Anda di halaman 1dari 7

Tinjauan Yuridis: Kebijakan Pemberlakuan

Tanggung Jawab Corporate Social Responsibilty (CSR)

Oleh:
Ade Adhari1
Researcher in Energy and Mining Law
Research Department of Energy and Mining Law Institute (EMLI) Indonesia

Pendahuluan
Meskipun isu tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility) sudah
cukup lama muncul di negara-negara maju, namun di Indonesia, isu tersebut baru akhir-akhir
ini mengalami perhatian yang cukup intens dari berbagai kalangan (perusahaan, pemerintah,
akademisi, dan NGOs).2 Pentingnya CSR baru dirasakan setelah dikeluarkannya Keputusan
Menteri BUMN No. Kep-236/MBU/2003 tentang Program Kemitraan Badan Usaha Milik
Negara dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan. Peraturan menteri BUMN
memang secara tegas tidak menggunakan istilah CSR, namun program kemitraan yang diatur
sebetulnya identik dengan CSR pula.
Perkembangan selanjutnya menunjukan, dalam perspektif nasional, CSR dipandang sebagai
sesuatu yang dianggap penting dalam konteks bisnis. Hal ini terbukti dengan munculnya
berbagai peraturan perundang-undangan yang diterbitkan oleh Pemerintah yang didalamnya
mengatur CSR. Berbagai peraturan perundang-undangan yang dimaksud antara lain:

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas jo. Peraturan


Pemerintah Nomor 47 Tahun 2012 tentang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan
Perseroan Terbatas
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara jo. Peraturan
Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor Per-05/MBU/2007 tentang Program
Kemitraan Badan Usaha Milik Negara dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Barubara jo. PP
No. 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan
Batubara
Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2014 tentang Panas Bumi
dan seterusnya.

Berpijak pada ulasan diatas, maka tulisan ini bermaksud untuk menguraikan secara singkat
pengaturan CSR dalam hukum positif di Indonesia.

Tinjauan Yuridis: Kebijakan Tanggung Jawab CSR


Tanpa menunggu waktu lama, pembahasan pada bagian ini akan terfokus pada bagaimanakan
pemerintah memberikan pengaturan CSR dalam hukum positif. Peraturan perundangundangan yang pertama yang akan dibahas adalah Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007
tentang Perseroan Terbatas (selanjutnya disebut UU PT) beserta peraturan pelaksananya
yakni Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2012 tentang Tanggung Jawab Sosial dan
Lingkungan Perseroan Terbatas (selanjutnya disebut PP CSR). Dalam UU PT, pengaturan
mengenai CSR hanya terdapat dalam 1 (satu) pasal yakni Pasal 74. Pasal 74 menegaskan
Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber
daya alam wajib melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan, yang mana
kewajiban tersebut dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya perseroan yang
pelaksanaannya dilakukandengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran. Apabila
kewajiban tersebut tidak dijalankan maka akan dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku. Selanjutnya dalam penjelasan pasal tersebut ditegaskan
pula mengenai tujuan diberlakukannya kewajiban CSR, untuk tetap menciptakan hubungan
Perseroan yang serasi, seimbang, dan sesuai dengan lingkungan, nilai, norma, dan budaya
masyarakat.

Menyimak pengaturan yang diberikan dalam UU PT maka dapat disimpulkan beberapa hal
antara lain:

CSR merupakan kewajiban bagi perseroan yang kegiatan usahanya mengelola dan
memanfaatkan sumber daya alam atau perseroan yang tidak mengelola dan tidak
memanfaatkan sumber daya alam, tetapi kegiatan usahanya berdampak pada fungsi
kemampuan sumber daya alam;
Penyelenggaraan CSR dimasukan sebagai biaya perseroaan;

Penyelenggaraan CSR memperhatikan prinsip kepatutan dan prinsip kewajaran;


Terdapat sanksi apabila CSR tidak dilaksanakan, dimana sanksi tersebut dikenakan
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang terkait;
CSR didasarkan pada ide keseimbangan hubungan antara Perseroan, Lingkungan, dan
Sosial.

Atas amanat Pasal 74 ayat (4) UU PT kemudian pemerintah menerbitkan peraturan lebih
lanjut yakni PP CSR. Salah satu pengaturan pentingnya, dalam Pasal 6 PP CSR diatur
pelaksanaan tanggung jawab sosial dan lingkungan dimuat dalam laporan tahunan Perseroan
dan dipertanggungjawabkan kepada RUPS. Penjelasan Umum PP CSR juga menguraikan
tujuan pemberlakuan CSR. Pengaturan tanggung jawab sosial dan lingkungan tersebut
dimaksudkan untuk:

meningkatkan kesadaran Perseroan terhadap pelaksanaan tanggung jawab sosial dan


lingkungan di Indonesia;
memenuhi perkembangan kebutuhan hukum dalam masyarakat mengenai tanggung jawab
sosial dan lingkungan; dan
menguatkan pengaturan tanggung jawab sosial dan lingkungan yang telah diatur dalam
berbagai peraturan perundang-undangan sesuai dengan bidang kegiatan usaha Perseoan yang
bersangkutan.

Selanjutnya pengaturan mengenai CSR juga dapat ditemukan dalam Undang-Undang Nomor
25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UU PM). Walaupun sejatinya dalam UU PM
istilah yang digunakan bukan tanggung jawab sosial dan lingkungan melainkan tanggung
jawab sosial perusahaan. Dalam Pasal 15 disebutkan salah satu kewajiban penanam modal
adalah melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan. Tanggung jawab ini bersifat melekat
pada setiap perusahaan penanam modal untuk tetap menciptakan hubungan yang serasi,
seimbang, dan sesuai dengan lingkungan, nilai, norma, dan budaya masyarakat. Dengan
kondisi pengaturan yang demikian hemat penulis, pembentuk UU tidak konsisten dalam
penggunaan istilah. Sanksi yang dapat diberikan ketika kewajiban sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 15 tidak dijalankan, dikenai sanksi administratif berupa: 3

peringatan tertulis;
pembatasan kegiatan usaha;
pembekuan kegiatan usaha dan/atau fasilitas penanaman modal; atau

pencabutan kegiatan usaha dan/atau fasilitas penanaman modal.

Sanksi administratif tersebut diberikan oleh instansi atau lembaga yang berwenang dan tidak
menutup kemungkinan perusahaan diberikan sanksi lainnya sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pengaturan mengenai sanksi lain selain
administratif menjadi sangat penting ketika sanksi administratif tidak mampu
mempertahankan agar ketentuan tanggung jawab lingkungan dan sosial yang ada
dilaksanakan. Sanksi alternatif selain administratif seyogyanya menjadi isu penting pula yang
perlu dipertimbangkan dalam kebijakan pemberlakuan CSR di Indonesia kedepannya. Setelah
UU PM, berikutnya UU No. 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara yang didalam
Pasal 88 ayat (1) dinyatakan BUMN dapat menyisihkan sebagian laba bersihnya untuk
keperluan pembinaan usaha kecil/koperasi serta pembinaan masyarakat sekitar BUMN.
Ketentuan Pasal 88, dapat pula diidentikan sebagai CSR walaupun sistilah yang digunakan
pembinaan usaha kecil/koperasi dan pembinaan masyarakat. Pasal 88 UU BUMN lebih
lanjut dijabarkan Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor Per05/MBU/2007 tentang Program Kemitraan Badan Usaha Milik Negara dengan Usaha Kecil
dan Program Bina Lingkungan, dalam permen tersebut diperkenalkan Program Kemitraan
dan Program Bina Lingkungan yang wajib dilaksanakan oleh Perum atau Persero.4

Berikutnya dalam UU yang berkenaan dengan pengelolaan sumber daya alam ditemukan pula
ketentuan yang dapat diidentikan sebagai bentuk CSR, antara lain dalam:

Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, dalam Pasal 11
ayat (3) disebutkan ketentuan-ketentuan pokok yang harus dimuat dalam Kontrak Kerjasama
salah satunya mengenai pengembangan masyarakat sekitarnya dan jaminan hak-hak
masyarakat ada. Selain ketidaksamaan istilah yang digunakan, karena digunakan istilah
pengembangan masyarakat dan bukan tanggung jawab sosial dan lingkungan Perseroan,
dalam UU Migas juga tidak terdapat ketentuan mengenai sanksi apabila kewajiban
pengembangan masyarakat dilanggar.
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Barubara (UU
Minerba), dalam Pasal 108 UU Minerba dinyatakan pemegang IUP dan IUPK wajib
menyusun program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat, penyusunan program
tersebut dikonsultasikan kepada Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat. Ketentuan
lebih lanjut dari Pasal 108 UU Minerba terdapat dalam PP No. 23 Tahun 2010 tentang
Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara, tepatnya dalam Pasal 106109. Istilah yang digunakan dalam UU Minerba dengan UU PT tidaklah sama, karena dalam
UU Minerba digunakan istilan pengembangan dan pemberdayaan masyarakat. Menurut Pasal
110 PP 23/2010, apabila kewaiban pengembangan dan pemberdayaan masyarakat dilanggar
maka akan diberikan sanki administratif berupa: peringatan tertulis, penghentian sementara

IUP Operasi produksi atau IUPK Operasi Produksi mineral atau batubara; dan atau
pencabutan IUP atau IUPK.
Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2014 tentang Panas Bumi, Pasal 52 ayat (1) huruf
gmenegaskan salah satu kewajiban pemegang izin Panas Bumi adalah melaksanakan program
pengembangan dan pemberdayaan masyarakat setempat. Dalam Pasal 65 ayat (2) dinyatakan
pula hak masyarakat yang salah satu diantaranya adalah memperoleh manfaat atas kegiatas
pengusahaan Panas Bumi melalui kewajiban perusahaan untuk memenuhi tanggung jawab
sosial perusahaan dan/atau pengembangan masyarakat sekitar. Apabila ketentuan Pasal 52
ayat (1) huruf g dilanggar maka dapat dikenakan sanksi administartif berupa peringatan
tertulis, penghentian sementara seluruh kegiatan eksplorasi, ekploitasi dan pemanfaatan
dan/atau pencabutan Izin Panas Bumi.
dan lain sebagainya

Penutup
Menutup tulisan ini, secara yuridis pengaturan mengenai CSR dapat ditemukan tersebar di
berbagai peraturan perundang-undangan. Atas penelusuran terhadap landasan yuridis CSR
didapat beberapa catatan penting yakni: pertama, ketidak-konsistenan penggunaan istilah
CSR, terdapat beragam istilah yuridis seperti tanggung jawab sosial dan lingkungan,
tanggung jawab sosial perusahaan, pembinaan usaha kecil/koperasi dan pembinaan
masyarakat, pengembangan masyarakat sekitarnya dan jaminan hak-hak masyarakat ada, dan
program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat. Ketidak-konsistenan penggunaan
istilah dapat dipandang sebagai kelemahan karena potensial menimbulkan multitafsir dan
secara praktis setidaknya menyulitkan untuk mengidentidikasi pengaturan CSR. Kedua, tidak
semua perundang-undangan mengatur persoalan sanksi bagi perusahaan yang melanggar
kewajiban CSR, kalaupun ada masih terdapat masalah yuridis berupa tidak adanya alternatif
sanksi selain sanksi administrasi guna membantu menegakan norma CSR.

Daftar Pustaka
Badaruddin, Implementasi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Masyarakat Melalui
Pemanfaatan Potensi Modal Sosial: Alternatif Pemberdayaan Masyarakat Miskin di
Indonesia, Pidato Pengukuhan Guru Besar, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas
Sumatera Utara, 12 April 2008. Dapat diakses melalui
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/733/1/08E00205.pdf.

Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi

Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Barubara

Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2014 tentang Panas Bumi

PP No. 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan
Batubara

Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2012 tentang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan
Perseroan Terbatas

Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor Per-05/MBU/2007 tentang
Program Kemitraan Badan Usaha Milik Negara dengan Usaha Kecil dan Program Bina
Lingkungan

Peraturan Menteri BUMN Nomor: PER-08/MBU/2013 tentang perubahan Keempat atas


Peraturan Menteri BUMN Nomor PER-05/MBU/2007 tentang Program Kemitraan BUMN
dengan Usaha Kecila dan Program Bina Lingkungan.

1 Saat ini penulis tengah menempuh Program Kajian Sistem Peradilan Pidana (Criminal
Justice System) pada Magister Ilmu Hukum, Fakultas Hukum Universitas Diponegoro,
Semarang.

2 Badaruddin, Implementasi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Masyarakat Melalui


PemaSnfaatan Potensi Modal Sosial: Alternatif Pemberdayaan Masyarakat Miskin di
Indonesia, Pidato Pengukuhan Guru Besar, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas

Sumatera Utara, 12 April 2008, halaman 2. Dapat diakses melalui


http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/733/1/08E00205.pdf.

3 Cermati Pasal 34 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman modal.

4 Cermati pula Peraturan Menteri BUMN Nomor: PER-08/MBU/2013 tentang perubahan


Keempat atas Peraturan Menteri BUMN Nomor PER-05/MBU/2007 tentang Program
Kemitraan BUMN dengan Usaha Kecila dan Program Bina Lingkungan.