Anda di halaman 1dari 1

R.

EPUBTIKA KAMIS,

1O SEPTEMBER

2015

Revolusi Kesehatan di Indonesia


O

DIDIKSETIAWAN
PhD Candidate on Heatth Economics
University of Groningen, the Nethertands

mplementasi UU Nomor 4o
Tahun 2oo4tentang Sistem
Jaminan Sosial Nasional
(SJSN) mengharuskan
pemerintah
mengimplementasikan
kebijakan SJSN sejak r Januari 2or4.
Kebijakan ini dilaksanakan oleh
Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial (BPJS) sebagai hasil
penggabungan dua perusahaan,
yaitu PT Jamsostek (Persero) dan PT
Askes (Persero).
Kendati terkesan ada penggabungan dua

perusahaan, sebetulnya fungsi keduanya


tetap terpisah karena BPJS dibagi menjadi
dua, yaitu BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS
Kesehatan. Selayaknya bayi baru lahir, dengan umur belum genap dua tahun, BPJS,
khususnya BPJS Kesehatan, masih.mencari
bentuk optimal secepat mungkin.
Namun, tetap ada kendala, misalnya besaran tarif pelayanan kesehatan yangbelum
sepenuhnya berbasis bukti (euide nce bqsed),
formularium nasional yang belum sempurna,
pembayaran Haim belum lancar, masih adanya penolakan dari pelayanan kesehatan
(swasta) untuk melayani pasien anggota
BPJS karena berbagai alasan.
Masalah lain adalah budaya masyarakat
Indonesia yang ingin segalanya cepat, mudah,

dan "selama itp gratis, maksimalkan saja".


Sebagai contoh, masyarakat sudah terbiasa
langsung ke dokter spesialis ketika mengalami gejala penyakit. Tidak peduli seberat
apa pun gejalanya. Mental seperti ini yang
harus diubah oleh sistern pelayanan kesehatan kita dan implementasi BPJS merupakan
momenfum tepat untuk memulainya.
Solusi untuk mengubah kondisi ini dengan mengimplementasikan sistem pelayanan berjenjang yang ini sudah diadopii BF.IS.

Sistem

ini

mengharuskan pasien ketika

mengalami gejala penyakit, pasien harus diperiksa tenagakesehatan di Pemberi Pelayanan Kesehatan tingkat r (PPK r), dalam hal ini
dokter umum ataupun apoteker di PPK r,
seperti puskesmas dan klinik.
Jika gejala yang dialami pasien di luar
wewenang dan kemampuan dokter atau apo-

teker di PPK t, pasien tersebut akan dirujuk


ke PPK 2 yang meliputi rumah sakit tipe C
dan D. Selanjutnya, jika jenis penyakit dengan tingkat kesulitan lebih tinggi, pasien
akan dirujukke rumah sakittipeAdan B atau
yang disebut PPK3 yang mempunyai dokter
dan apoteker dengan keahlian subspesialis.
Keunggulan sistem pelayanan kesehatan
berjenjang ini adalah tenagakesehatan menjadi lebih siap karena level penyakit yang dihadapi sudah sesuai kapasitas dan kompetensinya. Tidak seperti sebelumnya saat dokter spesialis pun masih menghadapi pasien
flu danbatukyang seharusanya cukup diatasi
dokter atau apoteker di PPK r.
Namun, sisi positif kondisi iri, anuareness
masyarakat terhadap kondisi kesehatan pribadinya cenderung meningkat. Pasien yang
biasanya hanya ke rumah sakit atau puskesmas jika gejala penyakit benar-ben4r mengganggu aktivitas dan tidak menghiraukan
gejala penyakit yang mungkin berbahaya saat

semua penyakit hanya bisa diatasi dengan


pengobatan.
Namun, masih ada strategi yang jauh lebih baih .v*aitu pencegahan penyakit. Kesadaran mas)'arakat Indonesia mencegah penyakit
secara umum masih relatif rendah. Jika kondisi
ini tidak segera diatasi, bisa dipastikan adanya
penggunaan sumber daya kesehatan berlebihan danbiaya pelayanan kesehatan meningkat
yang seharusanya bisa dicegah.
Eigen risico
Salah satu strategi jitu yang perlu diim.
plementasikan BPJS adalah menggunakan
kebijakan eigenrisico (bahasa Belanda dari
'risiko sendiri"). Di Belanda, eigennsrco ada-

lah batas biaya yang harus dibayarkan oleh


pasien sebelum pihak asuransi membayar

tagihan selama satu tahun


Sebagai ilushasi, jika BPJS menetapkan
batas eigenrisico Rp 3 juta, dan dalam setahun, misalnya, seorang pasien menggunakan
sisa

ini mulai terbiasa melakukan pemeriksaan


ketika mengalami gejala penyakit.
'Aspek positifnya, jumlah penyakit yang
akan membutuhkan biaya besar ketika.terlambat terdiagnosis (misalnya kanker) akan
berkurang. Di sisi lain, jumlah pasien yang

jasa pelayanan kesehatan di PPK z dan 3

menggunakan pelayanan kesehatan juga meningt<at di manahal inilorangpas jika dilihat


dari umur BPJS yang masih sangat muda.
Sistem BPJS yang belum matang, ditambah

tanggung masyarakat Indonesia terhadap


kesehatanpribadi mereka. Artinya, jika mereka tidak peduli dengan kesehatan sendiri,
di akhir tahun mereka harus membayar Rp
3 juta karena telah menggunakan fasilitas

e kearrggotaan BPJS yang minim dan


iuran kepesertaan yang masih belum mak-

couerag

simal mengakibatkan kekacauan dalam proses pelayanan dan pembayaran klaim dari
pemberi pelayanan kesehatan oleh BPJS.
Namun, aspek negatif peningkatan ouoreness ini, beberapa kepala daerah mengeluhkan pembengftakan anggaran belanja dae.
rah untuk pengobatan pasien akibat meningkatnya jumlah pasien yang dirawat di pela.
yanan kesehatan. Ada kesan "aji mumpung"
dengan adanya BPJS ini. Masyarakat *memalaimalkan" fasilitas pengobatan gratis me-

lalui BPJS ini.


Lalu, apa ini salah? Tentu tidak karena
memang tidak ada ahrran yang dilanggar oleh
pasien. Pasien hanya menggunakan kesempatan semal<simal mungkin meskipun pada_
kenyataannya semua pihak mengalami kerugian.
Bagaimana bisa? Pemerintah (BPJS) sebagai payer harus membayar lebih banyak

karena meningkatnya jumlah pengobatan

pasien, PPKmenggunakan sumber daya secara berlebihan akibat permintaan meningkat


dari pasien, dan pasieniuga rugi karena tiart

yang menghabiskan biaya Rp ro juta, maka


di akhir tatrun pasien ini harus membayar Rp
3juta dan BPJS membayar Rp 7juta.
Angka Rp 3 juta (hanya ilustrasi) ini merupakan nilai risiko pribadi yang harus di-

pelayanan kesehatan.
Berdasarkan pengalaman, kebijakan ini
akan membuat masyarakat menjadi lebih
oru)are pada pencegahan penlalit karena secara psikologis maExarakat akan semaksimal
mungkin tak mengeluarkan biaya Rp 3 juta
rupiatr. Manfaatlain kebijakan ini adalah berkurangnyabiaya ataupun sumber daya kesehatan yang akan digunakan pasien sehingga
biaya dan sumber dayaitu bisa dialokasikan
untuk aktivitas lain, seperti penelitian atau
pemerataan dan peninglatan kompetensi tenaga kesehatan, masalah penting yang harus
diselesaikan di Indonesia.
Dampak paling penting ddri eigen risico
ini, adanya kemauan masyarakat untuk ikut
berperan dalam pencegahan penyakit secara
sadar dan tanpa paksaan merupakan modal
penting terlaksananya program pemerintah

di bidang kesehatan. Sering kali program


pemerintah, seperti vaksinasi, pemberdayaan
posyandu, pencegahan HIV, AIDS dan TBC
menjadi kurang populer dan cenderung kurang berhasil karena masyarakat apatis pada
kesehatan sendiri. r