Anda di halaman 1dari 18

PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DAS CITANDUY

Gambaran Umum
DAS Citanduy merupakan DAS yang sebagian besar berada di Provinsi Jawa
Barat dan sebagian kecil berada di Provinsi Jawa Tengah, meliputi Kabupaten
Ciamis, Kota Banjar, Kabupaten dan Kota Tasikmalaya, Kabupaten Kuningan,
Kabupaten Majalengka, Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Banyumas. Secara
geografis wilayah sungai Citanduy terletak pada posisi 108 0 04 hingga 1090 30
Bujur Timur (BT) dan 70 03 hingga 70 52 Lintang Selatan (LS). Iklimnya
dipengaruhi dua musim, yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Temperatur
DAS Citanduy berkisar antara 24 0C hingga 310C dengan curah hujan rata-rata
3.000 milimeter per tahun. Pada musim kemarau, DAS bagian hulu ini masih
dapat mencapai curah hujan sekitar 200 300 milimeter per bulan, di mana
wilayah Tasikmalaya dan Ciamis termasuk ke dalam wilayah DAS bagian hulu
tersebut yang ternyata saat ini kondisinya masih termasuk kategori kritis akibat
degradasi yang menurunkan kualitas lingkungan.

Gambar 1. Peta DAS Citanduy


DAS Citanduy merupakan salah satu DAS prioritas di Jawa. Prioritas DAS ini
disebabkan oleh sedimentasi yang sangat besar pada bagian hilir Sungai
Citanduy. DAS Citanduy terdiri dari 6 (enam) Sub, yaitu Sub DAS Citanduy Hulu,
1

Sub DAS Cijolang, Sub DAS Cikawung, Sub DAS Cimuntur, Sub DAS Ciseel, Sub
DAS Citanduy Hulu dan Sub DAS Segara Anakan.
DAS Citanduy dibagi dalam 3 bagian yaitu DAS bagian hulu, tengah dan hilir.

DAS bagian hulu terdiri dari Sub DAS Citanduy Hulu, Sub DAS Cimuntur, Sub
DAS Cijolang. DAS bagian hulu berfungsi sebagai kawasan penyangga daerah
tengah dan hilir. DAS bagian hulu dicirikan sebagai daerah dengan tutupan
lahan pegunungan dengan variasi topografi dengan slope rata-rata 0,035

(curam), dan mempunyai curah hujan yang tinggi.


DAS bagian tengah terdiri dari Sub DAS Ciseel dan Cikawung. DAS Citanduy
bagian tengah memiliki panjang 60 km dengan topografi relatif landai dengan

slope rata-rata 0,006 (sedang).


DAS bagian hilir terdiri dari Sub DAS Segara Anakan dan sebagian Sub DAS
Ciseel. DAS bagian hilir dicirikan dengan topografi landai dengan slope ratarata 0,0002 (landai), dan curah hujan yang lebih rendah.

Karakteristik Lingkungan FIsik


Potensi sumberdaya air tidak lepas dari karakteristik lingkungan fisik yang terdiri
dari jenis dan formasi batuan penyusun, relief atau topografi, jenis tanah serta
pemanfaatan

lahan.

Masing-masing

karakteristik

lingkungan

fisik

akan

mempengaruhi potensi sumberdaya air yang dapat terlihat dari kuantitas maupun
kualitas air di tiap daerah. Berikut karakteristik lingkungan fisik pada DAS
Citanduy.
Geologi
DAS Citanduy berada diantara dua sesar utama, yaitu sistem sesar Citanduy di
sebelah selatan dan sistem sesar Baribis di sebelah utara. Arah sesar pada
umumnya mengarah ke arah barat laut tenggara dan timur barat. Sesar arah
barat laut tenggara pada umumnya lebih panjang dari arah timur barat (BBWS
Citanduy, 2008).
Perkembangan sistem pengaliran sungai di DAS Citanduy sangat dipengaruhi
oleh pola retakan (joint parrern) yang terbentuk akibat aktivitas tektonik dengan
pergeseran sesar-sesar Baribis dan sesar Citanduy. Daerah ini tergolong rawan
gerakan tanah akibat dari kondisi geologi (genesis) yang berbatuan lemah
2

kembang-kerut (swelling shinking clays). Kondisi fisik tersebut merupakan


keterbatasan karakter genesis dalam keperluan tata ruang untuk pengembangan
wilayah. Jenis batuan penyusun berupa :
a) Perlapisan batu lempung dari Formasi Pemali, berusia miosen bawah sampai
tengah.
b) Selang-seling perlapisan batu pasir, batulempung dan breksi dari Formasi
Halang, dengan massa breksi yang cukup tebal berada di bagian bawah;
berusia miosen tengah hingga Pliosen Bawah.
c) Breksi volkanik dari Formasi Cijolang berusia Pliosen, yang menutupi Formasi
Pemali dan Formasi Halang secara tidak selaras.
d) Endapan volkanik Kuarter dari Gunung Sawal yang tidak selaras di atas semua
formasi bawahnya.
e) Endapan aluvium yang terdiri dari lempung dan lanau. Adanya lapisan batuan
aluvium disebabkan oleh pengendapan sedimen yang terbawa arus air setelah
terjadi banjir. Formasi batuan ini menyebar di daerah lembah yang memiliki
elevasi yang lebih rendah dengan kemiringan dasar sungai yang relatif kecil.
Formasi Pemali dan Formasi Halang telah terlipat-lipat dan tersesarkan. Sesar
Baribis adalah Sesar naik, kemudian pada Kala Pliosen-Pleistosen Sesar
Citanduy bergeser mendatar (Simandjuntak & Surono, 1982). Wilayah ini berada
di dalam pengaruh pergerakan Sesar Baribs dan Sesar Citanduy yang sejak kala
tersebut bergerak menganan (right lateral slip faults), sehingga blok wilayah di
antara kedua sesar mengalarni dampak gaya-gaya kopel yang menyebabkan
terbentuk retakan-retakan dan terbentuknya cekungancekungan depresi. Gejala
tersebut dkenal sebagai mekanisme pull apart basin.
Zona Depresi Citanduy berada pada wilayah tektonik aktif, yaitu suatu wilayah
yang dibatasi di selatan oleh Sistem Sesar Ciawi-Pangandaran dan batas utara
oleh Sistem Sesar Baribis-Majenang. Zona depresi ini berarah barat laut-tenggara,
dengan panjang lebih dari 200 km dan lebar lebih dari 50 km. Zona Depresi
3

merupakan zona yang relatif datar dan rendah yang terjadi karena merosok turun
sehingga berelevasi lebih rendah dari wilayah sekitarnya. Zona depresi ini
terbentang luas mulai dari dataran Banjar sampai ke Cilacap, berarah barat lauttenggara sepanjang lebih dari 50 km dan lebar sekira 15 km, dibatasi sesar-sesar
atau patahan-patahan besar berarah N290oE N310oE.
Segara Anakan merupakan salah satu produk kegiatan tektonik yang berada di
dalam zona depresi. Proses pembentukan wilayah perairan Segara Anakan terjadi
karena berada pada bagian yang rendah di bawah muka laut, termasuk Rawa
Lakbok yang dahulu juga memiliki kondisi ekosistem mangrove seperti Segara
Anakan saat ini. Rawa Lakbok telah lama menjadi daratan sebagai pedataran
aluvium, dengan pematang-pematangnya dan batuan dasarnya atau alasnya yang
tersusun oleh batu pasir dari formasi tapak, berusia miosen atas Pliosen
(terdapat jejak pelawangan atau muara). Mirip dengan kondisi Segara Anakan
sekarang dengan pematang dan batuan dasarnya berupa pugununganpegunungan selatan termasuk Nusakambangan (dengan pelawangannya) dari
formasi jampang, formasi pamali, dan formasi pamutuan. Tiga formasi terakhir ini
yang berusia jauh lebih tua oligo-miosen, adalah alas atau batuan dasar yang
berada jauh di bawah formasi tapak tersebut di atas (Kastowo & Simanjuntak,
1979).
Jenis Tanah
Secara umum jenis tanah dominan yang terdapat di DAS Citanduy berupa latosol
dengan bahan induk Tuff Vilkan yang sangat peka erosi. Jenis tanah ini
mendominasi luasan Sub-DAS. Jenis tanah akan berbeda sejalan dengan relief
atau topografi yang berbeda. Tanah pada lahan atas DAS Citanduy terdiri dari
residu incesed yang terbentuk dari bahan vulkanis. Debu vulkanis dan debris dari
hasil letusan Gunung Galunggung tercampur dengan tanah ini. Jenis tanahnya
berupa kambisol, gleisol, latosol mediteran dan pedsolik merah kuning. Jenis
tanah pada elevasi yang lebih tinggi adalah andosol, sedangkan pada elevasi
yang lebih rendah berupa tanah latosol. Jenis tanah ini merupakan batuan induk
yang selama ini tererosi dan terangkut oleh aliran sungai dan akhirnya
terendapkan di Segara Anakan.
4

Hidrologi
Hidrologi adalah sirkulasi air yang tidak pernah berhenti dari atmosfir ke bumi dan
kembali ke atmosfir melalui kondensasi, presipitasi, evaporasi dan transpirasi. Air
berevaporasi, kemudian jatuh sebagai presipitasi dalam bentuk hujan atau kabut.
Setelah mencapai tanah, siklus hidrologi terus bergerak secara kontinu dalam tiga
cara yang berbeda:
a) Evaporasi/transpirasi
Air yang ada dalam satu kawasan kemudian akan menguap ke angkasa
(atmosfer) dan akan menjadi awan. Pada keadaan jenuh uap air (awan) akan
menjadi bintik-bintik air yang selanjutnya akan turun (precipitation) dalam bentuk
hujan, salju, es.
b) Infiltrasi/ Perkolasi ke dalam tanah
Air bergerak ke dalam tanah melalui celah dan pori-pori tanah menuju muka
airtanah. Air dapat bergerak akibat aksi kapiler atau air dapat bergerak secara
vertikal atau horizontal dibawah permukaan tanah hingga air tersebut memasuki
kembali sistem air permukaan.
c) Air Permukaan
Air bergerak diatas permukaan tanah dekat dengan aliran utama dan danau;
makin landai lahan dan makin sedikit pori-pori tanah, maka aliran permukaan
semakin besar. Sungai-sungai bergabung satu sama lain dan membentuk sungai
utama yang membawa seluruh air permukaan disekitar daerah aliran sungai
menuju laut
Air permukaan, baik yang mengalir maupun yang tergenang di sungai, danau,
waduk dan rawa maupun yang berada dibawah permukaan tanah akan terkumpul
dan mengalir membentuk sungai dan berakhir ke laut. Proses perjalanan air di
daratan itu terjadi dalam komponen-komponen siklus hidrologi yang membentuk
sistem DAS.

Hubungan antara aliran ke dalam (In flow) dan aliran ke luar (out flow) di suatu
daerah untuk suatu periode tertentu dari proses sirkulasi air di lapangan dapat
diketahui dengan menggunakan persamaan neraca air. Neraca merupakan
persamaan antara jumlah air yang diterima dalam satu sistem DAS dengan
kehilangan air melalui proses evapotranspirasi maupun keluaran dari outlet DAS
itu sendiri.
Data yang digunakan untuk mengetahui neraca air DAS Citanduy adalah data
potensial evapotranspirasi dan curah hujan bulanan dan kapasitas simpanan
airtanah. Output yang diperoleh adalah informasi mengenai simpanan airtanah,
kelebihan air serta aliran langsung (run off). Parameter yang dihitung berdasarkan
data curah hujan dan evapotranspirasi potensial. Bila berkurangya curah hujan
terhadap

evapotranspirasi

potensial

bernilai

negatif

maka

akan

terjadi

pengurangan nilai kelembaban airtanah. kelebihan ai terjadi apabila curah hujan


dikurangi dengan evapotranspirasi potensial melebihi kapasitas medan. Kelebihan
air akan menjadi aliran permukaan dan aliran bawah permukaan serta infiltrasi.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Rachmat (2007) mengenai ketersediaan
airtanah di DAS Citanduy, diketahui bahwa harga water surplus tidak pernah
bernilai negatif untuk periode Januari Desember pada tahun 1993 dan 1998. Hal
ini disebabkan karena curah hujan selalu lebih besar daripada evapotranspirasi
potensial yang terjadi. Nilai water surplus terbesar terjadi pada pada bulan
Februari sebesar 436,71 mm/bulan, sedangkan harga kelebihan air yang terkecil
terjadi pada bulan September sebesar 66.13 mm/bulan.
Pemanfaatan Lahan
Berdasarkan analisis pada citra satelit landsat diketahui, terdapat 13 tipe
penggunaan lahan. Penggunaan lahan dominan di DAS Citanduy berupa, hutan
tanaman (pinus dan jati), kebun campuran dan hutan alam. Hutan alam dan hutan
tanaman merupakan kawasan hutan negara (Hutan Lindung dan Hutan Suaka
Alam). Kebun campuran merupakan penggunaan lahan dengan berbagai spesies
pohon (buah-buahan dan kayu, sengon) terutama di lahan masyarakat. Sawah
terutama dibudidayakan di dataran landai di Sub DAS Segara Anak dan Citanduy
6

hulu, diantara G. Sawal dan kompleks G. Galunggung, G.Tlagabodas, G.


Cakrabuana dan G. Sadakeling.
Hutan tanaman mengalami penurunan yang cukup tajam sebesar 31 900 ha
(6.73%), yang terjadi di semua Sub DAS. Sedangkan Kebun campuran mengalami
peningkatan sebesar 34 157 ha (7.2%), terutama di Sub DAS di bagian Hulu (Sub
Das Cimuntur, Citanduy Hulu, Cijolang). Dari trend perubahan lahan periode 1991
2003, terdapat kecenderungan peningkatan areal hutan alam, konversi hutan
tanaman menjadi peruntukan lain dan ada peningkatan areal kebun campuran.
Kondisi DAS Citanduy
Menurut Pusat Studi Pembangunan IPB (2005), perubahan penggunaan lahan
yang terjadi di DAS mengindikasikan bahwa telah terjadi proses penurunan
kuantitas dan

kualitas sumberdaya

DAS.

Seiring

dengan

meningkatnya

pertumbuhan jumlah penduduk, maka berbagai tatanan kehidupanpun ikut


berubah

mengikuti

perkembangan

kebutuhan

masyarakat.

Dampak

dari

perubahan tersebut ialah pola pemanfaatan sumber daya alam oleh masyarakat
yang berada sekitar DAS. Diantara perubahan-perubahan penggunaan lahan
yang terjadi, perubahan yang paling besar pengaruhnya terhadap kelestarian
sumberdaya air adalah perubahan dari kawasan hutan ke penggunaan lainnya
seperti pertanian, perumahan ataupun industri.
Adanya keinginan untuk memanfaatkan sumberdaya alam semaksimal
mungkin untuk pertanian membuat masyarakat kurang memperhatikan
dampak lingkungan yang akan muncul pada DAS tersebut. Masyarakat
cenderung mencari lahan yang relatif lebih subur, sehingga banyak
masyarakat di sekitar DAS yang menggarap lahan di kawasan hutan atau
pada lahan dengan ketinggian yang lebih tinggi.
Semakin tingginya tingkat pertumbuhan penduduk serta kebutuhan akan
tempat tinggal juga akan mendesak pola pemanfaatan lahan, sehingga
menyebabkan terjadinya alih fungsi lahan. Hal ini dikarenakan pertambahan
penduduk yang begitu pesat yang tidak disertai dengan kecukupan luasan
DAS yang tersedia.
Bagian hulu DAS yang merupakan kawasan penyangga bagi daerah hilir
dan tengah, harus tetap terjaga kemampuan konservasinya. Hal tersebut
7

berarti bahwa upaya konservasi tanah dan konservasi air pada DAS hulu
menjadi suatu keharusan untuk kelangsungan hidup penduduk di sekitar DAS
yang pada umumnya merupakan masyarakat tani yang sangat tergantung
dengan lahan pertanian, baik berupa kebun campuran maupun sawah.
Wilayah Desa Tanjungsari berada di wilayah hulu Sungai Citanduy. Desa
Tanjungsari ini letaknya sangat strategis karena diapit oleh dua sungai, yaitu
Sungai Citanduy dan Sungai Cikidang. Meskipun letak desa tersebut diapit oleh
dua sungai, tidak berarti membuat Desa Tanjungsari memiliki pasokan air yang
cukup di musim kemarau. Hal ini karena masyarakat tidak mengkonsumsi kedua
air sungai tersebut untuk kebutuhan rumah tangganya. Menurut keterangan
beberapa warga, air Sungai Citanduy maupun Sungai Cikidang sudah tidak layak
untuk dikonsumsi, airnya sudah tidak jernih lagi dan banyak endapan lumpur.
Selain disaat musim kemarau mengalami kekurangan air, desa juga mengalami
kebanjiran di musim hujan. Menurut penduduk desa, bencana banjir yang melanda
desa ini sudah terbiasa terjadi dalam lima tahun belakangan ini. Desa Tanjungsari
sendiri biasanya mengalami dua sampai tiga kali banjir tiap tahunnya. Banjir akan
melanda Desa Tanjungsari apabila hujan yang turun deras. Selain itu, letak desa
ini yang berada di dataran rendah dan diapit oleh dua sungai (Sungai Citanduy dan
Cikidang) juga memberikan peluang yang besar untuk terjadinya banjir.
Permasalahan
Permasalahan yang ada di DAS Citanduy diantaranya adalah permaslahan
lingkungan di mana permasalahan tersebut tidak lepas dari kondisi lahan yang
mulai terdegradasi yang ditunjukan oleh semakin menyusutnya penutup lahan
yang berupa hutan. Adanya degradasi lahan pada DAS Citanduy ditunjukan
dengan semakin memburuknya kondisi kualitas perairan baik dari segi fisik
maupun kimianya. Tingkat kekeruhan air sungai yang berwarna coklat kemerahan
mengindikasikan semakin buruknya kualitas fisik perairan DAS Citanduy. Hal ini
dikarenakan oleh aliran sungai membawa beban sedimen yang luar biasa.
Permasalahan lingkungan DAS selanjutnya akan dibahas dengan membedakan
berdasarkan sumber pencemaran sumberdaya air di DAS Citanduy dan sumber
kerusakan lingkungannya.
a) Pencemaran Sumberdaya Air DAS Citanduy
8

Aktivitas kehidupan masyarakat di sekitar DAS yang sangat tinggi, telah


menimbulkan efek terhadap kondisi air DAS itu sendiri, seperti kegiatan pertanian,
penebangan hutan, limbah rumah tangga maupun industri dan lain-lain. Aktifitas
yang dilakukan masyarakat tersebut dapat mengakibatkan terganggunya kualitas
bahkan

kuantitas

air.

Permasalahan

utama

yang

dihadapi

menyangkut

sumberdaya air adalah kuantitas air yang berkualitas sudah tidak dapat lagi
memenuhi kehidupan masyarakat DAS.
Beberapa bentuk pencemaran air pada DAS yang banyak terjadi diantaranya:
1. Pencemaran oleh kegiatan pertanian Kegiatan pertanian baik secara langsung
maupun tidak langsung dapat mempengaruhi kualitas air, seperti penggunaan
pupuk buatan yang mengandung nitrogen dan fosfat yang tinggi. Limbah pertanian
dari lahan sawah tersebut kemudian mengalir ke sungai Citanduy yang lebih
rendah.
2. Limbah rumahtangga
Masyarakat yang bermukim di DAS akan menghasilkan limbah rumahtangga
(organik maupun anorganik) yang dapat mempengaruhi kualitas air pada perairan
sungai. Pada umumnya warga yang membangun rumah tepat berada di pinggiran
Sungai Citanduy masih membuang limbah rumahtangga mereka ke sungai
tersebut. Hal ini karena menurut mereka lebih praktis jika dibandingkan dengan
membakarnya untuk anorganik, sedangkan untuk limbah organik pada umumnya
pembuangan disalurkan ke sungai oleh warga yang bermukim tepat di pingggir
sungai.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh BBWS Citanduy terhadap 3 lokasi
yang berada di DAS Citanduy yaitu Pataruman, Tunggilis dan Panumbangan
selama pemantauan, tidak satu lokasipun yang kualitas airnya memenuhi kriteria
baku mutu air kelas II, karena tingginya kandungan koli tinja. Parameter lainnya
yang tidak memenuhi kriteria umumnya adalah kadar BOD. Demikian halnya
dengan pengamatan yang dilakukan oleh BBWS Citanduy yang disampaikan
dalam rencana pola pengelolaan sumberdaya air Wilayah Sungai Citanduy (2008)
menyebutkan bahwa Sungai Cijolang Bantarheulang, Sungai Citanduy Hulu,
9

Sungai Banjar, Sungai Citanduy Pataruman dan Sungai Ciseel Bantarloa


memeiliki kualitas air yang sudah tidak sesuai untuk digunakan pada kelas 1 dan
kelas 2 Tabel 6.82. Kualitas Air Sungai DAS Citanduy.
Tabel 6.82. Kualitas Air Sungai DAS Citanduy

b) Kerusakan lingkungan DAS Citanduy


Beberapa permasalahan lingkungan terkait dengan potensi sumberdaya air di
DAS Citanduy berupa:
1. Tingginya Degradasi atau Rusaknya Lingkungan DAS
Perubahan tata guna lahan di DAS terutama di daerah catchment area tidak
diimbangi dengan usaha dan upaya konservasi. Diganggunya hutan pelindung
lahan sebagai media penangkap hujan menyebabkan air hujan sebagian besar
menjadi run off dan langsung ke badan sungai sehingga menyebabkan banjir
dengan membawa erosi dan sedimentasi yang tinggi. Air hujan yang meresap
makin sedikit, maka tanah di lapisan bawah secara alami tidak lagi menampung
air (natural groundwater reservoir) maka pada musim kemarau terjadi kekeringan.
Semakin berkurangnya kawasan hutan juga dapat menambah jumlah kategori
luas lahan kritis di DAS. Terjadinya lahan-lahan kritis di DAS tidak saja
menyebabkan penurunan produktivitas tanah, tetapi juga menyebabkan rusaknya
fungsi hidrologis DAS dalam menahan, menyimpan dan meresapkan air hujan
yang jatuh pada kawasan DAS yang menyebabkan semakin menurunnya
kuantitas dan kualitas air sungai (sedimentasi sungai).
Semakin berkurangnya kawasan hutan dapat menambah jumlah kategori luas
lahan kritis di DAS. Terjadinya lahan-lahan kritis di DAS tidak saja menyebabkan
penurunan produktivitas tanah, tetapi juga mengakibatkan hasil tanaman terus
menurun sehingga tidak mampu lagi mendukung kehidupan ekonomi keluarga
petani. Di wilayah DAS Citanduy sendiri masih banyak terdapat lahan kritis,
bahkan jumlahnya terus bertambah seiring semakin berkurangnya luas hutan
yang ada di DAS.
10

Berdasarkan citra satelit Landsat tahun 2000, luas lahan kritis dan kerusakan
hutan di Indonesia mencapai 54,65 juta hektar yang terdiri dari 9,75 juta hektar
hutan lindung, 3,9 juta hektar hutan konservasi dan 41 juta hektar hutan produksi.
Sedangkan kerusakan lahan di luar kawasan hutan mencapai 41,69 juta hektar.
Laju kerusakan hutan terus meningkat setiap tahunnya. Sebelum diberlakukannya
otonomi daerah, yaitu pada periode 1995 1997, laju kerusakan hutan mencapai
1,6 juta hektar per tahun, namun setelah reformasi dan otonomi daerah kerusakan
lebih besar yaitu mencapai 2,3 juta hektar per tahun.
Tabel 1 : Kondisi lahan kritis di DAS Citanduy tahun 2009

Ciri utama lahan kritis adalah gundul, berkesan gersang, dan bahkan muncul batubatuan di permukaan tanah, topografi lahan pada umumnya berbukit atau
berlereng curam (Hakim et al., 1991). Meluasnya lahan kritis dapat disebabkan
oleh beberapa hal, diantaranya: tekanan penduduk, perluasan areal pertanian
yang tidak sesuai, perladangan berpindah, pengelolaan hutan yang tidak baik, dan
pembakaran yang tidak terkendali.
2. Sedimentasi tinggi
DAS Citanduy bagian hilir terdapat ekosistem mangrove unik (Segara Anakan)
yang terancam keberadaanya karena proses pendangkalan oleh sedimenasi
Sungai Citanduy. Pada tahun 1970 luas Segara Anakan diperkirakan 4580 ha,
sedangkan pada tahun 2002 diperkirakan hanya tinggal 850 ha. Total Sedimentasi
yang masuk ke Segara Anakan adalah 5.000.000 m3/tahun dan yang diendapkan
di Laguna Segara Anakan adalah 1.000.000 m3/tahun. Laju penurunan luas

11

laguna dari tahun 1984 hingga 2003 dapat terlihat pada Gambar 6.87. dan Tabel
6.84

Gambar 6.86. Laju Penurunan Luas Laguna (Profil BBWS Citanduy)

Tabel 6.84. Luas dan Selisih Laguna Segara Anakan

3. Ancaman Degradasi Habitat dan Komunitas Mangrove


Peranan fungsi kawasan mangrove pada hakekatnya merupakan pengendali
alamiah terhadap lahan basah di bagian belakangnya. Terganggunya kawasan
mangrove di Segara Anakan, sebagai akibat dari genangan air tawar dan
akumulasi sedimen yang dibawa oleh sungai dapat menyebabkan kematian total
terhadap jenis-jenis mangrove berakar lutut. Sedimentasi tanah kapur yang terjadi
akibat dari aktivitas pemanfaatan bahan baku semen menyebabkan sistem
perakaran mangrove menjadi terganggu. Lumpur berpasir yang menjadi
persyaratan

habitat

mangrove

menjadi

dangkal

dan

mengeras,

hingga

menyebabkan kematian mangrove secara total, dan kini mulai digantikan oleh
semak jenis-jenis wrakas dan gradelan. Terganggunya komunitas mangrove pada
zona ini, berpengaruh langsung terhadap semakin menjauhnya batas pasang
surut. Semakin jauh batas pasang surut, menyebabkan terhambatnya aliran air
sungai yang masuk ke laguna Segara Anakan, hingga menyebabkan lebih dari 10
tahun sawah-sawah di daerah Sitinggil dan Kawunganten terendam, dan tidak
produktif lagi menjadi lahan pesawahan
4. Tingginya Kerusakan Infrastruktur Sumberdaya Air
Infrastruktur sumberdaya air rata-rata dibangun pada tahun 1970-1990 sehingga
usia bangunan sudah cukup tua, kemudian biaya rehabilitasi dan pemeliharaan
masih belum sesuai dengan kebutuhan di lapangan, serta perhatian dan
12

partisipasi masyarakat dalam hal pemeliharaan masih kurang maka hal ini
mengakibatkan tingginya biaya investasi yang diperlukan untuk merehabilitasi dan
memelihara infrastruktur sumberdaya air. Sedimentasi yang tinggi di DAS
Citanduy juga menyebabkan bangunan sumberdaya air berkurang fungsinya dan
memperpendek umur pakainya seperti bangunan pelimpah banjir di Wanareja.
5. Menyempitnya Kapasitas Alur Sungai
Terganggunya kapasitas alur sungai seringkali diakibatkan oleh ulah manusia
terutama diperkotaan, digangunya daerah sempadan sungai dapat menyebabkan
berkurangnya kapasitas alur sungai untuk mengalirkan debit sehingga terjadi
luapan air atau banjir
6. Minimnya Kawasan Hutan di Sekitaran Wilayah DAS Citanduy
Kawasan hutan yang semakin berkurang dapat berpengaruh pada keseimbangan
kondisi tata air di DAS, sehingga mengakibatkan penurunan kualitas DAS itu
sendiri. Hutan yang terdapat di wilayah DAS Citanduy terdiri atas hutan rakyat dan
hutan Negara.

Tabel 3 : Data luas hutan wilayah DAS Citanduy tahun 2007


Sesuai dengan UU No 41 tahun 1999 tentang Kehutanan, yaitu suatu
kawasan/wilayah minimal harus memiliki kawasan hutan sabagai daerah
penyangga sebesar 30 persen dari luas total wilayah. Jika dilihat dari
perbandingan

luas

wilayah

yang

masuk

kawasan

Citanduy

seperti

Kabupaten/Kota Tasikmalaya, Ciamis, Banjar dan Cilacap, masih kurang dari


jumlah minimum yang diperlukan sebagai suatu kawasan penyangga, yaitu 30%
dari luas wilayah.
13

Luas kawasan hutan yang ada di Kabupaten Tasik dan Kota Banjar hanya 24,70%
dari luas wilayah, kemudian luas kawasan hutan Kabupaten Tasikmalaya dan kota
Tasikmalaya hanya 26,05% dari luas kawasan. Luas hutan yang dimiliki Kota
Kuningan hampir mendekati 30%, yakni 29,12% dari luas wilayah. Kota
Majalengka memiliki kawasan hutan seluas 19,95% dari luas wilayahnya,
sedangkan Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Banyumas memiliki kawasan hutan
sebesar 19,60% dari luas wilayah. Hasil perhitungan ini menunjukkan bahwa luas
kawasan di DAS Citanduy belum mampu menjadi wilayah penyangga dalam
menjaga keseimbangan sistem ekologis.

Tabel 4 : perbandingan luas hutan di DAS Citanduy dan luas hutan yang
dibutuhkan menurut UU No.41 Tahun 1999
Upaya Pengelolaan DAS

Pengendalian erosi dan banjir dengan melakukan rehabilitasi bangunan


konservasi dan normalisasi sungai. Selain itu juga dilakukan penataan
sempadan

sungai

di

sejumlah

titik

strategis,

seperti

di

wilayah

Parunglesang, Parungsari, tepatnya di belakang Pendopo dan RSU Banjar,


bendungan Doboku, pembuatan taman, dan jogging track, serta penguatan
tebing, dengan menerapkan konsep River Front City

Melalui Kementerian PU Balitbang, akan membangun jembatan apung yang


akan menghubungkan Desa Ujung Alang dan Desa Klaces, Kecamatan Kampung
Laut, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Jembatan apung sepanjang 40 meter ini
nantinya akan menjadi jembatan dengan teknologi apung pertama di Indonesia.
14

Dipilihnya teknologi apung untuk jembatan ini dikarenakan setelah dilakukan


pegamatan, lokasi di mana jembatan ini akan dipasang tidak dimungkinkan untuk
membangun jembatan dengan teknologi pancang. Hasil pengamatan tim Pusjatan
menemukan bahwa sedimen yang di lokasi tempat akan dibangun jembatan
memiliki kedalaman hingga 20 meter. Karena kondisi inilah maka tim memutuskan
bahwa teknologi apunglah yang cocok untuk diaplikasikaan dalam pembangunan
jembatan di kampung nelayan ini. Selain biaya produksinya lebih murah,
keunggulan dari jembatan hasil teknologi Balitbang PUPR ini mudah dibongkarpasang atau dipindah-pindah.

permasalahan sedimentasi di Segara Anakan juga menjadi pokok masalah yang


harus segera ditangani. Pendangkalan yang disebabkan material yang terbawa
oleh aliran Sungai Citanduy telah menimbulkan permasalahan di Segara Anakan,
di antaranya banjir dan terhambatnya akses kapal-kapal yang lewat akibat dari
pendangkalan tersebut.

Penanganan masalah sedimentasi guna mempertahankan keberadaan Laguna


Segara Anakan dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu program

15

pengendalian sedimen sungai, mengatur tata letak muara sungai Citanduy serta
pengerukan secara bertahap.

Pengerukan bertahap akan dilakukan di alur pelayaran, yaitu Plawangan Barat dan
alur transportasi Cilacap dan Majingklak, serta normalisasi anak-anak sungai yang
bermuara di laguna Segara Anakan. Pada tahun 2004 pernah dilakukaan
pengerukan sebanyak 544 Ha atau 9 juta m2 dengan rata-rata kedalaman 1,75 m,
akan tetapi kondisi ini tidak berlangsunng lama karena saat ini sudah menjadi
dangkal kembali.

permasalahan permukiman di Desa Klaces yang sebagian besar bangunan yang


dibangun merupakan bangunan semi dan non permanen yang tidak memenuhi
standar, bangunan berupa landed houses (rumah tapak) dan pembangunannya
asal bangun. Ditambah kondisi sanitasi, air bersih, pengeloalaan sampah,
drainase yang ada tidak terpelihara dan tidak layak.

Untuk permasalahan permukiman di Desa Klaces, tim Balitbang PUPR sudah


melakukan beberapa renovasi dan penataan di beberapa bangunan desa. Untuk
bangunan rumah, rencananya akan dibangun dengan sistem rumah panggung
dan menerapkan model rekayasa teknologi bangunan rumah yaitu Rumah Instan
Sederhana (RISHA).

Dalam sambutan Bupati Cilacap yang diwakilkan oleh Sekretaris Daerah Sutarjo,
mengatakan bahwa salah satu permasalahan yang dialami masyarakat Kampung
Laut adalah sulitnya akses transportasi penghubung antar wilayah dan juga
permasalahan tingginya sedimentasi di Laguna Segara Anakan

16

17

18