Anda di halaman 1dari 3

LEGALISASI ASET UNTUK KEPASTIAN

HUKUM
166.195 sertipikat Hak atas Tanah untuk masyarakat di wilayah Provinsi Jawa Tengah,
Provinsi DI Yogyakarta, Provinsi Kalimantan Timur, Provinsi Kalimantan Selatan dan
Provinsi Sulawesi Barat diberikan secara simbolis oleh Kepala BPN RI di pelataran Lumbini
Candi Borobudur, Magelang, Provinsi Jawa Tengah (Rabu, 28/08). Sertipikat Hak atas Tanah
yang diserahkan merupakan hasil pencapaian legalisasi aset tahap kedua yang pencapaian
pada akhir Agustus sebesar 67,35% dari target 70% yang harus selesai pada akhir bulan
September.
Sertipikat hak atas tanah yang diserahkan kepada masyarakat di lima provinsi tersebut terdiri
dari program PRONA, UKM, Nelayan, Pertanian, MBR, Redistribusi dan kegiatan lainnya.
Terkait dengan redistribusi tanah, di tahun 2013 ini BPN RI menargetkan untuk
meredistribusi tanah sebanyak 175.500 bidang tanah atau naik 2,5% dari target tahun
sebelumnya.
Legalisasi aset merupakan salah satu di antara Program Strategis Badan Pertanahan Nasional
yang meliputi: Redistribusi Tanah (termasuk dalam program pelaksanaan Reforma Agraria),
Penertiban Tanah Terlantar, Percepatan Penanganan Kasus Pertanahan dan Optimalisasi
Pelaksanaan Larasita. Legalisasi aset bertujuan untuk memberikan kepastian hukum dan
jaminan atas bidang-bidang tanah yang dimiliki oleh masyarakat, badan hukum publik
maupun badan hukum swasta yang diselenggarakan melalui pendaftaran tanah atau
sertipikasi tanah baik dengan menggunakan sumber dana publik maupun sumber dana
Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).
Dalam sambutannya, Kepala BPN RI menyinggung pentingnya landasan hukum dari
penataan aset dan akses. BPN RI akan mengusulkan supaya ketentuan Reforma Agraria
yang meliputi Land Reform (distribusi tanah) dan access reform diatur dalam UndangUndang Pertanahan yang segera dibahas dengan DPR RI ujar Hendarman. Lebih lanjut,
Hendarman menekankan bahwa BPN RI tidak saja memberi pelayanan untuk sertipikasi
tanah, tetapi juga memberdayakan masyarakat supaya lebih sejahtera melalui access reform
yang merupakan program pro rakyat.
Terkait dengan hal tersebut, BPN RI juga bekerjasama dengan instansi terkait, lembaga
swadaya masyarakat dan perusahaan baik BUMN maupun swasta untuk melaksanakan
program access reform. Selain itu, BPN RI telah membuat Pokja Lintas Sektor dengan
Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Koperasi dan UKM, Kementerian
Pertanian, Kementerian Perumahan Rakyat dan Kementerian Dalam Negeri yang bertujuan
untuk meningkatkan pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan sertipikasi hak atas tanah,
pendampingan dan bimbingan dari kementerian terkait bagi penerima sertipikat untuk
mendapatkan akses-akses lainnya.
Pengembangan access reform bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan para pemilik
sertipikat. Pada penutup sambutannya, Kepala BPN RI berpesan kepada para penerima
sertipikat. Permintaan saya kepada para penerima sertipikat adalah jangan dijual tanah yang
sudah bersertipikat tersebut, tetapi manfaatkan tanah secara baik pesan beliau. Selain kepada

para penerima sertipikat, Kepala BPN RI juga berpesan kepada jajarannya untuk merespon
dan menindaklanjuti keluhan-keluhan masyarakat atas pelayanan pertanahan serta dicarikan
jalan keluarnya.
Sementara itu, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dalam sambutannya meminta
agar sertifikat tanah yang sudah diberikan tidak dijual untuk kebutuhan yang
bersifat konsumtif. "Tanah yang dimiiki agar dapat digunakan secara roduktif
atau dijadikan sebagai penunjang modal usaha," katanya

Jawa Barat sebagian besar penduduknya bermata pencahaian sebagai petani, sehingga ketika
dari tahun ke tahun luas tanah garapan semakin berkurang, isu kepemilikan tanah menjadi
topik hangat.
Disinyalir, semakin banyak orang menjadi miskin karena tidak lagi memiliki lahan untuk
digarap.
Mereka yang dahulu pemilik sawah, beralih menjadi buruh tani atau petani penggarap. Di
daerah seperti Kabupaten Garut, kemiskinan tidak dapat terlepas dari masalah kepemilikan
tanah. Maka ketika Pemerintah mengeluarkan program reforma agraria yang merupakan
perpaduan antar asset reform dan access reform, disambut baik oleh semua pihak, utamanya
petani tanpa tanah.
Asset reform merupakan penataan kembali penguasaan, kepemilikan, penggunaan dan
pemanfaatan tanah berdasarkan hukum dan perundang-undangan pertanahan, mencakup
redistribusi tanah dan legalisasi aset.
Sedangkan access reform merupakan proses penyediaan akses bagi penerima manfaat
terhadap sumber-sumber ekonomi dan politik serta partisipasi ekonomi politik, modal, pasar,
teknologi, pendampingan, peningkatan kapasitas dan kemampuan yang memungkinkan
petani untuk mengembangkan tanahnya sebagai sumber kehidupan.
Asset reform tanpa diikuti access reform tidak akan berhasil membuat petani keluar dari
kemiskinan. Sebaliknya, asset reform yang diikuti dengan access reform akan menjadi jalan
bagi petani untuk keluar dari kemiskinan.
Agar dapat berjalan dengan baik, pelaksanaan reforma agraria harus melibatkan seluruh
pihak, tidak hanya pemerintah (pusat dan daerah) tetapi juga swasta dan lembaga swadaya
masyarakat (LSM), serta masyarakat penerima tanah (petani tanpa tanah). Masing-masing
pihak mempunyai peran tersendiri, tetapi tetap membutuhkan suatu koordinasi yang baik.
Secara umum, pembagian peran yang terjadi adalah: BPN berperan dalam proses asset reform
(redistribusi dan legalisasi tanah). Ada kalanya pihak swasta berperan dalam proses asset
reform, yakni ketika memberikan tanah mereka untuk diredistribusikan. Pemerintah Daerah
dan LSM lebih banyak berperan dalam access reform, walaupun dalam lingkup kegiatan yang
berbeda.

Pemerintah Daerah berperan dalam pemberian modal serta peningkatan kapasitan dan
keahlian dalam rangka membuka akses ekonomi bagi petani penerima tanah. LSM berperan
dalam pengorganisasian dan peningkatann kapasitas petani, sehingga mereka mampu
mengelola modal yang akan mereka terima bersamaan dengan pemberian tanah.
Potret keberhasilan petani dan buruh perkebunan yang menjadi sasaran pelaksanaan reforma
agraria dengan kombinasi asset reform dan access reform dalam bentuk tanah, modal (tidak
hanya berupa uang), dan keterampilan melalui pengorganisasian yang dilakukan oleh LSM,
dapat dilihat di Desa Sagara, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut.
Di Desa Sagara, buruh perkebunan berhasil meningkatkan taraf hidupnya secara signifikan.
Sebelum memiliki tanah (kebun karet), mereka bekerja sebagai buruh perkebunan dengan
upah sebesar Rp. 220.000 per bulan. Setelah memperoleh tanah seluas rata-rata satu hektar
per kepala keluarga dan tanaman karet, pendapatan mereka per bulan mencapai Rp.
7.000.000. Tentunya mereka dibekali juga dengan keterampilan dalam mengelola perkebunan
karet dan juga pemasarannya.