Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pajak merupakan sumber pendapatan Negara yang sangat penting bagi
pelaksanaan

dan

peningkatan

pembangunan

nasional

untuk

mencapai

kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Penerimaan pajak berasal dari Pajak


Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Penjualan atas Barang
Mewah (PPnBM), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Bea Perolehan Hak
atasTanah dan Bangunan (BPHTB), penerimaan cukai, pencairan tunggakan
pajak,maupun pajak-pajak lainnya. Direktorat Jenderal Pajak (fiskus) melakukan
ekstensifikasi dan intensifikasi penerimaan pajak untuk meningkatkan penerimaan
pajak. Ekstensifikasi ditempuh dengan mencari wajib pajak yang baru. Potensi
pajak sebenarnya masih sangat besar.Upaya intensifikasi dapat ditempuh
melaluipeningkatan kualitas aparatur perpajakan, pelayanan prima terhadap wajib
pajak dan pembinaan kepada para wajib pajak, pengawasan administratif,
pemeriksaan, penyidikan, dan penagihan aktif serta penegakan hukum atau law
enforcement.
Pajak dipungut dari warga Negara Indonesia dan menjadi salah satu
kewajiban yang dapat dipaksakan penagihannya. Sistem perpajakan Indonesia
mengalami perubahan pada tahun 1983 dari Official Assessment System menjadi
Self Assessment System. Self Assessment System adalah suatu system dimana
pemerintah memberikan kepercayaan penuh kepada wajib pajak untuk
menghitung,

menyetor,

dan

melaporkan

sendiri

kewajiban

perpajakannya.Pemerintah dalam hal ini Direktorat Jenderal Pajak (fiskus), sesuai


dengan

fungsinya

berkewajiban

melaksanakan

pembinaan,

pelayanan,

pengawasan, dan penerapan sanksi perpajakan terhadap pelaksanaan kewajiban


perpajakan wajib pajak berdasarkan ketentuan yang digariskan dalam peraturan
perundang-undangan perpajakan. Self Assessment System memungkinkan potensi
adanya wajib pajak tidak melaksanakan kewajiban perpajakannya dengan baik
akibat dari kelalaian,kesengajaan atau mungkin ketidaktahuan para wajib pajak

Makalah Pemeriksaan Pajak

Page 1

atas kewajiban perpajakannya. Oleh karena itu, diperlukan adanya peran yang
aktif dari fiskus untuk menjalankan fungsi pembinaan dan pengawasannya.
Self Assessment System ini dapat berjalan secara efektif melalui
keterbukaan dan pelaksanaan penegakan hukum (law enforcement) yang
merupakan hal yang paling utama. Kepercayaan yang sangat besar dari
pemerintah kepada wajib pajak untuk menghitung sendiri pajak yang harus
dibayarnya harus diimbangi dengan upaya penegakan hukum dan pengawasan
yang ketat atas kepatuhan wajib pajak dalam melaksanakan kewajiban
perpajakannya.

Penegakan

hukum ini

dapat

dilakukan

dengan adanya

pemeriksaan atau penyidikan pajak dan penagihan pajak.


Pemeriksaan pajak merupakan instrumen yang baik untuk meningkatkan
tingkat kepatuhan wajib pajak, baik formal maupun material dari peraturan
perpajakan. Tujuan utamanya adalah untuk menguji dan meningkatkan tax
compliance seorang wajib pajak dimana kepatuhan ini akan sangat berdampak
pada penerimaan pajak. Pemeriksaan pajak dapat dilakukan di kantor

atau

ditempat wajib pajak yang ruang lingkup pemeriksaannya meliputi satu jenis
pajak, beberapa jenis pajak, atau seluruh jenis pajak, baik untuk tahun-tahun yang
lalu maupun untuk tahun berjalan.
Salah satu media perpajakan yang mempunyai kekuatan hukum memaksa
untuk penagihan tunggakan pajak adalah Penagihan Pajak dengan Surat Paksa
(PPSP). Menurut

UU RI Nomor 19 Tahun 2000 tentang Penagihan Pajak

denganSurat Paksa pasal 1 ayat (12), Penagihan Pajak dengan Surat Paksa adalah
surat perintah membayar utang pajak dan biaya penagihan pajak. Jumlah tagihan
pajak yang tidak atau kurang dibayar sampai dengan tanggal jatuh tempo
pembayaran sesuai yang tercantum dalam STP, SKPKB, dan SKPKBT ditagih
dengan menggunakan Surat Paksa.
Fungsi Kantor Pelayanan Pajak yaitu melakukan pengumpulan dan
pengolahan data, penyajian informasi perpajakan, pengamatan potensi perpajakan
dan ekstensifikasi wajib pajak, penelitian dan penatausahaan surat pemberitahuan
tahunan, surat pemberitahuan masa serta berkas wajib pajak, penerimaan
pajak,penagihan, pemeriksaan, penerapan sanksi perpajakan, dan pelaksanaan

Makalah Pemeriksaan Pajak

Page 2

administrasi kantor pelayanan pajak sehingga dengan demikian kantor pelayanan


pajak mempunyai peranan yang sangat besar dalam pelaksanaan administrasi
perpajakan nasional. Terlaksananya tugas dan peranan dari kantor pelayanan pajak
akan sangat penting dalam pemenuhan target penerimaan pajak nasional.
Pemeriksaan serta penagihan pajak juga akan meningkatkan kepatuhan
wajib pajak (tax compliance), jika kepatuhan dan jumlah wajib pajak meningkat
maka

akan

meningkatkan

penerimaan

pajak

Negara.

Penagihan

pajak

dilaksanakan terhadap tunggakan pajak yang belum dipenuhi oleh wajib pajak.
1.2 Tujuan
Makalah ini membahas tentang hal hal yang berhubungan dengan
pemeriksaan pajak. Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
a) Untuk menguji kepatuhan kewajiban perpajakan Wajib Pajak
b) Untuk mengetahui dasar dasar ketentuan pemeriksaan pajak yang berlaku di
Negara Indonesia berdasarkan Undang Undang perpajakan yang berlaku dan
ketentuan ketentuan Pemerintah lainnya.

BAB II

Makalah Pemeriksaan Pajak

Page 3

PEMBAHASAN
2.1 Tujuan Pemeriksaan Untuk Menguji Kepatuhan Pemenuhan Kewajiban
Perpajakan
Berdasarkan Pasal 3 Peraturan Menteri Keuangan nomor 17/PMK.03/2013
bahwa ruang lingkup Pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan
kewajiban perpajakan dapat meliputi satu, beberapa, atau seluruh jenis pajak, baik
untuk satu atau beberapa Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak, atau Tahun Pajak
dalam tahun-tahun lalu maupun tahun berjalan.
Ruang lingkup pemeriksaan merupakan cakupan dari jenis pajak dan periode
dari pencatatan atau pembukuan yang menjadi objek untuk dilakukan
pemeriksaan. Dengan pengertian seperti ini, ruang lingkup pemeriksaan pajak
dapat dibagi menjadi dua:
a.

Jenis pajak yang diperiksa, dan

b.

Periode pembukuan atau pencatatan Wajib Pajak.

Ruang lingkup pemeriksaan pajak bisa diberitahukan kepada Wajib Pajak melalui
Surat Pemberitahuan yang disampaikan. Dapat juga Wajib Pajak melihat ruang
lingkup pemeriksaan dari SP2 yang diperlihatkan atau disampaikan oleh
pemeriksa. Kode pemeriksaan yang tercantum di SP2 juga memperlihatkan ruang
lingkup atau batasan perintah diberikan kepada pemeriksa pajak. Jenis pajak
yang diperiksa dapat berupa:
a.

seluruh jenis pajak (all taxes)

b.

beberapa jenis pajak, atau

c.

satu jenis pajak (single tax).


Seluruh jenis pajak artinya semua kewajiban perpajakan yang menjadi

kewajiban Wajib Pajak harus diperiksa oleh pemeriksa. Atas pemeriksaan ini,
dalam hal pemeriksaan untuk menguji kepatuhan, maka pemeriksa akan
menerbitkan surat ketetapan pajak kecuali jika penyelesaian pemeriksaan melalui
laporan hasil pemeriksaan (LHP) Sumir. Pada umumnya, pemeriksaan khusus
dengan jenis pemeriksaan lapangan biasanya pemeriksa diberikan ruang lingkup
pemeriksaan suluruh jenis pajak. Untuk seluruh jenis pajak, kode pemeriksaan

Makalah Pemeriksaan Pajak

Page 4

yang tercantum di SP2 adalah dengan digit pertama 1 (satu). Contoh: 1412, 1422,
atau 1912. Artinya, jika digit pertama angka 1 maka jenis pajak yang diperiksa
meliputi: PPh Badan atau PPh OP, PPh Pasal 21, PPh Pasal 22, PPh Pasal 23, PPh
Pasal 26, PPh Pasal 4 (2), PPh Pasal 15, PPN, PPnBM, dan PBB (kecuali PBB P2
yang sudah kewenangan Pemda). Satu jenis pajak artinya jenis pajak yang
diperiksa hanya satu saja. Sebelumnya, satu jenis pajak lebih banyak digunakan
untuk pemeriksaan lebih bayar PPN. Tetapi sejak SE-28/PJ/2013 maka untuk
pemeriksaan lebih bayar PPh Orang Pribadi dan PPh Badan diharuskan satu jenis
pajak. Maksud pembatasan jenis pemeriksaan menjadi satu jenis pajak adalah agar
pemeriksaan fokus kepada yang lebih bayar dan mempercepat penyelesaian.
Pelaksanaan pemeriksaan dalam rangka menguji pemenuhan kewajiban
perpajakan Wajib Pajak dilakukan dengan menelusuri kebenaran Surat
Pemberitahuan, pembukuan atau pencatatan, dan pemenuhan kewajiban
perpajakan lainnya dibandingkan dengan keadaan atau kegiatan usaha sebenarnya
yang dilakukan oleh Wajib Pajak. Kewajiban perpajakan atas pajak Wajib Pajak
sendiri yaitu Pajak Penghasilan atau yang dikenal PPh Badan dan PPh Orang
Pribadi, maupun kewajiban pemotongan dan pemungutan seperti Pajak
Pertambahan Nilai, PPh Pasal 21, PPh Pasal 22, PPh Pasal 23, dan PPh Pasal 26.
Pelaksanaan pemeriksaan dalam rangka menguji pemenuhan kewajiban
perpajakan Wajib Pajak dilakukan dengan menghimpun dan mengolah data,
keterangan, dan/atau bukti yang dilaksanakan secara objektif dan profesional
berdasarkan standar pemeriksaan. Setelah dilakukan pengujian-pengujian
terhadap data, keterangan, dan/atau bukti maka pemeriksa akan menerbitkan surat
ketetapan pajak:
a. Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN) dalam hal jumlah pokok pajak sama
besarnya dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit
pajak
b. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) dalam hal besarnya jumlah
pokok pajak, jumlah kredit pajak, jumlah kekurangan pembayaran pokok pajak,
besarnya sanksi administrasi, dan jumlah pajak yang masih harus dibayar;
c. Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB) dalam hal jumlah kelebihan

Makalah Pemeriksaan Pajak

Page 5

pembayaran pajak karena jumlah kredit pajak lebih besar daripada pajak yang
terutang atau seharusnya tidak terutang
d. Surat Tagihan Pajak (STP) dalam hal ada sanksi administrasi berupa bunga
dan/atau denda
e. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT) dalam hal pajak
yang menentukan tambahan atas jumlah pajak yang telah ditetapkan.
Menurut Pasal 4 ayat (1) Peraturan Menteri Keuangan nomor
17/PMK.03/2013:
Pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan harus
dilakukan terhadap Wajib Pajak yang mengajukan permohonan pengembalian
kelebihan pembayaran pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17B UndangUndang KUP.
Sedangkan pada Pasal 4 ayat (2) Peraturan Menteri Keuangan nomor
17/PMK.03/2013 bahwa pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan
kewajiban perpajakan dapat dilakukan dalam hal memenuhi kriteria sebagai
berikut:
a. Wajib Pajak menyampaikan Surat Pemberitahuan yang menyatakan lebih bayar,
selain yang mengajukan permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak
sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
b. Wajib Pajak yang telah diberikan pengembalian pendahuluan kelebihan
pembayaran pajak
c. Wajib Pajak menyampaikan Surat Pemberitahuan yang menyatakan rugi
d. Wajib Pajak melakukan penggabungan, peleburan, pemekaran, likuidasi,
pembubaran, atau akan meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya
e. Wajib Pajak melakukan perubahan tahun buku atau metode pembukuan atau
karena dilakukannya penilaian kembali aktiva tetap
f. Wajib Pajak tidak menyampaikan atau menyampaikan Surat Pemberitahuan
tetapi melampaui jangka waktu yang telah ditetapkan dalam surat teguran yang
terpilih untuk dilakukan Pemeriksaan berdasarkan analisis risiko atau
g. Wajib Pajak menyampaikan Surat Pemberitahuan yang terpilih untuk dilakukan
Pemeriksaan berdasarkan analisis risiko.
Sesuai dengan Peraturan Direktorat Jenderal Pajak Nomor : PER23/PJ/2013 bagian ketiga dan keempat tentang Standar Pelaksanaan Pemeriksaan
Untuk Menguji Kepatuhan Pemenuhan kewajiban Perpajakan pada pasal 4, 5 dan
6, dapat dijelaskan sebagai berikut :

Makalah Pemeriksaan Pajak

Page 6

Pasal 4
Pelaksanaan pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban
perpajakan harus dilakukan sesuai standar

pelaksanaan pemeriksaan, yaitu :

a. Pelaksanaan Pemeriksaan harus didahului dengan persiapan yang baik sesuai


dengan

tujuan Pemeriksaan,

yang

paling

sedikit

meliputi

kegiatan

mengumpulkan dan mempelajari data Wajib Pajak, menyusun Rencana


Pemeriksaan (audit plan), dan menyusun Program Pemeriksaan (audit
program), serta mendapat pengawasan yang seksama.
1) Kegiatan mengumpulkan dan mempelajari data Wajib Pajak, meliputi:
a) Mempelajari profil Wajib Pajak
b) Menganalisis data keuangan Wajib Pajak
c) Mempelajari data lain yang relevan, baik dari Direktorat Jenderal
Pajak maupun dari pihak lain.
2) Penyusunan Rencana Pemeriksaan (audit plan)
a) Rencana pemeriksaan disusun oleh Supervisor.
b) Rencana Pemeriksaan disusun berdasarkan identifikasi masalah yang
dilakukan Supervisor atas data Wajib Pajak yang telah dikumpulkan
dan dipelajari.
c) Rencana Pemeriksaan harus ditelaah dan mendapat persetujuan dari
Kepala UP2 sebelum SP2 diterbitkan.
d) Rencana Pemeriksaan antara lain berisi:
i. Identitas Wajib Pajak yang memberikan gambaran umum
mengenai Wajib Pajak;
ii. Identitas tim Pemeriksa Pajak yang berisi susunan tim dan jumlah
SP2 yang sedang dikerjakan tim Pemeriksa Pajak yang
bersangkutan; dan
iii. Uraian Rencana Pemeriksaan yang berisi informasi mengenai
identifikasi masalah, perkiraan tanggal selesai Pemeriksaan, serta
pos-pos yang akan diperiksa.
e) Rencana Pemeriksaan dapat dilakukan perubahan jika Pemeriksa
Pajak menemukan kondisi yang berbeda saat melakukan Pemeriksaan
terhadap Wajib Pajak dengan kondisi awal yang dijadikan
pertimbangan saat membuat Rencana Pemeriksaan.
f) Perubahan Rencana Pemeriksaan dapat disetujui atau ditolak
berdasarkan pertimbangan Kepala UP2.

Makalah Pemeriksaan Pajak

Page 7

g) Perubahan Rencana Pemeriksaan harus memperhatikan jangka waktu


Pemeriksaan.
3) Penyusunan Program Pemeriksaan (audit program).
a) Program Pemeriksaan disusun oleh Supervisor dan dibantu oleh
Ketua Tim berdasarkan Rencana Pemeriksaan.
b) Program Pemeriksaan sekurang-kurangnya menyatakan Metode
Pemeriksaan, Teknik Pemeriksaan, dan Prosedur Pemeriksaan yang
dilakukan oleh Pemeriksa Pajak, dan buku, catatan, dan dokumen
yang diperlukan.
c) Dalam hal terdapat perubahan Rencana Pemeriksaan berupa
penambahan pos-pos yang akan diperiksa maka harus dibuat
Perubahan Program Pemeriksaan.
d) Kepala UP2 menandatangani Program Pemeriksaan untuk mengetahui
apakah Program Pemeriksaan yang dibuat sesuai dengan pos-pos
yang akan diperiksa sebagaimana tercantum dalam Rencana
Pemeriksaan dan perubahannya.
e) Program Pemeriksaan harus memuat Rencana Program Pemeriksaan
dan Realisasi Program Pemeriksaan.
4) Menyiapkan sarana Pemeriksaan.
Untuk kelancaran dan kelengkapan dalam menjalankan Pemeriksaan, tim
Pemeriksa Pajak harus menyiapkan sarana yang diperlukan.
b. Pemeriksaan dilaksanakan dengan melakukan pengujian berdasarkan Metode
Pemeriksaan dan Teknik Pemeriksaan sesuai dengan Program Pemeriksaan
(audit program) yang telah disusun.
c. Temuan hasil Pemeriksaan harus didasarkan pada bukti kompeten yang
cukup dan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
1) Bukti kompeten adalah bukti yang valid dan relevan dengan tetap
mempertimbangkan prinsip kewajaran dan kelaziman usaha atas transaksi
Wajib Pajak yang memiliki hubungan istimewa.
a) Valid berarti bukti dapat diandalkan untuk menyimpulkan suatu fakta.
Tingkat validitas bukti dipengaruhi oleh 3 (tiga) hal sebagai berikut:
i.
Independensi dan kualifikasi sumber diperolehnya bukti.
Bukti yang diperoleh dari pihak yang independen tingkat
validitasnya lebih tinggi dibandingkan bukti yang diperoleh dari
pihak yang tidak independen. Selain independensi, perlu juga

Makalah Pemeriksaan Pajak

Page 8

memperhatikan hubungan pihak yang memberikan bukti dengan


ii.

bukti yang diberikan.


Kondisi bukti diperoleh.
Tingkat kesulitan mendapatkan bukti yang dipengaruhi situasi
dan/atau kondisi dapat menjadi bahan pertimbangan dalam

iii.

menentukan tingkat validitas bukti.


Cara bukti diperoleh.
Bukti yang diperoleh secara langsung oleh Pemeriksa Pajak
(misalnya

observasi)

tingkat

validitasnya

lebih

tinggi

dibandingkan bukti yang diperoleh secara tidak langsung


(misalnya bukti yang disediakan oleh Wajib Pajak). Cara
memperoleh bukti juga harus memperhatikan legalitas cara
perolehan bukti.
b) Relevan berarti bahwa bukti harus berkaitan dengan pos-pos yang akan
diperiksa sebagaimana tercantum dalam Program Pemeriksaan.
2) Bukti yang cukup adalah bukti yang memadai untuk mendukung temuan
hasil Pemeriksaan. Kecukupan terkait dengan pertimbangan profesional
(professional judgement) Pemeriksa Pajak.
d. Pemeriksaan dilakukan oleh suatu tim Pemeriksa Pajak yang terdiri dari
seorang Supervisor, seorang Ketua Tim, dan seorang atau lebih Anggota Tim,
dan dalam keadaan tertentu Ketua Tim dapat merangkap sebagai Anggota Tim.
Keadaan tertentu Ketua Tim dapat merangkap sebagai Anggota Tim adalah:
1) terbatasnya jumlah Pemeriksa Pajak pada UP2; dan/atau
2) berdasarkan pertimbangan Kepala UP2.
e. Tim Pemeriksa Pajak dapat dibantu oleh seorang atau lebih yang memiliki
keahlian tertentu, baik yang berasal dari Direktorat Jenderal Pajak maupun
yang berasal dari instansi di luar Direktorat Jenderal Pajak yang telah ditunjuk
oleh Direktur Jenderal Pajak sebagai tenaga ahli, seperti penerjemah bahasa,
ahli di bidang teknologi informasi, dan pengacara.
f. Apabila diperlukan, Pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan
kewajiban perpajakan dapat dilakukan secara bersama-sama dengan tim
pemeriksa dari instansi lain.
g. Pemeriksaan dapat dilaksanakan di kantor Direktorat Jenderal Pajak, tempat
tinggal atau tempat kedudukan Wajib Pajak, tempat kegiatan usaha atau

Makalah Pemeriksaan Pajak

Page 9

pekerjaan bebas Wajib Pajak, dan/atau tempat lain yang dianggap perlu oleh
Pemeriksa Pajak.
h. Pemeriksaan dilaksanakan pada jam kerja dan apabila diperlukan dapat
dilanjutkan di luar jam kerja.
i. Pelaksanaan Pemeriksaan didokumentasikan dalam bentuk KKP.
Pasal 5
Kegiatan

Pemeriksaan

untuk menguji

kepatuhan

pemenuhan

kewajiban

perpajakan harus didokumentasikan dalam bentuk KKP sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 4 huruf i dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. KKP wajib disusun oleh Pemeriksa Pajak dan berfungsi sebagai:
1) bukti bahwa Pemeriksaan telah dilaksanakan sesuai standar pelaksanaan
Pemeriksaan;
2) bahan dalam melakukan pembahasan akhir hasil Pemeriksaan dengan
Wajib Pajak mengenai temuan hasil Pemeriksaan;
3) dasar pembuatan LHP;
4) sumber data atau informasi bagi penyelesaian keberatan atau banding yang
diajukan oleh Wajib Pajak; dan
5) referensi untuk Pemeriksaan berikutnya.
b. KKP harus memberikan gambaran mengenai:
1) Prosedur Pemeriksaan yang dilaksanakan;
2) data, keterangan, dan/atau bukti yang diperoleh;
3) pengujian yang telah dilakukan; dan
4) simpulan dan hal-hal lain yang dianggap perlu yang berkaitan dengan
Pemeriksaan.
c. KKP harus ditelaah Supervisor untuk meyakini bahwa:
1) Pemeriksaan telah dilakukan sesuai dengan Rencana Pemeriksaan dan
perubahannya.
2) Pemilihan Metode

Pemeriksaan,

Teknik

Pemeriksaan,

Prosedur

Pemeriksaan, penghitungan matematis koreksi, dan dasar hukum koreksi


telah dilakukan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan perpajakan.
d. KKP harus diparaf oleh pembuat dan penelaah KKP.

Kegiatan

Pemeriksaan

Pasal 6
untuk menguji kepatuhan

pemenuhan

kewajiban

perpajakan harus dilaporkan dalam bentuk LHP yang disusun sesuai standar
pelaporan hasil Pemeriksaan, yaitu:

Makalah Pemeriksaan Pajak

Page 10

a. LHP disusun secara ringkas dan jelas, memuat ruang lingkup dan pos-pos
yang diperiksa sesuai dengan tujuan Pemeriksaan, memuat simpulan
Pemeriksa Pajak yang didukung temuan yang kuat tentang ada atau tidak
adanya penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan perpajakan,
dan memuat pula pengungkapan informasi lain yang terkait dengan
Pemeriksaan.
b. LHP untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan sekurangkurangnya memuat:
1) penugasan Pemeriksaan;
2) identitas Wajib Pajak;
3) pembukuan atau pencatatan Wajib Pajak;
4) pemenuhan kewajiban perpajakan;
5) data/informasi yang tersedia;
6) buku dan dokumen yang dipinjam;
7) materi yang diperiksa;
8) uraian hasil Pemeriksaan;
9) ikhtisar hasil Pemeriksaan;
10) penghitungan pajak terutang; dan
11) simpulan dan usul Pemeriksa Pajak.
c. LHP disusun dan ditandatangani oleh tim Pemeriksa Pajak.
d. LHP ditandatangani oleh Kepala UP2 untuk mengetahui apakah:
1) Pos-pos yang diperiksa telah sesuai dengan Rencana Pemeriksaan dan
perubahannya.
2) Dasar hukum koreksi telah sesuai dengan ketentuan perundang-undangan
perpajakan.

Pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan


harus

dilakukan

terhadap

Wajib

Pajak

yang

mengajukan

permohonan

pengembalian kelebihan pembayaran pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal


17B Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 sebagaimana telah beberapa kali

Makalah Pemeriksaan Pajak

Page 11

diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009, serta dapat


dilakukan terhadap Wajib Pajak yang memenuhi kriteria sebagai berikut:
1.

Wajib Pajak menyampaikan Surat Pemberitahuan yang menyatakan lebih


bayar, selain yang mengajukan permohonan pengembalian kelebihan
pembayaran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1);

2.

Wajib Pajak yang telah diberikan pengembalian pendahuluan kelebihan


pembayaran pajak;

3.

Wajib Pajak menyampaikan Surat Pemberitahuan yang menyatakan rugi;

4.

Wajib Pajak melakukan penggabungan, peleburan, pemekaran, likuidasi,


pembubaran, atau akan meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya;

5.

Wajib Pajak melakukan perubahan tahun buku atau metode pembukuan


atau karena dilakukannya penilaian kembali aktiva tetap;

6.

Wajib

Pajak

tidak

menyampaikan

atau

menyampaikan

Surat

Pemberitahuan tetapi melampaui jangka waktu yang telah ditetapkan dalam


surat teguran yang terpilih untuk dilakukan Pemeriksaan berdasarkan analisis
risiko; atau
7.

Wajib Pajak menyampaikan Surat Pemberitahuan yang terpilih untuk


dilakukan Pemeriksaan berdasarkan analisis risiko.
Dalam pelaksanaan Pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan

kewajiban perpajakan dengan jenis Pemeriksaan Lapangan, Wajib Pajak berhak :


1. Meminta kepada Pemeriksa Pajak untuk memperlihatkan Tanda Pengenal
Pemeriksa Pajak dan Surat Perintah Pemeriksaan
2.

Meminta kepada Pemeriksa Pajak untuk memberikan pemberitahuan secara

3.

tertulis sehubungan dengan pelaksanaan Pemeriksaan Lapangan


Meminta kepada Pemeriksa Pajak untuk memberikan penjelasan tentang

4.

alasan dan tujuan Pemeriksaan


Meminta kepada Pemeriksa Pajak untuk memperlihatkan Surat Tugas apabila
susunan Tim Pemeriksa Pajak mengalami perubahan

Makalah Pemeriksaan Pajak

Page 12

5.
6.

Menerima Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan


Menghadiri Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan dalam jangka waktu yang

7.

telah ditentukan
Mengajukan permohonan untuk dilakukan pembahasan oleh Tim Pembahas,
dalam hal terdapat perbedaan pendapat antara Wajib Pajak dengan Pemeriksa

8.

Pajak dalam Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan


Memberikan pendapat atau penilaian atas pelaksanaan Pemeriksaan oleh

9.

Pemeriksa Pajak melalui pengisian formulir Kuesioner Pemeriksaan


Mengajukan pengaduan apabila kerahasiaan usaha dibocorkan kepada pihak
lain yang tidak berhak.
Dalam pelaksanaan Pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan

kewajiban perpajakan dengan jenis Pemeriksaan Kantor, Wajib Pajak berhak :


1. Meminta Meminta kepada Pemeriksa Pajak untuk memperlihatkan Tanda
2.

Pengenal Pemeriksa dan Surat Perintah Pemeriksaan


Meminta kepada Pemeriksa Pajak untuk memberikan penjelasan tentang

3.

alasan dan tujuan Pemeriksaan


Meminta kepada Pemeriksa Pajak untuk memperlihatkan Surat Tugas apabila

4.
5.

susunan Pemeriksa Pajak mengalami pergantian


Menerima Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan
Menghadiri Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan dalam jangka waktu yang

6.

telah ditentukan
Mengajukan permohonan untuk dilakukan pembahasan oleh Tim Pembahas,
dalam hal terdapat perbedaan pendapat antara Wajib Pajak dengan Pemeriksa

7.

Pajak dalam Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan


Memberikan pendapat atau penilaian atas pelaksanaan Pemeriksaan oleh
Pemeriksa Pajak melalui pengisian formulir Kuesioner Pemeriksaan.

2.2 Pemeriksaan Untuk Tujuan Lain


Sesuai dengan Peraturan Direktorat Jenderal Pajak Nomor : PER-23/PJ/2013
bagian kelima dan keenam tentang Standar Pelaksanaan Pemeriksaan Untuk
Tujuan lain yang terdapat pada pasal 7, 8 dan 9, dapat dijelaskan sebagai berikut :
Pasal 7
Pelaksanaaan Pemeriksaan untuk tujuan lain harus dilakukan sesuai standar
pelaksanaan Pemeriksaan, yaitu:

Makalah Pemeriksaan Pajak

Page 13

a. Pelaksanaan Pemeriksaan harus didahului dengan persiapan yang baik, sesuai


dengan tujuan Pemeriksaan, dan mendapat pengawasan yang seksama.
1) Persiapan yang baik harus didukung dengan penyusunan Program
Pemeriksaan (audit program).
a) Program Pemeriksaan disusun oleh Supervisor dan dibantu oleh Ketua
Tim sesuai tujuan dan kriteria Pemeriksaan.
b) Program Pemeriksaan sekurang-kurangnya

menyatakan Metode

Pemeriksaan, Teknik Pemeriksaan, dan Prosedur Pemeriksaan yang


dilakukan oleh Pemeriksa Pajak, dan buku, catatan, dan dokumen yang
diperlukan.
2) Pengawasan yang seksama dilakukan oleh Supervisor dalam rangka
memastikan bahwa pelaksanaan Pemeriksaan sejalan dengan tujuan dan
kriteria Pemeriksaan.
b. Luas Pemeriksaan disesuaikan dengan kriteria dilakukannya Pemeriksaan
untuk tujuan lain.
c. Pemeriksaan dilakukan oleh tim Pemeriksa Pajak yang terdiri dari 1 (satu)
orang Supervisor, 1 (satu) orang Ketua Tim, dan 1 (satu) orang atau lebih
Anggota Tim, dan dalam keadaan tertentu Ketua Tim dapat merangkap
sebagai Anggota Tim. Keadaan tertentu Ketua Tim dapat merangkap sebagai
Anggota Tim adalah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf d.
d. Pemeriksaan dapat dilaksanakan di kantor Direktorat Jenderal Pajak, tempat
tinggal atau tempat kedudukan Wajib Pajak, tempat kegiatan usaha atau
pekerjaan bebas Wajib Pajak, dan/atau di tempat lain yang dianggap perlu oleh
Pemeriksa Pajak.
e. Pemeriksaan dilaksanakan pada jam kerja dan apabila diperlukan dapat
dilanjutkan di luar jam kerja.
f. Pelaksanaan Pemeriksaan didokumentasikan dalam bentuk KKP.
Pasal 8
Kegiatan Pemeriksaan untuk tujuan lain harus didokumentasikan dalam bentuk
KKP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf f dengan memperhatikan hal-hal
sebagai berikut :
a. KKP wajib disusun oleh Pemeriksa Pajak dan berfungsi sebagai:

Makalah Pemeriksaan Pajak

Page 14

1) bukti

bahwa

Pemeriksa

Pajak

telah

melaksanakan

Pemeriksaan

berdasarkan Standar Pemeriksaan; dan


2) dasar pembuatan LHP.
b. KKP harus memberikan gambaran mengenai:
1) data, keterangan, dan/atau bukti yang diperoleh;
2) Prosedur Pemeriksaan yang dilaksanakan; dan
3) simpulan dan hal-hal lain yang dianggap perlu yang berkaitan dengan
Pemeriksaan.
c. KKP harus ditelaah Supervisor untuk meyakini bahwa pelaksanaan
Pemeriksaan telah sesuai dengan tujuan dan kriteria Pemeriksaan, dan sesuai
dengan ketentuan perundang-undangan perpajakan.
d. KKP harus diparaf oleh pembuat dan penelaah KKP.
Pasal 9
Kegiatan Pemeriksaan untuk tujuan lain harus dilaporkan dalam bentuk LHP yang
disusun sesuai standar pelaporan hasil Pemeriksaan, yaitu:
a. LHP disusun secara ringkas dan jelas, memuat ruang lingkup atau pos-pos
yang diperiksa sesuai dengan tujuan Pemeriksaan, memuat simpulan
Pemeriksa Pajak dan memuat pula pengungkapan informasi lain yang terkait.
b. LHP untuk tujuan lain sekurang-kurangnya memuat :
1) identitas Wajib Pajak;
2) penugasan Pemeriksaan;
3) dasar (tujuan) Pemeriksaan;
4) buku dan dokumen yang dipinjam;
5) materi yang diperiksa;
6) uraian hasil Pemeriksaan; dan
7) simpulan dan usul Pemeriksa.
c. LHP disusun dan ditandatangani oleh tim Pemeriksa Pajak.
d. LHP ditandatangani oleh Kepala UP2 untuk mengetahui apakah:
1) Hasil Pemeriksaan telah sesuai kriteria Pemeriksaan tujuan lain.
2) Simpulan, usul, dan/atau rekomendasi yang diberikan telah memiliki dasar
hukum yang tepat.
Pemeriksaan untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan dilakukan dengan kriteria sebagai
berikut:
1.

Pemberian NPWP secara jabatan selain yang dilakukan berdasarkan


Verifikasi.

2.

Penghapusan NPWP selain yang dilakukan berdasarkan Verifikasi.

Makalah Pemeriksaan Pajak

Page 15

3.

Pengukuhan atau pencabutan pengukuhan Pengusaha Kena Pajak selain


yang dilakukan berdasarkan Verifikasi.

4.

Wajib Pajak mengajukan keberatan.

5.

Pengumpulan bahan guna penyusunan norma penghitungan penghasilan


neto.

6.

Pencocokan data dan/atau alat keterangan.

7.

penentuan Wajib Pajak berlokasi di daerah terpencil;

8.

penentuan satu atau lebih tempat terutang Pajak Pertambahan Nilai;

9.

Pemeriksaan dalam rangka penagihan pajak;

10.

penentuan saat produksi dimulai atau memperpanjang jangka waktu


kompensasi kerugian sehubungan dengan pemberian fasilitas perpajakan;
dan/atau

11.

memenuhi

permintaan

informasi

dari

negara

mitra

Perjanjian

Penghindaran Pajak Berganda.


Menurut Peraturan Menteri Keuangan nomor 17/PMK.03/2013 jangka waktu
pemeriksaan dibagi dua, yaitu jangka waktu pengujian dan jangka waktu
pembahasan. Rumusannya menjadi lebih mudah, yaitu dalam hal 8 jangka waktu
pengujian telah selesai maka harus terbit SPHP. Dengan dipecahnya menjadi dua
jangka waktu, maka jangka waktu pengujian menjadi konsisten. Pasal 19 Pe?
harus disampaikan kepada Wajib Pajak apabila:
a. pemeriksaan kantor --- akhir bulan ke 4 atau ke 6 jika ada perpanjangan
b. pemeriksaan lapangan --- akhir bulan ke 6 atau 8 jika ada perpanjangan
Untuk Wajib Pajak total jangka waktu pengujian dapat 24 bulan ditambah jangka
waktu pembahasan sehingga total jangka waktu pemeriksaan menjadi 26 bulan,
yaitu berlaku untuk pemeriksaan atas:
a. Wajib Pajak Kontraktor Kontrak Kerja Sama Minyak dan Gas Bumi
b. Wajib Pajak dalam satu grup

Makalah Pemeriksaan Pajak

Page 16

c. Wajib Pajak yang terindikasi melakukan transaksi transfer pricing dan/atau


transaksi khusus lain yang berindikasi adanya rekayasa transaksi keuangan.
Menurut Pasal 29 ayat (3) Undang-Undang KUP bahwa wajib pajak yang
diperiksa wajib:
1. memperlihatkan dan/atau meminjamkan buku atau catatan, dokumen yang
menjadi dasarnya, dan dokumen lain yang berhubungan dengan penghasilan
yang diperoleh, kegiatan usaha, pekerjaan bebas Wajib Pajak, atau objek yang
terutang pajak
2. memberikan kesempatan untuk memasuki tempat atau ruang yang dipandang
perlu dan memberi bantuan guna kelancaran pemeriksaan; dan/atau
3. memberikan keterangan lain yang diperlukan.
Sedangkan menurut Pasal 29 ayat (3a) Undang-Undang KUP bahwa buku,
catatan, dan dokumen, serta data, informasi, dan keterangan lain sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) wajib dipenuhi oleh Wajib Pajak paling lama 1 (satu)
bulan sejak permintaan disampaikan. Pasal 29 ayat (3b) Undang-Undang KUP
menyatakan bahwa dalam hal Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan
usaha atau pekerjaan bebas tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud
pada ayat (3) sehingga tidak dapat dihitung besarnya penghasilan kena pajak,
penghasilan kena pajak tersebut dapat dihitung secara jabatan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

BAB III
PENUTUP

Makalah Pemeriksaan Pajak

Page 17

3.1 Kesimpulan

Fungsi dan tujuan pemeriksaan pajak secara keseluruhan adalah supaya


Wajib Pajak melaporkan kegiatan usahanya dengan benar. Benar karena
Wajib Pajak melaporkan kegiatan usahanya sesuai keadaan sebenarnya.
Tidak ada yang ditutupi, tidak ada yang disembunyikan dan terbuka. Benar
karena Wajib Pajak telah menghitung pajak terutang sesuai dengan

peraturan perundangundangan perpajakan yang berlaku.


Ada banyak ketentuan dalam melakukan pemeriksaan pajak, secaragaris
besar diantaranya yaitu :
a) Ruang Lingkup pemeriksaan
b) Kriteria Pemeriksaan
c) Jenis Pemeriksaan
d) Jangka Waktu Pemeriksaan
e) Jangka Waktu Restitusi Pajak
f) Penyelesaian Pemeriksaan
g) Pertemuan dengan Wajib Pajak
h) Peminjaman Dokumen dan Penyegelan
i) Permintaan Keterangan
j) SPHP dan Closing Conference

Setiap

dilakukan

pajakmempunyai

pemeriksaan
kewajiban

dan

pajak

oleh

haknya

kantor
yang

pajak,

telah

Wajib

ditentukan

olehperundang undangan.

DAFTAR PUSTAKA

Makalah Pemeriksaan Pajak

Page 18

https://535859419613143dfbd8b9884b6260b7e21de272.googledrive.com/host

/0BwK5eL5W6jUpNjZCYVlEWjl0WkE
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/26740/4/Chapter%20I.pdf
http://visitama.co.id/pemeriksaan-pajak/
http://ortax.org/ortax/?mod=aturan&page=show&id=15314

LAMPIRAN

Makalah Pemeriksaan Pajak

Page 19

Makalah Pemeriksaan Pajak

Page 20