Anda di halaman 1dari 17

PROSES INDUSTRI KIMIA

PEMbuatan pembersih kaca

OLEH :
KELOMPOK 5 KELAS A-3

1.
2.
3.
4.

AZMI ROHAYA
DEWI RATNASARI
NADYA DWI LARASATI
ULIS MAWARDANI

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS MALIKUSSALEH
LHOKSEUMAWE
2016
Kata Pengantar

Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam selalu
tercurahkan kepada Rasulullah SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya kami
mampu menyelesaikan tugas makalah ini guna memenuhi tugas Mata Kuliah
Proses Industri Kimia. Ucapan terima kasih juga kami ucapkan kepada Dosen
Mata Kuliah Proses Industri Kimia atas tugas yang telah diberikan sehingga
menambah pemahaman kami tentang Pembuatan Pembersih Kaca dalam
Makalah yang kami buat. Dalam pembuatan atau materi ini tidak sedikit hambatan
yang kami hadapi. Namun kami menyadari bahwa kelancaran dalam penulisan
dan penyusunan makalah ini tidak lain berkat Allah SWT sehingga kendalakendala yang kami hadapi dapat teratasi. Makalah ini disusun selain untuk
memenuhi tugas Mata Kuliah Proses Industri Kimia

juga disusun untuk

memperluas ilmu tentang Pembuatan Pembersih Kaca, yang kami dapatkan dari
berbagai referensi.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas bagi para
pembaca. Kami sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari
sempurna. Untuk itu kepada Dosen Mata Kuliah kami meminta masukannya demi
perbaikan pembuatan makalah kami dimasa yang akan datang dan mengharapkan
kritik dan saran dari para pembaca.

Lhokseumawe, 11 Januari 2016

Kelompok V

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR......................................................................................

ii

DAFTAR ISI....................................................................................................

iii

BAB I PENDAHULUAN. 1
1.1 Latar Belakang................................................................................
1
1.2 Rumusan Masalah...........................................................................

1.3 Tujuan Penulisan.............................................................................

BAB II TINJAUAN PUSTAKA.....................................................................3


2.1 Pengertian Pembersih Kaca............................................................

2.2 Fungsi Pembersih Kaca.................................................................... 6


2.3 Sifat Bahan Pembersih Kaca...........................................................

2.4 Dampak Bahan-Bahan Pembersih Kaca Terhadap Kesehatan........

BAB III METODOLOGI PERCOBAAN


....31
3.1 Alat dan Bahan......................................................................................31
3.1.1 Alat yang digunakan .........................................................................32
3.1.2 Bahan yang digunakan.......................................................................32
3.2 Prosedur Kerja......................................................................................31
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN...................................
35
4.1 Hasil..............................................................................................

35

4.2 Pembahasan..................................................................................

35

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN....................................


35
5.1 Kesimpulan...................................................................................

35

5.2 Saran.............................................................................................

35

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 36
LAMPIRAN A ANALISIS EKONOMI......................................................... 37
LAMPIRAN B GAMBAR............................................................................... 37

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Kebersihan lantai keramik dan kebersihan kaca merupakan salah satu

indikasi kebersihan suatu tempat secara umum dan dapat dikaitkan dengan
penularan berbagai penyakit ataupun penyebaran mikroorganisme. Banyak cara
yang dapat dilakukan untuk menjaga kebersihan kaca dan kebersihan lantai.
Contohnya, kebiasaan melepas sepatu sebelum masuk ke rumah dapat mengurangi
penyebaran mikroorganisme penyebab infeksi mata, perut dan paru-paru,
membersihkan kaca yang setiap hari. Selain kebiasaan tersebut, masyarakat juga
menggunakan cairan pembersih lantai untuk menjaga kebersihan kaca dan
kebersihan lantai. Cairan pembersih kaca dan pembersih lantai memiliki berbagai
macam komposisi; antara lain air, pewarna, pewangi dan zat disinfektan.
Disinfektan adalah produk atau biosida yang digunakan untuk membunuh
mikroorganisme di dalam maupun di permukaan suatu benda mati. Zat ini tidak
harus bersifat sporosidal, melainkan sporostatik yaitu dapat menghambat
pertumbuhan kuman. Antiseptik adalah produk atau biosida yang dapat
menghancurkan atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme di dalam
maupun permukaan suatu jaringan hidup. Beberapa disinfektan yang biasa
digunakan sebagai pembersih lantai adalah lysol (klorofenol dan kresol), karbol
(fenol) dan kreolin.
Zat disinfektan dalam cairan pembersih lantai akan membunuh
mikroorganisme yang terdapat di lantai. Mikroorganisme tersebut antara lain
adalah Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, Enterobacter cloacae,
Salmonella sp. dan lain-lain. Beberapa penelitian membuktikan bahwa
Escherichia coli (E. coli) termasuk salah satu bakteri yang paling sering
ditemukan di lantai. Selain itu, Staphylococcus aureus (S. aureus) merupakan
salah satu bakteri yang sering ditemukan di berbagai tempat, antara lain:
permukaan benda, baju, lantai, tanah, rumah sakit, bahkan pada kulit manusia, dan
bersifat patogen bagi manusia. Berdasarkan uraian tersebut, S. aureus & E. coli
menjadi pilihan untuk digunakan sebagai bakteri uji pada penelitian ini.

Banyak cairan pembersih lantai di pasaran yang oleh produsen diakui


dapat membunuh kuman, namun perlu diuji kebenarannya. Di lain pihak, suatu
produk yang menjadi pilihan tentunya adalah yang paling ampuh dalam
membunuh kuman. Pengujian koefisien fenol merupakan suatu uji baku
efektivitas suatu disinfektan yang umum dilakukan & telah distandardisasi oleh
British Standard 5197: 1976. Berdasarkan uraian di atas, peneliti ingin
mengetahui koefisien fenol beberapa sampel cairan pembersih lantai yang
mencantumkan zat disinfektan sebagai salah satu kandungannya dan sebagai
bakteri uji dipilih S. aureus dan E. coli.
1.2

Rumusan Masalah

1.

Apa saja bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan pembersih kaca?

2.

Bagaimana proses pembuatan pembersih kaca?

3.

Berapa banyak rincian biaya yang dikeluarkan dalam pembuatan


pembersih kaca?

1.3

Tujuan Penulisan

1.

Untuk mengetahui bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan pembersih


kaca.

2.

Untuk mengetahui proses pembuatan pembersih kaca.

3.

Untuk mengetahui berapa banyak rincian biaya yang dikeluarkan dalam


pembuatan pembersih kaca.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Pengertian Pembersih kaca


Pembersih kaca adalah cairan yang mengandung bahan An-Ionic

Surfactant yang bersifat Heavy Duty Cleaner. Yang dimaksud dengan bersifat
heavy duty cleaner adalah Cairan pembersih serba guna dengan daya bersih yang
sangat kuat untuk dapat membersihkan berbagai jenis kotoran, debu minyak
grease dengan daya kerja yang sangat ekonomis dan bersih seluruhnya. Mampu
membersihkan kotoran, noda minyak, bekas asap dan noda-noda lain yang
menempel pada kaca. Pembersih kaca merupakan salah satu produk jenis rumah
tangga, yang fungsinya membersihkan kaca dari kotoran-kotoran yang menempel
seperti debu dsb. Pada dasarnya banyak produk pembersih kaca yang
mengandung amoniak (NH4OH) dengan pH berkisar antara 8-10. Pada pembuatan
pembersih kaca biasanya pH diatur sedemikian rupa agar pH tidak terlalu asam
maupun basa, pengaturan pH ini sangatlah berpengaruh terhadap keselamatan
pengguna maupun lingkungan, oleh Karena itu atur pH diatur agar tidak terlalu
asam mupun basa. Selain itu juga terdapat pembersih kaca yang tidak
menggunakan amoniak, biasanya memiliki pH berkisar 8-7.
Adapun glass cleaner (pembersih kaca) yang baik ialah pembersih kaca
yang:
1.

Mampu membersihkan permukaan kaca dengan baik.

2.

Mengkilapkan permukaan kaca.

3.

Dapat mencegah kembalinya kotoran.

4.

Tidak bersifat korosi.


Bahan yang digunakan adalah bahan aktif yang merupakan zat pembersih

dan penurun tegangan permukaan, sehingga kotoran seperti protein, debu dsb
mudah terangkat.

2.2

Fungsi Pembersih Kaca


Pembersih kaca yang dapat melarutkan semua kotoran, noda minyak,

bekas asap, serta noda-noda lain dipermukaan kaca. Menjadikan permukaan kaca
terasa licin dan lebih bersih. Cepat kering sehingga tidak menjebak debu lagi.
2.3

Sifat Bahan Pembersih Kaca


Berikut ini adalah sifat dari bahan-bahan pembersih kaca:

1.

Amonium Hidroksida (NH4OH)


Amonia adalah larutan gas amoniak (NH3) dalam air, berbau khas
menusuk hidung. Kelarutan gas amoniak dalam air sangat besar yaitu 1.145 l/l air
pada suhu 0 oC dan tekanan 1 atmosfer, gas ini juga larut dalam alkohol dan eter.
Bila uap amonia bercampur dengan uap asam klorida maka akan terbentuk kabut
putih yang mengendap. Endapan putih tersebut adalah NH4Cl padat yang disebut
salmiak. Dalam dunia perdagangan dapat dijumpai larutan amonia pekat yang
mengandung 25% gas NH3. Larutan amonia pekat harus disimpan di tempat yang
sejuk agar konsentrasinya tidak menurun karena menguap.

2.

IPA (Isopropil Alkohol)


Isopropil alkohol adalah nama populer dari senyawa kimia dengan rumus
molekul C3H8O atau C3H7OH. Senyawa ini merupakan senyawa tak berwarna,
mudah terbakar dengan bau menyengat. Senyawa ini merupakan alkohol sekunder
yang paling sederhana, di mana atom karbon yang mengikat gugus alkohol juga
mengikat 2 atom karbon lain (CH 3)2CHOH. Merupakan isomer struktur dari 1propanol.

3.

Emal
Jumlah Emal dalam formula yang diperlukan dalam pembuatan cairan
pembersih kaca sangatsedikit namun keberadaannya sangat diperlukan. Secara
kimia, Emal termasuk golongan surfaktan alkil sulfat. Senyawa ini merupakan
bahan inti pada produk cairan pembersih kaca. Bahan ini berbentuk pasta tidak
berwarna dan bening. Jenis surfaktan ini mempunyai kemampuan mengeluarkan
busa dalam jumlah cukup banyak dan mempunyai daya pembersih (cleansing

ability) yang cukup tinggi. Kelarutannya dalam air mendekati 100% (larut
sempurna), hanya kecepatan pelarutannya rendah. Artinya untuk melarutkannya
membutuhkan waktu lama.
4.

Pewarna
Warna cairan pembersih kaca yang umumnya beredar di pasaran adalah

hijau, kuning, dan biru. Banyaknya jumlah pewarna yang digunakan tergantung
selera

masing-masing.

Meskipun

jumlah

pemakaiannya

sangat

sedikit,

keseragaman warna poduk harus dijaga. Itulah sebabnya pada penyusunan


formula, bahan ini tidak dimasukkan dalam hitungan yang mengikat.
5.

Parfum
Jenis parfum yang dipakai untuk cairan pembersih kaca harus memiliki

kualitas dan aroma yang khas. Hal ini perlu dipertimbangkan mengingat konsume
n dari produk ini mencerminkan golongan ekonomi tertentu di masyarakat.
6.

Air
Air yang ideal digunakan adalah air sudah mengalami deionisasi

(deionized water). Tujuannya untuk menjaga kestabilan produk. Akan tetapi, jika
kondisi air di daerah bersangkutan tidak menimbulkan masalah serius, dapat
digunakan air biasa (air tanah).
2.4

Dampak Bahan-Bahan Pembersih Kaca Terhadap Kesehatan


Amonia merupakan salah satu bahan yang digunakan dalam pembersih

kaca. Amonia Biasanya digunakan pada produk pembersih kaca. Efek potensial
pada kesehatan mata, hidung, tenggorokan perih, nyeri pada paru-paru, sakit
kepala, mual dan muntah, batuk, pusing, nafas tersengal-sengal, luka pada selaput
mata, membakar kulit edan paru-paru nkarena zat kimia. Bila bersatu dengan
klorin akan menghasilkan gas yang mematikan. Penggunaan lain : sabun anti
bakteri, penyubur, plastic, memproses makanan kimia, proses industry, dan
pestisida.
Pewangi juga merupakan bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan
pembersih kaca yang mempunyai efek samping yaitu Bahan pewangi yang sering

menimbulkan masalah, umumnya berasal dari senyawa cloro fluoro carbon atau
dikenal dengan nama CFC. Gas ini dapat bereaksi dengan ozon. Ozon berfungsi
melindungi bumi dan sinar ultraviolet yang dapat menyebabkan kanker. Karena
ozon bereaksi dengan CFC, maka ozon semakin tipis dan akhirnya hilang sama
sekali. Di belahan bumi utara ada daerah yang sudah bocor ozonnya. Apabila ozon
rusak, dampaknya adalah serangan sinar ultraviolet terhadap penghuni bumi.
Beberapa pewangi yang dapat menyebabkan dampak negatif secara langsung.
Misalnya, menyebabkan iritasi kulit. Penghisapan secara langsung pada pewangi
semprot dapat menyebabkan gangguan pada system pernapasan, Oleh karena itu,
hindari mencium langsung pewangi pada saat disemprotkan.

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1

Alat dan Bahan

3.1.1

Alat yang digunakan

1.

Ember

2.

Pengaduk

3.

Sarung Tangan

4.

Neraca Digital

5.

Gelas ukur

6.

Kaca arloji

7.

Spatula

3.1.2

Bahan yang digunakan

1.

Emal 2 gram

2.

IPA (Iso Propil Alkohol) 400 ml

3.

Alkohol 2 ml

4.

NH4OH (Ammonium Hidroksida) 2 ml

5.

Air

6.

Pewangi secukupnya

7.

Pewarna secukupnya

3.2

Prosedur Kerja

1.

Larutkan Emal secara perlahan dalam 1/10 air yang digunakan

2.

Aduk perlahan jangan timbul busa, lakukan sampai benar-benar rata

3.

Setelah merata tambahkan NH4OH, Alkohol dan IPA secara perlahan

4.

Setelah semuanya larut tambahkan sisa air sampai habis

5.

Masukkan pewangi secukupnya

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1

Hasil

No Cara Kerja

Hasil Pengamatan

1.

Larutan menjadi homogen atau

Emal dilarutkan kedalam air

larut dan berwarna bening


2.

Iso propil alkohol dicampur dengan

Larutan menjadi homogen

metanol dan NH4OH


Larutan emal dicampur dengan

Dihasilkan larutan pembersih kaca

larutan iso propil alkohol, metanol


dan NH4OH kemudian diaduk dan
diberi pewangi dan pewarna sesuai
selera

4.2

Pembahasan
Emal dilarutkan kedalam air diaduk sampai merata, fungsi penambahan

emal adalah untuk mengeluarkan busa dalam jumlah cukup banyak dan
mempunyai daya pembersih (cleansing ability) yang cukup tinggi, kemudian di
wadah yang terpisah dilarutkan iso propil alkohol, metanol dan NH4OH, setelah
itu campuran emal dicampurkan kedalam campuran iso propil alkohol, metanol
dan NH4OH kemudian diaduk. Fungsi penambahan IPA dan metanol adalah
sebagai solven cleaner, sedangkan NH4OH akan memberikan efek cemerlang
pada kaca. Setelah diaduk ditambahkan pewarna dan pewangi sesuai selera

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1

Kesimpulan

1.

Fungsi penambahan emal adalah untuk mengeluarkan busa dalam jumlah


cukup banyak dan mempunyai daya pembersih (cleansing ability) yang
cukup tinggi

2.

Fungsi penambahan IPA dan metanol adalah sebagai solven cleaner

3.

Fungsi penambahan NH4OH akan memberikan efek cemerlang pada kaca.

5.2

Saran
Sebaiknya pada pembuatan pembersih kaca diperhatikan takaran bahan

dengan tepat. Selain itu, dalam pembuatannya mengikuti prosedur kerja yang
tepat agar dihasilkan produk yang sesuai harapan.

DAFTAR PUSTAKA

http://1001anekacara.blogspot.co.id/2013/11/cara-membuat-pembersih-kaca.html
(diakses tanggal 04 januari 2016).
http://prasetyara.blogspot.co.id/2011/01/v-behaviorurldefaultvmlo.html
(diakses tanggal 04 januari 2016).
http://syahronie.blogspot.co.id/2008/05/pembersih-kaca.html diakses tanggal 04
(januari 2016)

LAMPIRAN A
ANALISA EKONOMI

Bahan

Harga

Emal 1,5 kg

Rp. 18.000,-

IPA 1 botol

Rp. 18.000,-

Alkohol 1 botol

Rp. 20.000,-

NH4OH 1 liter

Rp. 60.000,-

Pewarna 1 bungkus

Rp. 10.000,-

Pewangi 1 botol

Rp. 10.000,-

Total Pengeluaran

Rp. 136.000,-

Harga pembersih kaca per botol Rp. 8000

LAMPIRAN B
GAMBAR

Iso Propil Alkohol

Metanol

Parfum

Pewarna Tekstil

Campuran emal dengan air

Campuran IPA, metanol dan NH4OH

Campuran IPA, metanol dan NH4OH


dimasukkan ke dalam campuran emal

Campuran diaduk sampai merata

Campuran ditambah air

Campuran ditambah pewarna

Campuran ditambah pewangi