Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang.
Pendidikan memegang peranan penting yang menyangkut kemajuan
dan masa depan bangsa, tanpa pendidikan yang baik mustahil suatu bangsa
akan maju.
Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional BAB II Pasal 3
menyebutkan bahwa: Pendidikan Nasional berfungsi untuk mengembangkan
kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusi
Indonesia dalam rangka upaya mewujudkan tujuan Nasional.
Berhasil atau tidak suatu pendidikan dalam suatu negara salah satunya
adalah karena guru. Guru mempunyai peranan yang sangat penting dalam
perkembangan dan kemajuan anak didiknya. Dari sinilah guru dituntut untuk
dapat menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya. Untuk dapat mencapai tujuan
pengajaran yang diharapkan guru harus pandai memilih metode yang tepat dan
sesuai dengan kebutuhan anak didik. Supaya anak didik merasa senang dalam
proses belajar mengajar berlangsung.
Salah satu tujuan pendidikan adalah upaya untuk mengembangkan
bakat dan kemampuan individual, sehingga potensi kejiwaan anak dapat
diaktualisasikan secara sempurna.
Proses pendidikan mencakup berbagai dimensi, diantaranya badan,
perasaan, kehendak dan seluruh unsur kejiwaan manusia serta bakat dan
kemampuannya.Berkaitan dengan cakupan pendidikan yang begitu luas maka
diperlukan beberapa metode yang diharapka dapat menjadi indikator
tercapainya sebuah kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang
diinginkan. Selain itu metode merupakan unsur yang sangat penting dan tidak
dapat dihilangkan dalam pendidikan untuk mencapai suatu tujuan yang
diinginkan.

Dalam proses belajar mengajar keberadaan guru atau pendidik menjadi


hal yang sangat penting. Keberadaan guru disini mempunyai fungsi utama
dalam tercapainya sebuah proses belajar mengajar, sebagaimana tertera dalam
tujuan pendidikan yaitu membentuk anak yang sedang tumbuh untuk belajar
berfikir secara logis dan membimbing proses pemikiran secara bijak. Allyn
dan Bacon, 1996, mengatakan ada 3 tujuan pengajaran aktif, yaitu:
1.

membangun team, yang artinya semangat kerja sama

2.

penguasaan,

yang

artinya

mempelajari

sikap,

pengalaman,

pengetahuan peserta didik.


3.

ketertiban belajar secara seketika dan menciptakan perhatian minat


awal siswa dalam mata pelajaran.
Dari pendapat diatas dapat diambil kesimpulan bahwa untuk menerima

dan menguasai pelajaran dengan baik dan terlibat dalam proses belajar
mengajar atau katif maka siswa harus dalam kondisi siap baik jasmani atau
rohani, dan siap pada setiap materi yang akan disampaikan. Dan disini peran
seorang guru untuk membantu proses berfikir anak didik, sehingga anak didik
dapat menerima dan memahami tentang apa yang sedang dipelajari, agar
proses belajar mengajar sesuai dengan apa yang diharapkan. Maka dari itu
diperlukan suatu metode yang efektif dan efesien.
Disaat sekarang ini sering kita jumpai para siswa yang tidak punya
kesiapan dalam menghadapi kegiatan belajar mengajar, terutama dalam hal
materi pelajaran yang akan disampaikan, bahkan kadang lupa sama sekali,
sehingga ketika di dalam kelas siswa tidak tahu materi apa yang dibahas,
apalagi mengenai isinya dan sering dari mereka itu melupakannya. Selain itu
dalam proses belajar mengajar sering kita jumpai bebagai permasalahan yang
salah satunya adalah masalah alokasi waktu yang tidak mencukupi, sehingga
menyebabkan interaksi belajar mengajar menjadi tidak efektif dan efesien
serta tidak sesuai dengan tuntutan yang diharapkan oleh kurikulum.
Maka untuk mengatasi hal tersebut diperlukan suatu cara agar
pelaksanaan belajar mengajar dapat terlakasana secara efektif, yang mana
salah satunya yaitu dengan menerapkan atau menggunakan metode resitasi

atau tugas, sebagai selingan dan variasai tekhnik penyajian pembelajaran mata
pelajaran Sosiologi, baik itu tugas individual atau kelompok, rumah / sekolah,
merupakan salah satu metode dari sekian banyak metode yang ada, sebagai
langkah alternatif dalam rangka mengefesiensikan proses pembelajaran.
Sebuah tujuan pendidikan tidak akan tercapai tanpa adanya sikap
partisipasi dari siswa, diantaranya dapat berupa mendengarkan, memahami,
dan menjelaskan, serta menulis. Akan tetapi lebih jauh dari sikap partisipasi
tersebut adalah bagaimana siswa dapat giat menerima pelajaran dan ikut
berpartisipasi baik pemahaman atau perbuatan.
Seorang guru tidak hanya menjadi penyaji akan tetapi bagaimana
mampu mengajak siswa sehingga siswa larut dan membaur menjadi satu
dalam permainan yang disajikan, serta mampu memberikan

sumbangsih

dalam permainan tersebut, baik secara kejiwaan, perasaan atau tanggapan.


Ahmad Rohani dan Abu Ahmad (1991) mengatakan bahwa untuk memperoleh
hasil yang optimal dalam proses belajar mengajar secara aktif siswa
hendaknya

mendengarkan, mengamati, menyelidiki

dan menguraikan

ketentuan satu dengan yang lainnya. Dan semua itu membutuhkan kesiapan
(agar dapat menggunakan materi dengan baik).
Resitasi atau penugasan diharapkan daapt mengatasi persoalan yang
timbul dan proses belajar mengajar sehingga dapat mencapai tujuan yang
diinginkan.
I.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka ada dua permasalahan yang
akan diajukan dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut:
1.

Bagaiamana penerapan metode resitasi atau tugas di kelas II.4 SMA


Negeri 1 Batu?

2.

Apakah metode resitasi (tugas) dapat efektif dalam meningkatkan


kesiapan siswa dalam menerima pelajaran mata pelajaran Sosiologi
sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa?

I.3 Tujuan Penelitian


Berdasarkan pada rumusan masalah di atas, maka penulis akan
merumuskan penelitian ini dengan tujuan sebagai berikut :
1.

Untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan metode resitasi atau tugas


di kelas II.4 SMA Negeri 1 Batu

2.

untuk mengetahui apakah metode resitasi dapat efektif dalam


meningkatkan prestasi belajar siswa kelas II.4 SMA Negeri 1 Batu.

1.4 Manfaat Penelitian


Hasil dari penelitian ini diharapkan bisa memberikan kontribusi dalam
upaya meningkatkan pembelajaran di SMA Negeri 1 Batu, khususnya pada
kegiatan pembelajaran Sosiologi, diantaranya adalah untuk:
1. Bagi lembaga
Penerapan metode resitasi dapat dijadikan bahan pertimbangan atau pijakan
bagi lembaga sekaligus sebagai kerangka acuan dalam mengembangkan halhal yang berkaitan dengan pengajaran dalam pembelajran mata pelajaran
Sosiologi yang lebih baik.
2. Bagi Guru
Penerapan metode rsesitasi diharapkan akan lebih mempermudah para guru
dalam mengajarkan atau menyampaikan mata pelajaran dan mengarahkan
siswa khususnya terhadap siswa yang sering tidak serius dalam kegiatan
belajar mengajar.
3. Bagi Siswa
Dengan metode resitasi (tugas) yang diterapkan oleh guru diharapkan siswa
lebih siap dalam menerima pelajaran dan mengikuti proses belajar mengajar
dengan baik, khususnya mata pelajaran Sosiologi sehingga siswa daapt
mengembangkan berfikirnya dan menerima materi dengan baik.
4. Bagi peneliti
Penggunaan metode resitasi (tugas) akan mempermudah meneliti dalam
mengetahui sejauh mana kemampuan siswa terhadap materi mata pelajaran
Sosiologi yang telah diberikan serta tanggung jawab siswa terhadap tugas
mata pelajaran Sosiologi dan menambah wawasan bagi calon guru.

BAB II
KAJIAN TEORI
II.1 Pengertian Metode
Mengajar adalah salah satu tugas utama guru, yang disebut dengan
fungsi

instruksional.

Dalam

menggunakan

fungsi

instruksional

itu,

penggunaan dan penerapan metode pengajaran merupakan salah satu faktor


yang penting yang ikut andil dalam kegiatan belajar mengajar .
Metode (method), secara harfiah berarti cara. Selain itu metode atau
metodik berasal dari bahasa Greeka, metha, (melalui atau melewati), dan
hodos (jalan atau cara), jadi metode bisa berarti jalan atau cara yang harus di
lalui untuk mencapai tujuan tertentu.
Secara umum atau luas metode atau metodik berarti ilmu tentang
jalan yang dilalui untuk mengajar kepada anak didik supaya dapat tercapai
tujuan belajar dan mengajar. Prof. Dr.Winarno Surachmad (1961),
mengatakan bahwa metode mengajar adalah cara-cara pelaksanaan dari pada
murid-murid di sekolah.
Pasaribu dan simanjutak (1982), mengatakan bahwa metode adalah
cara sistematik yang digunakan untuk mencapai tujuan. Jadi metode pelajaran
adalah suatu cara yang dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai
tujuan.
Dalam kegiatan belajar mengajar seorang guru tidak harus terpaku
dalam menggunakan berbagai metode (variasi metode) agar proses belajar
mengajar atau pengajaran berjalan tidak membosankan, tetapi bagaimana
memikat perhatian anak didik. Namun di sisi lain

penggunaan berbagai

metode akan sulit membawa keberuntungan atau manfaat dalam kegiatan


belajar mengajar, bila penggunaannya tidak sesuai dengan situasi dan kondisi
yang mendukungnya, serta kondisi psikologi anak didik. Maka dari itu disini
guru di tuntut untuk pandai-pandai dalam memilih metode yang tepat,
(Syaiful Bahri, D. 2002).

Berkaitan dengan metode yang tepat, dalam hal ini pasiburi dan
simanjutak, mengatakan bahwa dalam nenentukan metode mana yang akan di
ikuti oleh guru dalam penggunaan metode guru harus memperhatikan
berbagai macam faktor, diantaranya yaitu:
1. Metode dan tujuan sekolah
2. Metode dan bahan pengajaran
3. Metode dan tangga-tangga belajar
4. Metode dan tingkat perkembangan
5. Metode dan keadaan perseorangan
6. Dasar tertinggi dari metode
Selain itu Prof Dr. Winarno S, mengatakan ada 5 macam yang
mempengaruhi penggunaan metode mengajar antara lain: tujuan berbagai
jenis dan fungsinya, anak didik yang berbagai tingkat kematangannya, situasi
yang berbagai macam keadaan, fasilitas yang berbagai kualitasnya, pribadi
guru seta kemampuan profesionalnya yang berbeda-beda
II.2 Metode Resitasi
a. Pengertian
Yang dimaksud dengan metode resitasi atau penugasan adalah metode
penyajian bahan dimana guru memberikan tugas tertentu agar siswa
melakukan kegiatan belajar, yang mana kegiatan itu dapat dilakukan di
dalam kelas, di halamn sekolah, di laboratorium, di perpustakaan, dirumah
ataupun dimana saj asal tugas itu dapat di selasaikan.
Menurut Roestiyah dikatakan bahwa resitasi adalah suatu metode
dengan cara menyusun laporan sebagai hasil dari apa yang di pelajari.
Resitasi (penugasan) dapat berupa perintah kemudian siswa mempelajari
bersama teman atau sendiri dan menyusun laporan atau resume kemudian
diesok harinya hasil laporan didiskusikan dengan seluruh siswa di kelas.
Metode resitasi biasanya diberikan atau digunakan oleh guru dengan
tujuan agar siswa itu memiliki hasil belajar yang lebih mantab, dan untuk
menumbuhkan motivasi belajar siswa. Resitasi di berikan untuk
memperoleh pengetahuan dengan cara melaksanakan tugas dan juga dapat

memperluas dan meperkaya pengetahuan serta ketrampilan siswa


disekolah melalui kegiatan luar sekolah.
Dalam percakapan sehari-hari metode ini dikenal dengan sebutan
pekerjaan rumah, tetapi sebenarnya metode ini terdiri dari tiga fase, antara
lain (1) pendidik memberi tugas. (2) anak didik melaksanakan tugas
(belajar). (3) Siswa mempertanggung jawabkan apa yang telah dipelajari
(resitasi).
Panerapan metode resitasi (tugas), diberikan dengan harapan agar
siswa memiliki hasil belajar yang lebih mantap, karena siswa melaksakan
latihan-latihan selama melaksanakan tugas, sehingga pengalaman siswa
dalam mempelajari sesuatu dapat lebih terintegrasi. Dan dengan metode
ini diharapkan siswa dapat belajar bebas tapi bertanggung jawab, dan
murid-murid akan berpengalaman, dan bisa mengetahui berbagai
kesulitan. Dengan metode ini siswa mendapatkan kesempatan untuk saling
membandingkan dengan hasil sisa yang lain, menarik anak didik agar
belajar lebih baik, punya tanggung jawab dan berdiri sendiri. (Roesriyah
N. K, 1989).
Metode resitasi ini digunakan atau di berikan untuk merangsang anak
agar tekun, rajin, dan giat belajar, sehingga pada pada saat kegiatan belajar
mengajar mereka sudah siap. Selain itu metode ini diberikan karena dirasa
bahan pelajaran terlalu banyak sementara waktu sedikit, dalam artian
bahan banyak tapi waktu kurang seimbang. Agar bahan yang diberikan
dapat sesui dengan waktu yang ada maka metode ini bisa diberikan.
Metode resitasi (tugas) dapat berupa antara lain:
1.

Menyusun karya tulis

2.

Menyusun laporan mengenai bahan bacaan atau menyusun berita.

3.

Menjawab pertanyaan yang ada dalam buku

4.

tugas lain yang dapat menujang keberhasilan siswa, dll


Pemberian tugas atau resitasi dapat diberikan diawal pelajaran ataupun

diakhir pelajaran, baik itu secara individu atau secara kelompok, didalam
kelas atau di lar kelas. Dalam pemberian tugas atau resitasi ini agar dapat

berhasil dalam pelaksanaannya, maka seoang guru harus memperhatikan


syarat-syarat sebagai berikut:
1. Tugas itu harus jelas dan tegas
2. Suatu tugas harus disertai dengan penjelasan tentang yang akan
dihadapi.
3. Tugas harus berhubungan dengan yang anak pelajari
4. Tugas harus berhubungan atau di sesuaikan dengan minat siswa
5. Tugas harus disesuaikan dengan waktu yang dimiliki siswa
6. Dan sebagainya
Selain beberapa poin diatas yang harus diperhatikan oleh guru yaitu
etiap pemberian tugas diharapkan agar mengecek tugas yang diberikan,
sudah dikerjakan atau belum, kemudian dievaluasikan untuk memotivasi
siswa dan untuk mengetahui hasil kerja siswa. Dengan demikian dapat
bertanggung jawab terhadap tugasnya, selai itu siswa dapat lebih
termotivasi untuk mempelajari materi yang akan disampaikan, khususnya
pada materi Sosiologi, sehingga ketika menerima pelajaran sudah siap, dan
kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dan sesuai dengan apa yang
diinginkan.
b. Kelebihan dan Kekurangan Metode Resitasi
Dalam penggunaan suatu metode itu pasti akan luput dari suatu
kelebihan dan kekurangan, begitu pula dengan metode ini.
a. Kelebihan Metode Resitasi
1. Pengetahuan siswa akan lebih luas dan sifat verbalismenya akan
semakin berkurang.
2. Siswa lebih mendalami dan menglami sediri pengetahuan yang di
carinya, sehingga pengetahuan itu akan tinggal lama dalam ingatan
jiwanya.
3. Lebih merangsang siswa dalam melakukan aktifitas belajar individu
atau kelompok.
4. Dapat mengembangkan kemandirian siswa diluar pengawasan guru.

5. Dapat menumbuhkan kreatifitas, usaha, tanggung jawab, dan sikap


mandiri siswa, serta memperkaya pengetahuan dan pengalaman
siswa.
b. Kelemahan Metode Resitasi (tugas), antara lain:
1. Siswa sulit dikontrol, apakah benar ia mengerjakan tugas atau orang
lain yang mengerjakan.
2. Sulit memerikan tugas yang sesuai dengan masing-masing individu.
3. Khusus untuk tugas kelompok tidak jarang yang aktif mengerjkan
dan menjelasakan hanyalah anggota tertentu saja, sedangkan anggota
yang lain tidak ikut berpartisipasi dengan baik.
4. Sering memberikan tugas yang monoton, dan menimbulkan
kebosanan.
5. Penggunaan metode resitasi (tugas) dalam meningkatkan kesiapan
dan hasil mata pelajaran Sosiologi.
c. Penggunaan Metode Resitasi Dalam Menigkatkan Kesiapan Belajar
dan prestasi Belajar Siswa.
Dalam penggunaan metode resitasi di kelas II.4 SMA Negeri 1 Batu,
ada beberapa langkah yang telah dilakukan oleh pengajar, antara lain:
a. Fase Memberikan Tugas.
Yaitu guru memberikan tugas pada siswa baik itu secara
petseorangan atau kelompok. Dan hasil yang diperoleh dapat sesuai
dengan yang diinginkan, hendaknya tugas yang diberikan pada siswa
memperhatikan:
1. Tujuan yang akan dicapai.
2. Jenis tugas yang jelas dan tepat sehingga anak mengerti apa yang
ditugaskan tersebut
3. Sesuai dengan kemampuan siswa.
4. Ada petunjuk atau sumber yang dapat membantu pekerjaan siswa.
5. Sediakan waktu yang cukup untuk mengerjakan tugas tersebut.
b.

Langkah pelaksanaan.
1. Diberikan bimbingan atau pengawasan.

2. Diberikan dorongan sehingga anak mau bekerja.


3. Diusahakan dikerjakan oleh siswa sendiri, tidak menyuruh orang
lain.
4. Diajurkan agar siswa mencatat hasil-hasil yang ia peroleh dan
sistematis.
c.

Fase mempertanggung jawabkan Tugas


Hal yang harus dikerjkan siswa pada fase ini, antara lain:
1. Laporan siswa baik lisan atau tertulis dari apa yang telah
dikerjaknnya.
2. Ada tanya jawab atau diskusi kelompok.
3. Penelitian hasil pekerjaan siswa baik dengan tes maupun non tes
atau cara lainnya.
Dengan fase mempertanggunag jawabkan inilah yang disebut
dengan resitasi. (Drs. Syaiful Bahri D: 2002).
Sedangkan menurut Zakiah Darajat: 2001, pemberian tugas
dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:
1. Siswa diberi tugas mempelajari bagian dari suatu buku atau teks,
baik secara kelompok atau individu, diberi waktu tertentu untuk
mengerjakanya,

kemudian

murid

yang

bersangkutan

mempertanggung jawabkanya.
2. Siswa diberi tugas untuk melaksanakan sesuatu yang tujunnya
melatih mereka dalam hal yang bersifat kecakapan mental dan
motorik.
3. Siswa diberi tugas untuk mengatasi masalah tertentu denan cara
mencobah untuk memecahkannya, dengan tujuan agar siswa biasa
berfikir ilmiah dalam memecahkan suatu masalah.
4. Siswa diberi tugas untuk mengerejakan suatu proyek, dengan tujuan
agar siswa terbiasa untuk bertanggung jawab terhadap penyalesaian
suatu masalah yang telah disediakan dan bagaimana mengelola
selanjutnya.

10

Dalam pemberian metode tugas atau resitasi ini supaya bisa


sesuai dengan yang diinginkan maka ada beberapa syarat yang harus
diketahui oleh pendidik dan siswa yang diberi tugas, yaitu:
1. Tugas yang diberikan harus berkaitan dengan pelajaran yang telah
mereka pelajari, sehingga murid disamping sanggup mengerjakan
juga sanggup menghubungkan dengan pelajaran-pelajaran tertentu.
2. Guru harus dapat mengukur dan memperkirakan bahwa tugas yang
diberikan kepada siswa akan dapat dilaksanakannya karena sesuai
dengan kesanggupan dan kecerdasan yang dimilikinya.
3. Guru harus mananamkan keadaan murid bahwa tugas yang diberikan
pada siswa akan dikerjakan atas kesadaran sendiri yang timbul dari
hati sanubarinya.
4. Jenis tugas yang diberikan harus dimengerti benar-benar sehingga
murid tidak ada keraguan dalam melaksanakanya.

11

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Rancangan Penelitian
Penelitian ini dilakukan selama 3 minggu. Minggu pertama, dilakukan
menjelaskan materi pengertian dan bentuk-bentuk pelapisan social dalam mata
pelajaran Sosiologi, yang pada akhirnya dipakai tolak ukur perbandingan
sebelum ada tindakan kelas dengan sesudah ada tindakan kelas.
Minggu kedua, dilakukan siklus I dengan metode resitasi yaitu
memberikan

tugas

kepada

siswa

untuk

mengkliping

gambar

yang

berhubungan dengan pelapisan sosial, sedangkan dalam Minggu ketiga yang


juga dilakukan siklus II dengan memberikan tugas kepada siswa untuk
membuat skema bahan ajar pelapisan social dan diferensiasi sosial.
Dalam penelitian ini menurut Kurt Lewin dalam Hardjodipuro (1997:25)
diperkirakan siklus yang akan terjadi adalah sebagai berikut:
a. Siklus I
1. Menjelaskan materi pengertian pelapisan sosial dan bentuk-bentuk
pelapisan sosial.
2. Mengadakan Tanya jawab dengan siswa mengenai materi yang telah
diajarakan, agar siswa dapat memahami materi tersebut.
3. Memberikan tugas secara kelompok untuk mengkliping gambar-gambar
yang menunjukkan terjadinya pelapisan sosial.
Apabila hasil analisis pada siklus I ini belum menunjukkan hasil yang
diharapkan yaitu meningkatnya minat belajar siswa terhadap mata pelajaran
Sosiologi, perlu dikaji ulang serta ditemukan permasalahan yang ada
kemudian ditentukan elternatif pemecahannya yang dituangkan pada
perencanaan ulang tindakan pada siklus II dengan harapan meningkatnya
kualitas belajar siswa
b. Siklus II
1. Melengkapi rencana penhajaran dengan pengembangan dan penerapan.

12

2. Memberi tugas kepada siswa agar materi pelajaran yang kurang


dipahami untuk ditanyakan secara tertulis pada sehelai kertas.
3. Mengadakan pendekatan secara individual terhadap siswa yang
diperkirakan belum memahami materi pelajaran namun masih tidak mau
bertanya.
Diharapkan pada siklus ini minat dan belajar siswa meningkat atau
tercapai dengan digunakannya metode pengajaran tertentu oleh guru.
Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode induktif yaitu
berangkat dari fakta-fakta khusus atau peristiwa-peristiwa kongkrit kemudian
ditarik generalisasinya yang bersifat umum. Penggunaan metode ini di
maksudkan untuk mengemukakan data yang ada kaitannya dengan yang
penulis bahas yaitu yang bertitik tolak pada pengetahuan yang khusus
kemudian ditarik kesimpulan yang umum.
Penelitian ini menganalisis tentang penggunaan metode resitasi sebagai
upaya untuk meningkatkan kesiapan belajar dan prestasi siswa. Teknik yang
digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif. Dengan
menggunakan teknik ini maka dengan mudah penulis dapat mengetahui
apakah metode resitasi dapat meningkatkan kesiapan belajar dan prestasi
siswa kelas II 4 SMA Negeri 1 Batu .
3.2 Obyek dan Subyek Penelitian
Pada penelian ini yang dijadikan obyek penelitian adalah metode
resitasi sebagai upaya untuk meningkatkan belajar dan prestasi siswa,
sedangkan subyek penelitian ini adalah siswa kelas II.4 semester genap di
SMA Negeri I Batu.
3.3 Prosedur Penelitian
1. Skenario Tindakan Pembelajaran
Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui efektifitas resitasi dalam
upaya meningkatkan belajar dan prestasi siswa kelas II 4 SMA Negeri 1
Batu. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal maka perlu dirumuskan
skenario tindakan pembelajaran mulai dari persiapan sampai evaluasi.

13

Penelitian ini dimulai dari persiapan sebagi berikut:


a. Menguasai meteri yang akan diajarkan
b. Menyediakan alat yang diperlukan
c. Membuat rencana pengajaran dan satuan pelajaran
d. Menulis garis besar pertanyaan dan satuan pelajaran materi yang sudah
diajarkan agar siswa lebih mudah mengikuti tanya jawab.
e. Mencatat dan memberi nilai terhadap anak yang menjawab pertanyaan.
f. Memberikan tugas kepada siswa.
2. Alat dan personalia.
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua alat atau fasilitas
yang ada di II 4 SMA Negeri 1 Batu. Sedangkan personalia di sini terkait
dengan jumlah populasi dan sampel dalam penelitian tindakan kelas yaitu
populasinya adalah keseluruhan siswa-siswi yang dikhususkan sampelnya
pada siswa-siswi kelas II 4 SMA Negeri 1 Batu dengan jumlah siswa 44
orang.
3. Lokasi penelitian dan pelaksanaan tindakan.
Penelitian ini dilaksanakan 3 kali pertemuan yang di mulai hari senin 8
Februari 2005 dan berakhir selasa 15 Maret 2005 di II 4 SMA Negeri 1
Batu. Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut:
Pertemuan I ( tanggal 8 Februari 2005 jam ke 7 - 8)
A. Tahap awal
1. Salam pembuka
2. Perkenalan antara peneliti dan siswa

Memperkenalkan satu persatu dimulai dari peneliti dan di


lanjutkan siswa dengan cara mengabsen satu persatu.

Memberikan penjelasan mengenai maksud dan tujuan


peneliti di II 4 SMA Negeri 1 Batu.

B. Tahap inti
1. Guru / peneliti memberikan pertanyaan sesuai dengan materi
yang akan diajarkan (pretest)

14

2. Memotivasi siswa
3. Menjelaskan materi tentang pengertian pelapisan sosial.
4. Mengadakan tanya jawab
C. Tahap Akhir
1. Menyimpulkan materi
2. Memberikan Memberi tugas kepada siswa untuk mengkliping
gambar yang menunjukkan terjadinya pelapisan sosial dalam
masyarakat.
3. Menutup dan salam
Pertemuan II ( tanggal 15 Februari 2005 jam ke 7 8)
A. Tahap Awal
1. Salam pembuka
2. Presensi siswa
3. Tanya jawab tentang materi yang telah diajarkan (Pengertian
pelapisan sosial dan dasar-dasar pelapisan sosial)
B. Tahap inti
1. Mengulangi kembali sedikit dan penjelasan materi sebelumnya
2. Menjelaskan materi tentang sistem pelapisan sosial dan
berbagai bentuk pelapisan sosial dalam masyarakat.
3. Mengukur pemahaman siswa dengan beberapa pertanyaan
C. Tahap Akhir
1. Menyampaikan kesimpulan
2. Memberikan motivasi kepada siswa.
3. Salam penutup
Pertemuan III (tanggal 15 Maret 2005 jam ke 7 8)
A. Tahap awal
1. Salam pembuka
2. Presensi siswa
3. Tanya jawab tentang materi yang telah di ajarkan pada minggu
yang telah lalu.
B. Tahap inti

15

1. Mengulangi kembali materi sebelumnya


2. Menjelaskan materi tentang Konsekuensi atau akibat perbedaan
kedudukan dan peran sosial dalam tindakan dan interaksi
sosial.
3. Mengukur pemahaman siswa dengan di memberi beberapa
pertanyaan
C. Tahap Akhir
1. Menyampaikan kesimpulan
2. Memberikan tugas II kepada siswa yaitu membuat skema
tentang bahan ajar pada meteri pelapisan sosial dan diferensiasi
sosial.
3.

Menginformasikan ulangan

4.

Salam penutup

3.4 Pengumpulan Data


Untuk memperoleh data yang lebih akurat, maka peneliti melakukan
perekaman data adapun teknik yang dilakukan adalah dengan membuat
catatan berdasakan perkembangan siswa setelah memberikan tugas.
Sedangkan untuk mengetahui perkembangan siswa dan untuk mengetahui
efektivitas penerapan metode resitasi, terhadap kesiapan belajar siswa. maka,
sebelum melanjutkan materi, peneliti memberikan waktu 10 15 menit untuk
tanya jawab tentang materi yang telah diajarkan sehinga hal ini memudahkan
peneliti memahami efektivitas penggunaan metode resitasi terhadap
pengajaran mata pelajaran sosiologi.
Dalam penelitian ini akan digunakan beberapa cara / teknik pengumpulan data
selama proses penelitian yaitu:
1. Obeservasi
Observasi / pengamatan ini dilaksanakan oleh peneliti ketika peneliti
mengajar di kelas, dengan menggunakan metode resitasi. Sehingga peneliti
memperoleh gambaran suasana kelas dan peniliti dapat mengetahui
kemampuan belajar siswa kelas II.4 SMA Negeri 1 Batu.

16

2. Interview / wawancara
Menurut Suharsimi Arikunto Metode interview sering disebut juga
dengan wawancara/kuesioner lesan, adalah sebuah dialog yang dilakukan
oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara
(Suharsimi Arikunto, 1991:126)
3. Pengamatan partisipatif
Cara ini digunakan peneliti agar data yang diinginkan dapat diperoleh
sesuai dengan yang dimaksud peneliti. Partisipatif maksudnya adalah
peneliti terlibat langsung dan aktif dalam mengumpulkan data yang
diinginkan. Kadang-kadang peneliti juga menguraikan obyek yang diteliti
untuk melaksanakan tindakan yang mengarah pada data yang ingin
diperoleh peneliti.
3.5 Indikator Kinerja
Penelitian yang dilaksanakan 3 kali pertemuan sudah cukup digunakan untuk
penelitian tindakan kelas. Penelitian ini mengambil topik tentang Penerapan
Metode Resitasi Sebagai Upaya Meningkatkan Kesiapan Belajar dan Prestasi
Belajar Siswa Sebagai Upaya Untuk Meningkatkan kesiapan belajar dan
prestasi belajar siswa kelas II.4 SMA Negeri 1 Batu maksudnya adalah
dengan menggunakan metode resitasi dalam proses belajar mengajar siswa
akan lebih giat dalam menyiapkan belajarnya baik belajar di sekolah ataupun
belajar di rumah. Serta bersemangat dalam mengerjakan tugas-tugas yang
diberikan oleh guru atau sebaliknya, siswa akan malas dan tidak bersemangat.
Di sini indikator yang ditentukan selama penelitian menerapkan metode
ceramah dan tanya jawab ini adalah bahwa sebagian besar siswa
memperhatikan dengan sungguh-sungguh karena mereka ingin menjawab
pertanyaan yang akan peneliti ajukan. Setelah penjelasan materi selesai dan
mereka juga belajar di rumah itu terlihat ketika peneliti memberikan
pertanyaan tentang materi yang telah disampaikan pada pertemuan
sebelumnya.

17

BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1 Gambaran Umum Subyek Penelitian
Tahun 1976 di kota Batu belum memiliki Sekolah Menengah Umum
Tingkat Atas (SMU). Sedangkan jumlah tamatan SMP cukup besar dan pada
umumnya untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi harus ke kota
Malang.
Pada bulan Februari 1977 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Dr.
Syarif Tayib berkunjung ke Batu untuk meresmikan program kelompok
belajar di desa Junrejo Kabupaten Malang Jawa Timur.
Pada kunjungan menteri Pendidikan dan kebudayaan tersebut
dimanfaatkan oleh pejabat setempat yang dipimpin Bapak Singgih selaku
pembantu bupati Malang di Batu, menyampaikan keinginan masyarakat Batu
mengenai perlunya didirikan sekolah Menengah Umum Tingkat Atas (SMA
Negeri Batu, yang bertujuan untuk menampung tamatan SMP yang jumlahnya
bertambah besar, serta untuk meningkatkan sumber daya manusia masyarakat
Batu.
Untuk mewujudkan keinginan masyarakat Batu tersebut maka melalui
anggaran Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 19771978
direalisasikan berdirinya SMA Negeri 01 Batu yang pembangunan gedungnya
berlokasi di jalan KH. Agus Salim Batu.
Tahun ajaran pertama dimulai pada tahun 1978 yang ditrandai dengan
dibukanya pendaftaran siswa bertempat di SMP Negeri 01 Batu dan SMA
Negeri 04 Malang. Untuk enam kelas dengan jumlah 182 siswa. Pada saat itu
SMA Negeri 01 Batu merupakan binaan dari SMA Negeri 04 Malang yang
berarti segala aktivitas sekolah terutama dalam penanganan proses
pembelajaran dan kebutuhan tenaga edukatif serta penggunaaan sarana yang
belum dimiliki, dipenuhi oleh SMA Negeri 04 Malang yang saat itu dipimpin
oleh Drs. Suyitno sebagai kepala sekolah.

18

Pada tanggal 14 Januari 1978 pukul 08.30 WIB. Bertempat di halaman


gedung SMP Berbantuan, diadakan upacara pembukaan SMA Berbantuan,
diadakan upacara pembukaan SMA Negeri 01 Batu yang dihadiri oleh seluruh
siswa, tenaga edukatif, Muspika Batu, Dinas P dan K Kabupaten Batu serta
pengurus BP-3 yang diketuai Bapak Bejo. Selanjutnya sambil menungggu
penyelesaian

pembangunan

gedung,

pelaksanaan

pembelajaran

mengggunakan gedung SMP Berbantuan yang terletak di Jl. Darsono Batu,


hingga akhir bulan Oktober 1978. pada tanggal 30 November 1987 dimulailah
penggunaan gedung insurent SMA Negeri 01 Batu yang terletak di Jl. Agus
Salim 57 Batu untuk pembelajaran dan aktivitas sekolah lainnya hingga saat
ini, perubahan terus-menerus dilakukan yang disesuaikan dengan tuntutan
kebutuhan.
4.2 Proses dan Hasil Pengembangan Program Tindakan
Masalah pokok yang dihadapi guru baik pemulamaupun yang sudah
berpengalaman adalah pengelolaan kelas (Suryanto dalam Kurnia Triyuli,
1997). Pengeloaan kelas merupakan maslah tingkah laku yang kompleks dan
guru menggunakannya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas
sedemikian rupa sehingga siswa dapat mencapai tujuan pengajaran secara
efisien dan memungkinkan mereka dapat belajar. Dengan demikian
pengelolaan kelas yang efektif adalah syarat bagi pengajaran yang efektif.
Tugas utama yang paling sulit bagi seorang guru adalah pengelolaan kelas,
lebih-lebih tidak ada satupun

pendekatan yang dikatakan paling baik,

semuanya berada pada tangan guru pada saat dia berperan sebagai actor
pendidikan di depan kelas. Guru juga berperan sebagai sutradara yang
bertanggung jawab terhadap berhasil atau tidaknya skenario yangsedang
dimainkan.
4.2.1 Siklus I
a. Perencanaan
Guru bersama peneliti mendiskusikan tindakan apa yang dapat
dilaksanakan untuk mengembangkan metode pembelajaran siswa kelas

19

agar mendukung proses pembelajaran di kelas. Kemudian bersama


mengamati kondisi siswa di kelas.
b. Tindakan
Pada tahap ini guru sosiologi sudah menyiapkan sebelumnya semua
perangkat pembelajaran di dalam kelas, antara lain: Pertama, Satuan
Pelajaran (SATPEL) yang diberikan kepada guru pamong yang nantinya
guru pamong ini akan melihat secara nyata di belakang kelas guna
merekam semua kejadian di kelas selama kelas itu di berikan tindakan
yang sesuai dengan tujuan penelitian. Kedua, Rencana Pengajaran (RP)
yang juga diberikan kepada guru pamong. Ketiga, skenario yang akan
diperagakan oleh guru selama penelitian tindakan kelas ini. Naskah
skenario ini merupakan naskah dialog yang kaan diguanakan sebagai
garis besar dalam menerangkan materi yang akan disampaikan oleh guru
praktikan dengan menggunakan metode pengajaran ceramah dan tanya
jawab. Selain itu, semua yang diberikan kepada guru pamong digunakan
sebagai rambu-rambu pengawasan pengamat ke guru yang melakukan
aksi di dalam kelas.
Keadaan siswa pada tanggal 15 Februari 2005 itu kelihatan lebih siap jika
dibandingkan dengan pertemuan pertama yang terkesan mendadak, tetapi
kali ini siswa siswa siap menerima pelajaran. Ketika guru melakukan
apersepsi banyak siswa yang langsung memberikan tanggapan yang
positif yang mengingatkan akan materi sebelumnya, sehingga materi
untuk siklus pertama ini bisa dilaksanakan sesuai dengan rencana semula.
Pembelajaran sosiologi dilaksanakan dengan menerapkan beberapa
metode (ceramah, tanya jawab dan tugas). Yang mana dalam hal ini lebih
ditekankan pada metode resitasi atau tugas. Dari hasil monitoring selama
tindakan proses belajar mengajar berlangsung adalah dapat meningkatkan
kesiapan siswa dan prestasi belajar siswa dalam kegiatan belajar
mengajar mata pelajaran sosiologi kelas II.4 SMA Negeri 1 Batu.
Kegiatan siswa dalam proses belajar mengajar sudah lebih baik. Siswa
sudah bersemangat dalam belajar walaupun masih relatif rendah.

20

Hambatan yang diperoleh untuk awal minggu yaitu siswa ada yang tidak
mengumpulkan tugas, dan hanya mencotek hasil kerja temannya.
d. Evaluasi
Pererapan metode resitasi dengan menetapkan dan memberikan tugas
yang sesuai dengan materi dan disertai dengan LKS serta penilaian
sebagai motivasi,
Hasil penilaian dapat dilihat pada tabel 1 berikut:

Motivasi

No

NIS

Tugas

Pemahaman

Motivasi

23

008123

24

008147

25

008157

26

008168

27

008173

28

008187

29

008197

30

008229

31

008232

32

008236

33

008243

34

008245

35

008259

36

008265

37

008270

38

008273

39

008280

40

008283

008292
008301

41
42

No

NIS

Tugas

Pemahaman

Tabel 1.

01

007970

02

007982

03

007985

04

007991

05

007996

06

007997

07

007999

08

008006

09

008010

10

008013

11

008018

12

008019

13

008037

14

008073

15

008078

16

008084

17

008086

18

008089

19
20

008092
008096

21

21

008107

43

008302

22

008115

44

008601

Dari tabel diatas dapat dilihat dalam presentase sebagai berikut :


a.
b.

Siswa mengerjakan tugas yang diberikan (80%).


Siswa mendapatkan gambaran tentang maksud dan isi materi yang
diajarkan pada saat itu (50%).

c.

Siswa terdorong utnuk belajar dan mengerjakan tugas karena


kegiatan itu mendapatkan penilaian (50%).

4.3.2 Siklus I I
a. Perencanaan
Guru bersama peneliti mendiskusikan tindakan apa yang dapat
dilaksanakan untuk mengembangkan metode pembelajaran siswa kelas
agar mendukung proses pembelajaran di kelas. Kemudian bersama
mengamati kondisi siswa di kelas. Permasalahan-permasalahan pada
siklus 1 tadi dirundingkan bersama sehingga meminimalisir tingkattingkat kesalahan dalam menuju tujuan yang diinginkan yaitu
mengembangkan

kemampuan

siswa

dalam

bertanya

dengan

menggunakan metode ceramah dan metode tanya jawab.


b. Tindakan
Pada taha ini sosiologi sudah menyiapkan sebelumnya semua perangkat
pembelajaran di dalam kelas, antara lain: Pertama, Satuan Pelajaran
(SATPEL) yang diberikan kepada guru pamong yang nantinya guru
pamong ini akan melihat secara nyata di belakang kelas guna merekam
semua kejadian di kelas selama kelas itu di berikan tindakan yang sesuai
dengan tujuan penelitian. Kedua, Rencana Pengajaran (RP) yang juga
diberikan kepada guru pamong. Ketiga, skenario yang akan diperagakan
oleh guru selama penelitian tindakan kelas ini. Naskah skenario ini
merupakan naskah dialog yang kaan diguanakan sebagai garis besar
dalam menerangkan materi yang akan disampaikan oleh guru praktikan
dengan menggunakan metode pengajaran ceramah dan tanya jawab.
Selain itu, smeua yang diberikan kepada guru pamong digunakan sebagai

22

rambu-rambu pengawasan pengamat ke guru yang melakukan aksi di


dalam kelas.
Keadaan siswa pada tanggal 15 Maret 2005 itu kelihatan lebih siap dari
pada pertemuan sebelumnya, ketika guru memberikan apersepsi banyak
siswa yang langsung memberikan tanggapan yang positif yang
mengingatkan materi sebelumnya, sehingga materi untuk siklus kedua ini
bisa dilaksanakan sesuai dengan rencana semula.
Pada akhirnya pertemuan terakhir ini adalah merupakan pertemuan yang
relative kondusif dalam pembelajaran antara guru dan murid, begituv juga
dengan tugas, pemahaman dan motivasi siswa, sehingga dari waktu awal
pembukaan pertemuan itu, kemudian dilanjutkan dengan dialog tanya
jawab, dan yang terakhir pada saat penutup juga menunjukkan dengan
saat-saat guru dan siswa dapat mempelajari materi pembelajaran.
c. Evaluasi
pada subbab ini diungkap tentang keadaan siswa yang menunjukkan
perkemabngan kesiapan siswa dalam prsoses belajar mengajar, hal ini
dapat dilihat dari tabel 3 yang menunjukkan frekuensi siswa dalam hal
kesiapan siswa dalam proses belajar mengajar yang dicatat pada tanggal
15 Maret 2005 jam ke 7 8.

Motivasi

No

NIS

Tugas

Pemahaman

Motivasi

23

008123

24

008147

25

008157

007991

26

008168

05

007996

27

008173

06

007997

28

008187

07
08

007999
008006

29
30

008197
008229

No

NIS

Tugas

Pemahaman

Tabel 2.

01

007970

02

007982

03

007985

04

23

09

008010

10

008013

11

008018

13

008037

14

008073

15

008078

16

008084

17

008086

18

008089

19

008092

20

008096

21

008107

22

008115

31

008232

32

008236

33

008243

35

008259

36

008265

37

008270

38

008273

39

008280

40

008283

41

008292

42

008301

43

008302

44

008601

Pada tabel 3 diatas menunjukkan bahwa siswa secara keseluruhan


mengerjakan tugas yang telah di berikan oleh guru, sedangkan Siswa
mendapatkan gambaran tentang maksud dan isi materi yang diajarkan
pada saat itu (75 %). Dan siswa yang terdorong utnuk belajar dan
mengerjakan tugas karena kegiatan itu mendapatkan penilaian (70 %)
Pada pertemuan ini proeses belajar mengajar menggunakan teknik
sebagai berikut :
1. Siswa diberi kesempatan selama 10 sampai 15 menit untuk
membaca.
2. Kemudian siswa itu harus menyimpulkan dan menjelaskan di muka
kelas mengenai konsekuensi dari terjadinya pelapisan sosial dalam
masyarakat.
3. Peneliti bertanya pada siswa satu persatu / sebagian siswa.
4. Peneliti menjelaskan yang belum dipahami siswa dan memberi
kesempatan untuk bertanya.
Dari hasil pertemuan kali ini menunjukkan perkembangan sebagai
berikut :
1. Siswa dapat bersemangat dalam menghadapi atau mengerjakan tugas
baik individu maupun kelompok.

24

2. Siswa mengerjakan tugas yang diberikan.


3. Siswa memahami materi yang disampaikan
Pada pertemuan terakhir ini peneliti mengadakan kuis atau ulangan,
yang mencakup materi yang sudah diajarkan, dan hasil yang diperoleh
sudah mengalami kemajuan dibandingkan latihan-latihan yang lalu.
Sampai pada pertemuan terakhir ini masih terdapat hambatan, yaitu
terdapat beberapa siswa yang tidak mengerjakan tugas, dan juga ada
yang kurang serius dalam mengerjakan, dalam artian mereka tidak
mengerjakan tugas yang diberikan selama ini dengan hasil kerja mereka
sendiri tapi mencontek milik temannya.
Namun meskipun demikian siswa sudah punya motivasi untuk belajar
dan paling tidak kesiapan untuk menerima pelajaran dan pahan akan
materi yang akan disampaikan, serta memperoleh hasil dari latihan atau
ulangan bisa lebih baik dari sebelumnya.

25

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitan di atas, maka dapat diketahui bahwa :
1. Efektifitas penggunaan metode resitasi dapat meningkatkan kesiapan
belajar, menumbuhkan motivasi belajar dan meningkatkan prestasi belajar
siswa di kelas II.4 SMA Negeri 1 Batu. Hal ini dapat diketahui dari
peningkatan terhadap kreativitas siswa dalam meningkatkan hasil
belajarnya.
2. Dalam pembelajaran Sosiologi di kelas II.4 SMA Negeri 1 Batu sangat
dibutuhkan metode resitasi.
3. Penerapan metode resitasi (tugas) efektif dapat meningkatkan kesiapan
belajar dan prestasi belajar dalam proses belajar mengajar, apabila
memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
a.

Guru mengenal siswa pada saat proses belajar mengajar mata


pelajaran sosiologi berlangsung

b.

Dalam pembuatan atau pemberian tugas harus jelas dan mudah


dipahami serta sesuai dengan waktu, materi dan kemampuan siswa.

c.

Setiap kegiatan belajar mengajar siswa mendapat tugas dan guru


harus mengecek hasilnya.

d.

Tugas yang diberikan harus bisa memperluas pengetahuan dan


membantu proses berfikir siswa.

4. Metode resitasi melatih siswa untuk mandiri dan lebih bertanggung jawab.
5. Kendala dalam penelitian ini adalah waktu yang terbatas, kemudian
kondisi siswa yang mempunyai latar belakang yang berbeda, kondisi fisik
siswa yang payah, serta kurang serius dalam melaksanakannya.
Hambatan yang paling bararti dalam pelaksanaan resitasi ini adalah,masih
terdapatnya beberapa siswa yang tidak mengerjakan tugas, dan juga ada
yang kurang serius dalam mengerjakan, dalam artian mereka tidak
mengerjakan tugas yang diberikan selama ini dengan hasil kerja mereka
sendiri tapi mencontek milik temannya

26

5.2 Saran
1. Guru harus bisa mengembangkan dan memakai berbagai macam metode,
yang sesuai dengan tingkat pengetahuan siswa sehingga siswa tidak bosan
dan menerima pelajaran sebagai mestinya.
2. Dalam pemberian tugas guru haruslah pandai-pandai mencari variasi dalam
memberikan tugas kepada siswa, sehingga diharapkan siswa dalam
mengerjakan tugasnya bias bersemangat dan dapat memahami maksud dan
tujuan dari tugas tersebut.
3. Materi yang digunakan untuk metode tanya jawab ini haruslah materi yang
bersifat umum.
4. Sebelum proses belajar mengajar berlangsung, guru haruslah pandai-pandai
membaca kondisi siswa, sehingga metode yang akan digunakan akan sesuai
dengan kondisi siswa pada saat itu.
5. Kesiapan siswa yang mengkondisikan bahwa siswa memang siap diajar
oleh guru dengan memakai metode ceramah dan tanya jawab.

27

DAFTAR PUSTAKA
Allyn dan Bacon, 1992,Active Learning Mel Siberman, Tokyo,.
Darajat Zakyah, Guru Dan Anak Didik Dalam Interaktif Edukatif, PT. Rieneka
Cipta, Jakarta,2000
Djamarah Syaiful Bahri, 2000, Strategi Belajar Mengajar, PT. Rieneka Cipta,
Jakarta
Roestyah,1989, Strategi Belajar Mengajar, Bina Aksara, Jakarta.
Surachmad Winarno,1994, Pengantar Ilmu Interaksi Belajar Mengajar, Tarsito,
Bandung.
Syaiful Bachri D. ,2000, Guru Dan Anak Didik Guru Dan Anak Didik Dalam
Berinteraksi Edukatif, PT. Rieneka Cipta, Jakarta.
Simandjutak,1986, Ditaktik Dan Melodik, Tarsito, Bandung.
Suharsimi Rikunto,1997, Prosedur Penelitian, PT. Rieneka Cipta, Jakarta.
Muhaimin,2002, Paradigma Pendidikan Agama Islam, PT. Rosda Karya.
Usman Uzer & Setiawati Lilis,1993, Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar
Mengajar Remaja Rosda Karya Bandung.
Suryo Subroto,2002, Proses Belajar Mengajar Di Sekolah, PT. Rieneka Cipta,
Jakarta

28