Anda di halaman 1dari 4

A.

Pengertian Tanin

Tanin adalah suatu senyawa polifenol yang berasal dari tumbuhan, berasa pahit dan kelat, yang
bereaksi dengan dan menggumpalkan protein, atau berbagai senyawa organik lainnya termasuk
asam amino dan alkaloid. tanin mampu menjadi pengompleks dan kemudian mempercepat
pengendapan protein serta dapat mengikat makromolekul lainnya (Zucker, 1983). Tanin
merupakan campuran senyawa polifenol yang jika semakin banyak jumlah gugus fenolik maka
semakin besar ukuran molekul tanin. Pada mikroskop, tanin biasanya tampak sebagai massa
butiran bahan berwarna kuning, merah, atau cokelat.
Tanin dapat ditemukan di daun, tunas, biji, akar, dan batang jaringan. Sebagai contoh dari
lokasi tanin dalam jaringan batang adalah tanin sering ditemukan di daerah pertumbuhan pohon,
seperti floem sekunder dan xylem dan lapisan antara korteks dan epidermis. Tanin dapat
membantu mengatur pertumbuhan jaringan ini.

B.

Sifat Fisika dan Kimia

Sifat fisika dari tanin adalah sebagai berikut :


Apabila dilarutkan ke dalam air, tanin akan membentuk koloid dan akan memiliki rasa
asam dan sepat.
Apabila dicampur dengan alkaloid dan glatin, maka akan terbentuk endapan.
Tanin tidak dapat mengkristal.
Tanin dapat mengendapkan protein dari larutannya dan bersenyawa dengan protein
tersebut sehingga tidak dipengaruhi oleh enzim protiolitik
Sifat kimia dari tannin adalah sebagai berikut :
Tanin merupakan senyawa kompleks yang memiliki bentuk campuran polifenol yang
Sulit untuk dipisahkan sehingga sulit membetuk kristal.
Tanin dapat diidentifikasi dengan menggunakan kromotografi
Senyawa fenol yang ada pada tanin mempunyai aksi adstrigensia, antiseptic dan pemberi
warna.

C.Manfaat Tanin

Berikut manfaat dari tannin :

Sebagai anti hama untuk mencegah serangga dan fungi pada tanaman.
Sebagai pelindung tanaman ketika masa pertumbuhan dari bagian tertentu tanaman,

misalnya pada bagian buah, saat masih muda akan terasa pahit dan sepat.
Sebagai adstrigensia pada GI dan kulit.
Untuk proses metabolisme dari beberapa bagian tanaman.
Dapat mengendapkan protein sehingga digunakan sebagai antiseptik.
Sebagai antidotum (keracunan alkaloid).
Sebagai reagen pendeteksi gelatin, alkaloid, dan protein.
Sebagai penyamak kulit dan pengawet.

D.

Penggolongan Tanin

1. Tanin terkondensasi (condensed tannins)


biasanya tidak dapat dihidrolisis, tetapi dapat terkondensasi menghasilkan asam klorida. Tanin
jenis ini kebanyakan terdiri dari polimer flavonoid yang merupakan senyawa fenol. Nama lain
dari tanin ini adalah Proanthocyanidin. Proanthocyanidin merupakan polimer dari flavonoid yang
dihubungkan dengan melalui ikatan C-8 dengan C-4. Salah satu contohnya adalah Sorghum
procyanidin, senyawa ini merupakan trimer yang tersusun dari epiccatechin dan catechin.
Senyawa ini jika dikondensasi maka akan menghasilkan flavonoid jenis flavan dengan bantuan
nukleofil berupa floroglusinol.
2. Tanin terhidrolisis
biasanya berikatan dengan karbohidrat dengan membentuk jembatan oksigen, maka dari itu
tanin ini dapat dihidrolisis dengan menggunakan asam sulfat atau asam klorida. Salah satu
contoh jenis tanin ini adalah gallotanin yang merupakan senyawa gabungan dari karbohidrat
dengan asam galat. Selain membentuk gallotanin, dua asam galat akan membentuk tanin
terhidrolisis yang biasa disebut Ellagitanins. Ellagitanin sederhana disebut juga ester asam
hexahydroxy diphenic (HHDP). Senyawa ini dapat terpecah menjadi asam galic jika dilarutkan
dalam.

E. Struktur Tanin

Tanin atau lebih dikenal dengan asam tanat, biasanya mengandung 10% H 2O. Struktur kimia
tanin adalah kompleks dan tidak sama. Asam tanat tersusun 5 - 10 residu ester galat, sehingga
galotanin sebagai salah satu senyawa turunan tanin dikenal dengan nama asam tanat.

F. Tanaman penghasil
1. Pegagan (Centella asiatica)
kandungan senyawa tanin beserta asiaticoside, thankuniside, isothankuniside, madecassoside,
brahmoside, brahmic acid, brahminoside, madasiatic acid, meso-inositol, centelloside,
carotenoids, hydrocotylin, vellarine, serta garam mineral seperti kalium, natrium, magnesium,
kalsium dan besi. Zat vellarine dan tanin yang ada dapat memberikan rasa pahit.
2.

sirih merah (Piper crocatum)

Tanaman sirih merah (Piper crocatum) termasuk dalam famili Piperaceae, tumbuh merambat
dengan bentuk daun menyerupai hati dan bertangkai, yang tumbuh berselang-seling dari
batangnya serta penampakan daun yang berwarna merah keperakan dan mengkilap. Dalam daun
sirih merah terkandung senyawa fitokimia yakni alkoloid, saponin, tanin dan flavonoid.

3. Daun dewa (Gynura divaricata)

mengandung

zat

saponin,

minyak

atsiri,

flavonoid, dan tanin. Efek farmakologis daun dewa adalah antikoagulan (koagulan, zat yang
mempermudah
stimulasi

dan

sirkulasi,

mempercepat

pembekuan

menghentikan

darah),

perdarahan,

mencairkan

menghilangkan

bekuan
panas,

darah,
dan

membersihkan racun.
4. Ciplukan (Physalis minina)
temasuk ke dalam famili tumbuhan Solanaceae. Tumbuhan ini mempunyai kandungan kimia
berupa chlorogenik acid, asam citrun, fisalin, flavonoid, saponin, polifenol. Buah mengandung
asam malat, alkaloid, tanin, kriptoxantin, vitamin C dan gula. Biji mengandung elaidic acid. Sifat
tumbuhan ini analgetik (penghilang rasa sakit), peluruh air seni (diuretik), menetralkan racun,
meredakan batuk, mengaktifkan fungsi kelenjar-kelenjar tubuh dan anti tumor.

Anda mungkin juga menyukai