Anda di halaman 1dari 18

PRODUKTIVITAS SEKUNDER PERAIRAN

DANAU SINGKARAK DAN DANAU HANJALUTUNG


Disusun sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah
Produktivitas Perairan
Oleh :
Pipit Widiani

230110140083

Isma Yuniar

230110140103

Lena Lutfina

230110140104

Gilang Ramadhan

230110140126

Egi Rhamadhan

230110140125

Laily Latifah

230110140172

Gusman Maulana

230110140193

Kelas :
Perikanan B / kelompok 4

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELUATAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR
2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat rahmat dan
karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.
Penyusunan makalah ini ditujukan untuk memenuhi tugas mata kuliah
Produktivitas Perairan mengenai Produktivitas Sekunder Perairan Danau
Singkarak dan Danau Hanjalutung.

Dalam menyelesaikan tugas ini, penulis telah banyak mendapatkan


bantuan dan masukan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini
penulis ingin menyampaikan banyak terima kasih kepada :

1. Tim dosen mata kuliah Produktivitas Perairan yang telah memberikan ilmu
pengetahuan Produktivitas Perairansehingga pengetahuanpenyusundalam
penulisan semakin bertambah.

2. Teman-temanyang telah memberikan semangat dan dukungan sehingga


makalah ini dapat terselesaikan.

3. Pihak-pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang turut
membantu penyusunan makalahini.

Semoga segala masukkan dan dukungan dari semua pihak yang telah
diberikan kepada penyusun mendapat balasan dari Allah SWT. Harapan penyusun
semoga laporan ini dapat bermanfaaat bagi semua pihak

Jatinangor, Oktober 2016

Penyusun

DAFTAR ISI

BAB

Halaman

KATA PENGANTAR.............................................................................. i
DAFTAR ISI.......................................................................................... ii
DAFTAR TABEL..................................................................................iii
DAFTAR GAMBAR.............................................................................. iv
BAB I PENDAHULUAN........................................................................1
1.1 Latar Belakang........................................................................1
1.2 Tujuan.................................................................................... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA...............................................................3
2.1 Danau Alami........................................................................... 3
2.2 Produktivitas Sekunder.............................................................3
2.2.1 Zooplankton dan Perannnya dalam Produktivitas Sekunder....4
2.2.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi Zooplankton...................4
2.3 Studi Kasus Produktivitas Sekunder Danau Besar Alami................5
2.3.1 Komposisi dan Struktur Zooplankton di Danau Singkarak.....5
2.3.2 Komunitas Zooplankton di Danau Hanjalutung....................8
BAB III KESIMPULAN.......................................................................11
3.1 Kesimpulan...........................................................................11
3.2 Saran.................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA............................................................................12

DAFTAR TABEL

Nomor

Judul

Halaman

1.

Kepadatan (ind./l), Kepadatan Relatif (%), dan Frekuensi Kehadiran (%)


Zooplankton di Danau Singkarak..............................................................7
2. Nilai Struktur Komunitas Zooplankton (Sampling I)................................9
3. Nilai Struktur Komunitas Zooplankton (Sampling II).............................10
4. Indeks Keanekaragaman ( H' ), Keseragaman ( E ) dan Dominasi ( D )
Ikan di Danau Hanjalutung......................................................................10

DAFTAR GAMBAR
Nomor

Judul

Halaman
1.

Peta lokasi Danau Singkarak..................................................................6

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Danau adalah perairan lentik (Lentic Water) atau badan air yang

merupakan bagian dari ekosistem air tawar yang sering dihubungkan dengan
keadaan kandungan nutrien. Air danau dipengaruhi oleh kondisi hidrologi dan
parameter fisika-kimia yang mendukung komunitas biota yang keberadaannya
memperkaya ekosistem danau. Selain itu, flora (vegetasi) dan fauna terutama
zooplankton dan ikan sangat berperan penting dalam perairan. Kelangsungan
hidup ikan kecil tergantung pada banyak sedikitnya jumlah zooplankton ang
tersedia. Biota-biota tersebut tidak hanya membentuk mata rantai antara satu
dengan yang lain, tetapi juga mempengaruhi sifat fisika-kima danau dan
mengalami perubahan yang sangat dinamis (Olem and Flock, 1990).
Menurut Syandri (1996), Danau Singkarak merupakan Danau tektonik
yang terbentuk akibat aktivitas sesar Pulau Sumatera sebagai akibat fenomena
zona subduks antara lempang Asia Tenggara dan lempeng busur muka Sumatera
(lempeng mikro Sumatera). Informasi mengenai zooplankton di zona litoral
Danau Singkarak didapat dari penelitian Intan (2009) bahwa jenis zooplankton
yang ditemukan sebanyak 19 jenis yang terdiri dari 5 kelas yaitunya Crustacea (5
jenis), Hemiptera dan Nematoda masing-masing satu jenis, Protozoa (6 jenis) dan
Rotifera (6 jenis). Danau Singkarak telah dimanfaatkan untuk berbagai
kepentingan yaitu domestik, pertanian, industri rumah tangga, pariwisata, sebagai
areal penangkapan ikan dan sumber energi. Pada saat ini, Danau Singkarak sudah
mulai dikembangkan budidaya ikan menggunakan keramba jala apung (KLH,
2011).
Danau Hanjalutung merupakan danau oxbow limpasan banjir yang
dipengaruhi oleh fluktuasi tingkat air dari sungai utama sehingga organisme
perairan tergantung pada tingkatan konektifitas antara danau dan sungai. Bagi
masyarakat setempat, danau digunakan sebagai lahan usaha perikanan tangkap
dan seiring perkembangan zaman dibentuknya beberapa program yaitu Danau
Hanjalutung menjadi percontohan dan image tentang lingkungan yang baik,

terbentuknya Kelompok Imformasi Masyarakat (KIM) untuk menjaga kelestarian


danau dari fihak yang tidak bertanggungjawab dan sebagai lahan untuk
pembibitan ikan air tawar terutama ikan Patin, Nila dan Betok.
1.2

Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan tulisan ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui produktivitas sekunder Danau Singkarak dan Danau
Hanjalutung.
2. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas perairan di
Danau Singkarak dan Danau Hanjalutung.
3. Membandingkan produktivitas perairan di Danau Singkarak dengan Danau
Hanjalutung.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Danau Alami
Danau adalah wadah air dan ekosistemnya yang terbentuk secara alamiah

termasuk situ dan wadah air sejenis dengan sebutan istilah lokal (Permen LH No.
28 Tahun 2009). Menurut (Sihotang dan Efawani, 2007) bahwa danau merupakan
suatu cekungan yang dapat menahan air, terbentuk secara alami yang disebabkan
oleh daya tektonik, vulkanik atau glacial dan luasnya mulai dari beberapa meter
persegi sampai ratusan meter persegi (Barus, 2004) menyatakan suatu perairan
disebut danau apabila perairan itu dalam dengan tepi yang umumnya curam,
airnya bersifat jernih dan keberadaan tumbuhan air terbatas hanya pada daerah
pinggiran saja.
Minggawati (2012), kualitas perairan memberikan pengaruh yang cukup
besar terhadap pertumbuhan makhluk hidup di perairan itu sendiri. Lingkungan
perairan yang baik bagi organisme aquatik diperlukan untuk pertumbuhan dan
kelangsungan hidupnya. Kualitas air yang kurang baik akan mengakibatkan
pertumbuhan organisme aquatik semakin lambat. Beberapa hal yang dapat
menurunkan kualitas lingkungan perairan adalah pencemaran limbah organik,
bahan buangan zat kimia dari pabrik, pestisida dari penyemprotan di sawah dan
kebun, serta dari limbah rumah tangga (Suyanto, 2010).
2.2

Produktivitas Sekunder
Carlisle Daren M. & Clements William H. (2003) menyatakan bahwa

produksi sekunder merupakan fungsi pengukuran dinamika populasi, termasuk di


dalamnya proses yang terjadi pada level individu, populasi maupun ekosistem.
Produksi sekunder adalah ukuran komposit sebuah kepadatan populasi biota,
biomassa dan pertumbuhan selama kurun waktu tertentu (Rose Lori Valentine,
Rypel Andrew L, Layman Craig A 2011). Hewan-hewan herbivora yang mendapat
bahan-bahan organik dengan memakan fitoplankton merupakan produsen kedua
di dalam sistem rantai makanan. Hewan-hewan karnivora yang memangsa
binatang herbivora adalah produsen ketida begitu seterusnya rentetan - rentetan

karnivora-karnovora yang memangsa karnivora yang lain, merupakan tingkat ke


empat, kelima dan sampai pada tingkat yang lebih tinggi (sehingga dinamakan
trofik level) dalam sistem rantai makanan. Perpindahan ikatan organik dari satuu
trofik level ke trofik level berikutnya merupakan suatu proses yang relatif tidak
efisien.
2.2.1

Zooplankton dan Perannnya dalam Produktivitas Sekunder


Zooplankton merupakan organisme laut yang memainkan peran yang

sangat penting dalam menopang rantai makanan di laut. Walaupun daya geraknya
terbatas dan distribusinya ditentukan oleh keberadaan makanannya, zooplankton
berperan pada tingkat energi yang kedua yang menghubungkan produsen utama
(fitoplankton) dengan konsumen dalam tingkat makanan yang lebih tinggi.
Peranan zooplankton sebagai konsumen pertama sangat berpengaruh dalam rantai
makanan suatu ekosistem perairan (Handayani dan Patria, 2005). Umumnya
sebaran konsentrasi plankton di perairan pantai tinggi karena tingginya kadar
nutrien yang berasal dari daratan
Zooplankton atau plankton hewani merupakan suatu organisme yang
berukuran kecil yang hidupnya terombang-ambing oleh arus yang hidupnya
sebagai hewan (Hutabarat dan Evans, 1986). Zooplankton merupakan biota yang
berperanan penting terhadap produktivitas sekunder, karena berperan sebagai
penghubung produsen primer dengan konsumen yang lebih tinggi (Arinardi et al.
1996). Zooplankton merupakan konsumen pertama dalam perairan yang
memanfaatkan produsen primer yaitu fitoplankton. Keberadaan zooplankton pada
suatu perairan dapat digunakan untuk mengetahui tingkat produktivitas suatu
perairan (Odum, 1993 ; Bougis, 1976 ; Rohmimohtarto dan Juwana, 1998), karena
kelimpahan zooplankton pada suatu perairan dapat menggambarkan jumlah
ketersediaan makanan, maupun kapasitas lingkungan atau daya dukung
lingkungan yang dapat menunjang kehidupan biota. Oleh karenanya perubahan
yang terjadi pada suatu wilayah perairan dapat diketahui dengan melihat
perubahan kelimpahan biota zooplankton

2.2.2

Faktor-faktor yang mempengaruhi Zooplankton


Faktor biologi berupa zooplankton sangat berperan dalam perikanan

telaga. Zooplankton sebagai sumber makanan alami bagi ikan. Melimpahnya


zooplankton di suatu perairan dapat mengurangi penggunaan pakan ikan buatan
yang kurang ramah lingkungan. Ada atau tidak adanya populasi zooplankton
dapat menentukan keberhasilan perikanan komersial di perairan tawar dan
perairan laut (Wilkinson, 2001). Kisaran nilai keanekaragaman komunitas
zooplankton

adalah

antara

1,45-2,13.

Nilai

tersebut

tergolong

indeks

keanekaragaman tingkat sedang menurut Shannon Wiener (1949) dalam Dahuri


(1994). Hal tersebut sesuai dengan pendapat Dharmawan (2005) bahwa
keanekaragaman cenderung akan rendah pada ekosistem yang secara fisik dibatasi
(dibatasi faktor abiotik) dan cenderung tinggi pada ekosistem yang dibatasi (diatur
faktor biotik). Kelimpahan zooplankton pada suatu perairan dipengaruhi oleh
faktor-faktor abiotik yaitu : suhu, kecerahan, kecepatan arus, salinitas,pH, DO
(Kennish, 1990; Sumich, 1992; Romimohtarto dan Juwana, 1999). Sedangkan
faktor biotik yang dapat mempengaruhi distribusi zooplankton adalah bahan
nutrien dan ketersedian makanan (Kennish, 1990; Sumich, 1992).
2.3

Studi Kasus Produktivitas Sekunder Danau Besar Alami

2.3.1

Komposisi dan Struktur Zooplankton di Danau Singkarak


Danau Singkarak terletak di Propinsi Sumatra Barat, yang terentang dalam

dua wilayah adminstrasi yakni Kabupaten Solok dan Kabupaten Tanah Datar.
Posisi geografisnya adalah antara 0o3146 dan 0o4220 LS (Lintang Selatan),
antara 100o2615 dan 100o3555 BT (Bujur Timur). Ketinggian muka airnya
(altitude) adalah 364 m di atas permukaan laut, dengan luas area 130 km2.
Panjang maksimumnya 23 km, sedangkan lebar maksimumnya 7 km. Kedalaman
maksimumnya 269 m dengan kedalaman rerata 203 m. Keliling danau sekitar 50
km, dan volume danau 26,4 km3. Waktu tinggal (retention time) berkisar 57 tahun.
Sungai yang keluar dari danau (outflow) hanya satu yakni Sungai/ Batang
Ombilin.

Danau Singkarak terbentuk akibat proses tektonik dari sesar-sesar yang


ada di sekitarnya. Danau ini merupakan bagian dari amblesan (graben)
memanjang Singkarak-Solok yang merupakan salah satu segmen Sesar Besar
Sumatra. Cekungan besar yang memanjang itu kemudian terbendung material
letusan gunung api muda Merapi, Singgalang, dan Tandike di sisi barat laut. Di
sisi tenggara terbendung oleh endapan material letusan Gunung Talang.

Gambar 1. Peta lokasi Danau Singkarak


Iklim di kawasan Danau Singkarak tergolong iklim basah dengan
intensitas curah hujan antara 1632 3063 mm/tahun atau 82 252 mm/bulan.
Musim kering daerah sekitar Danau Singkarak hanya sekitar dua bulan yaitu pada
bulan Juni-Juli (bulan dengan curah hujan bulanan kurang dari 100 mm). Suhu
rata-rata di sekitar Danau Singkarak 26oC 27 oC, sedangkan suhu air Danau
Singkarak bekisar antara 25 oC 27 oC. Kelembaban relatif ratarata 80,7 %. Bulan
kering terutama terjadi pada bulan Juni sampai Juli.
1)

Struktur Komunitas Zooplankton Danau Singkarak


Zooplankton di Danau Singkarak antara lain telah dikaji Wulandari et al.
(2014) yang mengungkapkan bahwa zooplankton di danau ini tidaklah kaya,

terdapat hanya ada 16 spsies zooplankton yang terdiri dari Crustacea (8 spesies),
Protozoa (3 spesies), dan Rotifera (5 spesies).
Tinggi rendahnya nilai diversitas jenis suatu komunitas sangat ditentukan
oleh dua hal yaitu kekayaan jenis dan juga distribusi individu dalam jenisnya
(equitability) (Odum, 1997). Indeks diversitas jenis zooplankton berkisar 0,791,52. Hal ini menunjukkan bahwa perairan tersebut memiliki keanekaragaman
jenis yang bervariasi dengan kondisi yang relatif stabil.
Nilai indeks equitabilitas berkisar antara 0-1, bila mendekati satu berarti
populasi merata dan bila mendekati nol berarti populasi tidak merata (Kendeigh,
1980). Nilai indeks equitabilitas yang didapatkan pada penelitian ini adalah
berkisar antara 0,32-0,91. Pada perairan ini terdapat dua stasiun pengamatan yang
nilainya mendekati 0 yaitu pada intake PLTA dengan nilai 0,32 dan tengah Danau
dengan nilai 0,47 dimana dapat dikatakan perairan ini memiliki populasi tidak
merata. Sedangkan untuk delapan stasiun lainnya berkisar antara 0,54-0,91
dimana dapat dikatakan perairan ini memiliki populasi yang merata. Dari nilai
indeks equitabilitas yang didapatkan maka bisa dikatakan bahwa Danau Singkarak
ini memiliki nilai kemerataan yang sedang.
Berdasarkan hasil penghitungan Indeks kesamaan (Sorensen; IS) dari
komunitas zooplankton didapatkan nilai indeks kesamaan berkisar antara 31,25%76,92%. Sesuai dengan yang aturan 50 % yang dikemukakan oleh Kendeigh
(1980) bahwa bila dua komunitas yang dibandingkan memiliki nilai indeks kurang
dari 50%, maka komposisi jenis kedua komunitas tersebut dapat dikatakan
berbeda (tidak serupa) dan sebaliknya jika kedua komunitas yang dibandingkan
lebih dari 66 Jurnal Biologi Universitas Andalas (J. Bio. UA.) 3(1) Maret 2014:
63-67 (ISSN : 2303-2162).
Tabel 1. Kepadatan (ind./l), Kepadatan Relatif (%), dan Frekuensi Kehadiran (%)
Zooplankton di Danau Singkarak

2)

Faktor-faktor yang mempengaruhi zooplankton di Danau Singkarak


Sejak penelitian Intan (2009) belum ada informasi tentang penelitian

zooplankton berikutnya di Danau tersebut. Oleh karena itu, dengan rentang waktu
yang relatif

lama dan banyaknya aktifitas disekitar Danau menyebabkan

perubahan di sekitar Danau dan di dalam Danau terutama terhadap kualitas air.
Adanya akitivitas di atas tentu banyak sedikitnya limbah dari aktivitas tersebut
mempengaruhi kondisi fisiko kimia air Danau dan akhirnya akan dapat
mempengaruhi kehidupan biota air. Perubahan tersebut secara lansung atau tidak
juga akan mempengaruhi kehidupan biota perairan, termasuk didalamnya adalah
perubahan terhadap komposisi dan struktur zooplankton.
Minggawati (2012), kualitas perairan memberikan pengaruh yang cukup
besar terhadap pertumbuhan makhluk hidup di perairan itu sendiri. Lingkungan
perairan yang baik bagi organisme aquatik diperlukan untuk pertumbuhan dan
kelangsungan hidupnya. Kualitas air yang kurang baik akan mengakibatkan
pertumbuhan organisme aquatik semakin lambat. Beberapa hal yang dapat
menurunkan kualitas lingkungan perairan adalah pencemaran limbah organik,
bahan buangan zat kimia dari pabrik, pestisida dari penyemprotan di sawah dan
kebun, serta dari limbah rumah tangga (Suyanto, 2010).

2.3.2

Komunitas Zooplankton di Danau Hanjalutung


Danau Hanjalutung merupakan danau oxbow yaitu danau di dataran banjir

dari sungai-sungai besar yang terbentuk akibat aliran sungai yang terputus (sungai
mati). Danau oxbow pada umumnya berukuran kecil namun memiliki
produkivitas ikan yang tinggi. Produktivitas ikan yang tinggi di dataran banjir
disebabkan oleh ketersediaan pakan alami terutama zooplankton. Danau
Hanjalutung merupakan danau yang masih berhubungan dengan Sungai Rungan.
Sumber utama air Danau Hanjalutung adalah berasal dari Sungai Rungan melalui
satu inlet dari bagian utara (hulu) danau dan satu outlet di bagian selatan (hilir).
Luas permukaan Danau Hanjalutung sekitar 11,7 hektar dengan kedalaman
maksimum 8 meter. Luas limpasan banjir mencapai 7 hektar dengan tinggi
limpasan banjir mencapai 2 meter diatas rata- rata tinggi permukaan air sejajar
mulut basin danau (lake's bank).
Danau Hanjalutung pada kondisi yang dapat ditolerir oleh biota perairan
walaupun mengalami fluktuasi dan cenderung memiliki nilai yang baik pada zona
penelitian. Kisaran masing-masing parameter kualitas air adalah sebagai berikut :
Kedalaman air 0,5 6,4 m, kecerahan air 15 40 cm, suhu air 28 30 0C, pH 3,8
4,3 skala pH, DO 3,2 5,4 mg.L -1 . Klorofil-a 0,7 167 mg.L -1 .
Kelimpahan zooplankton
Kelimpahan zooplankton tertinggi untuk sampling 1 terdapat pada zona IV
dengan total kelimpahan zooplankton 256 ind/L dan sampling 2 pada zona III
dengan kelimpahan 30 ind/L. Nilai total kelimpahan zooplankton 256 ind/L
menunjukkan bahwa perairan Danau Hanjalutung tergolong perairan miskin. Pada
sampling 1, Indeks Keanekaragaman berkisar antara 1,57 1,82, dan sampling 2
berkisar antara 0,46 1,23 termasuk kriteria sedang ( 1 < H < 3 ), diduga
komunitas plankton selama pengamatan relatif stabil. Nilai Indeks Keseragaman
pada kedua sampling menunjukkan bahwa penyebaran individu antar jenis relatif
merata. Nilai Indeks Dominasi (D) selama penelitian mendekati 0. Menunjukkan
tidak ditemukan jenis zooplankton yang mendominasi.

Tabel 2. Nilai Struktur Komunitas Zooplankton (Sampling I)

Tabel 3.Nilai Struktur Komunitas Zooplankton (Sampling II)

Tabel 4. Indeks Keanekaragaman ( H' ), Keseragaman ( E ) dan Dominasi ( D )


Ikan di Danau Hanjalutung.

10

BAB III
KESIMPULAN

3.1

Kesimpulan
Ada beberapa hal yang dapat disimpulkan dari uraian sebelumnya, yaitu :
1. Produksi sekunder adalah ukuran komposit sebuah kepadatan populasi
biota, biomassa dan pertumbuhan selama kurun waktu tertentu
2. Zooplankton di danau Singkarak tidaklah kaya tetapi perairan tersebut
memiliki keanekaragaman jenis yang bervariasi dengan kondisi yang
relatif stabil sedangkan pada danau Hanjalutung zooplakton tergolong
miskin, relatif stabil, sebaran merat, tidak ditemukan jenis zooplankton
yang mendominasi.
3. kualitas perairan memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap
pertumbuhan makhluk hidup di perairan itu sendiri. Lingkungan
perairan yang baik bagi organisme aquatik diperlukan untuk
pertumbuhan dan kelangsungan hidupnya. Kualitas air yang kurang
baik akan mengakibatkan pertumbuhan organisme aquatik semakin
lambat.

3.2

Saran
Penulis

menyarankan

untuk

dilakukan

studi

lanjutan

menganai

produktivitas di Danau Singkarak dan Danau Sentarum karena danau ini


merupakan danau besar alami yang potensial. Diharapkan dari kajian kajian ini
bermanfaat untuk pengelolaan dan pelestarian ke depannya.

11

DAFTAR PUSTAKA
Pasisingi, Nuralim. 2012. Produksi Sekunder Nebalia daytoni di Pantai San
Diego, California Selatan, USA. Bogor: Program Studi Pengelolaan
Sumberdaya Perairan Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Serezova Augusta, Tania. Evi, Saptami Utami. 2014. Analisis Hubungan Kualitas
Air Terhadap Komunitas Zooplankton dan Ikan di Danau Hanjalutung.
Jurnal Ilmu Hewani Tropika Vol 3. No. 2. Desember 2014.
unkripjournal.com (diakses pada 18-10-2016 pukul 20:26 WIB)

12