Anda di halaman 1dari 9

Rini Prediksi Setoran Dividen BUMN 2016

Hanya Rp 31 T, Turun 15%


Muhammad Idris - detikfinance
Kamis, 03/09/2015 17:39 WIB

Foto:
Idris/detikFinance
Jakarta -Setoran dividen Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tahun depan diprediksi
Rp 31,164 triliun. Setoran ini lebih rendah 15,6% dari target tahun ini Rp 36,957
triliun.
Hal itu disampaikan Menteri BUMN, Rini Soemarno saat rapat bersama pejabat Kementerian
BUMN dan Komisi VI DPR di Gedung MPR/DPR Senayan, Jakarta Selatan, Kamis
(3/9/2015).
"Besaran target dividen pemerintah tahun 2016 dari laba BUMN tahun buku 2015 sebesar Rp
31,164 triliun," katanya.
Rini mengatakan, dalam penetapan kebijakan dividen, Kementerian BUMN
mempertimbangkan beberapa aspek mulai dari profitabilitas hingga likuiditas BUMN.
Penentunya memperhatikan tingkat laba serta kemampuan arus kas perusahaan.
"Kedua, dengan kebutuhan pendanaan perusahaan, persepsi investor agar tidak akan
menurunkan nilai pasar BUMN listed (terbuka), dan kebutuhan APBN," ujarnya.

Rini menambahkan, realisasi dividen sampai Agustus 2015 adalah Rp 32,136 triliun,
atau 87% dari target APBN 2015 sebesar Rp 36,957 triliun.
"Target laba BUMN tahun 2015 yang akan menjadi dasar perhitungan dividen di APBN 2016
sebesar Rp 165,405 triliun kemungkinan tidak akan tercapai mengingat kondisi
perekonomian negara saat ini," kata Rini.
Dividen tahun 2016 itu terbagi menjadi BUMN perbankan Rp 8,253 triliun, dan non
perbankan Rp 22,911.
Sementara realisasi dividen BUMN sampai Agustus 2015 dari perbankan Rp 8,884
triliun dan non perbankan Rp 23,252 triliun. Targetnya tahun ini dari perbankan Rp
8,752 triliun dan non perbankan Rp 28,205 triliun.
Pada kesempatan yang sama Rini mengatakan, realisasi penyerapan anggaran Kementerian
BUMN sampai akhir Agusus 2015 sebesar Rp 49,83 miliar atau 33,7% dari pagu anggaran
sebesar Rp 148,07 miliar.
"Ini rincian realisasinya per program yakni program dukungan manajemen sebesar Rp 44,7
miliar dari pagu anggaran Rp 119,27 miliar atau 37,5%," ujar Rini.
Selain itu ada program pembinaan BUMN yang realisasinya mencapai Rp 5,13 miliar dari
pagu Rp 28,8 miliar atau hanya 17,8%.
"Upaya-upaya percepatan yang akan kita lakukan yaitu mengingatkan masing-masing unit
kerja untuk segara menyelesaikan program pengadaan yang tertunda. Kedua, monitoring
rencana pencapaian output dan pencairan anggaran setiap awal bulan," tambahnya.
Ketiga, kata Rini, pihaknya mendorong peningkatan kualitas perencanaan anggaran yang
lebih implementatif. Keempat, mendorong proses pencairan anggaran sebelum pelaksanaan
kegiatan secara langsung.
"Terakhir, mempercepat proses penyelesaian dokumen pertanggungjawaban," ucapnya.
Rini menambahkan, ada tiga kendala yang dihadapi Kementerian BUMN dalam menyerap
anggaran. Pertama, adanya kebijakan pembatasan pelaksanaan konsinyering dan perjalanan
dinas pada awal tahun anggaran.
Sementara yang kedua, pengisian JPT madya yang tidak dapat dilaksanakan secara cepat dan
adanya perubahan struktur organisasi kementrian BUMM yang baru diselesaikan secara
tuntas pada akhir bulan Juli 2015.
Sedangkan yang ketiga, adanya kegiatan yang butuhkan proses lelang dan perlu dilakukan
lelang ulang.
"Kami harap komisi VI dapat menyetujui pagu anggaran Kementerian BUMN tahun 2016
sebesar Rp 345 miliar dan besaran target dividen pemerintah tahun 2016 dari laba BUMN
tahun buku 2015 sebesar Rp 31,164 triliun," ujarnya.

(ang/dnl)

DIVIDEN BUMN 2015: Pemerintah


Pangkas Target Setoran Rp1,5 Triliun
Sukirno Jum'at, 21/11/2014 20:12 WIB
Bisnis.com, JAKARTA--Kerugian perusahaan pelat merah yang kian banyak membuat
pemerintah memutuskan untuk menurunkan setoran target dividen sebesar Rp1,5 triliun pada
tahun depan menjadi Rp42,23 triliun.
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Mariani Soemarno mengatakan penurunan
dividen dilakukan setelah sejumlah perusahaan pelat merah mengalami kerugian yang cukup
besar pada periode tahun ini.
"Dividen BUMN diturunkan karena ada beberapa BUMN yang merugi sehingga diturunkan
sekitar Rp1,5 triliun atau 3% dari total target," ungkapnya, Jumat (21/11/2014).
Dalam rapat Badan Anggaran DPR diputuskan target setoran dividen BUMN pada RAPBN
2015 dinaikkan dari Rp41 triliun menjadi Rp43,73 triliun atau dibulatkan menjadi Rp44
triliun.
Dividend payout ratio yang disepakati antara pemerintah dan DPR a.l untuk PT Semen
Indonesia (Persero) Tbk. dari 45% menjadi 70%, PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) dari
35% menjadi 40%, PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) dari 35% menjadi 40%.
Kemudian PT Hutama Karya (Persero) dari nol persen menjadi 30%, PT Bank Mandiri
(Persero) Tbk. dari 27,5% menjadi 30%, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. dari 25%
menjadi 30%, dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. dari 20% menjadi 30%.
Adapun PT Perkebunan Nusantara III (Persero) dari sebelumnya 30% menjadi 35%, PT
Perkebunan Nusantara IV dari sebelumnya 31% menjadi 35%, dan PT Jasa Raharja (Persero)
dari 55% menjadi 60%.
Setoran bagian dari laba BUMN pada semester I/2014 tercatat mencapai Rp30,21
triliun. Perolehan tersebut merupakan pencapaian 75,53% dari target laba BUMN 2014
sebesar Rp40 triliun.
Penerimaan pemerintah atas laba BUMN per 30 Juni 2014 itu terdiri dari laba BUMN
perbankan sebesar Rp8,791 triliun dan laba BUMN non-perbankan sebesar RP21,419
triliun.

2016, Setoran Dividen Bank BUMN Rp 6,94 T


Oleh Agustiyanti | Jumat, 2 Oktober 2015 | 19:38
JAKARTA Pemerintah menargetkan setoran dividen atas perolehan laba bank-bank
BUMN tahun 2016 sebesar Rp 6,94 triliun, turun dibandingkan proyeksi setoran dividen bank
BUMN tahun ini Rp 10,26 triliun. Adapun rasio dividen bank BUMN tahun 2016 atas laba
tahun ini ditetapkan sekitar 20-28%, dengan perkiraan total dividen yang dibagikan Rp 11,57
triliun.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno menuturkan, dalam menetapkan
besaran dividen BUMN, pihaknya mempertimbangkan tingkat laba serta kemampuan
pendanaan dan solvabilitas atau permodalan. Untuk bank-bank BUMN, menurut dia, dengan
mempertimbangkan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) maka dividend
payout ratio bank-bank BUMN ditetapkan sekitar 20-28%.Bankbank BUMN dengan
mempertimbangkan kebutuhan CAR, dividend payout ratio-nya tahun depan akan di kisaran
20-28%, ujar Rini di Jakarta, Kamis ( 1/10).

Rini menjelaskan, tahun depan, setoran dividen dari bank-bank BUMN ditargetkan sebesar
Rp 6,94 triliun. Adapun jumlah tersebut sebenarnya turun dibandingkan setoran dividen
BUMN tahun 2015 atas perolehan laba tahun lalu sebesar Rp 10,26 triliun.

Empat bank BUMN tidak hanya berkontribusi melalui dividen, tapi juga pajak. Tahun lalu,
pajak yang dibayarkan bank-bank BUMN mencapai Rp 24,8 triliun. Jadi total kontribusi
bank-bank BUMN mencapai di atas Rp 34 triliun pada tahun lalu, terang dia.

Dalam parameter dividen usulan dividen BUMN tahun anggaran 2016, untuk bank BUMN
yang memiliki CAR maksimal atau di bawah 14,9% akan dikenakan rasio dividen paling
tinggi 19%. Untuk bank BUMN yang memiliki CAR 15-19,9%, maka rasio dividen akan
sekitar 20- 29%. Sedangkan bank BUMN yang memiliki CAR minimal atau di atas 20% akan
dikenakan rasio dividen minimal atau di atas 30%.

Berdasarkan rapat umum pemegang saham (RUPS) masingmasing bank BUMN awal tahun
ini, dividend payout ratio bank BUMN 2015 dari laba tahun lalu ditetapkan sebesar 20-30%,
dengan dividen terendah pada PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) sebesar 20%
dan dividen tertinggi sebesar 30% pada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI).
Sedangkan dividend payout ratio PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dan PT Bank Negara
Indonesia (Persero) Tbk (BNI) masing-masing sebesar 25%.

Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan Kementerian BUMN Gatot Trihargo menuturkan dalam
menetapkan dividend payout ratio, pihaknya akan memperhitungkan kebutuhan permodalan
masing-masing bank termasuk kebutuhan untuk pemenuhan ketentuan Basel III yang akan
mulai diterapkan tahun depan. Kami sudah analisis, tidak masalah tahun depan untuk
permodalan, terang dia.

Menurut Gatot, tahun depan, CAR bank-bank BUMN akan dijaga di atas 14% untuk
memenuhi ketentuan permodalan sesuai dengan ketetapan Basel III tersebut. Hingga semester
pertama tahun ini, BRI mencatatkan CAR sebesar 20,4%, Bank Mandiri 17,63%, BNI
17,11%, dan BTN 14,78%.

Direktur Keuangan BRI Haru Koesmahargyo menuturkan, dengan perlambatan pertumbuhan


kredit, modal tidak terlalu banyak digunakan. Dengan demikian, maka rasio kecukupan
modal perseroan pun cenderung mengalami kenaikan. Perkiraan kami sampai akhir tahun
masih akan di kisaran 20%, terang dia.

Tahun depan, dengan rasio dividen yang ditetapkan tersebut, permodalan BRI pun
diperkirakan akan cukup untuk memenuhi ketentuan permodalan sesuai aturan Basel III yang
mengharuskan adanya tambahan permodalan mulai tahun depan.

Direktur Keuangan BNI Rico Rizal Budidarmo menjelaskan, hingga akhir tahun ini rasio
kecukupan modal perseroan akan di atas 17%. Tahun depan, menurut dia, dengan rasio
dividen yang akan ditetapkan pemerintah tersebut, permodalan perseroan diperkirakan masih
akan mampu memenuhi ketentuan permodalan sesuai dengan aturan Basel III.

Kami rasa untuk tahun depan, dengan adanya ketentuan tambahan modal, modal kami masih
cukup dengan akumulasi laba, terang dia.

Menurut dia, BNI juga tengah mempertimbangkan untuk menambah permodalan dengan
menerbitkan obligasi subordinasi. Namun, waktu penerbitan obligasi tersebut masih akan
memperhitungkan kebutuhan modal dan kondisi bunga di pasar. (ID)

Rasio Dividen BRI Tertinggi, BTN Terendah


Oleh Agustiyanti | Senin, 23 Maret 2015 | 20:45
JAKARTA Pemerintah menetapkan penurunan rasio dividen di bank BUMN
menjadi 20-30% tahun ini, dengan rasio dividen tertinggi di PT Bank Rakyat
Indonesia (Persero) Tbk (BRI) sebesar 30%. Sedangkan rasio dividen terendah
sekitar 20% kemungkinan ditetapkan untuk PT Bank Tabungan Negara (Persero)
Tbk (BTN).
Rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) sudah digelar di BRI pada 19
Maret 2015, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk pada 16 Maret 2015, dan PT Bank
Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) pada 17 Maret 2015. Rasio dividen terbesar
ditetapkan di BRI sebesar 30% dengan nominal dividen Rp 7,27 triliun.
Sedangkan rasio dividen Bank Mandiri dan BNI sebesar 25% dengan nilai
nominal masing-masing Rp 4,97 triliun dan Rp 2,7 triliun.
Sementara itu, pemerintah kemungkinan akan menetapkan rasio dividen
terendah di BTN di kisaran 20% dengan nominal dividen sebesar Rp 179 miliar.
BTN akan menggelar RUPST pada pada 24 Maret 2015.
Dengan demikian, total dividen yang dibagikan oleh keempat bank BUMN kepada
pemegang sahamnya sekitar Rp 15,12 triliun, meningkat tipis dibandingkan
dividen yang dibagikan pada 2014 sebesar Rp 14,93 triliun.
Dengan jumlah dividen tersebut dan rata-rata kepemilikan saham pemerintah
sebesar 60%, maka bank-bank BUMN akan menyetorkan dividen kepada
pemerintah sekitar Rp 9,07 triliun atau 24,54% dari target setoran dividen
seluruh BUMN tahun ini sebesar Rp 36,96 triliun.
Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan, Konstruksi, dan Jasa Lainnya Kementerian
BUMN Gatot Trihargo menuturkan, pihaknya sebelumnya berencana menurunkan
rasio dividen bank-bank BUMN lebih rendah.
Namun, menurut dia, karena adanya permintaan kenaikan dividen sebesar Rp 2
triliun dari permintaan penurunan dividen yang diminta pemerintah dalam
pembahasan APBN-P (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan),
maka rasio dividen bank BUMN tahun ini di kisaran 20-30%.

Kisarannya memang 20-30%. Semula memang sempat diusulkan penurunannya


hingga ada yang 10%, tapi itu sebelum ada permintaan kenaikan setoran dividen
Rp 2 triliun dalam pembahasan APBN-P, ujar Gatot di Jakarta, akhir pekan lalu.
Dalam pengajuan APBN-P 2015, pemerintah semula mengajukan usulan
penerimaan dari laba BUMN sebesar Rp 35 triliun. Tetapi, dalam pembahasan
APBN-P pemerintah dengan DPR, target setoran dividen tersebut kemudian
dinaikkan menjadi Rp 36,96 triliun.
Sebelumnya, Gatot menjelaskan, untuk menetapkan rasio dividen BUMN,
pihaknya telah menghitung kemampuan di masing-masing BUMN agar bisa
memenuhi ketentuan permodalan. Dengan ukuran bank BUMN saat ini, menurut
dia, paling tidak rasio modal bank BUMN harus dijaga pada kisaran 15%. Ke
depan, jika kondisi APBN sudah cukup mendukung, pemerintah akan kembali
menurunkan rasio dividen bank BUMN.
Pada posisi akhir tahun lalu, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR)
terbesar dimiliki oleh BRI sebesar 18,31%. Sedangkan rasio kecukupan modal
terendah dimiliki BTN sebesar 14,64%. CAR BNI di level 16,22%.
Direktur Bank Mandiri Pahala Mansury, menjelaskan dengan rasio dividen
sebesar 25%, maka CAR Bank Mandiri tercatat sedikit menurun menjadi 16,5%
dari 16,6% pada posisi akhir tahun lalu. Pahala pun memperkirakan hingga akhir
tahun ini CAR Bank Mandiri masih di level 16,2%.
Sesuai aturan OJK, pada akhir tahun lalu posisi modal sudah menghitung laba
ditahan, sehingga akhir tahun lalu posisi CAR kami sebesar 16,6%. Dengan rasio
dividen 25%, CAR kami masih di 16,5%, terang dia.
Sementara itu, Direktur BRI Randy Anto menjelaskan, kemampuan BRI untuk
mencetak laba tertinggi dengan total laba sebesar Rp 24,24 triliun pada tahun
lalu, membuat perseroan memiliki kondisi permodalan yang sangat baik. Dari
laba Rp 24,24 triliun, sekitar 30% untuk dividen. Sedangkan 11% atau sekitar Rp
2,67 triliun untuk cadangan tujuan guna mendukung investasi. Sisanya untuk
laba ditahan BRI, terang dia.
Dengan laba ditahan tersebut, rasio modal BRI kemungkinan masih di kisaran
18%. Selain itu, menurut dia, berdasarkan simulasi yang dilakukan dengan rasio
modal tersebut, BRI masih akan memiliki kemampuan untuk memenuhi
ketentuan permodalan yang berlaku saat ini maupun di masa mendatang.
Konsolidasi Strategi
Selain memperkuat permodalan bank-bank BUMN, menurut Gatot, pemerintah
akan mendorong bank-bank BUMN untuk melakukan konsolidasi strategi.
Konsolidasi strategi tersebut akan dimulai pada integrasi mesin ATM milik
keempat bank BUMN. Teman-teman sudah punya rencana untuk ada satu EDC,

kemudian sesuai arahan bapak Presiden untuk bisa diintegrasikan menjadi satu
ATM, ungkap dia.
Pemerintah juga akan mendorong bank-bank BUMN untuk bersinergi dalam
pembiayaan, terutama pembiayaan-pembiayaan infrastruktur atau sektor
lainnya yang menjadi prioritas pemerintah. Selama ini mereka sudah sinergi
dalam pembiayaan, ini tentu akan kami dorong untuk ditingkatkan, terang dia.
Direktur Utama BRI Asmawi Syam menyatakan pihaknya siap untuk bersinergi
dengan tiga bank BUMN, dari sisi teknologi maupun pembiayaan. Sinergi
tersebut akan mendorong efisiensi di bank BUMN. Tetapi, bagaimanapun
tentunya ini adalah bagian dari bisnis, jadi perlu dipelajari seperti apa nanti
model bisnisnya, ungkap dia.
Direktur Utama BNI Achmad Baiquni menuturkan, pihaknya juga siap mendukung
adanya konsolidasi strategi antarbank BUMN. Konsolidasi, menurut dia, antara
lain dapat dilakukan melalui kerja sama ATM dan inergi pembiayaan sindikasi.

Setoran dividen bank BUMN turun?


Minggu, 24 Januari 2016 / 18:00 WIB

JAKARTA. Penerimaaan dividen dari bank pelat merah tahun 2015 kemungkinan sedikit
mengalami penurunan dari tahun sebelumnya.
Hal ini, karena secara pertumbuhan laba bank badan usaha milik negara (BUMN) 2015
sedikit lebih rendah dibandingkan 2014.
Menurut Deputi Bidang Jasa Keuangan Kementrian BUMN Gatot Trihargo, secara jangka
panjang pemerintah ingin memperkuat permodalan bank BUMN dengan mengurangi setoran
dividen.
"Namun dalam jangka panjang sampai 2019, kami ada rencana untuk progress (dividen)
diturunkan, ujar Gatot kepada KONTAN, pekan lalu.
Untuk memperbesar modal guna memenuhi aturan Basel III, menurut Gatot, bank BUMN
juga diharapkan agar lebih efisien.
Dengan efisiensi ini diharapkan biaya operasional perbankan bisa lebih rendah dan BOPO
atau rasio biaya operasional dibandingkan pendapatan operasional bisa lebih rendah.
Secara umum berdasarkan Nota Keuangan dan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara Tahun Anggaran 2016, disebutkan bahwa pendapatan bagian laba (dividen) BUMN
perbankan pada 2016 diproyeksikan lebih rendah dibandingkan dengan 2015.
Pada 2016 pendapatan bagian laba (dividen) BUMN perbankan diproyeksi sebesar Rp 6,9
triliun atau lebih rendah dibandingkan realisasi 2015 yaitu Rp 10,26 triliun.

Jika dilihat dividen payout ratio dari laba bank BUMN 2015 yang dibayarkan pada awal 2016
sebesar 20% - 28% ini lebih rendah dibandingkan 2014 sebesar 20% - 30%.
Meskipun demikian pada 2016, menurut Menteri BUMN, Rini Soemarno, pemerintah
mematok laba bersih BUMN bisa lebih tinggi dibandingkan 2015.
Pada 2015, menurut Rini kementrian mengakui bahwa secara umum BUMN mencatatkan
penurunan laba bersih.
Walaupun 2015 profitaility agak turun, namun secara cash flow teta kuar sehingga bisa
memberikan deviden kepada pemerintah, ujar Rini ketika memberikan paparan kinerja
BUMN, pekan lalu.
Menurut Rini Empat bank BUMN tidak hanya berkontribusi melalui dividen, tapi juga pajak.
Tahun lalu, pajak yang dibayarkan bank-bank BUMN mencapai Rp 24,8 triliun.
Jadi total kontribusi bank-bank BUMN mencapai di atas Rp 34 triliun pada tahun lalu.
Menurut Direktur Utama Bank BNI, Achmad Baiquni, pada tahun ini dividen payout ratio
bank berkode BBNI ini memang sedikit mengalami penurunan.
Namun secara detail berapa rasio yang dimaksud, Baiquni enggan merinci lebih jauh.
Namun penurunan ini bagus karena bisa digunakan untuk memperkuat permodalan.