Anda di halaman 1dari 9

APLIKASI METODE GEOFISIKA UNTUK INTERPRETASI STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN (REKAHAN, PATAHAN, LIPATAN DAN KUBAH GARAM)

MAKALAH

Disusun untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Geologi Struktur dan Stratigrafi

Dosen Pengampu : Irjan, M.Si

Oleh :

LAILATUL MAGHFIROH

13640046

Pengampu : Irjan, M.Si Oleh : LAILATUL MAGHFIROH 13640046 JURUSAN FISIKA FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS

JURUSAN FISIKA

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

2016

A. PENDAHULUAN

Geofisika adalah bagian dari ilmu bumi yang mempelajari bumi menggunakan kaidah atau prinsip-prinsip fisika. Metode geofisika sangat memiliki peran penting dalam bidang eksplorasi. Secara umum, metode geofisika dibagi menjadi dua kategori yaitu metode pasif dan aktif. Metode pasif dilakukan dengan mengukur medan alami yang dipancarkan oleh bumi. Metode aktif dilakukan dengan membuat medan gangguan kemudian mengukur respons yang dilakukan oleh bumi. Medan alami yang dimaksud disini misalnya radiasi gelombang gempa bumi, medan gravitasi bumi, medan magnetik bumi, medan listrik dan elektromagnetik bumi serta radiasi radioaktifitas bumi. Medan buatan dapat berupa ledakan dinamit, pemberian arus listrik ke dalam tanah, pengiriman sinyal radar dan lain sebagainya. Metode geofisika memiliki metode yang bermacam macam seperti metode geolistrik, metode magnetik, metode gravity dll. Metode- metode tersebut dapat digunakan untuk melihat beberapa struktur seperti struktur rekahan, struktur patahan, struktur lipatan dan kubah garam. Namun, tidak semua metode bisa melihat struktur tersebut. Maka dari itu dalam makalah ini akan dibahas metode apa saja yang bisa melihat struktur tersebut.

B. TUJUAN Untuk memahami aplikasi metode geofisika dalam melihat struktur rekahan,

struktur patahan, struktur lipatan dan struktur kubah garam.

C. METODE

STRUKTUR

METODE

1. Metode Geolistrik

GEOFISIKA

DALAM

INTERPRETASI

Metode geolistrik adalah metode yang memanfaatkan aliran arus di dalam bumi, yang dengan mengukur beda potensialnya akan didapatkan nilai resistansi batuan. Metode geolistrik juga dapat melihat struktur patahan. Patahan adalah

struktur rekahan yang telah mengalami pergeseran dan umumnya disertai oleh struktur yang lain seperti lipatan dan rekahan. Pada penelitian (Manuho, dkk) mengatakan bahwa jalan Ringroad kelurahan Malendeng kecamatan Paal II Manado, Sulawesi Utara merupakan jalur yang

dilalui oleh Patahan Manado. Hal ini terbukti dengan hasil analisis yang diperoleh bahwa pergeseran bidang lemah, keras, dan lemah pada struktur patahan dan diduga sebagai kekar tarik.

lemah pada struktur patahan dan diduga sebagai kekar tarik. Gambar 2.1 Penampang Lintang Kontur Resistivitas pada

Gambar 2.1 Penampang Lintang Kontur Resistivitas pada Titik Sounding 1-5 Berdasarkan Gambar 2.1 Adanya bidang-bidang lemah yang ditunjukkan oleh warna biru dengan harga resistivitas rendah yang berkisar antara 3-100 Ωm, bidangbidang tersebut terletak pada titik 1, 2 dan 5 pada lintasan AOC, sedangkan untuk titik BOC bidang lemah terletak pada titik 1, 2 dan 4 dengan harga resistivitas 3-100 Ωm yang ditunjukkan oleh warna biru. Bidang lemah ini terletak pada kedalaman 100- 400 m, untuk masing-masing titik yang terdapat pada AOC dan BOC. Harga resistivitas yang tinggi terdapat pada titik 3 dan 4 Lintasan AOC dan titik 3 lintasan BOC dengan kisaran harga resistivitas 100 – 1000 Ωm. Bidang lemah yang ditunjukkan oleh harga resistivitas yang lebih rendah dibandingkan lapisan- lapisan lainnya, diduga merupakan bidang rekahan karena lapisan pada titik-titik ini merupakan lapisan yang berongga hasil endapan reruntuhan dari atas permukaan yanng terjadi dalam kurun waktu yang lama dengan kata lain bahwa lapisan pada bidang lemah tersebut bukanlah lapisan dengan jenis batuan/ tanah yang sebenarnya, sehingga lapisan terisi Fluida mengakibatkan terjadinya penurunan nilai resistivitas. Oleh karena itulah bidang lemah tersebut diduga merupakan bidang Rekahan.

Berdasarkan Gambar dapat dilihat garis putus – putus yang berwarna hitam merupakan batas – batas

Berdasarkan Gambar dapat dilihat garis putus putus yang berwarna hitam merupakan batas batas kekar, pada titik 1, 2, dan 5 merupakan lapisan yang didominasi oleh struktur batuan dengan nilai resistivitas rendah yang ditunjukkan oleh warna biru dengan harga resistivitas yang berkisar antara 10-30 Ωm dan diduga merupakan kekar . Sedangkan lapisan tanah pada titik sounding 3 bersifat keras karena didominasi oleh struktur batuan yang memiliki nilai resistivitas yang tinggi. Pada titik sounding 4 dikedalaman 200 m dengan harga resistivitas 158 400 yang ditunjukkan oleh warna biru merupakan lapisan yang Lemah karena memiliki nilai resistivitas yang lebih rendah.

2. Metode Magnetik

Pada penelitian (Suntoko, dkk) menyatakan bahwa metode magnetik adalah metode yang sangat baik untuk kajian awal struktur sesar dengan cepat dan sederhana. Berdasarkan interpretasi dan analisis data pengukuran maka hasil yang diperoleh dari lapangan merupakan data anomali medan magnet total yang satuannya adalah nT/m. Analisis data dilakukan setelah data dikoreksi,dan kemudian dituangkan dalam profil intensitas medan magnet total. Pada Gambar 2.2 a, menunjukkan profil magnet di lokasi pengamatan SB1C dapat dilihat model grafik yang menunjukkan nilai intensitas medan magnit 6-8. Artinya ada anomali intensitas magnet purba yang negatif. Sesar yang terindikasi melalui diskripsi batuan vulkanik andesit berupa kekar dominan berarah Barat Laut-Tenggara memberikan gambaran adanya indikasi penerusan sesar ke bawah permukaan.

Gambar 2.2 a Grafik hasil analisis stasiun SB1C yang menunjukkan lengkung ke bawah indikasi adanya

Gambar 2.2 a Grafik hasil analisis stasiun SB1C yang menunjukkan lengkung ke bawah indikasi adanya sesar. Hasil analisis medan magnet pada lokasi pengamatan SB-1B yang terkoreksi,dan kemudian diploting dalam profil intensitas medan magnet total dapat dilihat pada pada Gambar 2.2b. Grafik dan profil magnet menggambarkan lengkung ke bawah artinhya bahwa intensitas magnet mencatat perubahan medan magnet atau adanya anomali nilai inetsnitas magnet yang negatif. Kedapatan anomali rendah (anomali negatif) diduga sebagai adanya zone lemah atau batuan sedimen yang hanya mengandalkan kemagnetan purba pada saat terbentuk batuan. Bila diperhatikan pada profil intsensitas magnetik maka garis memotong tegak lurus sesar dugaan Bojonegara-1, magnetik rendah terjadi pada titik 3 - 10. Indikasi sesar berupa gawir berarah dominan barat laut Tenggara. Diskripsi batuan tersusun oleh fragmen andesit yang masih nampak fragmen menyudut tanggung-menyudut, dan matrik pasir yang kemudian ditutupi bagian atasnya oleh soil/tanah. Berdasarkan indikasi permukaan dan dilanjutkan indikasi bawah permukaan menunjukkan adanya kelanjutan di bawah permukaan.

Gambar 2.2 b. Grafik hasil analisis di lokasi SB1B yang menunjukkan adanya anomaly magnetik Hasil

Gambar 2.2 b. Grafik hasil analisis di lokasi SB1B yang menunjukkan adanya anomaly magnetik Hasil analisis medan magnet di lokasi SB-1A, pada Gambar 5c menunjukkan profil anomali magnet dengan intensitas medan magnet antara 3-13, artinya bahwa intensitas magnet mencatat perubahan medan magnet dari waktu ke waktu. Anomali rendah (anomali negatif) diduga sebagai adanya zone lemah atau sesar yang dapat terjadi di batuan yang menyusun daerah telitian yang disusun oleh batuan vulkanik. Pembuktian keberadaan sesar Bojonegara-1 melalui pengukuran megnetik sebanyak 4 lintasan/bentangan dan setiap lintasan sepanjang 300 m, membuktikan adanya penerusan sesar ke bawah permukaan berarah Barat laut-Tenggara yang dibuktikan pada profil lintasan SB1C memiliki dua profil yang menunjukkan intensitas magnetik < 0 yakni -200 nT/m yang terjadi di lokasi 7 dan 17, lintasan SB1B dimulai dari nilai < 0 dan terjadi lagi pada lintasan 9, 14 dan 15 yang menunjukkan intensitas -200 nT/m, lintasan SB1A menunjukkan intensitas magnetik < 0 yang besar terjadi pada lintasan 4-13 dengan nilai intensitas mencapai -550 nT/m, lintasan SB1X yang menunjukkan intensitas magnetik < 0 yakni -300 nT/m terjadi di lokasi 7 dan 15.

3. Metode Gravity

Pada peneltitian (Meilisa dan Sarkowi, 2013) menggunakan metode gravity untuk menentukan struktur bawah permukaan daerah manisfestaso panasbumi di

lereng selatan gunung ungaran.

Gambar 2.3 Anomali Regional Gambar 2.4 Anomali Residual Gambar 2.3 menunjukkan hasil filter moving average

Gambar 2.3 Anomali Regional

Gambar 2.3 Anomali Regional Gambar 2.4 Anomali Residual Gambar 2.3 menunjukkan hasil filter moving average yaitu

Gambar 2.4 Anomali Residual

Gambar 2.3 menunjukkan hasil filter moving average yaitu anomali regional. Anomali regional memiliki nilai 22.5 mGal sampai dengan 30.5 mGal. Pola anomali regional dari rendah-tinggi menunjukkan adanya arah patahan yaitu timurlaut- baratdaya di utara daerah penelitian yang diperkirakan mengontrol kawasan manifestasi tersebut. Sedangkan anomali residual didapatkan dengan melakukan pengurangan antara anomali Bouger lengkap dengan anomali regional. Gambar 2.4 menunjukkan pola anomali residual yang memiliki nilai -5 mGal sampai dengan 3,5 mGal. Nilai anomali rendah yang bernilai negatif kemungkinan disebabkan adanya keberadaan reservoar panasbumi di daerah tersebut.

Sistem panasbumi yang berkembang di Gunung Ungaran secara geologi berada di zona depresi dengan litologi permukaan didominasi oleh batuan vulkanik berumur Kuarter berupa kerucut-kerucut muda. Struktur sesar dangkal daerah penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 2.5. Struktur sesar dangkal di daerah penelitian ini dihasilkan dari filter SVD dengan menggunakan operator Elkins. Kontur SVD yang bernilai 0 (nol) mengindikasikan adanya struktur sesar di daerah tersebut. Struktur yang mengontrol daerah manifestasi panasbumi Gedongsongo berarah Baratlaut - Baratdaya dan Barat- Timur. Namun ada beberapa struktur sesar peta SVD yang tidak memiliki kesamaan arah dan posisi pada peta geologi dikarenakan pola struktur sesar SVD dari data residual didapatkan berdasarkan data gayaberat.

Gambar 2.5 Peta SVD menunjukkan struktur daerah manifestasi panasbumi kawasan tersebut. Dari pemodelan 3D dapat

Gambar 2.5 Peta SVD menunjukkan struktur daerah manifestasi panasbumi kawasan tersebut. Dari pemodelan 3D dapat diketahui bahwa terdapat nilai sebaran densitas rendah dan tinggi pada daerah penelitian tersebut yang ditunjukkan pada Gambar 2.6. Nilai densitas rendah dipengaruhi dengan keberadaan reservoar, sedangkan nilai densitas tinggi diperkirakan pengaruh keberadaan magma gunungapi tersebut. Hasil pemodelan 3 dimensi dan peta SVD struktur dangkal menunjukkan bahwa reservoar panasbumi umumnya merupakan zona rekahan (fracture zone) yang menurunkan nilai rapat masa batuan dibandingkan dengan sekitarnya.

nilai rapat masa batuan dibandingkan dengan sekitarnya. Gambar 2.6 Model inversi 3D Anomali Bouguer dengan cutplane

Gambar 2.6 Model inversi 3D Anomali Bouguer dengan cutplane arah Timur

4.

Metode Seismik

Metode seismik merupakan salah satu bagian dari seismologi eksplorasi yang dikelompokkan dalam metode geofisika aktif, dimana pengukuran dilakukan dengan menggunakan ‘sumber’ seismic. Metode seismik didasarkan pada gelombang yang menjalar baik refleksi maupun refraksi. Metode seismik sering digunakan dalam eksplorasi hidrokarbon, batubara, pencarian airtanah(ground water),kedalaman serta karakterisasi permukaan batuan dasar (characterization bedrock surface), pemetaan patahan dan stratigrafi lainnya dbawah permukaan dan

aplikasi geoteknik. Pada penelitian Jones, Ian F dan Ian Davidson tentang seismic imaging in and around salt bodies. Penelitian ini menunjukkan pencitraan kubah garam dengan menggunakan seismik.

pencitraan kubah garam dengan menggunakan seismik. Gambar (a) menunjukkan penampang seismik melalui diapir

Gambar (a) menunjukkan penampang seismik melalui diapir Epsilon, Norwegia Laut Utara. Gambar ini menunjukkan penafsiran predrill berwarna hijau dari lebar leher diapir garam dan interpretasi postdrill berwarna ungu. Sedangkan bar kuning menunjukkan titik kontrol di dalam sumur yang berpotongan antarmuka sedimen-anhidrit cap batu. Pada Gambar b. gambar garis rinci diapir leher menyoroti cap rock anhidrit digambarkan dengan warna merah muda gelap, dan garam dalam warna merah muda. (Jackson dan Lewis, 2012).