Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN KASUS KEPANITERAAN UMUM

RADIOGRAFI PERIAPIKAL PADA GIGI 47


PULPITIS REVERSIBLE

Ari Novita Rianti


J530165029

KEPANITERAAN UMUM PERIODE 5


FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2016

I. PENDAHULUAN
A. DEFINISI
Pulpitis reversible merupakan inflamasi rongga pulpa yang dapat sembuh
apabila penyebabnya dihilangkan. Pasien yang mengalami pulpitis reversible
biasanya tidak mengeluhkan rasa sakit jikas tidak diberi rangsang. Pulpitis
biasanya disebabkan karena adanya kavitas atau gigi berlubang. Untuk
menentukan perawatan yang tepat, maka diperlukan pemeriksaan penunjang
untuk penegasan diagnosis. Untuk mengetahui kedalaman kavitas selain
dilihat dari sondasi sebaiknya dilakukan pemeriksaan penunjang seperti
radiografi atau rontgen. Dalam kedokteran gigi, radiografi ada 2 macam, yaitu
radiografi ekstra oral dan intra oral. Tehnik radiografi ekstraoral meliputi
tehnik panoramic, tehnik lateral, tehnik posteroanterior, tehnik sephalometri.
Tehnik radiografi intraoral meliputi radiografi periapikal, radiografi bitewing,
radiografi oklusal.

B. ETIOLOGI
1) Iritan mikroba
Sumber iritasi utama terhadap jaringan pulpa yaitu bakteri. Bakteri
akan memproduksi toksin yang akan berpenetrasi ke dalam pulpa
melalui tubuli dentinalis sehingga sel-sel inflamasi kronik seperti
makrofag, limfosit dan sel plasma akan berinfiltrasi secara lokal pada
jaringan pulpa.
2) Iritan mekanik
Preparasi kavitas mendekati pulpa dan dilakukan tanpa pendinginan
sehingga jumlah dan diameter tubuli dentinalis akan meningkat. Pada
daerah yang mendekati pulpa menyebabkan iritasi pulpa semakin
meningkat oleh karena semakin banyak dentin yang terbuang.
3) Iritan Kimia

Iritan pulpa mencakup berbagai zat yang digunakan untuk desensitasi,


sterilisasi, pembersih dentin, base, tambalan sementara dan permanen.
Zat antibakteri seperti fenol, eugenol, dan silver nitrat dapat
menyebabkan perubahan inflamasi pada jaringan pulpa

D. TANDA TANDA KLINIS


Pulpitis Reversibel :
Nyeri dengan durasi singkat dan menghilang setelah rangsang
dihilangkan
Nyeri muncul akibat stimulus dingin, panas, dan makanan manis
Perkusi (-), palpasi (-), Tes vitalitas (+), sondasi (+)
Lokasi nyeri yang pasti sulit ditentukan
Gigi kadang memberi respon yang berlebihan pada tes vitalitas
Pemeriksaan radiologi menunjukkan gambaran normal, tidak tampak
pelebaran di ligamen periodontal

II. LAPORAN KASUS


Identitas Pasien
Nama Pasien : Santosa Arribath
Usia

: 24

No. RM

: J13017

Alamat

: Kelet RT 02/ RW 01, Keling Jepara

Operator

: Fatwa Maulida

Panum

: Rizma Yuga Adiningtyas (J530165025)


Ari Novita Rianti (J530165029)

A.

PEMERIKSAAN SUBJEKTIF

Keluhan Utama (CC) :

Pasien datang dengan keluhan rasa ngilu di gigi bagian belakang kanan
bawah.

Riwayat Perjalanan Penyakit (PI) :


Pasien merasakan giginya berlubang sejak 6 bulan yang lalu
Pasien kadang merasa ngilu pada gigi tersebut saat terkena air yang
dingin.

Riwayat Kesehatan Umum (PMH) :


Pasien tidak pernah opname di Rumah Sakit
Pasien tidak memiliki alergi terhadap cuaca (dingin), obat dan makanan
Pasien tidak memiliki riwayat penyakit sistemik

Riwayat Kesehatan mulut (PDH) :`


Pasien pernah ke dokter gigi satu tahun yang lalu .

Riwayat Kesehatan Keluarga (FH) :


Riwayat Kesehatan Umum Ayah : Tidak Ada Riwayat Penyakit Sistemik
Riwata Kesehatan Umum Ibu : Tidak Ada Riwayat Penyakit Sistemik
Riwayat Kesehatan Gigi Ayah : Tidak Ada Riwayat Penyakit Gigi dan
Mulut
Riwayat Kesehatan Gigi Ibu : Tidak Ada Riwayat Penyakit Gigi dan
Mulut

Riwayat Kehidupan Pribadi / Sosial (SH) :


Pasien memiliki Kebiasaan menyikat gigi 2 kali sehari
Pasien memiliki kebiasaan merokok 2-3 batang/ hari
Pasien memiliki kebiasaan minum teh dan kopi
Pasien memiliki kebiasaan mengunyah dengan satu sisi (kiri)

B.

PEMERIKSAAN OBJEKTIF
Hasil dari pemeriksaan Objektif adalah sebagai berikut :
1. Kesan Umum Kesehatan Penderita
Jasmani : Sehat
Rohani : Sehat, Kooperatif dan Komunikatif
2. Vital Sign
Tekanan Darah

: 110 / 70 mmHg (Normal)

Nadi

: 72 / menit

Pernafasan

: 17 / menit

Suhu

: 36,4oC

Berat Badan

: 65 Kg

Tinggi Badan

: 183 cm

3. Kesehatan Umum Berdasarkan Sistem Tubuh


Pasien tidak memiliki

kelainan pada Sistem endokrin, Sistem

gastrointestinal. Sistem Hematopoetik, Sistem Kardiovaskuler, Sistem


Muskuloskeletal, Sistem Neurologik, dan Sistem Respirasi, Sistem
Urogenital

4. Pemeriksaan Ekstraoral
Fasial

Neuro-

Kelenjar

Kelenjar

Tulang

muskular

Ludah

Limfe

Rahang

TMJ

Deformitas

TAK

TAK

TAK

TAK

TAK

TAK

Nyeri

TAK

TAK

TAK

TAK

TAK

TAK

Tumor

TAK

TAK

TAK

TAK

TAK

TAK

TAK

TAK

TAK

TAK

TAK

TAK

Gangguan
Fungsi

a. Bentuk Muka : Lonjong simetris


b. Profil Muka : Cembung
c. Bibir

: Sedang

5. Pemeriksaan Intraoral

Hasil pemeriksaan jaringan lunak yakni pada daerah

13, 15 terdapat

perubahan warna kemerahan, edema, tidak berdarah saat palpasi pada


regio 1, 2

Pemeriksaan Oral Hygiene Index = 4,9 (sedang)

Gingiva

: Terdapat inflamasi ringan berwarna kemerahan


disertai edema tidak berdarah saat palpasi pada gigi
18,17, 16, 25, 26, 27.

Oklusi

: Normal Bite

Bentuk Palatum

: Palatum berbentuk V dengan ukuran tinggi .

Frenulum Labialis RA: memiliki frenulum dengan ketinggian sedang.

Frenulum Labialis RB: memiliki frenulum dengan ketinggian sedang.

Frenulum Lingualis

Frenulum Bukalis RA: memiliki frenulum dengan ketinggian sedang.

Frenulum Bukalis RB: memiliki frenulum dengan ketinggian sedang.

Lidah

: memiliki ukuran normal dengan aktivitas normal

Alveolus

: Tulang Alveolus Rahang Atas tinggi,

: memiliki frenulum dengan ketinggian sedang.

Tulang Alveolus Rahang Bawah tinggi

Oral Hygine

: 4,9 dalam kategori sedang

Lain-lain

: -

C. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Radiografi Periapikal pada gigi 47

D. DIAGNOSIS
D/ Pulpitis Reversible pada gigi 47

E. RENCANA PERAWATAN
TP/ - KIE
- rontgen periapikal
- Capping pulpa indirek
- inlay

F. TAHAPAN PERAWATAN (PENJELASAN SECARA DETAIL)


Alat yang digunakan beserta fungsinya
1. Diagnostik Set (bengkok, kaca mulut, sonde, pinset) sebagai alat untuk
memalkukan pemeriksaan objektif.
2. Alat Radiograf Periapikal untuk mengetahui kedalaman lubang pada
gigi apakah sudah menganai pulpa atau belum.
3. Alat Pelindung Diri (APD) seperti sarung tangan dan masker untuk
melindungi diri operator dari terpapar infeksi.
Bahan yang digunakan beserta cara manipulasi/ penggunaannya
1. CE sebagai bahan tes vitalitas pulpa
2. Cotton Pelet bahan tempat CE di semprotkan untuk tes vitalitas pulpa
3. Handscoon & Masker untuk mencegah paparan infeksi

4. Tissue
Tahapan perawatan disertai keterangan gambar
1. Pemeriksaan Subjektif
2. Pemeriksaan Objektif
3. Pemeriksaan Penunjang
1) Persiapan alat dan bahan
2) Memeriksa dan mencatat spesifikasi alat sinar X yang akan digunakan
dan mengatur waktu yang digunakan (0,50)
3) Pasien di instruksikan untuk duduk dikursi yang telah disediakan dan
memakai apron
4) Pasien diinstruksikan untuk membuka mulut, jika radiografi dilakukan
pada rahang atas, garis oklusal harus sejajar lantai demikian untuk
rahang bawah. Usahakan tepi film periapikal harus sejajar dengan
garis oklusal.
5) Atur tabung sinar-x sesuai dengan objek yang akan dibuat radiograf.
6) Teknik

pengambilan

gambar

menggunakan

Bisecting

Angle

Technique. Imajinasikan bidang bisecting pada regio gigi yang


akandibuat radiograf, kemudian arahkan sinar-x tegak lurus bidang
bisecting.
7) Fiksasikan film dengan bantuan ibu jari atau telunjuk pasien.
8) Pasien dimohon tidak bergerak lalu operator melakukan penyinaran
sesuai timer yang sudah di setting

9) Prosesing film

Cara meletakkan film dalam mulut :


1. Untuk gigi depan : sumbu panjang film diletakkan secara vertikal
yang dimaksud gigi depan adalah gigi incisivus sampa kaninus atas
atau bawah
2. Untuk gigi belakang : sumbu panjang film diletakkan secara
horisontal. Gigi yang akan dibuat foto rontgennya harus berada
ditengah-tengah film dan jarak oklusal gigi dan pinggir film adalah 3
mm.

III.

HASIL PERAWATAN

Pemeriksaan radiografi merupakan salah satu pemeriksaan penunjang.


Pemeriksaan penunjang sangat berperan dalam penegakan diagnosis yang pada
akhirnya akan menentukan rencana perawatan untuk pasien. Pada kasus yang dialami
pasien ini, dimana karies gigi telah mencapai hampir mendekati kamar pulpa
sehingga menyebabkan ngilu, maka didapatkan hasil diagnosis pulpitis reversible
pada gigi 47. Rencana perawatan yang akan dilakukan adalah pulp capping indirect.

IV. PEMBAHASAN
Pemeriksaan penunjang merupakan pemeriksaan yang sangat dibutuh dalam
menegakkan diagnosis. Salah satunya adalah dental radiografi dalam kedokteran gigi
untuk menegakkan diagnosis, rencana perawatan dan evaluasi hasil perawatan.
Radiografi oral dibagi menjadi dua yaitu

radiograf intra oral dan ekstra oral.

Radiografi ekstraoral terdiri dari tehnik panoramic, tehnik lateral, tehnik


posteroanterior, tehnik sefalometri sedangkan radiografi intraoral meliputi radiografi
periapikal, oklusal, dan biting. Radiografi periapikal terdiri dari beberapa teknik
pengambilan gambar, yakni Teknik Paralel, Teknik Bisecting, dan Teksnik Bitewing.
Pada pengambilan gambar radiografi ini menggunakan teknik bisecting.
Teknik bisekting biasa digunakan pada kasus-kasus kelainan anatomi seperti torus
pala tinus besar, palatum sempit, dasar mulut dangkal, frenulum pendek, lebar
lengkung rahang yang sempit atau pada pasien anak yang kurang kooperatif.Teknik
bisekting adalah teknik lain yang dapat dilakukan selain paralel dalam pengambilan
film periapikal. Film diletakkan ke dalam rongga mulut dan diberikan blok gigitan

untuk menahan film.Teknik bisekting dicapai dengan menempatkan reseptor sedekat


mungkin dengan gigi dan meletakan film sepanjang permukaan lingual/ palatal pada
gigi kemudian sinar-x diarahkan tegak lurus (bentuk T) ke garis imajiner yang
membagi sudut yang dibentuk oleh aksis panjang gigi dan bidang film.
Teknik ini memerlukan kepekaan dan ketelitian operator. Jika sudut bisekting
tidak benar, perpanjangan atau pemendekan akan terjadi.Keuntungan dari teknik
bisekting adalah teknik ini dapat digunakan tanpa film holder dan posisi yang cukup
nyaman bagi pasien. Kerugian dari teknik bisekting adalah distorsi mudah terjadi dan
masalah angulasi ( banyak angulasi yang harus diperhatikan ). Angulasi horizontal
teknik bisekting pada daerah maksila dan mandibula adalah insisivus sentral dan
lateral dengan sudut penyinaran 0, kaninus dengan sudut penyinaran 45sampai 65,
premolar pertama, premolar kedua dan molar pertama dengan sudut penyinaran
70sampai 80, molar kedua dan ketiga dengan sudut penyinaran 80sampai 90.
Angulasi vertikal teknik bisekting pada daerah maksila adalah insisivus
sentral, insisivus lateral dan kaninus dengan sudut penyinaran +40 sampai +45,
premolar pertama, premolar kedua dan molar pertama dengan sudut penyinaran +30
sampai +35, molar kedua dan molar ketiga dengan sudut penyinaran +20 sampai
+25. Angulasi vertikal teknik bisekting pada daerah mandibula adalah insisivus
sentral, insisivus lateral dan kaninus dengan sudut penyinaran -15 sampai

-20,

premolar pertama, premolar kedua dan molar pertama dengan sudut penyinaran -10,
molar kedua dan molar ketiga dengan sudut penyinaran -5 sampai 0 sampai +5.
Panjang cone standar dengan ukuran delapan inci dapat digunakan dalam teknik
bisekting. Bila radiografer ingin menggunakan long cone maka panjang longcone
yang digunakan berkisar dua belas sampai enam belas inci (12-16 inci). Keuntungan
memakai long cone dapat mengurangi citra pembesaran dan mengurangi distorsi serta
dapat memberikan gambaran anatomi dan panjang gigi yang lebih akurat.
Sedangkan tehnik paralel. Teknik ini pada mulanya dikembangkan oleh Mc Cormack,
telah dibuktikan dan dipopulerkan oleh Fitzgerald. Teknik paralel dikenal juga
sebagai extension cone paralleling, right angle technique, long cone technique, true

radiograph merupakan teknik yang paling akurat dalam pembuatan radiografi


intraoral. Teknik paralel dilakukan dengan menempatkan film sejajar dengan aksis
panjang gigi kemudian film holder diletakkan untuk menjaga agar film tetap sejajar
dengan aksis panjang gigi. Pemusatan sinar-x diarahkan tegak lurus terhadap gigi dan
film.

a. Contoh hasil radiografi panoramic

b. Contoh hasil radiografi periapikal

c. Contoh hasil radiografi bitewing

d. Contoh hasil radiograf oklusal

Radiografi periapikal adalah radiografi yang berguna untuk melihat gigi geligi
secara individual mulai dari keseluruhan mahkota, akar gigi dan jaringan
pendukungnya. Radiografi bitewing adalah radiografi yang digunakan untuk melihat
permukaan gigi yang meliputi mahkota gigi, interproksimal dan puncak alveolar di
maksila dan mandibula daerah anterior maupun posterior dalam satu film khusus.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN


1. Pemeriksaan radiologi dalam kedokteran gigi sangat berperan penting
dalam

menegakkan

diagnosis,

rencana

perawatan

dan

evaluasi

peraawatan.
2. Radiografi intraoral meliputi tehnik radiografi periapikal, oklusal, dan
biting. Radiografi periapikal terdiri dari beberapa teknik pengambilan
gambar, yakni Teknik Paralel, Teknik Bisecting, dan Teksnik Bitewing
3. Radiografi periapikal memiliki dua tehnik yaitu tehnik paralel dan
bisekting
A. SARAN
1. Operator hendaknya memahami tentang anatomi gigi dan jaringan sekitar
serta teknik radiologi agar memberi hasil gambar radiografi yang optimal.

V. DAFTAR PUSTAKA

Gupta, A., Devi, P., Srivastava, R., Jyoti, B., 2014, Intra Oral Periapical
Radiography-Basics Yet Intrigue : A review, Banglades Journal of Dental
Research & Education, 4 (2) : 84-87.
Kidd & Bechal, 2013, Dasar-dasar karies Penyakit dan Penanggulangannya, Jakarta
:EGC.
Levato, Claudio. 2011. Digital Radiography. Intra Oral Digital Radiography.
European Scientific Journal, 4 (32) : 60-62.
Margono, G., 2012, Radiografi Intraoral Teknik, Prosesing, Interpretasi Radiogram,
Jakarta : EGC.
Zafar, M., Javed, E., 2013, Extraoral Radiography: An Alternative To Intraoral
radiography For Endodontic (Root Canal System) Length Determination,
European Scientific Journal, 9 (15) : 51-61.