Anda di halaman 1dari 11

1

BAB 9 ENDAPAN PERMUKAAN


Sutarto, Teknik Geologi UPN Yogyakarta

Endapan permukaan merupakan endapan-endapan bijih yang terbentuk relatif di


permukaan, yang dipengaruhi oleh pelapukan dan pergerakan air tanah. Telah dikenal
secara luas, bahwa endapan (sedimen} permukaan dibagi menjadi endapan alohton
(allochthonous) dan endapan autohton (autochthonous). Endapan alohton merupakan
endapan yang ditransport dari tempat lain (dari luar lingkungan pengendapan),
sedangkan endapan autohton adalah endapan yang terbentuk di lingkungan
pengendapan

Endapan alohton yang terkait dengan bijih atau secara ekonomi sering disebut sebagai
endapan placer. Sedangkan endapan autohton yang terkait dengan bijih biasa dikenal
sebagai endapan residual dan endapan presipitasi kimia atau evaporasi.
Sedangkan pengkayaan supergen (supergen enrichment) walaupun tidak terbentuk
di dekat permukaan, tetapi pembentukannnya terkait dengan proses-proses di
permukaan.

9.1 Endapan Placer


Endapan placer secara umum dapat dibagi menjadi empat golongan, yaitu endapan
placer eluvial, endapan placer colluvial, endapan placer aluvial, dan endapan
placer aeolian (Macdonald, 1983 dalam Evans ,1993). Secara tradisional juga sering
digunakan istilah endapan placer residual, untuk endapan yang terbentuk dan berada
di atas batuan sumbernya. Endapan ini umumnya terbentuk pada daerah yang
mempunyai morfologi yang relatif datar. Penggunaan istilah endapan placer colluvial
tidak begitu populer, beberapa penulis menyebut endapan ini terbentuk di dasar suatu
tebing (cliff) dan sering diartikan sama dengan endapan talus. Endapan placer eluvial
umumnya terbentuk pada daerah yang memiliki morfologi bergelombang. Mineralmineral berat akan terkonsentrasi di lereng-lereng dekat batuan sumber.

Endapan placer aluvial terbentuk karena adanya aliran air, baik oleh pergerakan air
sungai maupun air laut. Endapan ini merupakan endapan placer yang paling penting di
dunia, mulai jaman primitif sampai sekarang. Komoditi penting yang terbentuk sebagai
endapan placer adalah emas (Au) dan Timah (Sn).

9.2 Endapan residual


Endapan-endapan placer, seperti yang telah dibahas di atas terbentuk dari material
yang terlepas dari batuan sumbernya baik secara mekanik maupun kimiawi. Seringkali
material atau unsur yang tertinggal oleh karena proses tersebut

mempunyai nilai

ekonomi yang tinggi. Endapan-endapan sisa tersebut dikenal sebagai endapan


residual. Untuk dapat terjadi endapan residual, pelapukan kimia yang intensif terutama
untuk daerah tropis dengan curah hujan yang tinggi sangat diperlukan. Dalam kondisi
tersebut sebagian besar batuan akan menghasilkan soil yang kehilangan materialmaterial yang mudah larut. Soil seperti ini dikenal sebagai laterit (laterites). Besi (Fe)
dan aluminium (Al) hidroksid adalah sebagaian dari material yang paling tidak mudah
larut, dan laterit umumnya mengandung material ini.

Endapan residual aluminium


Laterit yang sebagian besar mengandung aluminium hidroksid disebut sebgai bauxite
dan merupakan bijih aluminium yang paling penting. Beberapa endapan bauxite
mengalami melapukan dan terendapkan kembali membentuk bauxite sedimen
(sedimentary bauxites).

Endapan residual nikel (Ni)

Ada sedikit perbedaan pembentukan antara residual aluminium dengan residual nikel.
Aluminium merupakan unsur yang tidak mudah larut, sedangkan nikel mudah larut.
Selama lateritisasi, nikel yang terkandung dalam batuan peridotit dan serpentinit
(0,25% Ni) pada awalnya terlarut, tetapi kemudian secara cepat mengalami presipitasi
kembali ke dalam mineral-mineral oksida besi pada zona laterit atau zona limonit (12% Ni) atau dalam garnierit pada zona saprolit (2-3%, zona lapuk di bawah zona
laterit)

Secara umum profil laterit nikel; dapat dibagi menjadi 4 zona (dari atas ke bawah),
yaitu :
a. Zona Overburden atau iron Capping
Zona ini berada paling atas pada profil dan masih dipengaruhi aktivitas
permukaan dengan kuat. Zona ini tersusun oleh humus dan limonit dengan
kandungan Ni sekitar 0,5-1%). Mineral-penyusunnya adalah goethit, hematit,
yang mengindikasikan daerah yang sudah lama tersingkap. Iron capping
(Ferricrete) terbentuk akibat mobilitas limonit yang berbentuk pada kondisi
asam dekat permukaan dengan morfologi relatif datar.
b. Zona Limonite
Zona ini di bawah iron capping, sebagai zona transisi kea rah zona saprolit
dengan ukuran material berfariasi dari lempung pasir. Tekstur dan struktur
dari batuan induk mulai dapat dikenali, dengan jumlah fragmen peridotit
berukuran 2-3 cm (jumlah sedikit). ecendrungan kimia pada lapisan ini, terjadi
pengkayaan supergen Ni yang signifikan (1-2% Ni), Fe semakin mengecil, SiO2
semakin membesar, dan Co pada lapisan ini paling tinggi dan mengalami
kestabilan (dibanding lapisan yang lain). Mineralisasi sama dengan zona limonit
dan zona saprolit, yang membedakan adalah hadirnya kuarsa, lithopirit, dan
opal.
c. Zona saprolit
Merupakan zona bijih (ore zone), mengandung banyak fragmen batuan dasar
sehingga mineral penyusunnya, tekstur dan struktur batuan induk dapat dengan
mudah dikenali. Saprolit urat (vein) garnierit, yang merupakan koloid
nickeliferous serpentine banyak dijumpai. Kecendrungan kimianya, yaitu
mempunyai kandungan Ni yang paling tinggi (2-3% Ni). Ketebalan berkisar
antara 2 - 14 meter. Hasanudin dkk (1992), menyatakan bahwa Derajat
serpentinisasi batuan asal laterit akan mempengaruhi pembentukan zona
saprolit, dimana batuan induk yang sedikit terserpentinisasi akan memberikan
zona saprolit dengan inti batuan sisa yang keras, pengisian celah oleh mineral

garnierit,

kalsedon

nikel

dan

kuarsa,

sedangkan

serpentinit

akan

menghasilkan zona saprolit yang relatif homogen dengan sedikit kuarsa atau
garnierit.
d. Zona batuan induk (bedrock zone)
Zona batuan induk berada pada bagian paling bawah dari profil laterit.
Tersusun atas bongkah lebih besar dari 75 cm dan blok batuan dasar dan
secara umum sudah tidak mengandung mineral ekonomis lagi (<0,5% Ni).
Zona ini terfrakturisasi kuat, kadang - kadang membuka, terisi oleh mineral
garnierit dan silika. Frakturisasi ini diperkirakan menjadi penyebab muncul atau
adanya root zone of weathering (zona akar akar pelapukan), yaitu high grade
Ni, akan tetapi posisinya tersembunyi. Batuan induk umumnya berupa peridotit,
dunit, serpentinit.

9.3 Pengkayaan supergen

Selama berlangsung pengangkatan dan erosi, suatu endapan bijih terekspos di dekat
permukaan, kemudian mengalami proses pelapukan, pelindian (leaching), maupun
oksidasi pada mineral-mineral bijih. Proses tersebut menyebabkan

banyak unsur

logam (Cu2+, Pb2+, Zn2+ dll.) akan terlarut (umumnya sebagai senyawa sulfat) dalam air
yang bergerak ke dalam air tanah atau bahkan sampai ke kedalaman dimana proses
oksidasi tidak berlangsung.
Daerah dimana terjadi proses oksidasi disebut sebagai zona oksidasi. Sebagian
larutan yang mengandung logam-logam yang terlarut bergerak terus hingga di bawah
muka air tanah, kemudian logam-logam tersebut mengendap kembali membentuk
sulfida sekunder. Zona ini dikenal sebagai zona pengkayaan supergen. Di bawah zona
pengkayaan supergen terdapat daerah dimana mineralisasi primer tidak terpengaruh
oleh proses oksidasi maupun pelindian, yang disebut sebagai zona hipogen (Gambar
1).

Gossan

Gambar 1. Penampang umum urat


yang
mengandung
sulfida,
memperlihatkan
pengkayaan
supergen (dimodifikasi dari Jensen
dan Batema, 1981)

Zona pelindian
(leaching)

Bijih oksida
Muka air tanah

Zona pengkayaan
supergen

Zona hipogen

Menurut Jensen dan Bateman (1981), terdapat tiga stadia berkaitan dengan proses
pengkayaan supergen, yaitu:
1. Oksidasi dan pelindian pada zona oksidasi
2. Pengendapan di dalam zona oksidasi
3. Pengendapan di dalam zona pengkayaan supergen (reduksi)

Gambar 2. Perbandingan pembentukan mineral-mineral sulfida dan oksida sekunder dari


beberapa logam yang berbeda (Barnes, 1988)

Oksidasi dan pelarutan di zona oksidasi


Proses oksidasi terjadi di atas muka air tanah. Efek oksidasi pada endapan bijih
berpengaruh sampai bagian dalam, menyebabkan:
1. Terubahnya struktur mineral
2. Unsur logam pada mineral terlindi dan membentuk senyawa baru
3. Mengaburkan tekstur dan tipe endapan, terutama dengan kehadiran
limonit.
Faktor yang sangat berpengaruh terhadap proses oksidasi adalah air sebagai regin,
tetapi CO2 juga berperan penting, disamping dibantu bakteria Thiobacillus ferrooxidans
(proses biokimia) (Barnes, 1988). Substansi di atas (terutama air) akan bereaksi

dengan mineral tertentu terutama pirit (sebagian besar endapan bijih mengandung
pirit), menghasilkan pelarut yang kuat seperti ferric sulfate atau sulfuric acid.
Jensen dan Bateman (1981) membuat rangkaian pembentukan ferric sulfate, yang
diawali oleh oksidasi dan hidrolisa pada pirit (pirhotit /Fe8S9 dapat membentuk proses
yang sama), dengan reaksi sebagai berikut:
1). FeS2 + 7O + H2O FeSO4
(pirit)

(ferrous sufate)

+ H2SO4
(sulfuric acid)

2). 2FeSO4 + H2SO4 + O Fe2 (SO4)3 + H2O


(ferric sulfate)

3). 6FeSO4

+ 3O + 3H2O 2Fe2 (SO4)3 + 2Fe(OH)3

(ferrous sufate)

(ferric sulfate)

(ferric hydroxide)

4). Fe2 (SO4)3 + 6H2O 2Fe(OH)3 + 3H2SO4

Dari reaksi tersebut di atas terlihat bahwa pirit, sangat berperan membentuk agen
pelarut ferric sulfate. Ferric hydroxide akan berubah menjadi hematit dan goethite
membentuk endapan limonit, sebagai penciri zona oksidasi (Jensen dan Bateman,
1981).
Ferric sulfate kemudian akan bereaksi dengan logam dan sulfida lain seperti kalkopirit,
spalerit, galena, kovelit, dan perak.Unsur-unsur logam pada sulfida tersebut akan
terlarut dan membentuk senyawa sulfat dan terus bergerak ke arah bawah menembus
muka air tanah.
5). Fes2 + Fe2 (SO4)3 3FeSO4 +2S
(pirit)

6). CuFeS2 + 2Fe2 (SO4)3 CuSO4 + 5FeSO4 + 2S


(kalkopirit)

7). Cu2S + Fe2 (SO4)3 CuSO4 + 2FeSO4 + CuS


(kalkosit)

8). CuS + Fe2 (SO4)3 2FeSO4 + CuSO4 + S


(kovelit)

9). ZnS + Fe2 (SO4)3 + 4H2O ZnSO4 + 8FeSO4 + 4H2SO4


(spalerit)

10). PbS + Fe2 (SO4)3 + H2O + 3O PbSO4 + 2FeSO4 + H2SO4


(galena)

11). 2Ag + Fe2 (SO4)3 Ag2SO4 + 2FeSO4


(perak)

Ketidak hadiran pirit pada endapan bijih yang mengalami oksidasi, menyebabkan
pelarut ferric sulfate terbentuk dalam jumlah yang sedikit, sehingga pelarutan pada
sulfida juga terjadi dalam jumlah sedikit. Keadaan ini menyebabkan sulfida-sulfida
cenderung terubah menjadi senyawa yang teroksidasi yang in situ, sehingga tidak
terjadi pengkayaan supergen.
Contoh endapan ini adalah di pertambangan New Cornelia di Ajo, Arizona; minimnya
pirit menyebabkan kalkopirit terubah menjadi tembaga karbonat. Hal ini juga dapat
terjadi pada tembaga sulfida lainnya, sedikitnya pirit akan menyebabkan sulfida seperti
kalkosit terubah menjadi tembaga karbonat, kuprit, atau unsur tembaga.

Menurut Evans (1993), apabila pross melibatkan kehadiran karbon dioksida (CO2),
oksidasi pirit akan langsung membentuk ferric hydroxide, tetapi tidak membentuk
ferrous sulfate yang menghasilkan ferric sulfate. Kehadiran CO2 juga menyebabkan
terlarutnya unsur logam pada sulfida lain seperti kalkopirit, membentuk senyawa
tembaga sulfida.
12. 2FeS2 + 15O + 8 H2O + CO2 2Fe(OH)3 + 4H2SO4 + H2CO2
13. 2CuFeS2 + 17O + 6H2O + CO2 2Fe(OH)3 + 2CuSO4 + 2H2SO4 + H2CO3
Selama oksidasi, mineral-mineral alumina-silikat karena metasomatisme ion H+, akan
melepas komponen silika dan material yang teroksidasi (Fe2+, Mg2+), membentuk
mineral-mineral lempung. Material yang terlindi tersebut mungkin dapat bertahan
sebagai gel atau material kriptokristalin, kemudian menyatu dengan sejumlah oksida
besi membentuk jasper. Oleh karena itu jasperoid merupakan bahan penting di dalam
mempelajari gossan dan ubahan.

Pengendapan di dalam zona oksidasi

Seringkali logam-logam yang terlarut sudah mengendap sebelum mencapai muka,


membentuk mineral-mineral oksida seperti kuprit (Cu2O), Goethite (-FeOOH), dan
Hematit (Fe2O3).
Batugamping

atau

batuan-batuan

yang

karbonatan

cenderung

menghambat

pergerakan larutan sulfat di dalam zona oksidasi ke arah bawah. Komponen pada
batugamping yang reaktif akan bereaksi dengan tembaga sulfat membentuk , misalnya
endapan tembaga karbonat seperti malakit [Cu2(CO3)(OH)2], azurit [Cu3(CO3)2(OH)2],

Smitsonit

(ZnCO3),

maupun

Cerussite

(PbCO3);

sehingga

akan

mengurangi

pengkayaan supergen.

Pengendapan di dalam zona reduksi (pengkayaan supergen)


Sebagian besar logam yang terlarut, tertinggal dalam larutan sampai di bawah muka
air tanah yang mempunyai kondisi reduksi. Keadaan ini menyebabkan terjadinya reaksi
replacement (penggantian) pada sulfida primer oleh sulfida sekunder, menyebabkan
kadar logam pada zona ini menjadi bertambah. Reaksi-reaksi yang umum adalah
sebagai berukut:
14. PbS + CuSO4 CuS + PbSO4
(kovelit) (anglesit)

15. 5FeS2 + 14CuSO4 + 12H2O 7Cu2S + 5FeSO4 + 12H2SO4


(kalkosit)

16. CuFeS2 + CuSO4 2CuS + FeSO4


(kovelit)

Gossan dan capping (tudung)


Gossan adalah singkapan batuan yang teroksidasi membentuk massa limonit di atas
endapan bijih sulfida. Dengan pengertian lain gossan adalah konsentrasi besar
material limonitik, yang berasal dari mineral-mineral sulfida masiv, yang mengalami
pelindian di tempat, dan tertranspor ke arah bawah (Jensen dan Bateman, 1981).
Sedangkan Capping adalah tubuh bijih atau batuan yang mengalami pelindian, tetapi
masih mengandung diseminasi mineral sulfida (Jensen dan Bateman, 1981). Gossan
tidak hanya terbatas pada bagian permukaan, tetapi juga dapat menerus hingga jauh
di bawah permukaan. Pada beberapa kasus gossan dapat mengandung mineral bijih
yang ekonomis untuk ditambang.

Peranan besi pada gossan

Limonit terbentuk selama oksidasi dari sulfida yang mengandung besi (tidak
terlarutkan) di dalam zona oksidasi dan membentuk gossan dan capping. Mineralmineral teroksidasi lain yang tinggal di dalam gossan juga dapat mengindikasikan
mineral primernya, seperti Pb-sulfat dan Pb-karbonat, Zn-silikat dan Zn-karbonat,
maupun unsur perak. Emas umumnya tinggal sebagai native gold.
Pada bagian tertentu, sulfida besi mungkin dapat membentuk salah satu:

10

a. Sebagai oksida di tempat mana sulfida tersebut berada, membentuk


indigenous limonite, atau
b. Terlarut, tertransport, kemudian meng endap kembali di segala tempat
membentuk transported limonite.
Oksidasi pirit yang membentuk ferrous sulfate akan membentuk transported limonite
(reaksi 1 dan 3), sebaliknya pada reaksi 12 dan 13, oksidasi pirit dan kalkopirit
langsung menghasilkan ferric hydroxide sebagai pembentuk limonit.

Boxwork limonit

Ketika butiran sulfida mengalami oksidasi dan residual limonit (indigenous) tertinggal di
dalam rekahan atau pori, akan memperlihatkan pola tertentu yang dikenal sebagai
boxwork.
Struktur dan warna yang dibentuk oleh indigenous limonite pada boxwork, sebagaian
besar dapat dijadikan penciri (diaknostik) mineral asalnya. Dengan mengenal pola
boxwork dapat diperkirakan kemungkinan mineral sulfida yang berada di bawahnya.
Kenampakan struktur yang sama tetapi menunjukkan warna yang berbeda,
kemungkinan mineral asalnya berbeda. Mineral-mineral limonit seperti goethite,
hematit, dan jarosit pada umumnya tahan terhadap ubahan, sehingga pola boxwork
tidak akan berubah.

Pustaka

Jensen, M.L., and Bateman, A.M., 1981.Economic Mineral Deposits, John Wiley &
Sons, New York, Chichester, brisbane, Toronto, Singapore, 593 h.
Evans, A.M., 1993. Ore geology and industrial Minerals, an introduction, Geoscience
Texts, Blackwell Science, 389 h.
Barnes, J.W., 1988. Ores and Minerals, introducing economic geology, Open
University Press, Milton Keynes, Philadelpia, 181 h.

11