Anda di halaman 1dari 52

Pengertian MPR adalah lembaga tertinggi di negara Indonesia yang strukturnya

dibentuk berdasarkan pemilihan langsung legislative, bersamaan dalam penetapan


anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Majelis Permusyawaratan rakyat sebagai
lembaga kedaulatan rakyat memiliki susunan, kedudukan, tugas, dan wewenang
yang dapat dilihat dibawah ini..
Susunan dan Keanggotaan MPR - MPR terdiri atas anggota Dewan Perwakilan Rakyat
dan anggota Dewan Perwakilan Daerah yang dipilih melalui pemilihan umum yang
diatur lebih lanjut dalam undang-undang menurut Pasal 2 Ayat (1). Jumlah anggota
MPR 692 orang yang terdiri atas 560 orang anggota DPR dan 132 orang dari
Anggota DPD. Sehingga MPR memiliki legitimasi sangat kuat karena semua anggota
MPR dipilih oleh rakyat. Masa jabatan dari anggota MPR adalah lima tahun dan
berakhir bersamaan pada saat anggota MPR yang baru mengucapkan sumpah/janji.
Keanggotan MPR diresmikan dengan keputusan presiden. Sebelum anggota MPR
memangku jabatannya, mengucapkan sumpah/janji yang dilakukan secara
bersama-sama yang dipandu oleh ketua Mahkamah Agung (MA) dalam sidang
paripurna MPR. Anggota MPR yang tidak dapat mengikut atau berhalangan
mengucapkan sumpah/janji di pandu oleh pimpinan MPR.
Tugas
Selain didaulat untuk memiliki fungsi sebagai lembaga legislative yang memiliki
peran besar dalam memajukan operasional pemerintahan, MPR juga memiliki
beberapa tugas dan juga wewenang tersendiri, yang tentu saja merupakan salah
satu tugas berat yang dimiliki oleh MPR sebagai lembaga legislative di Indonesia.
Berikut ini adalah beberapa tugas dan juga wewenang yang dimiliki oleh MPR
sebagai lembaga legislative yang ada di Indonesia :
1. Mengubah dan juga menetapkan Undang-Undang Dasar
Tugas dan juga wewenang dari lembaga MPR yang pertama adalah mengubah dan
jga menetapkan undang-undang dasar. Seperti kita ketahui, undang-undang dasar
atau yang kita kenal dengan nama UUD 45 merupakan salah satu landasan Negara
yang memiliki semboyanbhinneka tunggal ika ini. Meskipun begitu, terkadang
perubahan dibutuhkan, sesuai dengan kebutuhan dan juga perkembangan jaman
dan perkembangan yang terjadi secara luas di lingkungan masyarakat. Karena itu,
sudah menjadi tugas dan juga wewenang MPR untuk melakukan proses perubahan
dan juga penetapan undang-undang dasar 1945.
2. Melantik Presiden dan Wakil Presiden berdasarkan hasil pemilihan umum dalam
sidang paripurna
Tugas lainnya yang dimiliki oleh MPR adalah tugas melantik presiden baru. Ya,
sebagai sebuah Negara demokrasi yang dipimpin oleh presiden, maka dibutuhkan
sebuah lembaga Negara perwakilan rakyat yang mampu mengemban tugas dalam

melantik dan mensahkan presiden dan juga wakil presiden. Tentu saja, presiden dan
juga wakil presiden terlebih dahulu sudah dinyatakan terpilih dalam event pemilihan
umum yang sudah dilakukan. Setelah itu, barulah MPR dalam siding paripurna akan
mengangkat dan juga melantik presiden dan juga wakil presiden untuk mengabdi
kepada Negara dan memimpin Indonesia dalam waktu 5 tahun ke depan.
3. Memberhentikan kekuasaan eksekutif, yaitu presiden dan juga wakil presiden
dalam masa jabatan yang masih berjalan
Tugas dan wewenang lainnya dari lembaga MPR adalah untuk melakukan
pemberhentian kekuasaan eksekutif, yaitu presiden dan juga wakil presiden, baik
salah satu, ataupun keduanya, ketika terbukti melakukan hal yang melanggar
hukum, kode etik, dan sebagainya. Biasanya, MPR dalam hal ini akan melakukan
proses penyelidikan terlebih dahulu mengenai kasus ataupun perilaku yang
melanggar yang dilakukan oleh pemimpin Negara tersebut yang menjadi penyebab
terjadinya tindakan penyalahgunaan kewenangan. Apabila kekuasaan eksekutif
terbukti melakukan kesalahan dan pelanggaran, maka hal ini dapat menjadi acuan
bagi MPR untuk melakukan pemberhentian teradap kekuasaan eksekutif, yaitu
presiden dan atau waki presiden.
4. Mengangkat wakil presiden menjadi presiden ketika presiden meninggalkan kursi
jabatannya, diberhentikan, ataupun mengundurkan diri
Terkadang dalam Negara demokrasi yang dipimpin oleh seorang presiden, hal ini
sering terjadi, dimana presiden meninggalkan kursi jabatannya. Presiden dapat
meninggalkan kursi jabatannya karena banyak hal, mulai dari presiden yang sakit,
tidak mampu mengayomi kebutuhan rakyat, hingga presiden yang terlibat kasus
atau skandal. Ketika presiden sudah berhenti dan meninggalkan jabatannya, maka
MPR memiliki kewenangan dan juga tugas untuk melantik dan mengangkat wakil
presiden menjadi presiden, untukmengisi kursi kosong yang ditinggalkan presiden
terdahulu.
5. Memilih wakil presiden yang diajukan oleh presiden, apabila terdapat kekosongan
jabatan wakil presiden
Sama seperti point sebelumnya, MPR juga memiliki tugas dan juga kewenangan
untuk memilih wakil presiden, apabila posisi wakil presiden kosong. Dalam hal ini,
MPR dapat memilih beberapa pilihan wakil presiden yang diajukan oleh presiden,
untuk menduduki posisi wakil presiden.
Fungsi
Menurut Undang-Undang dasar 1945 yang menjadi salah satu landasan hukum dari
Negara Indonesia, terdapat beberapa fungsi utama dari MPR sebagai salah satu

lembaga legislative Negara. Berikut ini adalah beberapa fungsi MPR sebagai
lembaga legislative Negara :
1. MPR sebagai lembaga perwakilan rakyat mengawasi jalannya pemerintahan
Fungsi pertama dari lembaga pemerintahan MPR yang pertama adalah untuk
mengawasi jalannya pemerintahan yang dilakukan oleh pemegang kekuasaan
eksekutif, yang dalam hal ini adalah presiden. Fungsi ini dilakukan tidak lain dan
juga tidak bukan adalah untuk mengawasi kinerja presiden, dan juga mengawasi
segala bentuk kebijakan dan juga peraturan yang dibuat oleh presiden. Dengan
adanya fungsi pengawasan ini, maka MPR mampu untuk mencegah terjadinya
penyalahgunaan kekuasaan yang dimiliki oleh presiden yang berpotensi untuk
merugikan rakyat. Hal ini juga membantu agar kegiatan kekuasaan legislative yang
dimiliki oleh presiden tidak dilaksanakan secara sewenang wenang.
2. Sebagai pemegang kekuasaan legislative
Fungsi berikutnya dari MPR menurut UUD 1945 adalah sebagai pemegang
kekuasaan legislative. Hal ini berarti MPR memiliki fungsi untuk membuat dan juga
menyusun undang-undang, yang dapat menyuarakan suara rakyat, sehingga dapat
memunculkan suatu peraturan perundang-undangan baru yang dapat mengayomi
kebutuhan seluruh masyarakat Indonesia secara luas dan umum.
Hak dan Kewajiban MPR - Anggota MPR mempunyai hak dan kewajiban yang harus
dilaksanakan bagi setiap anggota MPR. Hak dan kewajiban MPR adalah sebagai
berikut...
1.Hak-Hak Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR)
Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, anggota MPR mempunyai hak. Hakhak MPR adalah sebagai berikut..
Mengajukan usul perubahan pasal-pasal dalam UUD NRI Tahun 1945;
Menentukan sikap dan pilihan dalam pengambilan keputusan
Memilih dan dipilih
Membela diri
Imunitas
Protokoler
Keuangan dan administrasi
2.Kewajiban Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR)
Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, anggota MPR mempunyai
kewajiban. Kewajiban MPR adalah sebagai berikut..

Memegang teguh dan mengamalkan Pancasila


Melaksanakan UUD NRI Tahun 1945 dan menaati peraturan perundang-undangan
Mempertahankan dan memelihara kerukunan nasional dan menjaga keutuhan NKRI
Mendahulukan kepentingan negara diatas kepentingan pribadi, kelompok, dan
golongan
Melaksanakan peranan sebagai wakil rakyat dan wakil daerah
Kedudukan MPR - MPR adalah lembaga permusyawaratan rakyat yang
berkedudukan sebagai lembaga
negara.

HUKUM PIDANA

BAHAN KULIAH, Hukum Pidana


LITERATUR POKOK :
Drs. P.A.F. Lamintang, SH Dasar-Dasar Hukum Pidana, Citra Aditya Bakti, Bandung
Prof. Muljatno, SH Asas-Asas Hukum Pidana
Dr. Andi Hamzah, SH, Asas-Asas Hukum Pidana
Drs. Adam Chazami SH, Pelajaran Hukum Pidana 1
Drs. Adam Chazami, Pelajaran Hukum Pidana 2.
Prof. Dr.Wirjono. P, SH, Asas-Asas Hukum Pidana
D. Scaffmester, dkk Hukum Pidana
Prof. Dr. Barda Nawawi, SH Kapita Silekta Hukum Pidana
R. Soenarto Soeridobroto, KUHP dan KUHAP beserta Yurisprudensi MA
R. Soesilo, KUHP dan penjelasannya

BAB I
PENDAHULUAN
A. Istilah dan Pengertian

Pidana berasal kata straf (Belanda), yang adakalanya disebut dengan istilah hukuman.
Istilah pidana lebih tepat dari istilah hukuman karena hukum sudah lazim merupakan
terjemahan darirecht. Dapat dikatakan istilah pidana dalam arti sempit adalah berkaitan
dengan hukum pidana
Pidana lebih tepat didefinisikan sebagai suatu penderitaan yang sengaja
dijatuhkan/diberikan oleh negara pada seseorang atau beberapa orang sebagai akibat
hukum (sanksi) baginya atas perbuatannya yang telah melanggar larangan hukum
pidana. Secara khusus larangan dalam hukum pidana ini disebut sebagai tindak
pidana (strafbaar feit).
Selanjutnya istilah hukum pidana dalam bahasa Belanda adalah Strafrecht sedangkan
dalam bahasa Inggris adalah Criminal Law.
Adapun pengertian hukum pidana dibawah menurut pendapat para ahli sebagai
berikut :
1.

SIMONS, hukum pidana adalah keseluruhan larangan-larangan dan keharusan yang


pelanggaran terhadapnya dikaitkan dengan suatu nestapa (pidana/hukuman) oleh negara,
keseluruhan aturan tentang syarat, cara menjatuhkan dan menjalankan pidana tersebut.

2.

MOELJATNO, hukum pidana adalah aturan yang menentukan : a) Perbuatan yang tidak
boleh dilakukan, dilarang, serta ancaman sanksi bagi yang melanggarnya, b) Kapan dan
dalam hal apa kepada pelanggar dapat dijatuhi pidana, c) Cara pengenaan pidana kepada
pelanggar tesebut dilaksanakan

3.

Wirjono Prodjodikoro, hukum pidana adalah peraturan hukum mengenai pidana. Kata
pidana berarti hal yang dipidanakan yaitu oleh instansi yang berkuasa dilimpahkan
kepada seorang oknum sebagai hal yang tidak enak dirasakannya dan juga hal yang tidak
sehari-hari dilimpahkan.

4.

Wirjono Prodjodikoro, hukum pidana adalah peraturan hukum mengenai pidana. Kata
pidana berarti hal yang dipidanakan yaitu oleh instansi yang berkuasa dilimpahkan
kepada seorang oknum sebagai hal yang tidak enak dirasakannya dan juga hal yang tidak
sehari-hari dilimpahkan.

5.

WLG. LEMAIRE, hukum pidana itu terdiri dari norma-norma yang berisi keharusankeharusan dan larangan-larangan yang (oleh pembentuk UU) telah dikaitkan dengan suatu
sanksi berupa hukuman yakni suatu penderitaan yang bersifat khusus. Dengan demikian
dapat juga dikatakan bahwa hukum pidana itu merupakan suatu sistem norma yang
menentukan terhadap tindakan-tindakan yang mana (hal melakukan sesuatu atau tidak
melakukan sesuatu dimana terdapat suatu keharusan untuk melakukan sesuatu) dan dalam
keadaan-keadaan bagaimana hukuman itu dapat dijatuhkan serta hukuman yang bagaimana
yang dapat dijatuhkan bagi tindakan-tindakan tersebut. (pengertian ini nampaknya dalam arti
hukum pidana materil).

6.

WFC. HATTUM, hukum pidana (positif) adalah suatu keseluruhan dari asas-asas dan
peraturan-peraturan yang diikuti oleh negara atau suatu masyarakat hukum umum lainnya,
dimana mereka itu sebagai pemelihara dari ketertiban hukum umum telah melarang
dilakukannya tindakan-tindakan yang bersifat melanggar hukum dan telah mengaitkan
pelanggaran terhadap peaturan-peraturannya denagan suatu penderitaan yang bersifat
khusus berupa hukuman.

7.

WPJ. POMPE, hukum pidana adalah hukum pidana itu sama halnya dengan hukum tata
negara, hukum perdata dan lain-lain bagian dari hukum, biasanya diartikan sebagai suatu
keseluruhan dari peraturan-peraturan yang sedikit banyak bersifat umum yang abstrahir dari
keadaan-keadaan yang bersifat konkret.

8.

KANSIL, hukum

pidana

adalah

hukum

yang

mengatur

tentang

pelanggaran-

pelanggaran dan kejahatan-kejahatan terhadap kepentingan umum, perbuatan mana


diancam dengan hukuman yang merupakan suatu penderitaan atau siksaan.
9.

ADAMI CHAZAWI, dilihat dari garis besarnya, dengan berpijak pada kodifikasi sebagai
sumber utama atau sumber pokok hukum pidana, hukum pidana merupakan bagian dari
hukum publik yang memuat/berisi ketentuan-ketentuan tentang :

Aturan-aturan hukum pidana dan (yang dikaitkan/berhubungan denagan) larangan


melakukan perbuatan-perbuatan (aktif/positif) maupun pasif/negatif) tertentu yang diserti
dengan ancaman sanksi berupa pidana (straf) bagi yang melanggar larangan itu.

Syarat-syarat tertentu (kapankah) yang harus dipenuhi/harus ada bagi si pelanggar


untuk dapat dijatuhkanya sanksi pidana yang diancamkan pada larangan perbuatan yang
dilanggarnya.

Tindakan dan upaya-upaya yang boleh atau harus dilakukan negara melalui alat-alat
perlengkapannya (misalnya polisi, jaksa, hakim), terhadap yang disangka dan di dakwa
sebagai pelanggar hukum pidana dalam rangka usaha negara menentukan, menjatuhkan
dan melaksanakan sanksi pidana terhadap dirinya, serta tindakan dan upaya-upaya yang
boleh dan harus dilakukan oleh tersangka/terdakwa pelanggar hukum tersebut dalam usaha
melindungi dan mempertahankan hak-haknya dari tindakan negara dalam upaya negara
menegakkan hukum pidana tersebut.

Berpijak dalam garis besarnya, dengan berpijak pada kodifikasi sebagai sumber utama
atau sumber pokok hukum pidan, hukum pidana merupakan bagi dari hukum publik
yang memuat/berisi ketentuan-ketentuan tentang :
1.

Aturan umum hukum pidana dan (yang dikaitkan/berhubungan dengan) larangan


melakukan perbuatan-perbuatan (aktif/posiitif) maupun pasf/negatif) tertentu yang disertai
denagan ancaman sanksi pidana (straf) bagi yang melanggar larangan itu.

2.

Syarat-syarat tertentu (kapankah) yang harus dipenuhi/harus ada bagi si pelanggar


untuk dapat dijatuhkannya sanksi pidana yang diancamkan pada larangan perbuatan yang
dilanggarnya.

3.

Tindakan dan upaya-upaya yang boleh atau harus dilakukan negara melalui alat-alat
perlengkapannya (misalnya polisi, jaksa, hakim), terhadap yang disangka dan didakwa
sebagai pelanggar hukum pidana dalam rangka usaha negara menentukan, menjatuhkan
dan melaksanakan sanksi pidana terhadap dirinya, serta tindakan dan upaya-upaya yang
boleh dan harus dilakukan oleh tersangka/terdakwa pelanggar hukum tersebut dalam usaha
melindungi dan mempertahankan hak-haknya dari tindakan negara dalam upaya negara
menegakkan hukum pidana tersebut

B. Tujuan Hukum Pidana


Ada dua macam :
1.

Untuk menakut-nakuti setiap orang agar mereka tidak melakukan perbuatan


pidana (fungsi preventif)

2.

Untuk mendidik orang yang telah melakukan perbuatan yang tergolong perbuatan
pidana agar mereka menjadi orang yang baik dan dapat diterima kembali dalam
masyarakat (fungsi represif).

Jadi dapat disimpulkan tujuan hukum pidana adalah untuk melindungi masyarakat.
Menurut para ahli tujuan hukum pidana adalah :
1.

Memenuhi rasa keadilan (WIRJONO PRODJODIKORO)

2.

Melindungi masyarakat (social defence) (TIRTA AMIDJAJA)

3.

Melindungi kepentingan individu (HAM) dan kepentingan masyarakat dengan negara


( (KANTER DAN SIANTURI)

4.

Menyelesaikan konflik (BARDA .N)

Tujuan Pidana (Menurut literatur Inggris R3D) :


1.

Reformation, yaitu memperbaiki atau merehabilitasi penjahat menjadi orang baik dan
berguna bagi masyarakat. Namun ini tidak menjamin karena masih banyak juga residivis.

2.

Restraint, yaitu mengasingkan pelanggar dari masyarakat sehingga timbul rasa aman
masyarakat

3.

Retribution, yaitu pembalasan terhadap pelanggar karena telah melakukan kejahatan

4.

Deterrence, yaitu menjera atau mencegah sehingga baik terdakwa sebagai individual
maupun orang lain yang potensi menjadi penjahat akan jera atau takut untuk
melakukankejahatan, melihat pidana yang dijatuhkan kepada terdakwa.

C. Fungsi Hukum Pidana


Sebagai hukum publik hukum pidana memiliki fungsi sebagai berikut :
1.

Fungsi melindungi kepentingan hukum dari perbuatan yang menyerang atau


memperkosanya.

Kepentingan hukum (rechtsbelang) adalah segala kepentingan yang diperlukan dalam


berbagai segi kehidupan manusia baik sebagai pribadi, anggot masyarakat, maupun
anggota suatu negara, yang wajib dijaga dan dipertahankan agar tidak
dilanggar/diperkosa oleh perbuatan-perbuatan manusia. Semua ini ditujukan untuk
terlaksana dan terjaminnya ketertiban di dalam segala bidang kehidupan.
Di dalam doktrin hukum pidana Jerman, kepentingan hukum (rechtsgut) itu meliputi
(Satochid Kartanegara) :
1.

Hak-hak (rechten)

2.

Hubungan hukum (rechtsbetrekking)

3.

Keadaan hukum (rechtstoestand)

4.

Bangunan masyarakat (sociale instellingen)

Kepentingan hukum yang wajib dilindungi itu ada tiga macam yaitu :
1.

Kepentingan hukum perorangan (individuale belangen) misalnya kepentingan hukum


terhadap hak hidup (nyawa), kepentingan hukum atas tubuh, kepentingan hukum akan hak
milik benda, kepentingan hukum terhadap harga diri dan nama baik, kepentingan hukum
terhadap rasa susila, dsb.

2.

Kepentingan hukum masyarakat (sociale of maatschapppelijke belangen), misalnya


kepentingan hukum terhadap keamanan dan ketertiban umum, ketertiban berlalu lintas di
jalan raya, dsb.

3.

Kepentingan hukum negara (staatsbelangen), misalnya kepentingan hukum terhadap


keamanan dan keselamatan negara, kepentingan hukum terhadap negara-negara sahabat,
kepentingan hukum terhadap martabat kepala negara dan wakilnya, dsb.

Ketiga kepentingan hukum diatas saling berkait dan tidak bisa dipisahkan. Contoh
kepetingan hukum yang diatur dalam hukum pidana materil (KUHP) larangan mencuri
(pasal 362), larangan menghilangkan nyawa (pasal 338). Pasal 363 melindungi dan
mempertahankan kepentingan hukum orang atas hak milik kebendaan pribadi dan
pasal 338 adalah melindungi dan mempertahankan kepentingan hukum terhadap hak
individu/nyawa orang. Untuk melindung kepentingan hukum diatas adalah melalui

sanksi pidana/straf (hukuman penjara). Misalnya pasal 362 KUHP dapat diancam
hukuman penjara maksimum 5 tahun dan pasal 338 dapat diancam hukuman penjara
maksimum 15 tahun, dsb.
1.

Memberi dasar legitimasi bagi negara dalam rangka negara menjalankan fungsi
mempertahankan kepentingan hukum yang dilindungi.

Fungsi hukum pidana yang dimaksud disini adalah adalah tiada lain memberi dasar
legitimasi bagi negara agar negara dapat menjalankan fungsi menegakkan dan
melindungi kepentingan hukum yang dilindungi oleh hukum pidana tadi dengan sebaikbaiknya. Fungsi ini terutama terdapat dalam hukum acara pidana, yang telah
dikodifikasikan dengan apa yang disebut Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana
(KUHAP) yakni UU No. 8 tahun 1981. Dalam hukum acara pidana telah diatur
sedemikian rupa tentang apa yang dapat dilakukan negara dan bagaimana cara negara
mempertahankan kepentingan hukum yang dilindungi oleh hukum pidana. Misalnya
bagaimana cara negara melakukan tindakan-tindakan hukum terhadap terjadinya tindak
pidana seperti melakukan penangkapan, penahanan, penuntutan, pemeriksaan, vonis,
dll. Semua tindakan negara diatas tentu berakibat tidak menyenangkan bagi siapa saja.
Namun atas dasar kepentingan hukum dan negara tindakan negara tersebut
dibenarkan, melalui prosedur KUHAP diatas.
1.

Fungsi mengatur dan membatasi kekuasaan negara dalam rangka negara menjalankan
fungsi mempertahankan kepentingan hukum yang dilindungi.

Sebagaimana diketahui bahwa fungsi hukum pidana yang kedua diatas adalah hukum
pidana telah memberikan hak dan kekuasaan yang sangat besar pada negara agar
dapat menjalankan fungsi mempertahankan kepentingan hukum yang dilindungi
dengan sebaik-baiknya. Namun demikian atas kekuasaan negara diatas harus dibatasi.
Walaupun pada dasarnya adanya hukum pidana untuk melindungi kepentingan hukum
yang dlindungi. Namun tentunya pembatasan kekuasaan itu penting agar negara tidak
melakukan sewenang-wenang kepada masyarakat dan pribadi manusia. Pengaturan
hak dan kewajiban negara dengan sebaik-baiknya dalam rangka negara menjalankan
fungsi mempertahankan kepentingan hukum yang dilindungi yang secara umum dapat
disebut mempertahankan dan menyelenggarakan ketertiban hukum masyarakat itu,
menjadi wajib. Adanya KUHP dan KUHAP sebagai hukum pidana materi dan formil
dalam rangka mempertahankan kepentingan hukum masyarakat yang dilindungi pada

sisi sebagai alat untuk melakukan tindakan hukum oleh negara apabila terjadi
pelanggaran hukum pidana, pada sisi lain sebagai alat pembatasan negara dalam
setiap melakukan tindakan hukum. Misalnya jika seseorang membunuh (pasal 338
KUHP) negara tidak boleh menghukum melebihi ancaman maksimum 15 tahun. Begitu
juga ketika negara menahan seseorang ada batas masa penahanan misalnya penyidik
hanya selama 20 hari. Jika ketentuan diatas dilanggar oleh negara maka akan terjadi
kesewenangan. Dengan demikian masyarakat sendiri dirugikan. Jika akibat suatu
tindakan negara justru merugikan masyarakat, maka tujuan dan fungsi hukum pidana
tersebut tidak tercapai. Tujuan hukum untuk kebenaran dan keadilan hanya semboyan
saja.
D. Sumber Hukum Pidana
1.

Kitab Undang-Undang Pidana (KUHP) dan penjelasan = MVT yang terdiri dari buku I
tentang aturan umum, buku II tentang kejahatan dan buku III tentang pelanggaran

2.

Undang-undang di luar Kitab Undang-undang Hukum Pidana

Undang-undang Tindak Pidana Korupsi

Undang-undang Tindak Pidana Terorisme (UU No. 15 tahun 2003)

Undang-undang Pidana Pencucian Uang (UU No. 15 tahun 2002)

Undang-undang Tindak Pidana Ekonomi (UU DRT No. 7 tahun 1955 dan UU No. 8
tahun 1958, PP No. 1 tahun 1960)

Undang-undang Narkotika dan Undang-undang Psikotropika ( UU No. 22 tahun 1997


tentang Narkotika dan UU No. 5 tahun 1997 tentang Psikotropika

3. Hukum Adat (Pasal 5 ayat 3 (b) UU Darurat No. 1 tahun 1951 yaitu berbunyi :
Hukum materiil sipil dan untuk sementara waktu pun hukum materiil pidana sipil yang
sampai kini berlaku untuk kaula-kaula daerah Swapraja dan orangorang yang dahulu
diadili oleh Pengadilan Adat, ada tetap berlaku untuk kaula-kaula dan orang itu, dengan
pengertian :

bahwa suatu perbuatan yang menurut hukum yang hidup harus dianggap perbuatan
pidana, akan tetapi tiada bandingnya dalam Kitab Hukum Pidana Sipil, maka dianggap
diancam dengan hukuman yang tidak lebih dari tiga bulan penjara dan/atau denda lima ratus
rupiah, yaitu sebagai hukuman pengganti bilamana hukuman adat yang dijatuhkan tidak
diikuti oleh pihak terhukum dan penggantian yang dimaksud dianggap sepadan oleh hakim
dengan besar kesalahan yang terhukum,

bahwa, bilamana hukuman adat yang dijatuhkan itu menurut fikiran hakim melampaui
padanya dengan hukuman kurungan atau denda yang dimaksud di atas, maka atas
kesalahan terdakwa dapat dikenakan hukumannya pengganti setinggi 10 tahun penjara,
dengan pengertian bahwa hukuman adat yang menurut faham hakim tidak selaras lagi
dengan zaman senantiasa mesti diganti seperti tersebut di atas, dan

bahwa suatu perbuatan yang menurut hukum yang hidup harus dianggap perbuatan
pidana dan yang ada bandingnya dalam Kitab Hukum Pidana Sipil, maka dianggap diancam
dengan hukuman yang sama dengan hukuman bandingnya yang paling mirip kepada
perbuatan pidana itu.

E. Aliran-aliran dalam Hukum Pidana


Salah satu masalah pokok hukum pidana adalah mengenai konsep tujuan pemidanaan
dan untuk mengetahui secara komprehensif mengenai tujuan pemidanaan ini harus
dikaitkan dengan aliran-aliran dalam hukum pidana. Aliran-aliran tersebut adalah aliran
klasik, aliran modern (aliran positif) dan aliran neo klasik (sosiologis). Perbedaaan aliran
klasik, modern dan neo klasik atas karakteristik masing-masing erat sekali
hubungannya dengan keadaan pada zaman pertumbuhan aliran-aliran tersebut.
1.

Aliran klasik

Aliran yang muncul pada abad ke-18 merupakan respon dari ancietn regime di Perancis
dan Inggris yang banyak menimbulkan ketidakpastian hukum, ketidaksamaan hukum
dan ketidakadilan. Aliran ini berfaham indeterminisme mengenai kebebasan kehendak
(free will) manusia yang menekankan pada perbuatan pelaku kejahatan sehingga
dikehendakilah hukum pidana perbuatan (daad-strefrecht). Aliran klasik pada prinsipnya
hanya menganut single track system berupa sanksi tunggal, yaitu sanksi pidana. Aliran
ini juga bersifat retributif dan represif terhadap tindak pidana karena tema aliran klasik
ini, sebagaimana dinyatakan oleh Beccarian adalah doktrin pidana harus sesuai dengan

kejahatan. Sebagai konsekuensinya, hukum harus dirumuskan dengan jelas dan tidak
memberikan kemungkinan bagi hakim untuk melakukan penafsiran. Hakim hanya
merupakan alat undang-undang yang hanya menentukan salah atau tidaknya
seseorang dan kemudian menentukan pidana. Undang-undang menjadi kaku dan
terstruktur. Aliran klasik ini mempunyai karakteristik sebagai berikut :
1.

Definisi hukum dari kejahatan

2.

Pidana harus sesuai dengan kejahatannya

3.

Doktrin kebebasan berkehendak

4.

Pidana mati untuk beberapa tindak pidana

5.

Tidak ada riset empiris; dan

6.

Pidana yang ditentukan secara pasti.

Tokoh dalam aliran klasik ini adalah Cesare Beccaria dan Jeremi Bentham. Beccaria
meyakini konsep kontrak sosial dimana individu menyerahkan kebebasan atau
kemerdekaannya secukupnya kepada negara dan oleh karenanya hukum harusnya
hanya ada untuk melindungi dan mempertahankan keseluruhan kemerdekaan yang
dikorbankan terhadap persamaan kemerdekaan yang dilakukan oleh orang lain. Prinsip
dasar yang digunakan sebagai pedoman adalah kebahagiaan yang terbesar untuk
orang sebanyak-banyaknya. Sementara Jeremy Bentham melihat suatu prinsip baru
yaitu utilitarian yang menyatakan bahwa suatu perbuatan tidak dinilai dengan sistem
yang irrasional yang absolut, tetapi melalui prinsip-prinsip yang dapat diukur. Bentham
menyatakan bahwa hukum pidana jangan dijadikan sarana pembalasan tetapi untuk
mencegah kejahatan.
1.

Aliran Modern atau aliran positif

Aliran ini muncul pada abad ke-19 yang bertitik tolak pada aliran determinisme yang
menggantikan doktrin kebebasan berkehendak (the doctrine of free will). Manusia
dipandang tidak mempunyai kebebasan berkehendak, tetapi dipengaruhi oleh watak
lingkungannya, sehingga dia tidak dapat dipersalahkan atau dipertanggungjawabkan
dan dipidana. Aliran ini menolak pandangan pembalasan berdasarkan kesalahan yang
subyektif. Aliran ini menghendaki adanya individualisasi pidana yang bertujuan untuk

mengadakan resosialisasi pelaku. Aliran ini menyatakan bahwa sistem hukum pidana,
tindak pidana sebagai perbuatan yang diancam pidana oleh undang-undang, penilaian
hakim yang didasarkan pada konteks hukum yang murni atau sanksi pidana itu sendiri
harus tetap dipertahankan. Hanya saja dalam menggunakan hukum pidana, aliran ini
menolak penggunaan fiksi-fiksi yuridis dan teknik-teknik yuridis yang terlepas dari
kenyataan sosial. Marc Ancel, salah satu tokoh aliran modern menyatakan bahwa
kejahatan merupakan masalah kemanusiaan dan masalah sosial yang tidak mudah
begitu saja dimasukkan ke dalam perumusan undang-undang.
Ciri-ciri aliran modern adalah sebagai berikut :
1.

Menolak definisi hukum dari kejahatan

2.

Pidana harus sesuai dengan pelaku tindak pidana

3.

Doktrin determinisme

4.

Penghapusan pidana mati

5.

Riset empiris; dan

6.

Pidana yang tidak ditentukan secara pasti.

Marc Ancel mempelopori gerakan perlindungan masyarakat baru (new social defence)
yang bertujuan mengintegrasikan ide-ide atau konsepsi perlindungan masyarakat ke
dalam konsepsi baru hukum pidana. Tokoh-tokoh lain yang merupakan pelopor aliran
modern adalah Cesare Lambroso, Enrico Ferri dan Raffaele Garofalo. Lambroso
menganjurkan bahwa pidana tidak ditetapkan secara pasti oleh pengadilan (the
indeterminate sentence), pidana mati merupakan seleksi terakhir yang bilamana
penjara pembuangan dan kerja keras, penjahat tetap mengulangi kejahatan yang
mengancam masyarakat dan korban kejahatan harus diberi kompensasi atas kerugian
yang diakibatkan oleh penjahat dan ia memberi tekanan yang besar pada pencegahan
kejahatan. Gorofalo mengusulkan konsep kejahatan natural (natural crime) yang
merupakan pengertian paling jelas untuk menggambarkan perbuatan-perbuatan yang
oleh masyarakat beradab diakui sebagai kejahatan dan ditekan melalui sarana berupa
pidana. Ferri menyatakan bahwa seseorang memiliki kecenderungan bawaan menuju
kejahatan tetapi bilamana ia mempunyai lingkungan yang baik maka ia akan hidup

terus tanpa melanggar pidana ataupun hukum moral, kejahatan terutama dihasilkan
oleh tipe masyarakat darimana kejahatan itu datang, oleh karena itu pembuat undangundang harus selalu memperhitungkan faktor-faktor ekonomi, moral, administrasi dan
politik di dalam tugasnya sehari-hari, dan kejahatan hanya dapat diatasi dengan
mengadakan perubahan-perubahan di masyarakat.
1.

Aliran neo klasik (sosiologis)

Aliran ini muncul pada abad ke-19 mempunyai basis yang sama dengan aliran klasik,
yakni kepercayaan pada kebebasan berkehendak manusia. Aliran ini beranggapan
bahwa pidana yang dihasilkan oleh aliran klasik terlalu berat dan merusak semangat
kemanusiaan yang berkembang pada saat itu. Perbaikan dalam aliran neo klasik ini
didasarkan pada beberapa kebijakan peradilan dengan merumuskan pidana minimum
dan maksimum dan mengakui asas-asas tentang keadaan yang meringankan (principle
of extenuating circumtances). Perbaikan selanjutnya adalah banyak kebijakan peradilan
yang berdasarkan keadaaan-keadaan obyektif. Aliran ini mulai mempertimbangkan
kebutuhan adanya pembinaan individual dari pelaku tindak pidana.
Karakteristik aliran neo klasik adalah sebagai berikut :
1.

Modifikasi dari doktrin kebebasan berkehendak, yang dapat dipengaruhi oleh patologi,
ketidakmampuan, penyakit jiwa dan keadaan-keadaan lain;

2.

Diterima berlakunya keadaan-keadaan yang meringankan;

3.

Modifikasi dari doktrin pertanggungjawaban untuk mengadakan peringatan pemidanaan,


dengan kemungkinan adanya pertanggungjawaban sebagian di dalam kasus-kasus tertentu,
seperti penyakit jiwa usia dan keadaan-keadaan lain yang dapat mempengaruhi
pengetahuan dan kehendak seseorang pada saat terjadinya kejahatan; dan;

4.

Masuknya kesaksian ahli di dalam acara peradilan guna menentukan derajat


pertanggungjawaban.

Determinisme dan Indeterminisme

Dualisme istilah ini berkisar pada pesoalan, apakah seorang manusia pada hakikatnya
adalah bebas dari pengaruh (indeterminisme) atau justru selalu terpengaruh oleh kekuatan
dari luar (determinisme)

Kata determiner dalam bahasa Prancis bahkan berarti menentukan

Determinisme adalah bahwa kekuatan menentukan dari luar itu adalah termasuk tabiat
atau watak dari seorang dan alasan yg mendorong orang itu untuk pada akhirnya
mempunyai kehendak tertentu itu, dan kekuatan2 ini didorong pula oleh keadaan dalam
masyarakat tempat orang itu hidup. Jadi kehendak melakukan perbuatan pidana menurut
determinisme dikarenakan kehendak itu selalu ditentukan oleh kekuatan itu.

Sedangkan indeterminisme seseorang melakukan suatu kejahatan, menurut faham


indeterminisme dianggap mempunyai kehendak untuk itu, mungkin tanpa dipengaruhi
kekuatan2 luar tersebut diatas.

E. Sejarah Hukum Pidana Indonesia


De Nederlander, die over zeen en oceanen baan koos naar de koloniale gebieden, nam
zijn eigenrecht mee(orang-orang Belanda yang berada diseberang lautan dan
samudera luas memiliki jalan untuk menetap di tanah-tanah jajahannya membawa
hukumannya sendiri untuk berlaku baginya).
Demikian kalimat pertama yang dikatakan oleh Prof. Mr. J.E Jonkers dalam buku
karangannya Het Nederlandch-Indiche Strafstelsel yang diterbitkan pada tahun 1940
Maka, pada zaman penjajahan Belanda di Indonesia sejak semula terdapat dualisme
dalam perundang-undangan. Ada peraturan-peraturan hukum tersendiri untuk orangorang Belanda dan orang-orang Eropa lainnya yang merupakan jiplakan apa adanya
dari hukum yang berlaku di Belanda dan ada peraturan-peraturan hukum tersendiri
untuk orang-orang Indonesia dan orang-orang Timur Asing (Cina, Arab, dan
India/Pakiskan).
Dualisme ini mula-mula juga ada dalam hukum pidana. Untuk orang-orang Eropa,
berlaku suatu kitab undang-undang hukum pidana tersendiri, trmuat dalam Firman raja
Belanda tanggal 10 Februari 1866 No. 54 (staatblad 1866 No. 55) yang mulai berlaku
pada tanggal 1 januari 1867. Sedangkan untuk orang-orang Indonesia dan orang-orang
Timur Asing berlaku suatu kitab undang-undang hukum pidana tersendiri termuat dalam
Ordonantie tanggal 6 Mei 1872 (staatblad 1872 No. 85 yang mulai berlaku tanggal 1
Januari 1873.

Seperti pada waktu itu di Belanda, kedua kitab undnag-undang hukum pidana di
Indonesia ini adalah jiplakan dari Code Penal dari Prancis yang oleh Kaisar Napoleon
dinyatakan berlaku di Belanda ketika negara itu ditaklukan oleh napoleon pada
permulaan abad 19.
Pada tahun 1881 di Belanda dibentuk dan mulai berlaku pad atahun 1886 suatu kitab
undang-undang hukum pidana baru yang bersifat nasional dan yang sebagian besar
mencontoh kitab undang-undang hukum pidana di Jerman.
Sikap semacam ini bagi Indonesia baru diturut denagan dibentuknya kitab undangundang hukum pidana baru (Wetboek van Strafrecht voor Nederlandsch-Indie) dengan
Firman raja Belanda tanggal 15 Oktober 1915, mulai berlaku 1 Januari 1918, yang
sekaligus menggantikan kedua kitab undang-undang hukum pidana tersebut yang
diberlakukan bagi semua penduduk di Indonesia.
Dengan demikian, diakhiri dualisme dari hukum pidana di Indonesia, mula-mula hanya
untuk daerah-daerah yang langsung dikuasai oleh pemerintah Hindia Belanda,
kemudian untuk seleuruh Indonesia.
KUHP ini ketika mulai berlakunya disertai oleh invoeringsverordening berupa Firman
raja Belanda tanggal 4 Mei 1917 (Staatblad 1917 No. 497) yang mengatur secara
terinci peralihan dari hukum pidana lama kepada hukum pidana baru.
Tidak kurang dari 277 undang-undang yang memuat peraturan hukum pidana di laur
kedua kitab undnag-undang hukum pidana, ditetapkan satu peratu, sampai dimana
peraturan-peraturan itu dipertahankan, dihapuskan atau diubah.
Keadaan hukum pidana ini dilanjutkan pada zaman pendudukan Jepang dan pada
permulaan kemerdekaan Indonesia, berdasar dari aturan-aturan peralihan, baik dari
pemerintah Jepang maupun dari Undang-undang Dasar RI 1945 pasal II dari aturan
peralihan yang bebrunyi :
Segala badan negara dan peraturan yang ada masih langsung berlaku, selama belum
diadakan yang baru menurut Undnag-Undang Dasar ini.

Dengan Undang-undang Nomor 1 tahun 1946 tanggal 26 Februari 1946, termuat dalam
Berita Republik Indonesia II Nomor 9 diadakan penegasan tentang hukum pidana yang
berlaku di Republik Indonesia., disebutkan :
Dengan menyimpang seperlunya dari peraturan Presiden Republik Indonesia
tertanggal 10 Oktober 1945 Nomor 2.
Peraturan tersebut mengandung dua pasal berikut :

Pasal 1 : Segala badang negara dan peraturan-peraturan yang ada sampai berdirinya
negara Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, slama belum diadakan yang baru
menurut UUD, masih berlaku, asal saja tidak bertentangan dengan UU tersebut.

Pasal 2 : Peraturan ini mulai berlaku tanggal 17 Agustus 1945.

Isi peraturan ini hampir sama dengan pasal II Aturan Peralihan UUD 1945 tersbeut
diatas. Perbedaannya adalah bahwa kini disebutkan tanggal 17 Agustus 1945 sebagai
tanggal pembatasan dan bahwa ditentukan peraturan-peraturan yang dulu itu dianggap
tidak berlakuapabila bertentangan dengan UUD.
Ketentuan yang terakhir ini sering dilupakan oleh mereka yang cenderung menganggap
semua peraturan dari zaman penjajahan Belanda yang tidak secara tegas dicabut atau
diganti tetap berlaku tanpa kekecualiaan. Padahal diantara peraturan-peraturan itu ada
beberapa yang jelas hanya layak dalam hubungan-hubungan kolonial.
Penyimpangan dari Peraturan Presiden 10 Oktober Nomor 2 oleh UU No. 1 tahun 1946
adalah apa yang ditentukan dalam pasal I bahwa peraturan-peraturan hukum pidana
yang sekrang (26 Februari 1946) berlaku adalah peraturan-peraturan hukum pidana
yang ada pada tanggal 8 Maret 1942, saat pemerintah Hindia Belanda menyerah
kepada Balatentara Jepang yang berganti berkuasa di Indonesia sampai dengan
tanggal 17 Agustus 1945.
Dengan demikian, ditegaskan pertama-tama bahwa semua peraturan hukum pidana
yang dikeluarkan oleh pemerintah Jepang dianggap tidak berlaku lagi
Ini memang merupakan penyimpangan dari Peraturan Presiden No. 10 Oktober 1945
Nomr 2 yang menurut peraturan tersebut, semua peraturan yang ada pada tangal 17
Agustus 1945 tetap berlaku selama belum diganti dengan yang baru. Sedangkan

setahu saya, pada tanggal 26 Februari 1946 belum ada undang-undang Republik
Indonesia yang memuat peraturan hukum pidana.
Pasal II Undang-undang Nomor 1 tahun 1946 mencabut semua peraturan hukum
pidana yang dikeluarkan oleh Panglima tertinggi balatentara Hindia Belanda dulu
(Verordeningen van het Militair Gezag).
Beberapa waktu sebelum 8 maret 1942 wilayah Hindia Belanda dinyatakan dalam
keadaan perang (staat van oorlog en beleg alias SOB) dan penguasa militer HindiaBelanda secara sah mengeluarkan agak banyak peraturan hukum pidana oleh Undangundang Nomor 1 tahun 1946 semuanya dicabut. Jadi, yang tertinggal adalah peraturanperaturan hukum pidana sebelum 8 Maret 1942 yang dikeluarkan oleh Pemerintah Sipil
Hindia-Belanda.
Selanjutnya oleh Undang-undang Nomor 1 tahun 1946 ditentukan sebagai berikut :

Pasal III : Jikalau dalam sesuatu peraturan hukum pidana ditulis perkataan
Nederlandsch-Indie atau Nederlandch-Indich (e) (en)2, maka perkataan-perkataan itu
harus dibaca Indonesie atau Indonesisch (e) (en) 2.

Pasal IV : Jikalau dalam ssuatu peraturan hukum pidana suatu hak, kewajiban
kekuasaan atau perlindungan diberikan atas suatu larangan ditujukan kepada suatu
pegawai, badan, jawatan dan sebagainya, yang sekarang tidak ada lagi maka hak,
kewajiban, kekuasaan atau perlindungan itu harus dianggap diberikan dan larangan tersebut
ditujukan kepada pegawai, badan, jawatan dan sebagainya, yang harus dianggap
menggantinya.

Pasal V : Peraturan hukum pidana, yang seluruhnya atau sebagian sekarang tidak dapat
dijalankan atau betentangan dengan kedudukan Republik Indonesia sebagai negara
merdeka atau tidak mempunyai arti lagi, harus dianggap seluruhnya atau sebagian
sementara tidak berlaku.

Pasal VI :

(1)
Nama undang-undang hukum pidana Wetboek van Strafrecht voor
Nederlandch-Indie diubah menjadi Wetboek van Strarecht.
(2)

Undang-undang tersebut dapat disebut Kitab Undang-undang Hukum Pidana

Pasal VII : Dengan tidak mengurangi apa yang ditetapkan dalam Pasal III, maka semua
perkataan Nederlandch onderdaan dalam Kitab Undnag-undang Hukum Pidana diganti
dengan warga negara Indonesia.

Pasal VIII : Beberapa paal dari Kitab Undang-undang Hukum Pidana diubah atau
dicabut.

Pasal-pasal IX s.d XVI memuat beberapa tindak pidana baru yaitu pasal IX s/d XIII
mengenai alat pembayaran yangs ah berupa mata uang atau uang kertas, pasal XIV
mengenai penyiaran kabar bohong yang denagan itu sengaja diterbitkan keonaran di
kalangan rakyat, pasal XV mengenai penyiaran kabar yang tidak pasti atau kabar yang
berlebihan atau yang tidak lengkap, pasal XVI mengenai penghinaan terhadap bendera
kebangsaan Indonesia.

Pada akhirnya ditetapkan bahwa undnag-undang ini mulai berlaku untuk pulau Jawa
dan Madura pada hari diumumkannya (26 Februari 1946) dan untuk daerah lain pada
hari yang akan diteapkan oleh presiden.
Dengan Peraturan Pemerintah Nomor 8 tahun 1946 tanggal 8 Agustus 1946 (Berita
Republik Indonesia II 20-21 halaman 234) undang-undang ini untuk Sumatera
ditetapkan berlaku mulai tanggal 8 Agustus 1946.
Pada waktu itu, Pemerintah Hindia-Belanda yang menamakan dirinya pemeritah
federal, sudah ada di Jakarta dan menguasai beberapa daerah baik di jawa, Madura
dan Sumatera maupun diluar daerah-daerah itu dan mengeluarkan beberpa undangundang yang mengubah beberapa pasal dari KUHP yang tentunya hanya berlaku bagi
daerah-daerah yang didudukinya sehingga ada dua KUHP.
Keadaan ini tetap berlangsung juga setelah pada 27 Desember 1949 kedaulatan
Republik Indonesia Serikat diakui oleh pemerintah Belanda. Baru pada tanggal 29
September 1958 melalui Undang-undang No. 73 tahun 1958 yang berjudul undangundang tentang menyatakan berlakunya Undang-undang Nomor 1 tahun 1946 Republik
Indonesia tenatang peraturan hukum pidana untuk seluruh wilayah Republik Indonesia
dan mengubah Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Dengan demikian pada saat itu
jelas berlaku satu hukum pidana untuk seluruh wilayah RI dengan Kitan Undangundang Hukum Pidana atau KUHP sebagai intinya.

F. Pembagian Hukum Pidana


1.

Hukum pidana dalam arti objektif dan dalam arti subjektif

Hukum pidana objektif (ius poenale) adalah hukum pidana yang dilihat dari aspek
larangan-larangan berbuat, yaitu larangan yang disertai dengan ancaman pidana bagi
siapa yang melanggar larangan tersebut. Jadi hukum pidna objektif memili arti yang
sama dengan hukum pidana materiil. Sebagaimana dirumuskan oleh Hazewinkel
Suringa, ius poenali adalah sejumlah peraturan hukum yang mengandunbg larangan
dan perintah dan keharusan yang terhadap pelanggarannya diancam dengan pidana
bagi si pelanggarnya. Sementara hukum pidana subjektif (ius poeniendi) sebagai aspek
subjektifnya hukum pidana, merupakan aturan yang berisi atau mengenai hak atau
kewenangan negara :
1.

Untuk menentukan larangan-larangan dalam upaya mencapai ketertiban umum.

2.

Untuk memberlakukan (sifat memaksanya) hukum pidana yang wujudnya denagan


menjatuhkan pidana kepada si pelanggar larangan tersebut, serta

3.

Untuk menjalankan sanksi pidana yang telah dijatuhkan oleh negara pada si pelanggar
hukum pidana tadi.

Jadi dari segi subjektif negara memiliki dan memegang tiga kekuasaan/hak
fundamental yakni :
1.

Hak untuk menentukan perbuatan-perbuatan mana yang dilarang dan menentukan


bentuk serta berat ringannya ancaman pidana (sanksi pidana) bagi pelanggarnya.

2.

Hak untuk menjalankan hukum pidana dengan menuntut dan menjatuhkan pidana pada
si pelanggar aturan hukum pidana yang telah dibentuk tadi, dan

3.

Hak

untuk

menjalankan

sanksi

pidana

yang

telah

dijatuhkan

pada

pembuatnya/petindaknya.

Walaupun negara mempunyai kewenangan/kekuasaan diatas namun tetap dibatasi jika


tidak maka negara akan melakukan kesewenangan-wenangan sehingga menimbulkan
ketidakadilan, ketidaktentraman dan ketidaktenangan warga diantara negara.
Pembatasan tersebut melalui koridor-koridor hukum yang ditetap dalam hukum pidana

materiil dan hukum pidana formil. Misalnya dalam hukum pidana materil pasal 362
KUHP tentang larangan perbuatan mengambil benda milik orang lain dengan maksud
memiliki benda itu secara melawan hukum (disebut pencurian) yang diancam dengan
pidana penjara paling lama 5 tahun atau denda maksimum Rp. 900.000. Terhadap si
pelanggar larangan ini, hak negara dibatasi tidak boleh menjatuhkan pidana :
1.

Selain pidana penjara dan denda

2.

Jika penjara tidak boleh melebihi 5 tahun, dan jika denda tidak diperkenankan diatas Rp.
900.000.

Juga dibatasi oleh hukum formil artinya tindakan-tindakan nyata negara sebelum, pada
saat dan setelah menjatuhkan pidana serta menjalankannya itu diatur dan ditentukan
secara rinci dan cermat, yang pada garis besarnya berupa tindakan penyelidikan,
penyidikan, penuntutan, persidangan dengan pembuktian dan pemutusan (vonis) dan
barulah vonis dijalankan (eksekusi). Perlakuan-perlakuan negara terhadap
pesakitan/pelaku pelanggaran harus menurut aturan yang sudah ditetapkan dalam
hukum pidan formil.
2. Hukum Pidana Materil dan Hukum Pidana Formil
Tentang hukum pidana materil dan hukum pidana formil akan dijelaskan menurut
pendapat ahli dibawah ini :
1.

van HAMEL memberikan perbedaan antara hukum pidana materil dengan hukum pidana
formil. Hukum pidana materil itu menunjukkan asas-asas dan peraturan-peraturan yang
mengaitkan pelanggaran hukum itu dengan hukuman. Sedangkan hukum pidana formil
menunjukkan bentuk-bentuk dan jangka-jangka waktu yang mengikat pemberlakuan hukum
pidana materil.

2.

van HATTUM, hukum pidana materil adalah semua ketentuan dan peraturan yang
menujukkan tentang tindakan-tindakan yang mana adalah merupakan tindakan-tindakan
yang dapat dihukum, siapakah orangnya yang dapat dipertanggungjawabkan terhadap
tindakan-tindakan tersebut dan hukuman yang bagaimana yang dapat dijatuhkan terhadap
orang tersebut (hukum pidana materil kadang disebut juga hukum pidana abstrak).
Sedangkan hukum pidana formil memuat peraturan-peraturan yang mengatur tentang

bagaimana caranya hukum pidana yang bersifat abstrak itu harus diberlakukan secara
nyata. Biasanya orang menyebut hukum pidana formil adalah hukum acara pidana.
3.

SIMONS, hukum pidana materil itu memuat ketentuan-ketentuan dan rumusan-rumusan


dari tindak pidana, peraturan-peraturan mengenai syarat tentang bilamana seseorang itu
menjadi dapat dihukum, penunjukkan dari orang-orang yang dapat dihukum dan ketentuanketentuan mengenai hukuman-hukumannya sendiri; jadi ia menentukan tentang bilamana
seseorang itu dapat dihukum, siapa yang dapat dihukum dan bilamana hukuman tersebut
dapat dijatuhkan.

3. Hukum Pidana Umum dan Hukum Pidana Khusus


Hukum pidana umum adalah hukum pidana yang ditujukan dan berlaku untuk semua
warga negara (subjek hukum) dan tidak membeda-bedakan kualitas pribadi subjek
hukum tertentu. Setiap warga negara harus tunduk dan patuh terhadap hukum pidana
umum.
Hukum pidana khusus adalah hukum pidana yang dibentuk oleh negara yang hanya
dikhususkan berlaku bagi subjek hukum tertentu saja. Misalnya hukum pidana yang
dimuat dalam BAB XXVIII buku II KUHP tentang kejahatan jabatan yang hanya
diperuntukkan dan berlaku bagi orang-orang warga. penduduk negara yang berkualitas
sebagai pegawai negeri saja atau hukum pidana yang termuat dalam Kitab UU Hukum
Pidana Tentara (KUHPT) yang hanya berlaku bagi subjek hukum anggota TNI saja.
Jika ditinjau dari dasar wilayah berlakunya hukum, maka dapat dibedakan antara
hukum pidana umum dan hukum pidana lokal. Hukum pidana umum adalah hukum
pidana yang dibentuk oleh pemerintahan negara pusat yang berlaku bagi subjek hukum
yang berada dan berbuat melanggar larangan hukum pidana di seluruh wilayah hukum
negara. Contohnya adalah hukum pidana yang dimuat dalam KUHP, berlaku untuk
seluruh wilayah hukum negara RI (asas toritorialitet, pasal 2 KUHP). Sedangkan hukum
pidana lokal adalah hukum pidana yang dibuat oleh pemerintah daerah yang berlaku
bagi subjek hukum yang melakukan perbuatan yang dilarang oleh hukum pidana di
dalam wilayah hukum pemerintahah daerah tersebut. Hukum pidana lokal dapat
dijumpai did alam PERDA, baik di tingkat propinsi, kabupaten maupun pemerintahan
kota.

Menurut PAF. LAMINTANG, penjatuhan-penjatuhan hukum seperti tlah diancamkan


terhadap setiap pelanggar dan peraturan-peraturan daerah itu secara mutlak harus
dilakukan oleh pengadilan. Dengan demikian, maka masalah terbukti atau tidaknya
sseorang yang telah dituduh melakukan suatu pelanggaran terhadap peraturan daerah,
pengadilanlah satu-satunya lembaga yang berwenang untuk memutuskannya. Dengan
pula mengenai hukuman yang bagaimana yang akan dijatuhkan kepada si pelanggar
dan mengenai akibat-akibat hukum lainnya seperti dirampasnya barang-barang bukti
untuk keuntungan negara, dikembalikannya barang-barang bukti kepaa terhukum dan
lain-lainnya, hanya pengadilanlah yang berwenang untuk memutuskannya. Tidak
seorangpun termasuk pemerintah-pemerintah daerah dan alat-alat kekuasaannya boleh
menahan, memeriksa orang yang dituduh telah melakukan suatu pelanggaran terhadap
barang-barangnya tanpa mengajukan mereka ke pengadilan untuk diadili. Dalam
melakukan penahanan, pemeriksaan, dan penyitaan-penyitaan, pemerintah-pemerintah
daerah berikut aalat kekuasaannya, terikat pada ketentuan-ketentuan seperti yang telah
diatur di dalam UU No. 8 tahun 1981 tentang hukum acara pidana. Setiap tindakan
yang diambil oleh alat-alat negara dengan maksud menghukum seseorang yang telah
dituduh melakukan suatu pelanggaran terhadap peraturan-peraturan daerah atau
terhadap ketentuan-ketentuan pidana menurut UU tanpa bantuan dari pengadilan, pada
hakikatnya merupakan suatu perbuatan main hakim sendiri (eigenrichting) yang
dilarang oleh hukum. Sebagaimana diungkapkan oleh HAZEWINKEL SURINGA : di
dalam hukum pidana baik negara maupun badan yang bersifat hukum publik yang lebih
rendah lainya, tidak berwenang main ahakim sendiri. Maka dapat dikatakan telah
terjadi perbuatan melanggar hukum (onrechtmatige daad) dan jika dilakukan oleh
penguasa disebut onrechtmatige overheidsdaad (perbuatan melanggar hukum oleh
penguasa).
4. Hukum Pidana Tertulis dan Hukum Pidana Tidak Tertulis
Hukum pidana tertulis adalah hukum pidana undang-undang, yang bersumber dari
hukum yang terkodifikasi yaitu Kitab Undang-udang Hukum Pidana (KUHP) dan Kitab
Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) dan bersumber dari hukum yang diluar
kodifikasi yang tersebar dipelbagai peraturan perundang-undangan.
Hukum pidana yang berlaku dan dijalankan oleh negara adalah hukum tertulis saja,
karena dalam hal berlakunya hukum pidana tunduk pada asas legalitas sebagaimana
tertuang dalam Pasal 1 (1) KUHP berbunyi tiada suatu perbuatan yang dapat dipidana

kecuali berdasarkan kekuatan ketentuan perundang-undangan pidana yang telah ada


sebelum perbuatan itu dilakukan.
Sementara itu hukum pidana tidak tertulis tidak dapat dijalankan. Namun demikian ada
satu daar hukum yang dapat memberi kemungkinan untuk memberlakukan hukum
pidana adat (tidak tertulis) dalam arti yang sangat terbatas berdasarkan Pasal 5 (3b)
UU No. 1/Drt/1951.
5. Hukum Pidana Yang DiKodifikasikan dan Tidak Dikodifikasikan
Hukum pidana yang dikodifikasikan (codificatie, belanda) adalah hukum pidana tersebut
telah disusun secara sistematis dan lengkap dalam kitab undang-undang, misalnya
Kitab undang-undang Hukum Pidana (KUHP), Kitab Undang-undang Hukum Acara
Pidana (KUHAP dan Kitab Undang-undang Hukum Pidana Militer (KUHPM).
Sedangkan yang termasuk dalam hukum pidana tidak terkodifikasi adalah peraturanperaturan pidana yang terdapat di dalam undang-undang atau peraturan-peraturan
yang bersifat khusus (van HATTUM)
G. PENAFSIRAN UNDANG-UNDANG PIDANA
1. Pentingnya Penafsiran undnag-undang Pidana
Dalam
hal
berlakunya
hukum
pidana
tidak
penafsiran (interpretatie) karena ha-hal sebagai berikut :
1.

dapat

dihindari

adanya

Hukum tertulis tidak dapat dengan segera mengikuti arus perkembangan masyarakat.
Dengan berkembangnya masyarakat berarti berubahnya hal-hal yang dianutnya, dan nilainilai ini dapat mengukur segala sesuatu, misalnya tentang rasa keadilan masyarakat. Hukum
tertulis bersifat kaku, tidak dengan mudah mengikuti perkembangan dan kemajuan
masyarkat. Oleh karena itu, hukum selalu ketinggalan. Untuk mengkuti perkembangan itu
acap kali praktik hukum menggunakan suatu penafsiran.

2.

Ketika hukum tertulis dibentuk, terdapat ssuatu hal yang tidak diatur karena tidak
menjadi perhatian pembentuk undang-undang. Namun setelah undang-undang dibentuk dan
dijalanka, barulah muncul persoalan mengenai hal-hal yang tidak diatur tadi. Untuk
memenuhi kebutuhan hukum dan mengisi kekosongan norma semacam ini, dalam keadaan
yang mendeak dapat menggunakan suatu penafsiran.

3.

Keterangan yang menjelaskan arti beberapa istilah atau kata dalam undnag-undang itu
sendiri (Bab IX Buku I KUHP) tidak mungkin memuat seluruh istilah atau kata-kata penting
dalam pasal-pasal perundang-undangan pidana, mengingat begitu banyaknya rumusan
ketentuan hukum pidana. Pembentuk undang-undnag memberikan penjelasan hanyalah
pada istilah atau unsur yang benar-benar ketika undnag-undang dibentuk dianggap sangat
penting, ssuai dengan maksud dari dibentuknya norma tertentu yang dirumuskan. Dalam
banyak hal, pembentuk undnag-undang menyerahkan pada perkembangan praktik melalui
penafsiran-penafsiran hakim. Oleha karena itu, salahy satu pekerjaan hakim dalam
menerapkan hukum ialah melakukan penafsiran hukum.

4.

Acap kali suatu norma dirumuskan secara singkat dan besifat sangat umum sehingga
menjadi kurang jelas maksud dan artinya. Oleh karena itu, dalam menerapkan norma tadi
akan menemukan kesulitan. Untuk mengatasi kesulitan itu dilakuakn jalan menafsirkan.
Dalam hal ini hakim bertugas untuk menemukan pikiran-pikiran apa yang sebenarnya yang
terkandung dalam norma tertulis. Contohnya dalam rumusan Pasal 1 (2) KUHP perihal unsur
aturan yang paling menguntungkan terdakwa mengandung ketidakjelasan arti dan maksud
dari aturan yang paling menguntungkan. Hal tersebut dapat menimbulkan bermacam
pendapat hukum dari kalangan ahli hukum. Timbulnya beragam pendapat seperti ini karena
adanya penafsiran.

Bedasarkan hal diatas sangatlah jelas bahwa perkembangan masyarakat dimana


kebutuhan hukum dan rasa keadilan juga berubah sesuai denagan nilai-nilai yang
dianut dalam masyarakat, maka untuk memenuhi tuntutan rasa keadilan masyarakat
sesuai dengan nilai-nilai yang berkembang dan dianut masyarakat tersbeut, dalam
praktik penerapan hukum diperlukan penafsiran.
Untuk (KUHP) tidak memberikan petunjuk tentang bagaimana cara hakim untuk
melakukan penafsiran. Cara-cara penafsiran ada dalam doktrin hukum pidana. Untuk
melakukan penafsiran, cara yang akan digunakan diserahkan pada praktik hukum.
Hanya saja terhadap suatu cara penafsiran telah terjadi perbedaan pendapat yaitu
terhadap penggunaan penafsiran analogi, dimana ada sebagian pakar hukum yang
keberatan berkaiatan dengan masalah asas legalitas tentang berlakunya hukum pidana
sebagaimana dirumuskan dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP.
2. Macam-Macam Penafsiran Dalam Hukum Pidana
a. Penafsiran Autentik

Penafsiran autentik (resmi) Penafsiran sahih (autentik, resmi) ialah penafsiran yang
pasti terhadap arti kata-kata itu sebagaimana yang diberikan oleh pembentuk UU, atau
penafsiran ini sudah ada dalam penjelasan pasal demi pasal, misalnya Pasal 98 KUHP
: arti waktu malam berarti waktu antara matahari terbenam dan matahari terbit; Pasal
101 KUHP: ternak berarti hewan yang berkuku satu, hewan memamah biak dan babi
(periksa KUHP Buku I Titel IX).
Contoh lainnya dalam penjelasan atas pasal 12 B ayat (1) UU No 20 tahun 2001,
menjelaskan yang dimaksud dengan gratifikasi dalam ayat ini adalah pemberian dalam
arti luas, yakni meliputi pemberian uang, barang, rabat (discount), komisi, pinjaman
tanpa bunga, tiket perjalanan, fasiltas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan
cuma-Cuma dan fasiltas lainnya. Gratifikasi tersebut baik yang diterima di dalam negeri
maupun luar negeri dan yang dilakukan dengan menggunakan sarana elektronik atau
sarana tanpa elektronik.
Dikatakan penafsiran otentik karena tertulis secara esmi dalam undnag-undang artinya
berasal dari pembentuk UU itu sendiri, bukan dari sudut pelaksana hukum yakni hakim.
Dalam penafsiran bermakna hakim kebebasannya dibatasi. Hakim tidak boleh
memberikan arti diluar dari pengertian autentik. Sedangkan diluar KUHP penafsiran
resmi dapat dilihat dari ketentuan-ketentuan umum dan penejelasan pasal demi pasal.
b. Penafsiran tata bahasa (gramaticale interpretatie), disebut juga penafisran menurut
atau atas dasar bahasa sehari-hari yang digunakan oleh masyarakat yang
bersangkutan. Bekerjanya penafsiran ini ialah dalam hal untuk mencari pengertian yang
sebenarnya dari suatu rumusan norma/unsurnya, dengan cara mencari pengertian yang
sebenarnya menurut bahasa sehar-hari yang digunakan masyarakat yang
bersangkutan. Sebagai contoh dapat dikemukakan hal yang berikut : Suatu peraturan
perundangan melarang orang memparkir kenderaannya pada suatu tempat tertentu.
Peraturan tersebut tidak menjelaskan apakah yang dimaksudkan dengan istilah
kendaraan itu.
Orang lalu bertanya-tanya, apakah yang dimaksudkan dengan perkataan kenderaan
itu, hanyalah kenderaan bermotorkah ataukah termasuk juga sepeda dan bendi.
Contoh lain kata dipercayakan sebagaimana dirumuskan dalam dalam pasal 432
KUHP secara gramatikal diartikan dengan diserahkan, kata meninggalkan dalam
pasal 305 KUHP diartikan secara gramatikal dengan menelantarkan.

Contoh lain adalah kasus melalui putusan Pengadilan Tinggi Meda tanggal 8-8-1983
No. 144/Pid/PT Mdn telah memberikan arti bonda (bahasa Batak) dari unsur
benda (goed) dalam penipuan adalah juga temasuk alat kelamin wanita. Perhatikanlah
petimbangan Pengadilan Tinggi Medan mengenai hal ini sebagai berikut , bahwa
walaupun belebihan, khusus dan teutama dalam perkara ini tentang istilah barang,
dalam bahasa daeah tedakwa dan saksi (Tapanuli) dikenal istilah bonda yang tidak
lain daripada barang, yang diatikan kemaluan sehingga bilsa saksi K.br.S menyeahkan
kehormatannya kepada terdakwa samalah dengan menyeahkan benda/barang.
Tentu pendapat Pengadilan Tinggi Medan ini masihd apat diperdebatkan. Pertimbangan
Pengadilan tinggi Medan seperti disini bukan ditujukan pada tepat atau tidak tepatnya
pendapat itu, melainkan sekadar memberi contoh bahwa disini hakim telah berusaha
untuk mencapai keadilan dengan menggunakan penafsian tata bahasa menurut bahasa
yang digunakan oleh masyarakat yang besangkutan walaupun diakui oleh hakim yang
besangkutan sebagai pertimbangan yang berlebihan.
c. Penafsiran historis (historiche interpretatie) yaitu :
1)
Sejarah hukumnya, yang diselidiki maksudnya berdasarkan sejarah terjadinya
hukum tersebut. Sejarah terjadinya hukum dapat diselidiki dari memori penjelasan,
laporan-laporan perdebatan dalam DPR dan surat menyurat antara Menteri dengan
Komisi DPR yang bersangkutan, misalnya rancangan UU, memori tanggapan
pemerintah, notulen rapa/sidang, pandangan-pandangan umum, dll
2)
Sejarah undang-undangnya, yang diselidiki maksud pembentuk UU pada waktu
membuat UU itu, misalnya denda f 25.-, sekarang ditafsirkan dengan uang Republik
Indonesia sebab harga barang lebih mendekati pada waktu KUHP
1.

Penafsiran

sistematis/dogmatis (systematische

interpretatie),

penafsiran

menilik

susunan yang berhubungan dengan bunyi pasal-pasal lainnya baik dalam UU itu maupun
dengan UU yang lainnya misalnya ketentuan paling menguntungkan dalam rumusan ayat 2
dari Pasal 1 KUHP apabila dihubungkan dengan rumusan ayat 1 pasal 1 KUHP yang
merumuskan suatu perbuatan dapat dipidana keculai bedasarkan kekuatan ketentuan
peundang-undangan pidana yang telah ada, pengetiannya adalah suatu ketentuan tentang
tidak dapat dipidanya perbuatan. Artinya semula perbuatan tetentu dipidana, kemudian
menurut ketentuan yang baru menjadi tidak dapat dipidana. Misalnya sebulan yang lalu A
melakukan perbuatan pidana yang dapat dihukum, kemudian hari ini muncul UU yang

mengatur perbuatan poidana tesebut tidak dapat dihukum. Dengan demikian yang
dibelakukan adalah UU pidana bau yang menguntungkan.

Contoh lain, misalnya pengertian perbuatan menggugurkan kandungan, dalam Pasal


347 KUHP, yang artinya kandungan (vucht) atau yang janin dari perut ibu bahwa vrucht
yang dipaksa keluarkan itu harus dilakukan pada janin yang hidup, bukan janin yang
sudah mati. Mengapa demikian ? karena jika melihat pasal 347 itu dengan
menghubungkannya pada judul Bab XIX tentang kejahatan terhadap Nyawa (secaa
sistematis), dimana pasal 347 itu adalah bagian dari Bab IX itu, semua objek kejahatan
dalam Bab XIX adalah nyawa. Artinya, janin tadi haruslah benyawa dan tidak berlaku
bagi janin yang sudah tidak bernyawa atau telah mati. Janin yang hidup dalam peut ibu
yang mengandungnya dipandang sebagai satu kehidupan yang bediri sendiri yang lain
dari nyawa atau kehidupan ibu yang mengandungnya.
1.

Penafsiran Logis (Logische Interpretatie) adalah suatu macam penafsiran dengan cara
menyelidiki untuk mencari maksud sebenarnya dari dibentuknya suatu rumusan norma
dalam UU dengan menghubungkannya (mencari hubungannya) denagan rumusan norma
yang lain atau dengan undang-undang yang lain yang masih ada sangkut-pautnya dengan
rumusan norma tersebut (lihat pasal 55 KUHP).

2.

Penafsiran Teleologis (Teleologische Interpretatie)) yaitu penafsiran dengan mengingat


maksud dan tujuan UU itu. Ini penting disebabkan kebutuhan-kebutuhan berubah menurut
masa sedangkan bunyi UU tetap sama saja. Contoh pada saat masih ebrlakunya UU No.
11/PNPS/1963 tentang Pemberantasan Kegiatan Subversi (dicabut dengan UU No. 26 tahun
1999), di dalam menafsirkan rumusan yang ada dalam UU itu mengenai suatu kasus
tertentu, selalu didasarkan pada maksud dari pembentuk UU itu, yaitu untuk memberantas
setiap perbuatan atau upaya-upaya yang menggangu dan menggoyang kelangsungan dan
atau kestabilan kekuasaan pemerintahan negara ketika itu.

3.

Penafsiran Analogis, memberi tafsiran pada sesuatu peraturan hukum dengan memberi
ibarat (kiyas) pada kata-kata tersebut sesuai dengan asas hukumnya, sehingga sesuatu
peristiwa yang sebenarnya tidak dapat dimasukkan, lalu dianggap sesuai dengan bunyi
peraturan tersebut (ada rasio persamannya kejadian konkretnya terhadap noma-noma
tesebut), misalnya pasal 388 ayat (1) yang melarang oang melakukan pebuatan curang
pada waktu menyeahkan keperluan angkatan laut atau angkatan darat yang dapat
membahayakan keselamatan negaa dalam keadaan perang. Jadi tidak ada diatur keperluan

angkatan udara. Tetapi dengan menggunakan penafsirang analogis, maka jika terjadinya
menyerahkan pada angkatan udara maka pasal ini juga dapat dikenakan karena pada dasar
fungsi, peranan dan tugas angkatan laut dan darat juga sama dengan tugas angkatan udara
yaitu dalam usaha perlindungan keselamatan dan keamanan negara.

Walaupun banyak kalangan ahli hukum melarang menggunakan analogis karena


bertentangan dengan asas legalitas namun dalam praktek hukum terjadi juga analogi
misalnya (Arrest Hoge Raad tanggal 23 Mei 1921) yang menganalogikan
menyambung aliran listrik dianggap sama dengan mengambil aliran listrik sehingga
dapat dijeat pasal 362 KUHP.
1.

Penafsiran Esktensip, memberi tafsiran dengan memperluas arti kata-kata dalam


peraturan itu sehingga sesuatu peristiwa dapat dimasukkannya seperti aliran listrik
termasuk juga benda. Jadi, penafisran ekstensif didasarkan makna norma itu menurut
keadaan yang sekarang yang atinya ada perubahan makna dari sesuatu pengertian unsurunsur rumusan atau umusan suatu norma (hampir sama dengan analogi).

2.

Penafsiran a Contrario (menurut peringkaran) ialah suatu cara menafsirkan UU yang


didasarkan pada perlawanan pengertian antara soal yang dihadapi dan soal yang diatur
dalam suatu pasal UU. Dengan berdasarkan perlawanan pengertian (peringkaran) itu ditarik
kesimpulan, bahwa soal yang dihadapi itu tidak diliputi oleh pasal yang termaksud atau
dengan kata lain berada diluar pasal tersebut.

Penafsiran ini diterangkan oleh Satochid Kartanegara bahwa keadaan ini kita jumpai
apabila terdapat beberapa hal yang diatur dengan tegas oleh UU, tetapi disamping itu
tedapat pula hal-hal, yang sandaran maupun sifatnya sama, tidak diatur denagan tegas
oleh UU, sedang hal-hal ini tidak diliputi oleh UU yang mengatur hal-hal tegas ini (lihat
Pasal 285 KUHP).
Contoh Pasal 34 KUHPerdata menentukan bahwa seorang perempuan tidak
diperkenankan menikah lagi sebelum liwat 300 hari setelah perkawinannya terdahulu
diputuskan. Timbullah kini pertanyaan, bagaimanakah halnya dengan seorang lakilaki ? Apakah seorang laki-laki juga harus dan khusus ditujukan kepada orang
perempuan.
Maksudnya waktu menunggu dalam pasal 34 KUHPerdata ialah untuk mencegah
adanya keragu-raguan mengenal kedudukan sang anak, berhubung dengan

kemungkinan bahwa seorang perempuan sedang mengandung setelah perkawinannya


diputuskan. Jika dilahirkan anak setelah perkawinan yang berikutnya, maka menurut
UU anak itu adalah anaknya suaminya yang terdahulu (jika anak itu lahir sebelum liwat
300 hari setelah putusnya perkawinan teahulu). Ditetapkan waktu 300 hari ialah karena
waktu itu dianggap sebagai waktu kandungan yang paling lama.
Diatas telah dikemukakan beberapa metode penafsiran (interpretasi), yang mana yang
harus dipilih ?
Peraturan umum mengenai pertanyaan metode interpretasi yang mana, dalam peristiwa
konkrit yang mana, yang harus digunakan oleh hakim tidak ada. Pembentuk UU tidak
memberi prioritas kepada salah satu metode dalam menemukan hukum. Hakim hanya
akhirnya akan menjatuhkan pilihannya berdasarkan petimbangan metode manakah
yang paling meyakinkan dan yang hasilnya paling memuaskan. Pemilihan mengenai
metode interpretasi merupakan otonomi hakim dalam penemuan hukum. Motivasi
pemilihan metode interpretasi itu tidak pernah kita jumpai dalam yurisprudensi :
mengapa hakim memilih metode interpretasi yang ini dan bukan yang itu tidak pernah
disebut dalam yurisprudensi. Di dalam putusan-putusannnya hakim tidak pernah
menegaskan argumen atau alasan apakah yang menentukan untuk memilih metode
tertentu. Metode interpretasi itu sering digunakan bersama-sama atau campur aduk.
Dapatlah dikatakan bahwa dalam tiap interpretasi atau penjelasan UU terdapat unsur2
gramatikal, historis, sistematis dan teleologis.
BAB II
RUANG LINGKUP BERLAKUNYA HUKUM PIDANA

Hukum Pidana disusun dan dibentuk dengan maksud untuk diberlakukan dalam
masyarakat agar dapat dipertahankan segala kepentingan hukum yang dilindungi dan
terjaminnya kedamaian dan ketertiban.

Dalam hal diberlakukannya hukum pidana ini, dibatasi oleh hal yang sangat penting,
yaitu :

1.

Batas waktu (diatur dlm buku pertama, Bab I pasal 1 KUHP)

2.

Batas tempat dan orang (diatur dlm buku Pertama Bab I Pasal 2 9 KUHP)

A. BATAS BERLAKUNYA HUKUM PIDANA MENURUT WAKTU

Prinsip/asas legalitas telah diperjuangkan sejak abad XVIII di Eropa Barat sebagai
reaksi atas berlakunya hukum pidana zaman monarki absolut dengan menjalankan hukum
pidana secara sewenang-wenang, sekehendak dan menurut kebutuhan Raja sendiri.

Ahli hukum yang memperjuangkan dan memperkenalkan asas legalitas ini yang terkenal
adalah Montesquieu (1689-1755) dengan teori Trias Politicanya yang disempurnakan oleh
Von Feurbach (1755-1833).

Trias Politica :

1.

Kekuasaan legislatif atau membuat perundang-undangan yang dipegang leh parlemen.

2.

Kekuasaan eksekutif yang menjalankan pemerintahan yang dipegang oleh pemerintah


dan

3.

Kekuasaan yudikatif atau kehakiman, yakni badan yang menjalankan hukum yang telah
dibuat oleh parlemen. Badan kehakiman ini tidak bertugas menentukan tentang perbuatan
apa yang dilarang dan diancam pidana, melainkan hanya semata-mata bertugas untuk
memeriksa dan memutus apakah suatu perbuatan tertentu telah bertentangan dengan
ketentuan undang-undang.

Dengan adanya ajaran Trias Politica itu, untuk memidana seseorang atas perbuatan
yang dilakukannya, disyaratkan agar terlebih dulu harus ada ketentuan hukum yang
menyatakan perbuatan itu sebagai dilarang dan dapat dipidana (dibuat dulu aturan oleh
legislatif).

Anselm Von Feuerbach (Belanda) melakukan upaya yang lebih konkret dalam
memperkenalkan asas legalitas yang terkenal dengan ucapannya dalam bahasa latin (dalam
bukunya yang berjudul Lehrbuch des peinlichen Recht, 1801) yaitu Nullum delictum nulla
poena sina praevia lege yang artinya tidak ada pidana tanpa adanya ketentuan hukum yang
lebih dulu menentukan demikian. Ucapannya ini secara jelas mengandung pengertian
sebagaimana yang dimaksud dengan asas legalitas

Selanjutnya menurut Anselm Von Feuerbach beliau mengajarkan bahwa untuk


menjamin dan mempertahankan ketertiban masyarkat, pidana harus berfungsi menakut-

nakuti orang-orang agar tidak berbuat jahat, dan agar orang takut berbuat jahat, terlebih dulu
ia harus mengetahui tentang ancaman pidana terhadap perbuatan jahat tersebut.

Agar orang mengetahui perihal ancaman pidana itu, hal-hal yang dilarang beserta
ancaman pidananya itu harus ditetapkan terlebih dulu dalam UU.

Asas legalitas yang juga dikenal dengan asas asas nulla poena pertamakali dimuat
dalam pasal 8 Declaration des droits de Lhommeet du Citoyen (1789), semacam UndangUndang Dasar yang pertama dibentuk pada masa revolusi Prancis, yang bunyinya tidak ada
sesuatu yang boleh dipidana selain karena suatu wet yang ditetapkan dalam undang-undang
dan diundangkan secara sah (Moeljatno, 1983 : 24). Kemudian asas ini dimuat dalam Pasal
4 Code Penal Prancis tahun 1810.

Ketika Belanda lepas dari pemerintahan Prancis tahun 1813, Code Penal ini tetap
diberlakukan di Belanda sampai digantinya WvS Nederland 1881.

Code Penal 1810 ini berlaku 75 tahun di Belanda walaupun sifatnya sementara

Dalam WvS Nederland (disusun tahun 1881 dan mulai berlaku tahun 1886) yang baru
ini asas legalitas dari Code Penal Prancis itu masuk didalamnya (Pasal 1 ayat 1).

Berdasarkan asas konkordansi WvS Nederland diberlakukan di Hindia Belanda pada 1


Januari 1918 menjadi Wetboek van Strafrecht voor Nederlandsch Indie (yakni kini KUHP),
dimana juga asas legalitas ini tetap tercantum di dalam Pasal 1 ayat 1 KUHP Indonesia.

Pasal 1 ayat 1 KUHP merumuskan suatu perbuatan tidak dapat dipidana, kecuali
berdasarkan kekuatan ketentuan perundang-undangan pidana yang telah ada terlebih
dulu Geen feit is strafbaar dan uit kracht van eene daaraan vooragegane wettelike
strafbepaling).

Asas ini dalam bahasa latinnya adalah Nullum delictum nulla poena sine praevia legi
poenali.

Dalam ketentuan Pasal 1 ayat 1 KUHP tersebut, ada tiga pengertian dasar dalam asas
legalitas itu yaitu : 1) Ketentuan hukum pidana itu harus ditetapkan lebih dahulu secara
tertulis. 2) Dalam hal untuk menentukan suatu perbuatan apakah berupa tindak pidana
ataukah bukan tidak boleh menggunakan penafsiran analogi. 3) Ketentuan hukum pidana
tidak berlaku surut(terugwerkend atau retroaktif).

Dari

tiga

pengertian

dasar

diatas,

tampak

betul

bahwa

asas

legalitas

ini

berlatarbelakang padakepastian hukum yang berkaitan dengan perlindungan yang lebih


konkret terhadap hak-hak warga yang berhadapan dengan kekuasaan pemerintahan negara

Dengan asas legalitas terhindar dan dapat mencegah sewenang-wenangan penguasa


dalam bidang peradilan pidana. Asas legalitas adalah ajaran kepastian hukum

Dapat disimpulkan hukum pidana harus tertulis, tidak boleh ada penafsiran analogi dan
tidak boleh berlaku surut.

1) Hukum pidana harus tertulis :

Peraturan perundangan haruslah tertulis karena tertulis berarti harus ditetapkan terlebih
dulu, baru kemudian diberlakukan.

Ketentuan pidana harus tertulis bukan saja dalam bentuk undang-undang, tetapi juga
tertulis dalam bentuk peraturan-peraturan lainnya yang tingkatannya dibawah undangundang.

Jadi, sumber hukum pidana itu bukan saja UU dalam arti formil tetapi juga dalam arti
materiil termasuk peraturan pemerintah,peraturan daerah (kabupaten atau kota), peraturan
menteri, keputusan presiden dan lain sebagainya yang mengandung aspek hukum pidana.

Kelemahan :

Hukum pidana yang harus dibuat tertulis mempunyai kelemahan yaitu hukum pidana
kaku, tidak dapat dengan cepat mengikuti perkembangan masyarakat dan lagi pula banyak
perbuatan-perbuatan dalam masyarakat yang patut dipidana seperti dalam hukum adat
(pidana) yang masih hidup namun tidak dapat dijalankan karena tidak ada bandingannya
dalam peraturan tertulis ini.

Untuk peran hukum adat sebagaimana tertuang dalam Pasal 5 ayat 3b UU No. 1 (drt)
1951 sangatlah penting.

2) Larangan Menggunakan Penafsiran Analogi Dalam Hukum Pidfana

Salah satu pekerjaan hakim adalah melakukan penafisran hukum, terutama terhadap
norma tindak pidana dalam hukum tertulis ketika norma tersebut diterapkan dalam suatu
peristiwa konkret tertentu.

Norma-orma hukum pidana mengenai rumusan tindak pidana ketika diterapkan pada
kejadian atau peristiwa-peristiwa konkret tertentu tidak jarang memerlukan penafsiran

Hal ini dapat terjadi pada peristiwa tertentu yang tidak sama persis dengan apa yang
dirumuskan dalam UU, mengenai salah satu atau beberapa unsur tindak pidananya.

Ada beberapa macam penafsiran yang telah dikenal dalam doktrin hukum pidana yaitu
penafisran autentik, penafsiran gramatikal, penafsiran logis, penafsiran sistematis,
penafisran historis, penafisran ekstensif, penafsiran a kontrario, penafsiran terbatas dan
penafisran analogis.

Dari sekian penafsiran diatas penafsiran analogi oleh berbagai kalangan ahli hukum
tidak boleh digunakan dalam hukum pidana, mengingat pasal 1 (1) KUHP walaupun ada
sebagian pakar hukum membolehkan seperti Tavarne, Pompe, Jonkers, di Indonesia Wirjono
Prodjodikoro.

Alasan mengapa analogi dilarang dalam hukum pidana berpokok pangkal untuk
menjamin kepastian hukum. Dirasakan sebagai penyerangan dan pelanggaran atas
kepastian berlakunya hukum apabila analogi itu dipergunakan, sebagaimana dasar
dibentuknya rumusan Pasal 1 (1) KUHP ialah pada latar belakang kepastian hukum dalam
rangka melindungi rakyat dari upaya kesewenang-wenangan penguasa melalui para hakim.

Akan tetapi, terlepas dari adanya kelemahan dari larangan menggunakan analogi,
perluasan berlakunya hukum yang demikian ini mempunyai mamfaat dalam upaya mencapai
keadilan, dimana menurut masyarakat sesuatu perbuatan yang tidak secara tepat dapat
dipidana melalui aturan pidana tertentu, namun dengan menggunakan analogi bagi pelaku
perbuatan itu menjadi dapat dipidana.

Diakui bahwa analogi mengurangi kepastian hukum dan dapat disalahgunakan oleh
penguasa melalui para hakimnya atau oleh hakim yang tidak bijaksana, namun begitu
analogi amat berguna dan dapat dipakai dalam hal untuk mengisi kekosongan dalam
peraturan perundang-undangan.

Analogi adalah penafsiran terhadap suatu ketentuan hukum (pidana) dengan cara
memperluas berlakunya aturan hukum tersebut dengan mengabstraksikan rasio ketentuan
itu sedemikian rupa luasnya pada kejadian konkret tertentu sehingga kejadian yang
sesungguhnya tidak masuk ke dalam ketentuan itu menjadi masuk ke dalam isi atau
pengertian ketentuan hukum tersebut.

Dengan kata lain, analogi itu terjadi apabila suatu peraturan hukum menyebut dengan
tegas

suatu

kejadian

yang

diatur, tetapi

peraturan

itu

dipergunakan

juga

bagi

kejadian/peristiwa lain yang tidak termasuk dalam peraturan itu, ada banyak persamaannya
dengan kejadian yang disebut tadi.

Contoh kasus : misalnya dari ketentuan pasal 365 (2) sub 1 yang antara lain melarang
melakukan pencurian dalam kereta api atau trem yang sedang berjalan, berlaku juga pada
pencurian dalam sebuah bis yang sedang berjalan. Dalam hal ini bis dianalogikan dengan
kereta api atau trem sehingga orang yang mencuri dalam sebuah bis yang sedang berjalan
dapat pula diterapkan ketentuan hukum pidana menurut Pasal 365 (2) sub 1 ini (Wirjono
Prodjodikoro).

Mengapa bis dianalogikan dengan trem, rasio larangan mencuri didalam trem yang
sedang berjalan yang berlatar belakang pada larangan mencuri dalam kenderaan angkutan
yang sedang berjalan pada dasarnya sama dengan rasio melarang mencuri dalam sebuah
bis yang sedang berjalan karena kereta api, trem dan bis adalah sama, angkutan umum
yang berjalan.

Mengapa tidak disebut bis dalam Pasal 365 ayat 2 sub 1 karena ketika KUHP (WvS
Belanda 1881) dibentuk, belum ada bis yang dipergunakan sebagai angkutan umum seperti
keadaan sat ini. Jadi apa salahnya dengan analogi melarang pula mencuri dalam sebuah bis
yang sedang berjalan.

Pengertian seperti ini sesuai dengan pengertian dari perbuatan mengambil sebagai
unsur tingkah laku pada pencurian yaitu berupa benda-benda yang dapat diambil, artinya
yang dapat dipidahkan kekuasaannya dalam arti yang sebenarnya. Mengambil dalam arti
berbuat sesuatu dengan memindahkan kekuasaan atas sesuatu benda ke dalam
kekuasaannya/ ke tangannya menurut akal pikiran orang pada umumnya hanyalah dapat
dilakukan pada benda-benda berwjud dan bergerak saja. Aliran/energi dari sudut pandang
demikian bukanlah benda. Akan tetapi, untuk menjangkau keadilan, Hoge Raad telah
menggunakan analogi dengan memberi arti baru tentang benda, yakni berupa sesuatu

bagian dari kekayaan manusia. Dengan dasar pengertian semacam itu, energi listrik dapat
pula merupakan benda yang menjadi objek pencurian. Energi listrik adalah bagian
kekayaan, karena mempunyai nilai ekonomis. Pemakaian energi itu harus membayar
kepada perusahaan si pemilik energi. Dengan alasan seperti itu, maka dapat dimengerti
bahwa kemudian pada sebagian ahli hukum memberi arti baru bahwa benda merupakan
sesuatu yang bernilai ekonomis dan mempunyai nilai bagi manusia (Satochid Kartanegara,
172).

Contoh lain : dalam sejarah praktik hukum, dengan menerapkan analogi yang terkenal
dan banyak dimuat dalam berbagai literatur hukum, dalam arrest HR tanggal 23 Mei 1921
yang meganalogikan aliran/tenaga listrik itu dengan pengertian benda sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 362 KUHP (pencurian). Pengertian benda dalam kejahatan ini
menurut keterangan dalam MvT mengenai pembentukan Pasal 310 WvS Belanda (362
KUHP kita) terbatas pada benda-benda bergerak (roerent goed) dan benda-benda berwujud
(Stoffelijk goed).

3) Hukum pidana tidak berlaku surut

Pernyataan hukum pidana tidak berlaku surut, tepai berlaku ke depan dapat disimpulkan
dari kalimat yang menyatakan ..ketentuan perundang-undangan pidana yang telah ada
(Pasal 1 ayat 1 KUHP)

Yang artinya adalah ketika perbuatan itu dilakukan telah berlaku aturan hukum pidana
yg melarang melakukan perbuatan tsb. Disini perlu ada kepastian hukum (rechtszekerheid).

Pernyataan hukum pidana tidak berlaku surut, tetapi berlaku ke depan dapat
disimpulkan dari kalimay yg menyatakan ..ketentuan perundang-undangan pidana yang
telah ada (Pasal 1 ayat 1 KUHP). Yang artinya adalah ketika perbuatan itu dilakukan telah
berlaku aturan hukum pidana yang melarang melakukan perbuatan tsb. Disini perlu ada
kepastian hukum (rechtszekerheid).

Selanjutnya pada Pasal 1 ayat 2 KUHP berbunyi bilamana ada perubahan dalam
peraturan perUUan sesudah perbuatan dilakukan, maka terhadap terdakwa diterapkan
ketentuan yg paling menguntungkan. (Disini mengandung keadilan)

Pasal 1 ayat 2 KUHP ini (asas retroaktif) adalah pengecualian pasal 1 ayat 1 KUHP
(asas legalitas). Disini terjadi hukum boleh diberlakukan surut (hukum diberlakukan
kebelakang)

Ada 3 syarat diberlakukannya hukum berlaku ke belakang/surut menurut pasal 1 ayat 2


KUHP yaitu :

1) Harus ada perubahan perUUan mengenai suatu perbuatan,


2) Perubahan tersebut terjadi setelah perbuatan dilakukan, dan
3) Dimana peraturan yangg baru itu lebih menguntungkan atau meringankan bagi
pelaku perbuatan itu.
B. BATAS BERLAKUNYA HUKUM PIDANA MENURUT TEMPAT DAN ORANG

Batas diberlakunya hukum pidana menurut tempat diatur dalam pasal 2,3,4,8,9 KUHP
sedangkan batas berlakunya hukum pidana menurut orang atau subjeknya diatur dalam
pasal 5,6,7 KUHP.

Mengenai berlakunya hukum pidana menurut tempat dan orang dikenal ada 4 asas yaitu
:

1.

Asas teritorialiteit (territorialiteits-beginsel) atau asas wilayah negara

2.

Asas personaliteit (personaliteits beginsel) disebut juga dengan asas kebangsaan, asas
nationalitet aktif atau asas subjektif (subjektions prinzip)

3.

Asas perlindungan (bescbermings beginsel) atau disebut juga asas nasional pasif

4.

Asas universaliteit (universaliteits beginsel) atau asas persamaan

Asas teritorialiteit :

Adalah asas yang memberlakukan KUHP bagi semua orang yang melakukan pidana di
dalam lingkungan wilayah Indonesia. Asas ini dapat dilihat dari ketentuan Pasal 2 dan 3
KUHP. Tetapi KUHP tidak berlaku bagi mereka yang memiliki hak kebebasan diplomatik
berdasarkan asas ekstrateritorial.

Asas teritorial ini diatur dalam pasal 2 yang berbunyi aturan pidana dalam perundangundangan Indonesia berlaku terhadap setiap orang yang melakukan tindak pidana di dalam
wilayah Inbdonesia

Disini siapapun yang melakukan tindak pidana di wilayah Indonesia dapat dipidana
sesuai hukum pidana yang berlaku di Indonesia baik didarat, laut maupun udara.

Wilayah laut 12 mil pulau terluar, kalau kurang dari 12 mil, maka di pakai garis tengah
selat (selat malaka) = UU No 4/Prp/1960 Pasal 1 ayat 2.

Sedangkan tindak pidana di air dan udara diatur dalam pasal 3 dan UU no. 4 tahun 194,
dimana disebutkan ketentuan pidana perudang-undangan Indonesia berlaku bagi setaip
orang yang diluar Indonesia melakukan tindak pidana di dalam kenderaan air atau pesawat
udara Indonesia

Asas Personaliteit :

Adalah asas yang memberlakukan KUHP terhadap orang-orang Indonesia yang


melakukan perbuatan pidana di luar wilayah Republik Indonesia. Asas ini bertitik tolak pada
orang yang melakukan perbuatan pidana. Asas ini dinamakan juga asas personalitet.

Asas ini terdapat dalam Pasal 5, 6, 7 dan 8 KUHP

Pasal 5 ayat 1 berbunyi Ketentuan pidana dalam Peraturan perundang-undangan


Indonesia berlaku terhadap warga negara yang diluar Indonwesia melakukan :

1.

Salah satu kejahatan tersebut dlm Bab I dan II Buku Kedua dan Pasal 160, 161, 240,
279, 450 dan 451 KUHP

2.

Salah satu perbuatan yang oleh suatu ketentuan pidana dalam peraturan perundangundangan pidana Indonesia dipandang sebagai kejahatan, sedangkan menurut perundangundangan negara dimana perbuatan dilakukan diancam dengan pidana

Pasal 5 ayat 2 berbunyi Penuntutan perkara sebagaimana dimaksud dalam butir 2


dapat dilakukan juga jika terdakwa menjadi warga negara sesudah melakukan perbuatan.

Bab I berkaitan dengan kejahatan terhadap keamanan negara (104-129) dan Bab II
adalah mengenai kejahatan terhadap martabat presiden dan wakil presiden (130-139).

Pasal 5 ayat 1 ke-1 KUHP hanya berlaku berkaitan dengan tindak pidana yg terjadi
kepada setiap warga negara RI yg melakukan diluar Indonesia sebagaimana diancam dalam
pasal-pasal tsb.

Sedangkan pasal 5 ayat 1 ke-2 hanya berlaku berkaitan dengan tindak pidana setiap
warga negara RI yg melakukan diluar Indonesia namun tindak pidana tsb harus berupa
kejahatan bukan pelanggaran dan perbuatan tindak pidana tsb oleh negara dimana
perbauatan tsb dilakukan juga merupakan perbuatan pidana yg dapat diancam.

Sedangkan ayat 2 Pasal 5 berkaitan dengan apabila ada orang asing melakukan tindak
pidana diluar negeri setelah itu ia masuk warga negara Indonesia. Maka dapat juga dituntut
menurut ayat 2 ini.

Selanjutnya dalam pasal 6 berbunyi

berlakunya pasal 5 ayat 1 ke 2 dibatasi

sedemikian rupa sehingga tidak dijatuhkan pidana mati, jiak menurut perundang-undangan
negara dimana perbauatan dilakukan, terhadapnya tidak diancam dengan pidana mati.

Selanjutnya dalam pasal 7 berbunyi ketentuan pidana dalam perUUan Indonesia


berlaku bagi setiap pejabat Indonesia yg diluar Indonesia melakukan salah satu tindak
pidana sebagaimana dimaksudkan dalam bab XXVIII buku kedua.

Pasal 7 ini menerangkan khusus warga negara sebagai pejabat Indonesia (PNS) yang
melakukan perbuatan yg diancam salah satu bab XXVIII. Artinya pasal ini tidak berlaku
warga negara yg bukan pejabat.

Selanjutnya dalam pasal 8 KUHP berbunyi ketentuan pidana dalam perundangundangan Indonesia berlaku bagi nakhoda dan penumpang kenderaan air Indonesia, yang
diluar Indonesia, sekalipun diluar kenderaan air, melakukan salah satu tindak pidana
sbgmana dimaksudkan dlm bab XXIX buku kedua, dan bab IX buku ketiga, begitu pula yg
tersebut dlm peraturan mengenai surat laut dan pas kapal Indonesia maupunn dalam
ordonannsi perkapalan (schepnordonantie, 1927).

Bab XXIX buku kedua membahas tentang kejahatan-kejahatan pelayaran (Pasal 438479) sedangkan bab IX buku ketiga ttg pelanggaran mengenai pelayaran (pasal 560-569)

Asas Perlindungan atau Asas nasional Pasif

Adalah suatu asas yang memberlakukan KUHP terhadap siapapun juga baik WNI
maupun WNA yang melakukan perbuatan pidana di luar wilayah Indonesia. Jadi yang
diutamakan adalah keselamatan kepentingan suatu negara.

Asas ini bertumpu pada kepentingan bangsa dan negara bukan kepentingan
pribadi/individu diatur dalam pasal 4 KUHP

Pasal 4 berbunyi ketentuan pidana dalam peraturan perundang-undangan Indonesia


diterapkan terhadap setiap orang yang melakukan di luar Indonesia yaitu salah satu
kejahatan berdasarkan pasal 104, 106, 107, 108, 110 bis ke 1, 127 dan 131.

Juga kejahatan mata uang kertas, materai, merek yang dikeluarkan pemerintah
Indonesia, dll

Asas Universaliteit :

Asas ini berlaku untuk kepentingan penduduk dunia atau bangsa dunia. Jadi bukan
sekedar kepentingan bangsa Indonesia

Diatur dalam pasal 4 ayat 2,3,4 KUHP, misalnya pasal 4 ayat 4 berkaiatan dengaan
pembajakan di laut bebas (446) dan pembajakan udara (479) dan penerbangan sipil,
pemalsuan uang negara lain yang bukan uang negara Indonesia

Asas universaliteit adalah suatu asas yang memberlakukan KUHP terhadap perbuatan
pidana yang terjadi di luar wilayah Indonesia yang bertujuan untuk merugikan kepentingan
internasional. Peristiwa pidana yang terjadi dapat berada di daerah yang tidak termasuk
kedaulatan negara manapun. Jadi yang diutamakan oleh asas tersebut adalah keselamatan
internasional.

BAB III
JENIS-JENIS PIDANA

Menurut Pasal 10 KUHP ada 2 jenis pidana yaitu pidana pokok dan pidana tambahan.
Adapun pidana pokok sebagai berikut :

1.

Pidana mati

2.

Pidana penjara

3.

Pidana kurungan

4.

Pidana denda

Sedangkan pidana tambahan adalah

1.

Pidana pencabutan hak-hak tertentu

2.

Pidana perampasan barang-barang tertentu

3.

Pidana pengumuman putusan hakim

Selanjutnya ada juga pidana pokok menurut UU No. 20 tahun 1946 yaitu berupa pidana
tutupan.

Antara pidana pokok dan tambahan mempunyai perbedaan yaitu :

1.

Penjatuhan salah satu pidana pokok bersifat keharusan (imperatif), sedangkan


penjatuhan pidana tambahan sifatnya fakultatif

Penjelasan :
Apabila dalam persidangan tindak pidana yg didakwakan oleh jaksa penuntut umum
menurut hakim telah terbukti secara sah dan meyakinkan hakim harus menjatuhkan
satu jenis pidana pokok sesuai dengan jenis dan batas maksimum khusus yg
diancamkan pada tindak pidana yg bersangkutan.
Menjatuhkan salah satu jenis pidana pokok sesuai dengan yang diancamkan pada
tindak pidana yang dianggap terbukti adalah suatu keharusan artinya imperatif.
2. Penjatuhan jenis pidana pokok tidak harus bersamaan dengan menjatuhkan pidana
tambahan (berdiri sendiri), sedangkan menjatuhkan pidana tambahan tidak
diperbolehkan tanpa dengan menjatuhkan pidana pokok.
Penjelasan :

Sesuai dengan namanya pidana tambahan, penjatuhan pidana tambahan tidak dapat
berdiri sendiri, lepas dari pidana pokok melainkan hanya dapat dijatuhkan oleh hakim
apabila dalam suatu putusannya itu telah menjatuhkan salah satu jenis pidana pokok
sesuai dengan yg diancamkan pada tindak pidana yang bersangkutan. Artinya jenis
pidana tambahan tidak dapat dijatuhkan sendiri secara terpisah dengan jenis pidana
pokok, melainkan bersama dengan jenis pidana pokok.
Dalam hal ini telah jelas bahwa pidana tambahan tidak dapat dijatuhkan kecuali setelah
adanya penjatuhan pidana pokok, artinya pidana pokok dapat berdiri sendiri sedangkan
pidana tambahan tidak dapat berdiri sendiri.
Walaupun jenis pidana tambahan mempunyai sifat yg demikian, ada juga
pengecualiannya, yakni dimana jenis pidana tambahan itu dapat dijatuhkan tidak
bersama jenis pidana pokok tetapi bersama tindakan (maatregelen) seperti pasal 39
ayat 3 dan 40.
3. Jenis pidana pokok yag dijatuhkan bila telah mempunyai kekuatan hukum tetap (in
kracht van gewijsde zaak) diperlukan suatu tindakan pelaksanaan (executie)
Penjelasannya :
Pengecualiaannya adalah apabila pidana yg dijatuhkan itu adalah jenis pidana pokok
dengan bersyarat (Pasal 14a) dan syarat yang ditetapkan dalam putusan itu tidak
dilanggar. Hal ini berbeda dengan sebagian jenis pidana tambahan misalnya pidana
pencabutan hak-hak2 tertentu sudah berlaku sejak putusan hakim telah mempunyai
kekuatan hukum tetap (pasal 38 ayat 2). Ole karena itu, berjalannya/dijalankannya
putusan antara jenis pidana pokok dengan pidana pencabutan hak tertentu
berdasarkan pasal 38 ayat 2 tidak sama.

Selain itu juga ada prinsip dasar pidana pokok yaitu tidak dapat dijatuhkan secara
kumulasi (menjatuhkan 2 pidana pokok secara bersamaan).

Hal ini dapat dilihat sbgmana tercantum dalam buku II (kejahatan) dan buku III
(pelanggaran) dimana dijelaskan bahwa :

1.

Dalam rumusan tindak pidana hanya diancam dengan satu jenis pidana pokok saja.

2.

Dalam beberapa rumusan tindak pidana yg diancam dgn lebih dari satu jenis pidana
pokok ditetapkan sbg bersifat alternatif (misal pasal 340, 362 dll) dengan menggunakan kata
atau.

Prinsip dasar jenis pidana pokok ini hanya berlaku pada tindak pidana umum (KUHP).
Bagi tindak pidana khusus (diluar KUHP), prinsip dasar ini ada penyimpangan seperti UU No
7 (drt) 1955 (UU tindak pidana ekonomi), UU No. 31 tahun 1999 (UU tindak pidana korupsi),
UU Narkotika (UU No. 22 tahun 1997), UU Perbankan (UU No. 10 tahun 1998), dll

1.

Pidana mati (Pasal 11 KUHP)

Di Belanda sejak tahun 1870 pidana mati tidak diberlakukan lagi.

Di Indonesia sejak tahun 1918 masi diberlakukan pidana mati.

RUU KUHP 1992 dan 1999/2000 revisi masih dicantumkan tapi bukan dalam pidana
pokok, hanya dikategorikan pidana yang bersifat khusus dan selalu bersifat altertnatif.

Di Belanda sejak tahun 1870 pidana mati tidak diberlakukan lagi.

Di Indonesia sejak tahun 1918 sampai sekarang masih diberlakukan pidana mati.

Penjatuhan pidana mati dalam KUHP hanya diatur dalam bentuk kejahatan berat saja,
misalnya :

1.

Kejahatan-kejahatan yang mengancam keamanan negara (Pasal 104, 111 ayat 2, 124
ayat 3 jo 129)

2.

Kejahatan-kejahatan pembunuhan terhadap orang tertentu dan atau dilakukan dengan


faktor-faktor pemberat, misalnya 140 ayat 3, 340 KUHP

3.

Kejahatan terhadap harta benda yg disertai unsur/faktor yg sangat memberatkan (365


ayat 4, 368 ayat 2)

4.

Kejahatan-kejahatan pembajakan laut, sungai dan pantai (Pasal 444)

Adanya pidana mati oleh pembentuk KUHP dalam penerapan harus hati-hati, tidak
boleh gegabah karena pidana mati berkaitan dengan hilangnya nyawa manusia.

Untuk itu dalam KUHP pasal pidana mati selalu dibuat alternatif dengan penjara seumur
hidup, pidana 20 tahun, misalnya pasal 365 (4), 340, 104, 368 (2) jo 365 (4), dll sedangkan
diluar KUHP pidana mati diatur dalam UU 26 tahun 1999 (subversi), UU 22 tahun 1997
(Narkotika, 80, 81, 82), Pasal 59 UU No 5 tahun 1997 (Psikotropika).

Eksekusi pidana mati dulu dengan cara digantung (Pasal 11 KUP) telah dihapuskan
diganti dengan cara ditembak oleh regu penembak sampai mati (UU No. 2 (PNPS) tahun
1964.

1.

Pidana penjara (Pasal 12 17 KUHP)

Berdasarkan pasal 10 KUHP ada 2 jenis pidana hilang kemerdekaan bergerak yakni
pidana penjara dan kurungan.

Dari sifatnya menghilangkan dan atau membatasi kemerdekaan bergerak, dalam arti
menempatkan terpidana dalam suatu tempat (Lembaga Permasyarakatan) dimana terpidana
tidak bebas untuk keluar masuk dan didalamnya wajib untuk tunduk, mentaati dan
menjalankan semaua peraturan tata tertib yang berlaku.

Selintas antara pidana penjara dan kurungan sama namun ada perbedaan yang cukup
jauh

Perbedaan yang paling menonjol adalah pidana kurungan lebih ringan dari pidana
penjara. Lebih ringannya sebagai berikut :

1.

Ancaman pidana kurungan hanya terhadap tindak pidana yg ringan sedangkan


ancaman pidana penjara terhadap tindak pidana yg lebih berat. Pidana kurungan hanya
terhadap tindak pidana pelanggaran sedangkan pidana penjara terhadap tindak pidana
kejahatan.

2.

Ancamam maksimum pidana penjara 15 tahun sedangkan pidana kurungan 1 tahun


kecuali residivis ditambah tidak lebih dari 4 bulan lagi. Pidana penjara bisa ditambah menjadi
20 tahun apabila perbuatan tersebut memberatkan (pembarengan pasal 65) dan residivis.

3.

Pidana penjara lebih berat daripada pidana kurungan (Pasal 69 KUHP).

4.

Pelaksanaan pidana denda tidak dapat diganti dengan pelaksanaan pidana penjara.
Akan tetapi pelaksanaan pidana denda dapat diganti dengan pelaksanaan kurungan disebut
kurungan pengganti (Pasal 30 ayat 2).

5.

Pelaksanaan pidana penjara dapat saja dilakukan di Lembaga permasyarakatan di


seluruh Indonesia (dapat dipindahkan), sedangkan pidana kurungan dilaksanakan hanya di
LAPAS dimana vonis hakim dibacakan/berdasarkan tempat kediaman terdakwa (tidak dapat
dipindah), atau apabila ia tidak mempunyai tempat kediaman, pidana kurungan dilaksanakan
dimana tempat ia ada pada waktu itu, kecuali ia memohon untuk menjalani pidana ditempat
lain dan menteri kehakiman mengijinkannya. (Pasal 21 KUHP)

6.

Pekerjaan-pekerjaan yang diwajibkan pada narapidapidana penjara lebih berat dari


pekerjaan2 yang diwajibkan pada narapidana kurungan (Pasal 19 KUHP)

7.

Narapidana kurungan dengan biaya sendiri dapat sekedar meringankan nasibnya dalam
menjalankan pidananya menurut aturan yang ditetapkan (hak pistole, pasal 23 KUHP)

Pidana penjara ada bersifat seumur hidup dan pidana penjara sementara.
Pidana seumur hidup adalah pidana yang harus dijalani terpidana selama-lamanya
didalam penjara sampai dengan ia meninggal dunia di penjara tersebut.
Sedangkan pidana sementara adalah pidana yang dijalani terpidana paling sedikit 1
hari dan paling lama 15 tahun atau 20 tahun jika perbuatan pidana yang dilakukan
dengan pemberatan.
1.

Pidana kurungan (18 29 KUHP)

Pidana kurungan ada suatu pidana yang dijatuhkan oleh hakim kepada terdakwa karena
telah melakukan tindak pidana pelanggaran

Pidana kurungan dijatuhkan serendah-rendahnya 1 hari dan paling lama 1 tahun dan
dapat ditambah lagi 4 bulan apabila terdakwa seorang residivis.

Menurut Pasal 23 KUHP Orang yg dipidana kurungan boleh memperbaiki nasibnya


dengan ongkosnya sendiri menurut peraturan yg akan ditetapkan dalam ordonansinya (LN
1917 No. 708 = peraturan kepenjaraan, khususnya psl 93)

Perbaikan nasib dengan ongkos sendiri ini biasa dinamakan hak pistole. Perbaikan tsb
misalnya mengenai makanan dan tempat tidurnya. Candu, minuman keras, anggur dan bir
hanya dapat diberikan bila dianggap perlu oleh dokter penjara.

D. Pidana denda

Penerapan pidana denda paling sedikit 25 sen (Pasal 30 ayat 1 KUHP) sedangkan
maksimum tergantung pada rumusan pidana, misalnya pasal 403 maksimum Rp. 150.000

Apabila tidak dibayar dendanya diganti dengan hukuman kurungan (ayat 2)

Lamanya hukuman kurungan pengganti paling sedikit 1 hari paling lama 6 bulan. Dalam
keadaan memberatkan dapat ditambah paling tinggi 8 bulan (Pasal 30 ayat 5, 6 KUHP)

Pidana denda diterapkan pada pelanggaran sedangkan pada kejahatan dijadikan


alternatif (misalnya kata-kata atau)

Keistimewaan pidana denda :


1.

Pidana denda dapat dibayarkan oleh orang lain, sedangkan pidana lainnya (misalnya
penjara) tidak.

2.

Pelaksanaan pidana denda dapat diganti dengan pidana kurungan (Pasal 30 ayat 2
KUHP), maka sering dalam putusan hakim membuat pidana alternatif selain kurungan juga
ada pidana kurungan pengganti. Dalam hal ini terpidana bebas memilihnya dan lamanya
pidana kurungan pengganti adalah minimal 1 hari maksimal 6 bulan.

3.

Penerapan pidana denda paling sedikit 25 sen (Pasal 30 ayat 1 KUHP) sedangkan
maksimum tergantung pada rumusan pidana, misalnya pasal 403 maksimum Rp. 150.00,-

Mengapa terhadap pidana denda perlu adanya jaminan penggantinya ?

Karena dalam pelaksanaan pidana denda tidak dapat dijalankan denagan paksaan
secara langsung seperti penyitaan atas barang-barang terpidana. Ini berbeda dengan
perkara perdata yg dilakukan pelelangan setelah disita pengadilan.

Kapan denda harus dibayar ?

Yaitu jika divonis pidana denda, maka paling alama 1 bulan terpida harus mebayar
denda tsb kecuali acara cepat harus seketika dilunasi (misalnya perkara lalu-lintas).
Sementara dapat diperpanjang lagi 1 bualn apabila ada alasan kuat (Pasal 273 ayat 1 dan 2
KUHP).

Pidana denda dibayarkan menjadi kas negara. Untuk itu setelah kejaksaan menerima
harus segera di setor ke kas negara.

E. Pidana Tutupan

Diatur dalam Pasal 2 ayat 1 UU No. 20 tahun 1946 yang menyatakan bahwa dalam
mengadili orang yang melakukan kejahatan, yang diancam dengan pidana penjara karena
karena terdorong oleh maksud yang patut dihormati, hakim boleh menjatuhkan pidana
tutupan.

Selanjutnya pada ayat 1 dinyatakan pidana tutupan tidak dijatuhkan apabila perbuatan
yang merupakan kejahatan itu cara melakukan perbuatan itu aatau akibat dari perbuatan itu
adalah sedemikian rupa sehingga hakim berpendapat bahwa pidana penjara lebih tepat.

Tempat untuk menjalani pidana tutupan adalah rumah tutupan (PP No. 8 tahun 1948).

Rumah tutupan lebih baik dengan rumah tahanan dari segi fasilitasnya, misalnya
maalah makanan.

Pidana tutupan sama juga dengan pidana penjara hanya beda dari fasilitasnya.

Jadi orang yang menjalani pidana tutupan adalah perbuatan pidana yang terdorong oleh
maksud yang patut dihormati, kriterianya diserahkan kepada hakim.

Dalam praktek pidana tutupan hanya terjadi 1 kali saja yaitu putusan Mahkamah Agung
Tentara RI tanggal 17 Mei 1948 yaitu perkaa kejahatan peristiwa 3 Juli 1946.

F. Pidana Pencabutan Hak-Hak Tertentu

Pasal 35 ayat 1 KUHP mengatur tentang pidana pencabutan hak-hak tertentu :

1.

Hak memegang jabatan pada umumnya atau jabatan tertentu (jabatan publik, seperti
Bupati, dll).

2.

Hak menjalankan jabatan dalam Angkatan bersenjata / TNI

3.

Hak memilih dan dipilih yg diadakan berdasarkan aturan2 umum

4.

Hak menjadi penasihat hukum atau pengurus atas penetapan pengadilan, hak menjadi
wali, wali pengawas, pengampu atau pengampu pengawas atas anak yang bukan anak
sendiri

5.

Hak menjalankan kekuasaan bapak, menjalankan perwalian atau pengampuan atas


anak sendiri.

6.

Hak menjalankan mata pencaharian

Pasal tindak pidana yg mengaturnya adalah pasal 317, 318, 334, 347, 348, 350, 362,
363, 365, 372, 374, 375.

Sifat hak-hak tertentu yang dapat dicabut oleh hakim, tidak untuk selama-lamanya
melainkan dalam waktu tertentu saja, kecuali yang bersangkutan dijatuhi pidana seumur
hidup atau pidana mati.

Lama waktu hakim menjatuhkan pencabutan hak-hak tertentu (Pasal 38 KUHP) :


1.

Bila pidana pokok yg dijatuhkan hakim berupa pidana mati atau seumur hidup maka
lamanya pencabutan hak2 tertentu berlaku seumur hidup

2.

Bila pidana pokok yg dijatuhkan hakim berupa pidana penjara sementara atau kurungan,
maka lamanya pencabutan hak2 tertentu paling lama 5 tahun dan minimun 2 tahun lebih
lama daripada pidana pokoknya

3.

Jika pidana pokok yg dijatuhkan adalah pidana denda maka pencabutan hak2 tertentu
adalah paling sedikit 2 tahun dan paling lama 5 tahun.

G. Perampasan Barang-Barang Tertentu

Perampasan barang sebagai suatu pidana hanya diperkenankan atas barang-barang


tertentu saja, tidak diperkenankan untuk semua barang. UU tidak mengenal perampasan
untuk semua kekayaan seperti dalam kasus perdata.

Pasal 39 KUHP berbunyi , Barang kepunyaan terhukum yang diperoleh dengan


kejahatan atau dengan sengaja dipakai akan melakukan kejahatan akan dirampas ,
misalnya uang palsu diperoleh dengan kejhatan, golok, senjata api, dll. Jika bukan milik
terhukum tidak boleh dirampas.

Ada 2 jenis barang yang dapat dirampas melalui putusan hakim pidana yaitu :

1. Barang-barang yang berasal/diperoleh dari suatu kejahatan (bukan dari pelanggaran)


yang disebut dengan Corpora Delictie misalnya uang palsu dari kejahatan pemalsuan
uang.
2. Barang-barang yang digunakan dalam melakukan kejahatan yang disebut
dengan instrumenta delictie misalnya pisau yang digunakan dalam kejahatan

Ada tiga prinsip dasar dari pidana perampasan barang tertentu yaitu :

1.

Hanya diancamkan dan dapat dijatuhkan terhadap 2 jenis barang tersebut dalam Pasal
39 itu saja.

2.

Hanya diancamkan dan dapat dijatuhkan oleh hakim pada kejahatan saja, dan tidak
pada pelanggaran, kecuali pada beberapa tindak pidana pelanggaran, misalnya Pasal 502,
519, 549 (jenis pelanggaran)

3.

Hanya diancamkan dan dapat dijatuhkan oleh hakim atas barang-barang milik terpidana
tadi. Kecuali ada beberapa ketentuan

a) Yang menyatakan secara tegas terhadap barang yang bukan milik terpidana (Pasal
250 bis),
b) Tidak secara tegas menyebutkan terhadap, baik barang milik terpidanaatau bukan
(misalnya pasal 275, 205, 519)
H. Pengumuman Putusan Hakim

Pidana pengumuman putusan hakim hanaya dapat dijatuhkan dalam hal-hal yang telah
ditentukan oleh UU, misalnya terdapat dalam Pasal 128, 206, 361, 377, 395, 405.

Dalam pidana ini hakim bebas perihal cara melaksanakan pengumuman, misalnya
melalui surat kabar, papan pengumuman, radio, televisi dan pembebanan biayanya
ditanggung terpidana.

Pasal 43 KUHP, Dalam hal-hal yang hakim memerintahkan mengumumkan


keputusannya menurut kitab UU umum yg lain, ditentukjannya pula cara bagaimana
menjalankan perintah itu atas ongkos siterhukum, misalnya melalui surat kabar dengan
ongkos terhukum.

Maksud pidana ini adalah sebagai usaha preventif agar tidak melakukan perbuatan
seperti orang tersebut dan agar berhati-hati bergaul dengan orang tersebut (terhukum).

I. Penjatuhan Pidana Bersyarat (voorwaardelijke veroordeling)

Istilah penjatuhan pidana besyarat bukanlah jenis pidana sebagaimana diatur dalam
Pasal 10 KUHP, karena istilah ini diatur dalam pasal 14a KUHP. Lebih tepat istilah ini adalah
pidana dengan bersyarat.

Pidana dengan bersyarat dalam praktek hukum sering disebut dengan pidana
percobaan.

Pidana percobaan/bersyarat adalah suatu sistem/model penjatuhan pidana oleh hakim


yang pelaksanaannya digantungkan pada syarat-syarat tertentu.

Artinya pidana yang dijatuhkan oleh hakim itu ditetapkan tidak perlu dijalankan pada
terpidana selama syarat-syarat yang ditentukan tidak dilanggarnya dan pidana dapat
dijalankan apabila syarat-syarat yang ditetapkan itu tidak ditaatinya atau dilanggar. Misalnya
jika terpidana tersebut yang diminta hakim tidak boleh melakukan perbuatan perbuatan
pidana maka selama masa poercobaan tersebut terpidana tidak boleh melakukan perbuatan
pidana dalam bentuk apapun. Jika terbukti melakukan perbuatan pidana lagi maka
hukumannya bisa ditambah karena terdakwa seorang residivis.

Mamfaat penjatuhan pidana dengan bersyarat adalah memperbaiki penjahat tanpa


harus memasukkannya ke dalam penjara artinya tanpa membuat derita bagi dirinya dan
keluarganya, mengingat pergaulan dalam penjara terbukti sering membawa pengaruh buruk
bagi seorang terpidana terutama bagi orang-orang yang melakukan tindak pidana karena
dorongan faktor tertentu yang ia tidak mempunyai kemampuan untuk menguasai dirinya

dalam arti bukanpenjahat sesungguhnya. Misalnya karena kemelaratan dan untuk makan ia
mencuri sebungkus roti, karena butuh uang untuk mengobati orang tuanya yang luka karena
kecelakaan, kejahatan culpa (kelalaian), dll

Dalam pasal 14a KUHP ditentukan bahwa hakim dapat menetapkan pidana dengan
bersyarat dalam putusan pemidanaan apabila :

Hakim menjatuhkan pidana penjara paling lama satu tahun

Hakim menjatuhkan pidana kurungan (bukan kurungan pengganti denda maupun


kurungan pengganti perampasan barang)

Hakim menjatuhkan pidana denda, dengan ketentuan yaitu : a). Apabila benar-benar
ternyata pembayaran denda atau perampasan barang yang ditetapkan dalam keputusan itu
menimbulkan keberatan yang sangat bagi terpidana, dan b). Apabila pelaku tindak pidana
yang dijatuhi denda bersyarat itu bukan berupa pelanggaran yang berhubungan dengan
pendapatan negara.

Tentang iklan-iklan ini