Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN KISTA OVARIUM/ KISTOMA OVARII

KISTA OVARIUM/ KISTOMA OVARII


A.

DEFINISI

Kista adalah kantong berisi cairan, kista seperti balon berisi air, dapat tumbuh di

mana saja dan jenisnya bermacam-macam (Jacoeb, 2007).

Kista adalah suatu bentukan yang kurang lebih bulat dengan dinding tipis, berisi
cairan atau bahan setengah cair (Soemadi, 2006).

Kista ovarium merupakan suatu pengumpulan cairan yang terjadi pada


indung telur atau ovarium. Cairan yang terkumpul ini dibungkus oleh
semacam selaput yang terbentuk dari lapisan terluar dari ovarium ( Agusfarly,
2008).

Kista ovarium adalah pertumbuhan sel yang berlebihan/abnormal pada ovarium


yang membentuk seperti kantong. Kista ovarium secara fungsional adalah kista yang
dapat bertahan dari pengaruh hormonal dengan siklus mentsruasi. (Lowdermilk, dkk.
2005)
B.

JENIS - JENIS KISTA OVARIUM


Menurut etiologi, kista ovarium dibagi menjadi 2, yaitu :

1. Kista non neoplasma. Disebabkan karena ketidak seimbangan hormon esterogen dan
progresterone diantaranya adalah :
Kista non fungsional. Kista serosa inklusi, berasal dari permukaan epitelium yang
berkurang di dalam korteks.
Kista fungsional
o

Kista folikel, disebabkan karena folikel yang matang menjadi ruptur atau folikel yang

tidak matang direabsorbsi cairan folikuler di antara siklus menstruasi. Banyak terjadi
pada wanita yang menarche kurang dari 12 tahun.
o

Kista korpus luteum, terjadi karena bertambahnya sekresi progesterone setelah

ovulasi.
o

Kista tuba lutein, disebabkan karena meningkatnya kadar HCG terdapat pada mola

hidatidosa.
o

Kista stein laventhal, disebabkan karena peningkatan kadar LH yang menyebabkan

hiperstimuli ovarium.

2. Kista neoplasma
Kistoma ovarii simpleks adalah suatu jenis kista deroma serosum yang kehilangan
epitel kelenjarnya karena tekanan cairan dalam kista.
Kistodenoma ovarii musinoum. Asal kista ini belum pasti, mungkin berasal dari suatu
teratoma yang pertumbuhanya I elemen mengalahkan elemen yang lain
Kistadenoma ovarii serosum. Berasal dari epitel permukaan ovarium (Germinal
ovarium)
Kista Endrometreid. Belum diketahui penyebab dan tidak ada hubungannya dengan
endometroid
Kista dermoid. Tumor berasal dari sel telur melalui proses patogenesis
C.

ETIOLOGI
Kista ovarium terbentuk oleh bermacam sebab. Penyebab inilah yang
nantinya akan menentukan tipe dari kista. Diantara beberapa tipe kista ovarium,tipe
folikuler merupakan tipe kista yang paling banyak ditemukan. Kista jenis ini terbentuk oleh
karena pertumbuhan folikel ovarium yang tidak terkontrol. Folikel adalah suatu rongga

cairan yang normal terdapat dalam ovarium. Pada keadaan normal, folikel yang
berisi sel telur ini akan terbuka saat siklus menstruasiuntuk melepaskan sel telur. Namun
pada beberapa kasus, folikel ini tidak terbuka sehingga menimbulkan bendungan carian yang
nantinya akan menjadi kista.Cairan yang mengisi kista sebagian besar berupa darah yang
keluar akibatdari perlukaan yang terjadi pada pembuluh darah kecil ovarium. Pada
beberapa kasus, kista dapat pula diisi oleh jaringan abnormal tubuh seperti rambut dan
gigi.Kista jenis ini disebut dengan Kista Dermoid.
D.

PATHWAY DAN PATOFISIOLOGI


Setiap hari, ovarium normal akan membentuk beberapa kista kecil yang disebut
Folikel de Graff. Pada pertengahan siklus, folikel dominan dengan diameter lebih dari 2.8
cm akan melepaskan oosit mature. Folikel yang rupture akan menjadi korpus luteum,
yang pada saat matang memiliki struktur 1,5 2 cm dengan kista ditengah-tengah. Bila
tidak terjadi fertilisasi pada oosit, korpus luteum akan mengalami fibrosis dan pengerutan
secara progresif. Namun bila terjadi fertilisasi, korpus luteum mula-mula akan membesar
kemudian secara gradual akan mengecil selama kehamilan.
Kista ovari yang berasal dari proses ovulasi normal disebut kista fungsional dan
selalu jinak. Kista dapat berupa folikular dan luteal yang kadang-kadang disebut kista
theca-lutein. Kista tersebut dapat distimulasi oleh gonadotropin, termasuk FSH dan HCG.
Kista fungsional multiple dapat terbentuk karena stimulasi gonadotropin atau sensitivitas
terhadap gonadotropin yang berlebih. Pada neoplasia tropoblastik gestasional
(hydatidiform mole dan choriocarcinoma) dan kadang-kadang pada kehamilan multiple
dengan diabetes, HCg menyebabkan kondisi yang disebut hiperreaktif lutein. Pasien
dalam terapi infertilitas, induksi ovulasi dengan menggunakan gonadotropin (FSH dan
LH) atau terkadang clomiphene citrate, dapat menyebabkan sindrom hiperstimulasi ovari,
terutama bila disertai dengan pemberian HCG.
Kista neoplasia dapat tumbuh dari proliferasi sel yang berlebih dan tidak
terkontrol dalam ovarium serta dapat bersifat ganas atau jinak. Neoplasia yang ganas
dapat berasal dari semua jenis sel dan jaringan ovarium. Sejauh ini, keganasan paling
sering berasal dari epitel permukaan (mesotelium) dan sebagian besar lesi kistik parsial.
Jenis kista jinak yang serupa dengan keganasan ini adalah kistadenoma serosa dan
mucinous. Tumor ovari ganas yang lain dapat terdiri dari area kistik, termasuk jenis ini
adalah tumor sel granulosa dari sex cord sel dan germ cel tumor dari germ sel primordial.

Teratoma berasal dari tumor germ sel yang berisi elemen dari 3 lapisan germinal
embrional; ektodermal, endodermal, dan mesodermal.
Endometrioma adalah kista berisi darah dari endometrium ektopik. Pada
sindroma ovari pilokistik, ovarium biasanya terdiri folikel-folikel dengan multipel kistik
berdiameter 2-5 mm, seperti terlihat dalam sonogram. Kista-kista itu sendiri bukan
menjadi problem utama dan diskusi tentang penyakit tersebut diluar cakupan artikel ini.

Pathway

E.

TANDA DAN GEJALA

Sebagian besar kista ovarium tidak menimbulkan gejala, atau hanya sedikit
nyeri yang tidak berbahaya. Tetapi adapula kista yang berkembang menjadi besar dan
menimpulkan nyeri yang tajam. Pemastian penyakit tidak bisa dilihat dari gejala-gejala
saja karena mungkin gejalanya mirip dengan keadaan lain seperti endometriosis, radang
panggul, kehamilan ektopik (di luar rahim) atau kanker ovarium.
Meski demikian, penting untuk memperhatikan setiap gejala atau perubahan
ditubuh Anda untuk mengetahui gejala mana yang serius. Gejala-gejala berikut mungkin
muncul bila anda mempunyai kista ovarium :
1. Perut terasa penuh, berat, kembung
2. Tekanan pada dubur dan kandung kemih (sulit buang air kecil)
3. Haid tidak teratur
4. Nyeri panggul yang menetap atau kambuhan yang dapat menyebar ke punggung bawah
dan paha.
5. Nyeri sanggama
6. Mual, ingin muntah, atau pengerasan payudara mirip seperti pada saat hamil.
Gejala-gejala berikut memberikan petunjuk diperlukan penanganan kesehatan segera:
1. Nyeri perut yang tajam dan tiba-tiba
2. Nyeri bersamaan dengan demam
3. Rasa ingin muntah

Kista Ovarium
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemastian diagnosis untuk kista ovarium dapat dilakukan dengan pemeriksaan:
1.
Ultrasonografi (USG)
Tindakan ini tidak menyakitkan, alat peraba (transducer) digunakan untuk mengirim dan
menerima gelombang suara frekuensi tinggi (ultrasound) yang menembus bagian panggul, dan
menampilkan gambaran rahim dan ovarium di layar monitor. Gambaran ini dapat dicetak dan
dianalisis oleh dokter untuk memastikan keberadaan kista, membantu mengenali lokasinya dan
menentukan apakah isi kista cairan atau padat. Kista berisi cairan cenderung lebih jinak, kista
berisi material padat memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
2.
Laparoskopi
Dengan laparoskopi (alat teropong ringan dan tipis dimasukkan melalui pembedahan kecil di
bawah pusar) dokter dapat melihat ovarium, menghisap cairan dari kista atau mengambil bahan
percontoh untuk biopsi.
3.
Hitung darah lengkap
Penurunan Hb dapat menunjukkan anemia kronis.
G.

PENATALAKSANAAN MEDIS
Pengobatan kiste ovarii yang besar biasanya adalah pengangkatan melalui tindakan

bedah. Jika ukuran lebar kiste kurang dari 5 cm dan tampak terisi oleh cairan atau fisiologis pada
pasien muda yang sehat, kontrasepsi oral dapat digunakan untuk menekan aktivitas ovarium dan
menghilangkan kiste.
Perawatan paska operatif setelah pembedahan serupa dengan perawatan pembedahan
abdomen. Penurukan tekanan intraabdomen yang diakibatkan oleh pengangkatan kiste yang
besar biasanya mengarah pada distensi abdomen yang berat, komplikasi ini dapat dicegah
dengan pemakaian gurita abdomen yang ketat.
H.

PROSES PENYEMBUHAN LUKA

Tanpa memandang bentuk, proses penyembuhan luka adalah sama dengan yang
lainnya. Perbedaan terjadi menurut waktu pada tiap-tiap fase penyembuhan dan waktu granulasi
jaringan.
Fase-fase penyembuhan luka antara lain :
1.
Fase I
Pada fase ini Leukosit mencerna bakteri dan jaringan rusak terbentuk fibrin yang menumpuk
mengisi luka dari benang fibrin. Lapisan dari sel epitel bermigrasi lewat luka dan membantu
menutupi luka, kekuatan luka rendah tapi luka dijahit akan menahan jahitan dengan baik.
2.
Fase II
Berlangsung 3 sampai 14 hari setelah bedah, leukosit mulai menghilang dan ceruk mulai kolagen
serabut protein putih semua lapisan sel epitel bergenerasi dalam satu minggu, jaringan ikat
kemerahan karena banyak pembuluh darah. Tumpukan kolagen akan menunjang luka dengan
baik dalam 6-7 hari, jadi jahitan diangkat pada fase ini, tergantung pada tempat dan liasanya
bedah.
3.
Fase III
Kolagen terus bertumpuk, hal ini menekan pembuluh darah baru dan arus darah menurun. Luka
sekarang terlihat seperti berwarna merah jambu yang luas, terjadi pada minggu ke dua hingga
enam post operasi, pasien harus menjaga agar tak menggunakan otot yang terkena.
4.
Fase IV
Berlangsung beberapa bulan setelah pembedahan, pasien akan mengeluh, gatal disekitar luka,
walau kolagen terus menimbun, pada waktu ini menciut dan menjadi tegang. Bila luka dekat
persendian akan terjadi kontraktur karena penciutan luka dan akan terjadi ceruk yang berlapis
putih.
I.

KOMPLIKASI
Beberapa ahli mencurigai kista ovarium bertanggung jawab atas terjadinya kanker ovarium

pada wanita diatas 40 tahun. Mekanisme terjadinya kanker masih belum jelas namun dianjurkan
pada wanita yang berusia diatas 40 tahun untuk melakukan skrining atau deteksi dini terhadap
kemungkinan terjadinya kanker ovarium.
Faktor resiko lain yang dicurigai adalah penggunaan kontrasepsi oral terutama yang
berfungsi menekan terjadinya ovulasi. Maka dari itu bila seorang wanita usia subur
menggunakan metode konstrasepsi ini dan kemudian mengalami keluhan pada siklus menstruasi,
lebih baik segera melakukan pemeriksaan lengkap atas kemungkinan terjadinya kanker ovarium.
J.
1.

PENGAKAJIAN KEPERAWATAN
Identitas klien

Meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, agama dan alamat, serta data
penanggung jawab
2.
Keluhan klien saat masuk rumah sakit
Biasanya klien merasa nyeri pada daerah perut dan terasa ada massa di daerah abdomen,
menstruasi yang tidak berhenti-henti.
3.
Riwayat Kesehatan
a.
Riwayat kesehatan sekarang
Keluhan yang dirasakan klien adalah nyeri pada daerah abdomen bawah, ada pembengkakan
pada daerah perut, menstruasi yang tidak berhenti, rasa mual dan muntah.
b.
Riwayat kesehatan dahulu
Sebelumnya tidak ada keluhan.
c.
Riwayat kesehatan keluarga
Kista ovarium bukan penyakit menular/keturunan.
d.
Riwayat perkawinan
Kawin/tidak kawin ini tidak memberi pengaruh terhadap timbulnya kista ovarium.
4.
Riwayat kehamilan dan persalinan
Dengan kehamilan dan persalinan/tidak, hal ini tidak mempengaruhi untuk tumbuh/tidaknya
suatu kista ovarium.
5.
Riwayat menstruasi
Klien dengan kista ovarium kadang-kadang terjadi digumenorhea dan bahkan sampai
amenorhea.
6.
Pemeriksaan Fisik
Dilakukan mulai dari kepala sampai ekstremitas bawah secara sistematis.
a.
Kepala
1)
Hygiene rambut
2)
Keadaan rambut
b.
Mata
1)
Sklera
: ikterik/tidak
2)
Konjungtiva
: anemis/tidak
3)
Mata
: simetris/tidak
c.
Leher
1)
pembengkakan kelenjer tyroid
2)
Tekanan vena jugolaris.
d.
Dada
Pernapasan
1)
Jenis pernapasan
2)
Bunyi napas
3)
Penarikan sela iga
e.
Abdomen
1)
Nyeri tekan pada abdomen.
2) Teraba massa pada abdomen.
f.
Ekstremitas
1)
Nyeri panggul saat beraktivitas.
2) Tidak ada kelemahan.

g.
Eliminasi, urinasi
1)
Adanya konstipasi
2)
Susah BAK
7.
Data Sosial Ekonomi
Kista ovarium dapat terjadi pada semua golongan masyarakat dan berbagai tingkat umur, baik
sebelum masa pubertas maupun sebelum menopause.
8.
Data Spritual
Klien menjalankan kegiatan keagamaannya sesuai dengan kepercayaannya.
9.
Data Psikologis
Ovarium merupakan bagian dari organ reproduksi wanita, dimana ovarium sebagai penghasil
ovum, mengingat fungsi dari ovarium tersebut sementara pada klien dengan kista ovarium yang
ovariumnya diangkat maka hal ini akan mempengaruhi mental klien yang ingin hamil/punya
keturunan.
10. Pola kebiasaan Sehari-hari
Biasanya klien dengan kista ovarium mengalami gangguan dalam aktivitas, dan tidur karena
merasa nyeri
11. Pemeriksaan Penunjang
Data laboratorium
a.
Pemeriksaan Hb
b.
Ultrasonografi
Untuk mengetahui letak batas kista.
K.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.
Preoperasi
a.
Nyeri kronis b/d ageninjuri biologi
b.
Cemas b/d diagnosis dan rencana pembedahan
c.
PK perdarahan
2.
Post operasi
a.
Nyeri akut b/d agen injuri fisik
b.
Resiko infeksi b/d tindakan invasif dan pembedahan
c.
Deficit perawatan diri b.d imobilitas (nyeri paska pembedahan)

3.

Rencana Asuhan Keperawatan


a. Preoperasi

No

Dx

1.

2.

II

Perencanaan
Tujuan

Intervensi

Rasa
nyeri
klien

Kaji penyebab nyeri


hilang/
berkurang
setelah
tinakan
keperawatan 2 24

Monitor TTV
jam.

Kriteria hasil:
Klien
tidak

Ajarkan
tehnik
mengeluh nyeri / relaksasi

nyeri berkurang
TTV normal
Menunjukkan
nyeri

Atur posisi yang


berkurang/terkontrol
nyaman
Menunjukkan
ekspresi wajah/postur
tubuh rileks
Berpartisipasi

Kaji skala nyeri

dalam aktivitas dan


tidur/istirahat dengan
tepat
Skala nyeri 0 dari
skala nyeri 0-10.

Gangguan eliminasi
urin
dapat
berkurang/hilang
setelah
dilakukan

tindakan keperawatan
kurang selama 2 24

jam.
Kriteria hasil:

Klien
dapat

mempertahankan atau
memperoleh
pola

Pantau pola penolakan.

Palpasi kandung kemih

Tingkatkan masukan
cairan 2000 3000 ml/hari
(28 tpm - 48 tpm)

Hindari tanda - tanda


penolakan verbal atan
nonverbal.

Rasional
Penyebab
diketahui
sehingga
dapat
dengan
mudah
menentukan
intervensi
Perubahan TTV merupakan
identifikasi diri terhadap
perkembangan px
Tehnik relaksasi akan
membantu
otot-otot
berelaksasi sehingg persepsi
nyeri akan berkurang
Posisi yang sesuai/nyaman
akan mambantu otot-otot
berelaksasi sehingga nyeri
berkurang
Skala nyeri menunjukan
respon px terhadap nyeri.

Informasi ini sangat


penting untuk merncakan
perawatan
dan
mempengaruhi
pilihan
intervensi invidu.
Distensi kanung kemih
mengindikasi
retensi
urinarius.
Mempertahankan hidrasi
aekuat dan meningkatkan
fungsi ginjal.

eliminasi yang efektif

Ekspresi kekecewaan akan


Klien ikut serta
menurunkan rasa percaya diri
III dalam pengobatan.
dan
tidak
membantu

Memulai perubahan
mensukseskan program.

Bina hubungan yang


gaya hidup yang
terapeutik dengan klien.
diperlu

3.

cemas
dapat
berkurang dan hilang
dan pengetahuan klien

bertambah
setelah
dilakukan
tindakan
keperawatan 2 24
jam.
Kriteria hasil:

Klien
dapat
menuturkan
pemahanan kondisi,
efek prosedur dan
pengobatan

Klien dapat
menunjukkan
prosedur
yang
diperlukan
dan
menjelaskan
alasan
suatu tindakan

Klien memulai
perubahan gaya hidup
yang diperlukan dan
ikut
serta
dalam
program perawatan
b.

Kaji dan pantau terus

tingkat kecemasan klien.


Berikan penjelasan

tentang
semua
permasalahan
yang
berkaitan
dengan
penyakitnya.

Libatkan orang terdekat


ssesuai
indikasi
bila
keputusan penting akan
dibuat.

Hubungan yang terapeutik


dapat menurunkan tingkat
kecemasan klien.
Mengidentifikasi lingkup
masalah secara dini, sebagai
pedoman
tindakan
selanjutnya.
Informasi yang tepat
menambah wawasan klien
sehingga klien tahu tentang
keadaan dirinya.
Menjamin
sistem
pendukung untuk klien dan
memungkinkan
orang
terdekat terlibat dengan tepat.

Post Operasi

No

Dx

1.

Perencanaan
Tujuan

Intervensi

Gangguan
rasa

Kaji skala nyeri


nyaman
(nyeri)
berkurang / hilang

Kaji faktor
setelah
tindakan memperberat
keperawatan 2 24 memperingan nyeri
jam.

Observasi TTV
Kriteria hasil:

Rasional

Untuk mengetahui tingkat


nyeri
yang

Dapat membantu perawat


dan dalam memberikan intervensi
berikutnya

Peningkatan Tekanan
Darah dan nadi menandakan

2.

II

Klien mengatakan
tidak pernah nyeri lagi
Klien tidak tampak
meringis lagi

Klien tidak lagi


memegangi area nyeri
Skala nyeri 0
(tidak ada nyeri) dari
skala nyeri 0-10.

TTV dalam batas


normal
Klien tampak
rileks

Resiko infeksi pada

luka post operasi


dapat dicegah setelah
dilakukan
tindakan

keperawatan 2 24
jam.

Kriteria hasil:

Tidak terdapat
tanda-tanda
infeksi

seperti
kemerahan,
bengkak, nyeri, panas
pada area luka post op

Insisi luka operasi


tampak mongering

Suhu tubuh klien


dalam batas normal
(36-37,2 C)

3.

III

Defisit perawatan diri


tidak terjadi setelah

dilakukan
tindakan
keperawatan 2 24
jam.
Kriteria hasil:

Klien dapat mandi


sendiri

Klien bebas dari

bau

adanya nyeri
Atur posisi klien

Mengurangi rasa nyeri


senyaman mungkin
Anjurkan
tehnik

Memberikan rasa nyaman


relaksasi
pada klien

Agar klien tidak terlalu


Alihkan perhatian klien merasakan nyerinya
dari rasa nyeri

Memberikan kenyamanan
Ciptakan lingkungan sehingga mengurangi nyeri
nyaman bagi klien
Kolaborasi:
Kolaborasi:

Analgetik
dapat
Berikan analgetik sesuai mengurangi nyeri
indikasi

Kaji
tanda-tanda Dapat menentukan intervensi
infeksi
yang tepat

Mengetahui
status
Observasi TTV klien
kesadaran umum klien

Meminimalkan masuknya
Lakukan perawatan mikro organisme
luka dengan tehnik aseptik
dan anti septik

Mencegah penyebaran
Jaga kebersihan area infeksi
sekitar luka. Diskusikan
dengan klien dan keluarga
klien tentang perawatan
luka post operasi
Tingkatkan istirahat

Istirahat menurunkan
proses
metabolisme,
memungkinkan
O2
dan
nutrien digunakan untuk
penyembuhan
Kolaborasi:
Beri Antibiotik sesuai Kolaborasi
indikasi

Anti
biotik
untuk
mematikan mikro organisme
Kaji defisit perawatan
diri klien

Untuk menentukan dan


mengetahui tingkat defisit
perawatan
klien
guna
Anjurkan keluarga memberikan perawatan.
untuk menyeka klien tiap

Agar kebersihan diri klien


pagi dan sore hari
tetap terjaga
Anjurkan keluarga
klien untuk mengganti

Agar klien merasa nyaman

Klien tampak pakaian klien 2 sehari


menunjukkan

Berikan penjelasan
kebersihan
kepada klien dan keluarga

Klien nyaman
tentang
pentingnya
kebersihan diri setelah
post operasi.

4.

IV

operasi

Untuk meningkatkan
pengetahuan klien tentang
personal hygene setelah post
operasi

Personal hygene terpenuhi


Agar klien merasa nyaman
dan bersih.

Periksa luka secara teratur,

catat karakteristik dan


integritas kulit.
Anjurkan pasien untuk

tidak menyentuh daerah


luka
Secara
hati-hati
lepaskan perekat dan

pembalut saat mengganti


balutan
Kolaborasi

Pemberian antibiotik

Mengobservasi adanya
kegagalan
proses
penyembuhan luka
Mencegah kontaminasi
luka

Luka
mencapai
penyembuhan setelah

tindakan keperawatan
2 24 jam.
Kriteria hasil :

Tercapainya
penyembuhan luka

Mencegah

komplikasi

Tidak
timbul
jaringan parut

Menyeka klien
Mengganti sprei

dengan pakaian yang bersih.

Mengurangi resiko trauma


kulit.
Diberikan
secara
profilaksis
atau
untuk
mengobati infeksi khusus dan
meningkatkan penyembuhan.

DAFTAR PUSTAKA
A.Price, Sylvia. 2006. Patofisiologi, kosep klinis proses-proses penyakit. Jakarta : EGC.
Lowdermil, Perta. 2005. Maternity Womens Health Care. Seventh edit.
Mansjoer, Arief dkk. (2001). Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapus.
Manuaba. (2008). Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana. Jakarta:EGC.
Mc Closky & Bulechek. (2000). Nursing Intervention Classification (NIC). United States of
America:Mosby.
Meidian, JM. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC). United States of America:Mosby.
William Helm, C. Ovarian Cysts. 2005. American College of Obstetricians and Gynecologists
( cited 2005 September 16 ). Available at http://emedicine.com
Winknjosastro, Hanifa. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka.