Anda di halaman 1dari 20

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Manusia dalam kesehariannya tidak akan lepas dari kebudayaan, karena manusia adalah
pencipta dan pengguna kebudayaan itu sendiri. Manusia hidup karena adanya kebudayaan,
sementara itu kebudayaan akan terus hidup dan berkembang manakala manusia mau
melestarikan kebudayaan dan bukan merusaknya. Dengan demikian manusia dan kebudayaan
tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena dalam kehidupannya tidak mungkin tidak
berurusan dengan hasil-hasil kebudayaan, setiap hari manusia melihat dan menggunakan
kebudayaan, bahkan kadang kala disadari atau tidak manusia merusak kebudayaan.
Manusia, agama dan kebudayaan mempunyai hubungan yang erat dalam kehidupan.
Seperti hal nya pengaruh Islam dalam kebudayaan Indonesia. Islam dapat diterima oleh
masyarakat Indonesia salah satunya adalah dalam penyebarannya dengan menggunakan
pendekatan terhadap kebudayaan yang ada di Indonesia. Contohnya wayang yang dijadikan
media dakwah Islam oleh para wali di zamannya.
Memang agama bukan budaya, tetapi kehidupan keagamaan tidak dapat dilepaskan dari
kehidupan kebudayaan. Agama berisi aturan dan norma yang mengatur kehidupan dan kematian
manusia sebagai makhluk individ dan social agar berperilaku baik dan bertujuan untuk mencapai
keselamatan di dunia dan akhirat.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian, unsur dan fungsi kebudayaan?
2. Jelaskan Islam dan kebudayaan Arab pra Islam!
3. Jelaskan Islam sebagai gejala budaya dan gejala social!
4. Jelaskan Islam sebagai wahyu dan produk sejarah!
1.3 Tujuan
1. Mengetahui dan dapat menjelaskan pengertian, unsur dan fungsi kebudayaan.
2. Mengetahui dan dapat menjelaskan Islam dan kebudayaan Arab pra Islam.
3. Mengeahui dan dapat menjelaskan Islam sebagai gejala budaya dan gejala social.
4. Mengetahui dan dapat menjelaskan Islam sebagai wahyu dan produk sejarah.
BAB 2
PEMBAHASAN

[1]

2.1. Pengertian, Unsur dan Fungsi Kebudayaan


A. Pengertian Kebudayaan
Istilah kebudayaan merupakan tejemahan dari istilah culture dari bahasa
Inggris.Kata culture berasal dari bahasa latin colore yang berarti mengolah,
mengerjakan, menunjuk pada pengolahan tanah, perawatan dan pengembangan tanaman
dan ternak. Upaya untuk mengola dan mengembangkan tanaman dan tanah inilah yang
selanjutnya dipahami sebagai culture.
Sementara itu, kata kebudayaan berasal dari bahasa sansekerta, buddhayah yang
merupakan bentuk jamak dari kata buddhi. Kata buddhi berarti budi dan akal. Kamus
besar Bahasa Indonesia mengartikan kebudayaan sebagai hasil kegiatan dan penciptaan
batin (akal budaya) manusia seperti kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat.
Berikut akan dijelaskan beberapa pengertian Kebudayaan yang dikemukakan oleh
para ahli:
a. Prof.Dr.Koentjoroningrat (1985: 180): Kebudayaan adalah keseluruhan sistem
gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat
yang dijadikan milik dari manusia dengan belajar.
b. Ki Hajar Dewantara: Kebudayaan berarti buah budi manusia adalah hasil
perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni zaman dan alam yang
merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan
dan kesukaran didalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan
dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai.
c. Edward B. Taylor: Kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang
didalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum,
adapt istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat oleh seseorang
sebagai anggota masyarakat.
d. b. M. Jacobs dan B.J. Stern: Kebudayaan mencakup keseluruhan yang meliputi
bentuk teknologi social, ideologi, religi, dan kesenian serta benda, yang
kesemuanya merupakan warisan social.
B. Unsur Kebudayaan
Koentjaraningrat (1985) menyebutkan ada tujuh unsur-unsur kebudayaan. Ia
menyebutnya sebagai isi pokok kebudayaan. Ketujuh unsur kebudayaan universal
tersebut adalah :
1. Kesenian.
2. Sistem teknologi dan peralatan.
3. Sistem organisasi masyarakat.
[2]

4.
5.
6.
7.

Bahasa.
Sistem mata pencaharian hidup dan sistem ekonomi.
Sistem pengetahuan.
Sistem religi.

Pada jaman modern seperti ini budaya asli negara kita memang sudah mulai
memudar, faktor dari budaya luar memang sangat mempengaruhi pertumbuhan
kehidupan di negara kita ini. Contohnya saja anak muda jaman sekarang, mereka sangat
antusias dan up to date untuk mengetahui juga mengikuti perkembangan kehidupan
budaya luar negeri. Sebenarnya bukan hanya orang-orang tua saja yang harus
mengenalkan dan melestarikan kebudayaan asli negara kita tetapi juga para anak muda
harus senang dan mencintai kebudayaan asli negara sendiri. Banyak faktor juga yang
menjelaskan soal 7 unsur budaya universal yaitu :
1. Kesenian
Setelah memenuhi kebutuhan fisik manusia juga memerlukan sesuatu yang dapat
memenuhi kebutuhan psikis mereka sehingga lahirlah kesenian yang dapat memuaskan.
2. Sistem teknologi dan peralatan
Sistem yang timbul karena manusia mampu menciptakan barang barang dan
sesuatu yang baru agar dapat memenuhi kebutuhan hidup dan membedakan manusia
dengam makhluk hidup yang lain.
3. Sistem organisasi masyarakat
Sistem yang muncul karena kesadaran manusia bahwa meskipun diciptakan
sebagai makhluk yang paling sempurna namun tetap memiliki kelemahan dan kelebihan
masing masing antar individu sehingga timbul rasa utuk berorganisasi dan bersatu.
4. Bahasa
Sesuatu yang berawal dari hanya sebuah kode, tulisan hingga berubah sebagai
lisan untuk mempermudah komunikasi antar sesama manusia. Bahkan sudah ada bahasa
yang dijadikan bahasa universal seperti bahasa Inggris.
5. Sistem mata pencaharian hidup dan sistem ekonomi
Sistem yang timbul karena manusia mampu menciptakan barang barang dan
sesuatu yang baru agar dapat memenuhi kebutuhan hidup dan membedakan manusia
dengam makhluk hidup yang lain.
[3]

6. Sistem pengetahuan
Sistem yang terlahir karena setiap manusia memiliki akal dan pikiran yang
berbeda sehingga memunculkan dan mendapatkan sesuatu yang berbeda pula, sehingga
perlu disampaikan agar yang lain juga mengerti.
7. Sistem religi
Kepercayaan manusia terhadap adanya Sang Maha Pencipta yang muncul karena
kesadaran bahwa ada zat yang lebih dan Maha Kuasa.
C. Fungsi Kebudayaan
Fungsi kebudayaan yaitu untuk mengatur manusia agar dapat mengerti bagaimana
seharusnya bertindak dan berbuat untuk menentukan sikap kalau akan berbehubungan
dengan orang lain didalam menjalankan hidupnya. Kebudayaan berfungsi sebagai:
1. Suatu hubungan pedoman antar manusia atau kelompok, contohnya: norma.
Normama adalah kebiasaan yang dijadikan dasar bagi hubungan antara orangorang tersebut sehingga tingkah laku masing-masing bisa diatur. Norma sifatnya
tidak tertulis dan berasal dari masyarakat. Makan apabilsa dilanggar, sangsinya
berupa semoohan dari masyarakat.
2. Wadah untuk menyalurkan perasaan-perasaan dan kehidupan lainnya, contoh:
kesenian.
3. Melindungi diri kepada alam. Hasil karya masyarakat melahirkan teknologi atau
kebudayaan kebendaan yang mempunyai kegunaan utama di dalam melindungi
masyarakat terhadap lingkungan alamnya.
4. Pembimbing kehidupan manusia.
5. Pembeda antar manusia dan binatang.
2.2. Islam dan Kebudayaan Arab pra Islam
A. Kehidupan Masyarakat Arab pra Islam
Kehidupan masyarakat Arab pada masa pra islam dikenal dengan sebutan zaman
jahiliyah. Zaman jahiliyah adalah zaman kebodohan atau kegelapan terhadap kebenaran.
Tatanan sosial dan akhlak tidak berjalan semestinya, yang kuat senantiasa menindas
yang lemah, kaum wanita menjadi sasaran tindak kejahatan dan masih banyak lagi
pelanggaran-pelanggaran yang terjadi pada masa itu. Kehidupan mereka belum teratur
seperti sekarang. Pada waktu itu kehidupan mereka sangat keras, hidup bersuku-suku,
dan suka berperang. Masyarakat Arab kehilangan kendali, tidak ada panutan yang dapat

[4]

menuntun ke arah kebaikan, yang ada hanyalah kehidupan jahiliyah. Perilaku


masyarakat senantiasa bertentangan dengan nilai-nilai kebaikan dan tidak ada yang
menyembah Allah SWT.
Mereka tidak mengenal perikemanusiaan dan hidup tanpa dasar keimanam. Kaum
wanita dipandang makhluk yang lemah dan hidup tertindas di bawah kekuasaan kaum
pria.

Bahkan

bila

bayi

lahir

wanita

maka

akan

dikubur

hidup-hidup.

Mereka menyembah berhala dan kalau sudah jemu/bosan berhala itu pun diperjualbelikan, menurut mereka sikap kejujuran adalah merupakan suatu keanehan bagi mereka
sedangkan kemunafikan menjadi hal yang biasa, dan perzinaan, minum-minuman
keras,berfoya-foya merupakan suatu kesenangan bagi orang-orang jahiliyah. Mencuri
dan merampok merupakan bagian dari kehidupan mereka. Bagi mereka yang penting
adalah hidup untuk makan, sekalipun harus megorbankan orang lain. Peradaban mereka
sendiri tidak berkembang dan hidup dalam kebodohan. Keadaan semacam itu dapat
diselamatkan dengan lahir dan tumbuhnya agama islam di Jazirah Arab.
B. Sistem Kepercayaan dan Kebudayaan Arab pra Islam
Dalam hal kepercayaan (Aqidah), bangsa Arab pra Islam percaya
kepada Allah sebagai pencipta. Mereka sudah memahami keesaan
Allah dan mengikuti agama yang menuhankan Allah. Sebelum Nabi
Muhammad Saw. diutus, mereka sudah kerap kali kedatangan dakwah
dari para nabi utusan Allah, yang menyampaikan seruan agar
menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa semata-mata, jangan
sampai mempersekutukan sesuatu dengan-Nya.
Nabi-nabi utusan Allah yang datang dan berdakwah kepada
bangsa Arab diantaranya Nabi Nuh as diutus untuk kaum Ad dan
Nabi Shaleh diutus untuk kaum Tsamud. Mereka tidak mau menerima
seruan para nabi Allah itu hingga diutusnya Nabi Ibrahim as dan Nabi
Ismail as. Seruan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail diterima baik di sekitar
Jazirah Arab. Namun beberapa puluh tahun kemudian, kesucian
agama Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail diputarbalikkan, diubah, direka,
ditambah, dan dikurangi oleh para pengikutnya.
Menurut Munawar Chaili, yang dikutip oleh Maslani dan Ratu
Suntiah bangsa Arab percaya dan yakin bahwa tuhan itu ada dan
[5]

tuhan itu Maha Esa. Dia yang menciptakan segenap makhluk, yang
mengurus, yang mengatur, dan pemberi sesuatu yang dihajatkan oleh
segenap makhluk. Akan tetapi, dalam menyembah (beribadah)
kepadanya, mereka membuat atau mengadakan berbagai perantara,
dengan tujuan untuk mendekatkan diri mereka kepada tuhan.
Sebagian bangsa Arab pra Islam adalah menyembah berhala.
Setiap kabilah memiliki patung sendiri, sehingga ada 360 buah
patung berada di dalam dan si sekeliling Kabah ketika Nabi
Muhammad Saw. melakukan Futuh Mekkah pada tahun delapan
hijriah. Empat patung yang terpenting di Jazirah Arab pada masa itu
adalah Hubal di Kabah, Latta di Thaif, Uzza di Hijaz, dan Manat di
Yastrib. Menurut Jaih Mubarok, mereka pada umumnya tidak percaya
pada hari kiamat dan tidak pula percaya kepada kebangkitan setelah
kematian.

Walaupun

sebagian

besar

bangsa

Arab

melakukan

penyimpangan, namun masih ada yang mempertahankan faham alHanifiyyah, ajaran Nabi Ibrahim as. Dan Nabi Ismail as. (Q.S. Ali
Imran: 67), diantaranya Umar ibn Nufai dan Zuhair ibn Abi Salma.
Dalam rangka menghormati Kabah (kegiatan haji dan umrah),
ada larangan berperang pada bulan Zulqaidah, Zulhijjah, Muharram
(mengerjakan haji) dan Rajab (mengerjakan umrah). Bulan-bulan itu
dinamai Asyhurul Hurum (bulan-bulan yang terlarang). Namun,
penduduk padang pasir sangat berat menghentikan peperangan
selama tiga bulan berturut-turut, karena perang sudah menjadi
bagian dari kegemaran (hobi) mereka, maka bulan Muharram
(berperang) ditukar dengan bulan Safar (dilarang berperang)yang
dinamai an-Nasi (pengunduran).
Mengenai kebudayaan, penduduk padang pasir (Ahl al-Badwi)
Jazirah Arab pra Islam hidup dalam budaya kesukuan Badui. Akibat
peperangan

yang

terus-menerus,

kebudayaan

mereka

tidak

berkembang. Bila mereka bekerja, mencipta, dan menegakkan suatu


kebudayaan, datanglah orang lain memerangi dan meruntuhkan.
[6]

Sejarah mereka hanya dapat diketahui kira-kira 150 tahun menjelang


lahirnya islam. Itupun hanya dapat diketahui melalui kitab-kitab suci,
syair-syair atau ceritera-ceritera yang diterima dari perawi-perawi
karena tidak ada bangunan yang dapat melukiskan sejarah mereka
ataupun tulisan-tulisan yang dapat menjelaskan sejarahnya itu.
Berbeda dengan penduduk negeri (Ahl al-Hadhlar), mereka telah
berbudaya dan sejarahnya dapat diketahui 1200 tahun SM. Menurut
Badri Yatim, mereka selalu mengalami perubahan sasuai dengan
situasi dan kondisi yang mengitarinya. Mereka mampu membuat alatalat dari besi hingga mendirikan kerajaan-kerajaan. Bendungan Marib
di kerajaan Saba Yaman, istana Khawarnaq dan istana Sadir di
kerajaan Hirah merupakan bukti hasil kebudayaan mereka, di
samping yang lain di antaranya seperti mahir pengubah syair,
sebagaimana masyarakat Badui. Syair-syair itu biasanya dibacakan,
semacam pagelaran pembacaan syair di pasar-pasar syair seperti
Ukaz, Majinah, dan Zul Majaz.
Selain itu dalam bidang arsitektur, bangunan-bangunan purba di
kawasan Arab memiliki bangunan bercorak megalitikum maupun
mesolitikum. Kabah barangkali dapat dimasukkan kedalam bangunan
bercorak mesolitikum. Karena berbentuk bangunan dengan batu-batu
kasar yang dicampur dengan lepa seadanya. Di Arab utara kota-kota
petra dan Palmyra, meskipun sudah tinggal puing-puing, masih
menunjukkan hal itu. Demikian juga yang terdapat di Arab selatan,
bahkan bekas-bekas bendungan dimasa ratu Saba(ratu Bilqist istri
Nabi Sulaiman a.s.) di abad V SM. Bisa disaksikan keunggulan
arsitektur bangsa Arab masa lalu.
Jazirah Arab terletak pada jalur perdagangan antara Syam dan
Tiongkok

(Cina).

Kota-kota

mereka

masih

menjadi

kota-kota

perniagaan sampai kehadiran Nabi Muhammad Saw. Bernad Lewis


mengungkapkan bahwa sejak zaman dahulu kala, Negeri Arab telah
tumbuh menjadi daerah transit antara negari-negeri di Laut Merah
[7]

dan Timur Jauh, dan sejarahnya berkembang semakin meluas


disebabkan oleh kesibukan lalu lintas antara Timur dan Barat.
Komunikasi ke dalam dan ke luar Jazirah Arab didukung oleh bentuk
geografisnya, melewati jalur-jalur tertentu yang terencana dengan
baik. Yang pertama dari jalur-jalur itu ialah jalan raya Hijaz, mulai dari
pelabuhan-pelabuhan laut dan pos-pos perbatasan Palestina dan
Transyordania, menelusur bagian tengah pantai-pantai Laut Merah
terus menuju ke Yaman. Jalan inilah yang dari masa ke masa ramai
oleh daratan kafilah, antara kerajaan Alexandria dan penggantipenggantinya di Timur dekat dengan negeri-negeri Asia Jauh. Di
daerah itu pulalah terletak jalan kereta api Hijaz.
Sumber ekonomi utama yang menjadi penghasilan orang Arab di
masa jahiliyah sangat dikenal dengan bisnis dan perdagangannya.
Perdagangan menjadi darah daging orang-orang Quraisy.
Firman Allah SWT

karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada


musim dingin dan musim panas. (Q.S. Quraisy :1-2).
Tafsir ayat,
Orang Quraisy biasa Mengadakan perjalanan terutama untuk berdagang ke
negeri Syam pada musim panas dan ke negeri Yaman pada musim dingin. dalam
perjalanan itu mereka mendapat jaminan keamanan dari penguasa-penguasa dari
negeri-negeri yang dilaluinya. ini adalah suatu nikmat yang Amat besar dari Tuhan
mereka. oleh karena itu sewajarnyalah mereka menyembah Allah yang telah
memberikan nikmat itu kepada mereka.
Jalan kedua melewati Wadid Dawasir, mulai dari penghujung
timur-laut Yaman ke pusat negeri Arab, yang menghubungkannya
dengan

jalur-jalur

lain,

yaitu

Wadis

Rumma,

ke

selatan

Mesopotamia. Jalur tersebut adalah penghubung (medium) yang


[8]

utama

pada

masa

dulu,

antara

Yaman

dengan

kebudayaan-

kebudayaan Asyiria dan Babilonia. Akhirnya Wadis Sirhan yang


mengkaitkan Arab tengah dengan tenggara Syiria via oasisi Jawf.

C. Hukum yang Berlaku di Arab pra Islam


Sebelum datang istilah yang dikenal untuk sebutan hukum orang Arab, yaitu
hukum jahiliyah. Jahiliyah secara bahasa artinya: kebodohan, kejam, marah atau
berlebihan dalam menilai sesuatu. Pengertian sesuai dengan keadaan bangsa Arab
sebelum Islam datang di mana fatrah (kevakuman) antara Nabi Isa as kepada Nabi
Muhammad saw. Ketika itu sering terjadi perlakuan kejam, perbuatan yang berlebihan,
seperti sikap congkak, pemujaan berhala, peperangan antar suku karena persoalan
sepele, mengubur bayi perempuan hudup-hidup dan sebagainya.
Hamka berpendapat, hukum jahiliyah juga diistilahkan sekarang dengan hukum
rimba, yaitu menegakkan yang salah dan mengalahkan yang benar. Hukum bukan
berdasarkan kepada kedilan, tetapi kepada kekuatan. Siapa yang kuat dialah yang
dimenangkan meskipun dipihak yang salah. Yang lemah dikalahkan meskipun berada di
pihak benar. Hukum jahilliyah dalam prakteknya sangat dipengaruhi oleh kedudukan.
Orang Yahudi mau masuk Islam jika mereka dimenangkan. Di zaman jahiliyah
sangatlah tepat kalau praktek hukumnya dikatakan memakai hukum rimba, sebab tidak
ada perlindungan dari yang kuat terhadap yang lemah. Hal ini mengakibatkan seringnya
perang antar suku.
Berikut ini kita akan melihat praktek hukum yang lainnya yang disebut di atas
yang dilakukan oleh orang jahiliyah sebelum Islam. Dan semua hukum tersebut
direform oleh Islam menjadi hukum yang Islami :
1. Dalam Perkawinan
Sebelum Islam datang orang-orang Arab melakukan praktek hubungan sex
dengan cara binatang yang menjijikan. Pada zaman jahiliyah telah dikenal
beberapa praktek perkawinan yang merupakan warisan turun-temurun dari
perkawinan Romawi dan Persia. Pertama, perkawinan pacaran (khidn), yaitu
berupa pergaulan bebas pria dan wanita sebelum perkawinan yang resmi
dilangsungkan yang tujuannya untuk mengetahui kepribadian masing-masing
pasangan. Kedua, nikah (badl), yaitu seorang suami minta kepada laki-laki lain
[9]

untuk saling menukar istrinya. Ketiga, nikah (istibdha), yaitu seorang suami minta
kepada laki-laki kaya, bangsawan atau yang pandai agar bersedia mengumpuli
istrinya yang dalam keadaan suci sampai hamil. Setelah itu baru si suami
mengumpulinya. Keempat, nikah (raht-turunan), yaitu seorang wanita dikumpuli
oleh beberapa pria sampai hamil. Ketika anaknya lahir, lalu wanita itu menunjuk
salah satu pria yang telah mengumpulinya untuk mengakui bayi yang telah
dilahirkannya sebagai anaknya. Nikah ini sama dengan nikah baghaaya (menikahi
para pelacur).
Islam datang menghapus semua bentuk pernikahan di atas. Karena
dipandang tidak sejalan dengan naluri dan kehormatan laki-laki dan prempuan
dalam Islam serta dapat dikatakan cara binatang yang tidak mengenal aturan.
2. Dalam Hal Riba
Riba nasiah (jahiliyah) ini terjadi dalam hutang piutang. Kenapa disebut
juga riba jahiliyah, sebab masyarakat Arab sebelum Islam telah dikenal
melakukan suatu kebiasaan membebankan tambahan pembayaran atau semua
jenis pinjaman yang dikenal dengan sebutan riba. Juga disebut dengan riba jali
atau qati, sebab jelas dan pasti diharamkannya oleh Alquran. Praktek riba nasiah
ini pernah dipraktekkan oleh kaum Thaqif yang biasa meminjamkan uang kepada
Bani Mughirah. Setelah waktu pembayaran tiba, kaum Mughirah berjanji akan
membayar lebih banyak apabila mereka diberi tenggang waktu pembayaran.
Sebagian tokoh sahabat nabi, seperti paman Nabi, Abbas dan Khalid bin Walid,
pernah mempraktekkannya, sehingga turun ayat yang mengharamkannya. Ayat
pengharaman riba ini membuat heran orang musyrik terhadap larangan riba,
karena telah menganggap jual beli itu sama dengan riba.
3. Dalam hal Anak Angkat
Sebelum Islam datang, orang-orang Arab Jahiliyah telah mempraktekkan
mengangkat anak. Namun praktek pengangkatan anak ketika itu merupakan
sebuah budaya yang jauh dari norma-norma Islam. Orang Jahiliyah mengangkat
anak dengan menjadikannya sebagai anak sendiri, menghilangkan nasab aslinya
dan menggantikan nasabnya kepada dirinya (Bapak Asuh). Dengan demikian
tidak ada batasan pergaulan atara anak angkatnya yang laki-laki dengan anak asli
perempuannya. Orang jahiliyah menyamakan hak anak angkat dengan anak
aslinya dalam hal warisan dan mengharamkan kawain dengan anak perempuan
[10]

aslinya atau dengan istrinya jika ia sudah mati. Budaya seperti ini, sebelum Islam
datang sudah kebiasaan yang ramai dilakukan oleh orang-orang jahiliyah.
Sampai-sampai sebelum ada hukum yang ditegaskan oleh Islam Nabi Muhammad
saw pernah mengangkat Zaid bin Haritssah. Maka ketika itu orang-orang jahiliyah
memanggilnya Zaid dengan Zaid bin Muhammad, ketika itulah Allah swt
memerintahkan kepada Nabi untuk menerapkan hukum Islam yang baru dan
menghilangkan kebiasaan mengangkat anak pada zaman jahiliyah yang
menisbatkan nasab kepada bapak angkatnya.
4. Dalam hal Warisan
Warisan dalam zaman jahiliyah tidak memiliki aturan. Anak yang paling
dewasa pada zaman Jahiliyah. Adakalanya harta warisan diwasiatkan kepada
orang yang dikehendaki. Anak perempaun tidak mendapatkan bagian sedikit pun
dari harta warisan. Maka turunlah ayat yang mengharuskan wasiat yang dilakukan
oleh orangtua atau kerabat tanpa membatasi orang yang diwasiatkan. Setelah itu
turunlah ayat tentang warisan yang menetapkan pembagian harta warisan secara
adil, yaitu ayat yang berbunyi Bagi perempuan ada bagian harta pusaka Dan
saudara dari pihak ibu juga mendapat warisan sebagaimana pihak dari ayah
meskipun kerabat lebih besar. (Zahra, h. 188).
5. Tentang Haji
Orang Arab sebelum Islam datang merekapun melakukan ibadah haji
sebagai warisan Nabi Ibrahim dan Ismail. Akan tetapi mereka merubah cara haji
yang

pernah

dipraktekkan

oleh

Nabi

Ibrahim dan

putranya.

Mereka

menyekutukan Allah dengan berhala dan patung-patung dan mereka letakkan


patung itu di sekitar Kabah dan di atara Safa dan Marwah. Mereka mendekatkan
diri kepada Allah melalui berhala. Mereka juga merubah syair-syair haji. Mereka
menyebut nama selain nama Allah swt.
6. Tentang Qisas
Dalam tradisi jahiliyah hulum qisas ditentukan oleh adat. Anggota semua
suku bertanggung jawab atas penganiayaan yang dilakukan oleh seseorang yang
berasal dari suku lain. Seandainya ada satu orang suku tertentu dianiaya oleh
seseorang yang berasal dari suku lain maka belasannya tidak cukup menghukum
kepada pelaku penganiaya sesuai dengan pelanggarannya. Tapi orang lain yang
termasuk dari suku yang menganiaya juga mendapatkan resikonya. Akibatnya
[11]

terjadilah peperangan dua kabilah (kabilah dari pihak penganiaya dan yang
teraniaya) gara-gara penganiayaan yang hanya dilakukan secara perorangan.
Maka Islam datang menghapus tradisi ini dengan tradisi yang memenuhi keadilan
bahwa qisas (hukum balasan) hanya dikenakan kepada pelaku penganiayaan
(kriminal saja) sedangkan orang lain yang tidak melakukan penganiayaan mereka
teelindungi dari penganiayaan.
2.3. Islam sebagai Gejala Budaya dan Gejala Sosial
1. Agama Sebagai Gejala Budaya
Menurut Edward B. Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks,
yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat
istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota
masyarakat. Sedangkan menurut selo soemardjan dan soelaiman soemardi, kebudayaan
adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
Dari beberapa definisi di atas dapat diperoleh pengertian, yaitu kebudayan adalah
suatu hasil dari sebuah pemikiran dan sikap manusia secara lahir, yaitu gabungan dari
fikiran dan tenaga lahir manusia. Maksudnya, apa yang difikirkan oleh manusia
kemudian diaktualisasikan dalam kegiatan sehari-hari dan dijadikan sebagai kebiasaan,
hal yang lumrah dan bisa dikategorikan sebagai suatu hal yang wajib bagi setiap
kelompok atau wilayah tertentu.
Dan islam bukanlah sebuah kebudayaan, salah jika seseorang berpendapat bahwa
islam adalah sebuah kebudayaan. Seperti yang telah disebutkan diatas bahwa kebudayaan
adalah hasil dari pemikiran manusia. Sedangkan islam merupakan wahyu dari Allah
untuk umat manusia, bukan hasil pemikiran manusia atau bahkan hasil pemikiran rasul.
Jadi, agama selain islam merupakan sebuah kebudayaan. Dikarenakan agama
selain islam didunia, adalah hasil pemikiran dan atau perubahan-perubahan yang sangat
mencolok. Seperti hindu, budha yang merupakan agama kebudayaan, dan yahudi dan
nasrani yang juga merupakan agama yang telah direvisi sehingga menjadi agama
kebudayaan.
Akan tetapi, islam adalah agama yang mendorong umatnya untuk berkebudayaan.
Karena tutunan islam dalam al-quran, maka manusia yang menjalankan tuntunan
tersebutlah akan terdorong untuk berkebudayaan. Misalnya, islam atau al-quran
memerintahkan untuk mendirikan shalat dirikanlah sembahyang, karena perintah shalat
[12]

dikehendaki ditempat yang bersih, bersih dari najis dan dari pandangan yang dapat
mengganggu kekhusyuan shalat. Maka manusia berfikir untuk membangun tempattempat yang nyaman dan bersih, oleh karena itu terciptalah bangunan-bangunan mesjid
yang beraneka ragam bentuk dan arsitektur yang berbeda dari setiap wilayah dan negara.
Itulah mengapa islam disebut sebagai wahyu akan tetapi mendorong manusia untuk
berkebudayaan. Dan dari segi itulah maka berbagai bentuk alat-alat beribadah dan saranasarana dalam islam bisa dikatakan sebagai gejala budaya.
2. Agama Sebagai Gejala Sosial

Mengenai agama sebagai gejala sosial, pada dasarnya bertumpu pada sosiologi agama.
Pada zaman dahulu, sosiologi agama mempelajari hubungan timbal-balik antar agama dan
masyarakat. Artinya, masyarakat mempengaruhi agama dan agama mempengaruhi masyarakat.
Para ahli sosiologi agama, mulai mempelajari bukan hanya pada soal hubungan timbal-balik saja,
melainkan lebih kepada pengaruh agama terhadap perilaku atau tingkah laku masyarakat, artinya
bagaimana agama sebagai sistem nilai dapat mempengaruhi tingkah laku masayarakat dan
bagaimana pengaruh masyarakat terhadap pemikiuran-pemikiran keagamaan. Lahirnya teologi
Khawarij, Syiah dan Ahli Sunnah wal Jamaah sebagai produk atau hasil pertikaian politik dan
bukan poroduk teologi. Tauhidnya sama, satu dan asli, tetapi anggapan bahwa Ali sebagai imam
adalah produk perbedaan pandangan politik. Maka dapat dikatakan, bahwa pergeseran
perkembangan pemikiran masyarakat dapat mempengaruhi pemikiran teologi atau keagamaan.
Saat sekarang ini, mungkin kita dapat meneliti bagaimana perkembangan pemikiran
keagamaan masyarakat Indonesia terhadap krisis sosial yang meluas yang dapat disaksikan
dalam berbagai bentuk, misalnya; budaya korupsi dan nepotisme sebagai budaya, lenyapnya
kesabaran sosial [social temper] dalam menghadapi realitas kehidupan yang semakin sulit
sehingga mudah mengamuk dan melakukan berbagai tindakan kekerasan dan anarki; merosotnya
penghargaan dan kepatuhan terhadap hukum, etika, moral, dan kesantunan sosial; semakin
meluasnya penyebaran narkotika dan penyakit-penyakit sosial lainnya. Berlanjutnya konflik dan
kekerasan yang bersumberatau sedikitnya bernuansa politis, etnis dan agama seperti terjadi di
berbagai wilayah Aceh, Kalimantan Barat dan Tengah, Maluku Sulawesi Tengah, dan lain-lain.
Contoh lain, dan ini sekaligus menjadi tantangan bagi para pemeluk agama adalah
munculnya program tayangan stasiun televisi yang mengusung unsur-usnsur mistik yang
[13]

dikemas sebagai suatu tontonan yang menarik, penggunaan ayat-ayat Quran untuk mengusir
setan yang ditayangkan melalui program siaran televisi, pameran busana mewah dengan
memperlihatkan bagian tubuh [aurat] yang seharusnya ditutup rapat dan tidak ditontonkan,
munculnya kiai yang salat dengan menggunakan bahasa Indonesia, kiai yang menganggap sah
menggauli para santrinya, para intelektual Islam para era reformasi, globalisasi dan internet
mulai berbicara tauhid sosial dan kesalehan sosial, bagaimana bentuk dan karakteristik
tauhid sosial dan kesalehan sosial, mucul tokoh muslimah Amerika yang memimpin salat
jumat, itu semua dapat menjadi fenomena atau gejala sosial keagamaan dan menjadi sasaran
penenlitian agama.
Persoalan lain adalah interaksi antar pemeluk suatu agama dan antar pemeluk suatu
agama dengan pemeluk agama lainnya, kurukunan antar umat beragama, interaksi antara orangorang Islam ada yang menggunakan norma-norma Islam, tetapi ada juga yang tidak
menggunakannya. Maka, pengamatan terhadap apakah mereka menggunakan norma-norma
Islam atau tidak, termasuk penelitian ke-Islaman. Demikian juga pengamatan terhadap para
pemeluk Islam dalam interaksinya dengan pemeluk agama lain. Bagaimana karakteristik
interaksi itu, bagaimana mereka memahami dan mengeskpresikan nilai-nilai Islam dalam
interaksi antara pemeluk agama-agama yang berbeda, itu semua dapat menjadi sasaran penelitian
agama. [M.Atho Mudzhar, 1998:18]. Perubahan-perubahan dramatis yang menempa hubungan
antara "Barat" dan dunia Islam sebagai akibat dari peristiwa terorisme internasional, perang IraqAmerika, tuduhan Barat terhadap tokoh-tokoh muslim radikal sebagai pemimpin terorisme,
secara alami juga membawa dampak pada pengajaran dan riset yang terkait dengan studi Islam.
Dari pandangan tentang agama sebagai gejala budaya dan sebagai gejala sosial,
elemen-elemen yang harus diketahui dalam Islam adalah persoalan teologi, komsmologi, dan
antropologi yang tentu menyangkut dengan persoalan sosial kemanusian dan budaya. Agama
Islam merupakan suatu agama yang membentuk suatu masyarakat dan berperadaban. Maka
pendekatan yang digunakan dalam memahami Islam, menurut Mukti Ali adalah metode
filosofis, karena mengkaji hubungan manusia dan Tuhan yang dibahas dalam filsafat. Dalam
arti pemikiran metafisik yang umum dan bebas. Selain itu metode-metode ilmu manusia
juga perlu digunakan, karena dalam agama Islam masalah kehidupan manusia di bumi ini
dibahas. Metode lain, yaitu metode sejarah dan sosiologi yang Islam juga merupakan agama

[14]

yang membentuk suatu masyarakat dan peradaban serta mengatur hubungan manusia dengan
manusia.
2.4.

Islam sebagai Wahyu dan Produk Sejarah


1. Islam sebagai Wahyu
Beriman kepada Nabi Muhammad merupakan salah satu rukun islam dan rukun
iman. Seseorang tidak dapat dikatakan sebagai mukmin dan muslim jika ia tidak
mengimani akan kenabian Nabi Muhammad dan tidak mengucapkan dua kalimat
syahadat. Dalam kitab hadits Al-arbain Al-Nawawiyah karangan Imam Nawawi,
menyebutkan definisi islam, yaitu, islam adalah bahwasannya engkau bersaksi bahwa
sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan bahwa sesungguhnya Muhammad adalah
utusan Allah, engkau menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan shaum
ramadhan dan menunaikan ibadah haji ke Baitullah jika engkau berkemampuan
melaksanakannya. (HR. Bukhari dan Muslim)
Beriman kepada nabi merupakan kunci kemukminan seorang muslim terhadap
seluruh keimanan yang lain. karena Allah menurunkan wahyu-wahyunya melalui para
utusannya, seperti Al-Quran yang diturunkan melalui Nabi Muhammad SAW. Manusia
diperintahkan untuk beribadah dan hanya menyembah Allah SWT. Dan melalui Nabi
Muhammad lah, kita dituntun beribadah dan bagaimana cara menyembah Allah dengan
aturan yang telah ditentukan.
Islam merupakan satu-satunya agama samawi yang masih dan akan terus diridhoi
oleh Allah SWT. Dikatakan demikian karena, agama samawi atau agama yang
diwahyukan Allah SWT yang lain telah dilakukan perubahan-perubahan oleh para
penganutnya yaitu, Yahudi dan Nashrani. Islam juga merupakan agama yang namanya
diberikan langsung oleh Allah SWT dalam wahyunya. Seperti yang disebutkan dalam
quran surat 5 ayat 3 :
pada hari ini telah aku sempurnakan bagimu agamamu, dan aku cukupkan
bagimu nikmat-Ku, dan Aku ridhoi Islam sebagai agamamu.
Beberapa indikasi mengapa islam dikatakan sebagai satu-satunya agama yang
diturunkan Allah atau satu-satunya agama wahyu, yaitu karena islam menjaga kontinuitas

[15]

wahyu dari nabi Adam as. Sampai nabi Muhammad SAW, juga beberapa diantaranya
adalah :
Diantara agama-agama yang lain, hanya islam lah yang namanya diberikan
langsung oleh Allah dan tertulis dalam kitab sucinya. Tidak seperti agama Yahudi
(Judaisme), Hindu (Hinduisme), Budha (Budhaisme) dll. Allah Bersabda dalam
Quran Surat 3 ayat 19 :
Sesungguhnya agama yang diridoi oleh Allah adalah Islam.
Walaupun nama tuhan dalam islam sama dengan kaum kristen Arab, namun itu
hanya sama dalam penulisan semata. Sudah jelas bahwa nama Tuhan Islam Allah
adalah satu-satunya Dzat Maha Kuasa yang tiada beranak dan diperanakan.
Sedangkan nama Tuhan kristen Arab Allah hanyalah salah satu dari sebagian Tuhan
mereka yang ada puluhan bahkan ribuan Tuhan.
Bagi kaum Pluralisme islam dengan agama lainya adalah sama. Mereka
menganggap bahwa setiap agama sama benar, karena menuju satu tujuan yaitu satu
Tuhan namun dengan cara yang berbeda-beda. Namun MUI mengharamkan faham
pluralisme tersebut. Walaupun Amin Abdullah menyebutkan dalam bukunya (Studi
Agama : Normatifitas atau Historisitas) bahwa menyambut baik terhadap sikap
pluralitas tersebut. Karena dalam Al-Quran sendiri telah menyebutkan dalam Quran
Surat 109 :
"Katakan, hai orang-orang kafir!
Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.
Dan aku tidak pernah menjadi peyembah apa yang kamu sembah.
Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.
Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku."
[16]

Surat tersebut menyatakan bahwa apa yang dituju dan disembah oleh islam dan
agama lain sangatlah berbeda, maka faham kaum pluralis tersebut salah. Lagi pula, kaum
pluralis tidak secara nyata menjalakan fahamnya dalam kehidupan sehari-hari, yakni
mereka meyakini bahwa faham yang mereka yakini benar dan agama lain yang
menyatakan agama benar sendiri-sendiri adalah salah.
2. Islam sebagai Produk Sejarah
Ada beberapa bagian islam yang merupakan produk sejarah. Seperti diantaranya,
hijrahnya nabi dan pengikutnya ke Madinah. Hal tersebut merupakan sebuah pergerakan
yang menjadikan sebagai negara dimana sejarah terjadi didalamnya. Dengan islam
sebagai pegangan hidup maka islam telah memanusiakan manusia dan memasyarakatkan
mereka. Secara perlahan nabi menjadikan masyarakat tersebut menjadi menegara dan
secara perlahan pula nabi membangun sarana infrastruktur sebagai sebuah simbol atas
keislaman pengikutnya.
Contoh lainya adalah piagam Madinah, dimana produk sejarah kembali terjadi,
nabi memberikan ikatan yang sangat kuat dan solid bukan atas kesukuan atau golongan
akan tetapi atas dasar keimanan yang sama dan tentu lebih erat hubungannya dari sekedar
kesukuan. Dan untuk pertama kalinya nabi sebagai manusia yang membebaskan dan
memberikan kedamaian bagi para pemeluk agama yang berbeda-beda dalam suatu
wilayah. Sehingga tercipta pula kedamaian untuk saling beragama sesuai kehendak.
Kemudian Khulafa Urrasyiddin, yang juga merupakan produk sejarah. Saat nabi
Muhammad wafat, beliau tidak menunjuk siapapun untuk meneruskan perjuangannya.
Akhirnya secara musyawarah Abu Bakar dipilih sebagai penerus, dengan berjuang penuh
Abu Bakar melanjutkan perang yang sedang berlangsung saat itu. Walau ia hanya
memerintah selama dua tahun, tidak berarti pemerintahan beliau tidak bertindak apa-apa,
banyak jasa yang beliau torehkan. Dan saat-saat ajal menjemput Abu Bakar menunjuk
Umar sebagai penerusnya karena ia takut pergolakan akan terjadi pada umat sehingga ia
menunjuk Umar. Setelah Umar, Usman pun dijadikan Khalifah ketiga, walau cara
pemerintahannya sangatlah berbeda dari khalifah sebelumnya, Usman cukup berjasa
dalam pengumpulan Al-Quran. Terakhir Ali bin Abi Thalib, saat Ali dijadikan sebagai
Khalifah konflik banyak terjadi dari berbagai golongan karena mereka yang menentang

[17]

Ali merasa bahwa pandangan politik mereka untuk menjadikan Ali sebagai Khalifah.
Akan tetapi Ali tetap menjadi Khalifah walau ia harus terbunuh oleh salah satu kaum
yang menentang kepemimpinannya. Masa Khulafa Urrasyiddin inilah disebut sebagai
produk sejarah.

KESIMPULAN
Istilah kebudayaan merupakan tejemahan dari istilah culture dari bahasa Inggris.Kata
culture berasal dari bahasa latin colore yang berarti mengolah, mengerjakan, menunjuk pada
pengolahan tanah, perawatan dan pengembangan tanaman dan ternak. Upaya untuk mengola dan
mengembangkan tanaman dan tanah inilah yang selanjutnya dipahami sebagai culture.
Adapun diantaranya tujuh unsure kebudayaan yang universal, yaitu :
1. Kesenian.
2. Sistem teknologi
peralatan.
3. Sistem

4. Bahasa.
5. Sistem mata pencaharian

dan

hidup dan sistem ekonomi.


6. Sistem pengetahuan.
7. Sistem religi.

organisasi

masyarakat.
[18]

8.

Fungsi kebudayaan yaitu untuk mengatur manusia agar dapat mengerti

bagaimana seharusnya bertindak dan berbuat untuk menentukan sikap kalau akan
berbehubungan dengan orang lain didalam menjalankan hidupnya.
9.

Kehidupan masyarakat Arab pada masa pra islam dikenal dengan sebutan zaman

jahiliyah, yaitu zama kebodohan atau kegelapan terhadap kebenaran. Mereka tidak mengenal
perikemanusiaan dan hidup tanpa dasar keimanan.
10.

Islam adalah agama yang mendorong umatnya untuk berkebudayaan. Karena

tutunan islam dalam al-quran, maka manusia yang menjalankan tuntunan tersebutlah akan
terdorong untuk berkebudayaan. Selain itu Islam juga mengajak untuk berinteraksi antara
masyarakat dengan agama dan agama dengan masyarakat.
11.

Islam merupakan satu-satunya agama samawi yang masih dan akan terus diridhoi

oleh Allah SWT. Dikatakan demikian karena, agama samawi atau agama yang diwahyukan Allah
SWT yang lain telah dilakukan perubahan-perubahan oleh para penganutnya yaitu, Yahudi dan
Nashrani. Islam juga merupakan agama yang namanya diberikan langsung oleh Allah SWT
dalam wahyunya. Ada beberapa bagian islam yang merupakan produk sejarah. Seperti
diantaranya, hijrahnya nabi dan pengikutnya ke Madinah. Hal tersebut merupakan sebuah
pergerakan yang menjadikan sebagai negara dimana sejarah terjadi didalamnya. Dengan islam
sebagai pegangan hidup maka islam telah memanusiakan manusia dan memasyarakatkan
mereka.
12. DAFTAR PUSTAKA
13.
14. http://masfadlul.blogspot.com/2013/10/makalah-tentang-sejarah-arab-praislam.html
15. http://mmiftah09.blogspot.com/2013/09/kondisi-masyarakat-arab-praislam.html
16. http://wendisaja.wordpress.com/2014/02/19/islam-sebagai-produk-budaya/
17. http://muhammadden1.blogspot.com/2014/05/sistem-kepercayaanmasyarakat-arab-pra.html
18. http://manchesterunitedisneverdie.blogspot.com/2013/04/pendekatandalam-study-agama-sebagai.html

19. http://agussuryanalaga.blogspot.com/2013/10/masyarakat-arab-praislam.html
20. http://www.bisosial.com/2012/05/kebudayaan.html
21. http://esrastephani.blogspot.com/2009/11/definisi-fungsi-dan-unsurkebudayaan.html
22. http://jokosaputroblog.blogspot.com/makalah-kebudayaan-danagama.html
23.
24.
25.
26.

Anda mungkin juga menyukai