Anda di halaman 1dari 14

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Spiritual merupakan sebagai inti dari manusia yang memasuki dan mempengaruhi
kehidupannya dan dimanifestasikan dalam pemikiran dan prilaku serta dalam
hubungannya dengan diri sendiri, orang lain, alam, dan Tuhan (Dossey & Guzzetta,
2000).Klien dalam perspektif keperawatan seperti dikemukakan Henderson (2006)
merupakan individu, keluarga atau masyarakat yang memiliki masalah kesehatan dan
membutuhkan bantuan untuk dapat memelihara, mempertahankan dan meningkatkan
status kesehatannya. Sebagai manusia, klien selain sebagai mahluk individu, juga
merupakan mahkuk sosial dan mahluk Tuhan. Berdasarkan hakikat manusia itu, maka
keperawatan memandang manusia sebagai mahluk yang holistik yang terdiri atas aspek
biologis (fisiologis), psikologis, sosiologis, kultural dan spiritual.
Kecerdasan spiritual (SQ) adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan
persoalan makna kehidupan, nilai-nilai, dan keutuhan diri yaitu kecerdasan untuk
menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya,
kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna
dibandingkan dengan yang lain.
Dalam ilmu keperawatan spiritual juga sangat diperhatikan. Berdasarkan konsep
keperawatan, makna spiritual dapat dihubungkan dengan kata-kata makna, harapan,
kerukunan, dan sistem kepercayaan. Penting bagi perawat untuk memahami konsep yang
mendasari kesehatan spiritual. Spiritualitas merupakan suatu konsep yang unik pada
masing-masing individu. Manusia adalah mahluk yang mempunyai aspek spiritual yang
akhir-akhir ini banyak perhatian dari masyarakat yang disebut kecerdasan spiritual yang
sangat menentukan kehagiaan hidup seseorang. Penerapan kecerdasan spiritual dalam
konteks keperawatan , bertujuan memberikan pelayanan keperawatan melebihi harapan
klien dengan menggunakan kaidah spiritual (Islam) berdasar Al-Quran dan Hadis dalam
menerapkan ahlak pribadi muslim, landasan kerja dan perilaku muslim serta penampilan
dan ciri khas seorang perawat muslim (Marsa, 2001)
Dimensi spiritual merupakan salah satu dimensi penting yang perlu diperhatikan
oleh perawat dalam memberikan asuhan keperawatan kepada semua klien. Bahkan,
Makhija (2002) menyatakan bahwa keimanan atau keyakinan religius adalah sangat
penting dalam kehidupan personal individu. Lebih lanjut dikatakannya, keimanan
diketahui sebagai suatu faktor yang sangat kuat (powerful) dalam penyembuhan dan
pemulihan fisik. Mengingat pentingnya peranan spiritual dalam penyembuhan dan
pemulihan kesehatan maka penting bagi perawat untuk meningkatkan pemahaman
tentang konsep spiritual agar dapat memberikan asuhan spiritual dengan baik kepada
semua klien.
Kecerdasan spiritual dalam perspektif psikologi islam berarti membicarakan
komponen-komponen spiritual yang dimiliki manusia, yang dalam psikologi islam
dikenal sebagai komponen yang membentuk kepribadian manusia. Perawat atau ners
1

memahami bahwa aspek ini adalah bagian dari pelayanan yang komprehensif karena
respon spiritual kemungkian akan muncul pada pasien.
1.2 Rumusan Masalah
Adapaun rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan kecerdasan spiritual?
2. Apa ciri- ciri kecerdasan spiritual?
3. Apa fungsi kecerdasan spiritual?
4. Bagaimana peran perawat dalam memenuhi kebutuhan spiritual?
5. Bagaiman penerapan kecerdasan spiritual dalam layanan keperawatan?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Mahasiswa mampu memahami tentang konsep kecerdasan spiritual sebagai kunci sukses
dalam memberikan pelayanan keperawatan.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mahasiswa mampu menjelaskan pengertian kecerdasan spiritual
2. Mahasiswa mampu menjelaskan ciri- ciri kecerdasan spiritual
3. Mahasiswa mampu menjelaskan fungsi kecerdasan spiritual
4. Mahasiswa mampu menjelaskan peran perawat dalam memenuhi kebutuhan spiritual
5. Mahasiswa mampu menjelaskan penerapan kecerdasan spiritual dalam layanan
keperawatan.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kecerdasa Spiritual
2

2.1.1 Pengertian
Kecerdasan spiritual (SQ) sebagai kecerdasan untuk menghadapi dan
memecahkan persoalan makna dan nilai, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku
dan hidup dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai
bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dari pada yang lain. (Marsa,
2001).
Kecerdasan spiritual menurut Khalil A Khavari di definisikan sebagai fakultas
dimensi non-material kita atau jiwa manusia. Ia menyebutnya sebagai intan yang belum
terasah dan dimiliki oleh setiap insan. Kita harus mengenali seperti adanya,
menggosoknya sehingga mengkilap dengan tekat yang besar, menggunakannya menuju
kearifan, dan untuk mencapai kebahagiaan yang abadi (Sukidi., 2004).
Kecerdasan spiritual adalah pusat paling mendasar di antara kecerdasan yang lain,
karena dia menjadi sumber bimbingan bagi kecerdasan lainnya. Kecerdasan spiritual
mewakili kerinduan akan makna dan hubungan dengan yang tak terbatas (Covey,
2005).
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kecerdasan spiritual
adalah kemampuan potensial setiap manusia yang menjadikan ia dapat menyadari dan
menentukan makna, nilai, moral, serta cinta terhadap kekuatan yang lebih besar dan
sesama makhluk hidup, karena merasa sebagai bagian dari keseluruhan. Sehingga
membuat manusia dapat menempatkan diri dan hidup lebih positif dengan penuh
kebijaksanaan, kedamaian, dan kebahagiaan yang hakiki.
2.1.2 Ciri- Ciri Kecerdasan Spiritual
Kecerdasan spiritual (SQ) adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna
dan nilai dan ciri-ciri orang yang memiliki kecerdasan spiritual (SQ) yang telah
berkembang adalah sebagai berikut:
a. Kemampuan bersikap fleksibel (adaptif secara spontan dan aktif)
b. Tingkat kesadaran yang tinggi
c. Kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan
d. Kemampuan untuk menghadapi dan melampaui rasa sakit
e. Kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai
f. Keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu
g. Kecenderungan untuk melihat keterkaitan antara berbagai hal
h. Kecenderungan nyata untuk bertanya mengapa? atau bagaimana jika? untuk
mencari jawaban-jawaban yang mendasar.
i. Menjadi apa yang disebut oleh para psikolog sebagai bidang mandiri yaitu
memiliki kemudahan untuk bekerja melawan konvensi.

Roberts A. Emmons sebagaimana dikutip oleh Jalaluddin Rakhmat, ada 5 ciri orang yang
cerdas secara spiritual:
1. Kemampuan untuk mentransendensikan yang fisik dan material.
2. Kemampuan untuk mengalami tingkat kesadaran yang memuncak. Dua karakteristik
diatas disebut sebagai komponen inti kecerdasan spiritual. Anak yang merasakan
3

kehadiran Tuhan atau makhluk ruhaniyah disekitarnya mengalami transendensi fisikal


dan material. Ia memasuki dunia spiritual, ia mencapai kesadaran kosmis yang
menggabungkan dia dengan seluruh alam semesta.
3. Kemampuan untuk mensakralkan pengalaman sehari-hari.
4. Kemampuan untuk menggunakan sumber-sumber spiritual buat menyelesaikan
masalah. Anak yang cerdas secara spiritual tidak memecahkan persoalan hidup hanya
secara rasional atau emosional saja. Ia menghubungkannya dengan makna kehidupan
secara spiritual. Ia merujuk pada warisan spiritual yaitu Al- Quran dan Sunnah.
5. Kemampuan untuk berbuat baik, yaitu memiliki rasa kasih yang tinggi pada sesama
makhluk Tuhan seperti memberi maaf, bersyukur atau mengungkapkan terima kasih,
bersikap rendah hati, menunjukkan kasih sayang dan kearifan, hanyalah sebagai dari
kebajikan.
Seseorang yang mempunyai tingkat kecerdasan spiritual (SQ) tinggi cenderung
menjadi seorang pemimpin yang penuh pengabdian, yaitu seseorang yang
bertanggungjawab untuk membawakan visi dan nilai yang lebih kepada orang lain dan
memberikan petunjuk penggunaannya. Dengan kata lain seseorang yang memberi
inspirasi kepada orang lain. Tindakan atau langkah seseorang yang memiliki SQ yang
tinggi adalah langkah atau tindakan yang mereka ambil menyiratkan seperti apa dunia
yang mereka inginkan ini adalah perjalanan dari pengertian (awareness) menuju
kesadaran (consciousness). Semua individu SQ yang tahu mengapa mereka melakukan
apa yang mereka lakukan, selalu bertindak dari misi yang sama, untuk membawa tingkattingkat baru kecerdasan dalam dunia.
2.1.3 Fungsi Kecerdasan Spiritual
Manusia yang memiliki spiritual yang baik akan memiliki hubungan yang kuat
dengan Allah, sehingga akan berdampak pula kepada kepandaian dia dalam berinteraksi
dengan manusia, karena dibantu oleh Allah yaitu hati manusia dijadikan cendrung
kepada-Nya. Firman Allah dalam surat Fushshilat ayat 33 yang memiliki arti: Siapakah
yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah,
mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orangorang yang menyerah diri?
Dari keterangan diatas terdapat beberapa fungsi kecerdasan spiritual, antara lain:
1. Mendidik hati menjadi benar
Pendidikan sejati adalah pendidikan hati, karena pendidikan hati tidak saja
menekankan segi-segi pengetahuan kognitif intelektual saja tetapi juga
menumbuhkan segi-segi kualitas psikomotorik dan kesadaran spiritual yang reflektif
dalam kehidupan sehari-hari.
2. Kecerdasan spiritual dapat mengantarkan kepada kesuksesan.
Seperti hal Rasulullah SAW, sebagai seseorang yang terkenal seorang yang ummi,
tidak bisa baca tulis, namum beliau adalah orang paling sukses dalam hidupnya.
Beliau bisa melaksanakan semua yang menjadi tugas dan kewajibannya dengan
baik. Hal ini semuanya karena akal dan hati beliau mengikuti bimbingan dan
4

petunjuk Allah yang diturunkan kepadanya. Setiap langkah yang hendak


ditempuhnya, selalu disesuaikan dengan wahyu yang diterimanya, sehingga selalu
berakhir dengan kesuksesan yang gilang-gemilang. Allah menerangkan hal ini dalam
firman-Nya surat An-Najm, 53 : 6. Artinya : Yang mempunyai akal yang cerdas;
dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli.28
3. Kecerdasan spiritual dapat membuat manusia memiliki hubungan yang kuat dengan
Allah SWT.
Ini akan berdampak pada kepandaian dia berinteraksi dengan manusia lainnya,
karena dibantu oleh Allah yaitu hati manusia dijadikan cenderung kepada-Nya. Jadi
kondisi spiritual seseorang itu berpengaruh terhadap kemudahan dia dalam
menjalani kehidupan ini. Jika spiritualnya baik, maka ia akan menjadi orang yang
paling cerdas dalam kehidupannya.
4. Kecerdasan spiritual membimbing kita untuk meraih kebahagiaan hidup hakiki.
Hidup bahagia menjadi tujuan hidup kita semua, hampir tanpa kecuali. Maka dengan
itu ada tiga kunci yang harus kita perhatikan dalam meraih kebahagiaan hidup yang
hakiki yaitu:
1). Love (cinta).
Cinta adalah perasaan yang lebih menekankan kepekaan emosi dan sekaligus
menjadi energik atau tidak, sedikit banyaknya tergantung pada energi cinta.
Misalkan saja seorang anak muda yang lagi dimabuk cinta, meskipun kondisi
tubuhnya sedang lelah, namun dia tetap tampak energik dan bersemangat untuk
menemui dan menemani pacarnya. Itulah dorongan cinta yang menggelora dalam
emosinya. Tetapi apabila kecerdasan spiritual telah bagus maka dia tidak mau
untuk menjatuhkan cintanya kepada lawan jenisnya demi kepuasan nafsu semata,
tatapi dia akan lebih mencurahkan rasa cintanya kepada Tuhannya yang telah
menciptakannya yaitu Allah SWT. Kunci kecerdasan spiritual untuk meraih
kebahagiaan spiritual didasarkan pada cinta kepada Sang Khalik. Inilah level
cinta tertinggi yakni cinta kepada Allah (the love of God) karena cinta kepada
Allah akan menjadikan hidup kita lebih bermakna dan bahagia secara spiritual.
2). Doa.
Doa merupakan bentuk komunikasi spiritual kehadirat Tuhan. Karena itu,
manfaat terbesar doa terletak pada penguatan ikatan cinta antara manusia dan
Tuhan. Kita meneguhkan cinta kehadirat Tuhan dengan jalan doa. Doa menjadi
bukti bahwa kita selalu bersama Tuhan, dimanapun kita berada. Doa sebagai
salah satu nilai SQ terpenting dalam meraih kehidupan sukses, juga sangat
membatu kita dalam mengobati kekurangan gizi spiritual.
3). Kebajikan.
Berbuat kebajikan dan berbudi pekerti luhur dapat membawa kita pada kebenaran
dan kebahagiaan hidup. Hidup dengan cinta dan kasih sayang akan mengantarkan
kita pada kebajikan yang menjadikan kita lebih bahagia.
5

5. Kecerdasan spiritual mengarahkan hidup kita untuk selalu berhubungan dengan


kebermaknaan hidup agar hidup kita menjadi lebih bermakna.
Danah Zohar dan Ian Marshall (2000), menggambarkan orang yang memiliki
kecerdasan spiritual (SQ) sebagai orang yang mampu bersikap fleksibel, mampu
beradaptasi secara spontan dan aktif, mempunyai kesedaran diri yang tinggi, mampu
menghadapi dan memanfaatkan penderitaan, rasa sakit, memiliki visi dan prinsip
nilai, mempunyai komitmen dan bertidak penuh tanggung jawab.
6. Dengan menggunakan kecerdasan spiritual, dalam pengambilan keputusan
cenderung akan melahirkan keputusan yang terbaik, yaitu keputusan spiritual.
Keputusan spiritual itu adalah keputusan yang diambil dengan mengedepankan sifatsifat Ilahiah dan menuju kesabaran mengikuti Allah Ash-Shabuur atau tetap
mengikuti suara hati untuk memberi atau taqarub kepada Al-Wahhaab dan tetap
menyayangi, menuju sifat Allah Ar-Rahim. Allah menerangkan hal ini dalam firmanNya pada surat Al-Anaam, 6 : 57, Artinya: Katakanlah: Sesungguhnya aku
(berada) di atas hujjah yang nyata (Al-Quran) dari Tuhanku sedangkan kamu
mendustakannya. Bukanlah wewenangku (untuk menurunkan azab) yang kamu
tuntut untuk disegerakan kedatangannya. Menetapkan hukum itu hanyalah hak
Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia pemberi keputusan yang paling
baik.
7. Kecerdasan Spiritual merupakan landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ
dan EQ secara efektif, dan kecerdasan spiritual ini adalah kecerdasan tertinggi
manusia.
Artinya IQ memang penting kehadirannya dalam kehidupan manusia, yaitu agar
manusia memanfaatkan teknologi demi efisiensi dan efektivitas. Juga peran EQ yang
memang begitu penting dalam membangun hubungan antar manusia yang efektif
sekaligus perannya dalam meningkatkan kinerja, namun tanpa SQ yang mengajarkan
nilai-nilai kebenaran, maka keberhasilan itu hanyalah akan menghasilkan HitlerHitler baru atau Firaun-Firaun kecil di muka bumi.
Jadi dapat disimpulkan bahwa kecerdasan spiritual itu selain bisa membawa
seseorang ke puncak kesuksesan dan memperoleh ketentraman diri, juga bisa
melahirkan karakter-karakter yang mulia di dalam diri manusia.

2.2 Peran Perawat dalam Memenuhi Kebutuhan Spiritual


2.2.1 Perkembangan Spiritual
Perawat yang bekerja di garis terdepan harus mampu memenuhi semua
kebutuhan manusia termasuk juga kebutuhan spiritual klien. Berbagai cara dilakukan
perawat untuk memenuhi kebutuhan klien mulai dari pemenuhan makna dan tujuan
spiritual sampai dengan memfasilitasi klien untuk mengekspresikan agama dan
keyakinannya. Pemenuhan aspek spiritual pada klien tidak terlepas dari pandangan

terhadap lima dimensi manusia yang harus dintegrasikan dalam kehidupan. Lima
dimensi tersebut yaitu dimensi fisik, emosional, intelektual, sosial, dan spiritual.
Dimensi-dimensi tersebut berada dalam suatu sistem yang saling berinterksi,
interrelasi, dan interdepensi, sehingga adanya gangguan pada suatu dimensi dapat
mengganggu dimensi lainnya. Perawat harus mengetahui tahap perkembangan
spiritual dari manusia, sehingga perawat dapat memberikan asuhan keperawatan
dengan tepat dalam rangka memenuhi kebutuhan spiritual klien. Tahap perkembangan
klien dimulai dari lahir sampai klien meninggal dunia.
Perkembangan spiritual manusia dapat dilihat dari tahap perkembangan mulai
dari bayi, anak-anak, pra sekolah, usia sekolah, remaja, dewasa muda, dewasa
pertengahan, dewasa akhir, dan lanjut usia. Secara umum tanpa memandang aspek
tumbuh-kembang manusia proses perkembangan aspek spiritual dilhat dari
kemampuan kognitifnya dimulai dari pengenalan, internalisasi, peniruan, aplikasi dan
dilanjutkan dengan instropeksi. Namun, berikut akan dibahas pula perkembangan
aspek spiritual berdasarkan tumbuh-kembang manusia (Carson, 2002)
Perkembangan spiritual pada anak sangatlah penting untuk diperhatikan.
Manusia sebagai klien dalam keperawatan anak adalah individu yang berusia antara
0-18 bulan, yang sedang dalam proses tumbuh kembang, yang mempunyai kebutuhan
yang spesifik (fisik, psikologis, sosial, dan spiritual) yang berbeda dengan orang
dewasa. Anak adalah individu yang masih bergantung pada orang dewasa dan
lingkungan, artinya membutuhkan lingkungan yang dapat memfasilitasi dalam
memenuhi kebutuhan dasarnya dan untuk belajar mandiri (Carson, 2002).
Perkembangan spiritual seseorang menurut Westerhoffs dibagi dalam 4 tingkatan
berdasarkan kategori umur :
a. Usia anak-anak
Tahap perkembangan kepercayaan berdasarkan pengalaman. Perilaku yang didapat
antara lain adanya pengalaman dari interaksi dengan orang lain, belum mempunyai
pemahaman salah atau benar kepercayaan ata keyakinan mungkin hanya mengikuti
ritual atau meniru orang lain.
b. Usia remaja akhir
Merupakan tahap perkumpulan kepercayaan yang ditandai dengan adanya
patisipasi aktif pada aktivitas keagamaan. Pada perkembangan ini sudah mulai
pada keinginan untuk pencapaian kebutuhan spiritual seperti mulai meminta atau
berdoa kepada penciptanya.
c. Usia awal dewasa
Merupakan masa pencarian kepercayaan dini diawali dengan proses pertanyaan
akan keyakinan. Pada masa ini pemikiran sudah bersifat rasional dan keyakinan
sudah dikaitkan dengan hal yang rasional.
d. Usia pertengahan dewasa
Pada masa ini kepercayaan dari diri sendiri diawali dengan semakin kuat percyaan
diri yang dipertahankan walaupun menghadapi perbedaan keyakinan.
2.2.2

Aspek- aspek spiritual


Menurut Burkhardt (dalam Hamid, 2000) spiritualitas meliputi aspek sebagai berikut:

a. Berhubungan dengan sesuatu yang tidak diketahui atau ketidakpastian dalam


kehidupan
b. Menemukan arti dan tujuan hidup
c. Menyadari kemampuan untuk menggunakan sumber dan kekuatan dalam diri
sendiri
d. Mempunyai perasaan keterikatan dengan diri sendiri dan dengan Yang Maha
Tinggi.
2.2.3

Hubungan antara Spiritual dengan sehat- sakit


Keyakinan spiritual sangat penting bagi perawat karena dapat mempengaruhi tingkat
kesehatan dan prilaku klien. Beberapa pengaruh yang perlu dipahami:
a. Menuntun kebiasaan sehari-hari
Praktik tertentu pada umumnya yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan
mungkin mempunyai makna keagamaan bagi klien, sebagai contoh: ada agama
yang menetapkan diet makanan yang boleh dan tidak boleh dimakan.
b. Sumber dukungan
Pada saat stress, individu akan mencari dukungan dari keyakinan agamanya.
sumber kekuatan sangat diperlukan untuk dapat menerima keadaan sakitnya
khususnya jika penyakit tersebut membutuhkan waktu penyembuhan yang lama.
c. Sumber konflik
Pada suatu situasi bisa terjasi konflik antara keyakinan agama dengan praktik
kesehatan. Misalnya: ada yang menganggap penyakitnya adalah cobaan dari Tuhan

2.2.4

Peran perawat
Menurut Undang-undang Kesehatan No.23 tahun 1992 bahwa Perawat adalah
mereka yang memiliki kemampuan dan kewenangan melakukan tindakan
keperawatan berdasarkan ilmu yang dimilikinya yang diperoleh melalui pendidikan
keperawatan. Aktifitas keperawatan meliputi peran dan fungsi pemberian asuhan atau
pelayanan keperawatan, praktek keperawatan, pengelolaan institusi keperawatan,
pendidikan klien (individu, keluarga dan masyarakat) serta kegiatan penelitian
dibidang keperawatan (Gafar, 1999).
Dalam hal ini klien dianggap sebagai tokoh utama (central figure) dan
menyadari bahwa tim kesehatan pada pokoknya adalah membantu tokoh utama tadi.
Usaha perawat menjadi sia-sia bila klien tidak mengerti, tidak menerima atau menolak
atas asuhan keperawatan, karenanya jangan sampai muncul klien tergantung pada
perawat/tim kesehatan. Jadi pada dasarnya tanggung jawab seorang perawat adalah
menolong klien dalam membantu klien dalam menjalankan pekerjaan-pekerjaan yang
biasanya dia lakukan tanpa bantuan.
Perawat dapat melakukan beberapa hal yang dapat membantu kemampuan
untuk memenuhi kebutuhan klien, diantaranya menciptakan rasa kekeluargaan dengan
klien, berusaha mengerti maksud klien, berusaha untuk selalu peka terhadap ekspresi
non verbal, berusaha mendorong klien untuk mengekspresikan perasaannya, berusaha
mengenal dan menghargai klien. Mengingat perawat merupakan orang pertama dan
secara konsisten selama 24 jam sehari menjalin kontak dengan pasien, sehingga dia
sangat berperan dalam membantu memenuhi kebutuhan spiritual pasien.

Menurut Andrew dan Boyle (2002) pemenuhan kebutuhan spiritual


memerlukan hubungan interpersonal, oleh karena itu perawat sebagai satu-satunya
petugas kesehatan yang berinteraksi dengan pasien selama 24 jam maka perawat
adalah orang yang tepat untuk memenuhi kebutuhan spiritual pasien. Kebutuhan
spiritual klien sering ditemui oleh perawat dalam menjalankan perannya sebagai
pemberi pelayanan atau asuahn keperawatan. Hal ini perawat menjadi contoh peran
spiritual bagi klienya. Perawat harus mempunyai pegangan tentang keyakianan
spiritual yang memenuhi kebutuhanya untuk mendapatkan arti dan tujuan hidup,
mencintai, dan berhubungan serta pengampunan ( (Hamid, 2000).
Asuhan Keperawatan menggunakan kecerdasan SQ yang diberikan secara
profesional oleh perawat dengan kaidah Islam memberi kesempatan Umat Islam di
negeri ini mendapatkan pelayanan atau asuhan keperawatan berkualitas sesuai dengan
keimanannya sebagai seorang muslim. Bagi perawat muslim pemahaman dan
pengamalan terhadap rukun iman dan Islam belumlah cukup dikategorikan dalam
insan yang sempurna dalam pengamalan agamanya, jika belum diikuti oleh perbuatan
yang ikhsan. Secara garis besar ikhsan ditetapan dalam hubungan dengan Tuhan, yang
dapat diartikan suatu pengakuan atau manifestasi tentang kesyukuran manusia atas
nikmat yang telah dilimpahkan Tuhan, berbuat baik menurut islam mempunyai
lingkup yang luas, tidak terbatas pada satu lingkungan, keturunan, ikatan keluarga,
agama, suku, bangsa, sehingga sifat ihsan itu humanistis dan universal, hanya satu
ukuran sebagai umat manusia (Marsa, 2001).
Peran perawat menurut konsorsium ilmu kesehatan tahun 1989 terdiri dari
peran sebagai pemberi asuhan keperawatan, advokad pasien, pendidik, koordinator,
kolaborator, konsultan, dan peneliti yang dapat digambarkan sebagai berikut (Hidayat,
2008) :
a. Peran Sebagai Pemberi Asuhan Keperawatan
Peran sebagai pemberi asuhan keperawatan ini dapat dilakukan perawat dengan
memperhatikan keadaan kebutuhan keadaan dasar manusia yang dibutuhkan
melalui pemberian pelayanan keperawatan dengan menggunakan proses
keperawatan sehingga dapat ditentukan diagnosis keperawatan agar bisa
direncanakan dan dilaksanakan tindakan yang sesuai dengan kebutuhan dasar
manusia, kemudian dapat dievaluasi tingkat perkembangannya.
b. Peran Sebagai Advokat Klien
Peran ini dilakukan perawat dalam membantu klien dan keluarga dalam
menginterpretasikan berbagai informasi dari pemberi pelayanan atau informasi
lain khususnya dalam pengambilan persetujuan atas tindakan keperawatan yang
diberikan kepada klien, juga dapat berperan mempertahankan dan melindungi
hak-hak pasian yang meliputi hak atas peleyanan sebaik-baiknya, hak atas
informasi tentang penyakitnya, hak atas privasi, hak untuk menentukan nasibnya
sendiri dan hak untuk menerima ganti rugi akibat kelalaian.
c. Peran Edukator
Peran ini dilakukan dengan membantu klien dalam meningkatkan tingkat
pengetahuan kesehatan, gejala penyakit, bahkan tindakan yang diberikan,
sehingga terjadi perubahan perilaku dari klien setelah mendapatkan pendidikan
kesehatan.
9

d. Peran Koordinator
Peran ini dilaksakan dengan mengarahkan, merencanakan, serta mengorganisasi
pelayanan kesehatan dari tim kesehatan sehingga pemberian pelayanan kesehatan
dapat terarah serta sesuai dengan kebutuhan klien.
e. Peran Kolaborator
Peran perawat disini dilakukan karena perawat bekerja melalaui tim kesehatan
yang terdiri dari dokter, fiisoterapis, ahli gizi dan lain-lain dengan berupaya
mengidentifikasi pelayanan keperawatan yang diperlukan termasuk diskusi, atau
bertukar pendapat dalam bentuk pelayanan selanjutnya.
f. Peran Konsultan
Peran perawat sebagai konsultan adalah sebagai tempat konsultasi terhadap
masalah atau tindakan keperawatan yang tepat untuk diberikan. Peran ini
dilakukan atas permintaan klien terhadap informasi tentang tujuan pelayanan
keperawatan yang diberikan.
g. Peran Pembaharu
Peran sebagai pembaharu dapat dilakukan dengan mengadakan perencanaan, kerja
sama, perubahan yang sistematis dan terarah sesuai dengan metode pemberian
pelayanan keperawatan.
2.3 Kunci Sukses Kecerdasan Spiritual dalam Pelayanan Keperawatan
2.3.1 Penerapan Kecerdasan SQ dalam Keperawatan
Penerapan kecerdasan spiritual dalam konteks keperawatan, bertujuan
memberikan pelayanan keperawatan melebihi harapan klien dengan menggunakan
kaidah spiritual (Islam) berdasar Al-Quran dan Hadis dalam menerapkan ahlak
pribadi muslim, landasan kerja dan perilaku muslim serta penampilan dan ciri khas
seorang perawat muslim (Martono,2007). Hasil penelitian Maulana Pandu, (2010)
Mayoritas perawat Rumah Sakit Islam Surakarta mengalami kepuasan dalam bekerja.
Namun demikian kepuasan kerja yang terjadi pada perawat yang menerapkan
keperawatan islami belum dapat dijelaskan. Hal ini bisa berakibat pelayanan
keperawatan banyak berdasar pada aliran pemikiran positivism dan pragmatism yang
disadari semakin menjauhkan manusia dari nilai etika universal sehingga tugas
keperawatan tidak melahirkan suatu rasa cinta dan kasih sayang terhadap sesama
makhluk Allah karena hanya lahir dari motivasi untuk tujuan jangka pendek seperti
sekedar melaksanakan kewajiban, motif mencari upah (Ridwan, 2010). Kondisi
tersebut mengakibatkan kepuasan kerja perawat masih kurang, sedangkan kepuasan
kerja yang dirasakan perawat, diharapkan berdampak terhadap kualitas kinerja
pelayanan keperawatan. Ketidakpuasan kerja perawat tersebut berkaitan dengan
faktor kebijakan dan imbalan (Dewi Basmala,2004).
Dalam melaksanakan pelayanan kesehatan yang Islami di rumahsakit, para
perawat muslim haruslah mencerminkan pada pengetahuan, sikap dan ketrampilan
professional. Islam telah menetapkan beberapa sifat-sifat terpuji bagi manusia. Sifatsifat itu harus dimiliki oleh perawat Muslim. Secara khusus, perawat yang
melaksanakan pelayanan kesehatan harus mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:
a. Tulus ikhlas karena Allah

10

Hal ini sesuai dengan Hadits Rasullallah SAW yang di riwayatkan oleh Abu Daud
dan Nasai yang artinya Allah tidak menerima amal kecuali aabila di laksanakan
dengan ikhlas karena Allah SWT . Dan dalam QS. Al anam : 162
sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidu dan mati ku, hanya untuk Allah semata .
Makna dari hadist ini adalah kita dalam memberikan perawatan harus
terhadap klien harus dengan tulus ikhlas tanpa mengharap imbalan. Namun dalam
tanda kutip kita pasti mendapatkan upah berupa materi terhadap apa yang kita
kerjakan. Namun, jangan mengukur semuanya dengan uang, inilah makna tersirat
dari hadist ini.
b. Menjaga rahasia
Hal ini sesuai dengan QS. An nisa : 148 Allah tidak menyukai ucapan
buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya.
Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui .
Makna dari ayat ini adalah kita sebagai seorang tenaga medis harus menjaga
kerahasian klien, kecuali memang di perlukan untuk di beritahukan kepada orang
lain seperti keluarga atau tim medis yang lain.
c. Bertanggungjawab
Hal ini sesuai dengan QS. Al isra ayat 36 Dan janganlah kamu mengikuti apa
yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya
pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan
jawabnya . Maknanya dari ayat ini adalah perawat harus bertanggungjawab
terhadap apa yang telah di berikan kepada klien, dengan cara
memberikanperawatan dengan benar serta mendokumentasikan tindakan yang telah
di berikan.
2.3.2 Praktik Spiritual yang Memengaruhi Asuhan Keperawatan
a. Kitab Suci
Setiap agama memiliki tulisan sakral dan kitab yang menjadi pedoman
keyakinan dan perilaku penganutnya ; sselain itu, tulisan sakral sering kali
menyampaikan cerita instrutif mengenai para pemimpin agama, raja-raja dan
pahlawan. Pada sebagian besar agama, tulisan ini dianggap sebagai ucapan Sang
Khalik yang ditulis para Nabi atau Khalifah. Umat kristiani memiliki kitab suci
Injil,umat Yahudi memiliki kitab suci taurat dan tamud, dan umat muslim memiliki
kitab suci alquran, umat Hindu memiliki beberapa kitab suci, atau weda ; dan umat
Budda mengimani ajaran yang ada di Tripitaka.
Naskah tersebut secra umum menetapkan hukum-hukum keagamaan dalam
bentuk peringatan dan peraturan untuk hidup ( mis 10 perintah Tuhan). Hukum
keagamaan tersebut dapat diinterpretasi dalam berbagai cara oleh sub kelompok
penganut agama dan dapat memengaruhi keinginan klien untuk menerima anjuran
penanganan; sebagai contoh transfusi darah dilarang pada ajaran saksi
Jahovah.Individu sering kali mendapat kekuatan dan harapan asetelah membaca bukubuku keagamaan/ kitab suci saat mereka sakit atau saat mengalami krisis. Contoh
cerita keagamaan yang dapat memberikan kenyamanan bagi klien adalah penderitaan
Nabi, baik pada Kitab Suci Yahudi maupun Kristiani, dan penyembuhan yang

11

dilakukan Yesus pada orang-orang yang mengalami penyakit fisik atau mental, dalam
perjanjian baru.
b. Doa dan Meditasi
Individu dapat memakai lambang atau patung keagan\maan di dalam rumah, di
mobil, atau di tempat kerja sebagai pengingat pribadi terhadap keyakinan mereka atau
sebagai bagian tempat personal untuk sembahyang dan meditasi. Klien yang dirawat
inap atau yang menjalani pengobatan di fasilitas perawtaan jangka panjang mungkin
berharap untuk diperbolehkan membawa atau memajang simbol spiritual Beberapa
orang meragukan defebisi tersebut karena menurut defenisi tersebut, doa mewajibkan
orang yang berdoa memiliki keyakinan pada Tuhan atau entitas spiritual, padahal
tidak semua orang yang berdoa memilikinya. Sementara itu, beberapa orang
menganggap doa sebagai fenomena universal yang tidak mewajibkan keyakinan
tersebut. Meditasi adalah kegiatan memfokuskan pikiaran seseorang atau terlibat
dalam refleksi diri. Beberapa orang meyakini bahwa melalui meditasi yang
mendalam, seseorang dapat memengaruhi atau mengontrol fungsi fisik dan psikologis
serta perjalanan penyakit.

BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kecerdasan spiritual (Spiritual Intelligence) adalah kecerdasan manusia dalam
memberi makna. Perawat yang memiliki taraf kecerdasan spiritual tinggi mampu
menjadi lebih bahagia dan menjalani hidup dibandigkan mereka yang taraf kecerdasan
spiritualnya rendah. Dalam kondisi yang sangat buruk dan tidak diharapkan, kecerdasan
spiritual mampu menuntun manusia untuk menemukan makna.
Para ahli keperawatan menyimpulkan bahwa spiritual merupakan sebuah konsep
yang dapat diterapkan pada seluruh manusia. Spiritual juga merupakan aspek yang
menyatu dan universal bagi semua manusia. Setiap orang memiliki dimensi spiritual.
Dimensi ini mengintegrasi, memotivasi, menggerakkan, dan mempengaruhi seluruh
aspek hidup manusia.
12

3.2 Saran
Kecerdasan spiritual sangatlah penting untuk dipelajari sekaligus di aplikasikan pada
pelayanan keperawatan, diharapkan perawat mengembangkan bukan hanya kecersan
intelektiannya tetapi kecerdasan spiritualnya juga.

DAFTAR PUSTAKA
Carson. (2002). spiritual dimention of nursing practice. WB Saunders: philadelphia.
Covey, S. R. (2005). The8th Habit: Melampaui Efektifitas, Menggapai Keagungan. Jakarta:
PT Gramedia pustaka utama.
Gafar, L. (1999). Pengantar Kreperawatan Profesional. Jakarta: EGC.
Hidayat. (2008). Pengantar konsep dasar keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Marsa, I. d. (2001). SQ: Memanfaatkan Kecerdasan Spritual dalam Berfikir Integralistik dan
Holistik untuk Memaknai Kehidupan. Bandung: Mizan.
Sukidi. (2004). Rahasia Sukses Hidup Bahagia, Mengapa SQ Lebih Penting dari pada IQ
dan EQ. Jakarta: Gramedia.
13

14