Anda di halaman 1dari 78

Tatang M.

Amirin, 31 Oktober 2010; 4 Januari 2011


Banyak orang yang bingung jika menggunakan Skala Likert [baca biasa likert, walau ada yang baca
laikert--kata Wikipedia], dan bahkan salah larap. Skala Likert digunakan untuk membuat angket, tapi
kadang-kadang salah isi yang disasar untuk dihimpun dengan Skala Likert tersebut. Likert itu nama
orang, lengkapnya Rensis Likert, pendidik dan ahli psikologi Amerika Serikat. Jadi, skala ini
digagas oleh Rensis Likert, sehingga disebut Skala Likert.
Kalau begitu mari kita mulai dengan memperjelas apa dan untuk apa Skala Likert itu.
Pengertian dan Kegunaan Skala Likert
Skala itu sendiri salah satu artinya, sekedar memudahkan, adalah ukuran-ukuran berjenjang. Skala
penilaian, misalnya, merupakan skala untuk menilai sesuatu yang pilihannya berjenjang, misalnya 0,
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10. Skala Likert juga merupakan alat untuk mengukur (mengumpulkan data
dengan cara mengukur-menimbang) yang itemnya (butir-butir pertanyaannya) berisikan (memuat)
pilihan yang berjenjang.
Untuk apa sebenarnya Skala Likert itu? Skala Likert itu aslinya untuk mengukur kesetujuan dan
ketidaksetujuan seseorang terhadap sesuatu objek, yang jenjangnya bisa tersusun atas:
sangat setuju
setuju
netral antara setuju dan tidak
kurang setuju
sama sekali tidak setuju.
Pernyataan yang diajukan mengenai objek penskalaan harus mengandung isi yang akan dinilai
responden, apakah setuju atau tidak setuju. Contoh di bawah ini pernyataannya berbunyi Doktrin
Bush merupakan kebijakan luar negeri yang efektif. Objek khasnya adalah efektivitas
(kefektivan) kebijakan. Responden diminta memilih satu dari lima pilihan jawaban yang dituliskan
dalam angka 1-5, masing-masing menunjukkan sangat tidak setuju (1), tidak setuju (2), netral atau
tidak berpendapat (3), setuju (4), sangat setuju (5).
The Bush Doctrine is an effective foreign policy [Doktrin Bush merupakan kebijakan luar negeri
yang efektif].

Strongly Disagree12345Strongly Agree


[Sangat tidak setuju --1--2--3--4--5--Sangat setuju]
Based on the item, the respondent will choose a number from 1 to 5 using the criteria below
[Dengan memperhatikan butir pernyataan, responden (orang yang ditanyai) harus memilih angka 1
sampai dengan 5 dengan berdasarkan patokan berikut]:
1 strongly agree [sangat setuju]
2 somewhat agree [agak setuju]
3 neutral/no opinion [netral/tak berpendapat]
4 somewhat disagree [agak tidak setuju]
5 strongly disagree [sangat tidak setuju]
Apa artinya? Artinya setujukah responden bahwa kebijakan luar negeri Bush itu sebagai kebijakan
yang efektif (memecahkan masalah luar negeri AS)? Jadi, responden tinggal milih: setuju atau tidak
setuju, atau tak memilih keduanya (netral saja, tidak berpendapat).

Salah Tafsir: Asal ada SetujuTidak Setuju


Tidak sedikit mahasiswa dan peneliti lain yang hanya melihat Skala Likert itu sebagai angket pilihan
setujutidak setuju. Jadi, jika pilihan jawabannya setuju-tidak setuju, maka itu namanya Skala
Likert. Lalu, segala macam pernyataan dimintakan kepada responden untuk memilih menjawab
setuju atau tidak setuju. Ini contohnya:

Salat itu penting, karena salat itu merupakan tiang agama.


1. Sangat setuju (SS)
2. Setuju (S)
3. Setuju tidak, tidak setuju pun tidak, alias netral (N)
4. Tidak setuju (TS)
5. Sangat tidak setuju (STS)
Jelas isi pernyataan itu bukan sesuatu yang harus disetujui atau tidak disetujui. Itu pengetahuan,
pengetahuan agama, yang diajarkan oleh para ustad dan kiyai. Jadinya itu soal murid tahu atau
tidak tahu bahwa salat itu penting, dan pentingnya itu karena (dengan alasan) merupakan tiang
agama (ash-shalatu imaaduddin), bukan harus setuju atau tidak setuju.
Kedua, itu tidak bisa dijenjangkan kesetujuan-ketidaksetujuannya, karena tidak logis. Kalau
misalnya setuju salat itu penting, apa bedanya dengan sangat setuju. Jika jawabannya diubah jadi
setujuagak setuju, makna dari agak setuju itu apa, tak jelas. Tentu tidak bisa ditafsirkan bahwa
jika agak setuju berarti menunjukkan menurut responden salat itu agak penting, dan jika setuju
sekali berarti salat itu sangat amat penting, dan sebaliknya.
Ketiga, ada dua isi yang harus disetujui atau tidak disetujui di dalam satu pernyataan itu, yaitu: (1)
salat itu penting, dan (2) salat itu tiang agama. Ini tidak boleh terjadi dalam penyusunan angket,
sebab akan membingungkan. Salat mungkin bisa dianggap penting (setuju bahwa penting), tapi
alasannya sebagai tiang agama tidak setuju, setujunya karena ia rukun Islam kedua. Jadi,
jawabannya apa? Setuju, atau tidak setuju, atau netral saja?
Sebentar, biar jelas. Responden setuju bahwa solat itu penting, tapi tidak setuju kalau sebabnya
karena ia tiang agama. Lantas yang harus dipilih setuju atau tidak setuju (karena ia punya dua
pilihan: setuju penting, tapi tidak setuju sebagai tiang agama).
Lain halnya dengan masalah hukum potong tangan bagi pencuri, misalnya (sekedar misal, lho),
kan ada orang setuju, ada yang tidak setuju. Jadi, pernyataannya bisa dirumuskan, misalnya, Orang
yang mencuri harus dihukum potong tangan. Jawabannya (SS S N TS -STS). Pernyataan
pencuri harus dipotong tangan itu isinya hanya satu, tidak dua: (1) pencuri dan (2) potong tangan.
Beda kan dengan contoh di atas (1) solat itu penting, dan (2) solat itu tiang agamadigabung
menjadi: Solat itu penting karena solat itu tiang agama.

Nah, karena berkaitan dengan setuju (S) dan tidak setuju (TS), maka bisa jadi ada orang yang netral
(N) atau tidak berpendapat. Netral artinya setuju ya tidak, tidak setuju pun tidak juga. Tidak memihak
pada kesetujuan ataupun ketidaksetujuan. Ekstrimnya, tidak berpendapat.
Jadi, bisa ada yang agak setuju, tapi tidak setuju banget, ada juga yang agak setuju, tapi tidak setuju
banget. Ya cuma seperti itu gambarannya.
Contoh: Anggota DPR disuruh memilih apakah setuju Gubernur DIY itu dipilih. Pilihan jawabannya
ekstrim: setuju atau tidak setuju. Jadi, hanya ada tiga pilihan: S N TS. Jika S berarti setuju
Gubernur DIY dipilih. Jika TS artinya tidak setuju melalui pemilihan. Yang tidak berani menyatakan
setuju atau tidak setuju, ya pilih N (netral). Jika ada 30% yang menyatakan S, 60% menyatakan TS,
dan 10% N, maka hasilnya berupa pernyataan bahwa sebagian besar anggota DPR tidak setuju
Gubernur DIY dipilih. Hanya seperti itu. Jangan dicari reratanya, lucu!
Karena berkaitan dengan kesetujuan-ketidaksetujuan, maka yang dipertanyakan haruslah yang
populer, yang sudah terkonsumsi masyarakat, yang masyarakat (responden) tahu. Kalau tidak
tahu bagaimana ia akan menyatakan setuju dan tidak setuju.
Ini contoh (sekedar contoh).
Pemerintahan SBY tidak mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Semua orang Indonesia terlibat dalam pemerintahan SBY, terkena pemerintahan SBY, dan tahu
(merasakan) seperti apa berada di bawah pemerintahan SBY. Jadi, pasti bisa menjawab.
Pernyataan SBY patut mendapatkan Hadiah Nobel pun bisa untuk dimintakan persetujuan dan
pertidaksetujuan responden, tetapi respondennya tertentu, yang paham seluk beluk pemberian
hadiah Nobel. Mbah Marijan (alm) dan embah-embah lain setara Mbah Marijan mungkin tak tahu.
Coba tanyakan pada orang kebanyakan Indonesia: Setuju atau tidak jika demokrasi Indonesia
diubah menjadi demokrasi-teokratis? Mbah Maridjan (kalau masih hidup) lebih baik semedi daripada
menjawab.
Nah, itulah sebabnya Skala Likert suka disebut (dan memang tergolong) skala sikap, skala tentang
sikap, yaitu sikap setuju dan tidak setuju terhadap sesuatu (yang bisa disetujui dan tidak disetujui).
Skala Likert ada kalanya menghilangkan tengah-tengah kutub setuju dan tidak setuju. Responden
dipaksa untuk masuk ke blok setuju atau tidak setuju. Ini contohnya.
Mahasiswa boleh tidak ikut kuliah, asal sungguh-sungguh belajar mandiri.
1. Sangat setuju

2. Setuju
3. Tidak setuju
4. Sangat tidak setuju
Pertanyaan dibuat demikian agar orang berpendapat, tidak bersikap netral atau tidak berpendapat.
Skala dalam Skala Likert
Berapa jenjang skala dibuat dalam Skal Likert? Itu amat tergantung pada kata-kata yang
digunakan di dalam butir (item) Skala Likert. Kalau digunakan model verbal (kata-kata) setujutidak
setuju, maka paling tidak ada tiga, yaitu setujunetraltidak setuju. Perubahan lebih banyak tentu
akan mengikuti kutubnya (kutub setuju dan kutub tidak setuju). Jadi, jika ditambah, akan menjadi,
misalnya: sangat setujusetujunetraltidak setujusangat tidak setuju (ada 5 skala). Tentu bisa jadi
tujuh jika ditambahi lagi dengan sangat setuju sekali dan sama sekali tidak setuju. Atau
tambahannya berupa agak setuju (sebelum setuju) dan agak tidak setuju (sebelum tidak setuju).
Jika digabungkan, maka jadi sembilan skala (jenjang).
1. Sangat setuju sekali
2. Sangat setuju
3. Setuju
4. Agak setuju
5. Netral
6. Agak tidak setuju
7. Tidak setuju
8. Sangat tidak setuju
9. Sama sekali tidak setuju
Bentuk Skala Likert
Skala Likert yang dikenal sebetulnya tidak disusun seperti angket yang pilihannya ke bawah seperti
beberapa contoh di atas, melainkan seperti ini.

LIKERT SCALES
Please circle the number that represents how you feel about the computer software you have
been using [Lingkarilah angka yang mencerminkan penilaian Anda mengenai piranti lunak
komputer yang telah Anda pergunakan]
I am satisfied with it (memuaskan)
Strongly disagree 1234567Strongly agree
(Sangat tidak setuju)

(Sangat setuju)

It is simple to use (mudah digunakan)


Strongly disagree 1234567Strongly agree
It does everything I would expect to do (bisa untuk apa saja)
Strongly disagree 1234567Strongly agree
I dont notice any inconsistencies as I use it (tidak bikin kisruh)
Strongly disagree 1234567Strongly agree
It is very user friendly (dapat membantu siapa saja)
Strongly disagree 1234567Strongly agree

Responden ditanya tentang kepuasan mereka terhadap produk komputer. Responden diminta
melingkari angka-angka yang berderet yang menunjukkan sangat setuju (angka 7) atau sangat
tidak setuju (angka 1) dengan pernyataan yang tertera sebelumnya . Di antara kutub-kutub itu ada
angka pilihan. Masing-masing menunjukkan derajat kestidaksetujuan atau kesetujuan. Semakin
dekat ke angka 1 semakin dekat dengan tidak setuju, dan sebaliknya. Ingat angka itu bukan skor!
Item (Butir Pertanyaan/Pernyataan) Serupa dan Tak serupa Skala Likert
Ada angket yang semodel dengan Skala Likert, seperti di bawah ini.

Seberapa sering Anda meminjam buku dari perpustakaan?


1. Tidak pernah
2. Jarang
3. Kadang-kadang
4. Sering
5. Sangat sering
Pertanyaan angket ini pun berjenjang, mirip dengan Skala Likert. Tentu itu bukan skala sikap. Itu
angket biasa, angket deskriptif yang isinya punya jenjang ( intensitas meminjam buku dari
perpustakaan). Perhatikan jenjangnya. Ada tengah-tengahnya seperti netral dalam skala sikap. Oleh
sebab itulah angket (butir angket) seperti itu suka disebut juga sebagai mirip Skala Likert.
Pertanyaan angket berikut, kendati ada jenjang, bukan Skala Likert dan bukan mirip Skala Likert.
Kuncinya terletak pada titik tengah pilihan jawaban ( di sisi yang satu positif, di sisi yang lain negatif;
di sisi yang satu tinggi di sisi yang lain rendah). Item tentang usia berikut tidak bersifat seperti itu,
hanya perjenjangan biasa, tidak ada kutub ekstrim dan tengah-tengahnya.
Usia Bapak/Ibu saat ini:
a. di atas 80 tahun
b. 61 70 tahun
c. 51 60 tahun
d. 41 50 tahun
e. 31 40 tahun
Menganalisis data Skala Likert
1. Analisis Frekuensi (Proporsi)
Nah, yang sering dilakukan kesalahan adalah pada saat menganalisis data dari Skala Likert. Ingat,
Skala Likert berkait dengan setuju atau tidak setuju terhadap sesuatu. Jadi, ada dua kemungkinan.
Pertama, datanya data ordinal (berjenjang tanpa skor). Angka-angka hanya urutan saja. Jadi,

analisisnya hanya berupa frekuensi (banyaknya) atau proporsinya (persentase). Contoh (pilihan
netral dalam angket ditiadakan) dengan responden 100 orang:
Yang sangat setuju 30 orang (30%)
Yang setuju 50 orang (50%)
Yang tidak setuju 15 orang (15%)
Yang sangat tidak setuju 5 orang (5%).
Jika digabungkan menurut kutubnya, maka yang setuju (gabungan sangat setuju dan setuju) ada 80
orang (80%), dan yang tidak setuju (gabungan sangat tidak setuju dan tidak setuju) ada 20 orang
(20%).
2. Analisis Terbanyak (Mode)
Analisis lain adalah dengan menggunakan mode, yaitu yang terbanyak. Dengan contoh data di
atas, maka jadinya Yang terbanyak (50%) menyatakan setuju (Dari data yang sangat setuju 15%,
setuju 50%, netral 20%, tidak setuju 10%, sangat tidak setuju 5%).
Skala Likert Sebagai Skala Penilaian
Skala Likert kerap digunakan sebagai skala penilaian karena memberi nilai terhadap sesuatu.
Contohnya skala Likert mengenai produk komputer di atas, komputer yang baik atau tidak.
Terhadapnya bisa diberlakukan angka skor. Jadi, yang dianalisis skornya. Dalam contoh di atas
angka 7 sebagai skor tertinggi. Datanya bukan ordinal, melainkan interval.
Ingat! Pilihan ordinal setujuagak setujunetralkurang setujutidak setuju tak bisa diskor. Misalnya
setuju diberi skor 5, agak setuju 4, netral 3, kurang setuju 2, dan tidak setuju 1.
Kenapa?
Pertama, tidak logis, yang netral lebih tinggi skornya dari yang tidak setuju. Padahal yang netral itu
sebenarnya tidak berpendapat. Kedua, coba jika ada dua orang yang ditanya, yang satu menjawab
setuju (skor 5), yang satu lagi menjawab tidak setuju (skor 1). Berapa reratanya? [5 + 1] : 2 = 3.
Skor 3 itu sama dengan netral. Lucu, kan?! Simpulannya kedua orang responden bersikap netral.
Padahal realitanya yang satu setuju, yang satu tidak. Nah, ini bisa terjadi juga dengan yang sangat
setuju (skor 5) 20 orang, setuju (skor 4) 25 orang, netral (skor 3) 10 orang, tidak setuju (skor 2) 25
orang, dan sangat tidak setuju (skor 1) 20 orang. Berapa rerata skornya? Pasti 3 (netral). Jadi,
semua orang (diwakili 100 orang sampel) bersikap netral. Lucu, kan?!!! Padahal yang netral hanya
10 orang (10%)!!!

Skala Penilaian
Di atas dicontohkan Skala Likert untuk penilaian (menilai produk komputer). Sebenarnya tidak perlu
menggunakan Skala Likert, cukup skala penilaian (rating scale). Responden diminta menilai produk
itu dengan membubuhkan nilai (skor) jika ada kolom kosong untuk menilai, atau memilih skor
tertentu yang sudah disediakan. Jadinya skornya bisa bergerak dari 0 sampai dengan 10 sebagai
skor tertinggi.
Contohnya mengenai kepuasan konsumen terhadap layanan perpustakaan di bawah ini. Responden
cukup diminta melingkari angka skor sesuai dengan penilaiannya.
1. Kemudahan menemukan koleksi
2. Kenyamanan ruangan
3. Layanan petugas

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Analisisnya bisa menggunakan dua macam, proporsi (persentase) dan mode (terbanyak menilai
berapa), dan rerata atau means (rerata skornya berapa), dan termasuk pengkateorian puas atau
tidak puas.
Jelasnya:
Pertama, dihitung banyaknya responden yang memberi nilai pada skor tertentu secara keseluruhan
(seluruh butir pernyataan). Lihat yang terbanyak (mode) dari responden memilih pada skor berapa.
Kedua, hitung skor dari keseluruhan butir (responden yang menjawab dikalikan skor), lalu disusun
reratanya. Rerata skor itu (bilangannya tentu akan 0 10) termasuk kategori tinggi atau rendah.
Sebelumnya tentu sudah disusun kategorisasinya. Jadi, jika rerata skornya misalnya 7,76, angka
7,76 itu termasuk kategori rendah, sedang, ataukah tinggi? Ingat, skor terendah berapa, dan skor
tertinggi berapa! Jadi, 7,76 dari rentangan skor 1 10 tentu termasuk tinggi (tapi tidak sangat tinggi,
kan?!)
Contoh Lain Skala Likert
Ini contoh Skala Likert yang menggali taraf kepercayaan diri (rasa harga diri) karyawan.
Skala Self-Esteem Karyawan
Heres an example of a ten-item Likert Scale that attempts to estimate the level of self esteem a
person has on the job. Notice that this instrument has no center or neutral point the respondent
has to declare whether he/she is in agreement or disagreement with the item [Ini contoh Skala Likert

yang terdiri atas 10 butir pernyataan yang berusaha mengukur taraf harga-diri seseorang dari
pekerjaannya. Perhatikan bahwa instrumen ini dhilangkan titik tengah atau netralnya, sehingga
responden mau tidak mau harus memberikan pernyataan tegas apakah ia setuju atau tidak setuju
dengan isi butir pernyataan].
INSTRUCTIONS: Please rate how strongly you agree or disagree with each of the following
statements by placing a check mark in the appropriate box [Petunjuk: Berikan penilaian seberapa
setuju atau tidak setuju Anda dengan isi pernyataan berikut dengan cara membubuhkan tanda
centang pada kotak kolom yang sesuai].
1. I feel good about my work
on the job. (Saya merasa
pekerjaan saya dalam
menjalankan tugas baik)

Strongly
disagreee
(Sama
sekalI
tidak
setuju)

Somewhat
disagree
(agak tidak
setuju)

Somewhat
agree (agak
setuju)

Strongly
agree
(Sangat
setuju)

2. On the whole, I get along


well with others at work.
(Secara umum, dengan
teman-teman sepekerjaan
saya merasa baik-baik saja)

Strongly
disagreee
(Sama
sekali tidak
setuju

Somewhat
disagree
(agak tidak
setuju)

Somewhat
agree (agak
setuju)

Strongly
agree
(Sangat
setuju)

3. I am proud of my ability to
cope with difficulties at work
(Saya merasa bangga dengan
kemampuan saya mengatasi
berabgai masalah pekerjaan
saya).

Strongly
disagreee
(Sama
sekali tidak
setuju

Somewhat
disagree
(agak tidak
setuju)

Somewhat
agree (agak
setuju)

Strongly
agree
(Sangat
setuju)

4. When I feel uncomfortable


at work, I know how to handle
it (Jika saya merasa tidak
nyaman kerja, saya tahu
bagaimana mengatasinya).

Strongly
disagreee
(Sama
sekali tidak
setuju

Somewhat
disagree
(agak tidak
setuju)

Somewhat
agree (agak
setuju)

Strongly
agree
(Sangat
setuju)

5. I can tell that other people


at work are glad to have me

Strongly
disagreee

Somewhat
disagree

Somewhat
agree (agak

Strongly
agree

there (Saya bisa tegaskan


bahwa teman kerja saya
merasa senang mereka
bekerja dengan saya).

(Sama
sekali tidak
setuju

(agak tidak
setuju)

setuju)

(Sangat
setuju)

6. I know Ill be able to cope


with work for as long as I want
(Saya tahu saya bisa
selesaikan tugas pekerjaan
saya asal saya mau) .

Strongly
disagreee
(Sama
sekali tidak
setuju

Somewhat
disagree
(agak tidak
setuju)

Somewhat
agree (agak
setuju)

Strongly
agree
(Sangat
setuju)

7. I am proud of my
relationship with my
supervisor at work (Saya
merasa bangga tentang
hubungan saya dengan
atasan saya di tempat kerja).

Strongly
disagreee
(Sama
sekali tidak
setuju

Somewhat
disagree
(agak tidak
setuju)

Somewhat
agree (agak
setuju)

Strongly
agree
(Sangat
setuju)

8. I am confident that I can


handle my job without
constant assistance (Saya
yakin saya bias selesaikan
tugas pekerjaan saya tanpa
selalu mendapat bantuan).

Strongly
disagreee
(Sama
sekali tidak
setuju

Somewhat
disagree
(agak tidak
setuju)

Somewhat
agree (agak
setuju)

Strongly
agree
(Sangat
setuju)

9. I feel like I make a useful


contribution at work (Saya
merasa saya punya andil baik
terehadap tempat kerja saya).

Strongly
disagreee
(Sama
sekali tidak
setuju

Somewhat
disagree
(agak tidak
setuju)

Somewhat
agree (agak
setuju)

Strongly
agree
(Sangat
setuju)

10. I can tell that my


coworkers respect me (Saya
bisa tegaskan bahwa rekan
kerja saya menghargai saya).

Strongly
disagreee
(Sama
sekali tidak

Somewhat
disagree
(agak tidak
setuju)

Somewhat
agree (agak
setuju)

Strongly
agree
(Sangat
setuju)

setuju

Sumber:
Hall, Shane. 2010. How to Use the Likert Scale in Statistical Analysis. Online, diunduh 31 Oktober,
2010.
Markusic, Mayflor. 2009. Simplifying the Likert Scale. Online, diunduh 31 Oktober 2010.
Trochim, William M.K. 2006. Likert Scaling. Research Methods Knowledge Based. Diunduh 31
Oktober 2010
Wikipedia. 2010. Likert Scale. Online, diunduh 31 Oktober 2010

Menentukan Skala sikap


Menentukan Skor Butir-Butir Soal Tes Sikap/Budi Pekerti
I. Pendahuluan
Untuk mengukur, nilai, sikap, minat, perhatian dan lain-lain kita memerlukan sebuah alat. Di dalam
makalah ini akan sedikit dijelaskan alat tersebut yang sering disebut dengan skala. Kemudian dengan
itu kita bisa menentukan skor terhadap butir soal.
II. Pembahasan
A. definisi
Sikap adalah kecenderungan berperilaku atau reaksi seseorang terhadap objek atau stimulus yang
dating padanya. Defenisi lain menyebutkan, sikap adalah suatu bentuk dari perasaan, yaitu perasaan
mendukung atau memihak (favourable) maupun perasaan tidak mendukung (Unfavourable) pada suatu
objek.
B. Komponen-komponen dan cara mengukur sikap.
Dalam mengukur sikap seseorang terhadap objek tertentu di gunakan dengan cara skala, selanjutnya
akan menghasilkan beberapa katagori sikap, yaitu mendukung (positif), menolak (negatif), dan netral.
Dalam menentukan demensi sikap, ada beberapa komponen yang harus diperhatikan yaitu;
1. Koginisi. Yang berkenaan dengan pengetahuan seseorang,
2. Afeksi. Berhubungan dengan perasaan dalam menanggapi suatu objek,
3. Konasi. Kecenderungan berbuat terhadap objek tersebut.
Contoh pernyatan sikap.
1) Saya senang membaca tulisan yang berhubungan dengan tugas skripsi saya (+, afeksi).
2) Saya merasa kesulitan untuk melakukan penelitian skripsi saya (-, afeksi).
3) Saya berpendapat bahwa saya memerlukan bantuan ilmu orang lain untuk menyelesaikan tugas
skripsi saya (+, kognisi).

4) Saya selalu minta pendapat dari teman-teman saya tentang kekurangan tugas skripsi saya (+,
konasi).
5) Saya merasa telah cukup menguasai bidang study yang akan saya jadikan skripsi saya (-, afeksi).
Skala sikap dinyatakan dalam bentuk pernyataan untuk dinilai oleh responden, apakah pernyataan
tersebut menghasilkan sikap mendukung (positif) atau menolak (negatif), melalui rentangan nilai
tertentu.
Salah satu skala sikap yang sering digunakan adalah skala Likert, dalam skala Likert, pernyataanpernyataan yang diajukan, baik pernyataan positif maupun negative, dinilai oleh subjek dengan sangat
setuju, setuju, tidak punya pendapat, tidak setuju, sangat tidak setuju. Skor yang diberikan terhadap
pilihan tersebut bergantung pada penilai asal penggunaanya yang konsisten.
Beberapa petunjuk yang digunakan dalam menyusun skala Likert
a) Tentukan objek yang dituju, kemudian tetapkan variable yang akan diukur dengan skala tersebut.
b) Lakukan analisis variable menjadi beberapa subvariabel atau demensi variabel, lalu kembangkan
indicator setiap demensi tersebut.
c) Dari setiap indicator, tentukan ruang lingkup pernyataan sikap yang berhubungan dengan aspek
kognisi, afeksi, dan konasi terhadap objek sikap.
d) Susunlah pernyataan untuk masing-masing aspek tersebut dalam dua katagori, yakni pernyataan
positif dan pernyataan negative secara seimbang banyaknya.
Berikut ini contoh table pernyataan skala sikap:

Jenis kelamin :..


Umur :tahun
Kelas/Materi :..
Pernyataan Sangat setuju
setuju Tidak punya pendapat Tidak setuju Sangat tidak setuju
1. Saya tidak perlu memahami tujuan pelajaran Faroid
2. Pelajaran faroid harus menarik perhatian santri
3. Konsep-konsep yang dalam ilmu faroid sangat abstrak
4. Isi ilmu faroid tidak sesuai dengan kehidupan nyata
5. Mempelajari faroid sangat sulit
6. Konsep faroid perlu dengan praktek
7. Mempelajari faroid harus sering latihan
8. Sebaiknya faroid harus selalu ditrerapkan dalam kehidupan
9. Saya merasa dalam membagi harta waris memerlukan praktek faroid
10. Saya senang ketika ada tugas tentang faroid
11. Saya berpendapat bahwa faroid tidak sulit apabila dikerjakan sungguh-sungguh
12. Mempelajari faroid memerlukan kitab khusus faroid
13. Semakin banyak kitab faroid dipelajari semakin jelas konsepnya
14. Semakin banyak latihan memecahkan soal faroid semakin tinggi pemahaman konsep tentang
faroid
15. Faham terhadap konsep faroid belum menjamin senang terhadap pelajaran ilmu faroid
Tanda tangan responden

Berilah skor sebagai berikut, Pernyataan positif (mendukung) untuk sangat setuju 5, setuju 4, tidak
punya pendapat 3, tidak setuju 2, sangat tidak setuju 1. Pernyataan negatif (menolak) untuk sangat
tidak setuju 5, tidak setuju 4, tidak punya pendapat 3, setuju 2, sangat setuju 1.
Dengan demikian, skor maksimal adalah 75, skor minimal 15. Skor antara 60-75 dinyatakan sikap

positif, skor antara 15-44 dinyatakan negative. Sedangkan skor 45-50 dinyatakan netral.
C. Skala Penilaian
Skala penilaian mengukur penampilan atau perliaku orang lain oleh seseorang melalui pernyataan
perilaku pada suatu titik continuum atau suatu katagori yang bermakna nilai. Rentanagn nilai mulai dari
yang tertinggi sampai yang terendah, baik dalam bentuk hurup (A, B, C, D), angka (1, 2, 3, 4), atau 10,
9, 8, 7, 6, 5. Sedangkan rentang katagori bisa tinggi, sedang, rendah, atau baik, sedang, kurang.
Contoh:
Nama Guru :. Bidang Studi :...
No Pernyataan Skala nilai
ABCD
1
2
3
4
5 Penguasaan bahan ajar
Hubungan dengan siswa
Bahasa yang digunakan
Pemakaian metode dan alat bantu ajar
Jawaban terhadap pertanyaan siswa
Keterangan:
A: Baik sekali C: Cukup
B: Baik D: Kurang

III. Penutup
Dengan demikian untuk menentukan skor butir tes sikap kita bisa menggunakan petunjuk dalam skala
likert. Di dalam nya terdapat beberapa fariable dan subvariabel dalam penskoran.
Rujukan
Rahayuningsih, Sri Utami .2008. Psikologi Umum 2. Pdf.
Sudjana, Nana.2010.Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Rosda Karya.

SKALA SIKAP
**Oleh :JON ERWIN**

SKALA LIKERT
Skala linkert pertama kali dikembangkan oleh Rensis
Linkert pada tahun 1932 dalam
mengukur sikap masyarakat. Dalam skala ini hanya
menggunakan item yang secara pasti baik dan secara pasti
buruk. Item yang pasti disenangi, disukai, yang baik, diberi
tanda negatif (-). Total skor merupakan penjumlahan skor responsi dari responden yang
hasilnya ditafsirkan sebagai posisi responden. Skala ini menggunakan ukuran ordinal
sehingga dapat membuat ranking walaupun tidak diketahui berapa kali satu responden
lebih baik atau lebih buruk dari responden lainnya.
Prosedur dalam membuat skala linkert adalah sebagai berikut :
1.Pengumpulan item-item yang cukup banyak dan relevan dengan masalah yang
sedang diteliti, berupa item yang cukup terang disukai dan yang cukup terang tidak
disukai
2.Item-item tersebut dicoba kepada sekelompok responden yang cukup representative
dari populasi yang ingin diteliti.
3. Pengumpulan responsi dari responden untuk kemudian diberikan skor, untuk jawaban
yang memberikan indikasi menyenangi diberi skor tertinggi.
4. Total skor dari masing-masing individu adalah penjumlahan dari skor masing-masing
item dari individu tersebut
5. Responsi dianalisa untuk mengetahui item-item mana yang sangat nyata batasan
antara skor tinggi dan skor rendah dalam skala total. Untuk mempertahankan
konsistensi internal dari pertanyaan maka item yang tidak menunjukkan korelasi

dengan total skor atau tidak menunjukkan beda yang nyata apakah masuk kedala skor
tinggi atau rendah dibuang.
Kelebihan skala Linkert:
1. Dalam menyusun skala, item-item yang tidak jelas korelasinya masih dapat dimasukkan
dalam skala.
2. Lebih mudah membuatnya dari pada skala Thurstone.
3. Mempunyai reliabilitas yang relatif tinggi dibanding skala thurstone untuk jumlah item
yang sama. Juga dapat memperlihatkan item yang dinyatakan dalam beberapa
responsi alternatif.
4. Dapat memberikan keterangan yang lebih nyata tentang pendapatan atau sikap
responden.
Kelemahan skala linkert:
1. Hanya dapat mengurutkan individu dalam skala, tetapi tidak dapat membandingkan
berapakali individu lebih baik dari individu lainya.
2. Kadang kala total skor dari individu tidak memberikan arti yang jelas, banyak pola
response terhadap beberapa item akan memberikan skor yang sama.
Validitas dari skala linkert masih memerlukan penelitian empirik.
Contoh praktis :
Semua peserta latihan dapat menyusun program studinya sendiri.
Alternatif jawaban :
Sangat setuju ( SS ), Setuju ( S ), Ragu-Ragu ( RR ), Sangat Tidak Setuju ( STS )

SKALA GUTTMAN
Skala Guttman dikembangkan oleh Louis Guttman. Skala ini
mempunyai ciri penting, yaitu merupakan skala kumulatif dan
mengukur satu dimensi saja dari satu variabel yang multi dimensi, sehingga skala ini
termasuk mempunyai sifat undimensional. Skala Guttman yang disebut juga metode
scalogram atau analisa skala (scale analysis) sangat baik untuk menyakinkan peneliti
tentang kesatuan dimensi dari sikap atau sifat yang diteliti, yang sering disebut isi
universal (universe of content) atau atribut universal (universe attribute). Dalam prosedur
Guttman, suatu atribut universal mempunyai dimensi satu jika menghasilkan suatu skala
kumulatif yang sempurna,yaitu semua responsi diatur sebagai berikut:
Setuju dengan tidak setuju dengan Pada pertanyaan yang lebih banyak pola ini tidak
ditemukan secara utuh. Adanya beberapa kelainan
Dapat dianggap sebagai error yang akan diperhitungkan dalam analisa nantinya.
Cara membuat skala guttman adalah sebagai berikut:
1. Susunlah sejumlah pertanyaan yang relevan dengan masalah yang ingin diselidiki.
2. Lakukan penelitiaan permulaan pada sejumlah sampel dari populasi yang akan
diselidiki, sampel yang diselidiki minimal besarnya 50.
3. Jawaban yang diperoleh dianalisis, dan jawaban yang ekstrim dibuang. Jawaban yang
ekstrim adalah jawaban yang disetujui atau tidak disetujui oleh lebih dari 80%
responden.
4. Susunlah jawaban pada tabel Guttman.
5. Hitunglah koefisien reprodusibilitas dan koefisien skalabilitas.
Jadi skala Guttman ialah skala yang digunakan untuk jawaban yang bersifat jelas (tegas
dan konsisten. Misalnya yakin-tidak yakin ;ya tidak;benar-salah; positif negative;
pernah-belum pernah ; setuju tidak setuju; dan sebagainya.
Penelitian dengan menggunakan skala Guttman apabila ingin mendapatkan
jawaban jelas (tegas) dan konsisten terhadap suatu permasalahan yang ditanyakan.

Contoh:
a. Yakin atau tidakkah anda, pergantian Menteri cabinet Indonesia Bersatu akan
dapat mengatasi persoalan bangsa.
1. Yakin
2. Tidak
b. Pernahkah pimpinan saudara mengajak rembuk bersama?
1. Setuju
2. Tidak Setuju

SKALA THURSTONE
Skala Thurstone meminta responden untuk memilih pertanyaan
yang ia setujui dari beberapa pernyataan yang menyajikan pandangan
yang berbeda-beda. Pada umumnya setiap item mempunyai asosiasi nilai
antara 1 sampai dengan 10, tetapi nilai-nilainya tidak diketahui oleh responden.
Pemberian nilai ini berdasarkan jumlah tertentu pernyataan yang dipilih oleh responden
mengenai angket tersebut.(Subana, 2000:34)
Perbedaan skala Thurstone dan Skala Likert ialah pada skal Thurstone interval
yang panjangnya sama memiliki intensitas kekuatan yang sama, sedangkan pada skala
Likert tidak perlu sama.
Contoh:
Berikut ini disajikan contoh angket yang disajikan dengan menggunakan model skala
Thurstone. Petunjuk: Pilihlah 5 (lima) buah pernyataan yang paling sesuai dengan sikap
Anda terhadap pelajaran matematika, dengan cara membubuhkan tanda cek () di depan
nomor pernyataan di dalam tanda kurung.
( ) 1. Saya senang belajar matematika.
( ) 2. Matematika adalah segalanya buat saya.
( ) 3. Jika ada pelajaran kosong, saya lebih suka belajar matematika.
( ) 4. Belajar matematika menumbuhkan sikap kritis dan kreatif.
( ) 5. Saya merasa pasrah terhadap ketidak-berhasilan saya dalam matematika.
( ) 6. Penguasaan matematika akan sangat membantu dalam mempelajari bidang studi
lain.
( )7.Saya selalu ingin meningkatkan pengetahuan dan kemampuan saya dalam
matematika.
( ) 8. Pelajaran matematika sangat menjemukan.
( ) 9. Saya merasa terasing jika ada teman membicarakan matematika.
Misalkan pembuat angket menentukan bahwa skor yang akan dipakai untuk pernyataan
yang kontribusinya paling tinggi adalah 9 dan untuk yang paling rendah diberi skor 1,
sehingga skor tengahnya sama dengan 5. Hasil pertimbangannya, ia menyatakan bahwa
pernyataan yang paling tinggi kontribusinya terhadap sikap positif untuk matematika
adalah pernyataan nomor 2 sehingga ia memberi bobot skor 9. Agar hasil pertimbangan
itu lebih objektif, ia meminta bantuan kepada teman seprofesinya yang dianggap mampu
atau lebih mampu daripada dirinya sendiri. Misalkan ada 4 orang yang diminta
pertimbangan itu, hasil pertimbangan untuk butir nomor 2 dari keempat orang itu
masingmasing
8, 8, 9 dan 9. Dengan demikian skor untuk butir soal nomor 2 itu adalah
8,6
5
98899

Untuk butir nomor 8 pembuat angket memberi skor 2 karena ia menganggap kontribusinya

rendah terhadap sikap siswa dalam matematika. Keempat teman lainnya masing-masing
memberi skor 3, 4, 1, 2 sehingga skor untuk butir nomor 8 adalah
2,4
5
23412

Begitulah seterusnya cara pemberian skor untuk setiap butir pernyataan. Misalkan skor
untuk setiap butir soal, berturut-turut dari butir soal nomor 1 sampai dengan nomor 9
adalah sebagai berikut : 9,0; 8,6; 8,2; 7,6; 4,5; 6,0; 7,6; 2,4; 4,0; 5,3 Setelah angket
diberikan kepada responden (siswa), misalkan untuk subjek A memilih butir-butir nomor 1,
4, 6, 7 dan 10. Rerata skor dari subyek A adalah
7,1
5
9,0 7,6 6,0 7,6 5,3

Ini berarti sikap A terhadap matematika positif, karena skornya lebih daripada skor tengah
(= 5).

Semantik Defferensial
Skala defferensial yaitu skala untuk mengukur sikap dan lainnya, tetapi bentuknya
bukan pilihan ganda atau checklist tetapi tersusun dalam satu garis kontinum. Skala
differensial yaitu skala untuk mengukur sikap,tetapi bentuknya bukan pilihan ganda atau
checklis, tetapi tersusun dalam satu garis kontinum dimana jawaban yang sangat positif
terletak dibagian kanan garis,dan jawaban negatif disebelah kiri garis, atau sebaliknya.
Data yang diperoleh melalui pengukuran dengan skala mantik differensial adalah
data interval. Skala ini digunakan untuk mengukur sikap atau karakteristik tertentu yang
dimiliki seseorang. Sebagai contoh penggunaan skala semantik differensial ialah menilai
gaya kepemimpinan kepala sekolah. Gaya Kepemimpinan
Demokrasi 7 6 5 4 3 2 1 Otoriter
Bertanggung
jawab
7 6 5 4 3 2 1 Tidak bertanggung
jawab
Memberi
Kepercayaan
7 6 5 4 3 2 1 Mendomi-nasi
Menghargai
bawahan
7 6 5 4 3 2 1 Tidak
menghargai
bawahan
Keputusan
diambil bersama
7 6 5 4 3 2 1 Keputusan
diambil sendiri
Rating Skala
Dari beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan pengertian Rating Scale
adalah salah satu alat untuk memperoleh data yang berupa suatu daftar yang berisi
tentang sfat/ciri-ciri tingkah laku yang ingin diselidiki yang harus dicatat secara bertingkat.
Penilaian yang diberikan oleh observer berdasarkan observasi spontan terhadap perilaku

orang lain, yang berlangsung dalam bergaul dan berkomunikasi sosial dengan orang itu
selama periode waktu tertentu. Unsur penilaian terdapat dalampernyataan pandangan
pribadi dari orang yang menilai subyek tertentu pada masing-masing sifat atau sikap yang
tercantum dalam daftar. Penilaian itu dituangkan dalam bentuk penentuan gradasi antara
sedikit sekali dan banyak sekali atau antara tidak ada dan sangat ada.
Karena penilaian yang diberikan merupakan pendapat pribadi dari pengamat dan
bersifat subyektif, skala penilaian yang diisi oleh satu pengamat saja tidak berarti untuk
mendapatkan gambaran yang agak obyektif tentang orang yang dinilai. Untuk itu
dibutuhkan beberapa skala penilaian yang diisi oleh beberapa orang, yang kemudian
dipelajari bersama-sama untuk mendapatkan suatu diskripsi tentang kepribadian
seseorang yang cukup terandalkan dan sesuai dengan kenyataan.
Kegunaan Pemakaian Rating Scale
1. Hasil observasi dapat dikuantifikasikan
2. Beberapa pengamat menyatakan penilaiannya atas seorang siswa terhadap sejumlah
alat/sikap yang sama sehingga penilaian-penilaian itu ( ratings ) dapat dikombinasikan
untuk mendapatkan gambaran yang cukup terandalkan.
Bentuk-bentuk Rating Scale
Terdapat beberapa bentuk rating scale antara lain :
1. Skala Numerik/Kwantitatif
Skala ini menggunakan angka-angka ( skor-skor ) untuk menunjukan gradasigradasi,
disertai penjelasan singkat pada masing-masing angka.
2. Skala Penilaian Grafis.
Skala menggunakan suatu garis sebagai kontinum. Gradasi-gradasi ditunjuk pada garis
itu dengan menyajikan deskripsi-deskripsi singkat di bawah garisnya. Pengamat
memberikan tanda silang di garis pada tempat yang sesuai dengan gradasi yang dipilih.
3. Daftar Cek.
Skala ini mempunyai item dalam tes hasil belajar, bentuk obyektif dengan type pilihan
berganda ( multiple choice ). Pada masing-masing sifat atau sikap yang harus dinilai,
disajikan empat sampai lima pilihan dengan deskripsi singkat pada masing-masing pilihan.
Pengamat memberikan tanda cek pada pilihan tertentu di ruang yang disediakan.
Dalam rating skala data kuantitatif ditafsirkan dalam pengertian kualitatif. Dalam
skala rating scale, responsden tidak akan menjawab salah satu dari jawaban kualitatif,
tetapi menjawab salah satu jawaban kuantitatif yang disediakan.
No. Item Pernyataan Interval Jawaban
1. Keputusan diambil bersama 5 4 3 2 1

MODUL 7
TATAP MUKA KE 7

PENGUKURAN: PENGGUNAAN SKALA DALAM KUESIONER:

Tujuan Instruksional Khusus


Agar mahasiswa mampu :
1. Menguraikan konsep pengukuran melalui skala dan kapan penggunaannya dan pada
variabel mana saja.
2. Menguraikan tahapan penyusunan skala.
3. Menyebutkan contoh pengukuran skala, dengan kritik kelebihan dan kekurangannya.

Materi Bahasan
1. Konsep skala
2. Teknik skala
3. Contoh-contoh skala
Daftar Pustaka
1. Indriantoro & Supomo, 2001, Metodologi Penelitian Bisnis dan Akuntansi. BPFE Yogyakarta.
2. Sugiyono, 2000, Metode Penelitian Bisnis. CV Alfabeta. Bandung.
3. Ghozali Imam, 2002, Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS, Edisi II Badan
Penerbit-UNDIP Semarang.

SKALA PENGUKURAN

PENDAHULUAN
Teknik membuat skala tidak lain dari teknik mengurutkan sesuatu dalam suatu kontinum.
Teknik membuat skala ini penting artinya dalam penelitian ilmu-ilmu social, karena banyak data
dalam ilmu social mempunyai sifat kualitatif. Sehingga ada ahli yang berpendapat bahwa teknik
membuat skala adalah cara mengubah fakta-fakta kualitatif (atribut) menjadi suatu urutan
kuantitatif (variabel).
Mengubah fakta kualitatif menjadi urutan kuantitatif telah menjadi kelaziman karena
beberapa alasan :

Ilmu pengetahuan akhir-akhir ini lebih cenderung menggunakan matematika sehingga


mengundang kuantifikasi variabel.

Ilmu pengatahuan semakin meminta presisi yang lebih baik, lebih-lebih dalam hal
mengukur gradasi.

Dalam membuat skala, item yang diukur biasanya berasal dari sampel. Dari sampel tersebut
ingin dibuat inferensi terhadap populasi. Karena itu, peneliti harus benar-benar mengetahui
tentang populasi beserta sifat-sifatnya, dan harus yakin bahwa sampel tersebut mewakili
populasi tertentu.
Skala harus mempunyai validitas, yaitu skala tersebut harus benar-benar mengukur apa yang
dikehendaki untuk diukur. Skala juga harus mempunyai reliabilitas. Dengan kata lain, skala
tersebut akan menghasilkan ukuran yang serupa jika digunakan pada sampel yang sama
lainnya.

MACAM-MACAM SKALA PENGUKURAN


Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan
panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur, sehingga alat ukur tersebut bila
digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data kuantitatif.

Dengan skala pengukuran ini, maka nilai variabel yang diukur dengan instrument tertentu dapat
dinyatakan dalam bentuk angka, sehingga akan lebih akurat, efisien dan komunikatif.

Macam-macam skala pengukuran dapat berupa :

Skala nominal
Skala nominal merupakan skala pengukuran yang menyatakan kategori, atau kelompok

dari suatu subyek. Misalnya variabel jenis kelamin, responden dapat dikelompokkan kedalam
dua kategori laki-laki dan wanita. Kedua kelompok ini dapat diberi kode 1 dan 2. Angka ini
hanya berfungsi sebagai label kategori semata tanpa nilai instrinsik dan tidak memiliki arti apaapa. Oleh sebab itu tidaklah tepat menghitung nilai rata-rata dan standar deviasi dari variabel
jenis kelamin. Angka 1 dan 2 hanya sebagai cara untuk mengelompokkan subyek ke dalam
kelompok yang berbeda atau hanya untuk menghitung beberapa banyak jumlah disetiap
kategori. Jadi uji statistik yang sesuai dengan skala nominal adalah uji statistik yang didasarkan
pada counting seperti modus dan distribusi frekuensi.
Berikut ini adalah contoh instrumen penelitian yang menanyakan identitas responden
dengan skala nominal :
: Pria

Wanita

1. Jenis Kelamin

2. Status Perkawinan : Menikah Tidak menikah

3. Agama

: Islam
4

Budha

Katolik

Kristen

Hindu

Skala ordinal
Skala ordinal tidak hanya mengkategorikan variable kedalam kelompok, tetapi juga

melakukan rangking terhadap kategori. Misal kita ingin mengukur preferensi responden
terhadap empat merek produk air mineral, merek Aqua, Aguanna, Aquaria, dan Aquades. Kita
dapat meminta responden untuk melakukan rangking terhadap merek produk air mineral yaitu
dengan memberi angka 1 untuk merek yang paling disukai, angka 2 untuk rangking kedua dst.
Merek Air Mineral

Ranking

Aqua

Aquana

Aquaria

Aquades

Tabel ini menunjukkan bahwa merek Aqua lebih disukai daripada merek Aquana,
mereka Aquana lebih disukai daripada merek Aquades. Walaupun perbedaan angka antara
merek satu dengan yang lainnya sama, kita tidak dapat menentukan seberapa besar nilai
preferensi dari satu merek terhadap merek lainnya. Jadi kategori antar merek tidak
menggambarkan perbedaan yang sama (equal differences) dan ukuran atribut. Pengukuran
seperti ini dinamakan skala ordinal dan data yang dapat dari pengukuran ini disebut data
ordinal. Uji statistik yang sesuai dengan untuk skala ordinal adalah modus, median, distribusi,
frekuensi, dan statistik non-parametrik seperti rank order correlations. Variabel yang diukur
dengan skala nominal dan ordinal umumnya disebut variable non-parametrik atau variable nonmetrik.
Berikut ini adalah contoh lain instrumen penelitian yang menggunakan skala pengukuran
ordinal :

Sebutkan pilihan saudara terhadap metode depresiasi aktiva tetap berwujud berikut
ini dengan menyatakan angka 1,2,3 dan 4 yang menunjukkan pilihan saudara.
-

Metode garis lurus

Metode saldo menurun (nilai buku)

Metode jumlah angka tahunan

Metode unit produksi

Skala interval
Misalnya disamping menanyakan responden untuk melakukan ranking preferensi

terhadap merek, anda juga diminta untuk meberikan nilai (rate) terhadap preferensi merek
sesuai dengan lima skala penilaian sebagai berikut :
Nilai Skala
1

Preferensi
Preferensi sangat tinggi

Preferensi tinggi

Preferensi moderat

Preferensi rendah

Preferensi sangat rendah

Jika kita berasumsi bahwa urutan kategori menggambarkan tingkat preferensi yang
sama, maka kita dapat mengatakan bahwa perbedaan preferensi responden untuk dua merek
air mineral yang mendapat ranting 1 dan 2 adalah sama dengan perbedaan preferensi untuk
dua merek lainnya yang memiliki rating 4 dan 5. Namun demikian kita tidak dapat menyatakan
bahwa preferensi responden terhadap merek yang mendapat rating 5 nilainya lima kali
preferensi untuk merek yang mendapat rating 1. Skala pengukuran seperti di atas disebut
dengan skala interval. Uji statistik yang sesuai untuk jenis pengukuran skala ini adalah semua
uji statistik, kecuali yang mendasarkan pada rasio seperti koefisien variasi.
Berikut ini adalah contoh lain instrumen penelitian yang mengukur construct sikap
terhadap pekerjaan yang menggunakan skala interval.
1. Mohon Bapak/Ibu memberi tanggapan terhadap 3 (tiga) butir pertanyaan berikut ini
sesuai dengan persepsi. Bapak/Ibu terhadap pekerjaan di tempat kerja dengan
memilih (melingkari) salah satu diantara pilihan jawaban yang tersedia.
STS
1.

Pekerjaan

yang

saya

2.

mendorong saya untuk kreatif


Pekerjaan
saya
merupakan

3.

pekerjaan yang membosankan


Secara keseluruhan saya merasa

TS

SS

lakukan

puas dengan pekerjaan saya


Catatan :
1. STS = sangat tidak setuju,
4.

2. TS = tidak setuju,

3. N = netral

S = setuju, 5. SS = sangat setuju.

Skala rasio
Skala rasio adalah interval dan memiliki nilai dasar (based value) yang tidak dpat

dirubah. Misalkan umur responden memiliki nilai dasar nol. Skala rasio dapat ditransformasikan
dengan cara mengalikan dengan konstanta karena hal ini akan merubah nilai dasarnya. Jadi
transformasi yang valid skala rasio adalah sebagai berikut :
Yt = bY0
Oleh karena skala rasio memiliki nilai dasar, maka pernyataan yang mengatakan Umur
Amir dua kali umur Tono adalah valid. Data yang dihasilkan dan skala rasio disebut data rasio
dan tidak ada pembatasan terhadap alat uji statistik yang sesuai. Variabel yang diukur skala
interval dan disebut variable metrik.

Skala rasio merupakan skala pengukuran yang menunjukkan kategori, peringkat jarak
dan perbandingan construct yang diukur. Skala rasio menggunakan nilai absolut, sehingga
memperbaiki kelemahan skala interval yang menggunakan nilai relatif. Nilai uang atau ukuran
berat merupakan contoh pengukuran dengan skala ratio. Nilai uang sebesar 1 juta rupiah
merupakan kelipatan sepuluh kali dari nilai uang seratus ribu rupiah. Jika berat badan
seseorang adalah 70 kilogram sama dengan dua kali lipat dari orang yang memiliki berat badan
35 kg. Skala ratio banyak digunakan dalam penelitian-penelitian akuntansi dan manajemen
keuangan. Contoh :
Berikut ini adalah contoh pertanyaan penelitian yang menggunakan skala rasio.
1. Beberapa total penjualan bersih perusahaan Bapak/Ibu dalam setahun :
Kurang dari Rp. 500 juta
Antara Rp. 500 juta s.d Rp. 1 milyar
Lebih dari Rp. 1 milyar s.d. Rp. 100 milyar
Lebih dari Rp. 100 milyar
2. Berapa jumlah karyawan yang bekerja di departemen/bagian Bapak/Ibu
Kurang dari 50 orang
Antara 50 orang s.d 100 orang
Lebih dari 100 orang tetapi kurang 150 orang
Lebih dari 200 orang
3. Berapa jam rata-rata dalam satu minggu yang Bapak/Ibu perlukan untuk
mengerjakan tugas pokok dengan menggunakan komputer ? ..jam.
Gambar

: Skala Pengukuran
Skala
Kategori

Nominal
Ordinal
Interval
Rasio

Ya
Ya
Ya
Ya

Tipe Pengukuran
Peringkat
Jarak
Tidak
Ya
Ya
Ya

Tidak
Tidak
Ya
Ya

Perbanding
an
Tidak
Tidak
Tidak
Ya

Dari empat macam pengukuran diatas, ternyata skala interval yang banyak digunakan untuk
mengukur fenomena/gejala sosial. Para ahli sosial membedakan dua tipe skala menurut
fenomena sosial yang diukur, yaitu :
1) skala pengukuran untuk mengukur perilaku sosial dan kepribadian.
-

skala sikap

skala moral

test karakter

skala parstisipasi sosial

2) skala pengukuran mengukur berbagai aspek budaya lain dan lingkungan sosial.
skala untuk mengukur status sosial ekonomi, lembaga-lembaga sosial,

kemasyarakatan, dan kondisi kerumahtanggaan.


Metode Pengukuran Sikap (Attitude Measurement Method)
Construct sikap sering digunakan dalam penelitian-penelitian bisnis. Komponen sikap
dapat dijelaskan melalui tiga dimensi : (1) afektif, merefleksikan perasan atau emosi seseorang
terhadap suatu obyek. (2) kognatif, menunjukkan kesadaran seseorang terahdap atau
pengetahuan

mengenai

obyek

tertentu,

atau

(3)

komponen-komponen

perilaku,

menggambarkan suatu keinginan-keinginan atau kecenderungan seseorang untuk melakukan


tindakan. Berikut ini metode-metode yang sering digunakan dalam pengukuran construct sikap,
yaitu : Skala Sederhana, Skala Kategori, Skala Likert, Skala Perbedaan Semantis, Skala
Numeris, dan Skala Grafis.
Gambar :

Metode Pengukuran Sikap

Skala Sederhana

Skala Kategori

Metode

Skala Likert

Pengukuran
Sikap

Skala Perbedaan
Semantis

Skala Numerik

Skala Grafis

a. Skala Sikap Sederhana (Simple Attitude Scale)


Metode pengukuran sikap yang paling sederhana adalah skala sederhana yang menggunakan
skala nominal, misalnya : setuju atau tidak setuju, ya atau tidak. Tipe skala ini digunakan
terutama jika kuisioner penelitian berisi relatif banyak butir pertanyaan, tingkat pendidikan
responden rendah, atau alasan yang lain.
Contoh :
Beri tanggapan mengenai tugas-tugas di tempat kerja Anda dengan memberi tanda X
atau pada jawaban :
Ya

, jika menggambarkan pekerjaan Anda

Tidak , jika tidak menggambarkan pekerjaan Anda


?

, jika anda tidak dapat memutuskan

1. Menarik

Ya

Tidak

2. Memuaskan

Ya

Tidak

3.

Menantang

Ya

Tidak

4.

Rutin

Ya

Tidak

5.

Bermanfaat

Ya

Tidak

Skala Kategori (Category Scale)


Skala kategori adalah metode pengukuran sikap yang berisi beberapa alternatif kategori
pendapat yang memungkinkan bagi responden untuk memberikan alternatif penilaian. Skala
kategori pada dasarnya merupakan perluasan dari skala sederhana. Skala ini memberikan yang
lebih banyak informasi dan mengukur lebih sensitif dimensi construct dibandingkan dengan
skala sederhana. Skala kategori ini dinamakan juga skala butir penilaian (itemized rating scale)

ini dapat dinyatakan dengan angka. Berikut ini adalah tipe-tipe skala kategori yang umumnya
digunakan untuk mengukur sikap responden yang berkaitan dengan kualitas: contoh (1),
urgensi (2), menarik (3), kepuasan (4), frekuensi (5).
Contoh :
1. Menurut penilaian saudara prosedur akuntansi pengeluaran produk dari
gudang di perusahaan tempat saudara bekerja.
Sangat Bagus
Bagus
Sedang
Jelek
Sangat Jelek
2. Bagaimana anda memandang kontribusi anda terhadap anggaran ?
Kontribusi saya :
Sangat Penting
Penting
Netral
Kurang Penting
Tidak Penting
3. Penggunaan teknologi komputer membuat pekerjaan saudara ?
Sangat menarik
Menarik
Netral
Kurang menarik
Tidak menarik
4. Bagaimana pelayanan staf penjualan dari perusahaan pemasok yang selama
ini menjadi mitra kerja perusahaan Bapak/Ibu ?
Sangat memuaskan
Memuaskan
Sedang
Kurang memuaskan
Tidak memuaskan

5. Seberapa sering anda aktif mencari pekerjaan baru di luar tempat kerja anda
sekarang?
Sangat memuaskan
Memuaskan
Sedang
Kurang memuaskan
Tidak memuaskan

b. Skala Perbedaan Semantis (Semantic Differntial Scale)


Skala ini dikembangkan oleh Osgood.

Skala ini digunakan untuk mengukur sikap, hanya

bentuknya tidak pilihan ganda maupun checklist, tetapi tersusun dalam satu garis kontinum
yang jawabannya sangat positifnya terletak di bagian kanan garis, dan jawabannya yang sangat
negatif terletak di bagian kiri garis atau sebaliknya.
Data yang diperoleh adalah data interval. Skala perbedaan semantis merupakan metode
pengukuran sikap dengan menggunakan skala penilaian tujuh butir yang menyatakan secara
verbal dua kutub (bipolar) penilaian yang ekstrem. Dua kutub ekstrem yang dinyatakan dalam
metode ini antara lain dapat berupa penilaian mengenai : baik buruk, kuat-lemah, modernkuno.
Responden diminta mengisi ruang semantis yang tersedia untuk merefleksikan seberapa dekat
sikap responden terhadap subyek, obyek atau kejadian tertentu diantara dua kutub penilaian
yang ekstrem.
Metode pengukuran ini umumnya digunakan untuk mengetahui sikap penilaian responden
terhadap merk dagang, produk, identifikasi perusahaan, pekerjaan, individu tertentu dan
dimensi construct yang lain-lain.
Contoh :
1. Berilah penilaian saudara atas produk baru X dengan memberikan tanda
pada ruang yang tersedia. Jawaban saudara menunjukkan seberapa dekat
penilaian saudara dari kedua alternatif jawaban yang bersifat ekstrem.
Bagus
Suka
Menguntungkan
Positif

Jelek
Tidak suka
Tidak menguntungkan
Negatif

2. Berilah penilaian saudara sejauh mana kepuasan anda terhadap profesi


peneliti yang sekarang anda tekuni dengan memberikan tanda pada ruang
yang tersedia. Jawaban saudara menunjukkan seberapa dekat penilaian
saudara dari kedua alternatif jawaban yang bersifat ekstrem.
Profesi peneliti

Profesi peneliti

Menyenangkan saya

Tidak Menyenangkan saya

Saya puas sebagai

Saya tidak puas

peneliti

sebagai peneliti

Saya cocok dengan

Saya tidak cocok dengan

pekerjaan peneliti

pekerjaan peneliti

c. Skala Numeris (Numerical Scala)


Skala Numeris merupakan metode yang terdiri atas 5 atau 7 alaternatif nomor untuk mengukur
sikap responden terhadap subyek, obyek atau kejadian tertentu. Skala numeris pada dasarnya
tidak berbeda dengan skala perbedaan semantis, karena juga menggunakan dua kutub
penilaian yang ekstrem diantara alternatif nomor.
Contoh :
Berilah penilaian saudara atas pertanyaan berikut ini dengan melingkari altarnatif nomor
yang tersedia. Jawaban saudara menunjukkan seberapa dekat penilaian saudara dari
kedua alternatif jawaban yang bersifat ekstrem.
1. Seberapa besar wewenang didelegasikan kepada para manajer untuk masingmasing kelompok keputusan berikut ini.
a. Pengembangan produk baru
1

Tidak ada

Didelagasikan

Pendelegasian

Sepenuhnya

b. Pengalokasian anggaran
1
Tidak ada

7
Didelagasikan

Pendelegasian

Sepenuhnya

c. Penentuan investasi dalam jumlah besar


1

Tidak ada

Didelagasikan

Pendelegasian

Sepenuhnya

2. Seberapa sering pimpinan meminta pendapat atau usulan saudara ketika anggara
sedang disusun?
1

Sangat sering

Tidak pernah

d. Skala Grafis (Grafic Rating Scale)


Skala grafis merupakan metode pengukuran sikap yang disajikan dalam bentuk grafis atau
gambar. Metode ini menyatakan penelitian responden terhadap subyek, obyek atau kejadian
tertentu dengan titik atau angka tertentu yang terletak di dalam gambar atau grafik penilaian.
Contoh :
1. Berilah penilaian terhadap gaya kepemimpinan atasan saudara sekarang
dengan memberikan tanda pada ruang yang tersedia dalam gambar
penilaian berikut ini.
10

Sangat Baik

Cukup

Sangat Jelek

2. Bagaimana menurut penilaian saudara terhadap metode pemasaran yang


diterapkan oleh perusahan saudara selama ini. Lingkarilah pada alternatif
nomor pada gambar berikut ini.
1

10

Sangat Efisien

Sangat Tidak Efisien

dan Efektif

dan Tidak Efektif

e. Skala Likert (summated ratings method)


Dikembangkan oleh Rensis Likert.
Banyak digunakan dalam penelitian moral (sikap, pendapat dan persepsi).
Prosedur dalam membuat skala Likert :
1. Peneliti mengumpulkan item-item yang banyak, yang relevan dengan masalah yang
sedang diteliti.
2. Item-item tsb kemudian dicoba kepada sekelompok responden yang cukup representatif
dari populasi yang ingin diteliti.
3. Responden diminta untuk mencek tiap item apakah ia menyenanginya (+) atau tidak
menyukainya (-). Responsi tsb dikumpulkan dan jawaban yang memberikan indikasi
menyenangi diberikan skor tertinggi.
4. Total skor dari masing-masing individu adalah penjumlahan dari skor masing-masing
item dari individu tsb.
5. Responsi dianalisa untuk mengetahui item-item mana yang sangat nyata batasan antara
skor tertinggi dan terendah dalam skala total.
Instrumen penelitian yang menggunakan skala Likert dapat dibuat dalam bentuk checklist
ataupun pilihan ganda. Data yang diperoleh dari skala likert adalah berupa data interval.

Skala Likert umumnya menggunakan lima angka penilaian yaitu : (1) sangat setuju, (2)
setuju, (3) tidak pasti atau netral, (4) tidak setuju, (5) sangat tidak setuju. Urutan setuju atau
tidak setuju dapat juga dibalik mulai dari sangat tidak setuju sampai dengan sangat setuju.
Alternatif angka penilaian dalam skala ini dapat bervariasi dari 3 sampai dengan 9.
Contoh :
1. Ditempat saya beberapa keputusan yang penting sering dibuat oleh
individual daripada kelompok
Sangat Tidak Setuju
(STS)

Tidak Setuju

Tidak Pasti

Setuju

Sangat Setuju

(TS)

(TP)

(S)

(SS)

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

2. Atasan langsung saudara sangat mendukung penggunaan teknologi


komputer untuk melaksanakan tugas-tugas pokok saudara
Sangat Tidak Setuju

Tidak Setuju

Tidak Pasti

Setuju

Sangat Setuju

(STS)

(TS)

(1)

(2)

(TP)

(S)

(SS)

(3)

(4)

(5)

Beberapa kelemahan Skala Likert :


-

karena ukuran yang digunakan adalah ukuran ordinal, skala likert hanya dapat
mengurutkan individu dalam skala, tetapi tidak dapat membandingkan berapa
kali satu individu lebih baik dari individu lain.

Kadangkala total skor dari individu tidak memberikan arti yang jelas, karena
banyak pola response teerhadap beberapa item akan memberikan skor yang
sama.

f. Skala Guttman
Skala pengukuran dengan tipe ini akan didapat jawaban yang tegas yaitu ya tidak,
benar salah, pernah tidak pernah, positif negatif dan lain-lain.
Data yang diperoleh dapat berupa data interval atau rasio.
Dikembangkan oleh Louis Guttman.
Mempunyai beberapa ciri penting :
-

merupakan skala kumulatif.

Mengukur satu dimensi saja dari suatu variabel yang multi dimensi, sehingga
skala ini termasuk mempunyai sifat unidimesional

Disebut juga metode scalogram atau analisa skala (scale analysis)

Sangat baik untuk meyakinkan peneliti tentang kesatuan dimensi dari sikap atau sifat
yang diteliti, yang sering disebut dengan atribut universal.

Dua kelemahan pokok dari skala Guttman adalah :

1) Skala Guttman bisa jadi tidak mungkin menjadi dasar yang efektif baik untuk mengukur
sikap terhadap objek yang komplek ataupun untuk membuat predikasi tentang perilaku
objek tsb.

2) Satu skala bisa saja mempunyai dimensi tunggal untuk satu kelompok tetapi ganda
untuk kelompok lain, ataupun berdimensi satu untuk satu waktu dan mempunyai dimensi
ganda untuk waktu yang lain.
g. Skala Thurstone
Dikembangkan oleh L.L. Thurstone dari metode psikofisikal yang bertujuan untuk
mengurutkan responden berdasarkan ciri atau kriteria tertentu.
Skala Thurstone disusun dalam interval yang mendekati sama besar (equal appearing
interval)
Prosedur dalam membuat skala Thurstone
1. Peneliti mengumpulkan beratus-ratus pernyataan yang dipikirkan berhubungan dengan
masalah yang diteliti.
2. Pernyataan-pernyataan tsb kemudian dikumpulkan dan diminta untuk dinilai oleh 50-300
juri yang bekerja secara independen.
3. Juri diminta mengelompokkan pernyataa-pernyataan tsb dalam 11 kelompok, dan
memberi skor 1 sampai 11. yang paling relevan diberi skor 1 dan yang paling tidak
relevan diberi skor 11.
4. Pernyataan yang nilainya sangat menyebar dibuang sedangkan pernyataan-pernyataan
yang mempunyai nilai yang agak bersamaan dari para juri digunakan dalam membuat
skala. Nilai skala dari tiap pernyataan dihitung, yaitu median dari nilai-nilai yang telah
diberikan oleh juri.
Hasil dari skala Thurstone adalah sejumlah pertanyaan, biasanya kira-kira 20 buah,
yangmana posisi pertanyaan-pertanyaan tsb telah diketahui berdasarkan penilaian juri.
Kekurangan dari skala Thurstone :
1. Terlalu banyak yang perlu dikerjakan untuk membuat skala oleh para juri.
2. Jika item yang disuruh cek pada responden jumlahnya lebih dari 2 maka nilai untuknya
pada skala adalah median dari nilai-nilai yang terdapat pada skala yang telah dibuat.
3. Nilai pada skala yang dibuat para juri sangat dipengaruhi oleh sikap si juri sendiri
terhadap masalah yang disuruh nilai.

MODUL 7

TATAP MUKA KE 7

PENGUKURAN: PENGGUNAAN SKALA DALAM KUESIONER:

Tujuan Instruksional Khusus


Agar mahasiswa mampu :
4. Menguraikan konsep pengukuran melalui skala dan kapan penggunaannya dan pada
variabel mana saja.
5. Menguraikan tahapan penyusunan skala.
6. Menyebutkan contoh pengukuran skala, dengan kritik kelebihan dan kekurangannya.
Materi Bahasan
4. Konsep skala
5. Teknik skala
6. Contoh-contoh skala
Daftar Pustaka
4. Indriantoro & Supomo, 2001, Metodologi Penelitian Bisnis dan Akuntansi. BPFE Yogyakarta.
5. Sugiyono, 2000, Metode Penelitian Bisnis. CV Alfabeta. Bandung.
6. Ghozali Imam, 2002, Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS, Edisi II Badan
Penerbit-UNDIP Semarang.

SKALA PENGUKURAN

PENDAHULUAN
Teknik membuat skala tidak lain dari teknik mengurutkan sesuatu dalam suatu kontinum.
Teknik membuat skala ini penting artinya dalam penelitian ilmu-ilmu social, karena banyak data
dalam ilmu social mempunyai sifat kualitatif. Sehingga ada ahli yang berpendapat bahwa teknik
membuat skala adalah cara mengubah fakta-fakta kualitatif (atribut) menjadi suatu urutan
kuantitatif (variabel).
Mengubah fakta kualitatif menjadi urutan kuantitatif telah menjadi kelaziman karena
beberapa alasan :

Ilmu pengetahuan akhir-akhir ini lebih cenderung menggunakan matematika sehingga


mengundang kuantifikasi variabel.

Ilmu pengatahuan semakin meminta presisi yang lebih baik, lebih-lebih dalam hal
mengukur gradasi.

Dalam membuat skala, item yang diukur biasanya berasal dari sampel. Dari sampel tersebut
ingin dibuat inferensi terhadap populasi. Karena itu, peneliti harus benar-benar mengetahui
tentang populasi beserta sifat-sifatnya, dan harus yakin bahwa sampel tersebut mewakili
populasi tertentu.
Skala harus mempunyai validitas, yaitu skala tersebut harus benar-benar mengukur apa yang
dikehendaki untuk diukur. Skala juga harus mempunyai reliabilitas. Dengan kata lain, skala
tersebut akan menghasilkan ukuran yang serupa jika digunakan pada sampel yang sama
lainnya.

MACAM-MACAM SKALA PENGUKURAN


Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan
panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur, sehingga alat ukur tersebut bila
digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data kuantitatif.

Dengan skala pengukuran ini, maka nilai variabel yang diukur dengan instrument tertentu dapat
dinyatakan dalam bentuk angka, sehingga akan lebih akurat, efisien dan komunikatif.

Macam-macam skala pengukuran dapat berupa :

Skala nominal
Skala nominal merupakan skala pengukuran yang menyatakan kategori, atau kelompok

dari suatu subyek. Misalnya variabel jenis kelamin, responden dapat dikelompokkan kedalam
dua kategori laki-laki dan wanita. Kedua kelompok ini dapat diberi kode 1 dan 2. Angka ini
hanya berfungsi sebagai label kategori semata tanpa nilai instrinsik dan tidak memiliki arti apaapa. Oleh sebab itu tidaklah tepat menghitung nilai rata-rata dan standar deviasi dari variabel
jenis kelamin. Angka 1 dan 2 hanya sebagai cara untuk mengelompokkan subyek ke dalam
kelompok yang berbeda atau hanya untuk menghitung beberapa banyak jumlah disetiap
kategori. Jadi uji statistik yang sesuai dengan skala nominal adalah uji statistik yang didasarkan
pada counting seperti modus dan distribusi frekuensi.
Berikut ini adalah contoh instrumen penelitian yang menanyakan identitas responden
dengan skala nominal :
: Pria

Wanita

1. Jenis Kelamin

2. Status Perkawinan : Menikah Tidak menikah

3. Agama

: Islam
9

Budha

Katolik

Kristen

Hindu

10

Skala ordinal
Skala ordinal tidak hanya mengkategorikan variable kedalam kelompok, tetapi juga

melakukan rangking terhadap kategori. Misal kita ingin mengukur preferensi responden
terhadap empat merek produk air mineral, merek Aqua, Aguanna, Aquaria, dan Aquades. Kita
dapat meminta responden untuk melakukan rangking terhadap merek produk air mineral yaitu
dengan memberi angka 1 untuk merek yang paling disukai, angka 2 untuk rangking kedua dst.
Merek Air Mineral

Ranking

Aqua

Aquana

Aquaria

Aquades

Tabel ini menunjukkan bahwa merek Aqua lebih disukai daripada merek Aquana,
mereka Aquana lebih disukai daripada merek Aquades. Walaupun perbedaan angka antara
merek satu dengan yang lainnya sama, kita tidak dapat menentukan seberapa besar nilai
preferensi dari satu merek terhadap merek lainnya. Jadi kategori antar merek tidak
menggambarkan perbedaan yang sama (equal differences) dan ukuran atribut. Pengukuran
seperti ini dinamakan skala ordinal dan data yang dapat dari pengukuran ini disebut data
ordinal. Uji statistik yang sesuai dengan untuk skala ordinal adalah modus, median, distribusi,
frekuensi, dan statistik non-parametrik seperti rank order correlations. Variabel yang diukur
dengan skala nominal dan ordinal umumnya disebut variable non-parametrik atau variable nonmetrik.
Berikut ini adalah contoh lain instrumen penelitian yang menggunakan skala pengukuran
ordinal :

Sebutkan pilihan saudara terhadap metode depresiasi aktiva tetap berwujud berikut
ini dengan menyatakan angka 1,2,3 dan 4 yang menunjukkan pilihan saudara.
-

Metode garis lurus

Metode saldo menurun (nilai buku)

Metode jumlah angka tahunan

Metode unit produksi

Skala interval
Misalnya disamping menanyakan responden untuk melakukan ranking preferensi

terhadap merek, anda juga diminta untuk meberikan nilai (rate) terhadap preferensi merek
sesuai dengan lima skala penilaian sebagai berikut :
Nilai Skala
1

Preferensi
Preferensi sangat tinggi

Preferensi tinggi

Preferensi moderat

Preferensi rendah

Preferensi sangat rendah

Jika kita berasumsi bahwa urutan kategori menggambarkan tingkat preferensi yang
sama, maka kita dapat mengatakan bahwa perbedaan preferensi responden untuk dua merek
air mineral yang mendapat ranting 1 dan 2 adalah sama dengan perbedaan preferensi untuk
dua merek lainnya yang memiliki rating 4 dan 5. Namun demikian kita tidak dapat menyatakan
bahwa preferensi responden terhadap merek yang mendapat rating 5 nilainya lima kali
preferensi untuk merek yang mendapat rating 1. Skala pengukuran seperti di atas disebut
dengan skala interval. Uji statistik yang sesuai untuk jenis pengukuran skala ini adalah semua
uji statistik, kecuali yang mendasarkan pada rasio seperti koefisien variasi.
Berikut ini adalah contoh lain instrumen penelitian yang mengukur construct sikap
terhadap pekerjaan yang menggunakan skala interval.
2. Mohon Bapak/Ibu memberi tanggapan terhadap 3 (tiga) butir pertanyaan berikut ini
sesuai dengan persepsi. Bapak/Ibu terhadap pekerjaan di tempat kerja dengan
memilih (melingkari) salah satu diantara pilihan jawaban yang tersedia.
STS
5.

Pekerjaan

yang

saya

6.

mendorong saya untuk kreatif


Pekerjaan
saya
merupakan

7.

pekerjaan yang membosankan


Secara keseluruhan saya merasa

TS

SS

lakukan

puas dengan pekerjaan saya


Catatan :
1. STS = sangat tidak setuju,
8.

2. TS = tidak setuju,

3. N = netral

S = setuju, 5. SS = sangat setuju.

Skala rasio
Skala rasio adalah interval dan memiliki nilai dasar (based value) yang tidak dpat

dirubah. Misalkan umur responden memiliki nilai dasar nol. Skala rasio dapat ditransformasikan
dengan cara mengalikan dengan konstanta karena hal ini akan merubah nilai dasarnya. Jadi
transformasi yang valid skala rasio adalah sebagai berikut :
Yt = bY0
Oleh karena skala rasio memiliki nilai dasar, maka pernyataan yang mengatakan Umur
Amir dua kali umur Tono adalah valid. Data yang dihasilkan dan skala rasio disebut data rasio
dan tidak ada pembatasan terhadap alat uji statistik yang sesuai. Variabel yang diukur skala
interval dan disebut variable metrik.

Skala rasio merupakan skala pengukuran yang menunjukkan kategori, peringkat jarak
dan perbandingan construct yang diukur. Skala rasio menggunakan nilai absolut, sehingga
memperbaiki kelemahan skala interval yang menggunakan nilai relatif. Nilai uang atau ukuran
berat merupakan contoh pengukuran dengan skala ratio. Nilai uang sebesar 1 juta rupiah
merupakan kelipatan sepuluh kali dari nilai uang seratus ribu rupiah. Jika berat badan
seseorang adalah 70 kilogram sama dengan dua kali lipat dari orang yang memiliki berat badan
35 kg. Skala ratio banyak digunakan dalam penelitian-penelitian akuntansi dan manajemen
keuangan. Contoh :
Berikut ini adalah contoh pertanyaan penelitian yang menggunakan skala rasio.
4. Beberapa total penjualan bersih perusahaan Bapak/Ibu dalam setahun :
Kurang dari Rp. 500 juta
Antara Rp. 500 juta s.d Rp. 1 milyar
Lebih dari Rp. 1 milyar s.d. Rp. 100 milyar
Lebih dari Rp. 100 milyar
5. Berapa jumlah karyawan yang bekerja di departemen/bagian Bapak/Ibu
Kurang dari 50 orang
Antara 50 orang s.d 100 orang
Lebih dari 100 orang tetapi kurang 150 orang
Lebih dari 200 orang
6. Berapa jam rata-rata dalam satu minggu yang Bapak/Ibu perlukan untuk
mengerjakan tugas pokok dengan menggunakan komputer ? ..jam.
Gambar

: Skala Pengukuran
Skala
Kategori

Nominal
Ordinal
Interval
Rasio

Ya
Ya
Ya
Ya

Tipe Pengukuran
Peringkat
Jarak
Tidak
Ya
Ya
Ya

Tidak
Tidak
Ya
Ya

Perbanding
an
Tidak
Tidak
Tidak
Ya

Dari empat macam pengukuran diatas, ternyata skala interval yang banyak digunakan untuk
mengukur fenomena/gejala sosial. Para ahli sosial membedakan dua tipe skala menurut
fenomena sosial yang diukur, yaitu :
3) skala pengukuran untuk mengukur perilaku sosial dan kepribadian.
-

skala sikap

skala moral

test karakter

skala parstisipasi sosial

4) skala pengukuran mengukur berbagai aspek budaya lain dan lingkungan sosial.
skala untuk mengukur status sosial ekonomi, lembaga-lembaga sosial,

kemasyarakatan, dan kondisi kerumahtanggaan.


Metode Pengukuran Sikap (Attitude Measurement Method)
Construct sikap sering digunakan dalam penelitian-penelitian bisnis. Komponen sikap
dapat dijelaskan melalui tiga dimensi : (1) afektif, merefleksikan perasan atau emosi seseorang
terhadap suatu obyek. (2) kognatif, menunjukkan kesadaran seseorang terahdap atau
pengetahuan

mengenai

obyek

tertentu,

atau

(3)

komponen-komponen

perilaku,

menggambarkan suatu keinginan-keinginan atau kecenderungan seseorang untuk melakukan


tindakan. Berikut ini metode-metode yang sering digunakan dalam pengukuran construct sikap,
yaitu : Skala Sederhana, Skala Kategori, Skala Likert, Skala Perbedaan Semantis, Skala
Numeris, dan Skala Grafis.
Gambar :

Metode Pengukuran Sikap

Skala Sederhana

Skala Kategori

Metode

Skala Likert

Pengukuran
Sikap

Skala Perbedaan
Semantis

Skala Numerik

Skala Grafis

a. Skala Sikap Sederhana (Simple Attitude Scale)


Metode pengukuran sikap yang paling sederhana adalah skala sederhana yang menggunakan
skala nominal, misalnya : setuju atau tidak setuju, ya atau tidak. Tipe skala ini digunakan
terutama jika kuisioner penelitian berisi relatif banyak butir pertanyaan, tingkat pendidikan
responden rendah, atau alasan yang lain.
Contoh :
Beri tanggapan mengenai tugas-tugas di tempat kerja Anda dengan memberi tanda X
atau pada jawaban :
Ya

, jika menggambarkan pekerjaan Anda

Tidak , jika tidak menggambarkan pekerjaan Anda


?

, jika anda tidak dapat memutuskan

3. Menarik

Ya

Tidak

4. Memuaskan

Ya

Tidak

3.

Menantang

Ya

Tidak

4.

Rutin

Ya

Tidak

5.

Bermanfaat

Ya

Tidak

Skala Kategori (Category Scale)


Skala kategori adalah metode pengukuran sikap yang berisi beberapa alternatif kategori
pendapat yang memungkinkan bagi responden untuk memberikan alternatif penilaian. Skala
kategori pada dasarnya merupakan perluasan dari skala sederhana. Skala ini memberikan yang
lebih banyak informasi dan mengukur lebih sensitif dimensi construct dibandingkan dengan
skala sederhana. Skala kategori ini dinamakan juga skala butir penilaian (itemized rating scale)

ini dapat dinyatakan dengan angka. Berikut ini adalah tipe-tipe skala kategori yang umumnya
digunakan untuk mengukur sikap responden yang berkaitan dengan kualitas: contoh (1),
urgensi (2), menarik (3), kepuasan (4), frekuensi (5).
Contoh :
6. Menurut penilaian saudara prosedur akuntansi pengeluaran produk dari
gudang di perusahaan tempat saudara bekerja.
Sangat Bagus
Bagus
Sedang
Jelek
Sangat Jelek
7. Bagaimana anda memandang kontribusi anda terhadap anggaran ?
Kontribusi saya :
Sangat Penting
Penting
Netral
Kurang Penting
Tidak Penting
8. Penggunaan teknologi komputer membuat pekerjaan saudara ?
Sangat menarik
Menarik
Netral
Kurang menarik
Tidak menarik
9. Bagaimana pelayanan staf penjualan dari perusahaan pemasok yang selama
ini menjadi mitra kerja perusahaan Bapak/Ibu ?
Sangat memuaskan
Memuaskan
Sedang
Kurang memuaskan
Tidak memuaskan

10. Seberapa sering anda aktif mencari pekerjaan baru di luar tempat kerja anda
sekarang?
Sangat memuaskan
Memuaskan
Sedang
Kurang memuaskan
Tidak memuaskan

b. Skala Perbedaan Semantis (Semantic Differntial Scale)


Skala ini dikembangkan oleh Osgood.

Skala ini digunakan untuk mengukur sikap, hanya

bentuknya tidak pilihan ganda maupun checklist, tetapi tersusun dalam satu garis kontinum
yang jawabannya sangat positifnya terletak di bagian kanan garis, dan jawabannya yang sangat
negatif terletak di bagian kiri garis atau sebaliknya.
Data yang diperoleh adalah data interval. Skala perbedaan semantis merupakan metode
pengukuran sikap dengan menggunakan skala penilaian tujuh butir yang menyatakan secara
verbal dua kutub (bipolar) penilaian yang ekstrem. Dua kutub ekstrem yang dinyatakan dalam
metode ini antara lain dapat berupa penilaian mengenai : baik buruk, kuat-lemah, modernkuno.
Responden diminta mengisi ruang semantis yang tersedia untuk merefleksikan seberapa dekat
sikap responden terhadap subyek, obyek atau kejadian tertentu diantara dua kutub penilaian
yang ekstrem.
Metode pengukuran ini umumnya digunakan untuk mengetahui sikap penilaian responden
terhadap merk dagang, produk, identifikasi perusahaan, pekerjaan, individu tertentu dan
dimensi construct yang lain-lain.
Contoh :
3. Berilah penilaian saudara atas produk baru X dengan memberikan tanda
pada ruang yang tersedia. Jawaban saudara menunjukkan seberapa dekat
penilaian saudara dari kedua alternatif jawaban yang bersifat ekstrem.
Bagus
Suka
Menguntungkan
Positif

Jelek
Tidak suka
Tidak menguntungkan
Negatif

4. Berilah penilaian saudara sejauh mana kepuasan anda terhadap profesi


peneliti yang sekarang anda tekuni dengan memberikan tanda pada ruang
yang tersedia. Jawaban saudara menunjukkan seberapa dekat penilaian
saudara dari kedua alternatif jawaban yang bersifat ekstrem.
Profesi peneliti

Profesi peneliti

Menyenangkan saya

Tidak Menyenangkan saya

Saya puas sebagai

Saya tidak puas

peneliti

sebagai peneliti

Saya cocok dengan

Saya tidak cocok dengan

pekerjaan peneliti

pekerjaan peneliti

c. Skala Numeris (Numerical Scala)


Skala Numeris merupakan metode yang terdiri atas 5 atau 7 alaternatif nomor untuk mengukur
sikap responden terhadap subyek, obyek atau kejadian tertentu. Skala numeris pada dasarnya
tidak berbeda dengan skala perbedaan semantis, karena juga menggunakan dua kutub
penilaian yang ekstrem diantara alternatif nomor.
Contoh :
Berilah penilaian saudara atas pertanyaan berikut ini dengan melingkari altarnatif nomor
yang tersedia. Jawaban saudara menunjukkan seberapa dekat penilaian saudara dari
kedua alternatif jawaban yang bersifat ekstrem.
3. Seberapa besar wewenang didelegasikan kepada para manajer untuk masingmasing kelompok keputusan berikut ini.
d. Pengembangan produk baru
1

Tidak ada

Didelagasikan

Pendelegasian

Sepenuhnya

e. Pengalokasian anggaran
1
Tidak ada

7
Didelagasikan

Pendelegasian

f.

Sepenuhnya

Penentuan investasi dalam jumlah besar


1

Tidak ada

Didelagasikan

Pendelegasian

Sepenuhnya

4. Seberapa sering pimpinan meminta pendapat atau usulan saudara ketika anggara
sedang disusun?
1

Sangat sering

Tidak pernah

d. Skala Grafis (Grafic Rating Scale)


Skala grafis merupakan metode pengukuran sikap yang disajikan dalam bentuk grafis atau
gambar. Metode ini menyatakan penelitian responden terhadap subyek, obyek atau kejadian
tertentu dengan titik atau angka tertentu yang terletak di dalam gambar atau grafik penilaian.
Contoh :
3. Berilah penilaian terhadap gaya kepemimpinan atasan saudara sekarang
dengan memberikan tanda pada ruang yang tersedia dalam gambar
penilaian berikut ini.
11

Sangat Baik

Cukup

Sangat Jelek

4. Bagaimana menurut penilaian saudara terhadap metode pemasaran yang


diterapkan oleh perusahan saudara selama ini. Lingkarilah pada alternatif
nomor pada gambar berikut ini.
1

10

Sangat Efisien

Sangat Tidak Efisien

dan Efektif

dan Tidak Efektif

e. Skala Likert (summated ratings method)


Dikembangkan oleh Rensis Likert.
Banyak digunakan dalam penelitian moral (sikap, pendapat dan persepsi).
Prosedur dalam membuat skala Likert :
6. Peneliti mengumpulkan item-item yang banyak, yang relevan dengan masalah yang
sedang diteliti.
7. Item-item tsb kemudian dicoba kepada sekelompok responden yang cukup representatif
dari populasi yang ingin diteliti.
8. Responden diminta untuk mencek tiap item apakah ia menyenanginya (+) atau tidak
menyukainya (-). Responsi tsb dikumpulkan dan jawaban yang memberikan indikasi
menyenangi diberikan skor tertinggi.
9. Total skor dari masing-masing individu adalah penjumlahan dari skor masing-masing
item dari individu tsb.
10. Responsi dianalisa untuk mengetahui item-item mana yang sangat nyata batasan antara
skor tertinggi dan terendah dalam skala total.
Instrumen penelitian yang menggunakan skala Likert dapat dibuat dalam bentuk checklist
ataupun pilihan ganda. Data yang diperoleh dari skala likert adalah berupa data interval.

Skala Likert umumnya menggunakan lima angka penilaian yaitu : (1) sangat setuju, (2)
setuju, (3) tidak pasti atau netral, (4) tidak setuju, (5) sangat tidak setuju. Urutan setuju atau
tidak setuju dapat juga dibalik mulai dari sangat tidak setuju sampai dengan sangat setuju.
Alternatif angka penilaian dalam skala ini dapat bervariasi dari 3 sampai dengan 9.
Contoh :
3. Ditempat saya beberapa keputusan yang penting sering dibuat oleh
individual daripada kelompok
Sangat Tidak Setuju
(STS)

Tidak Setuju

Tidak Pasti

Setuju

Sangat Setuju

(TS)

(TP)

(S)

(SS)

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

4. Atasan langsung saudara sangat mendukung penggunaan teknologi


komputer untuk melaksanakan tugas-tugas pokok saudara
Sangat Tidak Setuju

Tidak Setuju

Tidak Pasti

Setuju

Sangat Setuju

(STS)

(TS)

(1)

(2)

(TP)

(S)

(SS)

(3)

(4)

(5)

Beberapa kelemahan Skala Likert :


-

karena ukuran yang digunakan adalah ukuran ordinal, skala likert hanya dapat
mengurutkan individu dalam skala, tetapi tidak dapat membandingkan berapa
kali satu individu lebih baik dari individu lain.

Kadangkala total skor dari individu tidak memberikan arti yang jelas, karena
banyak pola response teerhadap beberapa item akan memberikan skor yang
sama.

f. Skala Guttman
Skala pengukuran dengan tipe ini akan didapat jawaban yang tegas yaitu ya tidak,
benar salah, pernah tidak pernah, positif negatif dan lain-lain.
Data yang diperoleh dapat berupa data interval atau rasio.
Dikembangkan oleh Louis Guttman.
Mempunyai beberapa ciri penting :
-

merupakan skala kumulatif.

Mengukur satu dimensi saja dari suatu variabel yang multi dimensi, sehingga
skala ini termasuk mempunyai sifat unidimesional

Disebut juga metode scalogram atau analisa skala (scale analysis)

Sangat baik untuk meyakinkan peneliti tentang kesatuan dimensi dari sikap atau sifat
yang diteliti, yang sering disebut dengan atribut universal.

Dua kelemahan pokok dari skala Guttman adalah :

3) Skala Guttman bisa jadi tidak mungkin menjadi dasar yang efektif baik untuk mengukur
sikap terhadap objek yang komplek ataupun untuk membuat predikasi tentang perilaku
objek tsb.

4) Satu skala bisa saja mempunyai dimensi tunggal untuk satu kelompok tetapi ganda
untuk kelompok lain, ataupun berdimensi satu untuk satu waktu dan mempunyai dimensi
ganda untuk waktu yang lain.
g. Skala Thurstone
Dikembangkan oleh L.L. Thurstone dari metode psikofisikal yang bertujuan untuk
mengurutkan responden berdasarkan ciri atau kriteria tertentu.
Skala Thurstone disusun dalam interval yang mendekati sama besar (equal appearing
interval)
Prosedur dalam membuat skala Thurstone
5. Peneliti mengumpulkan beratus-ratus pernyataan yang dipikirkan berhubungan dengan
masalah yang diteliti.
6. Pernyataan-pernyataan tsb kemudian dikumpulkan dan diminta untuk dinilai oleh 50-300
juri yang bekerja secara independen.
7. Juri diminta mengelompokkan pernyataa-pernyataan tsb dalam 11 kelompok, dan
memberi skor 1 sampai 11. yang paling relevan diberi skor 1 dan yang paling tidak
relevan diberi skor 11.
8. Pernyataan yang nilainya sangat menyebar dibuang sedangkan pernyataan-pernyataan
yang mempunyai nilai yang agak bersamaan dari para juri digunakan dalam membuat
skala. Nilai skala dari tiap pernyataan dihitung, yaitu median dari nilai-nilai yang telah
diberikan oleh juri.
Hasil dari skala Thurstone adalah sejumlah pertanyaan, biasanya kira-kira 20 buah,
yangmana posisi pertanyaan-pertanyaan tsb telah diketahui berdasarkan penilaian juri.
Kekurangan dari skala Thurstone :
4. Terlalu banyak yang perlu dikerjakan untuk membuat skala oleh para juri.
5. Jika item yang disuruh cek pada responden jumlahnya lebih dari 2 maka nilai untuknya
pada skala adalah median dari nilai-nilai yang terdapat pada skala yang telah dibuat.
6. Nilai pada skala yang dibuat para juri sangat dipengaruhi oleh sikap si juri sendiri
terhadap masalah yang disuruh nilai.

Penulisan Butir Soal

A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 14 tahun 2005 tentang


Organisasi dan Tata Kerja Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan
Menengah Departemen Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa salah satu tugas
Direktorat Pembinaan SMA - Subdirektorat Pembelajaran adalah melakukan penyiapan
bahan kebijakan, standar, kriteria, dan pedoman serta pemberian bimbingan teknis,
supervisi, dan evaluasi pelaksanaan kurikulum. Lebih lanjut dijelaskan dalam
Permendiknas Nomor 25 tahun 2006 tentang Rincian Tugas Unit Kerja di Lingkungan
Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah bahwa rincian tugas
Subdirektorat Pembelajaran Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas antara lain
melaksanakan penyiapan bahan penyusunan pedoman dan prosedur pelaksanaan
pembelajaran, termasuk penyusunan pedoman pelaksanaan kurikulum.
Ditetapkannya Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan membawa implikasi terhadap sistem dan penyelenggaraan pendidikan
termasuk pengembangan dan pelaksanaan kurikulum. Kebijakan pemerintah tersebut
mengamanatkan kepada setiap satuan pendidikan dasar dan menengah untuk
mengembangkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang mengacu pada
Standar Nasional Pendidikan.
Pada kenyataannya dalam melaksanakan KTSP termasuk sistem penilaiannya, banyak
pendidik yang masih mengalami kesulitan untuk menyusun tes dan mengembangkan
butir soal yang valid dan reliabel. Oleh karena itu, Direktorat Pembinaan SMA
membuat berbagai panduan pelaksanaan KTSP yang salah satu di antaranya adalah
panduan penyusunan butir soal.
B. Tujuan
Tujuan penyusunan panduan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan profesional
guru khususnya dalam penulisan butir soal. Setelah mempelajari panduan ini
diharapkan para guru dapat menyusun kisi-kisi dengan benar dan mengemabngkan
butir soal yang valid dan reliabel.
C. Ruang Lingkup
Ruang lingkup yang dibahas dalam panduan ini meliputi penilaian berbasis
kompetensi, teknik, alat penilaian dan prosedur pengembangan tes, penyusunan kisikisi, dan penyusunan butir soal.

Penulisan Butir Soal

II. PENILAIAN BERBASIS KOMPETENSI


A. Pengertian
Penilaian berbasis kompetensi merupakan teknik evaluasi yang harus dilakukan guru
dalam pembelajaran di sekolah. Teknik dan pelaksanaannya diatur di dalam:
Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional
Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 23 tahun 2006 tentang Standar
Kompetensi Lulusan
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2007 tentang Standar Penilaian
Pendidikan
Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar di dalam Standar Isi menjadi fokus
perhatian utama dalam penilaian.
B. Bentuk dan Proses Penilaian
Untuk mengetahui tingkat pencapaian kompetensi, guru dapat melakukan penilaian
melalui tes dan non tes. Tes meliputi tes lisan, tertulis (bentuk uraian, pilihan ganda,
jawaban singkat, isian, menjodohkan, benar-salah), dan tes perbuatan yang meliputi:
kinerja (performance), penugasan (projek) dan hasil karya (produk). Penilaian non-tes
contohnya seperti penilaian sikap, minat, motivasi, penilaian diri, portfolio, life skill.
Tes perbuatan dan penilaian non tes dilakukan melalui pengamatan (observasi).
Langkah-langkah pengembangan tes meliputi (1) menentukan tujuan penilaian, (2)
menentukan kompetensi yang diujikan (3) menentukan materi penting pendukung
kompetensi (urgensi, kontinuitas, relevansi, keterpakaian), (4) menentukan jenis tes
yang tepat (tertulis, lisan, perbuatan), (5) menyusun kisi-kisi, butir soal, dan pedoman
penskoran, (6) melakukan telaah butir soal. Penilaian non tes dilakukan melalui
pengamatan dengan langkah-langkah (1) menentukan tujuan penilaian, (2)
menentukan kompetensi yang diujikan, (3) menentukan aspek yang diukur, (4)
menyusun tabel pengamatan dan pedoman penskorannya, (5) melakukan penelaahan.
C. Kriteria Bahan Ulangan/Ujian
Bahan ulangan/ujian yang akan digunakan hendaknya menenuhi dua kriteria dasar berikut
ini.
2 Penulisan Butir Soal

1. adanya kesesuaian materi yang diujikan dan target kompetensi yang harus dicapai
melalui materi yang diajarkan. Hal ini dapat memberikan informasi tentang siapa
atau peserta didik mana yang telah mencapai tingkatan pengetahuan tertentu yang
disyaratkan sesuai dengan target kompetensi dalam silabus/kurikulum dan dapat
memberikan informasi mengenai apa dan seberapa banyak materi yang telah
dipelajari peserta didik. Berdasarkan ilmu pengukuran pendidikan, ujian yang
bahannya tidak sesuai dengan target kompetensi yang harus dicapai bukan saja
kurang memberikan informasi tentang hasil belajar seorang peserta didik,
melainkan juga tidak menghasilkan umpan balik bagi penyempurnaan proses
belajar-mengajar.
2. bahan ulangan/ujian hendaknya menghasilkan informasi atau data yang dapat
dijadikan landasan bagi pengembangan standar sekolah, standar wilayah, atau
standar nasional melalui penilaian hasil proses belajar-mengajar.
D. Soal yang Bermutu
Bahan ujian atau soal yang bermutu dapat membantu pendidik meningkatkan
pembelajaran dan memberikan informasi dengan tepat tentang peserta didik mana
yang belum atau sudah mencapai kompetensi. Salah satu ciri soal yang bermutu
adalah bahwa soal itu dapat membedakan setiap kemampuan peserta didik. Semakin
tinggi kemampuan peserta didik dalam memahami materi pembelajaran, semakin
tinggi pula peluang menjawab benar soal atau mencapai kompetensi yang ditetapkan.
Makin rendah kemampuan peserta didik dalam memahami materi pembelajaran,
makin kecil pula peluang menjawab benar soal untuk mengukur pencapaian
kompetensi yang ditetapkan.
Syarat soal yang bermutu adalah bahwa soal harus sahih (valid), dan handal. Sahih
maksudnya bahwa setiap alat ukur hanya mengukur satu dimensi/aspek saja. Mistar
hanya mengukur panjang, timbangan hanya mengukur berat, bahan ujian atau soal
PKn
hanya
mengukur
materi
pembelajaran
PKn
bukan
mengukur
keterampilan/kemampuan materi yang lain. Handal maksudnya bahwa setiap alat ukur
harus dapat memberikan hasil pengukuran yang tepat, cermat, dan ajeg. Untuk dapat
menghasilkan soal yang sahih dan handal, penulis soal harus merumuskan kisi-kisi dan
menulis soal berdasarkan kaidah penulisan soal yang baik (kaidah penulisan soal
bentuk objektif/pilihan ganda, uraian, atau praktik).
Linn dan Gronlund (1995: 47) menyatakan bahwa tes yang baik harus memenuhi tiga
karakteristik, yaitu: validitas, reliabilitas, dan usabilitas. Validitas artinya ketepatan
interpretasi hasil prosedur pengukuran, reliabilitas artinya konsistensi hasil
pengukuran, dan usabilitas artinya praktis prosedurnya. Di samping itu, Cohen dkk.
(1992: 28) juga menyatakan bahwa tes yang baik adalah tes yang valid artinya
mengukur apa yang hendak diukur. Nitko (1996 : 36) menyatakan bahwa validitas
berhubungan dengan
3 Penulisan Butir Soal

interpretasi atau makna dan penggunaan hasil pengukuran peserta didik. Messick
(1993: 13) menjelaskan bahwa validitas tes merupakan suatu integrasi pertimbangan
evaluatif derajat keterangan empiris yang mendasarkan pemikiran teoritis yang
mendukung ketepatan dan kesimpulan berdasarkan pada skor tes. Adapun validitas
dalam model Rasch adalah sesuai atau fit dengan model (Hambleton dan
Swaminathan, 1985: 73).
Messick (1993: 16) menyatakan bahwa validitas secara tradisional terdiri dari: (1)
validitas isi, yaitu ketepatan materi yang diukur dalam tes; (2) validitas criterionrelated, yaitu membandingkan tes dengan satu atau lebih variabel atau kriteria, (3)
valitidas prediktif, yaitu ketepatan hasil pengukuran dengan alat lain yang dilakukan
kemudian; (4) validitas serentak (concurrent), yaitu ketepatan hasil pengukuran
dengan dua alat ukur lainnya yang dilakukan secara serentak; (5) validitas konstruk,
yaitu ketepatan konstruksi teoretis yang mendasari disusunnya tes. Linn dan Gronlund
(1995 : 50) menyatakan hahwa valilitas terdiri dari: (1) konten. (2) test-criterion
relationship, (3) konstruk, dan (4) consequences, yaitu ketepatan penggunaan hasil
pengukuran. Sedangkan menurut Oosterhof (190 : 23) yang mengutip berdasarkan
"Standards for Educational and Psychological Testing, 1985" yang didukung oleh Ebel
dan Frisbie (1991 : 102-109), serta Popham (1995 : 43) bahwa tipe validitas adalah
validitas: (1) content, (2) criterion, dan (3) construction.
Di samping validitas, informasi tentang reliabilitas tes sangat diperlukan. Nitko (1999 :
62) dan Popham (1995 : 21) menyatakan bahwa reliabilitas berhubungan dengan
konsistensi hasil pengukuran. Pernyataan ini didukung oleh Cohen dkk, yaitu bahwa
reliabilitas merupakan persamaan dependabilitas atau konsistensi (Cohen dkk : 192 :
132) karena tes yang memiliki konsistensi/reliabilitas tinggi, maka tesnya adalah
akurat, reproducible; dan gereralizable terhadap kesempatan testing dan instrumen
tes yang sama. (Ebel dan Frisbie (1991 : 76). Faktor yang mempengaruhi reliabilitas
yang berhubungan dengan tes adalah: (1) banyak butir, (2) homogenitas materi tes,
(3) homogenitas karakteristik butir, dan (4) variabilitas skor. Reliabilitas yang
berhubungan dengan peserta didik dipengaruhi oleh faktor: (1) heterogenitas
kelompok, (2) pengalaman peserta didik mengikuti tes, dan (3) motivasi peserta didik.
Sedangkan faktor yang mempengaruhi reliabilitas yang berhubungan dengan
administrasi adalah batas waktu dan kesempatan menyontek (Ebel dan Frisbie, 1991:
88-93).
Linn dan Gronlund menyatakan bahwa metode estimasi dapat dilakukan dengan
mempergunakan: (1) metode test-retest, yaitu diberikan tes yang sama dua kali pada
kelompok yang sama dengan interval waktu; tujuannya adalah pengukuran stabilitas;
(2) metode equivalent form, yaitu diberikan dua tes paralel pada kelompok yang sama
dan waktu yang sama; tujuannya adalah pengukuran menjadi ekuivalen; (3) metode
test-retest dengan equivalen form, yaitu diberikan dua tes paralel pada kelompok
yang sama dengan interval waktu; tujuannya adalah pengukuran stabilitas dan
ekuivalensi; (4) metode split-half, yaitu diberikan tes sekali, kemudian skor pada
butir yang ganjil dan genap dkorelasikan dengan menggunakan rumus
Penulisan Butir Soal

Spearman-Brown; tujuannya adalah pengukuran konsistensi internal; (5) metode


Kuder-Richardson dan koefisien Alfa, yaitu diberikan tes sekali kemudian skor total
tes dihitung dengan rumus Kuder-Richardson, tujuannya adalah pengukuran
konsistensi internal; (6) metode inter-rater, yaitu diberikan satu set jawaban peserta
didik untuk diskor/judgement oleh 2 atau lebih rater; tujuannya adalah pengukuran
konsistensi rating. Menurut Popham (1995: 22), reliabilitas terdiri dari 3 jenis yaitu:
(1) stabilitas, yaitu konsistensi hasil di antara kesempatan testing yang berbeda, (2)
format bergantian (alternate form), yaitu konsistensi hasil di antara dua atau lebih
tes yang berbeda, (3) internal konsistensi, yaitu konsistensi melalui suatu pengukuran
fungsi butir instrumen.
Reliabilitas skor tes dalam teori respon butir adalah penggunaan fungsi informasi tes.
Menurut Hambleton dan Swaminathan (1985: 236), pengukuran fungsi informasi tes
lebih akurat bila dibandingkan dengan penggunaan reliabilitas karena: (1) bentuknya
tergantung hanya pada butir-butir dalam tes, (2) mempunyai estimasi kesalahan
pengukuran pada setiap level abilitas. Pernyataan ini didukung oleh Gustafson (1981 :
41), yaitu bahwa konsep reliabilitas dalam model Rasch memerankan bagian
subordinate sebab model pengukuran ini diorientasikan pada estimasi kemampuan
individu.
Untuk meningkatkan validitas dan reliabilitas tes perlu dilakukan analisis butir soal.
Kegunaan analisis butir soal di antaranya adalah: (1) dapat membantu para pengguna
tes dalam evaluasi atas tes yang diterbitkan, (2) sangat relevan bagi penyusunan tes
informal dan lokal seperti kuis, ulangan yang disiapkan guru untuk peserta didik di
kelas, (3) mendukung penulisan butir soal yang efektif, (4) secara materi dapat
memperbaiki tes di kelas, (5) meningkatkan validitas soal dan reliabilitas (Anastasi
dan Urbina, 1997: 172).

Penulisan Butir Soal

III. TEKNIK PENILAIAN DAN PROSEDUR PENGEMBANGAN TES


A. Teknik Penilaian
Ada beberapa teknik dan alat penilaian yang dapat digunakan pendidik sebagai sarana
untuk memperoleh informasi tentang keadaan belajar peserta didik. Penggunaan
berbagai teknik dan alat itu harus disesuaikan dengan tujuan penilaian, waktu yang
tersedia, sifat tugas yang dilakukan peserta didik, dan banyaknya/jumlah materi
pembelajaran yang sudah disampaikan.
Teknik penilaian adalah metode atau cara penilaian yang dapat digunakan guru untuk
rnendapatkan informasi. Teknik penilaian yang memungkinkan dan dapat dengan
mudah digunakan oleh guru, misalnya: (1) tes (tertulis, lisan, perbuatan), (2)
observasi atau pengamatan, (3) wawancara.
1. Teknik penilaian melalui tes
a. Tes tertulis
Tes tertulis adalah tes yang soal-soalnya harus dijawab peserta didik dengan
memberikan jawaban tertulis. Jenis tes tertulis secara umum dapat
dikelompokkan menjadi dua yaitu:
1) tes objektif, misalnya bentuk pilihan panda, jawaban singkat atau isian,
benar salah, dan bentuk menjodohkan;
2) tes uraian, yang terbagi atas tes uraian objektif (penskorannya dapat
dilakukan secara objektif) dan tes uraian non-objektif (penskorannya sulit
dilakukan secara objektif).
b. Tes lisan
Tes lisan yakni tes yang pelaksanaannya dilakukan dengan mengadakan tanya
jawab secara langsung antara pendidik dan peserta didik. Tes ini memiliki
kelebihan dan kelemahan. Kelebihannya adalah: (1) dapat menilai kemampuan
dan tingkat pengetahuan yang dimiliki peserta didik, sikap, serta
kepribadiannya karena dilakukan secara berhadapan langsung; (2) bagi peserta
didik yang kemampuan berpikirnya relatif lambat sehingga sering mengalami
kesukaran dalam memahami pernyataan soal, tes bentuk ini dapat menolong
sebab peserta didik dapat menanyakan langsung kejelasan pertanyaan yang
dimaksud; (3) hasil tes dapat langsung diketahui peserta didik. Kelemahannya
adalah (1) subjektivitas pendidik sering mencemari hasil tes, (2) waktu
pelaksanaan yang diperlukan relatif cukup lama.
c. Tes perbuatan
Tes perbuatan yakni tes yang penugasannya disampaikan dalam bentuk lisan
atau tertulis dan pelaksanaan tugasnya dinyatakan dengan perbuatan atau
unjuk kerja. Penilaian tes perbuatan dilakukan sejak peserta didik melakukan
persiapan, melaksanakan tugas, sampai dengan hasil yang dicapainya. Untuk
menilai tes perbuatan pada umumnya diperlukan sebuah format pengamatan,
6 Penulisan Butir Soal

yang bentuknya dibuat sedemikian rupa agar pendidik dapat menuliskan


angka-angka yang diperolehnya pada tempat yang sudah disediakan. Bentuk
formatnya dapat disesuaikan menurut keperluan. Untuk tes perbuatan yang
sifatnya individual, sebaiknya menggunakan format pengamatan individual.
Untuk tes perbuatan yang dilaksanakan secara kelompok digunakan format
tertentu yang sudah disesuaikan untuk keperluan pengamatan kelompok.
2. Teknik penilaian melalui observasi atau pengamatan
Observasi adalah suatu kegiatan yang dilakukan pendidik untuk mendapatkan
informasi tentang peserta didik dengan cara mengamati tingkah laku dan
kemampuannya selama kegiatan observasi berlangsung. Observasi dapat ditujukan
kepada peserta didik secara perorangan atau kelompok. Dalam kegiatan observasi
perlu disiapkan format pengamatan. Format pengamatan dapat berisi: (1)
perilaku-perilaku atau kemampuan yang akan dinilai, (2) batas waktu
pengamatan.
3. Teknik penilaian melalui wawancara
Teknik wawancara pada satu segi mempunyai kesamaan arti dengan tes lisan yang
telah diuraikan di atas. Teknik wawancara ini diperlukan pendidik untuk tujuan
mengungkapkan atau menanyakan lebih lanjut hal-hal yang kurang jelas
informasinya. Teknik wawancara ini dapat pula digunakan sebagai alat untuk
menelusuri kesukaran yang dialami peserta didik tanpa ada maksud untuk menilai.
Setiap teknik penilaian harus dibuatkan instrumen penilaian yang sesuai. Tabel berikut
menyajikan teknik penilaian dan bentuk instrumen.
Tabel 1. Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen Teknik
Penilaian

Tes tertulis

Tes praktik (tes kinerja)


Penugasan individual atau kelompok

Penilaian portofolio

Penilaian diri
Penilaian antarteman

Bentuk Instrumen

Tes pilihan: pilihan ganda, benarsalah, menjodohkan dll.


Tes isian: isian singkat dan uraian
Daftar pertanyaan
Tes identifikasi
Tes simulasi
Tes uji petik kinerja
Pekerjaan rumah
Lembar penilaian portofolio
Buku cacatan jurnal
Kuesioner/lembar penilaian diri
Lembar penilaian antarteman

AAipoelBlog
Telanjang dada menelanjangi komunikasi globalisasi

about

Tips & Trik

Oleh: aaipoel | Kamis,Juni 7, 2007

Pengukuran Sikap Dalam Opini Publik

BAB. I
PENDAHULUAN
Menurut Cultip dan Center dalam sastropoetro (1987), opini adalah suatu
ekspresi tentang sikap mengenai suatu masalah yang bersifat kontroversial. Opini
timbul sebagai hasil pembicaraan tentang masalah yang kontroversial, yang
menimbulkan pendapat yang berbeda-beda. Dimana opini tersebut berasal dari opiniopini individual yang diungkapkan oleh para anggota sebuah kelompok yang
pandangannya bergantung pada pengaruh-pengaruh yang dilancarkan kelompok itu.
Opini-opini individual tersebut kemudian dikenal dengan istilah opini publik.
Karena Opini Publik terbentuk dari intregasi personal opinion banyak orang, maka
Opini Publik cenderung telah bermukim pada suatu masyarakat yang melembaga,
yang telah lengkap dengan mekanisme kepemimpinan maupun pengawasan
komunikasi. Dengan kata lain Opini dan Opini Publik dilihat oleh Bogardus secara
lembaga sentries dan liberal.
Auguste Comte, yang mendapat julukan sebagai bapak Sosiologi juga menaruh
perhatian yang besar terhadap Opini Publik, kendati lebih memberikan arti dalam
bentuk peranannya. Ia berpendapat, bahwa hari depan Negara dengan peningkatan
pengaruh akan merupakan ajang dari Opini Publik. Dengan kata lain, bahwa tingkah
laku kehidupan kenegaraan akan sangat dipengaruhi oleh tingkah laku Opini Publik.
Hal yang dihubungkan dengan Albig, yang mengemukakan , bahwa opini adalah
tingkah laku.
Masih banyak ahli ilmu-ilmu sosial yang memberikan batasan pengertian
terhadap Opini Publik. Beberapa ahli yang mengkhususkan studi dibidang tersebut
antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut:
Leonard W. Doob yang sering dikutip oleh para ahli, mengemukakan :

..Publik opinion refrs to peoples attitudes on an issue when they are members
of the same sosial group.
Doob disini memberi tekanan kepada sikap (attitude) sebagai sesuatu yang
bernilai psikologis terhadap sesuatu isyu, manakala mereka (dalam arti people)
menjadi anggota dari kelompok sosial yang sama. Lalu Doob mempertanyakan,
kelompok mana yang terlibat, isyu yang mana yang terlibat dan mengapa masyarakat
memberi respon terhadap isyu tersebut.
Secara histories istilah sikap (attitude) digunakan pertama kali oleh Herbert
Spencer tahun 1862 yang pada saat itu diartikan olehnya sebagai status mental
seseorang. Dimasa-masa awal itu pula penggunaan konsep sikap sering dikaitkan
dengan konsep mengenai postur fisik atau posisi tubuh seseorang ( Wrigtsman &
Deaux, 1981, dalam azwar 1995 ). Sikap dapat diekspresikan dengan berbagai cara,
dengan kata-kata yang berbeda. Sejak akhir tahun 1920 dan awal tahun 1930 metodemetode pengukuran tingkah laku telah berkembang dan digunakan sampai sekarang,
dan beberapa metode baru telah diciptakan.
Sikap dapat didefinisikan dalam banyak versi. Menurut Azwar (1995) sikap dapat
dikategorikan ke dalam tiga orientasi pemikiran, yaitu: yang berorientasi pada respon,
yang berorientasi pada kesiapan respon, dan yang berorientasi pada skema triadic.
(mengenai pembahasan sikap akan dibahas pada bagian selanjutnya).
Sebagai landasan utama dari pengukuran sikap adalah pendefinisian sikap terhadap
suatu objek. dimana sikap terhadap suatu objek adalah perasaan mendukung atau
memihak (favorable) maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak
(unfavorable) terhadap objek tersebut (Marat 1984). Menurut Azwar (1995) dalam
penyusunan pengukuran sikap sebagai instrumen pengungkapan sikap individu
maupun sikap kelompok ternyata bukanlah sesuatu hal yang mudah. Kendatipun sudah
melalui prosedur dan langkah-langkah yang sesuai dengan kriteria, suatu pengukuran
sikap ternyata masih tetap memiliki kelemahan, sehingga tujuan pengungkapan sikap
yang diinginkan tidak seluruhnya dapat tercapai. Oleh karena itu dalam penyusunan

pengukuran sikap beberapa hal yang perlu dikuasai sebelum sampai pada tabel
spesifikasi adalah pengertian dan komponen sikap dan pengetahuan mengenai objek
sikap yang hendak diukur.

BAB. II
PENGUKURAN SIKAP OPINI PUBLIK
DEFINISI DAN KOMPONEN SIKAP
Pada bagian sebelumnya sedikit telah disinggung mengenai definisi sikap, yakni
menurut Spencer sikap diartikan sebagai status mental seseorang. Dan Sikap dapat
diekspresikan dengan berbagai cara, dengan kata-kata yang berbeda dan tingkat
intensitas yang berbeda. Sementara menurut Azwar (1995) sikap dapat dikategorikan
ke dalam tiga orientasi pemikiran, yaitu: yang berorientasi pada respon, yang
berorientasi pada kesiapan respon, dan yang berorientasi pada skema triadik.
Pertama, yang berorientasi pada respon. Orientasi ini diwakili oleh para ahli seperti
Louis Thurstone, Rensis Likert, dan Charles Osgood. Dalam pandangan mereka, sikap
adalah suatu bentuk atau reaksi perasaan. Secara lebih operasional sikap terhadap
suatu objek adalah perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan
tidak mendukung atau tidak memihak (unfavorable) terhadap objek tersebut (Berkowitz
dalam Azwar 1995).
Kedua, yang berorientasi pada kesiapan respon. Orientasi ini diwakili oleh para ahli
seperti Chave, Bogardus, LaPierre, Mead, dan Allport. Konsepsi yang mereka ajukan
ternyata lebih kompleks. Menurut pandangan orientasi ini, sikap merupakan kesiapan
untuk bereaksi terhadap objek dengan cara-cara tertentu. Kesiapan ini berarti
kecenderungan potensial untuk bereaksi dengan cara tertentu apabila individu
dihadapkan kepada suatu stimulus yang menghendaki adanya respons. Sikap oleh
LaPierre (dalam Azwar 1995) dikatakan sebagai suatu pola perilaku, tendensi atau
kesiapan antisipatif, predisposisi untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial; atau
secara sederhana sikap adalah respons terhadap stimuli sosial yang telah
terkondisikan.
Ketiga, yang berorientasi pada skema triadik. Menurut pandangan orientasi ini, sikap
merupakan konstelasi komponen-komponen kognitif, afektif, dan konatif yang saling

berinteraksi dalam memahami, merasakan, dan berperilaku terhadap suatu objek.


Secord dan Backman (dalam Azwar 1995) mendefinisikan sikap sebagai keteraturan
tertentu dalam hal perasaan (afeksi), pemikiran (kognisi), dan predisposisi tindakan
(konasi) seseorang terhadap suatu aspek lingkungan sekitarnya.
Menurut Azwar, di kalangan ahli psikologi sosial dewasa ini terdapat dua pendekatan
dalam mengklasifikasikan sikap. Yang pertama adalah yang memandang sikap sebagai
kombinasi reaksi antara afektif, prilaku, dan kognitif terhadap suatu objek. Pendekatan
pertama ini sama dengan pendekatan skema triadik, yang kemudian disebut juga
dengan pendekatan tricomponent.
Yang kedua adalah yang meragukan adanya konsistensi antara ketiga komponen sikap
di dalam membentuk sikap. Oleh karena itu pendekatan ini hanya memandang perlu
membatasi konsep dengan komponen afektif saja.
Menurut Marat (1984) ketiga komponen dalam sikap masih dapat dijabarkan lagi
sebagai berikut:
1. Komponen kognitif, berhubungan dengan: belief (kepercayaan atau keyakinan),
ide, dan konsep.
2. Komponen afektif, yang berhubungan dengan kehidupan emosional seseorang
3. Komponen konatif, yang merupakan kecenderungan bertingkah laku.
Di lain pihak, Mann (dalam Azwar 1995) juga mencoba menjabarkan ketiga komponen
sikap menjadi:
1. Komponen kognitif berisikan persepsi, kepercayaan, dan stereotipe yang dimiliki
individu mengenai sesuatu. Seringkali komponen ini dapat disamakan dengan
pandangan (opini), terutama apabila menyangkut masalah isu atau problem yang
kontroversial.

2. Komponen afektif merupakan perasaan individu terhadap objek sikap dan


menyangkut masalah emosi. Masalah emosional inilah yang biasanya berakar
paling bertahan terhadap pengaruh-pengaruh yang mungkin akan mengubah
sikap seseorang
3. Komponen konatif berisikan kecenderungan untuk bertindak atau untuk bereaksi
terhadap sesuatu dengan cara-cara tertentu.
1. TIPE PERTANYAAN SIKAP (TYPE OF ATTITUDE QUESTION)
Pertanyaan sikap (attitude qouestion) adalah rangkaian kalimat yang mengatakan
sesuatu mengenai objek sikap yang hendak diungkap.
Pertanyaan sikap apabila ditulis dengan mengikuti kaidah penulisan yang benar,
setelah melalui prosedur penskalaan (scaling) dan seleksi item, akan menjadi isi suatu
skala.
Suatu pertanyaan sikap dapat berisikan hal-hal yang positif mengenai objek sikap, yaitu
kalimatnya bersifat mendukung atau memihak pada objek sikap. Pertanyaan seperti ini
disebut sebagai pertanyaan yang favorable.
Contoh pertanyaan favorable adalah Merokok dalam bis merupakan hak azasi setiap
orang.
Kalimat ini jelas mendukung atau memihak pada perilaku merokok di dalam bis karena
bila dilihat dari sudut perilaku merokoknya sebagai objek sikap, pertanyaan ini
mengatakan hal yang positif.
Sebaliknya, pertanyaan sikap mungkin pula berisi hal-hal yang negatif mengenai objek
sikap, yaitu yang bersifat tidak mendukung ataupun kontra terhadap objek sikap yang
akan diungkap. Pertanyaan seperti ini disebut sebagai pertanyaan sikap yang bersifat
unfavorable.

Suatu skala sikap sedapat mungkin diusahakan agar terdiri atas pertanyaan favorable
dan pertanyaan unfavorable dalam jumlah yang kurang lebih seimbang. Dengan
demikian pertanyaan yang disajikan tidak semua positif atau semua negatif yang dapat
mendatangkan kesan seakan-akan isi skala yang bersangkutan seluruhnya memihak
atau sebaliknya seluruhnya tidak mendukung objek sikap. Variasi pertanyaan favorable
dan unfavorable akan membuat responden memikirkan lebih hati-hati isi pertanyaannya
sebelum memberikan respons sehingga stereotipe responden dalam menjawab dapat
dihindari (Azwar 1995).
Edwards (dalam Azwar 1995) telah meramu berbagai saran dan petunjuk dari para ahli
menjadi semacam pedoman penulisan pertanyaan yang disebutnya sebagai kriteria
informal penulisan pertanyaan sikap. Kriteria termaksud, antara lain adalah sebagai
berikut : Jangan menulis pertanyaan yang membicarakan mengenai kejadian yang telah
lewat kecuali kalau objek sikapnya berkaitan dengan masa lalu.
Contoh : (objek sikap politik bebas aktif)
Pemutusan hubungan diplomatik dengan Malaysia masa Presiden Sukarno merupakan
tindakan yang tepat.
Meminta responden menjawab mengenai masalah yang telah lama terjadi
seringkali tidak ada relevansi dan kepentingannya dengan sikap masa kini.
Apalagi bila disadari bahwa mengetahui sikap sekarang mengenai hal yang telah
berlalu merupakan hal yang tidak banyak gunanya. Sikap bukan merupakan
aspek psikologis yang stabil untuk waktu yang lama. Interaksi manusia dengan
lingkungan dimana ia berada sekarang sangat potensial untuk mengubah
sikapnya terhadap sesuatu. Karena itu, pengukuran sikap hampir selalu ditujukan
untuk mengungkap sikap terhadap objek psikologis masa sekarang.
Selengkapnya kaidah penulisan pertanyaan dapat dilihat berikut ini,
1. Jangan menulis pertanyaan yang berupa fakta atau dapat ditafsirkan sebagai fakta.
Contoh: (objek sikap program Keluarga Berencana)
Keluarga berencana adalah program pemerintah

Suatu pertanyaan seperti contoh di atas adalah pertanyaan yang berisi fakta atau
kenyataan. Lepas dari setuju atau tidak setuju terhadap program keluarga
berencana, setiap orang yang tahu tentu akan memberikan jawaban favorable
terhadap pertanyaan seperti itu. Dengan demikian apa yang terungkap bukanlah
sikap terhadap sesuatu objek melainkan pengetahuannya mengenai objek
tersebut. Pertanyaan yang berisi fakta tidak akan dapat memberikan informasi
kepada kita mengenai bagaimana sikap responden yang sebenarnya.
2. Jangan menulis pertanyaan yang dapat menimbulkan lebih dari satu penafsiran.
Contoh : (objek sikap program keluarga berencana)
Hari libur keluarga berencana perlu diadakan
Pertanyaan seperti di atas akan menimbulkan penafsiran yang berbeda bagi
responden. Akibatnya dapat menimbulkan respon yang tidak sejalan dengan isi
pertanyaan seperti dimaksudkan oleh penyusun skala. Apa sebenarnya yang
dimaksudkan dengan hari libur keluarga berencana? Apabila yang dimaksudkan
adalah hari libur nasional untuk memperingati kelurga berencana, maka
pertanyaan itu adalah favorable dan akan memancing jawaban setuju dari
responden yang sikapnya positif terhadap keluarga berencana. Akan tetapi,
apabila responden menafsirkan hari libur keluarga berencana sebagai hari libur
dimana para peserta program keluarga berencana boleh melupakan atau tidak
menggunakan alat kontrasepsi dan meliburkan cara-cara pengaturan kehamilan,
maka pertanyaan itu menjadi yang unfavorable. Akibatnya, responden yang
mempunyai sikap positif terhadap keluarga berencana tentu akan tidak setuju
terhadap pertanyaan tersebut.
3. Jangan menulis pertanyaan yang tidak relevan dengan objek psikologisnya.
Contoh : (objek sikap universitas terbuka)
Daya tampung universitas yang ada di Indonesia perlu segera ditingkatkan

Sekilas pertanyaan ini berkaitan dengan masalah tidak tertampungnya sebagian


besar calon mahasiswa di perguruan tinggi yang ada, yang menjadi salah satu
alasan dibukanya program universitas terbuka. Akan tetapi, karena berdiri sendiri
pertanyaan itu tidak mempunyai kaitan apapun dengan universitas terbuka yang
dijadikan objek sikap. Apakah responden menyatakan setuju atau tidak setuju
terhadap isi pertanyaan tersebut, tidaklah dapat dijadikan petunjuk mengenai
sikapnya terhadap universitas terbuka. Responden yang menyatakan setuju
bahwa daya tampung perguruan tinggi sangat rendah dan karenanya perlu
ditingkatkan, belum tentu akan juga setuju terhadap keberadaan universitas
terbuka.
4. Jangan menulis pertanyaan yang sangat besar kemungkinannya akan disetujui
oleh hampir semua orang atau bahkan hampir tak seorangpun yang akan
menyetujuinya.
Contoh :
Setiap orang harus memperoleh makanan yang layak
Pertanyaan ini akan hampir dapat dipastikan disetujui oleh semua orang. Apabila
hampir ke semua orang setuju terhadap suatu pertanyaan, maka pertanyaan
tersebut tidak ada artinya dalam mengungkap sikap.
Contoh :
Segala bentuk pelanggaran lalu-lintas harus dikenai hukuman penjara
Pertanyaan seperti ini, yang dimaksudkan sebagai pengungkap sikap terhadap
peraturan lalu-lintas, sangat boleh jadi tidak akan ada yang menyetujuinya.
Sekalipun bagi mereka yang mempunyai sikap positif terhadap hukuman
pelanggaran lalulintas, tetap akan mempertimbangkan bentuk pelanggarannya
lebih dahulu baru dapat menyetujui atau tidak menyetujui diterapkannya

hukuman penjara. Pertanyaan demikian ini juga tidak membantu pengukuran


sikap manusia.
5. Pilihlah pertanyaan-pertanyaan yang diperkirakan akan mencakup
keseluruhan liputan skala afektif yang diinginkan.
Masing-masing pertanyaan mempunyai derajat afektif yang berbeda-beda. Ada
pertanyaan yang punya derajat afektif yang dalam sehingga dapat mengungkap
intensitas sikap yang dalam pula, ada pertanyaan yang punya derajat afektif yang
dangkal sehingga hanya dapat mengungkap intensitas yang tidak terlalu dalam.
Umumnya hal ini dapat dilihat dari derajat favorablenya suatu pertanyaan.Untuk
skala sikap secara keseluruhan hendaknya terdiri atas berbagai derajat afektif yang
bertingkat sehigga ada pertanyaannya yang dapat mengungkap intensitas sikap
yang dalam dan ada pertanyaannya yang dibuat hanya untuk mengungkap
intensitas sikap yang sederhana. Dengan demikian akan diperoleh liputan derajat
efektif dalam rentang yang luas.
6. Usahakan agar setiap pertanyaan ditulis dalam bahasa yang sederhana, jelas,
dan langsung. Jangan menuliskan pertanyaan dengan menggunakan kalimatkalimat yang rumit.
7. Setiap pertanyaan hendaknya ditulis ringkas dengan menghindari kata-kata yang
tidak diperlukan dan yang tidak akan memperjelas isi pertanyaan.
8. Setiap pertanyaan harus berisi hanya satu ide (gagasan) yang lengkap.
Contoh :
Universitas A adalah universitas yang sistem administrasinya paling baik dan
alumninya paling membanggakan
Pertanyaan ini merupakan satu contoh pertanyaan yang mengandung dua gagasan
pikiran, yaitu kualitas sistem administrasi dan kebanggaan alumni, walaupun
mungkin keduanya merupakan gagasan yang relevan guna mengungkap sikap

terhadap sistem pendidikan di universitas A, akan tetapi dua gagasan yang


dimasukkan ke dalam satu pertanyaan seperti itu mungkin punya derajat afeksi
yang berbeda tingkatannya. Seseorang mungkin akan menyatakan sangat setuju
mengenai segi kebaikan sistem administrasi universitas tersebut, namun akan
menyatakan ragu-ragu mengenai segi kebanggaan alumninya. Perbaikan yang
dapat dilakukan adalah memisahkan kedua ide tersebut masing-masing ke dalam
pertanyaan yang berbeda.
9. Pertanyaan yang berisi unsur universal seperti tidak pernah, semuanya,
selalu, tak seorangpun, dan semacamnya, seringkali menimbulkan penafsiran
yang berbeda-beda dan karenanya sedapat mungkin hendaklah dihindari.
10. Kata-kata seperti hanya, sekedar, semata-mata, dan semacamnya harus
digunakan seperlunya saja dan dengan hati-hati agar tidak menimbulkan kesalahan
penafsiran isi pertanyaan.
11. Jangan menggunakan kata atau istilah yang mungkin tidak dapat dimengerti
oleh para responden.
Contoh :
Pemberian hadiah tidak akan mengubah motivasi siswa dalam belajar
Tampaknya tidak sukar untuk memahami kalimat dalam pertanyaan seperti ini.
Yang menjadi pertanyaan adalah apakah responden akan memahami kalimat
tersebut sebagaimana yang diinginkan oleh penulis? Coba perhatikan kata motivasi
dan hadiah di atas. Sebagian dari kalangan tertentu barangkali dapat memahami
maksudnya, akan tetapi bagi banyak orang, motivasi tidak memberikan gambaran
apapun juga karena mungkin memang mereka tidak mengenalnya dalam
percakapan sehari-hari. Penggunaan kata hadiah sebagai pengganti reward juga
tidak akan mudah dipahami oleh individu yang bukan berlatar belakang psikologi.
12. Hindarilah pertanyaan yang berisi kata negatif ganda.

Contoh :
Tidak merencakan jumlah anak dalam keluarga bukan tindakan yang terpuji
Kata tidak, dan bukan, dua-duanya adalah kata negatif, yang dalam banyak hal
dapat membingungkan pembaca pertanyaan. kalau memang dimaksudkan untuk
menulis pernya taan yang favorable bagi keluarga berencana kata tidak dan kata
bukan dalam pertanyaan di atas dapat dihilangkan sama sekali tanpa merubah arti
kalimatnya. Bila dirasa perlu dapat disisipkan kata adalah di antara kata keluarga
dan kata tindakan.
Demikianlah beberapa kriteria informal dalam penulisan pertanyaan sikap yang perlu
diperhatikan. Satu hal yang juga sangat penting diperhatikan dalam penulisan
pertanyaan sikap adalah masalah social desirability. Kadang-kadang pertanyaan sikap
yang kita tulis mengandung social desirability yang tinggi, yaitu berisi hal-hal yang akan
disetujui oleh responden semata-mata karena isinya menggambarkan sesuatu yang
dianggap sudah semestinya berlaku dalam masyarakat sosial atau sesuatu yang baik,
benar, dan diterima menurut norma masyarakat. Sebagai contoh adalah pertanyaan
berikut ini:
Menjaga kebersihan lingkungan adalah kewajiban kita semua
Lepas dari pada apakah responden orang yang cinta kebersihan (bersikap positif) atau
bukan, ia cenderung akan menyetujui pertanyaan seperti di atas karena norma sosial
kita seakan telah mengatakan bahwa kebersihan itu baik dan orang yang baik adalah
orang yang menjaga kebersihan. Dengan begitu, pertanyaan itu tidak akan berfungsi
sebagaimana seharusnya dan tidak ada gunanya dalam pengukuran sikap.
Para penulis pertanyaan, belajar dari pengalaman, menuliskan pertanyaan sikap dalam
jumlah dan kemudian baru mengevaluasi satu persatu pertanyaan tersebut sesuai
dengan kriteria yang baru dikemukakan di atas. Perbaikan dilakukan terhadap setiap
pertanyaan yang perlu diperbaiki. Seringkali pula pemeriksaan kembali terhadap setiap

pertanyaan itu menimbulkan ide atau gagasan baru sehingga dapat ditulis pertanyaan
yang lebih baik.
Mereka yang memahami dasar-dasar konstruksi skala sikap dan pernah banyak
berpengalaman dalam penulisan pertanyaannya akan lebih peka dalam mengevaluasi
setiap pertanyaan dan umumnya dapat langsung mengetahui adanya kejanggalankejanggalan bahasa yang dipergunakan.
Setelah pertanyaan-pertanyaan sikap selesai ditulis, langkah berikutnya adalah
melakukan penskalaan (scaling) terhadap pertanyaan tersebut dan memilih pertanyaan
pertanyaan yang secara empirik memang berkualitas.
1. METODE METODE PENGUKURAN SIKAP
Suatu skala harus dirancang dengan hati-hati. Stimulusnya harus ditulis dan dipilih
berdasarkan metode konstruksi yang benar. Skor terhadap respons seseorang harus
diberikan dengan cara-cara yang tepat. Agar dapat memenuhi kualitas dasar alat ukur
yang standar, maka skala harus mengembangkan terlebih dahulu apa yang disebut
sebagai tabel spesifikasi. Dalam setiap perencanaan skala sikap, langkah pertama
yang harus dilakukan adalah penentuan tujuan ukur dan pembatasnya. Hal ini berarti
bahwa:
1. ciri-ciri objek psikologis yang berupa aspek kepribadian manusia yang hendak
diungkap harus diidentifikasikan dengan jelas lebih dahulu.
2. konsep harus dibatasi konstruk (construct) atau konsepsi teoritisnya, lalu
didefinisikan secara operasional dalam bentuk dimensi-dimensi atau indikatorindikator perilaku sehingga dapat diukur
Pada perancangan skala terhadap konsep terdapat dua hal yang harus dijadikan
perhatian, pertama adalah penentuan dan pembatasan konsep yang akan digunakan
dan yang kedua adalah menentukan dimensi-dimensi atau indikator-indikator perilaku
yang hendak diukur. Sedangkan pada perancangan skala sikap dua hal penting

tersebut adalah: pertama adalah penentuan dan pembatasan konsepsi dari objek yang
akan diukur dan yang kedua adalah penentuan batas objek yang hendak diukur.
Berikut ini beberapa metode pengukuran skala sikap yang telah lama di perkenalkan
dan digunakan hingga kini :
1. Bogardus sosial distance scale
Bogardus(1925) mengajukan pengukuran kesenjangan sosial yang dapat
menentukan hubungan antara sikap diberbagai jenis ras atau kelompok sebuah
bangsa. Berbagai jenis pengukuran dari tekhnik ini akan memeperlihatkan adanya
hubungan antara sikap/tingkah laku terhadap berbagai jenis kelompok sosial. Triandis
(1964) telah meluaskan arti pekerjaannya dalam bidang ini. Dengan menggunakan
analisis factor dia telah menemukan lima dimensi tingkah laku (sikap) terhadap kelaskelas sosial dalam masyarakat, diantaranya :
1. Penghormatan
Contoh : mengagumi ide/pandangan seseorang.
2. Penerimaan perkawinan, misal : jatu cinta pada seseorang
3. Penerimaan terhadap persahabatan, misal : makan bersama
4. Kesenjangan sosial, misal : mengasingkan seseorang dari sekitarnya
5. Superordinasi, misal : memerintah seseorang
2. Thurstone Method Of Equal Appearing Interval
Thurstone (1928) mengajukan metode pengukuran sikap ini berbeda dengan
pengukuran Bogardus dimana poin-poin pengukuran tidak terlalu diperlukan. Thurstone
mencoba untuk mengembangkan sebuah metode yang mana dapat menunjukan
secara cepat jumlah perbedaan antara prilaku satu responden dengan responden
lainnya. Metode Thurstone membuat sebuah perkiraan penting yaitu pendapat seorang

yang pandai tidak akan mempengaruhi nilai-nilai pertanyaan dari pengukuran tersebut.
Pendapat ini dapat dibenarkan bila penilai tidak memiliki pandangan yang sangat
berbeda akan topic yang bersangkutan, namun bagaimanapun juga jika yang terjadi
adalah sebaliknya maka pertanyaan-pertanyaan yang diajukan terpengaruh.
Jadi metode Thurstone ini berorientasi pada respon dari responden yang ditanyakan.
Menurut pandangannya sikap merupakan suatu bentuk atau reaksi perasaan. Maka
konsep Thrustone ini berlandaskan kepada perasaan mendukung atau memihak
(favorable) maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak (unvorable)
terhadap objek Yang diukur.
Dimana Thurstone disini mencoba mengetengahkan skala pengukuran dengan
menyatakan :
1. kategori, peringkat dan jarak yang diukur
2. dinyatakan dengan angka 1 sampai dengan 5, atau 1 sampai dengan 7
3. menggunakan konsep jarak yang sama (equality interval) karena skala ini tidak
menggunakan angka nol sebagai titik awal perhitungan
Contoh :
1
.

Pekerjaan yang saya lakukan mendorong


saya untuk kreatif.

1 = Sangat tidak setuju 2 = Tidak setuju 3 = Netral/Tidak memutuskan


4 = Setuju 5 = Sangat setuju

Metode Likerts Of Summated Rating


Metode likert dapat dikatakan sebagai yang pertama yang melakukan pendekatan
dengan mengukur luas/dalamnya pendapat dari responden bukan hanya dengan
jawaban ya atau tidak. Dalam metode ini sebagian besar pertanyaan dikumpulkan,

namun setiap pertanyaan disusun sedemikian rupa agar bisa dijawab dalam lima
tingkatan jawaban pertanyaan/pertanyaan yang diajukan.
Secara sederhananya konsep skala likerts meliputi :

Skala likert adalah skala yang mengukur sikap dengan menyatakan setuju atau
ketidak setujuan terhadap subyek, obyek atau kejadian tertentu.

Urutan untuk skala ini umumnya menggunakan lima angka penilaian yaitu
(1). Sangat menyetujui
(2) setuju
(3) Netral (tidak pasti)
(4) Tidak setuju
(5) Sangat Tidak Setuju.

Urutan itu bisa dibalik.

Alternatif angka bisa bervariasi dari 3 sampai dengan 9

Contoh skala Likerts :


DITEMPAT SAYA BEKERJA, KEPUTUSAN KEPUTUSAN STRATEGIS SERING
DIBUAT OLEH INDIVIDUAL DARIPADA KELOMPOK.
(1). Sangat Setuju (SS)
(2). Setuju (S)
(3). Tidak pasti
(4). Tidak Setuju (TS)

(5). Sangat Tidak Setuju (STS)


Osgoods Semantic Differential (Skala perbedaan semantic Osgoods)
Dalam penyusunan skala ini, serangkaian kata sifat yang menunjukkan ciri atau
karakteristik stimulus atau objek sikap telah dipilih dan ditentukan, maka objek sikap
disajikan sebagai stimulus tunggal pada setiap rangkaian, dan diikuti oleh kontinumkontinum psikologis yang kedua kutubnya berisi kata sifat yang berlawanan tadi (Azwar
1995). bahwa kontinum psikologis pada teknik beda semantik ini dibagi menjadi tujuh
bagian yang diberi angka 1 sampai 7, mulai dari kutub unfavorable sampai dengan
kutub favorable. Apabila peletakan kutub favorable dan unfavorable itu dibalik, maka
peletakan angka skornya pun disesuaikan sehingga perlu dibalik juga.
Contoh :
1 2 3 4 5 6 7

Cara pemberian angka seperti ini adalah cara yang telah disederhanakan yaitu angka 1
berarti adanya arah sikap yang unfavorable dengan intensitas tinggi, sedangkan angka
7 menunjukkan adanya sikap yang favorable dengan intensitas yang tinggi pula. Makin
mendekati ke tengah kontinum maka arah sikap makin menjadi kurang jelas dan
intensitasnyapun berkurang. Suatu posisi respons yang diletakkan pada angka 4, yang
berada di tengah-tengah berarti adanya sikap netral terhadap objek yang bersangkutan
bila dikaitkan dengan kata sifat yang berada pada kedua kutub kontinum.
Kesimpulan yang di dapat dari skala Osgood ini adalah sebagai berikut :

Merupakan metode pengukuran sikap dengan menggunakan skala penilaian


tujuh butir yang menyatakan secara verbal dua kutub (bipolar) penilaian yang
ekstrim.

Dua kutub ini bisa berupa baik-buruk, kuat lemah, modern-kuno dan sebagainya.

Responden diberi ruang semantis untuk merefleksikan seberapa dekat sikap


responden terhadap subyek, obyek atau kejadian tertentu diantara dua kutub.

Metode ini umumnya digunakan untuk penilaian merek dagang, produk,


pekerjaan, dan lain-lain.

scaling method
Salah satu kelemahan dari methode thurstone dan likert adalah perilaku responden
yang diukur tidak memiliki arti yang khusus. Guttman mengajukan sebuah metode yang
mana setiap nilai jawaban mempunyai arti yang unik. Guttman menggunakan indeks
daftar kata-kata unutuk menentukan kesatuan ukuran, dan sebagai konsekuensinya
pengukuran Guttman mungkin merupakan yang paling pendek (antara 4s/d10 max
points) dan hanya dibatasi topik yang bersangkutan.
Topik yang biasa diangkat untuk dijadikan objek sikap dalam pengukuran guttman ini
adalah mengenai keadaan politik, aspek kepercayaan/keyakinan (religius), tingkat
aktifitas keagamaan, atau derajat etika tingkah laku. Dan didalam prosedur semua item
pertanyaan hanya dijawab dengan ya atau tidak, setuju atau tidak setuju.
Kemudian jawaban yang sudah didapat dikelompokan kedalam sebuah indeks.
Skala pengukuran sederhana
Secara lebih sederhananya skala pengukuran sikap dapat lebih dimengerti lagi
dengan skala-skala pengukuran sikap berikut ini :
a. Skala sederhana

Skala sederhana menggunakan skala nominal misalnya setuju atau tidak setuju,
ya atau tidak.

Skala ini digunakan bila kuesionar penelitian berisi relatif banyak butir
pertanyaan, tingkat pendidikan responden rendah atau alasan lain.

c. Skala Numeris

Skala numeris merupakan metode pengukuran yang teridiri dari 5 atau 7


alternatif nomor untuk mengukur sikap responden.

Skala ini pada prinsipnya sama dengan skala perbedaan semantis, hanya saja
langsung diberikan angka.

Skala Grafis
Metode ini menyatakan penilaian responden terhadap subyek, obyek atau kejadian
tertentu dengan titik atau angka tertentu yang terletak didalam gambar atau grafik
penilaian.