Anda di halaman 1dari 23

FISTULA PREAURIKULAR

I. PENDAHULUAN
Fistula preaurikular terjadi ketika pembentukan daun telinga pada masa
embrio. Kelainan ini berupa gangguan embrional pada arkus brakial 1 dan 2.
Fistula preaurikular sering ditemukan pada suku bangsa di Asia dan Afrika, yang
merupakan kelainan herediter yang dominan. Fistula preaurikular juga biasa
disebut sebagai sinus preaurikular atau pit preaurikular.1-6
Kelainan ini seringkali ditemukan pada pemeriksaan fisik berupa lubang
kecil yang mengarah ke telinga luar, biasanya pada tepi anterior dari bagian
ascending heliks. Kelainan ini sering dilaporkan terjadi pada permukaan lateral
crus heliks dan tepi posterosuperior dari heliks, tragus atau lobulus. Secara
anatomi, kelainan ini terletak pada lateral dan superior dari nervus fasialis dan
kelenjar parotis. Fistula dapat ditemukan di depan tragus atau di sekitarnya dan
seringkali mengalami infeksi. Pada keadaan tenang, tampak muara fistula
berbentuk bulat atau lonjong, berukuran seujung pensil. Dari muara fistula sering
keluar sekret yang berasal dari kelenjar sebasea.3
Fistula preaurikular diturunkan secara autosomal dominan inkomplit.
Kelainan ini dapat muncul secara spontan. Fistula dapat terjadi secara bilateral,
terjadi pada 25-50% kasus. Pada kasus yang terjadi secara unilateral, preaurikular
kiri lebih sering terkena. 1-5
Biasanya pasien datang karena terdapat obstruksi dan infeksi fistula,
sehingga terjadi pioderma atau selulitis fasial. Bila tidak ada keluhan, operasi
tidak perlu dilakukan. Akan tetapi apabila terdapat abses berulang dan
pembentukan sekret kronis, maka perlu dilakukan pengangkatan fistula
seluruhnya, karena bila tidak bersih akan menyebabkan kekambuhan. 3
II. INSIDEN
Dalam sebuah studi, insidensi fistula preaurikular di Amerika Serikat
sekitar 0-0.9% dan insidensinya di kota New York sekitar 0.23%. Di Taiwan,
insidensinya sekitar 1.6-2.5%; di Skotlandia sekitar 0.06% dan di Hungaria sekitar

Fistula Preaurikular 1

0.47%. Di beberapa bagian Asia dan Afrika, insidensinya sekitar 4-10%. Insidensi
fistula preaurikular pada orang kulit putih adalah 0.0-0.6% and insidensinya pada
ras Amerika, Afrika dan Asia adalah 1-10%. Baik laki-laki maupun perempuan
memiliki kemungkinan yang sama untuk menderita kelainan ini. Fistula
preaurikular muncul pada masa antenatal dan terlihat pada saat lahir.3
III.ETIOLOGI
Fistula preaurikular kongenital terbentuk akibat gangguan penyatuan dan
penutupan arkus brakialis pertama dan kedua dari hillocks of His. Pada usia janin
4 minggu arkus brakialis tampak di permukaan janin. Setelah minggu ke enam
hyoid dan arkus mandibular menyatu dan melintas di bawah kedudukan kanalis
aurikularis eksterna, lalu kemudian menutup. Daerah penyatuan terletak di leher
pada region sub mandibular. Gangguan penutupan celah tersebut menyebabkan
fistula preaurikular kongenital, sehingga pada umumnya muara fistula terletak
pada crus helicis, sebagian yang lain meluas dari pinggir bawah heliks ke sudut
mulut. Fistula ini juga bisa terbuka ke atas pada lantai meatus akustikus eksternus
dan di bagian pinggir depan bawah dari otot sternokleidomastoideus pada daerah
belakang sudut rahang bawah.1,3,4
Fistula ini sering menjadi infeksi dan bakteri yang menyebabkan infeksi
ini adalah Staphylococcus epidermidis (31%), Staphylococcus aureus (31%),
Streptococcus viridians (15%), Peptococcus species (15%), dan Proteus species
(8%).1
IV. ANATOMI TELINGA LUAR
Secara garis besar telinga dibagi menjadi 3 bagian, yaitu telinga luar,
telinga tengah, dan telinga dalam. Telinga luar dimulai dari daun telinga
(aurikula), meatus akustikus eksterna, hingga membran timpani. Telinga tengah
meliputi cavum timpani yang didalamnya terdapat ossikula auditorik. Telinga
dalam terdiri dari labirin cochlea dan labirin vestibularis.2

Fistula Preaurikular 2

Gambar 2. Potongan coronal telinga. Telinga terbagi menjadi 3 bagian yaitu: (1) telinga luar terdiri atas
aurikula dan meatus akustikus eksterna, (2) telinga tengah yang terdiri dari cavum timpani dan ossikula
auditorik, dan (3) telinga dalam yang terdiri dari labirin cochlear dan labirin vestibular. 1

Daun Telinga
Daun telinga terletak di kedua sisi kepala, merupakan lipatan kulit dengan
dasarnya terdiri dari tulang rawan yang juga ikut membentuk liang telinga bagian
luar. Hanya cuping telinga atau lobulus yang tidak mempunyai tulang rawan,
tetapi terdiri dari jaringan lemak dan jaringan fibrosa.7
Permukaan lateral daun telinga mempunyai tonjolan dan daerah yang
datar. Tepi daun telinga yang melengkung disebut heliks. Pada bagian posterosuperiornya terdapat tonjolan kecil yang disebut tuberkulum telinga (Darwin
tubercle). Pada bagian anterior heliks terdapat lengkungan disebut antiheliks.
Bagian superior antiheliks membentuk dua buah krura antiheliks, dan bagian di
kedua krura ini disebut fosa triangularis. Di atas kedua krura ini terdapat fossa
skafa. 7
Di depan antiheliks terdapat konka, yang terdiri atas bagian yaitu simba
konka, yang merupakan bagian antero superior konka yang ditutupi oleh crus
helicis dan kavum konka yang terletak di bawahnya berseberangan dengan konka
dan dibawah crus helicis terdapat tonjolan kecil berbentuk segi tiga tumpul yang
1

Dikutip dari kepustakaan no.8


Fistula Preaurikular 3

disebut tragus. Bagian di seberang tragus dan terletak pada batas bawah antiheliks
disebut antitragus. Tragus dan antitragus dipisahkan oleh celah intertragus.
Lobulus merupakan bagian daun yang terletak dibawah antiheliks yang tidak
mempunyai tulang rawan dan terdiri dari jaringan ikat dan jaringan lemak. Di
permukaan posterior daun telinga terdapat juga tonjolan dan cekungan yang
namanya sesuai dengan anatomi yang membentuknya yaitu sulkus heliks, sulkus
crus helicis, fossa antiheliks, eminensia konka dan eminensia skafa. 7
Rangka tulang rawan daun telinga dibentuk oleh lempengan fibrokartilago
elastik. Tulang rawan tidak terbentuk pada lobulus dan bagian daun telinga
diantara crus helicis dan tulang rawan daun telinga ini ditutupi oleh kulit dan
hubungkan dengan struktur di sekitarnya oleh ligametum dan otot-otot. Tulang
rawan daun telinga berhubungan dengan tulang rawan liang telinga melalui bagian
yang disebut isthmus pada permukaan posterior dimana perlekatannya tidak
terlalu erat karena ada lapisan lemak subdermis yang tipis. Kulit daun telinga
ditutupi oleh rambut-rambut halus yang mempunyai kelenjar sebasea pada
akarnya. Kelenjar ini banyak terdapat dikonka dan fossa skafa. 7
Ligamentum daun telinga terdiri dari ligamentum ekstrinsik dan
ligamentum intrinsik. Ligamentum ekstrinsik menghubungkan tulang rawan daun
telinga dan tulang temporal. Ligamentum intrinsik berukuran kecil dan
menghubungkan bagian-bagian daun telinga satu sama lain. 7
Otot daun telinga terdiri dari 3 buah otot ekstrinsik dan enam buah otot
intrinsik. Otot ekstrinsik terdiri m.aurikularis anterior, m.aurikularis superior dan
m.aurikularis posterior. Otot-otot ini menghubungkan daun telinga dengan tulang
tengkorak dan kulit kepala. Otot-otot ini bersifat rudimenter, tetapi pada beberapa
orang tertentu ada yang masih mempunyai kemampuan untuk menggerakan daun
telinganya keatas dan kebawah dengan menggerakan otot-otot ini. Otot intrinsik
terdiri dari m.heliksis mayor, m.heliksis minor, m.tragikus, m.antitragus,
m.obliqus aurkularis dan m.transversus aurikularis. Otot-otot ini menghubungkan
bagian-bagian daun telinga. 7
Persarafan sensorik daun telinga ada yang berasal dari pleksus servikalis
yaitu : n.aurikularis magnus bersama dengan cabang kutaneus n.fasialis
mempersarafi permukaan posterior dan anterior dan bagian posterior. Nervus
Fistula Preaurikular 4

oksipitalis mempersarafi bagian atas permukaan posterior daun telinga. Nervus


aurikulotemporalis merupakan cabang n.mandibularis memberikan persarafan
daerah tragus, crus helicis dan bagian atas heliks. 7
Bentuk dari kulit, tulang rawan dan otot pada suatu keadaan tertentu dapat
menentukan bentuk dan ukuran dari orifisium liang telinga bagian luar, serta
menentukan sampai sejauh mana serumen akan tertahan dalam liang telinga
disamping itu mencegah air masuk kedalam liang telinga. 7

Gambar 1. Auricula2

Liang Telinga Luar


Liang telinga luar yang sering disebut meatus, merupakan suatu struktur
berbentuk S yang panjangnya kira-kira 2,5 cm, membentang dari konka telinga
sampai membran timpani. Oleh karena kedudukan membran timpani miring
menyebabkan liang telinga bagian belakang atas lebih pendek kira-kira 6 mm dari
dinding anterior inferior. Bagian lateral liang telinga adalah tulang rawan meluas
kira-kira panjang liang telinga. Bagian tulang rawan liang telinga luar sedikit
mengarah ke atas dan ke belakang dan bagian tulang sedikit ke bawah dan ke
depan. Penarikan daun telinga kearah belakang atas luar, akan membuat liang
telinga cenderung lurus sehingga memungkinkan terlihatnya membran timpani
pada kebanyakan liang telinga. Dinding depan, dasar dan sebagian dinding
belakang dari liang telinga dibentuk oleh tulang rawan yang mana terbentuk
2

Dikutip dari kepustakaan no.8


Fistula Preaurikular 5

penyempitan depan bawah, bila meluas ke media. Ujung sebelah dalam dari jalur
ini melekat erat dengan permukaan luar yang kasar dari bagian tulang liang
telinga. Bagian superior dan posterior dibentuk oleh jaringan ikat padat yang
mana berlanjut dengan prosteum dari bagian tulang liang telinga. 7
Liang telinga bagian tulang rawan sangat lentur dan fleksibel sebagian
akibat adanya dua atau tiga celah tegak lurus dari santrorini pada dinding tulang
rawan. Pada liang telinga bagian tulang ada bagian daerah cembung yang
bervariasi dari dinding anterior dan inferior tepat di medial persambungan antara
bagian tulang dan disebut ishmus. Sesudah ishmus, dasar liang telinga menurun
tajam ke bawah dan kemudian menaik ke atas ke arah persambungan pinggir
inferior anulus timpanikus, membentuk lekukan yang disebut recensus
tympanicus

inferior. Sudut yang dibentuk dinding anterior dengan membran

timpani juga memiliki kepentingan klinis, dimana daerah ini dapat menjadi tempat
penumpukan keratin atau serumen yang nantinya dapat bertindak sebagai sumber
infeksi. Hubungan antara liang telinga dengan struktur sekelilingnnya juga
mempunyai arti klinis yang penting. Dinding anterior liang telinga kearah medial
berdekatan dengan sendi temporomandibular dan ke lateral dengan kelenjar
parotis.7
Dinding inferior liang telinga juga berhubungan erat dengan kelenjar
parotis. Dehisensis pada liang telinga bagian tulang rawan (fissure of Santorini)
memungkinkan infeksi meluas dari liang telinga luar kedalam parotis dan
sebaliknya pada ujung medial dinding superior liang telinga bagian tulang
membentuk lempengan tulang berbentuk baji yang disebut tepi timpani dari tulang
temporal, yang mana memisahkan lumen liang telinga dari epitimpani. Dinding
superior liang telinga bagian tulang, disebelah medial terpisah dari epitimpani
oleh lempengan tulang baji kearah lateral suatu lempengan tulang lebih tebal
memisahkan liang telinga dari fossa kranii medial. Dinding posterior liang telinga
bagian tulang terpisah dari sel udara mastoid oleh suatu tulang tipis. Bentuk dari
daun telinga dan liang telinga luar menyebabkan benda asing serangga dan air
sulit memasuki liang telinga bagian tulang dan mencapai membran timpani.
Orifisium dan liang telinga luar yang kecil dari tumpang tindih antara tragus dan
antitragus merupakan garis pertahanan pertama terhadap kontaminasi dari liang
Fistula Preaurikular 6

telinga dan trauma membran timpani. Garis pertahanan kedua dibentuk oleh
tumpukan massa serumen yang menolak air, yang mengisi sebagian liang telinga
bagian tulang rawan tepat di medial orifisium liang telinga. Garis pertahanan
ketiga yaitu bagian tulang rawan dan bagian tulang liang telinga, hal ini karena
dinding liang telinga yang cembung. Penyempitan ini membuat serumen
menumpuk atau benda asing sulit memasuki lumen liang telinga bagian tulang
dan membran timpani.7
Kulit liang telinga
Liang telinga sebenarnya mempunyai lapisan kulit yang sama dengan
lapisan kulit pada bagian tubuh lainnya yaitu dilapisi epitel skuamosa. Kulit liang
telinga merupakan lanjutan kulit daun telinga dan kedalam meluas menjadi
lapisan luar membran timpani. Lapisan kulit liang telinga luar lebih tebal pada
pars cartilagineus daripada pars osseus. Pada liang telinga pars cartilagineus
tebalnya 0,5 1 mm, terdiri dari lapisan epidermis dengan papillanya, dermis dan
subkutan yang melekat dengan perikondrium.7
Lapisan kulit liang telinga pars osseus lebih tipis, tebalnya kira-kira 0,2
mm, tidak mengandung papilla, melekat erat dengan periosteum tanpa lapisan
subkutan, berlanjut menjadi lapisan luar dari membran timpani dan menutupi
sutura antara tulang timpani dan tulang. Kulit pada daerah ini tidak mengandung
kelenjar dan rambut.7
Epidermis dari liang telinga pars cartilagineus biasanya terdri dari 4
lapisan yaitu sel basal, skuamosa, sel granuler dan lapisan tanduk.7
Folikel-folikel Rambut
Folikel rambut banyak terdapat pada 1/3 bagian luar liang telinga, pendek
dan tersebar secara tidak teratur, tetapi tidak begitu banyak pada 2/3 liang telinga
pars cartilagineus. Pada liang telinga pars osseus, rambut-rambutnya halus dan
kadang-kadang terdapat kelenjar pada dinding posterior dan superior. Dinding luar
folikel rambut dibentuk oleh invaginasi epidermis yang menipis ketika mencapai
dasar folikel, dinding sebelah dalam folikel adalah rambut sendiri. Ruang
potensial yang terbentuk disebut kanalis folikularis. Kelenjar sebasea atau kelenjar
Fistula Preaurikular 7

lemak banyak terdapat pada liang telinga dan hampir semuanya bermuara ke
folikel rambut.7
Kelenjar-kelenjar Sebasea dan Apokrin
Kelenjar sebasea pada telinga berkembang baik pada daerah konka,
ukuran diameternya 0,5 -2,2 mm. Kelenjar ini banyak terdapat pada liang telinga
luar bagian tulang rawan, dimana kelenjar ini berhubungan dengan rambut. Pada
bagian luar liang telinga bagian tulang rawan, kelenjar sebasea menjadi lebih
kecil, berkurang jumlahnya dan lebih jarang atau tidak ada sama sekali pada kulit
liang telinga bagian tulang. Kelenjar sebasea terletak secara berkelompok pada
bagian superfisial kulit.7
Umumnya, beberapa alveoli yang berdekatan terbuka dalam saluran
ekskresi yang pendek. Saluran-saluran ini dilapisi dengan epitel yang berlanjut
menjadi sarung akar rambut luar dan dengan lapisan basal epidermis bagian
sekresi kelenjar-kelenjar sebasea berupa alveoli yang bundar berdiameter 0,5 2,0
mm kearah sentral alveoli, sebagian kecil sel-sel mengalami keratinisasi tetapi
ukuran bertambah besar, menjadi polihidral dan secara bertahap dan terisi butirbutir lemak. Lambat laun intinya mengkerut dan menghilang, dan sel-sel pecah
menjadi serpihan-serpihan lemak bercampur dengan sisi bertanduk. Campuran ini
merupakan sekresi berminyak dari kelenjar, lalu dieksresikan dalam kanalis
folikularis dan keluar kepermukaan kulit. Kelenjar apokrin terutama terletak pada
dinding liang telinga superior dan inferior. Kelenjar-kelenjar ini terletak pada
sepertiga tengah dan bawah dari kulit dan ukurannya berkisar 0 ,5-2,0 mm.
Seperti kelenjar sebasea ,kelenjar apokrin terbentuk dari lokal dari pembungkus
luar akar folikel rambut. Kelenjar kelenjar ini dapat dibagi kedalam 3 bagian ,
yaitu bagian sekresi, saluran sekresi didalam kulit dan saluran terminal atau
komponen saluran epidermal.7
Bagian saluran yang melingkar adalah struktur tubular dimana jarang
bercabang dan terdiri dari lapisan epitel di sebelah dalam, lapisan mioepitel di
tengah dan membran propria di sebelah luar. Disekeliling tubular adalah jaringan
ikat padat. Epitelnya berupa lapisan tunggal bervariasi dari bentuk silinder hingga
kuboidal sangat gepeng (pipih). Didalam sitoplasma, biasanya terletak

Fistula Preaurikular 8

supranuklear terlihat sebagai granul lipoid dan pigmen dalam ukuran yang
bervariasi. Lapisan mioepitelium yang tebalnya satu lapis sel berbentuk pipih dan
mengandung otot polos membentuk pembungkus melingkari kelenjar, dan apabila
berkontraksi akan menekan lumen tubuli sehingga sekret akan keluar. Apabila
sampai di permukaan epidermis, sekret ini sebagian masuk folikel rambut dan
sebagian lagi ke permukaan bebas liang telinga, secara perlahan-lahan akan
mengering dan berbentuk setengah padat dan berwarna menjadi lebih gelap.
Saluran sekresi relatif panjang dan berbelok-belok dan mempunyai diameter yang
bervariasi, berbatas tegas dari bagian sekresi kelenjar.7
Pendarahan
Arteri-arteri dari daun telinga dan liang telinga luar berasal dari cabang
arteri temporalis superfisial dan aurikular posterior dari arteri karotis eksterna.
Permukaan anterior telinga dan bagian luar liang telinga diperdarahi oleh cabang
arteri aurikular anterior dari arteri temporalis superfisial. Suatu cabang dari arteri
aurikular posterior memperdarahi permukaan posterior telinga. Banyak dijumpai
anastomosis diantara cabang-cabang dari arteri ini. Pendarahan kebagian lebih
dalam dari liang telinga luar dan permukaan luar membrana timpani adalah oleh
cabang aurikular dalam arteri maksilaris interna. Vena telinga bagian anterior,
posterior dan bagian dalam umumnya bermuara ke vena jugularis eksterna dan
vena mastoid. Akan tetapi, beberapa vena telinga mengalir ke dalam vena
temporalis superfisial dan vena aurikularis posterior.7

Fistula Preaurikular 9

Gambar 3. Vascularisasi Auricula3

Beberapa cabang yang lebih kecil dari arteri-arteri dan vena-vena


menembus jaringan ikat padat yang menjembatani bagian yang kurang tulang
rawannya. Sebagian cabang lainnya melewati fissura Santorini pada dinding
tulang rawan anterior dan jaringan ikat fibrosa yang mempersatukan tulang rawan
dengan bagian tulang liang telinga. Pembuluh-pembuluh ini kemudian bercabang
dan beranastomosis pada selaput membran liang telinga dan membentuk jaringan
vaskular kutaneus profunda, dibagian dalam perikondrium.7
Sejumlah besar cabang-cabang arteri menaik tegak lurus ke papilla
dermis ke dalam daerah cabang-cabang arteri dari lekukan kapiler. Lekukanlekukan ini mengalir ke dalam pleksus venous dan selanjutnya ke dalam jaringan
venosus di atas perikondrum. Satu arteriol tunggal memperdarahi tubulus
sekretorius dan kebanyakan saluran kelenjar apokrin, selanjutnya memisahkan diri
menjadi kapiler yang sangat banyak, yang bergabung kedalam dua atau lebih
kumpalan venula.7
Persarafan
Persarafan telinga luar bervariasi berupa gabungan antara saraf-saraf
kutaneus dan kranial. Nervus aurikulotemporalis berasal dari nervus mandibularis
yang merupawkan cabang dari nervus trigeminus (N.V) mempersarafi permukaan
anterolateral permukaan telinga, dinding anterior dan superior liang telinga, dan
segmen depan membran timpani.

Dikutip dari kepustakaan no.7


Fistula Preaurikular 10

Permukaan posteromedial daun telinga dan lobulus dipersarafi oleh pleksus


servikalis nervus aurikularis mayor. Cabang aurikularis dari nervus fasialis
(N.VII), glossofaringeus (N.IX) dan vagus (N.X) menyebar ke daerah konka dan
cabang-cabang saraf ini mempersarafi dinding posterior dan inferior liang telinga
dan segmen posterior dan inferior membran timpani. Batang saraf utama pada
jaringan subkutan beralan sejajar dengan permukaan kulit. Cabang-cabang di
dalam dermis naik secara vertikal dari batang saraf subkutaneus tadi. Disini sarafsaraf masuk diantara lilitan kelenar-kelenjar dan menyelimuti masing-masing
tubulus dengan sejumlah besar anastomosis. Serabut-serabut saraf tadi
membentuk suatu jaringan diatas struktur membrana propria dan pada beberapa
daerah dapat menembus kelenjar-kelenjar ekrin kecil. Masing-masing serabut
membentuk jaringan berbentuk keranjang di sekeliling folikel rambut.7
Terdapat suatu pemikiran bahwa kelenjar apokrin dari aksila dan liang
telinga luar dapat dirangsang oleh adrenalin dan preparat yang menyerupainya
yang diberi secara sistemik atau melalui suntikan lokal. Sekresinya tidak diinduksi
melalui penyuntikan asetilkolin. Kolinesterase dijumpai di sekeliling tubular
kelenjar apokrin kulit liang telinga, ini menunjukan bahwa saraf yang
menginnervasinya tidak bersifat kolinergik. Temuan ini menguatkan pemikiran
bahwa inervasi kelenjar apokrin liang telinga adalah simpatomimetik. Disini tidak
ada bukti nyata akan pengaruh saraf terhadap sekresi kelenjar sebasea, walaupun
kenyataan bahwa serabut-serabut saraf tanpa myelin dapat terlihat di sekeliling
kelenjar.7

Fistula Preaurikular 11

Gambar 4. Persarafan Auricula4

Sistim Limfatik
Pembuluh-pembuluh limfe berasal dari papilla dermis di sekeliling folikel
rambut dan kelenjar sebasea seperti anyaman berbentuk bintang menghubungkan
lakuna. Pengaliran dari pembuluh-pembuluh tersebut kedalam kelenjar pre dan
post aurikular. Sistim limfe liang telinga luar berhubungan erat dengan sistem
limfe prosesus mastoideus dan kelenjar parotis. Pada infeksi tertentu dari liang
telinga kelenjar-kelenjar limfe yang berdekatan dengan liang telinga menjadi
membesar dan sistem limfatik bagian anterior dan superior liang telinga, tragus
dan kulitnya dekat daerah temporal bermuara ke dalam kelenjar preaurikular yang
terletak di atas kelenjar parotis.7
Saluran eferen kelenjar parotis menuju kelenjar servikal profunda bagian
superior, lalu dari lobulus, heliks dan dinding inferor liang telinga mengalir
kedalam kelenjar infra aurikular ke inferior telinga dan posterior sudut rahang
bawah.7

Dikutip dari kepustakaan no.7


Fistula Preaurikular 12

Gambar 5. Sitem Limfatik Auricula 5

V. PATOFISIOLOGI
Selama embriogenesis, daun teliga (aurikula) muncul dari arkus brakial 1
dan 2 pada minggu keenam kehamilan. Arkus brakial adalah struktur mesoderm
yang dibungkus oleh ektoderm dan mengelilingi endoderm. Arkus-arkus ini
terpisah satu dengan lainnya oleh celah brakial ektoderm kearah luar dan oleh
kantong faringeal endoderm kearah dalam. Arkus brakial 1 dan 2 brakial masingmasing membetuk 3 tonjolan (hillocks); struktur ini disebut hillocks of His. Tiga
hillocks muncul dari tepi bawah arkus brakial 1 dan 3 lagi dari batas atas arkus
brakial kedua. Hillocks ini seharusnya bergabung selama beberapa minggu
kemudian pada masa embriogenesis. Fistula preaurikular terjadi sebagai akibat
dari kegagalan penggabungan tonjolan- tonjolan ini.1,3,4

Dikutip dari kepustakaan no.7


Fistula Preaurikular 13

Gambar 6. Perubahan dalam perkembangan telinga pada masa embriogenik 6

Fistula preaurikular biasanya sempit, panjangnya bervariasi (biasanya


pendek) dan salurannya biasanya kecil. Fistula preaurikular biasanya ditemukan
pada lateral, superior dan posterior dari nervus fasialis dan kelenjar parotis. Pada
hampir semua kasus, salurannya terhubung ke perikondrium dari kartilago daun
telinga. Salurannya dapat mengarah ke kelenjar parotis.1,4

VI. GAMBARAN KLINIS


Kelainan ini biasanya asimptomatik. Penderita dengan fistula preaurikular
kongenital pada umumnya datang ke dokter setelah terjadi obstruksi dan infeksi
fistel ini baik infeksi yang pertama ataupun infeksi yang berulang dengan
keluhan-keluhan rasa sakit dan bengkak di depan telinga serta demam. Penyebab
infeksi tersering adalah manipulasi penderita terhadap muara fistula karena
timbulnya rasa gatal atau keluarnya sekret. Sekret yang tidak dapat dikeluarkan
juga merupakan media yang baik untuk perkembangan bakteri sehingga akan
timbul suatu infeksi dan selanjutnya menjadi abses. Dapat pula terjadi pioderma
atau selulitis fasial.1-4

Gambar 7. Fistula Preaurikular7

66

Dikutip dari kepustakaan no.4


Fistula Preaurikular 14

Gambar 8.8

VII.

DIAGNOSIS

Anamnesis
Kebanyakan orang dengan kelainan ini biasanya asimptomatik. Hanya
sepertiga orang menyadari adanya kelainan ini. Dalam sebuah studi terhadap 31
pasien, suatu lesi menjadi jelas, sekitar 9,2 tahun (rata-rata) sebelum mereka
mencari pertolongan medis.3
Beberapa pasien fistula preaurikular datang dengan drainase kronik yang
intermitten berupa material purulen dari tempatnya yang terbuka. Drainase fistula
ini menjadi mudah mengalami infeksi. Sekali mengalami infeksi, fistula ini sering
berkembang menjadi eksaserbasi akut yang rekuren. Pasien mungkin datang
dengan selulitis fasial atau ulserasi yang berlokasi pada bagian depan telinga.
Ulserasi ini sering diobati tanpa mengetahui sumber primernya dan fistula
preaurikular menjadi tidak ketahuan. Perkembangan dari adanya infeksi, lesinya
mungkin dapat berkembang menjadi jaringan skar.1,3
Pemeriksaan Fisik
7

Dikutip dari kepustakaan no.9

Dikutip dari kepustakaan no.4


Fistula Preaurikular 15

Fistula preaurikular biasanya muncul sebagai sebuah celah kecil dekat tepi
anterior heliks bagian ascending. Jika fistula ini mengalami infeksi yang aktif
dapat ditemukan adanya tanda-tanda radang yang biasanya disertai pengeluaran
sekret, dan dapat meninggalkan gejala sisa berupa jaringan parut (scarring). Pada
pemeriksaan fisik dapat pula ditemukan fistula branchiogenik dan atau penurunan
pendengaran.3
Choi et al, pada tahun 2007, mencatat bahwa apa yang dikenal sebagai
fistula preaurikular dapat terjadi di area postaurikula. Fistula terjadi pada area
postaurikula memperlihatkan angka kekambuhan yang rendah setelah operasi
(0%) daripada area preaurikular (2.2%).3
Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium yang biasa dilakukan adalah kultur pus yang
berasal dari fistula. Pemeriksaan kultur ini digunakan mengetahui jenis
mikroorganisme penyebab infeksi pada saluran fistula, sehingga dapat diberikan
terapi antibiotik yang sesuai.3
Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan radiologi dapat digunakan untuk mengetahui bentuk dari
saluran fistula. Fistulografi digunakan untuk melihat bentuk dan sejauh mana
saluran fistula ini1. Sedangkan ultrasonograpi dapat digunakan untuk mengetahui
hubungan antara saluran fistula dengan arteri temporal superfsial, krus anterior
heliks, dan tragus.3
Gambaran Histologis
Pada pemeriksaan makroskopis, fistula preaurikular terdiri dari struktur
tubular yang sederhana atau gambaran melingkar memiliki dinding yang tipis dan
berkilau, atau putih dan menebal. Saluran fistula dapat melingkar atau dapat
berliku-liku, dan lumennya berisi debris. Fistula preaurikular sering penuh dengan
keratin dan dikelilingi oleh jaringan ikat longgar. Secara mikroskopis, duktus dari
fistula dikelilingi oleh epitel squamous berlapis dan mengandung banyak kista
sepanjang salurannya. Jaringan ikat yang mengelilingi duktus dapat mengandung

Fistula Preaurikular 16

folikel rambut; kelenjar sebasea dan kelenjar keringat; dan jaringan inflamasi,
diantaranya limfosit, sel plasma dan leukosit polimorfonuklear.1,3
VIII. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan fistula preaurikular kongenital ini tidak diperlukan
kecuali pencegahan terjadinya infeksi yaitu menghindari manipulasi dan
membersihkan muara dari sumbatan dengan alkohol atau cairan antiseptik lainnya
secara rutin. Pada kasus dengan infeksi biasanya dapat diberikan antibiotik dan
kompres hangat.1,3,4
Pembedahan fistula adalah dengan diseksi dan eksisi komplit dari fistula
dan salurannya, hanya dilakukan pada infeksi yang berulang oleh karena sulitnya
mengeluarkan fistula secara lengkap. Kesukaran pembedahan disebabkan oleh
adanya percabangan fistula sehingga sulit untuk menentukan luas keseluruhan
saluran tersebut. Selama eksisi pembedahan, harus diingat bahwa salurannya
dapat berkelok-kelok dengan cabang-cabangnya di subkutaneus. Diseksi sampai
ke periosteum dari tulang temporal biasanya dibutuhkan, dan semua cabangcabang dari salurannya harus diangkat untuk mencegah infeksi yang berulang.
Pengangkatan yang tidak lengkap menimbulkan sinus yang mengeluarkan cairan
sehingga membutuhkan pengangkatan yang lebih sulit dan lebih radikal. Untuk
membantu pembedahan dapat disuntikkan larutan methylen blue ke dalam saluran
sebelum operasi sehingga jaringan yang berwarna bisa digunakan sebagai
petunjuk panjang dan luasnya fistula. Harus diketahui bahwa zat warna tersebut
mungkin tidak memasuki seluruh cabang-cabang yang lebih kecil sehingga
diperlukan ketelitian selama diseksi untuk mencari saluran-saluran kecil yang
tidak berwarna.1,3,4,6,10

Fistula Preaurikular 17

Gambar 9.9

Cara lain adalah dengan fistulografi, yaitu dengan cara memasukkan zat
kontras ke dalam muara fistula, lalu dilakukan pemeriksaan radiologik. Pada
pemeriksaan fistulografi tidak dapat menggambarkan jalur traktus yang
sebenarnya karena infeksi yang berulang menimbulkan tersumbatnya traktus oleh
jaringan fibrosis. Pembedahan dilakukan apabila inflamasi sudah sembuh.1
Sewaktu pembedahan eksisi komplit harus diingat bahwa bahaya
terkenanya kelenjar parotis atau saraf fasialis. Keduanya harus benar-benar
diidentifikasi. Pada beberapa penderita kelainan ini, salurannya dapat berjalan di
medial atau lateral dari saraf fasialis, oleh karena itu saraf fasialis harus dikenali
pada waktu diseksi. Atau juga salurannya sering berjalan di antara cabang saraf
fasialis dan harus di eksplorasi dengan sangat hati-hati sewaktu pembedahan.
Sebelum melakukan pembedahan, sangat penting untuk mengetahui letak anatomi
perjalanan saraf fasialis, terutama setelah keluar dari foramen stilomastoideus.1,11

Dikutip dari kepustakaan no.4


Fistula Preaurikular 18

Gambar 10.10

IX. DIAGNOSIS BANDING

Diagnosis banding dari fistula preaurikular adalah:3


Karsinoma sel basal
Karsinoma sel basal adalah keganasan yang berasal dari sel pluripotensial
pada lapisan basal dari epidermis atau folikel. Faktor resiko yang paling sering
menyebabkan basal sel karsinoma adalah paparan sinar matahari. Daerah
Predileksi pada daerah kepala dan leher. Gambaran lesi biasanya muncul sebagai
papul berwarna merah atau pink yang perlahan membesar.12

10

Dikutip dari kepustakaan no.4


Fistula Preaurikular 19

Gambar 11. papul berwarna merah muda translusen disertai telangiektasis dan erosi krusta. 11

Kista inklusi epidermal


Kista inklusi epidermal adalah kista kutaneus yang paling sering terjadi.
Kista ini dapat terjadi di badan, dan paling sering terjadi di wajah, kepala, leher,
dan punggung. Kista inklusi epidermal berasal dari proliferasi dari sel epidermal.
Gambaran umum kista inklusi epidermal berupa benjolan berwarna kekuningan,
berbentuk nodul dengan berbagai ukuran. Dan memiliki pori di bagian
sentralnya.13

Gambar 12. Kista epidermoid yang besar dengan punctum prominen. 12

X. KOMPLIKASI
11
12

Dikutip dari kepustakaan no.12


Dikutip dari kepustakaan no.13

12

Fistula Preaurikular 20

Komplikasi yang dapat terjadi pada fistula preaurikular adalah :1,3


1. Pasien dapat mengalami infeksi pada salurannya dengan pembentukan
abses.
2. Infeksi dan ulserasi dapat terjadi pada bagian yang jauh dari tempat yang

terbuka.
3. Kekambuhan postoperasi merupakan komplikasi dari ekstirpasi saluran
fistula.
Beberapa faktor yang berkontribusi untuk terjadinya kekambuhan
setelah operasi adalah: 3

Usaha pengangkatan sebelumnya pada saat dioperasi

Operasi dengan menggunakan anestesi lokal

Pengangkatan yang tidak sempurna dari saluran fistula

Infeksi yang aktif pada saat operasi

Drainase abses sebelum operasi

Kurangnya gambaran yang jelas dari traktus ketika dilakukan operasi

Kegagalan mengangkat kartilago aurikula pada dasar fistula

Kegagalan untuk mengidentifikasi nervus fasialis karena letaknya yang


dekat dengan fistula

XI. PROGNOSIS
Fistula preaurikular umumnya memiliki prognosis yang baik. Jika fistula
preaurikular ini ditangani dengan tepat maka hasilnya akan memuaskan dan kecil
kemungkinan untuk residif.3

DAFTAR PUSTAKA

Fistula Preaurikular 21

1. Mardhiah A. Fistula Preaurikular Kongenital. Majalah kedokteran nusantara


(serial online).2005. Desember.( cited 2010 August 30th): volume 38/hal.328332. Available from URL:
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/15598/1/mkn-des2005%20%2810%29.pdf
2. Hafil AF, Sosialisman, Helmi. Kelainan telinga luar. Dalam Soepardi EA,
Iskandarb N, Bashiruddin J, Restuti RD. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga,
Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher. Edisi ke-6. Jakarta : Balai penerbit
FK UI; 2007.hal.57.
3. Scheinfeld NS. Preauricular Sinuses. 2010 (cited 2010 August 30th);
Available

from

URL:

http://emedicine.medscape.com/article/1118768-

overview
4. Weerda H. Abnormalities. In: Weerda H. Surgery of the Auricle. Stutgart :
Thieme publishing group; 2007.p.106-117
5. Kroon DF, Strasnick B. Diseases of the auricle, external, auditory canal,
and tympanic membrane. In: Glasscock ME, Gulya AJ. 5th edition.
Hamilton : BC decker inc; 2003.p.345-8
6. Ostrower ST. Preauricular Cysts, Pits, and Fissures. 2010 (cited 2010
August

30th);

Available

from

URL:

http://emedicine.medscape.com/article/845288-overview
7. Voll M, Wesker K. Ear and vestibular apparatus.In: Voll M, Wesker K. Atlas
of Anatomy Head and Neuroanatomy. Stuttgart : Thieme publishing group;
2007.p.140-3
8. Moore, Keith L.; Dalley, Arthur F. Clinically Oriented Anatomy, 5th Edition.
Canada : Lippincott Williams & Wilkins. 2006. p.1023-4
9. Nawka T, Swift A. The Auricle (pinna). In :Nawka T, Swift A. Ear, Nose,
and Throat Diseases. 3rd edition. Stutgart : Thieme publishing group;
2009.p.14

Fistula Preaurikular 22

10. Bluestone CD, Rosenfeld RM. Preauricular Pit or Fistula. In: Bluestone CD,
Rosenfeld RM. Surgical Atlas of Pediatric Otolaryngology. Ontario : BC
decker inc; 2002.p.502-3
11. Skandalakis LJ, Skandalakis JE, Skandalakis PN. Brakial Cleft sinuses and
cyst. In: Skandalakis LJ, Skandalakis JE, Skandalakis PN. Surgical Anatomy
and Technique A Pocket Manual. 3rd edition. New york : Springer science;
2009.p.47-51
12. Ramsey ML. Basal Cell Carcinoma. 2010 (cited 2010 Sept 7th); Available
from URL: http://emedicine.medscape.com/article/1100003-overview
13. Hanson LJ. Epidermal Inclusion Cyst. 2010 (cited 2010 Sept 7th); Available
from URL: http://emedicine.medscape.com/article/1061582-overview

Fistula Preaurikular 23