Anda di halaman 1dari 19

PRESENTASI KASUS

Pembimbing :
dr. Herry Septa Yudha Utama, Sp. B, FinaCs

Disusun oleh :

Fachri Valyasevi

1102005085

Rizka Iradati

1102005230

Yurdhina Meilissa

1102005306

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI JAKARTA


SMF ILMU BEDAH
BRSUD ARJAWINANGUN KABUPATEN CIREBON
2011
I. Identitas Pasien
Nama

: Tn. J

Umur

: 51 tahun

Jenis kelamin

: laki-laki

Alamat

: Jamblang

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Buruh

II. ANAMNESIS
A. Keluhan Utama

Tangan

kiri

kesetrum

listrik
B. Keluhan Tambahan :

luka bakar daerah badan

C. Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien datang ke IGD RSUD Arjawinangun dengan keluhan tangan kiri
kesetrum listrik kurang lebih 1 bulan yang lalu tangan menghitam tangan
kiri sakit dirasakan, dan sudah tidak berasa pada bagian yang hitam, mati
rasa. Dan pada daerah yang lain bagian tubuh terdapat luka bakar akibat
sengatan listrik pada saat penderita mencolokan kabel ke listrik. Daerah
yang terluka akibat luka bakar pada bagian punggung bagian atas dan perut
bagain depan dan daerah lengan bawah bagian kiri. Mual disangkal, muntah
disangkal. badan meriang disangkal, badan panas disangkal,
D. Riwayat Penyakit Dahulu :
Diabetes militus disangkal, sesak asma disangkal, darah tinggi disangkal,
penyakit jantung disangkal.
E. Riwayat Penyakit Keluarga :
Keluarga pasien tidak ada.yang tersengat listrk.
III. PEMERIKSAAN FISIK (saat pasien datang)
Keadaan Umum

: Tampak Sakit Sedang

Kesadaran

: Compos Mentis

Vital Sign

: Tekanan darah : 120/80 mmHg

Nadi

: 80 x/menit

Respirasi

: 20 x/menit

Suhu

: 36,8 C

A. Status Generalisata
Kepala

: Simetris, mesochepal

Mata

: Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil


isokor, refleks cahaya (+/+)

Hidung

: Discharge (-/-)

Telinga

: tidak tampak kelainan

Leher

: Kelenjar thyroid tidak membesar, kelenjar limfe


tidak membesar

Thorax
-

Jantung
Inspeksi

: Ictus cordis tidak tampak

Palpasi

: Ictus cordis kuat angkat

Perkusi

: Batas kiri atas ICS II LMC sinistra


Batas kanan atas ICS II LPS dekstra
Batas kiri bawah ICS V LMC sinistra
Batas kanan bawah ICS IV LPS dekstra

Auskultasi

: S1 - S2 reguler, tidak terdapat suara jantung


tambahan

Paru
Inspeksi

: Simetris kanan kiri, retraksi (-)

Palpasi

: Vokal fremitus kanan sama dengan kiri

Perkusi

: Sonor di seluruh lapangan paru

Auskultasi

: Suara vesikuler kanan = kiri, tidak terdapat suara


napas tambahan

Abdomen

: lihat status lokalis

Ekstremitas

: Superior : Edema (-/-)


2

Inferior

: Edema (-/-)

B. Status Lokalis :
Abdomen
Inspeksi

: Supel, datar

Palpasi

: Defans muscular (-), nyeri tekan regio iliaca dextra dan


sinistra (+), nyeri lepas (-), rovsing sign (+), blumberg sign
(-)

IV.

Perkusi

: timpani pada seluruh lapang abdomen

Auskultasi

: Bising usus (+) normal

Uji psoas

: (+)

Uji obturator

: (-)

RESUME
A. Anamnesis
Pasien datang ke IGD RSUD Arjawinangun dengan keluhan tangan kiri
kesetrum listrik kurang lebih 1 bulan yang lalu tangan menghitam tangan
kiri sakit dirasakan, dan sudah tidak berasa pada bagian yang hitam, mati
rasa. Dan pada daerah yang lain bagian tubuh terdapat luka bakar akibat
sengatan listrik pada saat penderita memasang antena di tiang listrik
kemudian memegang sandaran tiang listrik yang mengandung tegangan
lisrik. Daerah yang terluka akibat luka bakar pada bagian punggung bagian
atas dan perut bagain depan dan daerah lengan bawah bagian kiri. Mual
disangkal, muntah disangkal. badan meriang disangkal, badan panas
disangkal. Sebelumnya pasien sudah dirawat jalan dirumah sakit lain selama
1 bulan dan rawat inap selama satu minggu. Kemudian pindah kerumah
sakit arjawinangun.
B. Pemeriksaan Fisik (saat pasien datang)
Keadaan Umum

: Tampak Sakit Sedang

Kesadaran

: Composmentis

Vital Sign

: Tekanan darah : 120/80 mmHg


Nadi

: 80 x/menit

Respirasi

: 20 x/menit

Suhu

: 36,8 C

Status Generalisata : Dalam batas normal


Status lokalis

Luka setrum pada bagian


Ekstremitas atas: lengan bawah tangan bagian kiri gengren
Punggung bagian atas, abdomen bagian depan.
Derajat luka bakar:
Abdomen
Inspeksi

: Supel, datar

Palpasi

: Defans muscular (-), nyeri tekan pada regio iliaca dextra


dan sinistra (+), nyeri lepas (-).

Perkusi

: timpani pada seluruh lapang abdomen

Auskultasi

: Bising usus (+) normal

Uji psoas

: (-)

Uji obturator

: (-)

V.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
-

Laboratorium darah rutin


Hb

: 9,7 g/dl

Ht

: 31 %

Leukosit

: 9400 / mm3

Trombosit : 284000 / mm3

VI.

DIAGNOSA KLINIS
Necrotic manus sinistra ec combutio Electric injury

VII. DIAGNOSA BANDING

VIII. PENATALAKSANAAN
Operatif

: bone quarter amputasi

Medikamentosa

: Antibiotik

inj. Ceftazidine 3 x 1 gr

Analgesik

inj Ketorolac 2 x 1 mg
Inj Ranitidine 2x1 mg
Inj metronidazol 3 x 50mg

Cairan
IX.

: IVFD RL 30 gtt/menit

PROGNOSIS :
Quo ad vitam

: ad bonam

Quo ad functionam

: ad bonam

Electric injury

CEDERA LISTRIK
Setiap tahunnya di amerika serikat, lebih dari 1000 kematian disebabkan oleh
sengatan listrik dan sambaran listrik. Jenis cedera ini ditemukan pada kira-kira 5 %
dari pasien yang datang ke unit luka bakar. Pada orang dewasa, sengatan listrik
biasanya merupakan kecelakaan ditempat kerja. Sedangakan pada anak, peralatan
rumah tangga dan stop kontak yang tidak dijaga merupakan penyebab sengatan
listrik yang paling sering. Cedera tersambar petir dapat menyerang semua kelompok
umur, khususnya didaerah pedesaan.
Kecelakaan listrik dapat terjadi di dalam dan diluar rumah, umpamanya karena kabel
listrik rusak, atau halilintar.
Jika tubuh dialiri arus listrik, akan terjadi kontraksi otot. Bila terpegang arus tlistrik,
misalnya, tangan tak dapat lepas dari sumber listrik tersebut karena fleksor jauh lebih
kuat dari pada ekstensor jari.

DEFINISI
Cedera Akibat Listrik adalah kerusakan yang terjadi jika arus listrik mengalir ke
dalam tubuh manusia dan membakar jaringan ataupun menyebabkan terganggunya
fungsi suatu organ dalam. Tubuh manusia adalah penghantar listrik yang baik.
Kontak langsung dengan arus listrik bisa berakibat fatal. Arus listrik yang mengalir
ke dalam tubuh manusia akan menghasilkan panas yang dapat membakar dan
menghancurkan jaringan tubuh.Meskipun luka bakar listrik tampak ringan, tetapi
mungkin saja telah terjadi kerusakan organ dalam yang serius, terutama pada
jantung, otot atau otak. Arus listrik bisa menyebabkan terjadinya cedera melalui 3
cara:
Henti jantung (cardiac arrest) akibat efek listrik terhadap jantung
Perusakan otot, saraf dan jaringan oleh arus listrik yang melewati tubuh
6

Luka bakar termal akibat kontak dengan sumber listrik.

Anatomi Kulit

Fungsi Kulit :

Mencegah kehilangan cairan sehingga tidak terjadi syok hipovolemik

Mencegah infeksi supaya tidak timbul Sepsis

Pembungkus elastis dari sendi supaya tidak terjadi kekakuan sendi /


kontraktur

Fase Luka Bakar


Fase Awal/Akut/shock
Keadaan yang ditimbulkan berupa :
a. Cedera Inhalasi
Mekanisme trauma dibagi 3 :
1. Inhalasi Carbon Monoksida (CO)
CO merupakan gas yang dapat merusak oksigenasi jaringan , dalam darah berikatan
dengan Hb dan memisahkan Hb dengan O2 sehingga akan menghalangi penggunaan
oksigen.
2. Trauma panas langsung mengenai saluran nafas
Sering mengenai saluran nafas bagian atas jarang mengenai bagian bawah karena
sebelum mencapai trachea secara reflek terjadi penutupan plica dan penghentian

spasme laryng. Edema mukosa akan timbul pada saluran nafas bagian atas yang
menyebabkan obstruksi lumen, 8 jam pasca cedera. Komplikasi trauma ini
merupakan penyebab kematian terbanyak.
3. Efek samping sisa pembakaran
Gas karosen, aldehid akan mengiritasi mukosa membran karena merupkan toksik
yang iritan.
b. Cedera Termis
Menimbulkan gangguan sirkulasi keseimbangan cairan & elektrolit, sehingga
berakibat terjadi perubahan permeabilitas kapiler dan menyebabkan odema
selanjutnya terjadi syok hipovolemi. Kejadian ini akan menimbulkan :
Paru
Perubahan inflamatorik mukosa bagian nafas bawah, akan menimbulkan gangguan
difusi oksigen Acquired Respiratory Distress Syndrome(ARDS), ini akan timbul
hari ke-4,5 pasca cedera termis
Hepar
SGOT, SGPT meningkat
Ginjal
ARF menjadi ATN
Lambung
Stres Ulcer
Usus
Illeus menyebabkan translokasi bakteri kemudian terjadi sepsis yang menyebabkan
perforasi akhirnya terjadilah peritonitis
Fase Sub-Akut
Terjadi setelah shock teratasi, luka terbuka disini akan menimbulkan :

Proses Inflamasi disertai eksudasi dan kebocoran protein

Infeksi yang menimbulkan sepsis


8

Proses penguapan cairan tubuh disertai panas(evaporasi heat loss)

Fase Lanjut
Terjadi setelah penutupan luka sampai terjadi maturasi. Masalah yang timbul adalah
jaringan parut, kontraktur dan deformitas akibat kerapuhan jaringan atau organ
strukturil.
Klasifikasi Luka Bakar
A. Berdasarkan Penyebab

Suhu

Baik panas ataupun dingin (frost bite), pada ujung ekstremitas dapat menimbulkan
nekrosis akibat dingin. Penanganan dengan pemberian antibiotik propilaksis sampai
putus dengan sendirinya, karena puntungnya akan lebih baik hasilnya dari amputasi.

Listrik , akibat terkena petir

Kimia

Radiasi

Laser , CO2 laser

B. Berdasarkan Kedalaman kerusakan jaringan


Derajat I (superficial skin burn)

Hanya reaksi inflamasi, kerusakan mengenai epidermis

Kulit kering, merah (erithema)

Nyeri karena ujung saraf sensorik teriritasi

Sembuh spontan 5 10 hari

Derajat II (partial skin burn)

Kerusakan meliputi dermis, sebagian dermis masih ada yang sehat

Bula (+) , bila bula pecah terlihat luka basah kemerahan

Nyeri (+) , Pin prick test (+)

Sembuh dalam 2-3 minggu.Tak perlu flapping

Derajat III (Full thickness skin burn)

Kerusakan seluruh tebal dermis, bisa sampai subcutis, tidak ada epitel kulit
yang sehat. Terjadi koagulasi protein dikenal sebagai ESCAR.

Bula (-), bila bula pecah lukanya kering warna abu-abu

Nyeri (-), karena ujung saraf sensorik rusak, Pin prick test(-)

Penyembuhan sulit perlu cangkok kulit (STSG)

10

Luas Luka Bakar :


Dewasa : Hukum 9 (Rule Of Nine(s)) atau anak Table Lund & Bowder
- Permukaan kepala : 9 %
- Permukaan pinggang

: 9%

- Permukaan setiap lengan: 9 %


- Permukaan paha

: 9%

- Permukaan dada

: 9%

- Permukaan betis

: 9%

- Permukaan perut

: 9%

- Perineum & genital : 9 %


- Permukaan punggung

: 9%

- Telapak tangan

: 1%

Bayi

: Rumus 10

Anak : Rumus 10-15-10


Atau menggunakan tabel Lund & Browder
- Kepala leher
- Depan belakang

: 15 %
: 20 %

- Ekstermitas atas kanan kiri

: 10 %

- Ekstremitas bawah ka/kiri : 15 %

11

Kategori Penderita Luka Bakar :


1. Luka Bakar Berat / kritis
- Derajat II-III > 40%
- Derajat III pada muka, tangan, kaki
- Trauma jalan nafas tanpa memikirkan luas luka bakar
- Trauma listrik
- Disertai trauma lainnya , misal fraktur
2. Luka Bakar Sedang
- Derajat II 15-40%
- Derajat III < 10% , kecuali muka, tangan dan kaki
3. Luka Bakar Ringan
- Derajat II < 15%

12

- Derajat III < 2%


kategori ini untuk kepentingan prognosis berhubungan dengan angka morbiditas dan
mortalitas
Prognosis dan Berat ringannya luka bakar ditentukan :
1. Kedalaman : derajat I, II atau III
2. Luasnya : ditentukan prosentase
3. Daerah yang terkena
4. Usia
5. Keadaan kesehatan
ETIOLOGI
Cedera listrik bisa terjadi akibat tersambar petir atau menyentuh kabel maupun
sesuatu yang menghantarkan listrik dari kabel yang terpasang.Cedera bisa berupa
luka bakar ringan sampai kematian, tergantung kepada:
1. Jenis dan kekuatan arus listrik Secara umum, arus searah (DC) tidak terlalu
berbahaya jika dibandingkan dengan arus bolak-balik (AC).
Efek AC pada tubuh manusia sangat tergantung kepada kecepatan berubahnya arus
(frekuensi), yang diukur dalam satuan siklus/detik (hertz). Arus frekuensi rendah (5060 hertz) lebih berbahaya dari arus frekuensi tinggi dan 3-5 kali lebih berbahaya dari
DC pada tegangan (voltase) dan kekuatan (ampere) yang sama.
DC cenderung menyebabkan kontraksi otot yang kuat, yang seringkali mendorong
jauh/melempar korbannya dari sumber aurs.
AC sebesar 60 hertz menyebabkan otot terpaku pada posisinya, sehingga korban
tidak dapat melepaskan genggamannya pada sumber listrik. Akibatnya korban
terkena sengatan listrik lebih lama sehingga terjadi luka bakar yang berat.
Biasanya semakin tinggi tegangan dan kekuatannya, maka semakin besar kerusakan
yang ditimbulkan oleh kedua jenis arus listrik tersebut.
Kekuatan arus listrik diukur dalam ampere. 1 miliampere (mA) sama dengan 1/1,000
ampere.
Pada arus serendah 60-100 mA dengan tegangan rendah (110-220 volt), AC 60 hertz
yang mengalir melalui dada dalam waktu sepersekian detik bisa menyebabkan irama
jantung yang tidak beraturan, yang bisa berakibat fatal.
Efek yang sama ditimbulkan oleh DC sebesar 300-500 mA.
Jika arus langsung mengalir ke jantung, misalnya melalui sebuah pacemaker, maka
bisa terjadi gangguan irama jantung meskipun arus listriknya jauh lebih rendah
(kurang dari 1 mA).

13

2. Ketahanan tubuh terhadap arus listrikResistensi adalah kemampuan tubuh untuk


menghentikan atau memperlambat aliran arus listrik.
Kebanyakan resistensi tubuh terpusat pada kulit dan secara langsung tergantung
kepada keadaan kulit. Resistensi kulit yang kering dan sehat rata-rata adalah 40 kali
lebih besar dari resistensi kulit yang tipis dan lembab.
Resistensi kulit yang tertusuk atau tergores atau resistensi selaput lendir yang lembab
(misalnya mulut, rektum atau vagina), hanya separuh dari resistensi kulit utuh yang
lembab.
Resistensi dari kulit telapak tangan atau telapak kaki yang tebal adalah 100 kali lebih
besar dari kulit yang lebih tipis.
Arus listrik banyak yang melewati kulit, karena itu energinya banyak yang
dilepaskan di permukaan. Jika resistensi kulit tinggi, maka permukaan luka bakar
yang luas dapat terjadi pada titik masuk dan keluarnya arus, disertai dengan
hangusnya jaringan diantara titik masuk dan titik keluarnya arus listrik.
Tergantung kepada resistensinya, jaringan dalam juga bisa mengalami luka bakar.
3. Jalur arus listrik ketika masuk ke dalam tubuh
Arus listrik paling sering masuk melalui tangan, kemudian kepala; dan paling sering
keluar dari kaki.
Arus listrik yang mengalir dari lengan ke lengan atau dari lengan ke tungkai bisa
melewati jantung, karena itu lebih berbahaya daripada arus listrik yang mengalir dari
tungkai ke tanah.
Arus yang melewati kepala bisa menyebabkan:
- kejang
- perdarahan otak
- kelumpuhan pernafasan
- perubahan psikis (misalnya gangguan ingatan jangka pendek, perubahan
kepribadian, mudah tersinggung dan gangguan tidur)
- irama jantung yang tidak beraturan.
Kerusakan pada mata bisa menyebabkan katarak.
4. Lamanya terkena arus listrik.
Semakin lama terkena listrik maka semakin banyak jumlah jaringan yang mengalami
kerusakan.
Seseorang yang terkena arus listrik bisa mengalami luka bakar yang berat. Tetapi,
jika seseorang tersambar petir, jarang mengalami luka bakar yang berat (luar maupun
dalam) karena kejadiannya berlangsung sangat cepat sehingga arus listrik cenderung
melewati tubuh tanpa menyebabkan kerusakan jaringan dalam yang luas.
Meskipun demikian, sambaran petir bisa menimbulkan konslet pada jantung dan
paru-paru dan melumpuhkannya serta bisa menyebabkan kerusakan pada saraf atau
otak.

14

MANIFESTASI
Gejalanya tergantung kepada interaksi yang rumit dari semua sifat arus listrik.
Suatu kejutan dari sebuah arus listrik bisa mengejutkan korbannya sehingga dia
terjatuh atau menyebabkan terjadinya kontraksi otot yang kuat. Kedua hal tersebut
bisa mengakibatkan dislokasi, patah tulang dan cedera tumpul.
Kesadaran bisa menurun, pernafasan dan denyut jantung bisa lumpuh.
Luka bakar listrik bisa terlihat dengan jelas di kulit dan bisa meluas ke jaringan yang
lebih dalam.
Arus listrik bertegangan tinggi bisa membunuh jaringan diantara titik masuk dan titik
keluarnya, sehingga terjadi luka bakar pada daerah otot yang luas. Akibatnya,
sejumlah besar cairan dan garam (elektrolit) akan hilang dan kadang menyebabkan
tekanan darah yang sangat rendah.
Serat-serat otot yang rusak akan melepaskan mioglobin, yang bisa melukai ginjal dan
menyebabkan terjadinya gagal ginjal.
Dalam keadaan basah, kita dapat mengalami kontak dengan arus listrik. Pada
keadaan tersebut, resistensi kulit mungkin sedemikian rendah sehingga tidak terjadi
luka bakar tetapi terjadi henti jantung (cardiac arrest) dan jika tidak segera
mendapatkan pertolongan, korban akan meninggal.
Petir jarang menyebabkan luka bakar di titik masuk dan titik keluarnya, serta jarang
menyebabkan kerusakan otot ataupun pelepasan mioglobin ke dalam air kemih.
Pada awalnya bisa terjadi penurunan kesadaran yang kadang diikuti dengan koma
atau kebingungan yang sifatnya sementara, yangi biasanya akan menghilang dalam
beberapa jam atau beberapa hari.
Penyebab utama dari kematian akibat petir adalah kelumpuhan jantung dan paru-paru
(henti jantung dan paru-paru).
DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik.
Untuk memantau denyut jantung korban dilakukan pemeriksaan elektrokardiogram.
Jika diperkirakan jantung telah menerima kejutan listrik, pemantauan EKG dilakukan
selama 12-24 jam. Jika korban tidak sadar atau telah mengalami cedera kepala,
dilakukan CT scan untuk memeriksa adanya kerusakan pada otak.
PENATALAKSANAAN
Pengobatan terdiri dari:
- menjauhkan/memisahkan korban dari sumber listrik
- memulihkan denyut jantung dan fungsi pernafasan melalui resusitasi jantung paru
(jika diperlukan)
- mengobati luka bakar dan cedera lainnya.
15

Cara paling aman untuk memisahkan korban dari sumber listrik adalah segera
mematikan sumber arus listrik. Sebelum sumber listrik dimatikan, penolong
sebaiknya jangan dulu menyentuh korban, apalagi jika sumber listrik memiliki
tegangan tinggi.
Jika sumber arus tidak dapat dimatikan, gunakan benda-benda non-konduktor (tidak
bersifat menghantarkan listrik; misalnya sapu, kursi, karpet atau keset yang terbuat
dari karet) untuk mendorong korban dari sumber listrik. Jangan menggunakan bendabenda yang basah atau terbuat dari logam.
Jika memungkinkan, berdirilah di atas sesuatu yang kering dan bersifat nonkonduktor (misalnya keset atau kertas koran yang dilipat). Jangan coba-coba
menolong korban yang berada dekat arus listrik bertegangan tinggi. Jika korban
mengalami luka bakar, buka semua pakaian yang mudah dilepaskan dan siram bagian
yang terbakar dengan air dingin yang mengalir untuk mengurangi nyeri.
Jika korban pingsan, tampak pucat atau menunjukkan tanda-tanda syok, korban
dibaringkan dengan kepala pada posisi yang lebih rendah dari badan dan kedua
tungkainya terangkat, selimuti korban dengan selimut atau jaket hangat.
Cedera listrik seringkali disertai dengan terlontarnya atau terjatuhnya korban
sehingga terjadi cedera traumatik tambahan, baik berupa luka luar yang tampak nyata
maupun luka dalam yang tersembunyi. Jangan memindahkan kepala atau leher
korban jika diduga telah terjadi cedera tulang belakang.
Setelah aman dari sumber listrik, segera dilakukan pemeriksaan terhadap fungsi
pernafasan dan denyut nadi.Jika terjadi gangguan fungsi pernafasan dan nadinya
tidak teraba, segera lakukan resusitasi. Sebaiknya dicari tanda-tanda patah tulang,
dislokasi dan cedera tumpul maupun cedera tulang belakang.Jika terjadi kerusakan
otot yang luas, mungkin akan diikuti dengan kerusakan ginjal, karena itu untuk
mencegah kerusakan ginjal, berikan banyak cairan kepada korban.Korban sambaran
petir seringkali bisa disadarkan dengan resusitasi jantung paru.

PENCEGAHAN
Jauhkan kabel listrik dari jangkauan anak-anak
Gunakan pengaman pada colokan listrik
Ajarkan kepada anak-anak mengenai bahaya dari listrik
Ikuti petunjuk pabrik jika menggunakan alat-alat elektronik
Hindari pemakaian alat listrik pada keadaan basah
16

Jangan pernah menyentuh alat listrik ketika sedang memegang keran atau pipa air
Untuk menghindari sambaran petir sebaiknya tidak berada di tempat terbuka
(lapangan) dan segera mencari tempat perlindungan selama hujan turun (tetapi
jangan berada dibawah pohon atau pelindung yang terbuat dari logam). Segera
tinggalkan kolam renang, berada di dalam mobil akan lebih aman.

DAFTAR PUSTAKA
1. R, Syamsuhidajat, Wim de Jong; Buku Ajar Ilmu Bedah : Jakarta EGC, 1997,
hal 523- 537
2. FK UI, Kapita Selekta Kedokteran, edisi ke III, Jilid ke 2 editor Arif Mawyur,
Media Aesculapius, Jakarta 2000.
3. Schwartz. Principles of Surgery. Ed. 7th. The McGraw-Hills Company, 1999
4. Dunphy Englebert J, MD, Way W Lawrence, MD, Current Surgical Diagnosis
& Treatment.
5. Sabiston, Devid C; Buku Ajar Bedah : Sabistons Essential Surgey, Alih
Bahasa Petrus Andrianto, Timah I. S; editor, Jonatan Oswan - Jakarta : EGC,
1995, hal 228 - 231.
17

18