Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH BAHASA INDONESIA

DIKSI
DOSEN PENGAMPU: WILDA SRIHASTUTY HANDAYANI PILIANG, S.Pd.,
M.Pd

NAMA KELOMPOK:
INDRI RAHAYU (150202042)
NURFAZIRA (150202022)

PRODI BIOLOGI
FAKULTAS MIPA DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH RIAU
PEKANBARU
2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa kita panjatkan kepada Allah SW yang mana atas berkat
dan pertolongan-Nya lah saya dapat menyelesaikan makalah ini. Terimakasih juga saya
ucapkan kepada dosen pembimbing Ibu Machnunah Ani Zulfah yang turut yang telah
membimbing saya sehingga bias menyelesaikan makalah ini sesuai waktu yang telah di
tentukan. Terimakasih juga kepada teman-teman yang turut andil dalam terselesainya
makalah ini.
Sholawat serta salam senantiasa saya haturkan kepada suri tauladan kita Nabi
Muhammad SAW yang selalu kita harapkan syafaatnya di hari kiamat nanti.
Makalah ini kami buat dalam rangka untuk memperdalam pengetahuan dan
pemahaman mengenai DIKSI dengan harapan agar para mahasiswa bias lebih
memperdalam pengetahuan tentang DIKSI. Makalah ini juga dibuat untuk memenuhi
tugas mata kuliah Bahasa Indonesia.
Dengan segala keterbatasan yang ada penulis telah berusaha dengan segala daya
dan upaya guna menyelesaikan makalah ini. Penulis menyadari bahwasanya makalah ini
jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang
membangun dari para pembaca untuk menyempurnakan makalah ini. Atas kritik dan
sarannya saya ucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya.

Pekan baru, 20 april 2016

Penulis,

DAFTAR ISI

1.Halaman Judul .................................................................................................. i


2.Daftar Isi ........................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
a. Latar Belakang Masalah ................................................................... 1
b. Tujuan Penulisan .............................................................................. 2
c. Ruang Lingkup ................................................................................. 3
BAB II PEMBAHASAN......................................................................................
a. Pengertian Diksi ............................................................................... 4
b. Syarat-syarat Ketepatan Diksi .......................................................... 5
c. Gaya Bahasa dan Idiom .................................................................... 8
BAB III PENUTUP..............................................................................................
a. Simpulan .......................................................................................... 12
b. Saran ................................................................................................ 13
Daftar Pustaka...................................................................................................14

BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar belakang masalah


Secara menyolok aktivitas seorang mahasiswa setiap hari sebenarnya berkisar
pada persoalan kosa kata. Sepanjang hari ia harus mengikuti perkuliahan atau membuat
soal-soal ujian, menulis karya-karya tulis atau skripsi; pada waktu istirahat ia harus
bertukar pikiran dengan kawan mahasiswanya atau berkonsultasi dengan para dosen.
Malam hari, ia harus mempelajari lagi bahan-bahan kuliah, baik dari catatan-catatannya
maupun dari buku-buku yang diwajibkan atau yang dianjurkan. Bila ia seorang yang rajin
ia masih menyisihkan waktu untuk membaca majalah-majalah ilmiah, artikel-artikel
dalam mingguan, bulanan, dan surat kabar. Melalui semua aktivitas itu, kata beserta
gagasannya seolah-olah membanjiri masuk satiap saat ke dalam benaknya. Ia harus
membuka hatinya lebar-lebar untuk menerima semua itu. Mengabaikan sebagian kecil
saja, berarti ia akan ketinggalan dari kawan-kawannya.
seorang mahasiswa harus mengutuk dirinya karena dalam menghadapi soal-soal
ujian ia mengetahui gagasannya, tetapi tidak mengetahui kata atau istilahnya. Atau
sebaliknya, ia mengetahui kata atau istilahnya, tetapi tidak mengetahui gagasan yang
didukungnya. Sebab itu, kedua aspek itu, kata dan gagasan sama pentingnya. Keduanya
harus diketahui dan dikuasai.
Tidak dapat disangkal bahwa dalam penggunaan kosa kata adalah bagian yang
sangat penting dalam dunia perguruan tinggi. Prosesnya mungkin lamban dan sukar, tapi
orang akan merasa lega dan puas sebab tidak akan sia-sia semua jerih payah yang telah
diberikan. Manfaat dari kemampuan yang diperolehnya itu akan lahir dalam bentuk
penguasaan terhadap pengertian-pengertian yang tepat bukan sekedar mempergunakan
kata-kata yang hebat tanpa isi. Dengan pengertian-pengertian yang tepat itu, kita dapat
pula menyampaikan pikiran kita secara sederhana dan langsung.
Mereka yang luas kosa katanya akan memiliki pula kemampuan yang tinggi
untuk memilih setepat-tepatnya kata mana yang paling harmonis untuk mewakili maksud
atau gagasannya. Secara populer orang akan mengatakan bahwa kata meneliti sama
artinya dengan kata menyelidiki, mengamati, dan menyidik. Karena itu, kata-kata
turunannya seperti penelitian, penyelidikan, pengamatan, dan penyidikan adalah kata
yang sama artinya atau merupakan kata yang bersinonim. Mereka yang luas kosa katanya
menolak anggapan itu. Karena tidak menerima anggapan itu, maka mereka akan berusaha
untuk menetapkan secara cermat kata man yang harus dipakainya dalam sebuah konteks
tertentu. Sebaliknya yang miskin kosa katanya akan sulit menemukan kata lain yang lebih
tepat, karena ia tidak tahu bahwa ada kata lain yang lebih tepat dan karena ia tidak tahu

bahwa ada perbedaan antara kata-kata yang bersinonim itu. Maka atas dasar tersebutlah
kita sebagai mahasiswa yang baik hendaknya mengetahui dan memahami bagaimana
penggunaan pilihan kata yang tepat dan cermat dalam konteks yang tepat pula.
B. Tujuan penulisan
Dengan dibuatnya makalah ini penulis berharap informasi yang terdapat pada makalah ini
dapat berguna bagi penulis dan para pembaca.
Adapun tujuan dari penulisan ini adalah :
1. Untuk menambah ilmu pengetahuan tentang bagaimana tatacara dalam penyusunan /
pembuatan sebuah makalah yang baik dan benar.
2.Makalah ini dapat dijadikan media untuk menambah ilmu pengetahuan para
mahasiswa/i Stikom Dinamika Bangsa Jambi.
3.Sebagai modul pembelajaran bagi mahasiswa/i dari mata kuliah Bahasa Indonesia
pembahasan mengenai Diksi atau Pilihan Kata.
C.Ruang lingkup
Adapun ruang lingkup dalam pembahasan makalah ini meliputi pengertian diksi atau
pilihan kata, syarat-syarat ketepatan diksi, gaya bahasa dan idiom.

BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN DIKSI ATAU PILIHAN KATA
Pilihan kata atau diksi pada dasarnya adalah hasil dari upaya memilih kata
tertentu untuk dipakai dalam kalimat, alenia, atau wacana. Pemilihan kata dapat

dilakukan bila tersedia sejumlah kata yang artinya hampir sama atau bermiripan.
Pemilihan kata bukanlah sekedar memilih kata yang tepat, melainkan juga memilih kata
yang cocok. Cocok dalam arti sesuai dengan konteks di mana kata itu berada, dan
maknanya tidak bertentangan dengan yang nilai rasa masyarakat pemakainya.
Diksi adalah ketepatan pilihan kata. Penggunaan ketepatan pilihan kata
dipengaruhi oleh kemampuan pengguna bahasa yang terkait dengan kemampuan
mengetahui, memahami, menguasai, dan menggunakan sejumlah kosa kata secara aktif
yang dapat mengungkapkan gagasan secara tepat sehingga mampu
mengomunikasikannya secara efektif kepada pembaca atau pendengarnya.
Dalam karangan ilmiah, diksi dipakai untuk menyatakan sebuah konsep, pembuktian,
hasil pemikiran, atau solusi dari suatu masalah. Adapun fungsi diksi antara lain :
a) Melambangkan gagasan yang diekspresikan secara verbal.
b) Membentuk gaya ekspresi gagasan yang tepat.
c) Menciptakan komunikasi yang baik dan benar.
d) Mencegah perbedaan penafsiran.
e) Mencagah salah pemahaman.
f) Mengefektifkan pencapaian target komunikasi.

B.SYARAT-SYARAT KETEPATAN DIKSI


Ketepatan adalah kemampuan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan yang
sama pada imajinasi pembaca atau pendengar, seperti yang dipikirkan atau dirasakan oleh
penulis atau pembicara, maka setiap penulis atau pembicara harus berusaha secermat
mungkin memilih kata-katanya untuk mencapai maksud tersebut. Ketepatan tidak akan
menimbulkan salah paham.
Selain pilihan kata yang tepat, efektivitas komunikasi menuntut pesyaratan yang harus di
penuhi oleh pengguna bahasa, yaitu kemampuan memilih kata yang sesuai dengan
tuntutan komunikasi.
Adapun syarat-syarat ketepatan pilihan kata adalah :
1) Membedakan secara cermat denotasi dan konotasi.
Denotasi ialah kata yang bermakna lugas atau tidak bermakna ganda. Sedangkan konotasi
ialah kata yang dapat menimbulkan bermacam-macam makna.
Contoh:

Bunga eldeweis hanya tumbuh ditempat yang tinggi. (Denotasi)

Sinta adalah bunga desa di kampungnya.


2)

(Konotasi)

Membedakan dengan cermat kata-kata yang hampir bersinonim.

Contoh:

Siapa pengubah peraturan yang memberatkan pengusaha?


Pembebasan bea masuk untuk jenis barang tertentu adalah peubah peraturan yang selama ini
memberatkan pengusaha.
3) Membedakan kata-kata yang mirip ejaannya.
Intensif insensif
Contoh:
Karton kartun
Korporasi koperasi
4) Tidak menafsirkan makna kata secara subjektif berdasarkan pendapat sendiri,
jika pemahaman belum dapat dipastikan.
Contoh :
Modern : canggih (secara subjektif)
Modern : terbaru atau muktahir (menurut kamus)
Canggih : banyak cakap, suka menggangu, banyak mengetahui, bergaya intelektual
(menurut kamus)
5)

Waspada terhadap penggunaan imbuhan asing.

Contoh :
Dilegalisir seharusnya dilegalisasi.
Koordinir seharusnya koordinasi.
6) Membedakan pemakaian kata penghubung yang berpasangan secara tepat.
Contoh :

7)

Pasangan yang salah

Pasangan yang benar

antara ..... dengan ....

antara .... dan .....

tidak ..... melainkan .....

tidak ..... tetapi .....

baik ..... ataupun .....

baik ..... maupun .....

bukan ..... tetapi .....

bukan ...... melainkan .....

Membedakan kata umum dan kata khusus secara cermat.

Kata umum adalah sebuah kata yang mengacu kepada suatu hal atau kelompok yang
luas bidang lingkupnya. Sedangkan kata khusus adalah kata yang mengacu kepada
pengarahan-pengarahan yang khusus dan kongkret.
Contoh :
Kata umum
Kata khusus

:
:

melihat
melotot, membelak, melirik, mengintai, mengamati, mengawasi,

menonton, memandang, menatap.


8)

Memperhatikan perubahan makna yang terjadi pada kata-kata yang sudah dikenal.

Contoh :
Isu (berasal dari bahasa Inggris issue) berarti publikasi, perkara.
Isu (dalam bahasa Indonesia) berarti kabar yang tidak jelas asal-usulnya, kabar angin,
desas-desus.
9)

Menggunakan dengan cermat kata bersinonim, berhomofoni, dan berhomografi.

Sinonim adalah kata-kata yang memiliki arti sama.


Homofoni adalah kata yang mempunyai pengertian sama bunyi, berbeda
tulisan, dan berbeda makna.
Homografi adalah kata yang memiliki kesamaan tulisan, berbeda bunyi, dan berbeda
makna.
Contoh :
Sinonim : Hamil (manusia) Bunting (hewan)
Homofoni : Bank (tempat menyimpan uang) Bang (panggilan kakak laki-laki)
Homografi : Apel (buah) Apel (upacara)
10) Menggunakan kata abstrak dan kata konkret secara cermat.
Kata abstrak mempunyai referensi berupa konsep, sedangkan kata konkret mempunyai
referensi objek yang diamati.
Contoh :
Kata abstrak
Kebaikkan seseorang kepada orang lain merupakan sifat terpuji.
Kata konkret
APBN RI mengalami kenaikkan lima belas persen.

C.
GAYA BAHASA DAN IDIOM
1. GAYA BAHASA

Gaya bahasa atau langgam bahasa dan sering juga disebut majas adalah cara
penutur mengungkapkan maksudnya. Banyak cara yang dapat dipakai untuk
mengungkapkan maksud. Ada cara yang memakai perlambang (majas metafora,
personifikasi) ada cara yang menekankan kehalusan (majas eufemisme, litotes) dam
masih banyak lagi majas yang lainnya. Semua itu pada prinsipnya merupakan corak seni
berbahasa untuk menimbulkan kesan tertentu bagi mitra komunikasi kita
(pembaca/pendengar).
Sebelum menampilkan gaya tertentu ada enam faktor yang mempengaruhi tampilan
bahasa seorang komunikator dalam berkomunikasi dengan mitranya, yaitu :
a)

Cara dan media komunikasi : lisan atau tulisan, langsung atau tidak langsung,

media cetak atau media elektronik.


b) Bidang ilmu : filsafat, sastra, hukum, teknik, kedokteran, dll.
c) Situasi : resmi, tidak resmi, setangah resmi.
d) Ruang atau konteks : seminar, kuliah, ceramah, pidato.
e) Khalayak : dibedakan berdasarkan umur (anak-anak, remaja, dewasa, orang tua);
jenis kelamin (laki-laki, perempuan); tingkat pendidikan dan status sosial (rendah,
menengah, tinggi).
f)
Tujuan : membangkitkan emosi, diplomasi, humor, informasi.
GAYA BAHASA BERDASARKAN PILIHAN KATA
Berdasarkan pilihan kata, gaya bahasa mempersoalkan kata mana yang paling
tepat dan sesuai untuk posisi-posisi tertentu dalam kalimat, serta tepat tidaknya
penggunaan kata-kata dilihat dari lapisan pemakaian bahasa dalam masyarakat. Dengan
kata lain, gaya bahasa ini mempersoalkan ketepatan dan kesesuaian dalam menghadapi
situasi-situasi tertentu.
Dalam bahasa standar (bahasa baku) dapatlah dibedakan menjadi :
a. Gaya Bahasa Resmi
Gaya bahasa resmi adalah gaya bahasa dalam bentuknya yang lengkap, gaya
yang dipergunakan dalam kesempatan-kesempatan resmi, gaya yang dipergunakan oleh
mereka yang diharapkan mempergunakannya dengan baik dan terpelihara. Gaya bahasa
resmi biasa kita jumpai dalam penyampaian amanat kepresidenan, berita negara, khotbahkhotbah mimbar, tajuk rencana, pidato-pidato yang penting, artikel-artikel yang serius
atau esai yang memuat subyej-subyek yang penting, semuanya dibawakan dengan gaya
bahasa resmi.
Contoh dalam pembukaan UUD 1945:
Bahwa sesungguhnya kemerdekaan ini ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka
penjajahan diatas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan peri-keadilan.

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan bangsa Indonesia telah sampailah kepada


saat yang berbahagai dengan seelamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia
kedepan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu,
berdaulat, adil dan makmur. ...(selanjutnya)
b.

Gaya Bahasa Tak Resmi


Gaya bahasa tak resmi juga merupakan gaya bahasa yang dipergunakan dalam

bahasa standar, khususnya dalam kesempatan-kesempatan yang tidak formal atau kurang
formal. Gaya bahasa ini biasanya dipergunakan dalam karya-karya tulis, buku-buku
pegangan, artikel-artikel mingguan atau bulanan yang baik, dalam perkuliahan, dan
sebagainya. Singkatnya gaya bahasa tak resmi adalah gaya bahasa yang umum dan
normal bagi kaum terpelajar.
Contoh :
Sumpah pemuda yang dicetuskan pada tanggal 28 Oktober 1928 adalah
peristiwa nasional, yang mengandung benih nasionalisme. Sumpah Pemuda dicetuskan
pada zaman penjajahan. Nasionalisme pada zaman penjajahan mempunyai watak khusus
yakni anti penjajahan. Peringatan kepad Sumpah Pemuda sewajarnya berupa usaha
merealisasikan gagasan-gagasan Sumpah Pemuda.
c. Gaya Bahasa Percakapan
Dalam gaya bahasa percakapan, pilihan katanya adalah kata-kata populer dan kata-kata
percakapan. Kalau dibandingkan dengan gaya bahasa resmi dan tak resmi, maka gaya
bahasa percakapan ini dapat diumpamakan sebagai bahasa dalam pakaian sport. Itu
berarti bahasanya masih lengkap untuk suatu kesempatan, dan masih dibentuk menurut
kebiasaan-kebiasaan, tetapi kebiasaan ini agak longgar bila dibandingkan dengan
kebiasaan pada gaya bahasa resmi dan tak resmi.
Contoh berikut adalah hasil rekaman dari sebuah diskusi dalam seminar Bahasa
Indonesia tahun 1996 di Jakarta :
Pertanyaan yang pertama, di sini memang sengaja saya tidak membedakan antara
istilah jenis kata atau word classes atau parts of speech. Jadi ketiganya saya artikan
sama di sini. Maksud saya ialah kelas-kelas kata, jadi penggolongan kata, dan hal itu
tergantung kepada dari mana kita melihat dan dasar apa yang kita pakai untuk
menggolongkannya. .......(selanjutnya)

2.

IDIOM
Menurut Moeliono, Idiom adalah ungkapan bahasa yang artinya tidak secara

langsung dapat dijabarkan dari unsur-unsurnya. Sedangkan menurut Badudu, idiom

adalah bahasa yang teradatkan. Oleh karena itu, setiap kata yang membentuk idiom
berarti di dalamnya sudah ada kesatuan bentuk dan makna.
Walaupun dengan prinsip ekonomi bahasa, salah satu unsurnya tidak boleh
dihilangkan. Setiap idiom sudah tepatri sedemikian rupa sehingga para pemakai bahasa
mau tidak mau harus tunduk pada aturan pemakaiannya. Sebagian besar idiom yang
berupa kelompok kata, misalnya gulung tikar, adu domba, muka tembok tidak boleh
dipertukarkan susunannya menjadi *tikar gulung, *domba adu, *tembok muka karena
ketiga kelompok kata yang terakhir itu bukan idiom.

BAB III
PENUTUP

A.

KESIMPULAN
Dari pembahasan yang diuraikan di atas, dapat disimpulkan menjadi beberapa

poin penting yaitu :


1. Diksi atau pilhan kata adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa makna
dari gagasan yang ingin disampaikan dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang

sesuai (cocok) dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat
pendengar.
2. Pilihan kata yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan oleh penguasa sejumlah besar
kosa kata atau perbendaharaan kata itu.
3. Diksi berfungsi sebagai alat agar tidak terjadi kesalahpahaman antara pembaca atau
penulis terhadap pendengar atau pembaca dalam berkomunikasi.
4. Diksi memiliki beberapa syarat-syarat ketepatan agar menimbulkan imajinasi yang
sesuai antara pembicara dan pendengar.
5. Fungsi diksi secara umum ialah agar masyarakat dapat berkomunikasi dengan baik
dan benar agar terhindar dari salah penafsiran dan kesalahpahaman antara
pembicara/penulis dengan pendengar/pembaca.
6. Gaya bahasa atau langgam bahasa dan sering juga disebut majas adalah cara penutur
mengungkapkan maksudnya.
7. Gaya bahasa menurut pilihan kata dalam bahasa standar (bahasa baku) terbagi menjadi
3 jenis yaitu : Gaya bahasa resmi, gaya bahasa tak resmi dan gaya bahasa percakapan.
8. Menurut Moeliono, Idiom adalah ungkapan bahasa yang artinya tidak secara langsung
dapat dijabarkan dari unsur-unsurnya. Sedangkan menurut Badudu, idiom adalah bahasa
yang teradatkan. Oleh karena itu, setiap kata yang membentuk idiom berarti di dalamnya
sudah ada kesatuan bentuk dan makna.
B.

SARAN

Sebagai seorang mahasiswa, perlu sekali mempelajari dan memahami bagaimana


penggunaan diksi yang tepat dan cermat karena seorang mahasiswa itu selalu dibebankan
dan berkelut dengan karya-karya tulis dalam setiap tugas perkuliahannya.

DAFTAR PUSTAKA
Keraf, Gorys. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta : Gramedia. 2006.
Hs, Widjono. Bahasa Indonesia Mata Kuliah Pengenmbangan Kepribadian di
Perguruan Tinggi. Jakarta : Grasindo. 2007
Komposisi Bahasa Indonesia