Anda di halaman 1dari 7

Panduan Praktikum Mikoriza

Praktikum 1
Uji Viabilitas Mikoriza
Tujuan : Untuk mengetahui viabilitas dari inokulum mikoriza yang akan digunakan untuk
inokulasi pada tanaman.
Alat :
Polybag (ukuran paling kecil), Cawan petri , Cetok
Bahan
Isolat mikoriza,tanah steril, biji jagung,lactogliserol, Lactophenol Trypan Blue 0,05%, KOH 10%
dan HCl 0,5 N.
Cara Kerja
1. Uji viabilitas inokulum dengan seri pengenceran kelipatan 10. Inokulum mikoriza
diambil sebanyak 100 gr dan diletakkan dalam polibag. Lalu diatasnya ditumbuhkan biji
jagung sebagai inang. Hal ini merupakan inokulum murni (10 0). Seri pengenceran 10-1
diambil 10 gr inokulum dan dicampurkan dengan 90 gr tanah steril, lalu di atasnya
ditumbuhkan tanaman inang jagung. Seri pengenceran10-2 diambil dari inokulum
pengenceran 10-1 dan dicampurkan dengan 90 gr tanah steril, di atasnya ditumbuhkan
tanaman jagung. Seri pengenceran dilakukan hingga 10-10. Setelah 1 bulan, tanaman
diambil dari media tanam dan dibersihkan perakarannya dari tanah. Selanjutnya
dilakukan pengamatan prosentase infeksi akar dengan menggunakan mikroskop pada tiap
pengenceran dan dihitung nilai MPN berdasarkan tabel (Budi, 1999 dalam Fauzi, 2009)
Tabel 3.1 Tabel Viabilitas
Pengenceran

Ulangan

Total

10-0

1
+/-

2
+/-

3
+/-

4
+/-

5
+/-

10-1

+/-

+/-

+/-

+/-

+/-

10-2

+/-

+/-

+/-

+/-

+/-

10-3

+/-

+/-

+/-

+/-

+/-

10-4

+/-

+/-

+/-

+/-

+/-

10-5

+/-

+/-

+/-

+/-

+/-

10-6

+/-

+/-

+/-

+/-

+/-

10-7

+/-

+/-

+/-

+/-

+/-

10-8

+/-

+/-

+/-

+/-

+/-

10-9

+/-

+/-

+/-

+/-

+/-

10-10

+/-

+/-

+/-

+/-

+/-

Keterangan:
+
n

= terinfeksi mikoriza
= tidak terinfeksi mikoriza
= jumlah akar terinfeksi

Tabel Nilai MPN

(Budi, 1999 dalam Fauzi, 2009)

2. Pembuatan Akar Semi Permanen

Untuk menghitung persen infeksi pada akar perlu dilakuakan pembuatan preparat akar
semi permanen. Preparat akar semi permanen dapat dibuat dengan menggunakan metode
Philip dan Haymen 1979
Akar dibersihkan kemudian dipotong potong sepanjang 1,5 cm.kemudian akar
dipanaskandalam KOH 10% pada suhu 900C selama 10 menit. Setelah mendidih akar ditiriskan
dan dicuci dengan aquades. Akar kemudian dimasukkan lagi kedalan HCl 0,1 N kemudian
ditiriskan dan dicuci kembali dengan aquades. Setelah itu akar diwarnai dengan cara
dimasukkan dalam Lactophenol Trypan Blue 0,05% beberapa saat dan dimasukkan dalam
laktogliserol.

Praktikum 2
Eksplorasi dan Identifikasi Mikoriza
Alat
Saringan bertingkat, baskom, gelas beker, cawan petri, rotary shaker, dan mikroskop.
Bahan
Tanah taman, air, sukrosa
Cara kerja
1. Eksplorasi Dan Ekstraksi Mikoriza dari Tanah Sekitar Kawasan ITS
Eksplorasi
Tanah yang sudah diambil dikering anginkan hingga tidak terlalu basah. Setelah itu
sampel tanah dari masing-masing daerah ditimbang per 100 gram. Antara akar tanaman dan
sampel tanah dipisahkan.
Ekstraksi
Sampel tanah yang sudah di eksplorasi dan di timbang per 100 gram di ambil untuk di
ekstraksi. Tiap satu kali ekstraksi menggunakan 100 gram sampel tanah. Sampel tanah yang siap
di ekstraksi dimasukkan ke dalam ember dan dicampur dengan air. Sampel tanah dan air di aduk
secara merata. Atur posisi saringan dengan urutan saringan biasa dibagian paling atas, kemudia
saringan 24 mesh diletakkan di bawahnya dan paling bawah adalah gelas beker untuk

menampung airnya. Kemudian air sampel tanah yang tertampung di dalam gelas beker di campur
dengan gula/sukrosa (densitas = 2,76 gr/ml). setelah itu di diamkan selama 2 menit.
Air bagian atas disaring dengan saringan 325 mesh dengan cara diputar sehingga hanya
air yang berada di bagian atas saja yang tersaring. Setelah itu ukur volume air yang tertampung
di saringan dan letakkan dalam cawan petri. Encerkan hingga volumenya 25 ml. Kemudian
dilakukan pengamatan jumlah spora pada tiap sampel per 25 ml. Simpan supernatant sampel
dalam Erlenmeyer.
3. Identifikasi
Supernatant hasil ekstraksi dituangkan dalam cawan petri kemudian diamati spora
mikoriza dibawah mikroskop stereo dengan perbesaran 100x. kemudian hasil pengamatan di
identifikasi jenis spora dengan menggunakan buku identifikasi spora mikoriza.

Praktikum 3
Interaksi mikoriza dengan jamur pathogen
Tujuan : untuk mengetahui pengaruh mikoriza dalam menghambat jamur pathogen pada
tanaman.
Bahan
Isolat Mikoriza, Isolat Jamur pathogen (Fusarium oxysporum dan Rhizoctonia solani), tanah,
pupuk, pasir, bibit tomat

Alat
Polybag, timbangan, oven

Cara kerja
1. Persiapan Media Tanam
Media tanam yang digunakan adalah campuran tanah, pasir dan pupuk kandang masingmasing 1:1:1. Media tanam kemudian di autoclave dengan suhu 121 0C dan 1 atm dua kali
dengan masing-masing waktu sterilisasi 1 jam.

2. Penyemaian Tomat
Peralatan yang digunakan dalam penyemaian tanaman tomat adalah bak tanam, sekrup
kecil. Media tanam yang sudah disterilkan di masukkan ke dalam 2 bak tanam. Masing masing
bak di isi dengan 5 kg tanah. Untuk tiap bak tanam di taburkan bibit tanaman tomat varietas
fortuna sebanyak 15 biji. Tanaman tomat disemai hingga umur 3 minggu. Bibit siap dipindah jika
sudah mempunyai helai daun 4-6 helai.
3.Persiapan Tanam dan Inokulasi Mikoriza
Tanaman tomat yang sudah memiliki daun 4-6 helai dipindahkan ke dalam polybag yang
sudah berisi media tanam sebanyak 3 kg. Masing-masing polybag berisi 1 tanaman tomat.
Mikoriza di inokulasikan pada tanaman tomat dengan cara memberi mikoriza dalam lubang di
bawah tanaman tomat dengan kedalaman 2-5 cm.
Perlakuan yang diberikan adalah control, 20 gram mikoriza dan 40 gram mikoriza dengan
pengulangan 3 kali.
4.Inokulasi Patogen
Inokulasi jamur pathogen dilakukan dalam dua masa perlakuan, yaitu bersamaan dengan
inokulasi mikoriza dan tiga minggu setelah inokulasi mikoriza.
Suspensi jamur patogen dengan kerapatan 105/ml diambil 16 ml dan di inokulasikan
bersamaan dengan mikoriza dengan cara menuangkan suspensi pada lubang yang sama dengan
mikoriza kemudian diaduk agar bercampur dengan tanah. Untuk inokulsai jamur patogen 3
minggu setelah inokulasi mikoriza dilakukan dengan cara melubangi area sekitar tanaman
kemudian dituangkan suspensi ke dalam lubang tersebut. Tanah yang sudah diberi suspensi
jamur patogen diaduk dan ditutup kembali.
5. Parameter Pengamatan
a. Tinggi Tanaman
Pengamatan tinggi tanaman dilakukan tiap minggu selama enam minggu. Tinggi tanaman
diukur dengan menggunakan benang dan penggaris dari batas terbawah pertumbuhan sampai
batas teratas pertumbuhan yaitu daun terakhir yang tumbuh (Sitompul, 1995)

b. Jumlah Helai Daun


Perhitungan jumlah daun dilakukan pada daun yang sehat dan yang terkena penyakit
(Hidayati, 2007). Perhitungan jumlah daun ini dilakukan seminggu sekali selama enam minggu.
c. Berat Basah
Untuk menentukan berat basah dari akar dan batang, tanaman akan dipanen setelah enam
minggu. Akar dipisahkan dari batang. Akar kemudian di cuci dengan air keran dan di cuci
kembali menggunakan aquades. Akar yang sudah di cuci kemudian diletakkan di antara kertas
saring untuk menyerap sisa air cucian. Perlakuan yang sama juga dilakukan pada batang. Setelah
itu akar dan batang ditimbang berat basah secara terpisah (Ozgonen and Erkilic, 2007).
d. Berat Kering
Untuk menentukan berat kering dari akar dan batang, tanaman akan dipanen setelah 6
minggu. Akar dipisahkan dari batang. Akar kemudian di cuci dengan air keran dan di cuci
kembali menggunakan aquades. Akar yang sudah di cuci kemudian diletakkan di antara kertas
saring untuk menyerap sisa air cucian. Perlakuan yang sama juga dilakukan pada batang. Setelah
itu akar dan batang ditimbang berat kering setelah dikeringkan pada suhu 70o C selama dua hari
(Ozgonen and Erkilic, 2007).
e. Persen Infeksi Mikoriza
Untuk menghitung persen infeksi akar perlu dibuat terlebih dahulu preparat akar semi
permanen. Persen infeksi mikoriza di hitung dari jumlah akar yang terinfeksi dari 10 potongan
akar yang diamati. Akar yang terinfeksi ditandai dengan adanya vesikel atau arbuskula dalam
korteks akarnya. Persen infeksi mikoriza dihitung berdasarkan rumus Philip & Haymen (1978)
(Hidayati, 2007).

Keterangan,
JAT

: jumlah akar yang terinfeksi mikoriza

JSP

: jumlah total potongan akar

f. Persen Infeksi Fusarium oxysporum


Untuk mengetahui infeksi jamur patogen perlu dilakukan perhitungan persen infeksi dari
jamur patogen perhitungan infeksi menggunakan rumus Philip& Hayment (1997) (Hidayati,
2007).

Keterangan,
JAT

: jumlah akar yang terinfeksi jamur patogen

JSP

: jumlah total potongan akar

g. Persen Tingkat Kejadian Penyakit (Deasaeas Incidence)


Metode penentuan kejadian penyakit (DI) didasarkan pada perbandingan antara jumlah
tanaman yang sakit atau jumlah bagian tanaman yang sakit dengan jumlah tanaman seluruhnya
atau jumlah bagian tanaman seluruhnya, misalnya : daun, batang, cabang, atau buah yang
memperlihatkan gejala (Purnomo, 2006).
Pengukuran kejadian penyakit pada penelitian ini di lakukan berdasarkan tingkat
serangan pada daun, dengan menggunakan rumus

Keterangan :
P

: tingkat serangan pada daun

: jumlah daun tanaman yang mengalami kelayuan

: jumlah daun per tanaman

(Hidayati, 2007)