Anda di halaman 1dari 9

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN OLIGOMENOREA

A. Pengertian
a. Oligomenorea adalah siklus menstruasi panjang lebih dari 35 hari. Pada kasus
Oligomenorea kesehatan wanita tidak terganggu, dan fertilitas cukup baik. Siklus haid
biasanya juga ovulator dengan masa proliferasi lebih panjang dari biasa.
b. Oligomenorea
adalah
siklus
menstruasi
melebihi
35
hari,
yang
perdarahannya sama dan diakibatkan karena gangguan hormonal. ( Chandra,
Manuaba. 2009 )
c. Kamus kedokteran mendefinisikan oligomenore sebagai haid yang datang tidak
teratur atau haid yang sedikit sekali.
d. Oligomenorrhea , didefifnisikan sebagai menstruasi tidak teratur,jarang. Jangka
waktu 6 bulan atau lebih tidak teratur , menstruasi jarang, dan definisi lain
oligomenore sebagai sedikit 9 dari periode menstruasi per tahun
B. Etiologi
Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan terjadinya oligomenore diantaranya yaitu :
1. Gangguan hormonal
Terjadinya gangguan hormonal menyebabkan perubahan keseimbangan pada aksis
hipotalamus-hipofisis-ovarium. Gangguan hormon tersebut menyebabkan lamanya siklus
menstruasi normal menjadi memanjang, sehingga menstruasi menjadi lebih jarang
terjadi. Oligomenorea yang terjadi menjelang menopause yaitu karena kurang baiknya
koordinasi antara hipotalamus, hipofisis dan ovarium pada awa erjadinya menstruasi
pertama
dan
menjelang
terjadinya
menopause, sehingga timbul gangguan
keseimbaangan hormon dalam tubuh. Pada remaja oligomenore dapat
disebabkan
karena kurangnya sinkronisasi antara hipotalamus, kelenjar pituari dan indung
telur. Hipotalamus
merupakan bagian
otak
yang mengatur
suhu
tubuh,
metabolisme sel dan fungsi dasar seperti makan, tidur & reproduksi. Hipotalamus
mengatur pengeluaran hormon yang mengatur kelenjar pituari. Kemudian kelenjar
pituari akan merangsang produksi hormon yang mempengaruhi pertumbuhan dan
reproduksi. Pada awal & akhir masa reproduksi wanita, beberapa hormon tersebut dapat
menjadi kurang Hal ini mengakibatkan siklus haid memanjang. (Agus, 2008)
2. Penyakit kronis
Akibat menderita penyakit kronis seperti tumor yang mensekresikan estrogen dan
nutrisi buruk sehingga tubuh kekurangan nutrisi, yang mengakibatkan kebutuhan
sel-sel tubuh tidak tercukupi termasuk kebutuhan untuk berovulasi (Iskandar, 2007).
3. Stres

Wanita yang mengalami stres, biasanya juga akan mengalami gangguan


hormonal. Hipothalamus saat stres akan mensekresi CRF (corticotropin releasing
factor)
yang
memacu
hipofise
anterior
untuk memproduksi ACTH
(adenocorticotrophic hormone). Pelepasan ACTH menyebabkan kelenjar adrenal
mensekresi hormon kortisol. Adanya sekresi hormon kortisol menimbulkan
respon kewaspadaan yang merupakan salah satu respon tubuh terhadap stres. Akibatnya
produksi seks hormon (estrogen dan progesteron) ditekan sedemikian rupa sehingga tidak
berkompetisi mendapatkan energi. Hal ini mengakibatkan tidak terjadinya ovulasi
(oligomenore) (Hager, 2002).

C. Patofisiologi
Oligomenorea biasanya terjadi akibat adanya gangguan keseimbangan hormonal
pada aksis hipotalamus-hipofisis-ovarium. Gangguan hormon tersebut menyebabkan
lamanya siklus menstruasi normal menjadi memanjang, sehingga menstruasi menjadi lebih
jarang terjadi. Oligomenorea sering terjadi pada 3-5 tahun pertama setelah haid
pertama ataupun beberapa tahun menjelang terjadinya menopause. Oligomenorea yang
terjadi pada masa-masa itu merupakan variasi normal yang terjadi karena kurang baiknya
koordinasi antara hipotalamus, hipofisis dan ovarium pada awal terjadinya menstruasi
pertama dan menjelang terjadinya menopause, sehingga timbul gangguan
keseimbaangan hormon dalam tubuh. Oligomenorea dan amenorea sering kali mempunyai
dasar yang sama, perbedaannya terletak dalam tingkat. Pada kebanyakan kasus
oligomenorea kesehatan wanita tidak terganggu, dan fertilitas cukup baik. Siklus
haid biasanya juga ovulatoar dengan masa proliferasi lebih panjang dari biasanya
Oligomenore yang terjadi pada remaja, seringkali
disebabkan
karena
kurangnya
sinkronisasi antara hipotalamus, kelenjar pituari dan indung telur.
Hipotalamus merupakan bagian otak yang mengatur suhu tubuh, metabolisme sel dan fungsi
dasar seperti makan, tidur dan reproduksi. Hipotalamus mengatur pengeluaran hormon yang
mengatur kelenjar pituari. Kemudian kelenjar pituari akan merangsang produksi hormon
yang mempengaruhi pertumbuhan dan reproduksi. Pada awal dan akhir masa reproduksi
wanita, beberapa hormone tersebut dapat menjadi kurang tersinkronisasi, sehingga
akan menyebabkan terjadinya haid yang tidak teratur. (Doengoes, Marlynn:2009)

D. Manifestasi Klinis
Periode siklus menstruasi yang lebih dari 35 hari sekali, dimana hanya didapatkan 4-9
periode dalam 1 tahun. Haid yang tidak teratur dengan jumlah yang tidak tentu. Pada
beberapa wanita yang mengalami oligomenore terkadang juga mengalami kesulitan
untuk hamil. Bila kadar estrogen yang menjadi penyebab, wanita tersebut mungkin
mengalami osteoporosis dan penyakit kardiovaskular. Wanita tersebut juga memiliki resiko
besar untuk mengalami kanker uterus .

E. Pemeriksaan Penunjang.
Pemeriksaan untuk mengetahui apakah seseorang mengalami oligomenore atau tidak,
biasanya dilakukan dengan beberapa cara, yaitu :
1. Riwayat Siklus Menstruasi
Untuk diagnosis oligomenore, dapat dikaji dengan riwayat menstruasi (masalah,
waktu menstruasi, frekuensi, kuantitas perdarahan, aktifitas seksual, penggunaan
kontrasepsi, penggunaan obat-obatan atau prosedur operasi yang pernah dijalani.
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Fisik untuk mengevaluasi proporsi berat badan klien terhadap tinggi badan,
melihat tanda perkembangan seksual yang normal, detak jantung dan tanda-tanda vital,
kelenjar tiroid untuk melihat ada tidaknya pembengkakan.
3. Pemeriksaandi Laboratorium
Pemeriksaan panggul dan pap tes. Untuk mengetahui penyebab tertentu dari oligomenore,
tes kehamilan dan tes darah untuk mengetahui kadar hormon tiroid.
4. Pemeriksaan Penunjang
a. USG : memeriksa daerah panggul dan melihat ada atau tidaknya ketidak normalan
anatomi,
b. Sinar X atau scan : untuk mengetahui ada atau tidaknya patah tulang,
c. MRI : melihat ada atau tidaknya tumor yang mempengaruhi hipotalamus
atau kelenjar pituari
F. Penatalaksanaan Oligomenore
Penanganan untuk haid yang datang tidak teratur atau oligomenore tergantung dari
penyebabnya. Pada remaja dan wanita yang memasuki usia menopause biasanya tidak
memerlukan terapi apapun, karena hal tersebut akan hilang dengan sendirinya.
Kebanyakan pasien yang mengalami oligomenore diterapi dengan menggunakan pil
KB. Untuk yang lainnya, termasuk mereka yang mengalami PCOS, diterapi
dengan menggunakan hormon tertentu, tergantung hormon apa yang dibutuhkan.
Ketika oligomenore terjadi karena kelainan pola makan atau seperti pada the female athlete
triad, maka penyebab utama masalahnya harus ditangani terlebih dahulu Penaganan
oligomenore dapat berupa Pengobatan yang tergantung dengan penyebab,
1. Pada oligomenore dengan anovulatoir serta pada remaja dan wanita yang
mendekati menopouse tidak memerlukan terapi.
2. Perbaikan status gizi pada penderita dengan gangguan nutrisi dapat

memperbaiki keadaan oligomenore.


a. Perbanyak komsumsi sayur dan buah sebagai sumber serat. Asupan serat
sekurang- kurangnya 20-30 gram per hari.
b. Mengkonsumsi vitamin B6 (piridoksin) 50-100 mg per hari untuk 2
minggu tiap bulan.
c. Mengkonsumsi makanan mengandung magnesium 200-400 mg per hari.
d. Gunakan evening primrose oil, herbal vitex, atau krim progesteron alami
bila ada dominasi ekstrogen (Ummu Azzam.2012:57)
3. Oligomenore sering diobati dengan pil KB untuk memperbaiki
ketidakseimbangan
hormonal.
4. Bila gejala terjadi akibat adanya tumor, diperlukan operasi: Adanya tumor
yang mempengaruhi pengeluaran hormon estrogen, maka tumor ini perlu di
tindak lanjuti seperti dengan operasi,kemoterapi.

ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian.
1. Identitas
Wanita yang mengalami oligomenorea biasanya usia produktif. Usia
Menstruasi yang tidak teratur pada masa 3-5 tahun setelah menarche
dan pramenopause (3-5tahun menjelang menopause) merupakan
keadaan yang lazim dijumpai. Oligomenore yang terjadi pada remaja,
seringkali disebabkan karena kurangnya sinkronisasi antara
hipotalamus, kelenjar pituari & indung telur.
2. Keluhan Utama.

Tidak adanya haid sekurang- kurang nya 3 bulan berturut-turut, nyeri.


3. Riwayat penyakit sekarang.
Perlu dikaji adanya stress yang berlebihan atau factor-faktor etiologi
penyebab oligomenore
4. Riwayat Psikososial
Merupakan factor- factor psikososial yang memicu oligomenore.

B. Pemeriksaan Fisik.
Keadaan umum, pada pasien dengan oligomenore tidak terdapat gangguan
pada tanda- tanda vital.
1. Tanda-tanda Vita
TD: 110/80mmHg
T : 36,5
0
C
N : 90x/menit
RR: 22x/menit
2. Pemeriksaan Kepala dan Leher
a. Kepala

: bentuk kepala Normal, tidak ada

edema.
b. Mata : mata simetris, conjungtiva merah
muda, pupil isokor
c. Hidung : tidak ada pernafasan cuping hidung.
d. Mulut : mukosa lembam
e. Leher : tidak ada pernafasan vena jugularis,
tidak ada pembengkakan kelenjar tiroid

3. Pemeriksaan Thorak
a. Inspesi : bentuk dada simetris
b. Palpasi : tidak ada benjolan
c. Perkusi : bunyi sonor
d. Auskultasi : tidak ada suara tambahan seperti wezzing.
4. Pemeriksaan Jantung
a. Auskultasi : suara jantung terdengar pada ICS
1,2. Suara lop dup.

5. Pemeriksaan Abdomen
a. Inspeksi : tidak ada benjolan
b. Palpasi : nyeri Skala 5-7
c. Perkusi : bunyi redup
d. Auskultasi : bising usus terdengar
6. Pemeriksaan Muskuluskeletal
Kekuatan otot tangan kakan kiri 5,5 kaki kanan kiri 5,5. Tidak ada
benjolan
8. Psikososial
Klien sering mengalami strees, cemas
Pemeriksaan Fisik untuk mengevaluasi proporsi berat badan klien terhadap
tinggi badan, melihat tanda perkembangan seksual yang normal, detak
jantung dan tanda-tanda vital, kelenjar tiroid untuk melihat ada tidaknya
pembengkakan.

C. Diagnosa Keperawatan.
1. Nyeri berhubungan dengan peningkatan kontraksi uterus selama fase
menstruasi

2. Ansietas berhubungan dengan krisis situasional


3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi..
4. Resiko infeksi berhubungan dengan pertumbuhan mikroorganisme.
5. Gangguan integeritas kulit berhubungan dengan kelembapan yang
berlebih
D. Intervensi Keperawatan.
1. Nyeri berhubungan dengan peningkatan kontraksi uterus selama fase
menstruasi.
Tujuan :. setelah diberikan asuhan keperawatan selama 1x 24 jam nyeri
klien akan berkurang,teradaptasi.
Kriteria hasil:
a. Secara obyektif melaporkan nyeri berkurang atau dapat
teradaptasi, skala (0-1).
b. Dapat mengidentifikasi aktifitas yang meningkatkan dan
menurunkan nyeri.
c. Klien tampak tenang
intervensi

rasional

1. Kaji nyeri dengan PQRST


2. Pantau/ catat karakteristik nyeri
( respon verbal, non verbal, dan
respon hemodinamik) klien.
3. Berikan kompres dingin pada
perut hangat pada perut

1. Menjadi parameter dasar untuk


mengetahui sejauh mana
intervensi yang diperlukan dan
sebagai evaluasi keberhasilan
ari intervensi manajemen nyeri
keperawatan.
2. mendapatkan indicator nyeri.
3. Kompres dingin Meningkatkan
rasa nyaman dengan
menurunkan
vasodilatasi,kompres hangat
Meningkatkan sirkulasi pada
otot yang meningatkan relaksasi
dan mengurangi ketegangan
4. Dengan manajemen nyeri dapat
mengurangi nyeri.

HE
4. Ajarkan
manajemen nyeri keperawatan
a. Atur posisi fisiologi
b. Manajemen lingkungan :
ciptakan suasana yang
nyaman.
c. Tingkatkan pengetahuan
tentang nyeri dan

menghubungkan berapa
lama nyeri akan
berlangsung
5. Kolaborasi
Pemberian obat analgesiK

a. Posisi fisiologi akan


meningkatkan asupan O2
ke jaringan yang mengalami
iskemia.
b. Lingkungan yang nyaman
akan menurunkan stimulasi
eksternal
c. Pengetahuan yang akan
dirasakan membantu
mengurangi nyeri dan dapat
mengembangkan kepatuhan
klien terhadap recana
terapiutik
5. Analgesik me,blok lintasan
nyeri sehingga nyeri akan
berkurang

PENUTUP
A. Kesimpulan
Oligomenorea merupakan siklus menstruasi panjang lebih dari 35 hari.
Pada kasus Oligomenorea kesehatan wanita tidak terganggu, dan fertilitas
cukup baik. Siklus haid biasanya juga ovulator dengan masa proliferasi lebih
panjang dari biasa. Faktor-faktor yang mempengaruhi adalah faktor hormonal,
penyakit kronis dan stress, dari keriga faktor tersebut mempengaruhi
ketidakseimbangan hormonal akan berpengaruh pada Oligomenorea, dan
kemunculan berbagai diagnosa, Sehingga perlu dilakukan penatalaksanaan
yang tepat dan sistem rujukan yang sistematis yang dapat digunakan dalam
penanganan pada klien dengan Oligomenorea.

B. Saran
Dengan terselesaikan Laporan Pendahuluan dan Asuhan Keperawatan
Oligomenorea diharapkan mahasiswa mampu mengaplikasikan dan

menerapkan konsep penyakit Oligomenorea maupunsistem Rujukan secara


baik dan tepat kepada klien

DAFTAR PUSTAKA
Chandra, Ida Ayu. (2009). Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita.
Jakarta:EGC
Doengoes, Marlynn.( 2001 ). Rencana Perawatan maternal / Bayi. Jakarta : EGC
Llewellyn,Derek.(2009).Dasar-dasar Obsteri dan Ginekologi.Jakarta:EGC.
M. Jacobs,Amanda.(2012).Oligomenorrhea in the Adolescent.North america:
Naspag.
Prawirohardjo Sarwono. 2005. Ilmu Kandungan Edisi 2 Cetakan 4 .
Jakarta:Yayasan Bina Pustaka
Rabe, Thomas.( 2003 ). Buku Saku Ilmu Kandungan. Jakarta : Hipocrates.
Sastrawinata, Sulaiman.( 2000 ). Ginekologi. Bandung : Elister Offside

( http://documents.tips/documents/bab-i-56abec7ab3ac3.html )