Anda di halaman 1dari 10

JENIS-JENIS EVAPORATOR

1. Open kettle or pan


Prinsip kerja:
Bentuk evaporator yang paling sederhana adalah bejana/ketel terbuka dimana
larutan didihkan. Sebagai pemanas biasanya steam yang mengembun dalam
selubung (jaket) atau dalam pipa spiral yang dicelupkan. Kadang-kadang ketel
dipanasi api langsung. Pengaduk dapat ditempatkan didalamnya. Evaporator ini
murah dan operasinya sederhana. Luas perpindahan panas umumnya sangat
kecil karena bentuk dari bejana dan koefisien perpindahan panasnya cenderung
kecil karena konveksi natural. Kapasitas evaporator kecil karena rendahnya
koefisien dan luas perpindahan panas. Perpindahan panas dapat ditingkatkan
dengan adanya pengadukan. Penggunaannya terbatas karena rendahnya
kapasitas penguapan.

Gambar 1 Open Kettle or Pan


2. Horizontal-tube natural circulation evaporator
Evaporator tabung-horizontal merupakan evaporator jenis klasik yang
telah lama digunakan. Larutan yang akan dievaporasikan berada di luar tabung
horizontal dan uap mengalir di dalam tabung horizontal. Tabung horizontal
diliputi dan dikelilingi oleh sirkulasi yang alami dari cairan yang mendidih
sehingga meminimumkan pengadukan cairan. Sebagai hasilnya maka pada
evaporator jenis ini dijumpai koefisien perpindahan panas keseluruhan yang
lebih rendah berbanding pada evaporator jenis lain, ini bermanfaat khususnya

untuk mengevaporasikan larutan yang viskos. Koefisien keseluruhan yang


berada antara 200-400Btu/jam.ft2.0F (1100-2300 W/m2K) akan didapatkan,
yang tergantung pada perbedaan suhu keseluruhan, suhu didih, dan sifat larutan
yang dievaporasikan. Evaporator tabung horizontal biasanya digunakan untuk
kapasitas yang kecil dan untuk mengevaporasikan larutan yang encer dan
larutan ini tidak berbusa dan tidak meninggalkan deposit padatan pada tabung
evaporator.

Gambar 2 Horizontal Tube Evaporator


Disebut horizontal karena tube-tubenya terletak horizontal, karena
kondisinya yang demikian, harga evaporator ini relatif murah dengan
konstruksi design yang memudahkan penggantian tube-tubenya. HTE
merupakan evaporator yang sudah tua dan jarang digunakan. Tube-tube dalam
HTE merupakan tempat masaknya pemanas (biasanya steam).
Feed masuk (di luar pipa), baru kemudian steam (di dalam pipa), di dalam
pipa atau tube terjadi perpindahan panas karena adanya pemanasan, sehingga
liquid yang di luarnya mendidih dan uap yang terjadi mengalir

ke atas,

kemudian liquidnya menjadi pekat, lalu dikeluarkan melalui lubang bagian


dasar evaporator, sedangkan kondensat dikeluarkan melalui lubang yang sudah
disediakan, demikian juga gas non kondensat dikeluarkan melalui vent.
Horizontal Tube Evaporator memiliki beberapa kekurangan, seperti
perpindahan panasnya (rate of heat-transfer) rendah sekali, khususnya untuk
liquid yang viscous karena sirkulasi yang kecil, mudah terjadi kerak pada
bagian luar tube, dan pembersihan sukar dilakukan. Karena alasan-alasan
itulah, alat ini cocok untuk larutan non viscous (encer), larutan yang tidak

mengandung endapan atau difosit, larutan yang tidak terjadi endapan Kristal,
kapasitas kecil, dan larutan yang tidak menimbulkan buih (foaming).

Steam Outlet
Flue Gas
Outlet

Flue Gas Inlet

Gambar 3 Horizontal Tube Evaporator

Gambar 4 Cross-section diagram of horizontal-tube evaporator


3. Vertical-type natural circulation evaporator
Pada alat ini, cairan mengalir dalam pipa sedangkan steam pemanas
mengalir dalam shell. Cairan dalam tabung mendidih, uap yang timbul
bergerak keatas dengan membawa cairan. Sirkulasi aliran dalam pipa terjadi
karena beda rapat massa yang terjadi karena perbedaan fasa antara fluida dalam
pipa (yaitu: campuran uap-cair) dengan yang diluar pipa (cair). Diatas pipa
terdapat ruang uap yang berfungsi untuk memisahkan cairan dengan uap. Uap
akan menuju lubang pengeluaran diatas, sedangkan cairan jatuh kebawah
melewati saluran besar yang ada ditengah bejana, dan kembali bersirkulasi

masuk pipa-pipa. Konveksi alami (natural convection) berjalan baik sehingga


transfer panas Iebih efisien. Kerak dan endapan terbentuk didalam pipa,
sehingga lebih mudah untuk dibersihkan. Adanya sirkulasi menyebabkan
cairan berkali-kali kontak dengan permukaan pemanas. Hal ini kurang baik
untuk bahan-bahan yang tidak tahan terhadap panas, misalnya: susu, juice dan
berbagai dairy product. Aplikasi : sugar, salt & soda insdustries.

Gambar 5 Vertical-type natural circulation evaporator

4. Long-tube vertical-type evaporator


Untuk memperbesar kecepatan sirkulasi cairan dengan harapan koefisien
perpindahan panas makin tinggi, pipa-pipa transfer panas dibuat lebih panjang.
Aliran cairan, setelah masuk ruang uap untuk dipisahkan dengan uap yang

terbentuk, kembali kebawah melalui pipa diluar evaporator. Aplikasi:


producing condensed milk.
Keuntungan: Koefisien transfer panas karena sirkulasi alami (natural
circulation) lebih besar, sehingga transfer panas bisa lebih efisien.
Kerugian:
Jumlah cairan yang menguap setiap pas ssangat besar (karena pipa panjang)
sehingga konsentrasi lokal dimulut pipa bagian atas akan sangat tinggi (ingat:
cairan dalam evaporator tidak homogen, karena adanya perbedaan suhu dan
konsentrasi padatan lokal). Hal ini dapat menyebabkan kristalisasi /
pembentukan gel pada pipa, sehingga bisa mengganggu sirkulasi aliran.

Gambar 6 Long-tube vertical-type evaporator


5. Falling-film-type evaporator
Dalam falling film evaporator, cairan mengalir kebawah membentuk film
disekeliling dinding dalam pipa. Aliran disebabkan oleh gaya berat dan
gesekan uap. Uap yang terbentuk bergerak kebawah. Meskipun t kecil, tetapi

aliran tetap baik karena adanya gaya gravitasi (bandingkan dengan natural
convection evaporator). Luas permukaan pemanasan jauh Iebih besar
dibandingkan dengan volume cairan dalam evaporator. Hal ini memungkinkan
transfer panas yang cukup dan perusakan bahan belum banyak terjadi karena
waktu tinggal yang kecil (volume cairan dalam evaporator kecil). Kapasitas
alat ini tidak bisa divariasi terlalu besar. Pembahasan lebih detil tentang alat ini
ada pada sub-bab berikutnya. Aplikasi: fruit juice (orange, etc..). Contoh
beberapa jenis falllng film maupun rising film evaporator dapat dilihat pada
gambar-gambar dibawah.

Gambar 7 Falling Film Evaporator

6. Forced-circulation-type evaporator
Sirkulasi cairan untuk memperbesar koefisien transfer panas dibantu
dengan pompa. Perpindahan panas terjadi karena konveksi paksa (forced
convection) sehingga koefisien transfer panas bisa lebih tinggi. Disamping itu,

karena arus sirkulasi besar, maka penyumbatan-penyumbatan dalam pipa bisa


diatasi oleh aliran oleh pompa. Pipa tidak terlalu panjang. Sirkulasi berjalan
cepat, sehingga larutan dalam evaporator lebih homogen. Adanya pompa yang
menjadi satu dengan evaporator membuat alat ini lebih mahal (baik biaya
pembelian maupun biaya operasinya). Karena aliran keluar pipa cepat, maka
pemisahan uap-cairan dalam ruang uap menjadi Iebih sulit, sehingga
diperlukan baffle,yang Iebih balk dan ruang pemisah yang Iebih besar dibagian
atas. Aplikasi: processing viscous liquid.

Gambar 8 Vertical-tube Evaporator Forced Circulation

Gambar 9 Forced-circulation-type evaporator


7. Agitated-film evaporator
Nama lain : turbulent film evaporator atau wioed-film evaporator
(untuk yang horisontal). Evaporator berbentuk tabung (shell) vertikal atau
horizontal, dengan pemanas diluar tabung. Pada sumbu tabung terdapat batang
yang dapat diputar, yang dilengkapi dengan sirip-sirip. Pada vertical agftated
fllm evaporator, saat batang berputar, cairan bergerak kebawah akan terlempar
ketepi tabung (bagian panas) karena putaran sirip. Cairan ditepi tabung akan
terpental kembali ketengah tabung. Pada bagian atas tabung disediakan ruang
untuk pemisahan uap cairan. Transfer panas berjalan dengan sangat efisien.
Problem penyumbatan dan konsentrasi local yang tinggi dapat teratasi.
Agitated film evaporator dirancang untuk larutan yang sangat kental (viskositas
tinggi) atau untuk memproduksi padatan. Meskipun demikian, alat ini mahal,
konstruksinya sulit dan biaya operasinya tinggi (karena perlu tenaga
pengadukan).

Gambar 10 Agitated-film Evaporator


8. Open-pan solar evaporator
Open pan solar evaporator adalah proses yang sangat tua tetapi tetap
digunakan untuk proses pembuatan garam. Pada prinsipnya air garam
dimasukkan di dalam open pan dan dibiarkan menguap perlahan dibawah sinar
matahari untuk mengkristalkan garam.

Gambar 11 Diagram Proses Pembuatan Garam

Gambar 12 Flow Sheet Pembuatan Garam Menggunakan Solar Evaporation


Pada proses pengkristalan apabila seluruh zat yang terkandung
diendapkan/dikristalkan akan terdiri dari campuran bermacam-macam zat yang
terkandung, tidak hanya Natrium Klorida yang terbentuk tetapi juga beberapa
zat yang tidak diinginkan ikut terbawa (impurities). Proses kristalisasi yang
demikian disebut kristalisasi total. Untuk mengurangi impuritis dalam garam
dapat dilakukan dengan kombinasi dari proses pencucian dan pelarutan cepat
pada saat pembuatan garam. Sedangkan penghilangan impuritis dari produk
garam dapat dilakukan dengan proses kimia, yaitu mereaksikannya dengan
Na2CO3 dan NaOH sehingga terbentuk endapan CaCO3 dan Mg(OH)2.