Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN KASUS KEPANITERAAN UMUM

Topikal Aplikasi Flour pada Seluruh Gigi Decidui

Ari Novta Rianti


J530165029

KEPANITERAAN UMUM PERIODE 5


FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2016

I. PENDAHULUAN
Penggunaan topikal aplikasi flour merupakan salah satu cara untuk
mencegah terjadinya karies yang sering digunakan di klinik (Hawkins dkk.,
2003). Fluor merupakan unsur yang penting dalam pembentukan gigi dan tulang
yang mempunyai peran pembentukan email gigi, membuat struktur gigi menjadi
kuat, mampu mengurangi kemampuan bakteri dalam membentuk suasana asam.
Fluor bisa diberikan dalam bentuk air minum, cairan tetes, tablet, obat kumur, dan
pasta gigi. Bisa juga diberikan di tempat praktek dokter berupa larutan/gel yang
diaplikasikan pada gigi, yang disebut topical fluoridasi. Suplemen fluor yang
masuk ke dalam tubuh, seperti tablet, disebut sistemik. Fluor ini berguna untuk
benih-benih gigi yang akan tumbuh nanti. Sementara yang diaplikasikan pada
gigi, berguna pada saat itu juga. Di beberapa negara, air minum sudah diberi fluor,
sedangkan di Indonesia masih belum. Tablet fluor dapat diberikan sejak bayi
berumur 2 minggu hingga anak 16 tahun. Umur 2 minggu-2 tahun biasanya
diberikan dosis 0,25 mg, 2-3 tahun diberikan 0,5 mg, dan 3-16 tahun sebanyak 1
mg (Nova, 2010).
Kerja fluor dalam menghambat terjadinya karies yaitu fluor berikatan
dengan hidroksi apatit yang akan membentuk fluor apatit yang akan menurunkan
proses demineralisasi dan meningkatkan proses remineralisasi yang dapat
mencegah terjadinya karies. Tingkat risiko karies anak terbagi atas tiga kategori
yaitu risiko karies tinggi, sedang dan rendah Pembagian risiko karies ini
berdasarkan pengalaman karies terdahulu, penemuan di klinik, kebiasaan diet,
riwayat sosial, penggunaan fluor, kontrol plak, saliva dan riwayat kesehatan
umum anak (Angela, 2005). Penggunaan topikal aplikasi flour perlu diperhatikan
indikasi dan kontraindikasinya.
Indikasi dan kontraindikasi dari penggunaan topikal aplikasi flour menurut
Donley (2003):

A. Indikasi
1. pasien anak di bawah 5 tahun yang memiliki resiko karies sedang sampai
tinggi
2. gigi dengan permukaan akar yang terbuka
3. gigi yang sensitif
4. anak-anak dengan kelainan motorik, sehingga sulit untuk membersihkan
gigi (contoh:Down syndrome)
B. Kontraindikasi
1. pasien anak dengan resiko karies rendah
2. pasien yang tinggal di kawasan dengan air minum berfluor
3. ada kavitas besar yang terbuka
Macam-macam sediaan fluor terdiri dari NaF, APF, SnF, pernis fluor dan
pasta profilaksis. NaF merupakan sediaan fluor yang paling sering digunakan
karena dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama, memiliki rasa yang cukup
baik, tidak mewarnai gigi dan tidak mengiritasi gingiva. Senyawa NaF ini
memiliki konsentrasi yang dianjurkan penggunaannya yaitu sebesar 2%,
dilarutkan dalam bubuk 0,2 gram dengan air destilasi 10 ml. SnF kini jarang
digunakan karena menimbulkan rasa yang tidak enak, dapat mengubah warna gigi
dan mampu nmengiritasi gingiva. Konsentrasi senyawa yang dianjurkan untuk
SnF adalah 8%. APF memiliki sifat yang stabil, memiliki rasa yang bermacammacam, tidak menyebabkan pewarnaan gigi dan tidak menyebabkan iritasi
gingiva sehingga sediaan jenis ini juga sering digunakan. APF 1,23% dalam
bentuk gel memiliki tambahan rasa seperti jeruk, anggur, dan jeruk nipis. Pasta
profilaksis tidak dianjurkan sebagai sediaan penambah fluor karena kandungan zat
abrasifnya bisa menyebabkan terkikisnya lapisan luar email yang justru berkadar
fluor tinggi.

II. LAPORAN KASUS


A. PEMERIKSAAN SUBJEKTIF
1. IDENTITAS
Nama Lengkap

: Queena Belvania

Tempat / Tanggal Lahir : Surakarta, 15 April 2012


Usia

: 4 tahun

Jenis Kelamin
Alamat
Pekerjaan
Agama
No HP

: perempuan
: Sidoasih
: Pelajar
: Islam
:-

2. DATA MEDIK UMUM


Golongan Darah
: Belum diketahui
Alergi
: Tidak Ada
Penyakit Sistemik
: Tidak Ada
Operator
: Maika Ratri
3. ANAMNESIS
KeluhanUtama (CC)
Pasien datang dengan walinya ingin memeriksakan gigi geliginya
Riwayat Perjalanan Penyakit (PI)
Pasien tidak pernah merasakan sakit pada giginya
Riwayat Kesehatan Umum (PMH)
Pasien pernah dirawat inap di rumah sakit karena diare saat masih kecil
(menurut keterangan walinya). Pasien tidak memiliki riwayat penyakit
sistemik
Riwayat Kesehatan Gigi (PDH)
Pasien tidak pernah ke dokter gigi
Riwayat Kesehatan Keluarga (FH)
Umum :
Ayah : tidak memiliki penyait sistemik
Ibu : tidak memiliki penyait sistemik.
Gigi :
Ayah : tidak memiliki keluhan sakit gigi

Ibu : tidak memiliki keluhan sakit gigi


Riwayat Kehidupan Pribadi / Sosial (SH)
Pasien memiliki kebiasaan memakan coklat. Pasien menggosok gigi 2x
sehari saat mandi

B. PEMERIKSAAN OBJEKTIF
1. Kesan Umum Kesehatan Penderita
Jasmani : Sehat.
Mental : sehat (Kooperatif dan komunikatif)
2. Vital Sign
Tekanan Darah : 95/60mmHg (Normal)
Nadi

: 82x / menit

Pernafasan

: 20 x / menit

Suhu

: afebris

Berat Badan

: 15 kg

Tinggi Badan

: 100 cm

3. Pemeriksaan Ekstra Oral


Fasial

Neuromuskular
TAK

Kelenjar
Ludah
TAK

Kelenja
rLimfe
TAK

TulangR
ahang
TAK

Deformitas

TAK

Nyeri
Tumor

TAK

TAK

TAK

TAK

TAK

TAK

TAK

TAK

TAK

TAK

TAK

TAK

TAK

Bentuk muka : Lonjong, simetris


Profil

: Cembung

Bibir

: Sedang

Deskripsi lesi / kelainan yang ditemukan : 4. Pemeriksaan Intra Oral


- Mukosa Pipi
- Dasar Mulut

Mukosa Bibir : Tidak ada kelainan.


: Tidak ada kelainan.
: Tidak ada kelainan.

TMJ

Gingiva
Orofaring
Oklusi
Torus Palatinus
Torus Mandibula
Palatum
Supernumerary teeth
Diastema
Gigi Anomali
Gigi Tiruan
Oral hygiene (PHPM)
Lain-lain

: Tidak ada kelainan.


: Tidak ada kelainan.
: Normal Bite
: Ada
: Tidak Ada
: U normal
: Tidak Ada
: Tidak ada
: Tidak Ada
: Tidak Ada
: 12 (ringan)
:-

5. Pemeriksaan Gigi-Geligi
Gigi 75: Terdapat kavitas pada bagian oklusal kedalaman dentin
6. Gambaran Klinis

C.

DIAGNOSIS
D/ Gigi 75 Karies Dentin
Sondasi (+) terdapat lubang, Perkusi (-), Palpasi (-), Tes vitalitas (+)

D. RENCANA PERAWATAN
TP/ KIE
Restorasi Kavitas klas I dengan SIK
Topikal Aplikasi Flour

E. TAHAPAN PERAWATAN
1. Persiapan alat dan bahan

Alat diagnostik (kaca mulut: untuk melihat daerah yang tidak bisa dilihat
dengan mata secara langsung dan untuk meretraksi mukosa bukal, sonde:
untuk mengetahui ada tidaknya kavitas, pinset: untuk mengambil kassa
dan kapas, eskavator: untuk membersihkan jaringan karies)

Glass plate ( tempat memanipulasi SIK)

Agatte spatula (alat untuk mengaduk SIK)

Round bur (membuka kavitas)

Lowspeed handpiece dan highspeed handpiece (tempat pemasangan bur)

Celemek, handscoon, masker, bengkok

Suction (menghisap cairan saliva di dalam rongga mulut)

SIK tipe 2 (bahan restorasi kavitas)

Disclossing Agent (mengetahui ada tidaknya plak)

Brush (membersihkan gigi)

Pumice (bahan untuk membersihkan gigi, menghilangkan plak)

APF 1,23% (topikal aplikasi flour pada gigi geligi)

2. Persiapan Pasien
3. Restorasi kavitas klas I dengan SIK
4. Profilaksis di seluruh gigi menggunakan pumis yang dioleskan pada seluruh
gigi kemudian dengan menggunakan handpiece low speed dan brush diputar.

5. Isolasi daerah kerja, dengan meletakkan cotton roll di area bukal rahang atas.
Keringkan seluruh permukaan gigi. Aplikasikan APF menggunakan pinset dan
cotton pellet di seluruh permukaan gigi rahang atas terlebih dahulu, urut dari
regio kanan ke kiri. Kemudian isolasi daerah kerja rahang bawah pada bagian
dorsal lidah, serta mukosa bukal. Aplikasikan APF dari regio kiri ke kanan.
Pastikan semua gigi terlapisi oleh APF, diaplikasikan kurang lebih selama 7-8
menit. Kemudian diamkan selama 3-4 menit, baru setelah itu pasien
diperbolehkan menutup mulut.
6. memberikan instruksi pasca perawatan pada pasien dan walinya
Pasien diinstruksikan untuk tidak makan, minum, dan berkumur selama kurang
lebih 1 jam tetapi boleh meludah.

Foto Tahapan Perawatan

Gambar 1. Alat dan Bahan

Gambar 2. Profilaksis

Gambar 3. TAF RA

Gambar 4.TAF RB

III. HASIL PERAWATAN

Gambar 5. Setelah dilakukan topikal aplikasi flour


IV. PEMBAHASAN
Pasien anak perempuan berusia 4 tahun datang dengan walinya untuk
memeriksakan gigi geliginya. Pasien tidak pernah mengeluhkan adanya rasa sakit
pada giginya. Menurut keterangan walinya pasien pernah dirawat di rumah sakit
karena diare, dan pasien tidak dicurigai memiliki penyakit sistemik. Pasien belum
pernah ke dokter gigi sebelumnya. Ayah dan Ibu tidak memiliki riwayat keluhan
sakit gigi. Pasien memiliki kebiasaan memakan cokelat dan menggosok gigi 2x
sehari saat mandi. Pemeriksaan ektra oral tidak ditemukan kelainan. Pada
pemeriksaan intra oral pada gigi deciduinya ditemukan adanya karies kedalaman
dentin pada gigi 75. Sondasi (+) terdapat lubang, Perkusi (-), Palpasi (-), Tes
vitalitas (+). Kemudian dilakukan perawatan pada gigi 75 terlebih dahulu yaitu
dengan restorasi kavitas klas I menggunakan
SIK.
Perawatan topikal aplikasi flour kemudian
dilakukan setelah restorasi selesai. Perawatan
ini diberikan kepada pasien untuk mencegah
terjadinya karies pada gigi desiduinya. Karies

telah terjadi pada gigi 75, dengan penggunaan TAF ini diharapkan tidak terjadi
karies pada gigi lainnya mengingat pasien memiliki kebiasaan makan cokelat.
TAF yang digunakan pada pasien adalah bahan APF 1,23% dalam bentuk gel.
Pertimbangan dalam penggunaan APF ini karena sifatnya yang stabil, tersedia
dalam bermacam-macam rasa, tidak menyebabkan pewarnaan pada gigi dan tidak
mengiritasi gingiva. Bahan ini tersedia dalam bentuk larutan atau gel, siap pakai,
merupakan bahan topikal aplikasi yang banyak di pasaran dan dijual bebas. APF
dalam bentuk gel sering mempunyai tambahan rasaseperti rasa jeruk, anggur dan
jeruk nipis (Yanti, 2002).
Pemberian TAF dilakukan menggunakan teknik Bibby setelah profilaksis
dan pengeringan gigi. APF kemudian dioleskan ke seluruh permukaan gigi. Proses
yang terjadi saat gel APF menempel pada enamel gigi adalah fluor berikatan
dengan hidroksi apatit sehingga dapat membentuk fluorapatit yang akan membuat
enamel tahan terhadap asam sehingga dapat menurunkan proses demineralisasi
dan akan meningkatkan proses remineralisasi yang akan akan merangsang
perbaikan dan penghentian lesi karies.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
1. Pemberian topikal aplikasi flour berfungsi untuk menurunkan resiko
terjadinya karies pada gigi geligi.
2. Fluor pada APF berikatan dengan hidroksiapatit sehingga dapat
membentuk fluorapatit yang akan membuat enamel tahan terhadap asam
sehingga dapat menurunkan proses demineralisasi dan akan meningkatkan
proses remineralisasi yang akan akan merangsang perbaikan dan
penghentian lesi karies.
B. Saran

1. Penanganan pada pasien anak terutama dibawah 5 tahun harus dilakukan


secara baik, memberikan pengalihan perhatian sehingga pasien akan kooperatif
tetap mau membuka mulut selama pemberian topikal aplikasi flour.

DAFTAR PUSTAKA
Angela, A. 2005. Pencegahan Primer Pada Anak Yang Berisiko Karies Tinggi.
Maj. Ked. Gigi. (Dent. J.), Vol. 38. No. 3.
Donley, Kevin J. 2003. Fluoride Varnishes. Journal of Californian Dental
Association
Hawkins, R., Locker, D., Noble, J., 2003. Prevention. Part 7: Professionally
applied topical fluorides for caries prevention. London: British Dental
Journal 195(6):3137
Nova.

2010.

Rawat

Gigi

Sedini

Mungkin.

http://www.pdgi-

online.com/v2/index.php (diakses 4 November 2016)


Yanti, S. 2002. Topikal Aplikasi Pada Gigi Permanen Anak. USU e-Repository