Anda di halaman 1dari 11

ESAI

FENOMENA REGIONALISME DALAM PEMULIHAN EKONOMI KAWASAN


ASIA TIMUR PASCA KRISIS EKONOMI 1997
Disusun sebagai Tugas Mata Kuliah
Studi Kawasan A

Disusun Oleh:
Fidya Shabrina
Dhamar Sukma R.
Anggita Ludmila
Evani Pertika R.

11/311649/SP/24411
11/311682/SP/24415
11/311467/SP/24391
11/311868/SP/24447

Rizqie Aulia Febriana


Arvie Karinayani
Sriwiyata Ismail Z.

11/317789/SP/24679
11/311475/SP/24393

JURUSAN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2012

Fenomena Regionalisme dalam Pemulihan Ekonomi Kawasan Asia Timur Pasca Krisis
Ekonomi 1997
Kerja sama ekonomi Asia telah lama dibicarakan, misalnya saat di tahun 1990 ada usul
guna membentuk East Asia Economic Caucus yang datang dari Perdana Menteri Malaysia
Mahathir Mohamad. Tujuan semula dari EAEC adalah untuk menbentuk sebuah free trade
area antara Cina, Jepang, Korea Selatan dan negara-negara Asia Tenggara. Namun usulan ini
kurang mendapat perhatian hingga terjadinya krisis keuangan 19981. Krisis ini adalah titik
yang mengakibatkan kawasan ini memfokuskan perhatiannya untuk membuat kawasan ini
tetap stabil. Krisis ekonomi 1997 telah menyadarkan negara-negara Asia Timur mengenai
kerentanan kawasan tersebut terhadap efek tular (contagion effect). Contagion effect
merupakan salah satu faktor yang muncul akibat mekanisme pasar yang semakin bebas. Hal
ini lantas mendorong terjadinya prakarsa regional baru. Kala itu, bath mengalami depresiasi
sebesar 60% dan menyebar dengan cepat ke Indonesia (85%), Malaysia (45%) dan Filipina
(40%) serta Singapura(20%). Kemudian menyebar ke Korea (28%), Jepang (8%) dan Cina.
Meskipun Cina juga mengalami tekanan, mereka dapat mengontrol mata uang mereka hingga
mereka tidak mengalami depresiasi2.
Belajar dari pengalaman dan efek dari krisis tersebut, negara-negara Asia Timur
menyadari pentingnya stabilitas keuangan kawasan. Negara-negara Asia Timur memerlukan
mekanisme kerja sama untuk meminimalkan resiko krisis dan untuk mengendalikan
pergerakan ekonomi mereka. Hal ini lantas bermuara pada penegasan bahwa Asia timur butuh
peningkatan kerja sama regional. Tapi satu hal yang patut dicermati adalah bahwa kawasan
Asia Timur ini sendiri belum memiliki regionalisme, dalam artian belum ada organisasi yang
benar benar mengikat secara legal formal. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara
lain karena sejak dulu, pemerintah yang berkuasa di setidaknya tiga negara penggerak
kawasan ini, memang memiliki haluan politik yang berbeda. Sementara itu, orientasi lembaga
politik dari masing masing negara jelas menentukan langkah di pelbagai bidang, termasuk
ekonomi. Belum lagi pola pola historis yang pernah terjadi diantara mereka, makin membuat
mereka sulit bekerjasama dalam satu organisasi regional3.
Namun hal ini bukan berarti proses regionalisasi tidak pernah ada di kawasan ini.
Bahkan bila ditelaah lebih lanjut, ada banyak hal yang bisa menunjukkan bahwa telah terjadi
1 M. Beeson, 2007, Regionalism & Globalization in East Asia, New York :
Palgrave Macmillan, New York, p.210
2 D. Kusuma, 2010, Penerapan Kriteria Optimum Currency Area Dan Volatilitasnya:
Studi Kasus ASEAN-5 +3, Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Oktober 2010, p.196

proses regionalisasi di kawasan ini. Satu hal lagi, bahwa proses regionalisasi inilah yang telah
mengangkat kawasan ini dari keterpurukan pasca keruntuhan mata uang mereka di era 90-an
akhir. Beberapa diantaranya adalah kegiatan perdagangan antar negara, Foreign Direct
Investment (FDI) serta Official Development Assistance (ODA)4.
Asia Timur Sebelum Krisis Ekonomi 1997
Asia Timur tidak memiliki sebuah organisasi yang menjadi bentuk konkrit dari
regionalisme. Walaupun begitu, interaksi antar negara-negara anggota kawasan Asia Timur
Cina, Jepang, Taiwan, Hongkong, Korea Selatan, dan Korea Utara senantiasa terjadi.
Sebelum terjadi krisis, Asia Timur mengalami pertumbuhan yang fenomenal dalam
keberhasilan ekonominya yang dikenal dengan East Asia Miracle. Keberhasilan ekonomi asia
timur ini dibuktikan dengan menurunnya kemiskinan dan mulai stabilnya pemerintahan yang
mengalokasikan dana lebih banyak untuk pendidikan dan kebijakan-kebijakan industri yang
besar. Sebelum krisis ekonomi global 1997, interaksi terjadi melalui hubungan perdangangan,
dan atau ekspor/import. Perdagangan merupakan the starting point dalam hubungan kawasan
Asia timur secara menyeluruh.5 Perluasan hubungan perdagangan telah menjadi pusat dari
integrasi Asia Timur ke dalam sistem ekonomi internasional sejak kolonialisme eropa6. Dari
hubungan perdagangan ini, interaksi antara negara-negara kawasan ini menjadi lebih intens.
Dengan kata lain, sebelum krisis 1997, regionalisme Asia Timur bersifat market driven.
Meningkatnya hubungan ekonomi antar negara di kawasan ini disebabkan oleh tiga
faktor. Ketiga hal tersebut adalah desakan internal yang datang dari tiap-tiap negara, peranan
Jepang sebagai penggerak hubungan ekonomi kawasan, dan juga munculnya NICNewly
Industrializing Countries. Ketiga faktor ini bersinergi dalam mendorong kerjasama kawasan.
Pertama, kondisi internal dari masing-masing negara anggota. Keinginan besar
negara-negara dalam kawasan ini untuk meningkatkan perekonomian dalam negerinya telah
3 C. Johnson et.al., 1990, Perkembangan Ekonomi Asia: Masa Kini dan Masa
Depan, Jakarta : CSIS, p. 103
4 G.D Hook et.al., 2005, Japans International Relations:Politics, economics and
security , New York : Routledge, p. 184

5 M.A.B. Siddique, 2006, Regionalism, Trade and Economic Development in the


Asia-Pasific Region, UK : Edward Elgar Publishing Limited edition, P. 89
6 Mark Beeson, 2007, Regionalism & Globalization in East Asia . New York:
Palgrave Macmillan , p.184

banyak merubah kebijakan ekonominya. Miisalnya saja Cina, dahulu ekonomi Cina
cenderung tertutup, barulah pada tahun 1970an Cina mulai menerapkan open market. Banyak
negara Asia merubah kebijakan ekonominya sehingga interaksi ekonomi negara - negara Asia
timur semakin meningkat. Ada dua hal sekiranya yang bisa menggambarkan regionalisme di
Asia Timur, yaitu Jepang dan juga kehadiran negara-negara industri di Asia Timur
Kedua, peranan Jepang sebagai penggerak perekonomian Asia Timur. Teori flying
geese menggambarkaan hubungan ekonomi Jepang dengan negara-negara Asia Timur .
Dalam kasus intensifikasi hubungan ekonomi negara-negara Asia Timur, Jepang berperan
sebagai the lead of the goose yang membuka dan menarik negara-negara industry lainnya
dalam satu region karena kebangkitannya7. Jepang berperan sebagai bapak yang memimpin
anak-anaknya: negara-negara Asia Timur lain. Menurut Hervie dan Lee, Japan successfully
developed globally competitive high-technology products that it was able to export
successfully, including to the economies of East Asia, while its domestic market remained
almost effectively closed to foreign competition8. Karena itulah banyak negara-negara Asia
timur mengikuti cara kerja perekonomian Jepang yang export-oriented. Selain itu, aliran
modal dari Jepang atau sering disebut Foreign Direct Ivestment (FDI), semakin
mengukuhkan posisi Jepang sebagai pioneer kebangkitan Asia timur. Aliran modal ini
semakin mempererat integrasi negara-negara Asia Timur. Peningkatan FDI jepang terutama
sangat signifikan kita lihat dengan Cina. Pada tahun 1980-89 FDI Jepang ke Cina hanya
sebesar 280,7 US$ million per annum average, pada periode 1990-1999 meningkat tajam
menjadi 1,723.58 US$ million per annum average 9. Melaui FDI, berbagai bisnis jepang dan
tak lupa terkait dengan ODA ( Official development assitace) kawasan Asia Timur adalah
home base dari ekonomi Jepang.
Ketiga, meningkatnya kegiatan ekonomi di kawasan Asia Timur juga didorong oleh
kemunculan NIC pada tahun 1970an ( New Industrial CountriesKorea Selatan, Hongkong,
Taiwan dan Singapore. Hal ini turut memberikan dampak atas meningkatnya pertumbuhan
7 Ibid, hal. 187
8 Charles Hervie and hyun-Hoo Lee. New Regionalism In East Asia; How Does it Relate to The
East Asian Economic Development Moderl? Source: ASEAN Economic Bulletin, Vol. 19, No. 2
(August 2002), pp. 123-140Published by: Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS)Stable URL:
<http://www.jstor.org/stable/25773716>, diakses tanggal 10 April 2012

9 Mark Beeson, 2007, Regionalism & Globalization in East Asia, New York: Palgrave Macmillan ,
p.189

ekonomi dan interaksi ekonomi dalam kawasan Asia Timur. Negara di kawasan ini tumbuh
dengan pesat melalui proses industralisasinya. Korea dan Taiwan secara sukses telah dan
mentransformasi

struktur ekonomi domestik dan mengubahnya kedalam ekonomi yang

berorientasikan manufacture10. Perkembangan negara-negara Asia yang pesat ini terutama


disebabkan oleh sifat kebijakan ekonomi mereka yang market oriented dan expor oriented11.
Intensifikasi kegiatan perdagangan mempererat hubungan antar negara negara dalam satu
kawasan.
Sebelum krisis ekonomi tahun 1997, regionalisme Asia Timur masih berbasis kegiatan
ekonomi seperti ekspor antar Asia Timur, penanam modal (FDI), dan juga dorongan internal
dari tiap-tiap negara. Belum ada organisasi yang benar-benar mengikat secara legal formal
yang berlaku di kawasan Asia Timur. Negara-negara Asia Timur melibatkan dirinya dalam
APEC sebagai institusi yang mengatur interaksi ekonomi antara negara-negara Asia-Pasific.
Krisis Ekonomi 1997
Krisis finansial Asia Timur pada tahun 1997 di mulai dari Korea Selatan. Berdasarkan
penelitian yang dilakukan oleh Noland, krisis ekonomi Korea terjadi karena tingginya tingkat
short-term loan yang ada dan buruknya manajemen pengelolaan

hutang luar negeri 12.

Sebagian besar pertumbuhan investasi dibiayai oleh aliran modal jangka pendek.
Pengendalian modal jangka pendek di bebaskan, tetapi tidak pada modal jangka panjang.
Sehingga, dalam jangka pendek krisis keuangan mengakibatkan beberapa perusahaan penting
gagal mengembalikan pinjaman mereka ke bank. Guncangan negatif ini diperkuat dengan
hilangnya pinjaman asing ke bank domestik.13 Banyaknya pinjaman yang terjadi ini
disebabkan salah satunya karena kurangnya regulasi kebijakan (terutama dalam klasifikasi
pemberian pinjaman) yang pada akhirnya membuat bank menjadi pengambil resiko yang
10 Ibid,hal. 192
11 Seiji Naya, 1992, Peran Kebijakan Perdagangan dalam Proses Industrialisasi di Negara
Berkembang Asia yang Pertumbuhan Ekonominyab Tinggi dalam buku Keberhasilan Industrialisai
di Asia Timur ., Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama , p. 91

12 M. Byung, 1999, South Koreas Financial Crisis in 1997: What Have We


Learned? ASEAN Economic Bulletin 16.2
13 Yongin Jeon, and Stephen M. Miller, 2002, The Performance of Domestic and
Foreign Banks: the Case of Korea and the Asian Financial Crisis, Working Paper,
<http://media.proquest.com/media/pq/classic/doc/1214654811> diakses 4 MEi
2012

ekstrim dan meminjamkan berdasarkan besarnya sebuah firma, bukannya berdasarkan


kemungkinan resiko. Pada saat itu Korea Selatan juga menerapkan liberalisasi sebagian pasar
modal, yang dapat berakibat 2 hal: inflasi yang naik dan kerentanan pasar modal Korea
Selatan. Pada saat itu, nilai mata uang Korea pun turun terhadap dollar sebagai akibat sistem
nilai tukarnya yang dikuasai atau diatur oleh asing. 14 Krisis ekonomi Korea Selatan pun
menimbulkan efek bola salju bagi negara-negara di Asia Timur lainnya.
Pada awalnya krisis ini memang belum terasa bagi negara di kawasan Asia Timur,
namun lambat laun negara di Asia Timur mengalami pertumbuhan ekonomi negatif, pasar
modal memukul mata uang tertentu di Asia Timur dan pasar ekuitas, dengan penurunan
antara 20 sampai dengan 75% pada paruh kedua tahun 1997. Runtuhnya harga aset,
menyebabkan penurunan pertumbuhan ekonomi di seluruh wilayah, dan tingkat kebangkrutan
keuangan perusahaan juga jauh lebih buruk dari yang diharapkan. Misalnya Korea yang
mengalami penurunan 6,8%, Hong Kong sebesar 5,1%, dan Jepang sebesar 2,8% 15. Dalam
kondisi seperti ini hanya Cina dan Taiwan yang mempertahankan pertumbuhan ekonomi
positif.16 Fakta ini memaparkan bahwa resesi yang ada memberikan efek serius kepada
perekonomian negara di Asia Timur.
Hampir semua negara Asia Timur merasakan imbasnya. Republik Rakyat Cina
(RRC),yang sebelumnya cukup berhasil mempertahankan pertumbuhan ekonominya di garis
positif, pada akhirnya mengalami kemerosotan eksportnya yang cukup dahsyat. Dari 21%
pada tahun 1997, menjadi 0,7% pada tahun 1998. Tidak hanya Cina sendiri, penurunan
eksport ini juga dirasakan oleh Jepang pada tahun 1995 berada di 4,2% namun di tahun 1997
merosot menjadi minus 0,1% bahkan tahun 1998 menurun hingga 7,8%. Ini menunjukkan
bahawa ekonomi-ekonomi perusahaan Asia Timur tidak dapat mencapai penjualan yang lebih
dari harga eksport yang rendah, yang diakibatkan oleh penurunan nilai mata uang, walaupun
Korea Selatan disisi lain berusaha meningkatkan jumlah eksport selama masa krisis, hasil
dolar melarat akibat harga rendah yang dihadapi.17
14 M. Byung, Opcit
15 ibid
16 Ibid.
17 Rumy Hasan, 1992, Asia Timur Sejak Krisis 1997, International Socialism
Journal, <http://www.google.ca/url?sa=t&rct=j&q=dampak%20krisis
%201997%20ke%20china%20dan

Krisis 1997 ini merupakan pukulan berat bagi negara-negara di kawasan Asia Timur.
Mereka harus merenovasi kebijakan domestik mereka untuk dapat tetap eksis di ranah
internasional. Salah satu dampak krisis yang paling sensitif itu ialah inflasi dan
pengangguran. Inflasi dan pengangguran yang meningkat ini lahir dari krisis keuangan yang
dirasakan masyarakat. Inflasi ini terjadi karena menurunnya nilai mata uang yang
mengakibatkan munculnya banyak pengangguran. Pengangguran berkaitan erat dengan resesi
ekonomi, dan 1998 adalah sebagai tahun klimaks dari resesi.
Pengangguran (%)
Indonesi

Korea

Selatan

Malaysia

Filipina

Negara

Negara

Thai

Cina

1996

4.9

2.0

2.5

8.6

1.8

5.6

1998

5.5

6.8

3.2

10.1

4.5

9.1

Sumber : Bank Dunia, World Development Indicators 2000 (online), (Washington,


2000)
Sesuai dengan table yang diatas bahwa pengaruh krisis ekonomi yang ada di di Asia
Timur membawa domino effect, terutama dalam hal pengangguran. Adanya efek yang
beruntun ini diakibatkan adanya interdependensi yang ada di dunia global.
Regionalisme & Pemulihan Ekonomi Kawasan Pasca Resesi
Krisis ekonomi 1997 menyadarkan negara-negara Asia Timur akan pentingnya
menjaga stabilitas perekonomian kawasan melalui intensifikasi hubungan regional. Interaksi
antar negara-negara Asia Timur pasca krisis 1997 menjadi patut dicermati, karena dapat
dikatakan bahwa krisis tersebut menjadi fase penting dalam lahirnya regionalisme di Asia
Timur. Kegiatan dagang antar negara-negara Asia Timur menjadi semakin intensif, dengan
tujuan menjaga stabilitas ekonomi kawasan. Negara Asia Timur cenderung meningkatkan
kerjasama dalam lingkup regional alih-alih internasional. Hal ini tidak lepas dari fakta bahwa
ketergantungan terhadap kucuran dana asing telah memperparah imbas krisis ekonomi.
Namun, krisis juga membawa dampak positif : sebagian besar negara Asia menggunakannya
%20jepang&source=web&cd=34&ved=0CGwQFjADOB4&url=http%3A%2F
%2Fmyunanto.staff.gunadarma.ac.id%2FDownloads%2Ffiles
%2F11502%2Fmemahami%2Bkrisis
%2Bglobal.pdf&ei=2OOzT4fXF8romAXW_sicBQ&usg=AFQjCNFE20wEobTRzH1dr1HwyjQ7SatcQ>, diunduh pada tanggal 16 Mei 2012

sebagai kesempatan untuk melakukan reformasi sistematis. Di dalam negeri, mereka


melakukan resktrukturisasi dan memperkuat sistem keuangan mereka; di tingkat regional,
mereka membentuk mekanisme bagi kerja sama dan pembiayaan darurat18.
Negara-negara Asia menjalin hubungan yang kian intens karena kesadaran bahwa
interdependensi adalah modal perwujudan stabilitas telah semakin dipahami. Intensifikasi
hubungan hubungan regional tampak pada beberapa sektor: kebijakan perdagangan,
penanaman modal asing langsung, saham, pariwisata, dan juga perdagangan (lihat tabel di
bawah)19.

Dari penjelasan sebelumnya, diketahui bahwa sekalipun tidak ada organisasi regional,
tetap ada regionalisasi di kawasan ini. Beberapa wujudnya adalah perdagangan, ODA dan
FDI. Semua ini telah berhasil mengangkat kembali perekonomian kawasan Asia Timur dari
18 Asian Development Bank, 2008, Kebangkitan Regionalisme Asia , Filipina,
p.9 , <http://aric.adb.org/emergingasianregionalism/pdfs/KRA%20Indonesia.pdf>
diakses pada 17 Mei 2012
19 ibid

keterpurukan pasca krisis 1990-an, benarkah demikian? Dalam menjawab pertanyaan besar
ini ada beberapa parameter yang dapat kita gunakan.
Yang pertama dan yang paling umum digunakan adalah GDP. Hal ini adalah tentang
bagaimana kondisi GDP negara negara kawasan ini saat krisis terjadi serta perubahannya
pasca munculnya regionalisasi diantara mereka. Hasilnya, dari data yang dihimpun dari Bank
Dunia, GDP negara negara kawasan ini bertumbuh pasca adanya regionalisasi. Data sejak
tahun 1998 sampai dengan tahun 2001 menunjukkan perubahan cukup menarik. Cina
misalnya, sempat mengalami penurunan pertumbuhan sebesar 0,2% pada masa krisis, dari
kisaran 0,985 Trilyun Dollar menjadi 1,018 Trilyun Dollar. GDP Cina lantas terus bertumbuh
pada kisaran 7,8 - 9,1% pada kurun waktu 1999-2001, yakni dari kisaran 1,038 Trilyun Dollar
menjadi 1,327 Trilyun Dollar. Belum lagi misalnya Jepang. Sempat mengalami pertumbuhan
negatif pada GDP-nya sebesar 2,4% pada masa krisis, yakni dari 4,216 trilyun Dollar menjadi
3,857 Trilyun Dollar. Namun pasca regionalisme, GDP jepang terus bertumbuh sekalipun
masih pada kisaran minus 0,14% setahun berikutnya. Namun di periode selanjutnya, GDP
Jepang bahkan bertumbuh hingga kisaran 2,8% menjadi sekitar 4,667 trilyun Dollar. Korea
lebih dramatis, hancur lebur saat krisis, pertumbuhan GDP negara tersebut berada kisaran
minus 6,85 persen dari angka 0,516 trilyun Dollar menjadi 0,344 trilyun Dollar. Namun
selanjutnya, GDP negara ini bertumbuh pesat di kisaran 9,48% menjadi sekitar 0,533 trilyun
Dollar20.
Selanjutnya adalah tingkat inflasi. Saat krisis melanda kawasan ini, inflasi dibeberapa
negara terutama Korea melonjak tinggi. Korea Selatan, mengalami inflasi sampai sebesar
kurang lebih 7 % saat krisis terjadi. Namun dengan adanya kerjasama baik berupa
perdagangan, ODA maupun FDI, angka ini mengecil menjadi sekitar 2% setahun pasca krisis.
Demikian halnya dengan Jepang yang pasca krisis terus mengalami deflasi sebesar kurang
lebih 0,2% - 0,3% setiap tahunnya secaara konstan.21 Data ini semakin kuat bila
dikomparasikan dengan data PPP (Purchasing Power Parity) perkapita atau yang kita kenal
dengan daya beli masyarakat. Data PPP dari Jepang, Cina dan Korea menunjukkan bahwa
daya beli masyarakat meningkat terus sejala denagn regionalisme kawasan ini. Cina,
mengalami kenaikan PPP yang konstan sebesar kurang lebih 200 Dollar sejak krisis 1999,
dimana PPP Cina berada pada angka 2120 Dollar. Jepang juga demikian, ada pada kisaran
20 World Bank National Accounts Data, Annual percentage growth rate of GDP,
World Bank, http://data.worldbank.org, diakses tanggal 4 Mei 2012
21 International Monetary Fund, International Financial Statistics and data files,
International Monetary Fund, http://www.imf.org, diakses tanggal 4 Mei 2012

24650 Dollar ditahun 1999, naik terus secara konstan dengan besaran kenaikan sekitar 7001500 Dollar tiap tahunnya pasca krisis. Terakhir, Korea juga mengalami hal yang sama, yakni
naiknya PPP secara konstan mulai tahun 1999 dari kisaran 14400 Dollar, terus bertumbuh
dari tahun ketahun dengan kisaran pertumbuhan sekitar 1000 Dollar22.
Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa krisis ekonomi 1997 merupakan titik
balik perekonomian Asia. Sektor ekonomi Asia Timur terus membaik pasca krisis 1998 dalam
tempo yang relatif cepat. Dengan parameter berupa peningkatan GDP, penurunan tingkat
inflasi serta bertumbuhnya daya beli masyarakat kawasan tersebut, dapat dikatakan bahwa
interaksi kawasan mengalami intensifikasi. Asia Timur memang belum memilki kerangka
organisasi regional yang permanen, namun hal ini tidak menghalangi terjadinya interaksi
antar negara yang sifatnya market-driven. Regionalisme Asia Timur bukan berwujud
organisasi regional, melainkan kerjasama ekonomi regional.

Referensi:

22 ibid

Asian Development Bank, 2008, Kebangkitan Regionalisme Asia , Filipina, p.9 ,


<http://aric.adb.org/emergingasianregionalism/pdfs/KRA%20Indonesia.pdf> diakses
pada 17 Mei 2012
Beeson, Mark, 2007, Regionalism & Globalization in East Asia, New York:
Palgrave Macmillan
Byung, M., 1999, South Koreas Financial Crisis in 1997: What Have We
Learned? ASEAN Economic Bulletin 16.2
Hasan, Rumy , 1992, Asia Timur Sejak Krisis 1997, International Socialism
Journal, <http://www.google.ca/url?sa=t&rct=j&q=dampak%20krisis%201997%20ke
%20china%20dan
%20jepang&source=web&cd=34&ved=0CGwQFjADOB4&url=http%3A%2F
%2Fmyunanto.staff.gunadarma.ac.id%2FDownloads%2Ffiles
%2F11502%2Fmemahami%2Bkrisis
%2Bglobal.pdf&ei=2OOzT4fXF8romAXW_sicBQ&usg=AFQjCNFE20wEobTRzH1dr1HwyjQ7SatcQ>, diunduh pada tanggal 16 Mei 2012
Hervie, Charles and Lee, hyun-Hoo , 2002, New Regionalism In East Asia; How
Does it Relate to The East Asian Economic Development Model? ASEAN Economic
Bulletin, Vol. 19, No. 2, pp. 123-140Published by: Institute of Southeast Asian Studies
(ISEAS) < http://www.jstor.org/stable/25773716 >, diakses pada 10 April 2012

Hook et.al, G.D., 2005, Japans International Relations:Politics, economics and


security , New York : Routledge
International Monetary Fund, International Financial Statistics and data files,
International Monetary Fund, <http://www.imf.org>, diakses tanggal 4 Mei 2012
Jeon, Yongin and Miller, Stephen M., 2002, The Performance of Domestic and
Foreign Banks: the Case of Korea and the Asian Financial Crisis. Working Paper
Johnson et al, C., 1990, Perkembangan Ekonomi Asia: Masa Kini dan Masa Depan,
Jakarta : CSIS,
Kusuma, D., 2010, Penerapan Kriteria Optimum Currency Area Dan Volatilitasnya:
Studi Kasus ASEAN-5 +3, Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Oktober 2010,
Naya, Seiji , 1992, Peran Kebijakan Perdagangan dalam Proses Industrialisasi di
Negara Berkembang Asia yang Pertumbuhan Ekonominyab Tinggi dalam
Keberhasilan Industrialisai di Asia Timur, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Siddique, M.A.B., 2006, Regionalsm, Trade and Economic Development in the
Asia-Pasific Region, UK: Edward Elgar Publishing Limited Edition
World Bank National Accounts Data, Annual percentage growth rate of GDP,
World Bank, <http://data.worldbank.org>, diakses tanggal 4 Mei 2012

Anda mungkin juga menyukai