionat/kalsipotriol gel. lotion kortikosteroid yang
alkohol berbasis (mis mometason furoat0,1% atau betametason dipropionat 0,05%) biasanya
menyebabkan rasa terbakar dan tidak bisa ditoleransi oleh anak-anak.
Untuk pengobatan pemeliharaan kulit kepala pada psoriasis, sampo berbahan dasar Tar bisa
digunakan. Petunjuk penggunaannya yaitu dengan menggosok sampoke kulit kepala dan
biarkan selama 5sampai 10 menit sebelum membilas dan kemudian mencuci rambut normal.
Sedangkan fototerapi sangat berguna untuk anak-anak dengan psoriasis yang mencakup area
permukaan besar dari tubuh dan untuk daerah yang sangat sulit untuk diobati, seperti tangan
dan kaki. Untuk obat sistemik diperlukan untuk sekelompok kecil anak-anak yang memiliki
psoriasis yang parah dan meluas. Acitretin dan methotrexate umumnya digunakan - obat ini
efektif dan memiliki tingkat keamanan yang baik pada anak-anak. Berdasarkan Agent
Biology Etanercept telah menyetujui untuk digunakan pada anak di atas 4 tahun. (andrew )
-

Prognosis

Psoriasis guttata biasanya akan hilang sendiri (self limited) dalam 12-16 minggu tanpa
pengobatan, meskipun pada beberapa pasien menjadi lesi plakat kronik. Psoriasis tipe
plakat kronis berlangsung seumur hidup, dan interval antar gejala tidak dapat diprediksi.
Remisi spontan dapat terjadi pada 50% pasien dalam waktu yang bervariasi. Ertitroderma
dan generalized pustular psoriasis memiliki prognosis yang lebih buruk dengan
kecendrungan menjadi persisten. (dwinidya)

Daftar pustaka
1. World Health Organization. Global Report On Psoriasis 2016. Diaksespada 12
november 2016,Terdapat di:
http://apps.who.int/iris/bitstream/10665/204417/1/9789241565189_eng.pdf?ua=1
2. Dwinidya Yuliastuti. Psoriasis. RS Melia Cibubur Depok Indonesia. 2015. 42-16
3. Andrew Lee, Gayle Fischer. Paediatric Psoriasis A Common Skin Disorder with
Potential Multisystem Implication. 2015;16(9): 45-50
4.

Zohreh Hajheydari, Leila Sarparast, Soheila Shahmohammadi.


Management Of Psoriasis in Children: a Narrative Review. 2015.3(1)

5. Brocker, Paller, Kerkhof, Geel, et al. Psoriasis In Children and Adolescent: Diagnosis,
Management and Comorbidities.2015. 17:373384
6. Masoud Golpour, Mehrdad Taghipour, Mina Rostami, et al. Psoriasis in Children : A
Comprehensive Review Article. 2014. 1;1-8
7. Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI). Panduan
Layanan Klinis Dermatologi dan Venerologi. 2014.