Anda di halaman 1dari 13

Stres yang Diperberat Pekerjaan

Clara Shinta Tandi Rante


Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510
email: clara.2013fk264@civitas.ukrida.co.id

Pendahuluan
Gangguan kejiwaan yang berkaitan dengan emosional dan perilaku terjadi paling
sering pada usia produktif atau usia kerja. Gangguan kejiwaan tersebut termasuk stres, depresi
dan ansietas yang merupakan gejala yang sering terjadi di tempat-tempat kerja. Stres yang
diakibatkan oleh pekerjaan, baik karena lingkungan kerja, beban kerja baru, ketidakpuasan
pada pekerjaan ataupun pada rekan kerja dan beban pekerjaan yang terlalu berat termasuk
dalam stres okupasi. Efek stres okupasi pada produktivitas dan kualitas pekerja serta terhadap
pekerjaannya telah banyak diteliti. Diketahui berbagai gangguan kesehatan fisik dan mental
dapat terjadi sehingga menurunkan kualitas dan produktivitas pekerja tersebut. Hal ini akan
merugikan perusahaan secara material, baik jangka pendek saat produktivitas pekerja
menurun maupun jangka panjang bilamana stres okupasi diabaikan dan dibiarkan terus tanpa
diatasi. Kepedulian dan pengetahuan mengenai bahaya potensial psikososial termasuk stres
okupasi pada pekerja masih sangat kurang di negara-negara berkembang, salah satunya
Indonesia. Walaupun tidak terlihat, stres ataupun keadaan psikologi seorang pekerja juga
sangat penting dan turut mempengaruhi kualitas kerja pekerja tersebut. Kesehatan kerja
sendiri didefinisikan sebagai peningkatan dan pemeliharaan kaum pekerja baik secara fisik,
mental dan sosial pada derajat tertinggi.1,2
Skenario
Seorang perempuan usia 30 tahun datang ke klinik dengan keluhan mual berulang sejak 1
bulan yang lalu.
Langkah-langkah Mendiagnosis Penyakit Akibat Kerja
1. Diagnosis Klinis
Anamnesis

Anamnesis merupakan pengambilan data yang dilakukan dengan mengajukan serangkaian


pertanyaan pada pasien (autoanamnesis) maupun pada keluarga pasien (alloanamnesis). Hal
ini dilakukan bertujuan untuk mengungkap peristiwa/kejadian-kejadian apa saja sehingga
dapat menegakkan dan menyingkirkan diagnosis. Pada anamnesis ditanyakan mengenai
identitas pasien, keluhan utama yang dan lamanya, riwayat penyakit sekarang (karakter
keluhan utama, perkembangan dan perburukannya, kemungkinan adanya faktor pencetus, dan
keluhan penyerta), riwayat penyakit dahulu, riwayat kesehatan keluarga termasuk riwayat
penyakit menahun, riwayat pribadi (kelahiran, imunisasi, makan dan kebiasaan) dan riwayat
sosial (lingkungan tempat tinggal, kebersihan, sosial ekonomi).
Pada kasus ini dilakukan autoanamnesis terhadap pasien. Yang ditanyakan:

Keluhan utama : mual berulang sejak 1 bulan yang lalu.

Riwayat penyakit sekarang :


o

frekuensi berapa kali sehari

muncul secara tiba-tiba atau perlahan

muncul sepanjang hari atau saat-saat tertentu

muntah +/-

faktor yang memperberat dan memperingan

keluhan penyerta seperti begah, nyeri perut/uluhati (terutama kuadran kanan atas)
dan lainnya +/-

pusing,

susah tidur

sudah melakukan pengobatan sebelumnya ? obat apa ? efeknya bagaimana?

control yang ketiga kalinya

Riwayat penyakit dahulu


o

Sebelumnya sudah pernah mengalami hal serupa?

Riwayat penyakit maag? dyspepsia?

Riwayat pekerjaan
o

pekerjaan karyawan bagian administrasi

sudah sejak kapan 1 bulan yang lalu

waktu bekerja dalam sehari 8.00 17.00

apakah pekerjaan ini dilakukan pasien atas keinginannya sendiri atau tidak? adaakah
hal-hal lain yang mempengaruhi?

tugas-tugas seperti apa yang harus dikerjakan oleh pasien, seberapa banyak

ada kesulitan-kesulitan yang dialami saat bekerja atau tidak? (misalnya hubungan
dengan atasan, rekan kerja, deadline, pekerjaan yang tidak sesuai, pekerjaan yang
monoton dll)

apakah pasien tidak mampu menyesuaikan diri?

apakah pasien tidak mampu mengatasi beban pekerjaan yang diberikan


kepadanya?

Riwayat Kebiasaan dan Sosial Ekonomi


o

konsumsi alcohol, rokok, kafein

kebiasaan olahraga

Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum

: Tampak sakit ringan

Kesadaran

: Compos Mentis

Sklera, konjungtiva

: Tidak ikterik, tidak anemis

Tanda-tanda vital

: (dalam batas normal)

Pemeriksaan thorax

: (dalam batas normal)

Pemeriksaan abdomen : (dalam batas normal)


Pemeriksaan Penunjang
Dalam kasus ini, pemeriksaan penunjang tidak diperlukan. Umumnya ada kasus
psikosomatik, hasil pemeriksaan akan menunjukan hasil yang normal. Namun jika memang
memerlukan pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan yakni pemeriksaan darah lengkap.
Pemeriksaan ini dilakukan untuk memeriksakan adanya gangguan organik, memeriksakan
komplikasi fisik akibat gangguan psikiatri, dan menemukan gangguan metabolik.
Diagnosis Klinis
Diagnosis klinis dari kasus ini yaitu gangguan penyesuaian dengan afek depresi.
Gejala gangguan penyesuaian sangat bervariasi, dengan depresi, kecemasan, dan gangguan
campuran adalah yang paling sering pada orang dewasa. 3
ICD-10 dan DSM-IV mendefinisikan gangguan penyesuaian sebagai ytv Berdasarkan
definisi yang diungkapkan, gangguan penyesuaian selalu didahului oleh satu atau lebih
stressor. Kadar kekuatan dari stressor tersebut tidak selalu sebanding dengan kadar kekuatan
gangguan yang dihasilkan. Kadar dari stressor tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor yang
kompleks, seperti derajat stressor, kuantitas, durasi, lingkungan maupun konteks pribadi yang
menerima stressor tersebut. 3

Gangguan penyesuaian didiagnosis saat seseorang memiliki gejala kejiwaan saat


menyesuaikan diri terhadap keadaan baru. Gejala-gejala yang muncul bervariasi, misalnya
depresi, kecemasan, atau campuran di antara keduanya. Gejala campuran ini yang paling
sering ditemukan pada orang dewasa. Berikut adalah gabungan dari beberapa gejala gangguan
penyesuaian: 3

Gejala psikologis. Meliputi depresi, cemas, khawatir, kurang konsentrasi, dan mudah

tersinggung.
Gejala fisik. Meliputi berdebar-debar, nafas cepat, diare, dan tremor.
Gejala perilaku. Meliputi agresif, ingin menyakiti diri sendiri, alcohol abuse,
penggunaan obat-obatan yang tidak tepat, kesulitan sosial, dan masalah pekerjaan.

Gejala-gejala tersebut muncul bertahap setelah adanya kejadian yang penuh tekanan, dan
biasanya berlangsung dalam waktu sebulan (ICD-10) atau 3 bulan (DSM IV). Gangguan ini
jarang terjadi lebih dari 6 bulan. Disebut akut jika gangguan terjadi selama kurang dari 6
bulan. Dikatakan kronik jika gangguan terjadi selama 6 bulan atau lebih lama. Adjusment
disorder dikode berdasarkan pada sub tipenya, yang dipilih berdasarkan gejala yang
predominan.
Tabel 1. Subtipe Gangguan Penyesuaian

Sumber: diadaptasi dari DSM-IV-TR (Nevid dkk, 2005)

2. Pajanan
Faktor Fisik : Yang meliputi keadaan fisik seperti bangunan gedung atau volume udara perkapita atau luas
lantai kerja maupun hal-hal yang bersifat fisis seperti penerangan, suhu udara, kelembaban
udara, tekanan udara, kecepata aliran udara, kebisingan, vibrasi mekanis, radiasi, gelombang
eltromagnetis.2
Faktor Biologis : Semua makhluk hidup baik dari golongan tumbuhan maupun hewan. Dari yang paling
sederhana bersel tunggal sampai dengan yang paling tinggi tikatannya. 2
Faktor Kimia : Semua zat kimia anorganis dan organis yang mungkin wujud fisiknya merupakan salah satu
atau lebih dari bentuk gas, uap, debu, kabut, fume (uap logam), asap, awan, cairan, dan atau
zat padat.2
Faktor Ergonomis atau fisiologis : Interaksi antara faal kerja manusia dengan pekerjaan dan lingkungan kerjanya seperti
konstruksi mesin yang disesuaikan dengan fungsi indra manusia, postur dan cara kerja yang
mempertimbangkan aspek antropometris dan fisiologis manusia. 2
Faktor Mental dan Psikologis : ketidaksesuaian pekerjaan dengan pendidikan kuliah
Reaksi mental dan kejiwaan terhadap suasana kerja, hubungan antara pengusaha dan tenaga
kerja, struktur dan prosedur organisasi pelaksanaan kerja dan lain-lain.
Pada kasus, pasien ini bekerja sebagai keryawan di bagian administrasi sejak 1 bulan yang
lalu. Sebelumnya pasien merupakan sarjana lulusan Sastra Inggris. Jam kerja pasien yaitu
08.00 - 17.00. Perlu ditanyakan lebih lanjut tugas-tugas apa saja dan seberapa banyak yang
harus dikerjakan oleh pasien, apakah banyak deadlines, apakah pasien merasa tidak cocok
dengan pekerjaannya, apakah tidak mampu beradapatasi dan mengatasi beban kerja yang
diberikan, adakah hal ini menyebabkan hubungan pasien dengan atasan maupun rekan kerja
terganngu.

Menurut Cooper & Marshal ada 6 faktor yang dapat menyebabkan stress terkait
dengan suatu organisasi yaitu :
i.

Faktor intrinsik
Lingkungan pekerjaan dalam kondisi kerja yang tanpa variasi dan tidak nyaman

akan menyebabkan gangguan kesehatan, beban kerja berlebihan, beban kerja


yang sulit dikerjakan dikarenakan ketidakcukupan ketrampilan dari pekerja.
ii.

Peran dalam organisasi


Kurang penjelasan informasi mengenai tugas, kewajiban serta hak, pekerja
kurang memahami apa yang diharapkan dari pekerjaannya, ketidaknyamanan
melakukan pekerjaan karena tidak sesuai keinginan si pekerja.

iii.

Pengembangan karir
Kurangnya rasa keamanan dari pekerjaannya, memasuki awal pensiun,
ketidakjelasan status, merasa frustasi dalam upaya mencapai puncak karir di

iv.

perusahaan
Struktur dan iklim organisasi
Struktur organisasi yang memungkinkan pekerja kehilangan identitas dan
kebebasan individu, aturan yang berlebihan dan kurangnya berpartisipasi dalam

v.

pengambilan keputusan yang berdampak pada pekerja, aturan yang berlebihan.


Hubungan dalam organisasi
Hubungan yang tidak baik dengan atasan, bawahan maupun rekan sekerja serta

vi.

kurangnya dukungan sosial dari rekan sekerja


Ketidak seimbangan antar kehidupan internal perusahaan dengan kehidupan
diluar perusahaan.

3. Hubungan Pajanan dengan Penyakit


faktor mental dan psikologis mual, insomnia, pusing
Gangguan psikis (ansietas/depresi) dipercaya dapat menimbulkan sindroma dispepsia
karena dapat meningkatkan asam lambung, dismotilitas saluran cerna, inflamasi dan
hipersensitif viseral (Longstreth, 2004). Untuk meyakinkan bahwa sindroma dispepsia yang
dialami seseorang merupakan pengaruh dari gangguan psikosomatik yang dikenal dengan
dispepsia fungsional (DF), maka perlu dipastikan tidak adanya keterlibatan kelainan organik
di lambung. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Cheng (2000) mengatakan bahwa gaya
persepsi dan sikap koping yang konfrontatif dapat memperberat gejala-gejala dispepsia dan
psikologis pada individu dengan dispepsia fungsional.4
Dari hasil endoskopi pada penderita dispepsia di RSCM tahun 1994 didapatkan
sekitar 30% tanpa lesi organik di saluran cerna bagian atas (Djojodiningrat, 2002). Sementara
itu Fisher dkk melakukan endoskopi pada 3367 pasien dengan dispepsia ditemukan 33,6 %
hasil endoskopinya normal. Penelitian yang dilakukan oleh Hamzah dkk, mengenai gambaran
gangguan psikosomatik di Departemen Penyakit Dalam RSCM tahun 2004 disimpulkan
bahwa gejala fisik gangguan psikosomatik yang umum bersifat fungsional, yang sering
berupa dispepsia fungsional sebanyak 30,2% dari 192 penderita psikosomatik. 4

Penelitian yang dilakukan Arina (2006) di RS. Dr. M. Djamil terhadap 134 pasien
dispepsia yang dilakukan endoskopi didapatkan 40 orang mengalami gangguan psikosomatik
dengan jumlah pasien yang mengalami depresi sebanyak 70% dan ansietas sebanyak 10%. 4
4. Besar Pajanan yang Dialami
Waktu kerja pasien dari jam 08.00 17.00 yaitu sekitar 9 jam waktu bekerja, yang
mana pasien harus mengerjakan pekerjaan yang tidak sesuai dengan latar belakang
pendidikannya. Dalam waktu 9 jam tersebut juga masih harus dipertanyakan
mengenai hal-hal yang membuat pasien tidak nyaman dengan pekerjaannya saat ini.
5. Peranan Faktor Individu
Perlu diketahui status kesehatan fisik pasien yang mengakibatkan penderita lebih

rentan/lebih sensitif terhadap pajanan yang dialami.


Perlu diketahui apakah sebelumnya pasien atau keluarga pasien memiliki riwayat

gangguan psikiatri.
Perlu diketahui karakteristik kepribadian pasien, bertolak dari pendapat bahwa
individu memiliki ambang stres yang berbeda.
o Berdasarkan pada uraian Rosenman dan Friedman, dan Bortner

dapat

diambil kesimpulan bahwa ciri seorang dengan kepribadian A adalah


memiliki sikap kompetitif yang tinggi, serius dalam mengerjakan tugas,
mengerjakan tugas dengan cepat, selalu terpacu dengan waktu, tidak sabar
menunggu, rentan terhadap stres, sering tergesa-gesa, agresif, mau menentang
terhadap yang lain untuk mendapatkan apa yg diinginkan, terburu-buru dalam
menentukan sesuatu, asertif, perfeksionis, polyphasic, ambisius, dan memiliki
o

standart yang sangat tinggi terhadap dirinya sendiri. 5


Sedangkan ciri-ciri seorang dengan kepribadian tipe B adalah lebih santai
dalam melakukan sesuatu, lebih sabar menunggu, kurang asertif, non
perfeksionis, non polyphasic, kurang memperhatikan waktu, kurang memiliki
sifat berkompetitif, kurang serius dan sungguh-sungguh dalam melaksanakan

tugas, dan kurang berambisi dalam mengerjakan sesuatu. 5


Sebenarnya, pembagian pola perilaku ini tidak menun-jukkan ciri kepribadian
yang statis, akan tetapi lebih meng-gambarkan gaya perilaku yang disertai
dengan beberapa reaksi kebiasaan seseorang dalam menghadapi situasi
disekitarnya. 5

6. Faktor Lain di Luar Pekerjaan


Meliputi kebiasaan individu sehari-hari (merokok, minum minuman beralkohol, jarang makan
makanan sehat), ada atau tidak adanya pajanan di rumah seperti masalah keluarga (perceraian,
kematian pasangan hidup, dll), masalah ekonomi, hobi individu, apakah individu memiliki
pekerjaan sampingan selain pekerjaan utama.2

7. Diagnosis Okupasi
Berdasarkan langkah-langkah yang telah dilakukan, maka penderita mengalami stress yang
diperberat oleh pekerjaan. Stress diperberat kerja adalah suatu gangguan yang disebabkan
oleh kondisi-kondisi di tempat pekerjaan yang berdampak negatif pada kinerja seseorang dan
atau kesehatan fisik dan jiwanya. Stress dalam kesehatan kerja diakibatkan karena adanya
ketidakseimbangan antara hasil kerja yang diharapkan dengan kemampuan untuk
merealisasikannya. Stres kerja merupakan reaksi pekerja terhadap situasi dan kondisi di
tempat kerja yang berdampak fisik dan psikososial bagi pekerja. 2
Stress yang diperberat oleh pekerjaan yaitu suatu penyakit yang terjadi pada populasi
pekerja tanpa adanya agen penyebab ditempat kerja, namun dapat diperberat oleh kondisi
lingkungan pekerjaan yang buruk bagi kesehatan. 2
Penyebab stres dalam pekerjaan ada 2 menurut Cooper dan Davidson, yakni:
a. Group stressor, adalah penyebab stres yang berasal dari situasi maupun keadaan di dalam
perusahaan, misalnya kurangnya kerjasama antara karyawan, konflik antara individu
dalam suatu kelompok, maupun kurangnya dukungan sosial dari sesama karyawan di
dalam perusahaan.
b. Individual stressor, adalah penyebab stres yang berasal dari dalam diri individu, misalnya
tipe kepribadian seseorang, kontrol personal dan tingkat kepasrahan seseorang, persepsi
terhadap diri sendiri, tingkat ketabahan dalam menghadapi konflik peran serta
ketidakjelasan peran.2
Kondisi-kondisi kerja (on-the-job) yang menyebabkan stress adalah sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.

Beban kerja yang berlebihan


Tekanan atau desakan waktu
Kualitas supervise yang jelek
Iklim politis yang tidak aman
Umpan balik tentang pelaksanaan kerja yang tidak memadai
Wewenang yang tidak mencukupi untuk melaksanakan tanggung jawab
Kemenduaan peranan (role ambiguity)
Frustasi
Konflik antar pribadi dan antar kelompok
Perbedaan antara nilai-nilai perusahaan dan karyawan
Berbagai bentuk perubahan

Di lain pihak, stress karyawan juga dapat disebabkan masalah-masalah yang terjadi di luar
perusahaan. Penyebab-penyebab stress off-the-job antara lain :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Kekhawatiran financial
Masalah-masalah yang bersangkutan dengan anak
Masalah-masalah fisik
Masalah-masalah perkawinan (misal : perceraian)
Perubahan-perubahan yang terjadi di tempat tinggal
Masalah-masalah pribadi lainnya, seperti kematian sanak saudara.

GEJALA KLINIK
Terry Beehr dan John Newman mengkaji ulang beberapa kasus stres pekerjaan dan
menyimpulkan tiga gejala dari stres pada individu, yaitu:
a. Gejala Psikologis
Berikut ini adalah gejala-gejala psikologis yang sering ditemui pada hasil penelitian mengenai
stres pekerjaan :
Kecemasan, ketegangan, kebingungan dan mudah tersinggung
Perasaan frustrasi, rasa marah, dan dendam (kebencian)
Sensitif dan hyperreactivity
Memendam perasaan, penarikan diri, dan depresi
Komunikasi yang tidak efektif
Perasaan terkucil dan terasing
Kebosanan dan ketidakpuasan kerja
Kelelahan mental, penurunan fungsi intelektual, dan kehilangan konsentrasi
Kehilangan spontanitas dan kreativitas
Menurunnya rasa percaya diri

b. Gejala Fisiologis

Gejala-gejala fisiologis yang utama dari stres kerja adalah:


Meningkatnya denyut jantung, tekanan darah, dan kecenderungan mengalami penyakit

kardiovaskular
Meningkatnya sekresi dari hormon stres (contoh: adrenalin dan noradrenalin)
Gangguan gastrointestinal (misalnya gangguan lambung)
Meningkatnya frekuensi dari luka fisik dan kecelakaan
Kelelahan secara fisik dan kemungkinan mengalami sindrom kelelahan yang kronis

(chronic fatigue syndrome)


Gangguan pernapasan, termasuk gangguan dari kondisi yang ada
Gangguan pada kulit
Sakit kepala, sakit pada punggung bagian bawah, ketegangan otot
Gangguan tidur
Rusaknya fungsi imun tubuh, termasuk risiko tinggi kemungkinan terkena kanker

c. Gejala Perilaku

Gejala-gejala perilaku yang utama dari stres kerja adalah:


Menunda, menghindari pekerjaan, dan absen dari pekerjaan
Menurunnya prestasi (performance) dan produktivitas
Meningkatnya penggunaan minuman keras dan obat-obatan
Perilaku sabotase dalam pekerjaan
Perilaku makan yang tidak normal (kebanyakan) sebagai pelampiasan, mengarah ke
obesitas

Perilaku makan yang tidak normal (kekurangan) sebagai bentuk penarikan diri dan
kehilangan berat badan secara tiba-tiba, kemungkinan berkombinasi dengan tanda-tanda
depresi

Meningkatnya kecenderungan berperilaku beresiko tinggi, seperti menyetir dengan

tidak hati-hati dan berjudi

Meningkatnya agresivitas, vandalisme, dan kriminalitas

Menurunnya kualitas hubungan interpersonal dengan keluarga dan teman

Kecenderungan untuk melakukan bunuh diri.


DAMPAK
Stress akibat kerja merupakan kondisi yang muncul akibat interaksi seseorang dengan
pekerjaan dan lingkungan kerjanya. Stress ditandai dengan perubahan pada diri seseorang
yang memaksa mereka menyimpang dari fungsinya secara normal. Memang tidak
selamanya stress berdampak negatif pada penderitanya, dan bahkan dapat pula berdampak
positif. Semua itu tergantung pada kondisi psikologis dan sosial seseorang yang mengalami
stress, sehingga reaksi terhadap setiap kondisi stress sangat berbeda.6
1. Dampak Terhadap Individu
a. Kesehatan
Sistem kekebalan tubuh manusia ini bekerja sama secara integral dengan sistem
fisiologis lain, dan kesemuanya berfungsi untuk menjaga keseimbangan tubuh, baik fisik
maupun psikis yang cara kerjanya di atur oleh otak. Seluruh sistem tersebut sangat mungkin
dipengaruhi

oleh

faktor

psikososial

dan immunocompetence. Istilah immunocompetence ini

biasanya

seperti
digunakan

stress
di

bidang

kedokteran untuk menjelaskan derajat keaktifan dan keefektifan dari sistem kekebalan tubuh.
Jadi, tidak heran jika orang yang mudah stress, mudah pula terserang penyakit. 6
b. Psikologis
Stress berkepanjangan akan menyebabkan ketegangan dan kekuatiran yang terusmenerus. Menurut istilah psikologi, stress berkepanjangan ini disebut stress kronis. Stress
kronis sifatnya menggerogoti dan menghancurkan tubuh, pikiran dan seluruh kehidupan
penderitanya secara perlahan-lahan. Akibatnya, orang akan terus-menerus merasa tertekan
dan kehilangan harapan. Akar dari stress kronis ini adalah dari pengalaman traumatis di masa
lalu yang terinternalisasi, tersimpan terus dalam alam bawah sadar. Hal ini jadi berbahaya
karena orang jadi terbiasa "membawa" stress ini ke mana saja, dimana saja dan dalam situasi
apapun juga; stress kronis ini dianggap sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka
sehingga tidak ada upaya untuk mencari jalan keluarnya lagi. Singkatnya, orang yang
menderita stress kronis ini sudah hopeless and helpless. Tidak heran jika para penderita stress
kronis akhirnya mengambil keputusan untuk bunuh diri, atau meninggal karena serangan
jantung, stroke, kanker, atau tekanan darah tinggi. 6
c. Interaksi Interpersonal
Orang yang sedang stress akan lebih sensitif dibandingkan orang yang tidak dalam
kondisi stress. Oleh karena itulah, sering terjadi salah persepsi dalam membaca dan
mengartikan suatu keadaan, pendapat atau penilaian, kritik, nasihat, bahkan perilaku orang

lain. Obyek yang sama bisa diartikan dan dinilai secara berbeda oleh orang yang sedang
stress.6 Selain itu, orang stress cenderung mengkaitkan segala sesuatu dengan dirinya. Pada
tingkat stress yang berat, orang bisa menjadi depresi, kehilangan rasa percaya diri dan harga
diri. Akibatnya, ia lebih banyak menarik diri dari lingkungan, tidak lagi mengikuti kegiatan
yang biasa dilakukan, jarang berkumpul dengan sesamanya, lebih suka menyendiri, mudah
tersinggung, mudah marah, mudah emosi. 6
2. Dampak Terhadap Perusahaan
Sebuah organisasi atau perusahaan dapat dianalogikan sebagai tubuh manusia. Jika
salah satu dari anggota tubuh itu terganggu, maka akan menghambat keseluruhan gerak,
menyebabkan seluruh tubuh merasa sakit dan menyebabkan individunya tidak dapat berfungsi
secara normal. Demikian pula jika banyak di antara karyawan di dalam organisasi mengalami
stress kerja, maka produktivitas dan kesehatan organisasi itu akan terganggu.Randall Schuller,
mengidentifikasi beberapa perilaku negatif karyawan yang berpengaruh terhadap organisasi.
Menurut peneliti ini, stress yang dihadapi oleh karyawan berkorelasi dengan penurunan
prestasi kerja, peningkatan ketidakhadiran kerja, serta tendensi mengalami kecelakaan.Secara
singkat beberapa dampak negatif yang ditimbulkan oleh stress kerja dapat berupa:Terjadinya
kekacauan, hambatan baik dalam manajemen maupun operasional kerja,Mengganggu
kenormalan aktivitas kerja,Menurunkan tingkat produktivitas,Menurunkan pemasukan dan
keuntungan perusahaan. Kerugian finansial yang dialami perusahaan karena tidak imbangnya
antara produktivitas dengan biaya yang dikeluarkan untuk membayar gaji, tunjangan, dan
fasilitas lainnya. Banyak karyawan yang tidak masuk kerja dengan berbagai alasan, atau
pekerjaan tidak selesai pada waktunya entah karena kelambanan atau pun karena banyaknya
kesalahan yang berulang.7
PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan stress di tempat kerja secara menyeluruh tidak hanya membutuhkan
kooperasi dan partisipasi pasien tapi juga partisipasi aktif organisasi tempat kerja,
melaksanakan perbaikan tempat kerja seoptimal mungkin, menciptakan manajemen yang
terbuka, terlaksananya komunikasi dua arah antara pekerja dan pimpinan, memberikan tugastugas dan otoritas tugas yang jelas memberikan target-target yang menantang tapi mudah
dicapai, jadwal kerja yang fleksibel tapi terncana, memberikan teguran pada pekerja yang
salah secara wajar, adil tanpa kekerasan.
Terapi Psikofarmaka
Terapi ini dengan menggunakan obat-obatan dalam mengalami stres yang dialami dengan
cara memutuskan jaringan antara psiko neuro dan imunologi sehingga stresor psikososial
yang dialami tidak mempengaruhi fungsi kognitif afektif atau psikomotor yang dapat
mengganggu organ tubuh yang lain. Obat-obatan yang digunakan biasanya digunakan adalah
anti cemas dan anti depresi.

Terapi Somatik
Terapi ini hanya dilakukan pada gejala yang ditimbulkan akibat stres yang dialami
sehingga diharapkan tidak dapat mengganggu sistem tubuh yang lain.
Psikoterapi
Terapi ini dengan menggunakan teknik psikologis yang disesuaikan dengan kebutuhan
seseorang. Terapi ini dapat meliputi psikoterapi suportif dan psikoterapi redukatif di mana
psikoterapi suportif memberikan motivasi atau dukungan agar pasien mengalami percaya diri,
sedangkan psikoterapi redukatif dilakukan dengan memberikan pendidikan secara berulang.
Selain itu ada psikoterapi rekonstruktif, psikoterapi kognitif dan lain-lain.
PENCEGAHAN
Ada berbagai cara untuk mengatasi stress. Jika akibat stres telah mempengaruhi fisik
dan bahkan menimbulkan penyakit tertentu, peranan obat / medikasi biasanya
diperlukan.namun obat itu sendiri kurang efektif untuk mengatasi stress dalam jangka
panjang. Ada efek negatif bila menggunakan obat terus menerus. Disamping obat-obat
tertentu membutuhkan biaya yang mahal,obat juga bias mengakibatkan ketergantungan dan
bahkan membuat orang tertentu kebal terhadap obat tertentu.Untuk mencegah dan mengatasi
stres agar tidak sampai ke tahap yang paling berat, maka dapat dilakukan dengan cara :
Penerapan konsep lima tingkatan pencegahan penyakit (five level of prevention
diseases) pada penyakit akibat kerja. 2 Peningkatan kesehatan (health promotion) misalnya
pendidikan kesehatan jiwa, meningkatkan gizi yang baik, pengembangan kepribadian,
lingkungan kerja yang memadai, rekreasi. Kemudian perlindungan khusus (specific
protection) misalnya imunisasi, hygiene perorangan, sanitasi lingkungan, serta proteksi
terhadap bahaya dan kecelakaan kerja dengan menggunakan alat pelindung diri.
Diagnosis (deteksi) dini dan pengobatan yang tepat (early diagnosis and prompt
treatment) misalnya pemeriksaan kesehatan awal, pemeriksaan kesehatan berkala, pelayanan
kesehatan/poliklinik dan kb, diagnosis dini setiap keluhan dan pengobatan segera serta
pembatasan titik-titik lemah untuk terjadinya komplikasi. Membatasi kemungkinan cacat
(disability limitation) misalnya memeriksa dan mengobati tenaga kerja secara komperhensif,
mengobati tenaga kerja secara sempurna, dan pendidikan kesehatan. Pemulihan kesehatan
(rehabilitation) misalnya rehabilitasi dan mempekerjakan kembali para pekerja yang
menderita cacat. Sedapat mungkin perusahaan mencoba menempatkan karyawan-karyawan
cacat di jabatan-jabatan yang sesuai.
KESIMPULAN
Pada kasus ini, perempuan 30 tahun yang berprofresi sebagai seorang karyawan di bagian
administrasi disebuah perusahaan di daerah Sudirman ini, berdasarkan langkah-langkah
diagnosis okupasi didiagnosis mengalami stress

yang diperberat pekerjaan. Stress yang

diperberat oleh pekerjaan yaitu suatu penyakit yang terjadi pada populasi pekerja tanpa

adanya agen penyebab ditempat kerja, namun dapat diperberat oleh kondisi lingkungan
pekerjaan yang buruk bagi kesehatan. Pajanan yang dialami berupa pajanan psikogis yang
kemudian menyebabkan keluhan mual-mual, pusing dan insomnia yang dirasakan. Pasien
tidak dapat beradaptasi terhadap tekanan dalam pekerjaan sehingga pasien mengalami
gangguan emosi atau psikologi dan penderitaan akibat tekanan tersebut.

Daftar Pustaka
1. Nasution K, Adi NP. Stres okupasi masalah kesehatan pekerja yang terabaikan. J
Indon Med Assoc 2011 Dec 61:12:471-3
2. Jeyaratnam J, Koh D. Buku ajar praktik kedokteran kerja. Jakarta: EGC. 2010.h.1-10
3. Kandou JE. Gangguan Penyesuaian. Dalam: Elvira SD, Hadisukanto G, editors. Buku
Ajar Psikiatri. Jakarta: FK UI; 2010.
4. Rahmiwati. Hubungan tingkat pengetahuan dan sikap pasien dyspepsia fumgsional
dengan penanggulangan gangguan psikosomatik dyspepsia fumgsional di RS Dr. M.
Djamil Padang. Fakultas Perawatan Universitas Andalas. 2010.
5. Atkinson,R.L, Hilgard,E.R, dan Richard,C.A. 2008. Pengantar Psikologi. Jakarta:
Erlangga.
6. Maramis, W.F. & Maramis, A.A., 2009. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa, Edisi 2.
Surabaya : Airlangga University Press.
7. Hawari, D., 2011. Manajemen Stres Cemas dan Depresi. Jakarta : Balai Penerbit
FKUI