Anda di halaman 1dari 24

KATA PENGANTAR

Assalamu alaikum wr. Wb.


Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT. Karena berkat
limpahan rahmat-Nyalah kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul
Analisis Kromatografi. Makalah ini merupakan salah satu tugas mata kuliah
Kimia Analisis II.
Makalah ini terdiri atas 3 bab, dimana bab I merupakan pendahuluan yang
berisikan latar belakang, rumusan masalah, dan tujuan. Bab II merupakan
pembahasan mengenai Spektrofotometer UV-vis. Bab III merupakan penutup
yaitu kesimpulan dan juga saran.
Dalam pembuatan makalah ini, masih banyak ditemui kekurangan.
Sehingga, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca.
Terima Kasih.
Wassalamualaikum wr. wb.

Kendari,

Juni 2014

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................i
DAFTAR ISI............................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1
A.

LATAR BELAKANG...............................................................................1

B.

RUMUSAN MASALAH..........................................................................2

C.

TUJUAN...................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN.........................................................................................3
A.

DEFINISI..................................................................................................3

B.

SIFAT-SIFAT LEMAK..............................................................................4

C.

CONTOH SIMPLISIA LIPID...................................................................5

D.

BIOSINTESIS.........................................................................................10

E.

MANFAAT LIPID...................................................................................10

BAB III PENUTUP...............................................................................................12


A.

KESIMPULAN.......................................................................................12

B.

SARAN...................................................................................................12

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................13

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Berbagai metode kromatografi memberikan cara pemisahan paling kuat
di laboratorium kimia. Metode kromatografi, karena pemanfaatannya yang
leluasa, dipakai secara luas untuk pemisahan analitik dan preparatif.
Biasanya, kromatografi analitik dipakai pada tahap permulaan untuk semua
cuplikan , dan kromatografi preparatif hanya dilakukan jika diperlukan fraksi
murni dari campuran. Pemisahan secara kromatografi dilakukan dengan cara
mengotak-atik langsung beberapa sifat fisika umum dari molekul. Sifat utama
yang terlibat ialah : (1) Kecenderungan molekul untuk melarut dalam cairan
(kelarutan), (2) Kecenderungan molekul untuk melekat pada permukaan
serbuk halus (adsorpsi, penjerapan), dan (3) Kecenderungan molekul untuk
menguap atau berubah ke keadaan uap (keatsirian) .
Pemisahan dan pemurnian kandungan tumbuhan terutama dilakukan
dengan menggunakan salah satu dari empat teknik kromatografi atau
gabungan teknik tersebut. Keempat teknik kromatografi itu adalah :
Kromatografi Kertas (KKt), Kromatografi Lapis Tipis (KLT), Kromatografi
Gas Cair (KGC) dan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT).
Teknik kormatografi telah berkembang dan telah digunakan untuk
memisahkan dan mengkuantifikasikan berbagai macam komponen yang
kompleks, baik komponen organik maupun komponen anorganik.

B. RUMUSAN MASALAH
Rumusan masalah yang akan dibahas pada makalah ini adalah :
1. Apa yang dimaksud dengan kromatografi?
2. Apa saja pembagian dari kromatografi?
3. Bagaimana analisis dari masing-masing kromatografi?
C. TUJUAN
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui definisi kromatografi.
2. Untuk mengetahui pembagian dari kromatografi.
3. Untuk mengetahui analisis dengan menggunakan berbagai macam
kromatografi.

BAB II
PEMBAHASAN
A. DEFINISI
Kromatografi adalah suatu teknik pemisahan molekul berdasarkan
perbedaan pola pergerakan antara fase gerak dan fase diam untuk
memisahkan komponen (berupa molekul) yang berada pada larutan. Molekul
yang terlarut dalam fase gerak, akan melewati kolom yang merupakan fase
diam. Molekul yang memiliki ikatan yang kuat dengan kolom akan cenderung
bergerak lebih lambat dibanding molekul yang berikatan lemah. Dengan ini,
berbagai macam tipe molekul dapat dipisahkan berdasarkan pergerakan pada
kolom.
Dalam kromatografi, melibatkan proses sorpsi sebagai mekanisme
kerjanya. Sorpsi merupakan proses pemindahan solute dari fase gerak ke fase
diam, sementara itu proses sebaliknya (pemindahan solute dari fase diam ke
fase gerak) disebut dengan desorpsi. Kedua proses ini (sorpsi dan desorpsi)
terjadi secara terus menerus selama pemindahan kromatografi karenanya
sistem kromatografi berada dalam kesetimbangan dinamis. Solute akan
terdistribusi diantara dua fase yang bersesuaian dengan perbandingan
distribusinya (D) untuk menjaga keadaan kesetimbangan ini.
Ada 4 jenis mekanisme sorpsi dasar dan umumya 2 atau lebih mekanisme
ini terlibat dalam satu jenis kromatografi. Keempat jenis tersebut adalah
adsorpsi, partisi, pertukaran ion, dan eksklusi ukuran.
1. Adsorpsi

Adsorpsi merupakan penyerapan pada permukaannya saja dan


jangan sekali-kali dikacaukan dengan proses absorpsi yang berarti
penyerapan keseluruhan. Adsorpsi pada permukaan melibatkan interaksiinteraksi elektrostatik seperti ikatan hidrogen, penarikan dipole-dipol,
dan penarikan yang diinduksi oleh dipol. Solut akan bersaing dengan
permukaan adsorben.
Silica gel merupakan

jenis

adsorben

(fase

diam)

yang

penggunaannya paling luas. Permukaan silica gel terdiri atas gugus Si-OSi dan gugus Silanol (Si-OH). Gugus silanol bersifat sedikit asam dan
polar karenanya gugus ini mampu membentuk ikatan hidrogen dengan
solute-solut yang agak polar sampai sangat polar.
Adsorpsi solute oleh fase diam sangat bergantung pada : (a)
struktur kimia solute atau adanya gugus aktif
2. Partisi
3. Pertukaran Ion
4. Eksklusi

B. PENGGUNAAN SPEKTROFOTOMETER UV-visible


Spektrofotometer UV-VIS dapat digunakan untuk :
a. Analisis Kualitatif
Penggunaan alat ini dalam analisis kuantitatif sedikit terbatas sebab
spektrum sinar tampak atau sinar UV menghasilkan puncak-puncak
serapan yang lebar sehingga dapat disimpulkan bahwa spektrum yang
dihasilkan kurang menunjukan puncak puncak serapan. Namun, walaupun
puncak yang dihasilkan bebentuk lebar, puncak tersebut masih dapat

digunakan untuk memperoleh keterangan ada atau tidaknya gugus


fungsional tertentu dalam suatu molekul organik.

b. Analisis Kuantitatif
Penggunaan sinar UV dalam analisis kuantitatif memberikan
beberapa keuntungan, diantaranya ;
Dapat digunakan secara luas
Memiliki kepekaan tinggi
Keselektifannya cukup baik dan terkadang tinggi
Ketelitian tinggi
Tidak rumit dan cepat
Adapun langkah-langkah utama dalam analisis kuantitatif adalah ;
Pembentukan warna (untuk zat yang yang tak berwarna atau warnanya
kurang kuat ),
Penentuan panjang gelombang maksimum,
Pembuatan kurva kalibrasi,
Pengukuran konsentrasi sampel.

Gambar 1.1 Eksitasi elektron

Energi yang disebutkan diatas adalah cukup untuk mempromosikan


atau merangsang elektron molekul ke energi orbital yang lebih tinggi.
Akibatnya, penyerapan spektroskopi dilakukan di wilayah ini kadang disebut
spektroskopi elektronik. Panjang gelombang cahaya UV-VIS jauh lebih
pendek daripada panjang gelombang radiasi inframerah. Spektrum sinar
tampak terentang dari sekitar 400 nm (ungu) sampai 750 nm (merah),
sedangkan spektrum ultraviolet terentang dari 100 nm sampai 400 nm.
Kuantitas energi yang diserap oleh suatu senyawa berbanding terbalik
dengan panjang gelombang radiasi :

Gambar 1.2 panjang gelombang


6

Gambar 1.3 sinar tampak

Keterangan :
Violet

: 400 - 420 nm

Indigo

: 420 - 440 nm

Biru

: 440-490 nm

Hijau

: 490-570 nm

Kuning

: 570-585 nm

Oranye

: 585-620 nm

Merah

: 620-780 nm
Gambar 1.4 spektrum UV.

Analisis ini dapat digunakan yakni dengan penentuan absorbansi dari larutan
sampel yang diukur. Prinsip penentuan spektrofotometer UV-VIS adalah
aplikasi dari Hukum Lambert-Beer, yaitu:
A = - log T = - log It / Io = . b . C
Dimana :
A = Absorbansi dari sampel yang akan diukur

T = Transmitansi
I0 = Intensitas sinar masuk
It = Intensitas sinar yang diteruskan
= Koefisien ekstingsi
b = Tebal kuvet yang digunakan
C = Konsentrasi dari sampel

Penyerapan sinar tampak atau ultraviolet oleh suatu molekul dapat


menyebabkan terjadinya eksitasi molekul tersebut dari tingkat energi dasar
(ground state) ke tingkat energi yang lebih tinggi (excited stated). Proses ini
melalui dua tahap :
tahap 1 : M + hv

M*

tahap 2 : M*

M + heat

Pengabsorbsian sinar ultraviolet atau sinar tampak oleh suatu


molekul umumnya menghasilkan eksitasi bonding; akibatnya, panjang
gelombang absorbsi maksimum dapat dikorelasikan dengan jenis ikatan yang
ada didalam molekul yang sedang diselidiki. Oleh karena itu, spektroskopi
serapan berharga untuk mengidentifikasi gugus-gugus fungsional yang ada
dalam suatu molekul. Akan tetapi, yang lebih penting adalah penggunaan
spektroskopi serapan ultra violet dan sinar tampak untuk penentuan
kuantitatif senyawa-senyawa yang mengandung gugus pengabsorbsi.

C. HAL - HAL YANG BERHUBUNGAN DENGAN


SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS
1. Radiasi Elektromagnetik
Radiasi elektromagnetik adalah energi yang dipancarkan menembus
ruang dalam bentuk gelombang-gelombang. Untuk menggambarkan sifatsifat REM, digunakan 2 teori yang saling melengkapi yaitu teori panjang
gelombang dan teori korpuskuler. Teori panjang gelombang digunakan
untuk menerangkan beberapa parameter REM yang berupa kecepatan,
frekuensi, panjang gelombang, dan amplitude, dan tidak dapat
menerangkan fenomena-fenomena yang berkaitan dengan serapan atau
emisi dari tenaga radiasi. Untuk proses ini, maka diperlukan teori
korpuskuler yang menyatakan bahwa radiasi elektromagnetik sebagai
partikel yang bertenaga yang disebut foton. Tenaga foton berbanding
langsung dengan frekuensi radiasi.
Ada 2 teori yang digunakan :
a. Teori panjang gelombang dan kecepatan
REM juga dicirikan dengan

frekuensi

(banyaknya

daur.lingkar lengkap tiap detik). Radiasi dengan frekuensi lebih


tinggi mengandung gelombang lebih banyak per detik.
Hubungan antara panjang gelombang dan frekuensi adalah sbb:
v= / c
v = frekuensi (Hertz)
C = cepat rambat gelombang (3x108 m/s)
= panjang gelombang (cm)
2. Teori partikel atau foton
- Cahaya adalah sumber energi
- REM dipancarkan dalam bentuk paket-paket energi yang
menyerupai partikel yang disebut foton atau kuantum. Energi suatu
foton memiliki hubungan sebagi berikut :

E=h.v
E = energi foton
H = tetapan Planck
Suatu molekul memiliki panjang gelombang sendiri-sendiri.
Panjang gelombang suatu molekul memiliki panjang gelombang
yang tetap untuk terjadinya absorbansi yang maksimum.
2. Gugus Kromofor
Gugus kromofor adalah gugus senyawa radikal yang terdiri
dari

ikatan ganda

terkonjugasi

yang

mengandung

elektron

terdelokalisasi. Gugus kromofor biasanya meliputi gugus azo (-N=N),


karbonil

(-C=O-), karbon (-C=C-), karbon-nitrogen (-C=NH- atau

-CH=N-), nitroso (-NO atau N-OH), nitro (-NO 2 atau =NO-OH), dan
sulfur (C=S). Kromogen adalah senyawa aromatis yang biasanya
mengandung cincin benzena, naftalena, atau antrasena merupakan
bagian dari struktur kromogen-kromofor pada auksokrom. Adanya gugus
terionisasi yang dikenal sebagai auksokrom memberikan peningkatan
absorpsi dan kekuatan ikatan pada suatu senyawa. Beberapa gugus
auksokrom adalah NH3, -COOH, -HSO3, -OH.
Kromofor merupakan senyawa organik yang memiliki ikatan
rangkap yang terkonjugasi. Suatu ikatan rangkap yang terisolasi seperti
dalam etilen mengabsorpsi pada 165 nm, yaitu di luar daerah ukur yang
lazim dari spektroskopi elektron. Dua ikatan rangkap terkonjugasi
memberikan suatu kromofor seperti dalam butadien akan mengabsorpsi
pada 217 nm. Panjang gelombang maksimum absorpsi dan koefisien
ekstingsi molar akan bertambah dengan bertambahnya jumlah ikatan

10

rangkap terkonjugasi lainnya. Juga pada vitamin A-alkohol (retinol) dan karoten merupakan polien dengan 1 kromofor yang terdiri dari 5 atau 11
ikatan rangkap terkonjugasi.
Gugus auksokrom mengandung pasangan elektron bebas yang
disebabkan oleh terjadinya mesomeri kromofor. Yang termasuk dalam
gugus auksokrom ini adalah substituen seperti OH, -NH 2, -NHR dan
NR2. Gugus ini akan memperlebar sistem kromofor dan menggeser
maksimum absorpsi kearah panjang gelombang yang lebih panjang. Gugus
auksokrom tidak menyerap pada panjang gelombang 200-800 nm, namun
mempengaruhi spektrum kromofor dimana auksokrom tersebut terikat.
Pada daerah sinar uv-sinar tampak hanya melibatkan transisi
elektron dari ke * dan n ke *, sehingga senyawa yang dapat
menunjukkan sifat absortivitasnya pada daerah ini hanya senyawasenyawa yang memiliki transisi elektron dari ke * dan n ke * saja.
Dimana senyawa-senyawa tersebut merupakan senyawa-senyawa yang
memiliki ikatan rangkap dengan panjang gelombang () >200 nm atau
dengan kata lain senyawa tersebut memiliki gugus kromofor.
Suatu zat atau senyawa yang bukan kromofor dapat direaksikan
dengan zat lain yang menghasilkan suatu kromofor sehingga dapat
dianalisis dengan spektofotometri uv-visibel.
Hanya ada beberapa unsur yang memiliki absortivitas cukup besar
untuk dapat ditentukan secara langsung dengan spektrometri molekuler.

11

Sedangkan unsur yang lain dapat dikonversi ke derivative-nya yang


memiliki absortivitas jauh lebih tinggi.
Perubahan keadaan oksidasi, atau pembentukan suatu komplek,
dapat merubah unsur analit non-absorbing menjadi derivatif absorbing.
Sebagai contoh Mn2+ yang berwarna merah muda (sangat) pucat dapat
dioksidasi dengan menggunakan periodat atau persulfat menjadi MnO4yang dapat ditentukan dengan spektrofotometri sinar tampak. Ion Fe2+
akan membentuk senyawa komplek oranye-merah dengan 1, 10fenantrolin, sementara Fe3+ dan Co2+ keduanya dapat membentuk senyawa
komplek dengan SCN-.
D.

TRANSISI ELEKTRON
Pada daerah sinar ultraviolet dan sinar tampak, energi diperoleh dari
transisi elektronik. Energi yang diserap oleh molekul digunakan untuk
menaikan energi elektron dari keadaan dasar ke tingkat energi yang lebih
tinggi.
Transisi elektron secara umum terjadi antara orbital ikatan (bonding)
atau lone-pair dengan orbital anti ikatan (anti-bonding) tak terisi. Penyerapan
dari panjang gelombang tersebut kemudian menjadi ukuran dari pemisahan
tingkat energi dari orbital-orbital terkait.
Berikut ini tabel panjang gelombang berbagai warna cahaya

12

Eksitasi dari elektron diikuti oleh perubahan vibrasi dan rotasi nomor
kuantum sedemikian hingga yang terjadi adalah suatu penyerapan menjadi
suatu puncak yang lebar, yang berisi vibrasi dan rotasi.

13

Tabel Transisi elektron molekul dari keadaan dasar ke tingkat energi yang
lebih tinggi.
Dalam kaitan dengan interaksi dari solut dengan molekul bahan pelarut ini
pada umumnya dikaburkan, dan diamati sebagai kurva yang bagus. Dalam
fase uap, dalam bahan pelarut non-polar, dan dengan puncak tertentu misalnya
benzene dengan pita 260 nm, vibrasi struktur halus terkadang teramati.
E. TEORI ORBITAL MOLEKUL
Sifat magnet dan sifat-sifat molekul yang lain dapat dijelaskan lebih
baik dengan menggunakan pendekatan mekanika kuantum yang lain yang
disebut sebagai teori orbital molekul (OM), yang menggambarkan ikatan
kovalen melalui istilah orbital molekul yang dihasilkan dari interaksi orbitalorbital atom dari atom-atom yang berikatan dan yang terkait dengan molekul
secara keseluruhan.
Menurut teori OM, tumpang tindih orbital 1s dua atom hidrogen
mengarah pada pembentukan dua orbital molekul, satu orbital molekul ikatan
dan satu orbital molekul antiikatan. Orbital molekul ikatan memiliki energi
yang lebih rendah dan kestabilan yang lebih besar dibandingkan dengan
orbital atom pembentuknya. Orbital molekul antiikatan memiliki energi yang
lebih besar dan kestabilan yang lebih rendah dibandingkan dengan orbital
atom pembentuknya. Penempatan elektron dalam orbital molekul ikatan
menghasilkan ikatan kovalen yang stabil, sedangkan penempatan elektron

14

dalam orbital molekul antiikatan menghasilkan ikatan kovalen yang tidak


stabil.
Dalam orbital molekul ikatan kerapatan elektron lebih besar di antara
inti atom yang berikatan. Sementara, dalam orbital molekul antiikatan,
kerapatan elektron mendekati nol diantara inti. Perbedaa ini dapat dipahami
bila kita mengingat sifat gelombang pada elektron. Gelombang dapat
berinteraksi sedemikian rupa dengan gelombang lain membentuk interferensi
konstruktif yang memperbesar amplitudo, dan juga interferensi destruktif
yang meniadakan amplitudo.
Pembentukan orbital molekul ikatan berkaitan dengan interferensi
konstruktif, sementara pembentukan orbital molekul antiikatan berkaitan
dengan interferensi destruktif. Jadi, interaksi konstruktif dan interaksi
destruktif
antara

dua

orbital

1s dalam

molekul H2 mengarah pada pembentukan ikatan sigma (1s) dan pembentukan


antiikatan sigma (*1s).

(a)

15

(b)
Gambar (a) interaksi konstruktif yang menghasilkan orbital molekul ikatan sigma
(b) interaksi destruktif yang menghasilkan orbital molekul antiikatan sigma.

Pada gambar diatas dapat dilihat bahwa pada orbital molekul


antiikatan sigma terdapat simpul (node) yang menyatakan kerapatan
elektron nol, sehingga kedua inti positif saling tolak-menolak.

Gambar Tingkat energi orbital molekul ikatan dan antiikatan molekul H2


Penggunaan teori orbital molekul ini dapat diterapkan pada
molekul-molekul lain selain molekul H2. Hanya saja, jika dalam molekul
H2 kita hanya perlu memikirkan orbital 1s saja, maka pada molekul lain
akan lebih rumit karena kita perlu memikirkan orbital atom lainnya juga.
Untuk orbital p, prosesnya akan lebih rumit karena orbital ini dapat
berinteraksi satu sama lain dengan cara yang berbeda. Misalnya, dua

16

orbital 2p dapat saling mendekat satu sama lain ujung-ke-ujung untuk


menghasilkan sebuah orbital molekul ikatan sigma dan orbital molekul
antiikatan sigma. Selain itu, kedua orbital p dapat saling tumpang tindih
secara menyimpang untuk menghasilkan orbital molekul pi ( 2p) dan
orbital molekul antiikatan pi (*2p).

(a)

(b)

17

Gambar (a) pembentukan satu orital molekul ikatan sigma dan satu orbital
molekul antiikatan sigma ketika orbital p saling tumpang tindih ujung-ke-ujung.
(b) ketika orbital p saling tumpang tindih menyamping, terbentuk suatu orbital
molekul pi dan suatu orbital molekul antiikatan pi.
Dalam

pembentukan

molekul,

orbital

atom

bertumpang

tindih

menghasilkan orbital molekul yakni fungsi gelombang elektron dalam molekul.


Jumlah orbital molekul adalah jumlah atom dan orbital molekul ini
diklasifikasikan menjadi orbital molekul ikatan, non-ikatan, atau antiikatan sesuai
dengan besarnya partisipasi orbital itu dalam ikatan antar atom. Kondisi
pembentukan orbital molekul ikatan adalah sebagai berikut.Syarat pembentukan
orbital molekul ikatan:
(1)

Cuping orbital atom penyusunnya cocok untuk tumpang tindih.

(2)

Tanda positif atau negatif cuping yang bertumpang tindih sama.

(3)

Tingkat energi orbital-orbital atomnya dekat.

Kasus paling sederhana adalah orbital molekul yang dibentuk dari orbital
atom A dan B dan akan dijelaskan di sini. Orbital molekul ikatan dibentuk antara
A dan B bila syarat-syarat di atas dipenuhi, tetapi bila tanda salah satu orbital
atom dibalik, syarat ke-2 tidak dipenuhi dan orbital molekul anti ikatan yang
memiliki cuping yang bertumpang tindih dengan tanda berlawanan yang akan
dihasilkan. Tingkat energi orbital molekul ikatan lebih rendah, sementara tingkat
energi orbital molekul anti ikatan lebih tinggi dari tingkat energi orbital atom
penyusunnya. Semakin besar selisih energi orbital ikatan dan anti ikatan, semakin
kuat ikatan. Bila tidak ada interaksi ikatan dan anti ikatan antara A dan B, orbital

18

molekul yang dihasilkan adalah orbital non ikatan. Elektron menempati orbital
molekul dari energi terendah ke energi yang tertinggi. Orbital molekul terisi dan
berenergi tertinggi disebut HOMO (highest occupied molecular orbital) dan
orbital molekul kosong berenergi terendah disebut LUMO (lowest unoccupied
molecular orbital). Kenichi Fukui (pemenang Nobel 1981) menamakan orbitalorbital ini orbital-orbital terdepan (frontier).
Dua atau lebih orbital molekul yang berenergi sama disebut orbital
terdegenerasi (degenerate). Simbol orbital yang tidak terdegenerasi adalah a atau
b, yang terdegenerasi ganda e, dan yang terdegenerasi rangkap tiga t. Simbol g
(gerade) ditambahkan sebagai akhiran pada orbital yang sentrosimetrik dan u
(ungerade) pada orbital yang berubah tanda dengan inversi di titik pusat inversi.
Bilangan sebelum simbol simetri digunakan dalam urutan energi untuk
membedakan orbital yang sama degenarasinya. Selain itu, orbital-orbital itu
dinamakan sigma () atau pi() sesuai dengan karakter orbitalnya. Suatu orbital
sigma mempunyai simetri rotasi sekeliling sumbu ikatan, dan orbital pi memiliki
bidang simpul. Oleh karena itu, ikatan sigma dibentuk oleh tumpang tindih orbital
s-s, p-p, s-d, p-d, dan d-d dan ikatan pi dibentuk oleh tumpang tindih orbital p-p,
p-d, dan dd.

19

20

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari pembahasan mengenai lipid, dapat disimpulkan bahwa :
1. Lipid atau lemak merupakan senyawa organik yang hanya bisa larut dalam
pelarut non polar, misalnya alkohol, eter, kloroform dan aseton.
2. Sifat-sifat lemak yaitu : mwmiliki warna yang pucat, berbau wangi tetapi
dapat berbau tengik jika bereaksi dengan udara bebas, tidak larut dalam
air, minyak lemak dapat memadat dan dapat mencair pada batas
temperatur tertentu, ini berguna untuk pengenalan komponen, dan titik
didih asam lemak semakin besar sesuai dengan panjang rantai karbon dari
asam lemak penyusunnya.
3.

B. SARAN

21

DAFTAR PUSTAKA

22