Anda di halaman 1dari 21

PENDAHULUAN

Pembelajaran merupakan suatu proses yang dilakukan oleh guru dan siswa
dalam suatu kelas untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Pembelajaran akan
berhasil dan bermakna apabila seorang guru menerapkan pendekatan, metode,
strategi, serta teknik yang baik ketika mengajar. Tak hanya itu, teknik evaluasi
atau penilaian pun menjadi hal yang tak boleh ketinggalan dalam pengajaran.
Berbagai pendekatan dan metode digunakan oleh guru sebagai penunjang dalam
menyampaikan materi dan memudahkan dalam proses pembelajaran, sedangkan
penilaian digunakan untuk mengukur seberapa besar keberhasilan pembelajaran di
kelas.
Penilaian umumnya dilakukan dengan tes. Tes sangat bermanfaat untuk
mengukur pengetahuan akademik siswa. Namun, disamping itu seorang guru pun
seyogyanya menilai dengan menggunakan teknik non tes. Hal ini dikarenakan
tidak semua aspek dapat dinilai melalui tes, seperti penilaian terhadap sikap,
minat, bakat, dan motivasi.
Menurut Hasyim (1997, hlm. 9) penilaian non test adalah penilaian yang
mengukur kemampuan siswa-siswa secara langsung dengan tugas-tugas yang
riil. Adapun menurut Sudjana (1986, hlm. 67), kelebihan non test dari test
adalah sifatnya lebih komprehensif, artinya dapat digunakan untuk menilai
berbagai aspek dari individu sehingga tidak hanya untuk menilai aspek kognitif,
tetapi juga aspek afektif dan psikomotor, yang dinilai saat proses pelajaran
berlangsung. Jika evaluator hanya menggunakan teknik tes saja, tentu data yang
dikumpulkan menjadi kurang lengkap dan tidak bermakna, bahkan dapat
merugikan pihak-pihak tertentu. Hal ini menunjukan betapa pentingnya
penggunaan teknik non tes dalam suatu penilaian.
Berdasarkan uraian diatas, diperlukan suatu langkah untuk menyusun dan
mengembangkan instrumen non tes diantaranya seperti penggunaan skala
penilaian, sikap, dan minat. Sehingga nantinya evaluator dapat menilai tidak
hanya dari segi akademik saja, tetapi dapat menilai aspek lain yang berhubungan
dengan siswa ketika proses pembelajaran berlangsung.

SKALA PENILAIAN
A. Pengertian Skala Penilaian
Skala penilaian adalah salah satu bentuk pedoman observasi yang
dipergunakan untuk mengumpulkan data individu dengan menggolongkan,
menilai tingkah laku individu atau situasi dalam tingkatan-tingkatan tertentu.
Skala penilaian menghendaki penilaian dilakukan menurut pertimbangan kualitatif
menyangkut tingkat kehadiran sebuah perilaku. Sebuah skala penilaian
mengandung

seperangkat karakteristik atau kualitas yang harus diputuskan

dengan menggunakan suatu prosedur yang sistematis.


Skala penilaian biasanya terdiri dari suatu daftar yang berisi gejala-gejala atau
ciri-ciri tingkah laku yang harus dicatat secara bertingkat, sehingga observer
tinggal memberi tanda cek pada tingkat mana gejala atau ciri-ciri tingkah laku itu
muncul. Adapun gejala atau ciri-ciri tingkah laku yang dapat diamati dengan alat
skala penelitian, antara lain: partisipasi siswa dalam kegiatan diskusi, kegiatan
partisipasi siswa dalam kegiatan diskusi, kegiatan belajar dengan sistem modul,
kehadiran siswa dalam mengikuti pelajaran di kelas, kebiasaan mengganggu
teman, ketrampilan di dalam kelas, dan lain-lain topik yang relevan dengan
kehidupan di sekolah.
B. Bentuk-Bentuk Skala Penilaian
Adapun bentuk-bentuk skala penilaian yang dipakai antara lain sebagai berikut:
1. Skala Penilaian Kuantitatif
Skala penilaian kuantitatif adalah suatu bentuk pedoman observasi yang
mendiskripsikan aspek-aspek tingkah laku yang diamati dijabarkan dalam
skala berbentuk bilangan atau angka. Penilai cukup menandai indikasi tingkat
sebuah karakteristik yang hadir. Sejumlah nomor yang berurutan ditentukan
untuk mendeskripsikan kategori-kategori. Satu sistem penilain dengan angka
yang umum digunakan sebagai berikut:

a)
b)
c)
d)
e)

Tidak memuaskan
Di bawah rata-rata
Rata-rata
Di atas rata-rata
Luar biasa

Sistem penilaian dengan angka dapat digunakan untuk mengevaluasi


perilaku-perilaku siswa sekolah dasar seperti berikut:
a. Pada tingkat mana siswa dapat menyelesaikan tugas mereka?
1

b. Pada tingkat mana siswa kooperatif dalam aktivitas-aktivitas kelompok?


1

Contoh penilaian dengan menggunakan skala angka dalam pembelajaran


Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar yaitu sebagai berikut:
Nama siswa .
Kriteria

Tema

Bagus Sekali

Bagus

Cukup

Berlatih Lagi

Mengidentifikasi
informasi penting
Menjelaskan
bagian
yang menarik
Memberikan pendapat
Memberikan saran
Total nilai
Komentar
2. Skala Penilaian Deskriptif
Skala penilaian deskriptif adalah suatu bentuk pedoman observasi
yang mendiskripsikan aspek-aspek tingkah laku yang diamati dijabarkan
dalam skala berbentuk kata-kata diskriptif. Dibawah ini merupakan contoh
penilaian menggunakan skala deskriptif mengenai diskusi dalam
pembelajaran di Sekolah Dasar:
Pedoman Observasi
I.

: Skala Penilaian Deskriptif

Identitas Siswa
1. Nama

: ...............................................................

2. Kelas

: ...............................................................

3. No. Absen

: ...............................................................

4. Jenis Kelamin

: ...............................................................

5. Tempat / tgl. Lahir

: ...............................................................

6. Hari /tgl. Observasi

: ...............................................................

7. Tempat observasi

: ...............................................................

8. Waktu

: ...............................................................

II. Aspek yang di observasi : Aktifitas Diskusi


III. Petunjuk

: Berikan tanda cek (v) pada kolom yang sesuai


dengan gejala perilaku pada individu yang anda
amati
Alternatif
Pernyataan

Sering

Aktif

Jarang

1. Mempelajari materi sebelum-nya


2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Mempelajari aturan/ perintah diskusi


Mempersiapkan kelengkapan diskusi
Mendengarkan .
Mengajukan pertanyaan
Menyampaikan gagasan
Menyanggah pendapat dengan baik
Menjawab pertanyaan
Mengerjakan tugas isian

10 Merangkum hasil.
Komentar / kesimpulan:
....................................................................................................................................
...................................................................................................................................
Observer : ..............................
3. Skala Penilaian Grafis
Skala penilaian grafis berbentuk rangkaian (continuum). Satu set
kategori dideskripsikan pada poin-poin tertentu sepanjang baris, namun
penilai dapat menandai keputusannya pada salah satu tempat pada baris
tersebut. Sebagai tambahan, skala penilaian grafis menyediakan gambaran

Tidak
aktif

serangkaian visual yang membantu penilai meletakkan posisi jawaban


secara benar. Contoh deskripsi skala penilaian grafis seperti berikut.
a) Tidak pernah
b) Jarang
c) Sekali-sekali
d) Seringkali
e) Selalu
Sistem penilaian secara grafis dapat digunakan untuk mengevaluasi siswa
Sekolah Dasar seperti berikut:
a. Pada tingkat mana siswa dapat menyelesaikan tugas mereka?
Tidak pernah
Jarang Sekali-sekali Seringkali
Selalu
b. Pada tingkat mana siswa kooperatif dalam aktivitas-aktivitas
kelompok?
Tidak pernah

Jarang Sekali-sekali Seringkali

Selalu

Dibawah ini merupakan contoh skala penilaian menggunakan grafis


terhadap perilaku siswa dalam pembelajaran di Sekolah Dasar:
Nama Siswa

: ....

Kelas
Tanggal Pengamatan
Materi Pokok

: .
: ..
: ..

No.

Aspek Pengamatan

1.
2.
3.
4.
5.

Masuk kelas tepat waktu


Mengumpulkan tugas tepat waktu
Memakai seragam sesuai tata tertib
Mengerjakan tugas yang diberikan
Tertib dalam mengikuti pembelajaran
Membawa buku teks sesuai mata

6.

pelajaran
Jumlah Skor

Ket:

SL

Skor
SR KD

TP

SL
SR
KD
TP
Selain

: Selalu
: Sering
: Kadang-Kadang
Tidak Pernah
menggunakan skala penilaian diatas, ada beberapa skala penilaian

dalam bentuk lain diantaranya skala bebas, skala 1 10, skala 1 100 dn
skala huruf.
1. Skala bebas
Skala bebas ini merupakan skala yang tidak tetap atau dapat berubahubah. Ani merupakan siswa sekolah dasar. Suatu hari dia akan
melaksanakan ulangan matematika. Ketika mengerjakan soal- soal
tersebut ani merasa tidak yakin dengan rumus- rumus yang dia gunakan
karena dia tidak mengingat dengan jelas rumus tersebut. ketika ujian telah
selesai Ani baru mengingat dengan jelas rumus tersebut. nilai ulangan
matematika pun keluar, Ani merasa sangat bangga karena dia
mendapatkan nilai 10. Namun ketika Ani membandingkan dengan temantemannya Ani merasa kecewa karena beberapa temannya mendapatkan
nilai yang lebih besar dari Ani. Ani mengira bahwa nila 10 merupakan
nilai terbesar yang dia peroleh.
Dari gambaran tersebut nampak bahwa dalam pikiran Ani angka 10
merupakan angka tertinggi yang mungkin dicapai. Cara pemberian angka
seperti ini tidak salah, hanya sayangnya guru perlu memberikan
pengertian kepada siswanya dan memberi tahukan cara mana yang
digunakan untuk memberikan angka atau skor. Jadi angka tertinggi dari
skala yang digunakan tidak selalu sama, ada kalanya skor tertinggi 20, 35
dan lain- lain. Tergantung dari banyaknya soal dan bentuk soal.
2. Skala 1 10
Umumnya guru- guru di Indonesia mempunyai kebiasaan
menggunakan skala 1 10 dalam laporan prestasi belajar siswa dalam
rapor. Dalam skala 1 10 guru jarang memberikan nilai pecahan,
misalnya 5,5 . angka 5,5 tersebut akan dibulatkan menjadi 6. Dengan
demikian rentangan angka 5,5 sampai dengan 6,4 (rentangan 1) akan
ditarik menjadi 6.
3. Skala 1- 100

Memang diseyigiakan angka merupakan bilangan bulat. Dengan


menggunakan skala 1 10 maka bilangan bulat yang masih menunjukkan
penilaian yang agak kasr. Ada sebenarnya hasil prestasi yang berada di
kedua angka bulat itu. Untuk itulah dengan menggunakan angka 1 100 ,
dimungkinkan melakukan penilaian yang lebih halus karena terdapat 100
bilangan bulat. Dengan menggunakan skala 1 100 ini boleh dituliskan
55, 66, 77 dan lain- lainnya.
4. Skala huruf
Selain menggunakan angka pemberian nilai dapat dilakukan
menggunakan huruf seperi A, B, C, D dan E. Ada beberapa penilaian yang
mengunakan huruf sampai G, namun pada umumnya hanya menggunakan
5 huruf tersebut. huruf terdapat dalam barisan abjad. Penggunaan huruf
dalam penilaian dapat menimbulkan sedikit masalah, ketika pengambilan
jumalah atau rata- rata. Sehingga ketika mengunakan skala ini huruf- hirif
tersebut harus ditransformasikan kedalam bentuk bilangan terlebih dahulu
agar dapat menghitung jumlah atau rata- rata dengan mudah.
C. Langkah-Langkah Penyelenggaraan Skala Penilaian
Terdapat tiga tahap penyelenggaraan kegiatan observasi dengan teknik skala
penilaian, yaitu: tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap analisis hasil.
Tahap persiapan meliputi: langkah penetapan topik, langkah penentuan variabel,
indikator, prediktor, item-item pernyataan, langkah penentuan alternatif skala,
langkah penentuan kriteria, langkah penyusunan pedoman observasi. Tahap
pelaksanaan,

meliputi:

langkah-langkah

penyiapan

pedoman

observasi,

pengambilan atau penentuan posisi observasi, dan pengamatan perilaku observee


serta pencatatan dengan skala. Dan tahap analisis hasil, meliputi: langkah-langkah
penyusunan data hasil observasi dan penyimpulan data.
D. Kelebihan Skala Penilaian
Skala penilaian umumnya dapat digunakan untuk menilai sebuah karakteristik
sosial siswa. Skala penilaian memiliki indikator arahan yang mewakili perilaku
dan tingkat kerja sama dalm bersosialisasi siswa di dalam kelas. Skala penilaian
tergolong cepat dan mudah, karena dalam skala sudah tersedia penjelasan perilaku

siswa, sehingga akan lebih mudah melakukan penilaian. Skala penilaian dapat
diaplikasikan secara langsung. Hal ini dikarenakan skala penilaian umumnya
mudah dimengerti

dan universal, disebabkan karena indikator memberikan

penjelasan yang dibutuhkan dalam menilai. Skala penilaian umumnya konsisten


sehingga guru dapat dengan mudah mengembangkannya. Secara keseluruhan
skala penilaian memberikan banyak kemudahan dalam menilai, skala penilaian
lebih terarah.
E. Kelemahan Skala Penilaian
Selain kelebihan, skala penilaian pun memiliki kelemahan-kelemahan,
diantaranya sebagai berikut:
1. Ada kemungkinan terjadi halo effects, yaitu kelemahan yang akan timbul jika
dalam pencatatan observasi terpikat oleh kesan-kesan umum yang baik pada
peserta didik sementara ia tidak menyelidiki kesan-kesan umum itu.
Misalnya, seorang guru terkesan oleh sopan santun dari peserta didik
sehingga memberikan nilai yang tinggi pada segi-segi yang lain, padahal
mungkin peserta didik tersebut tidak demikian adanya.
2. Generosity effects, yaitu kelemahan yang akan muncul bila ada keinginan
untuk berbuat baik. Misalnya, seorang guru dalam keadaan ragu-ragu, maka
ia cenderung akan memberikan nilai yang tinggi.
3. Carry-over effects, yaitu kelemahan akan muncul jika guru tidak dapat
memisahkan satu fenomena dengan fenomena yang lain. Jika fenomena yang
muncul dinilai baik, maka fenomena yang lain akan dinilai baik pula.
F. Mengembangkan Skala Penilaian
Mutu skala penilaian juga tergantung dari kespesifikan dalam deskripsi
penilaian ketika merancang skala penilaian, ikuti beberapa langkah berikut:
a. Identifikasi hasil pembelajaran dari tugas yang diharapkan untuk dinilai.
b. Tentukan karakteristik hasil pembelajaran yang sesuai untuk dinilai dalam
skala. Karakteristik haruslah bisa diamati secara langsung dan point-point
dalam skala ditunjukkan dengan jelas.
c. Sediakan antara tiga atau tujuh posisi penilaian dalam skala. Jumlah point
dalam skala akan tergantung dari berapa banyak perbedaan yang jelas dalam
level pemenuhan yang diperlukan dalam penilaian.

SKALA SIKAP DAN MINAT


A Pengertian Skala Sikap
Penilaian sikap merupakan penilaian berbasis kelas terhadap suatu konsep
psikologi yang kompleks. Penilaian sikap di dalam berbagai mata pelajaran secara
umum dapat dilakukan berkaitan dengan berbagai objek sikap antara lain:
a.

Sikap terhadap mata pelajaran

b.

Sikap terhadap guru mata pelajaran

c.

Sikap terhadap proses pembelajaran

d.

Sikap terhadap materi pembelajaran

e.

Sikap berhubungan dengan nilai-nilai yang ingin ditanamkan dalam diri


peserta didik melalui materi tertentu

Pengukuran sikap dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain:


a.

Observasi perilaku

b.

Pertanyaan langsung

c.

Laporan pribadi

d.

Penggunaan skala sikap


Menurut David Krallwohl, dkk (1974) dalam bukunya yang berjudul

Taxonomy of Educational Objective Affective Domain. Ranah afektif adalah ranah


yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Sedangkan menurut para ahli mengatakan
bahwa sikap seseorang dapat meramalkan perubahannya bila seseorang telah
memiliki penguasaan kognitif tingkat tinggi.
Sikap pada awalnya berasal dari perasaan (suka atau tidak suka) yang terkait
dengan kecenderungan seseorang dalam merespon suatu objek. Sikap pada
dasarnya terdiri atas tiga komponen yaitu:

1. Komponen afektif yaitu perasaan yang dimiliki oleh seseorang terhadap suatu
objek.
2. Komponen kognitif adalah kepercayaan dan keyakinan seseorang mengenai
suatu objek.
3. Komponen konatif adalah kecenderungan untun berperilaku atau berbuat
dengan cara-cara tertentu berkenaan dengan kehadiran obyek sikap.
Secara umum aspek sikap/kognitif yang perlu dinilai dalam proses
pembelajaran terhadap berbagai mata pelajaran mencakup hal-hal sebagai berikut:
1. Penilaian sikap terhadap materi pelajaran. Disini peserta didik perlu
mempunyai sikap positif terhadap materi pelajaran. Berawal dari sikap positif
inilah akan melahirkan minat belajar dan mudah menyerap materi pelajaran.
2. Penilaian sikap terhadap guru. Peserta didik perlu memiliki sikap positif
terhadap guru. Apabila tidak memiliki sikap positif akan cenderung
mengabaikan apa yang diajarkan oleh gurunya. Sehingga peserta didik yang
memiliki sikap positif akan mudah menyerap materi yang diajarkan oleh
gurunya.
3. Penilaian sikap terhadap proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang
menarik, nyaman dan menyenangkan dapat menumbuhkan motivasi belajar
peserta didik sehingga pencapaian hasil belajar bias maksimal.
4. Penilaian sikap yang berkaitan dengan nilai atau norma yang berhubungan
dengan suatu materi pelajaran. Peserta didik harus memiliki sikap yang tepat
terhadap suatu kasus/kejadian dari suatu materi yang sedang dipelajarinya
dengan dilandasi nilai-nilai positif terhadap kasus/kejadian tersebut.
5. Penilaian sikap yang berkaitan dengan kompetensi afektif lintas kurikulum
yang relevan dengan mata pelajaran. Peserta didik harus memiliki sikap
positif terhadap berbagai kompetensi setiap kurikulum yang terus mengalami
perkembangan sesuai dengan kebutuhan.

Model / teknik yang dapat dilakukan untuk melakukan proses penilaian sikap
diantaranya:
1. Observasi Perilaku
Perilaku/perbuatan seeorang yang sering dilakukan menggambarkan
kecenderungan seseorang terhadap suatu obyek. Hasil observasi dapat
dijadikan umpan balik dalam pembinaan peserta didik. Observas perilaku di
sekolah dapat dilakukan dengan menggunakan buku penghubung/kendali.
Peserta didik yang mencatat berbagai kejadian-kejadian yang berkaitan
dengan peserta didik selama disekolah.
Contoh :
BUKU KENDALI SISWA TAHUN PELAJARAN 2016/2017
SDIT AMEC
Mata Pelajaran

Kelas/Semester

Nama Guru

TAHUN PELAJARAN 2016/2017


Jl. H. Nawi No. 9Sarua Sawangan Depok Jawa Barat Telp. (021)
7415933 Fak 7415880
www.almamun.net email : info@almamun.net
Bagan Catatan Hasil Observasi
Hari/Tanggal

Nama Siswa

Catatan

Tindak Lanjut

Jumat, 28 Oktober

Rian Permana

Belajar IPA tidak

Diberi penjelasan

bersemangat

tentang manfaat

2016

belajar IPA

Kolom catatan diisi dengan berbagai kejadian yang berhubungan dengan


peserta didik yang bersangkutan baik yang positif maupun yng negative.
2. Pertanyaan Langsung
Guru dapat menanyakan secara langsung (wawancara) tentang sikap
kepada peserta didik yang berkaitan dengan suatu objek/peristiwa.
3. Laporan Pribadi
Model/teknik penilaian sikap seperti ini, dimana guru meminta kepada
peserta

didik

untuk

membuat

laporan/ulasan

yang

berisi

tentang

pandangan/tanggapannya terhadap suatu masalah keadaan atau suatu hal yang


menjadi objek sikap. Dari laporan yang ditulisnya guru dapat memahami
kecenderungan sikap yang dimiliki peserta didik. Setiap perubahan peserta
didik secara keseluruhan dapat dirangkum dengan menggunakan lembar
pengamatan berikut :
Contoh Lembar Pengamatan Perubahan
Perilaku Peserta Didik

Sekolah

Mata Pelajaran

Sikap/perilaku yang diamati :


Nama Siswa

Kelas/Semester

Perubahan Perilaku

Perubahan
No

Perilaku
Awal

Pertemuan I

Ketercapaian

Pertemuan

Pertemuan

II

III

SR

1
2
3
4
Catatan:
SR

: Perubahan sangat rendah

: Perubahan rendah

: Perubahan tinggi

ST

: Perubahan sangat tinggi

Sebagai bahan informasi tentang perilaku awal dapat diperoleh melalui observasi,
pertanyaan langsung, laporan pribadi dan buku kendali peserta didik
G. Penggunaan Skala Sikap
Skala sikap adalah alat penilaian hasil belajar yang berupa sejumlah
pernyataan sikap tentang sesuatu yang jawabannya dinyatakan secara berskala.
Pengembangan skala sikap dapat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
a.

Menentukan objek sikap yang akan dikembangkan skalanya

b.

Memilih dan membuat daftar konsep dan kata sifat yang relevan dengan
objek penilaian sikap

c.

Memilih kata sifat yang tepat dan akan digunakan dalam skala

d.

Menentukan skala dan penskoran

Sikap adalah tendensi mental yang diwujudkan dalam bentuk pengetahuan atau
pemahaman, perasaan dan tindakan atau tingkah laku kea rah positif maupun
negative terhadap suatu objek. Definisi tersebt memuat tiga komponen sikap,
yaitu kognisi, afeksi dn konasi. Kognisi berkenaan dengan pengetahuan,

ST

pemahaman maupun keyakina tentang objek, afeksi berkenaan dengan perasaan


dalam menanggapi objek, dan konasiberkenaan dengan kecenderungan terbuat
atau bertingkah laku sehubungan dengan objek Widyoko (2012, hlm. 115).
Skala sikap adalah alat penilaian hasil belajar yang berupa sejumlah pernyataan
sika tentang sesuatu yang jawabannya dinyatakan secara berskala. Pengembangan
skala sikap dapat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
a. Menentukan objek sikap yang akan dikembangkan skalanya.
b. Memilih dan membuat daftar konsep dan kata sifat yang relevan dengan
objek penilaian sikap.
c. Memilih kata sifat yang tepat dan akan digunakan dalam skala.
d. Menentukan skala dan penskoran.
H. Macam-macam Skala Sikap
Ada beberapa bentuk skala sikap, antara lain skala Linkert, skala Thrustone,
skala Guttman, semantic differential dan penilaian (rating scale).
1. Skala Likert
Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi
seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Contoh Preferensi:
Sangat setuju
Setuju
Ragu-ragu
Tidak setuju
Sangat tidak setuju
Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi
seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dalam penelitian,
fenomena sosial ini telah ditetapkan secara spesifik oleh peneliti, yang selanjutnya
disebut sebagai variabel penelitian. Dengan skala Likert, maka variabel yang akan
diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indicator tersebut
dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrument yang dapat
berupa pernyataan atau pertanyaan, baik bersifat favorable (positif) maupun
bersifat unfavorable (negatif). Jawaban setiap item instrumen yang menggunakan

skala Likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif. Sistem
penilaian dalam skala Likert adalah sebagai berikut:
a.
1)
2)
3)
4)
5)
b.
1)
2)
3)
4)
5)

Item Favorable:
Sangat setuju/baik (5)
Setuju/baik (4)
Ragu-ragu (3)
Tidak setuju/baik (2)
Sangat tidak setuju/baik (1)
Item Unfavorable:
Sangat setuju/baik (1)
Setuju/baik (2)
Ragu-ragu (3)
Tidak setuju/baik (4)
Sangat tidak setuju/baik (5)

Contoh :
Jawaban
No.

Pernyataan
SS

Kita harus menjaga kebersihan

Kita harus mematuhi peraturan

RR

TS

X
X

Keterangan:
SS = Sangat Setuju

TS = Tidak Setuju

STS = Sangat Tidak Setuju

= Setuju

RR = Ragu-Ragu
2. Skala Guttman
Skala pengukuran dengan tipe ini, akan didapat jawaban yang tegas, yaitu ya
atau tidak, benar atau salah, pernah atau tidak, positif atau negatif, dan lain-

STS

lain. Data yang diperoleh dapat berupa data interval atau rasio dikhotomi (dua
alternatif). Jika pada skala Likert terdapat interval 1, 2, 3, 4, 5 interval, dari
kata sangat setuju sampai sangat tidak setuju, maka dalam skala Guttman
hanya ada dua interval yaitu setuju atau tidak setuju. Penelitian
menggunakan skala Guttman dilakukan bila ingin mendapatkan jawaban yang
tegas terhadap suatu permasalahan yang ditanyakan.
Contoh:
Apakah Anda setuju dengan kenaikan harga BBM?
a. Setuju
b. Tidak setuju
3. Skala Thurstone
Skala Thurstone adalah skala yang disusun dengan memilih butir yang
berbentuk skala interval. Setiap butir memiliki kunci skor dan jika diurut, kunci
skor menghasilkan nilai yang berjarak sama. Skala Thrustone dibuat dalam
bentuk sejumlah (40-50) pernyataan yang relevan dengan variabel yang hendak
diukur kemudian sejumlah ahli (20-40) orang menilai relevansi pernyataan itu
dengan konten atau konstruk yang hendak diukur. Adapun contoh skala
penilaian model Thurstone adalah seperti gambar di bawah ini.

Nilai 1 pada skala di atas menyatakan sangat tidak relevan, sedangkan nilai 11
menyatakan sangat relevan. Contoh : minat siswa terhadap pelajaran kimia

Jawaban

No

Pernyataan

Saya senang belajar kimia

Pelajaran kimia bermanfaat

Saya

berusaha

hadir

tiap

pelajaran kimia
4

Saya

berusahan

buku pelajaran kimia

memiliki

Contoh lain

: Angket yang disajikan menggunakan skala thurstone

Petunjuk

: Pilihlah 5(lima) buah pernyataan yang paling sesuai dengan sikap

anda terhadap pelajaran matematika, dengan cara membubuhkan tanda cek (v) di
depan nomor pernyataan di dalam tanda kurung.
(

) 1. Saya senang belajar matematika

) 2. Matematika adalah segalanya buat saya

) 3. Jika ada pelajaran kosong, saya lebih suka belajar matematika

) 4. Belajar matematika menumbuhkan sikap kritis dan kreatif

) 5. Saya merasa pasrah terhadap ketidak-berhasilan saya dalam


matematika

) 6. Penguasaan matematika akan sangat membantu dalam mempelajari


bidang studi lain

) 7. Saya selalu ingin meningkatkan pengetahuan & kemampuan saya


dalam matematika

) 8. Pelajaran matematika sangat menjemukan

) 9. Saya merasa terasing jika ada teman membicarakan matematika

4. Semantik Diferensial
Skala diferensial yaitu skala untuk mengukur sikap, tetapi bentuknya bukan
pilihan ganda maupun checklist, tetapi tersusun dalam satu garis kontinu
dimana jawaban yang sangat positif terletak dibagian kanan garis, dan jawaban
yang sangat negatif terletak dibagian kiri baris, atau sebaliknya. Data yang
diperoleh melalui pengukuran dengan skala semantik diferensial adalah data
interval. Skala bentuk ini biasanya digunakan untuk mengukur sikap atau
karakteristik tertentu yang dimiliki seseorang.
Contoh: Penggunaan skala Semantik Diferensial mengenai gaya kepemimpinan
kepala sekolah.

Demokrasi

Bertanggung
Jawab

Otoriter
Tidak

Bertanggung
Jawab

Memberi
Kepercayaan
Menghargai
Bawahan

Keputusan
Diambil

Mendominasi
Tidak Menghargai
Bawahan
Keputusan

Diambil Sendiri

Bersama

Contoh lain:
Penilaian pelajaran kimia
Menyenangkan

:!..!..!..!..!..! Membosankan

Sulit

: !..!..!..!..!..! Mudah

Bermanfaat

: !..!..!..!..!..! Sia-Sia

Menantang

:!..!..!..!..!..! Menjemukan

5. Penilaian (Rating Scale)


Data-data yang diperoleh melalui 3 macam skala yang dikemukakan di atas
adalah data kualitatif yang dikuantitatifkan. Berbeda dengan rating scale, data
yang diperoleh adalah data kuantitaif (angka) yang kemudian ditafsirkan dalam
pengertian kualitatif. Seperti halnya skala lainya, dalam rating scale responden
akan memilih salah satu jawaban kuantitatif yang telah disediakan. Rating
scale lebih fleksibel, tidak saja untuk mengukur sikap tetapi dapat juga
digunakan untuk mengukur persepsi responden terhadap fenomena lingkungan,
seperti skala untuk mengukur status sosial, ekonomi, pengetahuan,

kemampuan, dan lain-lain. Dalam rating scale, yang paling penting adalah
kemampuan menterjemahkan alternative jawaban yang dipilih responden.
Contoh :
Kenyamanan ruang tunggu RSU Kartini :
5

Kebersihan ruang parkir RSU Kartini :


5

I. Kelebihan dan Kekurangan Skala Sikap


Skala sikap memiliki keunggulan-keunggulan skala sikap antara lain:
1. Menumbuhkan rasa percaya diri, karena peserta didik dimina untuk menilai
dirinya sendiri.
2. Peserta didik dapat mengetahui kekurangan dan kelebihan dirinya sendiri,
karena metode ini merupakan metode untuk intropeksi diri.
3. Peserta didik dapat termotivasi untuk berbuat jujur dan objektif dalam
menyikapi suatu hal.
4. Termotivasi untuk selalu berbuat baik kepada siapapun, misalnya berkata
jujur, tidak sombong, pemaaf serta memelihara amanah dan janji.
Disamping keunggulan-keunggulannya skala sikap juga memiliki kekurangan
yaitu:
1. Sulit merumuskan instrumennya.
2. Di dalam pelaksanaanya rentan teradap subyektifitas guru.
3. Memerlukan waktu yang panjang.

J. Skala Minat
Minat yang dimiliki oleh seorang siswa akan berbeda dengan siswa yang
lainnya. Hal ini yang mendorong siswa agar dapat mengembangkan minat yang
mereka miliki di sekolah. Jadi, minat siswa perlu diperhatikan oleh seorang guru.
Minat seorang siswa dapat diukur menggunakan skala tertentu.
Menurut Damin (2010), jenis skala pengukuran minat yaitu dengan
menggunakan skala ordinal. Skala ini merupakan penomoran pada objek yang
disusun menurut besar atau urutan (range), tetapi nomor tersebut tidak
menunjukkan jarak yang sama antar dua nomor. Skala minat biasanya
digunakan untuk mengetahui sejauh mana anak menyenangi suatu hal. Seperti
pengukuran minat anak pada mata pelajaran, olahraga, hobi dan lain- lain. Adapun
kegunaan skala minat yang lebih lengkap akan dipaparkan sebagai berikut:
1. Mengetahui minat siswa sehingga mudah untuk pengarahan alam
2.
3.
4.
5.

pembelajaran
Mengetahui bakat dan minat siswa yang terpendam
Pertimbangan penjurusan dan pelayanan individual siswa
Menggambarkan keadaan langsung di lapangan atau di kelas
Mengelompokkan siswa yang memiliki minat yang sama agar mudah
dikembangkan oleh guru
Contoh alat ukur skala minat pada anak untuk mengetahui kegemarannya

dalam bidang olahraga, yaitu sebagai berikut:


N

Pernyataan dasar

o
1

Saya senang

olahraga
Olahraga sangat

menyenangkan
Olahraga membuat
tubuh menjadi
sehat

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Z. (2012). Evaluasi Pembelajaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.


Daryanto, H. (2007). Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta.
Siregar, S. A. (2014, Juni). Skala Penilaian Minat dan Sikap. Dapat diakses di
http://akbarisyahriandi.blogspot.co.id/2014/06/skala-penilaian-sikap-danminat.html. Diakses pada 27 Oktober 2016.
Novikasari,

M.

(2013,

Mei).

Skala

Penilaian.

Dapat

diakses

di

http://melyloelhabox.blogspot.co.id/2013/05/skala-penilaian.html. Diakses
pada 27 Oktober 2016
Yupi, B (2013, Desember). Skala Pengukuran Sikap. Dapat diakses di
https://bellashabrina.wordpress.com/2013/09/17/5-skala-pengukuransikap/. Diakses pada 28 Oktober 2016.
Surapranata, S., & Hatta, M. (2007). Penilaian Berbasis Kelas Penilaian
Portofolio Implementasi Kurikulum 2004.
Rosdakarya.

Bandung: PT Remaja