Anda di halaman 1dari 17

Tugas Karya Tulis Ilmiah

Pemanfaatan Limbah Air Cucian Beras sebagai Pupuk


Cair Organik

Disusun Oleh :
Sitiani Ketrina

155040200111184

Yusron Helmiawan

155040201111142

Framylhia Bella Harlina

155040207111023

Muhammad Arif F

155040207111049

Bagas Prakoso Wilis

155040207111121

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG

2016
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pupuk memiliki peran penting bagi tanaman. Salah satu peran pupuk bagi
tanaman adalah untuk memenuhi kebutuhan unsur hara. Karena ketersediaan
unsur hara di dalam tanah tidak selamanya cukup untuk memenuhi kebutuhan
tanaman. Oleh karena itu perlu dilakukan pemupukan agar produktivitas tanaman
optimal. Pemupukan adalah tindakan memberikan tambahan unsur-unsur hara
pada komplek tanah, baik langsung maupun tidak langsung yang bertujuan untuk
memperbaiki tingkat kesuburan tanah agar tanaman mendapatkan nutrisi yang
cukup. Hal tersebut dapat mengoptimalkan pertumbuhan tanaman. Dalam hal ini,
terdapat dua jenis pupuk yaitu pupuk organik dan anorganik.
Pupuk Organik adalah pupuk yang terbuat dari pelapukan sisa-sisa tanaman,
hewan, dan manusia. Pupuk organik dapat berbentuk padat ataupun cair.
Penggunaan pupuk organik dalam jangka panjang dapat meningkatkan
produktivitas lahan dan dapat mencegah degradasi lahan. Aplikasi penggunaan
pupuk organik diberikan pada lahan sebelum tanaman ditanam. Karena pupuk
organik dapak memperbaiki degradasi lahan. Sedangkan pupuk anorganik adalah
pupuk yang dibuat di pabrik yang terdiri atas berbagai macam bahan - bahan
kimia. Pada umumnya pupuk anorganik diproduksi oleh pabrik.
Dewasa ini, mayoritas petani menggunakan pupuk anorganik. Hal ini karena
pupuk anoragnik dapat bereaksi dengan cepat terhadap tanaman, sehingga dapat
memenuhi kebutuhan unsur hara tanaman dengan cepat. Selain itu, pupuk
anorganik mudah didapatkan dan diaplikasikan. Namun dibalik kelebihannya,
pupuk anorganik dapat meninggalkan residu pada tanah, sehingga dapat
mencemari tanah. Hal ini dapat berdampak buruk terhadap lingkungan.
Disamping itu, jumlah penduduk yang bertambah banyak mengakibatkan
masalah lingkungan yang cukup mengkhawatirkan akibat pembuangan limbah,
mulai dari limbah industri (pabrik) hingga limbah rumah tangga.

Air cucian beras adalah limbah dari kegiatan rumah tangga yang sering
kali terbuang dengan percuma.Padahal air cucian beras mengandung karbohidrat,
nutrisi, vitamin dan zat-zat mineral lainnya. Semua kandungan yang ada pada air
cucian

beras

itu

umumnya

berfungsi

untuk

membantu

pertumbuhan

tanaman.Dapat dikatakan bahwa air cucian beras berfungsi sebagai zat pengatur
tumbuh karena karbohidrat yang ada dalam kandungan air cucian beras ini
menjadi perantara terbentuknya hormon auksin dan giberelin.Dua jenis bahan
yang banyak digunakan dalam zat perangsang tumbuh buatan. Auksin bermanfaat
merangsang pertumbuhan pucuk dan kemunculan tunas baru sedangkan giberelin
berguna untuk perangsangan akar (Leandro, 2009).
Oleh

karena itu

berdasarkan

hal tersebut kami

tertarik untuk

memanfaatkan limbah air cucian beras sebagai pupuk cair anorganik yang ramah
lingkungan. Sehingga diharapkan dapat mengurangi limbah yang ada disekitar
kita.
a.2 Rumusan Masalah
a. Mengapa limbah air cucian beras dapat dimanfaatkan sebagai pupuk cair
organik ?
b. Bagaimana cara mengaplikasikan pupuk organik cair yang terbuat dari limbah
air cucian beras ?
c. Zat apa saja yang terkandung pada limbah air cucian beras ?
a.3 Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui penyebab air cucian beras dapat dimanfaatkan sebagai
pupuk cair organik.
b. Untuk mengetahui cara pengaplikasian pupuk organik cair yang terbuat dari
limbah air cucian beras.
c. Untuk mengetahui zat apa saja yang terkandung pada limbah air cucian beras.

a.4 Manfaat Penelitian


Dengan mengetahui zat apa saja yang terkandung dalam limbah cucian air
beras, kita dapat memanfaatkan limbah tersebut untuk membuat pupuk cair
organik yang ramah lingkungan. Sehingga dengan memanfaatkan limbah air
cucian beras, kita dapat mengurangi limbah yang ada disekitar kita.

a.5 Landasan Teori


a.5.1

Definisi Pupuk
Pupuk adalah bahan yang ditambahkan ke dalam tanah untuk menyediakan
unsur hara guna mendorong pertumbuhan tanaman, meningkatkan produksi, serta
memperbaki kualitasnya (Sutandi, 2004).
Pupuk adalah suatu bahan yang digunakan untuk mengubah sifat fisik,
kimia atau biologi tanah sehingga menjadi lebih baik bagi pertumbuhan tanaman.
Dalam pengertian yang khusus, pupuk adalah suatu bahan yang mengandung satu
atau lebih hara tanaman (Marsono, 2001).

a.5.2

Macam-macam Pupuk
Menurut Marno (2013), jenis jenis pupuk dapat dibedakan menjaddi dua,
yaitu

berdasarkan

senyawanya

dan

berdasarkan

fasenya.

Berdasarkan

senyawanya, pupuk terdiri dari 2 jenis yaitu pupuk organik dan pupuk anorganik.
Sedangkan berdasarkan fasenya, pupuk terdiri dari pupuk cair dan pupuk padat.
a.5.2.1 Berdasarkan senyawanya dibedakan :
A. Pupuk Organik
Pupuk organik ialah pupuk yang berupa senyawa organik.
Kebanyakan pupuk alam tergolong pupuk organik seperti pupuk
kandang, kompos, guano. Pupuk alam yang tidak termasuk pupuk
organik misalnya rock phosphat, umumnya berasal dari batuan sejenis
apatit [Ca3(PO4)2].

Pupuk organik memiliki kelebihan yaitu : mengandung unsur hara


yang lengkap, baik unsur hara makro maupun unsur hara mikro. Kondisi
ini tidak dimiliki oleh pupuk buatan (anorganik. Pupuk organik
mengandung asam - asam organik, antara lain asam humic, asam fulfic,
hormon dan enzym yang tidak terdapat dalam pupuk buatan yang sangat
berguna baik bagi tanaman maupun lingkungan dan mikroorganisme.
Selain itu, pupuk organik mengandung makro dan mikro organisme
tanah yang mempunyai pengaruh yang sangat baik terhadap perbaikan
sifat fisik tanah dan terutama sifat biologis tanah. Pupuk organik juga
dapat memperbaiki dan menjaga struktur tanah, menjadi penyangga pH
tanah, menjadi penyangga unsur hara anorganik yang diberikan,
membantu menjaga kelembaban tanah, aman dipakai dalam jumlah besar
dan berlebih sekalipun, tidak merusak lingkungan.
Disamping itu, terdapat beberapa kekurangan dari pupuk organik
yaitu kandungan unsur hara jumlahnya kecil, sehingga jumlah pupuk
yang diberikan harus relatif banyak bila dibandingkan dengan pupuk
anorganik.Karena

jumlahnya

banyak,

menyebabkan

memerlukan

tambahan biaya operasional untuk pengangkutan dan implementasinya.


Dalam jangka pendek, apalagi untuk tanah-tanah yang sudah miskin
unsur hara, pemberian pupuk organik yang membutuhkan jumlah besar
sehingga menjadi beban biaya bagi petani. Sementara itu reaksi atau
respon tanaman terhadap pemberian pupuk organik tidak se-spektakuler
pemberian pupuk buatan.
B. Pupuk Anorganik
Pupuk anorganik atau mineral merupakan pupuk dari senyawa
anorganik. Hampir semua pupuk buatan tergolong pupuk anorganik.
Kelebihan pupuk anorganik yaitu respon cepat terlihat pada tanaman
(unsur yang terkandung cepat terurai sehingga lebih cepat terserap oleh
tumbuhan), kadar unsur hara tinggi, kandungan hara jelas, pemakaian
bisa tepat. Sedangkan kekurangan dari pupuk anorganik yaitu
penggunaan pupuk anorganik yang terus menerus akan menyebabkan

tanah menjadi padat/mengeras (porositas tanah menurun) dan tidak


responsif terhadap pupuk kimia an-organik, sehingga berapapun
banyaknya tanah diberi pupuk kimia an-organik hasilnya tetap tidak
optimal. juga akan mengakibatkan ketersediaan oksigen bagi tanaman
maupun mikrobia tanah menjadi sangat berkurang.
Selain itu, bentuk unsur yang anorganik menyebabkan mikroba tanah
sulit mengurai, sehingga akan menumpuk menjadi residu yang dapat
menyebabkan mikroba penting yang berfungsi untuk menghasilkan
bahan organik di dalam tanah mati dan akan mengurangi kesuburan
tanah. Residu zat kimia yang tertinggal dalam hasil produksi yang
terkonsumsi oleh manusia akan menumpuk di dalam tubuh dan
mengganggu kesehatan manusia. Pupuk anorganik dapat menurunkan pH
tanah dan bersifat higroskopis (kemampuan menyerap air diudara,
sehingga pupuk dapat mencair).
a.5.2.2 Berdasarkan Fasenya :
A. Pupuk Padat
Pupuk padat umumnya mempunyai kelarutan yang beragam mulai
yang mudah larut dalam air sampai yang sukar larut.
B. Pupuk Cair
Pupuk ini berupa cairan, cara penggunaannya dilarutkan dulu dengan
air, Umumnya pupuk ini disemprotkan ke daun. Karena mengandung
banyak hara, baik makro maupun mikro, harganya relatif mahal. Pupuk
amoniak cair merupakan pupuk cair yang kadar N nya sangat tinggi
sekitar 83%, penggunaannya dapat diinjeksikan lewat tanah.
a.5.3

Peran Pupuk bagi Tanaman


Pupuk dapat mengembalikan unsur hara baik makro atau mikro untuk
memperbaiki struktur tanah. Sehingga danpak positif dari pemupukan adalah
meningkatkan kapasitas kation, menambah kemampuan tanah menahan air dan
meningkatkan kegiatan biologis tanah, dapat menurunkan jeratan keasaman
tanah. Naman, ada dampak negatif dari pemupukan karena kandungan hara

rendah pupuk yang dibutuhkan cukup banyak hal ini berakibat biaya ekonomi dan
perhitungan dosis agak susah.
Tanaman memerlukan unsur-unsur tertentu untuk membentuk tubuhnya dan
memenuhi semua kegiatan hidupnya, unsur-unsur tersebut dihisap oleh tanaman
dan mempunyai guna tertentu. Pertumbuhan tanaman sangat ditentukan oleh
kualitas tanah yang baik, dan dibatasi oleh ketersediaan unsur hara yang minimum
dalam tanah, kandungan unsur-unsur hara dalam tanah ini sangat mempengaruhi
kondisi tanah. Untuk tanah yang mempunyai keharaan rendah, dapat diberi pupuk
agar tingkat keharaan menjadi lebih tinggi dan menjadikan tanah lebih subur.
a.5.4

Kandungan Nutrisi pada Limbah Air Cucian Beras


Tabel 1. Kandungan Nutrisi Beras
No.

Nama Kandungan

Persentase

1.

Vitamin B1

80 %

2.

Vitamin B3

70 %

3.

Vitamain B6

90 %

4.

Mangan (Mn)

50 %

5.

Fosfor

50 %

6.

Zat Besi

60 %

7.

Serat

100 %

Kandungan nutrisi beras yang tertinggi terdapat pada bagian kulit ari.
Sayangnya sebagian besar nutrisi pada kulit ari telah hilang selama proses
penggilingan. Saat mencuci beras, biasanya air cucian pertama akan berwarna
keruh. Warna keruh bekas cucian itu menunjukkan bahwa lapisan terluar dari
beras ikut terkikis.Meskipun banyak nutrisi yang telah hilang, namun pada bagian
kulit ari masih terdapat sisa-sisa nutrisi yang sangat bermanfaat tersebut. Misalnya
fosfor (P) yang merupakan salah satu unsur utama yang dibutuhkan tanaman dan
selalu ada dalam pupuk majemuk tanaman semisal NPK. Fosfor berperan dalam
memacu pertumbuhan akar dan pembentukan sistem perakaran yang baik dari
benih dan tanaman muda. Nutrisi lainnya adalah zat besi yang penting bagi
pembentukan hijau daun (klorofil) dan berperan penting dalam pembentukan
karbohidrat, lemak dan protein. Selain itu kulit ari juga mengandung vitamin,
mineral, dan fitonutrien yang tinggi. Vitamin sangat berperan dalam proses
pembentukan hormon dan berfungsi sebagai koenzim (komponen non-protein
untuk mengaktifkan enzim). Beras mengandung karbohidrat yang tinggi. Sangat
mungkin karbohidrat ini terdegradasi saat mencuci.
Hipotesa awal, saat disiramkan ke tanaman, karbohidrat akan terpecah
menjadi unsur yang lebih sederhana dan memberikan nutrisi bagi mikroba yang
menguntungkan bagi tanaman. Meskipun belum diketahui apa mikroba apa yang
diuntungkan dengan kandungan karbohidrat air leri ini. Air cucian beras
sebenarnya sangat bermanfaat untuk tanaman. Air bekas beras memiliki
kandungan nutrisi yang berlimpah, yang dapat berfungsi sebagai pengendali
organisme pengganggu tanaman yang ramah lingkungan serta banyak dijumpai di
lingkungan sekitar.
Kandungan nutrisi yang ada pada air cucian beras di antaranya adalah
karbohidrat berupa pati (85-90 persen), protein glutein, selulosa, hemiselulosa,
gula dan vitamin yang tinggi. Selain itu, formulasi air cucian beras merupakan
media alternatif pembawa P. fluorescens yang berperan dalam pengendalian
patogen penyebab penyakit karat dan pemicu pertumbuhan tanaman (Yayu, 2011).
Bakteri Pseudomonas fluorescens adalah Bakteri P. fluorescens yang mampu
mengklon dan beradaptasi dengan baik pada akar tanaman serta mampu untuk
mensintesis metabolit yang mampu menghambat pertumbuhan dan aktivitas

patogen atau memicu ketahanan sistemik dari tanaman terhadap penyakit


tanaman.

a.6 Metode Penelitian


Metode adalah suatu cara yang didalam fungsinya merupakan suatu alat
untuk mencapai tujuan. Adapun langkah-langkah dalam melakukan penelitian ini
adalah:
1. Persiapan Tempat Penanaman
Gelas aqua dilubangi sebanyak mungkin. Beri label lahan A untuk
lahan yang disiram dengan air bekas cucian beras dan lahan B untuk
lahan yang disiram dengan air biasa. Lubangi gelas aqua sebanyak
mungkin dengan besi yang sudah dipanaskan. Masukan tanah
kedalamnya.
2. Pembuatan Air Cucian Beras
Pembuatan air bekas cucian beras dengan memasukan beras pada
ember. Tuangkan air kedalamnya. Aduk-aduk sampai airnya berwarna
putih. Ulangi dengan cara yang sama.
3. Penanaman
Penanaman dilakukan dengan memasukkan bibit tanaman pada
tempat yang disediakan sesuai dengan labelnya
4. Penyiraman
Penyiraman dilakukan dengan menyiramkan air bekas cucian beras
pada lahan A dan lahan B dengan air biasa. Penyiraman dilakukan
sebanyak dua kali dalam sehari selama seminggu.
5. Pengamatan
Pengamatan dilakukan dengan mengukur tinggi tanaman, lebar
daun, dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

1.7 Tinjauan Pustaka


Sebelum penelitian ini dimulai, telah ada penelitian-penelitian sebelumnya
yang menggunakan objek yang sama yaitu limbah air cucian beras. Tulisan-tulisan
tersebut sebagian besar berupa jurnal, skripsi meskipun ada satu buah tulisan
berupa makalah.
Penelitian pertama berupa jurnal yang berjudul Potensi Limbah Air Cucian
Beras sebagai Pupuk Organik Cair pada Pertumbuhan Pakchoy (Brassica rapa
L.), ditulis oleh Wardiah, Linda dan Hafnati Rahmatan pada tahun 2014.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh air cucian beras dan dosis
yang tepat air cucian beras terhadap pertumbuhan tanaman pakchoy. Peneliti lebih
menitikberatkan pengaruh pemberian limbah air cucian beras sebagai pupuk
organik cair hanya terhadap pertumbuhan tanaman pakchoy saja.
Penelitian kedua berupa jurnal yang berjudul Efektivitas Pemberian Air
Leri terhadap Pertumbuhan dan Hasil Jamur Tiram Putih, ditulis oleh Ummu
Kalsum, Siti Fatimah dan Catur Wasonowati pada tahun 2011. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui efektifitas inokulan yang teruji pada air limbah
cucian beras sebagai pupuk organik pada tanaman sedap malam. Parameter yang
diamati adalah waktu berbunga, panjang tangkai bunga, jumlah kuntum per malai,
diameter tangkai bunga, waktu panen, dan jumlah panen. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa pemberian inokulan pada air limbah cucian beras tidak
memberikan pengaruh yang berbeda terhadap semua perlakuan.
Penelitian ketiga berupa jurnal yang berjudul Pemanfaatan Inokulan Air
Limbah Cucian Beras Sebagai Pupuk Organik pada Tanaman Sedap Malam,
ditulis oleh Rita Tri Puspitasari, Sofiyah Al-Widad, Yati Suryati, dan Nosa T.
Pradana pada tahun 2015. Pupuk organik ini telah diteliti pada tanaman anggrek,
sayur-sayuran, dan kedelai. Tujuan penelitian untuk mendapatkan mikroorganisme
lokal yang dapat menghilangkan bau pada air limbah cucian beras yang akan
digunakan sebagai pupuk organik. Isolasi dengan menggunakan media Patato
Dextrose Agar (PDA) dan Mann Rogosa Sharpe Agar (MRSA), dengan sumber
inokulan air limbah cucian beras, ragi tape, kombucha, dan yoghurt.

Penelitian keempat berupa skripsi yang berjudul Efektivitas Penyiraman


Air Leri dan Ekstrak Sari Kedelai (Glycine max) terhadap Pertumbuhan Tanaman
Cabai Hibrida (Capsium annum L.), ditulis oleh Kesi Budi Lestari pada tahun
2010. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penyiraman
ekstrak sari kedelai dan air leri terhadap pertumbuhan tanaman cabai hibrida
(Capsium annum L.) selama 1 bulan. Hasil penelitian ini menunjukkan ekstrak
sari kedelai dan air cucian beras (leri) memberikan pengaruh yang berbeda
terhadap pertumbuhan cabai hibrida (Capsium annum L.) pertumbuhan secara
positif (signifikan), pada penyiraman ekstrak sari kedelai dan air leri hanya
berpengaruh terhadap tinggi tanaman. Akan tetapi tidak berpengaruh terhadap
jumlah daun tanaman cabai hibrida (Capsium annum L.) setelah satu bulan masa
tanam.
Penelitian kelima berupa jurnal yang berjudul Efektivitas Air Cucian Beras
dan Ekstrak Daun Kelor untuk Pertumbuhan Tanaman Cabai Merah (Capsicum
annum L.) dengan Teknik Hidroponik, yang ditulis oleh Fitri Astuti, S.Si, M.Si,
pada tahun 2016. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pertumbuhan tanaman
cabai merah secara hidroponik dengan pemberian media dan nutrisi yang berbeda
serta mengetahui interaksi antara keduanya.
Penelitian keenam berupa skripsi yang berjudul Pengaruh Volume Air
Cucian Beras sebagai Pupuk Organik terhadap Pertumbuhan dan Pembungaan
Tanaman Mawar (Rosa hybrida L.), ditulis oleh Devi Ostaria Rajagukguk pada
tahun 2014. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian
volume air cucian beras yang berbeda terhadap pertumbuhan dan pembungaan
tanaman mawar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode
eksperimen. Parameter pengamatan berupa tinggi tanaman, jumlah tunas, jumlah
bunga yang belum mekar atau jumlah kuncup, jumlah bunga dan berat kering
tanaman mawar.
Penelitian ketujuh berupa jurnal yang berjudul Pengaruh Air Cucian Beras
Merah dan Beras Putih terhadap Pertumbuhan dan Hasil Selada (Lactuca sativa
L.), ditulis oleh Citra Wulandari, Sri Muhartini, dan Sri Trisnowati pada tahun
2011. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh macam dan kadar air
cucian beras terhadap pertumbuhan dan hasil selada (Lactuca sativa L.).

Penelitian terdiri dari dua faktor yang disusun dalam Rancangan Acak Kelompok
Lengkap dengan 3 blok sebagai ulangan. Faktor pertama adalah macam air cucian
beras yang terdiri dari air cucian beras merah dan air cucian beras putih. Faktor
kedua adalah kadar air cucian beras, yaitu cucian pertama, cucian kedua dan
cucian ketiga. Tanaman selada tanpa pemberian air cucian beras bertindak sebagai
kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis dan kadar air cucian beras
tidak memberikan pertumbuhan tajuk dan hasil yang berbeda, namun air cucian
beras putih menghasilkan pertumbuhan akar yang lebih baik dibanding air cucian
beras merah.
Penelitian kedelapan berupa jurnal yang berjudul Pengaruh Interval dan
Pemberian Cucian Air Beras terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kacang
Hijau (Phaseolus radiatus L.) varietas Vima-1, ditulis oleh Sthefany Latief,
Nurmi, dan Fauzan Zakaria pada tahun 2014. Tujuan penelitian ini adalah
mengetahui pengaruh interval dan volume pemberian air cucian beras terhadap
pertumbuhan dan hasil tanaman kacang hijau.
Penelitian kesembilan berupa jurnal yang berjudul Pengaruh Penyiraman
Air Cucian Beras dan Pupuk Urea dengan Konsentrasi yang Berbeda terhadap
Pertumbuhan Tanaman Pacar Air (Impatiens balsamina L.), ditulis oleh Ni Wayan
Yeti Ratnadi, Drs.I Nengah Sumardika,M.Pd., Dr.I Gusti Agung Nyoman
Setiawan,M.Si pada tahun 2014. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
pengaruh penyiraman air cucian beras dengan konsentrasi yang berbeda terhadap
pertumbuhan tanaman pacar air (Impatiens balsamina L), pengaruh penyiraman
pupuk urea dengan konsentrasi yang berbeda terhadap pertumbuhan tanaman
pacar air, dan interaksi antara penyiraman air cucian beras dan pupuk urea dengan
konsentrasi yang berbeda terhadap pertumbuhan tanaman pacar air.
Penelitian kesepuluh berupa jurnal yang berjudul Efektivitas Pemberian
Air Cucian Beras Coklat terhadap Produktivitas Tanaman Kacang Hijau
(Phaseolus radiatus L.) pada Lahan Rawa Lebak, ditulis oleh Nurul Istiqomah
pada tahun 2012. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas
pemberian air cucian beras coklat terhadap produktivitas tanaman kacang hijau
(Phaseolus radiatus L.), dan untuk mendapatkan dosis terbaik air cucian beras

yang memperlihatkan efek terhadap peningkatan produktivitas tanaman kacang


hijau (Phaseolus radiatus L.) pada lahan rawa lebak.
Berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya yang telah dilakukan
menggunakan objek yang sama yaitu limbah air cucian beras. Secara umum,
hampir semua penelitian limbah air cucian beras dapat dijadikan pupuk organik.
Dan di jelaskan pula bahwa pemberian air cucian beras pada tanaman dapat
pengaruh pertumbuhan tanaman. Dan penelitian ini dapat difungsikan untuk
melengkapi penelitian penelitian sebelumnya yang dirasa belum lengkap.

1.8 Sistematika Laporan Penelitian


Penelitian ini terdiri atas empat bab. Bab pertama berupa pendahuluan yang
terdiri atas latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian,
landasan teori, metode penelitian, tinjauan pustaka, dan sistematika laporan
penelitian. Bab dua berisi hasil dan pembahasan. Bab tiga berisi kesimpulan dan
saran.

1.9 Daftar Pustaka


Anggraeni, Yayu. 2011. Manfaat Air Cucian Beras. Bandung: PT. Refika
Aditama.
Astuti, Fitri. 2016. Efektivitas Air Cucian Beras dan Ekstrak Daun Kelor
untuk Pertumbuhan Tanaman Cabai Merah (Capsicum annum L.)
dengan Teknik Hidroponik. Skripsi thesis, Universitas Muhammadiyah
Surakarta.
Istiqomah, Nurul. 2012. Efektivitas Pemberian Air Cucian Beras Coklat
terhadap Produktivitas Tanaman Kacang Hijau (Phaseolus radiatus
L.) pada Lahan Rawa Lebak. Jurnal Ziraa`ah Volume 33 Nomor 1,
Februari 2012 Halaman 99-108.
Kalsum, U., Siti Fatimah & Catur Wasonowati. 2011. Efektivitas Pemberian
Air Leri terhadap Pertumbuhan dan Hasil Jamur Tiram Putih. Jurnal
Agrovigor Volume 4 No 2, September 2011, Halaman 86-92.
Latief Sthefany, Nurmi & Zakaria Fauzan. 2014. Pengaruh Interval dan
Pemberian Cucian Air Beras terhadap Pertumbuhan dan Hasil
Tanaman Kacang Hijau (Phaseolus radiatus L.) varietas Vima-1.
Jurusan Agroteknologi

Fakultas

Pertanian

Universitas

Negeri

Gorontalo.
Leandro, M. 2009. Pengaruh Kombinasi Air Cucian Beras terhadap
Pertumbuhan Tanaman Tomat dan Terong. Jakarta: Agromedia
Pustaka.
Lestari, Kesi Budi. 2010. Efektivitas Penyiraman Air Leri dan Ekstrak Sari
Kedelai (Glycine max) terhadap Pertumbuhan Tanaman Cabai
Hibrida

(Capsium

annum

L.).

Skripsi

thesis,

Universitas

Muhammadiyah Surakarta.
Marno. 2013. Pupuk Dan Pemupukan Ramah Lingkungan. Yogyakarta :
UGM Press.

Marsono. 2001. Pupuk Organik dan Pupuk Hayati. Bogor : Badan


Penelitian dan Pengembangan

Pertanian.

Puspitasari, Rita Tri, dkk.. 2015. Pemanfaatan Inokulan Air Limbah Cucian
Beras Sebagai Pupuk Organik pada Tanaman Sedap Malam. Jurnal
Matematika, Saint, dan Teknologi, Volume 16, Nomor 2, September
2015, 43-49
Rajagukguk, Devi Ostaria Pengaruh. 2014. Pengaruh Volume Air Cucian
Beras

sebagai

Pupuk

Organik

terhadap

Pertumbuhan

dan

Pembungaan Tanaman Mawar (Rosa hybrida L.).Skripsi, Universitas


Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh.
Ratnadi N.W.Y., Nengah Sumardika & Setiawan I Gusti Agung Nyoman
Setiawan. 2014. Pengaruh Penyiraman Air Cucian Beras dan Pupuk
Urea dengan Konsentrasi yang Berbeda terhadap Pertumbuhan
Tanaman Pacar Air (Impatiens balsamina L.). Jurnal Jurusan
Pendidikan Biologi Volume 1 Nomor 1, 2014.
Sutandi. 2004. Pengaruh Pemberian Pupuk. Jakarta: Agromedia Pustaka.
Wardiah, Linda dan Hafnati Rahmatan. 2014. Potensi Limbah Air Cucian
Beras sebagai Pupuk Organik Cair pada Pertumbuhan Pakchoy
(Brassica rapa L.). Jurnal Biologi Edukasi Edisi 12, Volume 6 Nomor
1, Juni 2014, Halaman 34-38.
Wulandari, C., Sri Muhartini, & Sri Trisnowati. 2011. Pengaruh Air Cucian
Beras Merah dan Beras Putih terhadap Pertumbuhan dan Hasil
Selada (Lactuca sativa L.). Jurnal Vegetalika Volume 1 Nomor 2,
2012.

Anda mungkin juga menyukai