Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah

Dalam kehidupan manusia bahwa tanah tidak akan terlepas dari segala tindak tanduk manusia itu
sendiri sebab tanah merupakan tempat bagi manusia untuk menjalani dan kelanjutan
kehidupannya. Oleh itu tanah sangat dibutuhkan oleh setiap anggota masyarakat, sehingga sering
terjadi sengketa diantara sesamanya, terutama yang menyangkut tanah. Untuk itulah diperlukan
kaedah-kaedah yang mengatur hubungan antara manusia dengan tanah.
Di dalam Hukum Adat, tanah ini merupakan masalah yang sangat penting. Hubungan antara
manusia dengan tanah sangat erat, seperti yang telah dijelaskan diatas, bahwa tanah sebagai
tempat manusia untuk menjalani dan melanjutkan kehidupannya. Tanah sebagai tempat mereka
berdiam, tanah yang memberi makan mereka, tanah dimana mereka dimakamkan, tanah dimana
meresap daya-daya hidup, termasuk juga hidupnya umat dan karenanya tergantung dari padanya.
Tanah adat merupakan milik dari masyarakat hukum adat yang telah dikuasai sejak dulu. Kita
juga bahwa telah memegang peran vital dalam kehidupan dan penghidupan bangsa pendukung
negara yang bersangkutan, lebih-lebih yang corak agrarisnya berdominasi.
Dalam hukum tanah adat ini terdapat kaedah-kaedah hukum. Keseluruhan kaedah hukum yang
timbuh dan berkembang didalam pergaulan hidup antar sesama manusia adalah sangat
berhubungan erat tentang pemamfaatan antar sesame manusia adalah sangat berhubungan erat
tentang pemamfaatan sekaligus menghindarkan perselisihan dan pemamfaatan tanah sebaikbaiknya. Hal inilah yang diatur di dalam hukum tanah adat. Dari ketentuan-ketentuan hukum
tanah ini akan timbul hak dan kewajiban yang berkaitan erat dengan hak-hak yang ada di atas
tanah.
Hukum tanah di Indonesia dari zaman penjajahan terkenal bersifat dualisme, yang dapat
diartikan bahwa status hukum atas tanah ada yang dikuasai oleh hukum Eropa di satu pihak, dan

yang dikuasai oleh hukum adat, di pihak lain.[1] diseluruh Indonesia kita melihat adanya
hubungan-hubungan antara persekutuan hukum dengan tanah dalam wilayahnya, atau dengan
kata lain, persekutuan hukum itu mempunyai hak atas tanah-tanah itu, yang dinamakan
Beschikkingsrecht.
Dari sini dapat dilihat bahwa terdapat hubungan antara hokum tanah adapt dengan hukum tanah
nasional.

1.2

Identifikasi Masalah

Bertitik tolak dari latar belakang masalah diatas, maka kita dapat melihat adanya dualisme
hukum adat di Indonesia. Di Indonesia belakangan dibuatlah suatu peraturan perundangundangan yang mengatur tentang pertanahan, yaitu Undang-Undang Nomor 5 tahun 1960
tentang Pokok Pertanahan (UUPA 1960). Undang Undang diciptakan untuk mengadakan
unifikasi hukum pertanahan nasional. Sehingga, muncul beberapa pertanyaan, antara lain
adalah :
1. Bagaimana pengaturan hukum tanah adat yang ada di Indonesia sebelum dan sesudah adanya
UUPA?
2. Bagaimana kedudukan hukum tanah adat (atau tanah adapt) dalam hokum nasional?

1.2

Tujuan Pembuatan Makalah

Penulisan makalah ini dilakukuan untuk memenuhi tujuan-tujuan yang diharapkan dapat
bermanfat.

1.3.1 Tujuan umum

Tujuan umum dibuatnya makalah ini adalah agar para pembaca pada umumnya dan kami
khususnya dapat mengetahui bagaimana pengaturan hukum tanah adat di Indonesia sebelum dan
sesudah berlakunya UUPA, serta bagaimana juga kedudukan hukum adat dalam hokum nasional.
1.3.2 Tujuan khusus
Tujuan khusus dibuatnya makalah ini adalah untuk memenuhi tuntutan perkuliahan mata kuliah
Hukum Adat dalam Perkembangan yang sedang kami jalani dalam semester ini.

1.4

Metode Penyusunan

Metode yang digunakan penulis dalam penyusunan makalah ini dengan


menggunakan studi pustaka yaitu teknik pengumpulan data dengan menggunakan referensi dan
buku-buku sebagai landasan teoritis mengenai masalah yang akan diselesaikan dan dengan
pencarian data melalui internet.

1.5

Manfaat Pembuatan Makalah

Manfaat yang penulis harapkan atas tersusunnya makalah ini mudah-mudahan dapat
bermanfaat dalam memberikan informasi dan penjelasan mengenai bagaimana pengaturan
hukum adat di Indonesia, dan bagaimana juga kedudukan hukum adat dalam hukum nasional.
Penulis juga berharap agar makalah ini dapat memenuhi tuntutan perkuliahan yang sedang
dijalani.
BAB II
TINJAUAN UMUM

2.1

Hukum Adat Tanah

Semula hukum adat di Indonesia hanay ditemukan berdasarkan simbol-simbol. Hukm adat
mencerminkan kultur tradisional dan aspirasi mayoritas rakyatnya. Hukum ini berakar dalam
perekonomian subsitensi serta kebijakan paternalistik, kebijakan yang diarahkan pada pertalian
kekeluargaan. Penilaian yang serupa dibuat dari hukum yang diterima di banyak negara
terbelakang. Hampir di manapun, hukum ini gagal dalam melangkah dengan cita-cita
modernisasi. Sistem tradisional dari kepemilikan tanah mungkin tidak cocok dengan penggunaan
tanah yang efisien, karena karakternya yang sudah kuno dari hukum komersial yang
memungkinkan menghalangi investasi asing. Bahkan, secara lebih mendasar hukum yang
diterima tidak dipersiapkan untuk menyeimbangkan hak-hak pribadi dengan hak masyarakat
dalam kasus intervensi ekonomi yang terencana.[2]
Sementara itu di Indonesia, hukum agraria yang berlaku atas bumi, air, dan ruang
angkasa ialah hukum adat dimana sendi-sendi dari hukum tersebut berasal dari masyarakat
hukum adat setempat, sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional, dan negara
yang berdasarkan persatuan bangsa dan sosialisme Indonesia. Dengan demikian menurut B.F
Sihombing, hukum tanah adat adalah hak pemilikan dan penguasaan sebidang tanah yang hidup
dalam masyarakat adat pada masa lampau dan masa kini serta ada yang tidak mempunyai buktibukti kepemilikan secara autentik atau tertulis, kemudian pula ada yang didasarkan atas
pengakuan dan tidak tertulis.[3]
Bagi masyarakat hukum adat, maka tanah mempunyai fungsi yang sangat penting. Tanah
merupakan tempat di mana warga masyarakat hukum adat bertempat tinggal, dan tanah juga
memberikan penghidupan baginya. Hubungan antara masyarakat hukum adat dengan tanah, Ter
Haar menyatakan sebagai berikut (B Ter Haar Bzn 1950:56).
Masyarakat tersebut mempunyai hak atas tanah itu dan menerapkannya baik ke luar maupun ke
dalam. Atas dasar kekuatan berlakunya keluar, maka masyarakat sebagai suatu kesatuan
mempunyai hak untuk menikmati tanah tersebut. Atas dasar kekuatan berlakunya ke dalam
masyarakat mengatur bagaimana masing-masing anggota masyarakat melaksanakan haknya,
sesuai dengan bagiannya, dengan cara membatasi peruntukan bagi tuntutan-tuntutan dan hak-hak

pribadi serta menarik bagian tanah tertentu dari hak menikmatinyasecara pribadi, untuk
kepentingan masyarakat.
Masyarakat hukum adat tersebut, sebenarnya dapat ditinjau sebagai suatu totalitas, kesatuan
publik maupun badan hukum. Sebagai totalitas, maka masyarakat hokum adapt merupakan
penjumlahan dari warga-warganya termasuk pula pemimpinnya atau kepala adatnya.
Sebagai suatu kesatuan publik, maka masyarakat hukum adat sebenarnya merupakan
suatu badan penguasa yang mempunyai hak untuk menertibkan masyarakat serta mengambil
tindakan-tindakan tertentu terhadap warga masyarakat. Sebagai badan hukum, maka masyarakat
hukum adat diwakili oleh kepala adatnya, dan lebih banyak bergerak di bidang hukum perdata.
Dengan demikian, maka sebenarnya hubungan antara masyarakat hukum adat dengan tanahnya,
merupakan suatu hubungan publik maupun hubungan perdata, oleh masyarakat hukum adat
menguasai dan memiliki tanah tersebut. Penguasaan dan pemilikan atas tanah oleh masyarakat
hukum adat oleh Van Vollen Hoven disebut sebagai beschikkingrecht.
Menurut Ter Haar, bahwa sebagai suatu totalitas, maka masyarakat hukum adat
menerapkan hak ulayat dengan cara menikmati atau memungut hasil tanah, hewan ataupun
tumbuh-tumbuhan. Sebagai badan penguasa, maka masyarakat hukum adat membatasi
kebebasan warga masyarakat untuk memungut hasil-hasil tersebut. Hak ulayat dan hak-hak
warga masyarakat secara pribadi, mempunyai hubungan timbale balik yang bertujuan untuk
mempertahankan keserasian sesuai dengan kepentingan masyarakat dan warga-warganya (B Ter
Haar Bzn 1950: 57).
Masyarakat hukum adat sebagai suatu totalitas, memiliki tanah dan hak tersebut
dinamakan hak ulayat yang oleh Hazairin disebut sebagai hak bersama. Oleh karena itu, maka
masyarakat hukum adat menguasai dan memiliki tanah terbatas yang dinamakan lingkungan
tanah (wilayah beschikkingskring). Lingkungan tanah tersebut lazimnya berisikan tanah kosong
murni, tanah larangan dan lingkungan perusahaan yang terdiri dari tanah di atasnya terdapat
pelbagai bentuk usaha sebagai perwujudan hak pribadi atau hak peserta atas tanah.
Apabila dipandang dari sudut bentuk masyarakat hukum adat, maka lingkungan tanah
mungkin dikuasai dan dimiliki oleh suatu masyarakat hukum adat tertentu atau beberapa
masyarakat hukum adat. Oleh karena itu biasanya dibedakan antara:

a.

Lingkungan tanah sendiri, yaitu lingkungan tanah yang dikuasai dan dimiliki oleh satu

masyarakat hukum adat, misalnya, masyarakat hukum adat tunggal (desa di Jawa), atau
masyarakat hukum adat atasan (Kuria di Angkola), atau masyarakat hukum adat bawahan (Huta
di Penyabungan).
b.

Lingkungan tanah bersama, yaitu suatu lingkungan tanah yang dikuasai dan dimiliki oleh

beberapa masyarakat hukum adat yang setingkat, dengan alternatif-alternatif, sebagai berikut:
1.

Beberapa masyarakat hukum adat tunggal, misalnya beberapa belah di Gayo.

2.

Beberapa masyarakat hukum adat atasan, misalnya luhat di Padanglawas.

3.

Beberapa masyarakat hukum adat bawahan, misalnya huta-huta di Angkola.

Dengan demikian, maka struktur lingkungan tanah pada masyarakat hukum adat tersebut
mempunyai variasi, sebagai berikut:
a.

Lingkungan tanah selapis, di mana lingkungan tanah tertentu tidak terbagi lagi ke dalam

lingkungan-lingkungan tanah lain. Kemungkinan-kemungkinannya adalah:


1.

Lingkungan tanah tunggal selapis, yaitu lingkungan tanah yang dikuasai dan dipunyai oleh

suatu masyarakat hukum adat tunggal, sebagaimana dijumpai pada desa-desa di Jawa.
2.

Lingkungan tanah bertingkat selapis, yaitu keadaan di mana masyarakat hukum adat atasan

mempunyai lingkungan tanah sendiri, sedangkan masyarakat hukum adat bawahannya juga
mempunyai lingkungan tanah sendiri dari masyarakat hukum adat atasannya.
3.

Lingkungan tanah setingkat berlapis, di mana beberapa masyarakat hukum adat yang

setingkat, bersama-sama menguasai dan memiliki lingkungan tanah yang sama.


b.

Lingkungan tanah berlapis, yakni lingkungan tanah yang terbagi ke dalam lingkungan-

lingkungan tanah lainnya, dengan variasi sebagai berikut:


1.

Lingkungan tanah selapis sempurna, di mana baik masyarakat hukum adat atasan maupun

bawahan, masing-masing menguasai dan memiliki lingkunga tanah sendiri (misalnya, di


Penyabungan).

2.

Lingkungan tanah berlapis tidak sempurna, di mana masyarakat hukum adat atasannya

mempunyai lingkungan tanah sendiri, sedangkan masyarakat hukum adat bawahannya ada yang
mempunyai tanah sendiri dan ada juga yang tidak (misalnya di Mandailing).

2.2

Hukum Agraria Sebelum Adanya UUPA

Ilmu agraria adalah ilmu yang mempelajari semua hal yang berhubungan dengan masalah tanah
pada umumnya, misalnya masalah erosi, masalah kesuburan tanah, masalah jenis dan
karakteristik tanah, dan masalah yang berkaitan dengan pengaturan masalah tanah.
Hukum agraria adalah bagian dari ilmu agraria. Dalam arti sempit, hukum agraria berarti hukum
yang mengatur hubungan manusia dengan tanah pada umumnya. Hukum agraria lama, yaitu
hukum agraria sebelum Undang-undang No. 5 tahun 1960 diberlakukan, sebagian merupakan
hukum yang tertulis, dan sebagian lagi merupakan hukum yang tidak tertulis.
Bagian hukum agraria tertulis, kaidah-kaidahnya bersumber pada hukum agraria barat, yang
tersebar dalam berbagai perundang-undangan pemerintah kolonial Belanda. Perundangundangan itu ada yang berlaku untuk seluruh wilayah Hindia Belanda, ada juga yang hanya
berlaku untuk daerah tertentu, misalnya hanya berlaku untuk daerah Jawa dan Madura saja.
Hukum agraria tertulis antara lain seperti yang terdapat dalam Agrarische Wet, stbl. tahun 1870
no. 55, Agrarisch Besluit, stbl. tahun 1870 no. 118 dan perundang-undangan pelaksanaannya,
atau yang terdapat dalam kitab undang-undang yang sudah tersusun secara sistematis,
terkodifikasi, yaitu dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek (BW)).
Sedang bagian hukum agraria tidak tertulis, kaidah-kaidahnya bersumber pada hukum adat
bangsa Indonesia. Yaitu hukum yang sudah ada, ditaati dan dilaksanakan oleh seluruh bangsa
Indonesia, jauh sebelum penjajah Belanda datang ke Indonesia (Hindia Belanda).
Dengan demikian hukum agraria lama, yang berlaku di Indonesia sebelum berlakunya UUPA,
mempunyai sifat dualistis. Artinya hukum agraria tersebut ada yang bersumber pada hukum barat
(tertulis), selain yang bersumber pada hukum adat (tidak tertulis) bangsa Indonesia.

Apabila kita berbicara hukum adat bangsa Indonesia, maka kita harus mengarahkan pandangan
kepada seluruh wilayah Indonesia, wilayah Negara Republik Indonesia (Hindia Belanda) terdiri
dari beribu-ribu pulau besar dan kecil. Bangsa Indonesia yang menghuni negara ini terdiri
dariberbagai macam suku bangsa, berbagai macam bahasa daerah, berbagai macam agama,
mempunyai berbagai macam corak adat istiadat yang berbeda-beda. Hukum adat di suatu daerah
tertentu berbeda dengan hukum adat yang berlaku di daerah lain.

Dengan demikian walaupun hukum adat itu mempunyai sistem dan asas yang sama, yaitu
sebagai hukum yang tidak tertulis bagi segenap bangsa Indonesia di seluruh wilayah Indonesia,
namun dalam hukum adat itu terdapat pula perbedaan-perbedaan ketentuan hukum menurut
daerah atau lingkungan hukum adat masing-masing. Berhubungan dengan itu, maka hukum
agraria adat tersebut isinya tidak sama, beraneka ragam untuk tiap daerah.
Oleh karena itulah maka hukum agraria berlaku sebelum keluarnya Undang-Undang Pokok
Agraria (UUPA), tidak hanya bersifat dualistis tetapi juga bersifat pluralistis atu beraneka ragam
(Boedi Harsono, 1970: 37).

2.3

Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA)

Untuk menciptakan hukum agraria nasional guna menjamin kepastian hukum bidang
pertahanan, maka dilakukanlah unifikasi hukum pertahanan dengan membentuk UU no. 5 tahun
1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria, atau yang lebih dikenal dengan UUPA pada
tanggal 24 September 1960. Alasan-alasan lahirnya UU No.5 Th 1960 (UUPA), yaitu:
a.

karena hukum agraria yang berlaku sebagian tersusun berdasarkan tujuan dan sendi-sendi

dari pemerintah jajahan (Belanda), hingga bertentangan dengan kpentingan negara;


b.

karena akibat politik-hukum penjajahan, sehingga hukum agraria tersebut mempunyai sifat

dualisme, yaitu berlakunya peraturan-peraturan dari hukum adat di samping peraturan-peraturan

hukum barat, shg menimbulkan pelbagai masalah antar golongan yang serba sulit, juga tidak
sesuai dengan cita-cita persatuan bangsa;
c. hukum agraria penjajahan itu tidak menjamin kepastian hukum bagi rakyat asli.
Hukum agraria sebagaimana yang dimaksudkan oleh UUPA, adalah suatu kelompok
berbagai hukum, yang mengatur hak-hak penguasaan atas sumbe-sumber alam. Dalam
pengertian yang luas, ruang lingkup hukum agraria meliputi: hukum tanah, hukum air, hukum
kehutanan, hukum pertambangan/bahan galian, hukum perikanan dan hukum ruang angkasa
(hukum yang mengatur penguasaan unsur-unsur tertentu ruang angkasa).
Adapun Tujuan dari dibentuknya UUPA terdapat pada Penjelasan Umum UUPA, yaitu:
a.

meletakkan dasar-dasar bagi penyusunan hukum agraria nasional, yang akan merupakan

alat untuk membawakan kemakmuran, kebahagiaan dan keadilan bagi negara dan rakyat,
terutama rakyat tani, dlm rangka masyarakat yg adil dan makmur;
b.

meletakkan dasar-dasar untuk mengadakan kesatuan dan kesederhanaan dalam hukum

pertanahan;
c.

meletakkan dasar-dasar untuk memberikan kepastian hukum mengenai hak-hak atas tanah

bagi rakyat seluruhnya.


Hukum tanah adalah keseluruhan peraturan-peraturan hukum yang mengatur hak-hak
penguasaan atas tanah, yang merupakan lembaga-lembaga hukum dan hubungan-hubungan
hukum konkrit dengan tanah. Pembatasan serupa dapat kita adakan juga dengan bidang hukum
lain yang merupakan unsur-unsur dari kelompok hukum agraria di atas, seperti hukum air,
hukum kehutanan, hukum pertambangan/bahan galian, hukum perikanan dan hukum ruang
angkasa.

BAB III
PEMBAHASAN

3.1

Pengaturan Hukum Tanah Adat Sebelum Berlakunya UUPA

Sebelum berlakunya UUPA, tanah adat masih merupakan milik dari suatu persekutuan dan
perseorangan. Tanah adat tersebut mereka pergunakan sesuat dengan kebutuhan mereka dalam
memanfaatkan dan mengolah tanah itu, para anggota persekutuan berlangsung secara tertulis.
Selain itu dalam melakukan tindakan untuk menggunakan tanah adat, harus terlebih dahulu
diketahui atau meminta izin dari kepala adat.
Dengan demikian sebelum berlakunya UUPA ini tanah adat masih tetap milik anggota
persekutuan hukum, yang mempunyai hak untuk mengolahnya tanpa adanya pihak yang
melarang.

3.2

Hukum Tanah Adat Setelah Berlakunya UUPA

Seperti yang telah dijelaskan dalam konsepsi UUPA, menurut konsepsi UUPA maka tanah,
sebagaimana halnya juga dengan bumi, air dan ruang angkasa termasuk kekayaan alam yang
terkandung didalamnya yang ada di wilayah republik Indonesia, adalah karunia Tuhan Yang
Maha Esa pada bangsa Indonesia yang merupakan kekayaan nasional. Hubungan antara bangsa
Indonesia dengan tanahnya dimaksud adalah suatu hubungan yang bersifat abadi.
Dalam Pasal 5 UUPA ada disebutkan bahwa hukum agraria yang berlaku atas bumi, air dan
ruang angkasa ialah hukum adat sepanjang tidak bertentangan
dengan kepentingan nasional dan negara yang berdasarkan atas persatuan bangsa,
dengan sosialisme Indonesia serta peraturan-peraturan yang tercantum dalam undang-undang ini
dengan peraturan perundangan-undangan lainya, segala sesuatu dengan mengindahkan unsurunsur yang bersandar pada hukum agama.
Adanya ketentuan yang demikian ini menimbulkan dua akibat terhadap hukum adat tentang
tanah yang berlaku dalam masyarakat Indonesia, dimana di satu pihak ketentuan tersebut

memperluas berlakunya hukum adat tidak hanya terhadap golongan Eropa dan Timur Asing.
Hukum adat di sini tidak hanya berlaku untuk tanah-tanah Indonesia saja akan tetapi juga berlaku
untuk tanah- tanah yang dahulunya termasuk dalam golongan tanah Barat.
Setelah berlakunya ketentuan tersebut di atas, maka kewenangan berupa penguasaan tanah-tanah
oleh persekutuan hukum mendapat pembatasan sedemikian rupa dari kewenangan pada masamasa sebelumnya karena sejak saat tu segala kewenangan mengenai persoalan tanah terpusat
pada kekuasaan negara.
Setelah berlakunya UUPA ini, tanah adat di Indonesia mengalami perubahan. Maksudnya segala
yang bersangkutan dengan tanah adat, misalnya hak ulayat, tentang jual beli tanah dan
sebagainya mengalami perubahan. Jika dulu sebelum berlakunya UUPA, hak ulayat masih milik
persekutuan hukum adat setempat yang sudah dikuasai sejak lama dari nenek moyang mereka
dahulu. Namun setelah berlakunya UUPA, hak ulayat masih diakui, karena hal ini dapat dilihat
dari pasal 3 UUPA, hak ulayat dan hak-hak yang serupa dari masyarakat hukum adat masih
diakui sepanjang dalam kenyataan di masyarakat masih ada. Hak ulayat yang diakui dalam pasal
tersebut bukanlah hak ulayat seperti
dengan masa sebelumnya dengan kepentingan Nasional dan negara perbatasan dengan bahwa
hak ulayat yang dimaksud tidak boleh bertentangan dengan undang-undang dan Peraturanperaturan lainya.
Selain itu ada juga perubahan yang terjadi pada hukum tanah adat sebelum dan sesudah
berlakunya UUPA. Hal ini dapat dilihat misalnya dalam hal ini jual beli tanah. Sebelum
berlakunya UUPA, jual beli tanah sering dilakukan hanya secara lisan saja, yakni penjualnya. Itu
sebabnya sampai dikatakan dulu tanpa bentuk. Kemudian berkembang dengan pembuatan surat
jual beli antara dua pihak. Jual beli tanah adalah perbuatan hukum menyerahkan tanah hak oleh
penjual kepada pembeli. Perubahan lain yang terjadi misalnya dalam hal daluarsa. Dalam hukum
adat daluarsa ini menyangkut tentang hak milik atas tanah. Dulu, sesuatu bidang tanah yang
sudah dibuka atas izin pemangku adat atua kepala adat yang berwenang, maka setelah beberapa
tahun tidak dikerjakan/ditanami kembali ditutul belukar dapat diberi peruntukan lain/baru kepada
pihak yang membentuknya, akibat pengaruh lamanya waktu dan tanah itu telah kembali kepada
hak ulayat desa.

Dalam perjalan waktu, apabila izin membuka tanah dan tanahnya dimaksud digunakan terus,
maka pemegang hak itu tidak memerlukan izin lagi untuk menggunakan tanah secara terus
menerus makin lama seorang memanfaatkan hak/izin itu, bertambah kuat hak melekat di atasnya,
sampai pada akhirnya menjadi hak milik.
Hak milik juga mengalami perubahan, sebelum berlakunya UUPA, lazimnya didaftarkan dan
dikenakan pajak hasil bumi. Walaupun peraturan perpajakan ini tidak menentukan hak atas suatu
bidang tanah, tetapi sejarah penggunaan dan pemilikan penguasa tanah secara tidak langsung
dipotong dokumentasi/administrasi perpajakan serta pembayaran pajak tersebut. Sejak
berlakunya UUPA, keadaannya menjadi lain, akibat adanya ketentuan konversi dan politik
hukum agraria yang merubah stelsel lama.

3.3

Kedudukan Hukum Tanah Adat dalam Hukum Agraria Nasional

Dalam banyak peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia saat ini, hukum adat
atau adat istiadat yang memiliki sanksi, mulai mendapat tempat yang sepatutnya sebagai suatu
produk hukum yang nyata dalam masyarakat. Dalam banyak kasus, hukum adat sedemikian
dapat memberikan kontribusi sampai taraf tertentu untuk menjamin kepastian hukum dan
keadilan bagi masyarakat. Hukum saat ini malahan dijadikan dasar pengambilan keputusan oleh
hakim, sehingga dapat terlihat bahwa hukum adat itu efisien, efektif, aplikatif dan come into
force ketika dihadapkan dengan masyarakat modern dewasa ini. Sehingga dalam hukum agraria
nasional hukum adat dijadikan juga sebagai landasannya.
Hukum agraria pada masa penjajahan Hindia Belanda bersifat dualistis, yaitu hukum agraria
barat, dan hukum adat bangsa Indonesia. Hukum agraria barat berlaku bagi orang-orang Belanda,
orang eropa dan yang dipersamakan dengan mereka, sedang hukum agraria adat berlaku bagi
golongan bumi putera (penduduk asli).
Undang-undang no. 5 tahun 1960 adalah undang-undang yang dibuat bangsa Indonesia an
dikeluarkan setelah Indonesia merdeka. Dalam undang-undang ini disebutkan bahwa hukum
agraria nasional didasarkan kepada hukum adat. Penegasan itu dapat dijumpai dalam:

1.

Konsideran berpendapat, huruf a;

2.

Penjelasan umum angka III (1);

3.

Penjelasan pasal 16;

4.

Pasal 56.

Asas-asas hukum adat yang digunakan dalam hukum agraria nasional, adalah: asas religuisitas
(pasal 1), asas kebangsaan (pasal 1, 2, dan 9), asas demokrasi (pasal 9), asas kemasyarakatan,
pemerataan dan keadilan sosial (pasal 6, 7, 10, 11, dan 13), asas penggunaan dan pemeliharaan
tanah secara berencana (pasal 14 dan 15), serta asas pemisahan horizontal tanah dengan
bangunan yang ada di atasnya (Boedi Harsono, 1999: 203)
Ketentuan hukum adat itu tidak tidak boleh bertentangan dengan kepentingan nasional.
Contoh ini disebutkan dalam penjelasan umum angka II. 3 dalam hubungan dengan pelaksanaan
hak ulayat. Sekalipun penguasa-penguasa adat mempunyai kewenangan untuk mengatur dan
memimpin penggunaan tanah hak ulayat dalam wilayahnya, namun kewenangan itu tidak boleh
menghalangi program pemerintah untuk mencapai kemakmuran rakyat, umpama pembukaan
tanah secara besar-besaran untuk areal perkebunan atau untuk pemindahan penduduk.
Hukum agraria nasional itu, berdasarkan atas hukum adat tanah, yang bersifat nasional, bukan
hukum adat yang bersifat kedaerahan atau regional. Artinya, untuk menciptakan hukum agraria
nasional, maka hukum adat yang ada di seluruh penjuru nusantara, dicarikan format atau bentuk
yang umum dan berlaku bagi seluruh persekutuan adat. Tentu saja, tujuannya adalah untuk
meminimalisir konflik pertanahan dalam lapangan hukum tanah adat.
Berpatokan pada hukum adat sebagai sumber utama dalam mengambil bahan-bahan yang
dibutuhkan untuk pembangunan hukum tanah nasional, maka tetap dimungkinkan untuk
mengadopsi lembaga-lembaga baru yang belum dikenal dalam hukum adat. Di samping itu,
dapat

pula

mengambil

lembaga-lembaga

hukum

asing

guna

memperkaya

dan

memperkembangkan hukum tanah nasional. Namun demikian, dalam mengadopsi lembagalembaga baru tersebut syaratnya tidak bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. adapun
lembaga-lembaga baru tersebut adalah:

1.

Pendaftaran Tanah;

2.

Hak Tanggungan;

3.

Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan, dan Hak Pengelolaan.[4]

Hukum agraria nasional tidak hanya tercantum dalam UUPA 1960 saja, tetapi juga terdapat
dalam peraturan perundang-undangan lainnya yang mengatur tentang perjanjianperjanjian
ataupun transaksi-transaksi yang berhubungan dengan tanah. Misalnya, Undang-undang no. 2
tahun 1960 tentang Perjanjian Bagi Hasil Pertanian , Undang-undang no. 2 tahun 1960 tentang
Penetapan Ceiling Tanah dan Gadai tanah pertanian. Di sini dapat dilihat bahwa semua masalah
hukum tanah adat secara praktis di akomodasi oleh peraturan perundang-undangan yang dibuat
oleh pemerintah (penguasa).
BAB IV
PENUTUP

4.1

Kesimpulan

Dapat disimpulkan bahwa hukum adat yang berlaku di Indonesia menunjukkan adanya suatu
nuansa kehidupan atau fungsi sosial dari tanah, terlebih agi dalam pembagian tanah persekutuan
dan tanah perseorangan atau individu. Juga dapat dilihat bagaimana pembagian hak-hak atau
pengaturan hak-hak atas tanah adat menunjukkan adanya upaya untuk menertibkan pemakaian
tanah adat sehingga benar-benar menjamin keadilan. Namun, kepastian hukum tidak terjamin
dengan hanya mengandalkan hukum tanah adat belaka. Di sinilah kedudukan peran pemerintah
selaku penguasa untuk menetapkan suatu teknis pendaftaran tanah adat untuk menjamin adanya
kepastian hukum dalam bidang agraria.
Hukum tanah adat di Indonesia telah mengalami perkembangan dalam berbagai hal, karena ini
disesuaikan dengan adanya perkembangan zaman tidak tertulis, tepat keberadaannya masih tetap
dipandang kuat oleh para masyarakat. Begitu juga kiranya dengan tanah adat yang sudah

merupakan bagian dari diri mereka dan tetap dipertahankan kelestariannya jika ada pihak-pihak
yang ingin merusaknya. Memang, setelah perkembangan zaman ditambah lagi setelah
berlakunya UUPA, hukum tanah adat masih tetap diakui sepanjang tidak bertentangan dengan
kepentingan nasional dan negara.
Penjelasan UUPA Paragraf III, menegaskan bahwa hukum adat yang dimaksud dalam UUPA
adalha hukum adat yang disempurnakan dan disesuaikan dengan kepentingan masyarakat dalam
negara yang modern dan dalam hubungannya dengan dunia internasional, serta disesuaikan
dengan sosialisme Indonesia Sehingga hukum adat yang menjadi sumber utama hukum agraria
nasional adalah Prinsip-prinsip dan konstruksi-konstruksi hukum adat yang ada di Indonesia yg
dipergunakan.
Oleh karena itu peran hukum tanah adat mulai memiliki porsi yang cukup besar. Hukum tanah
adat yang dibahas dalam pembahasan sebelumnya menunjukkan bahwa dengan adanya tanah
persekutuan dan tanah perseorangan menunjukkan bahwa semua hak atas tanah mempunyai
fungsi sosial, yang serupa diatur dalam UUPA. 1960.

4.2

Saran dan Rekomendasi

Kini walaupun UUPA sudah berlaku namun masih banyak masyarakat yang tetap berpedoman
pada hukum adat tanah, yang sangat disayangkan disini hukum adat tanah tidak dapat
memberikan kepastian hukum bagi masyarakat. Maka adapun usaha yang dapat dilakukan
pemerintah antara lain:
a. Adanya jaminan kepastian hukum bagi pemilik tanah ulayat sebagaimana dimaksudkan di
dalam Undang- Undang Pokok Agraria;
b. Meningkatkan ketertiban dalam bidang keagrarian;
c. Perlu lebih ditingkatkan penyuluhan dan sosialisasi serta informasi kepada masyarakat luas
akan pentingnya hak-hak atas tanah serta pendaftarannya;

d.

Harus diupayakan untuk menghilangkan birokrasi yang berbelit-belit dan ditekan sekecil

mungkin segala biaya-biaya siluman yang berhubungan dengan masalah tanah;


e.

Lembaga-lembaga pengkajian dan penelitian masalah hukum adat dan badan pemantau

urusan pertanahan perlu diperbanyak keberadaannya.


Semua hal tersebut diatas dalam menyusun kebijaksanaan politis dan hukum bidang agraria,
menuntut tetap diperhatikannya hukum tanah adat yang berlaku secara nasional.
Penulis berharap agar makalah kami ini dapat dijadikan sebagai sebuah pedoman bagi para
pembaca pada umumnya dan para mahasiswa pada khususnya. Penulis juga berharap agar
makalah ini dapat memenuhi tuntutan perkuliahan mata kuliah hukum islam yang sedang
dijalani.
Penulis mohon maaf apabila ada kekurangan dan hanya kepada ALLAH SWT lah kita kembali
pada-Nya.
DAFTAR PUSTAKA

Azam, Syaiful. 2003. Fakultas Hukum. Eksistensi Hukum Tanah dalam Mewujudkan Tertib
Hukum Agraria. Medan: Universitas Sumatera Utara.
Harsono, Boedi. 1994. Hukum Agraria Indonesia, Sejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok
Agraria, Isi dan Pelaksanannya, Jilid I Hukum Tanah Nasional. Jakarta: Djambatan.
Ridwan, Ahmad Fauzie. 1982. Hukum Tanah Adat Multi Disiplin Pembudayaan Pancasila.
Jakarta: Dewaruci Press.
Sihombing, B. F. 2004. Evolusi Kebijakan Pertahanan dalam Hukum Tanah Indonesia. Jakarta:
Gunung Agung.
Soekanto, Soerjono. 1981. Hukum Adat Indonesia. Jakarta: Rajawali Pers.
Supriadi, 2008. Hukum Agraria. Jakarta: Sinar grafika.
Usman, Suparman. 2003. Hukum Agraria di Indonesia. Serang: Fakultas Hukum UNTIRTA

[1] Prof.Dr.Ahmad Fauzie Ridwan, SH, Hukum Tanah Adat Multi disiplin Pembudayaan
Pancasila,
Dewaruci Press, Jakarta, 1982, hlm. 12.
[2] C. Van Vollenhoven, Penemuan Hukum Adat, dalam B.F Sihombing, Evolusi Kebijakan
Pertahanan dalam Hukum Tanah Indonesia, Gunung Agung Jakarta, 2004, hlm. 66.
[3] L. Michael Hager, The Rule of Law in Developing Countries, dalam B. F Sihombing, Ibid.,
hlm. 67.
[4] Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia, Sejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok
Agraria, Isi dan Pelaksanaannya, Jilid 1 Hukum Tanah Nasional, Djambatan, Jakarta, 1994, hlm.
171.