Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM SURVEI KADASTRAL

PENGUKURAN TITIK DASAR TEKNIK

DisusunOleh :
1.
2.
3.
4.
5.

Khusnul Hotimah
Pachira Eizza Paramitha
Efendi Dwi P.I
Mahfud Nugroho Jati
Teddy Emanuel S

(14/361252/SV/05531)
(14/370330/SV/07837)
(14/368230/SV/06764)
(14/368348/SV/06815)
(14/368319/SV/06802)

PROGRAM STUDI DIPLOMA TEKNIK GEOMATIKA


SEKOLAH VOKASI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2016
BAB I

PENDAHULUAN
I.1.

LATAR BELAKANG
Pengukuran dan pemetaan kadastral adalah pengukuran unik yang di lakukan
oleh PNS ( Pebagawai Negeri Sipil ) yang di tunjuk oleh kepala kantor pertanahan
nasional dalam menjalankan tugasnya seorang petugas pengukuran biasanya di bantu
oleh pembantu ukur sehingga didalam pengerjaanya akan lebih efektif dan akurat selain
itu juga tentunya dia harus mempersiapkan baik itu surat tugas lapangan dan berkas
lainya terkait dengan permohonan sertifikat tersebut semisal print out atau salinan peta
desa atau mungkin peta pendaftaran tanah yang sudah ada. Adapun proses pembuatan/
penerbitan sertifikat tanah terbatas samai surat ukur adalah sebgai berikut :
1. Pembuatan peta dasar pendaftaran;
2. Penetapan batas bidang-bidang tanah;
3. Pengukuran dan pemetaan bidang-bidang tanah dan pembuatan peta pendaftaran;
4. Pembuatan daftar tanah; dan
5. Pembuatan surat ukur.
Dalam proses pengukuran dan pemetaan bidang-bidang tanah dan pembuatan peta
pendaftaran kita memerlukan Titik Dasar Teknik, dimana fungsi Titik Dasar Teknik
itu sendiri adalah sebagai titik kontrol atau titik ikat.

I.2

MAKSUD DAN TUJUAN


1. Mahasiswa mampu mendeskripsikan lokasi titik dasar teknik
2. Mahasiswa mampu mengukur teknik dasar teknik dengan menggunakan GPS Leica

BAB II
DASAR TEORI
A. Teknik Dasar Teknik
Titik Dasar Teknik (TDT) adalah titik yang mempunyai koordinat yang diperoleh dari
suatu pengukuran dan perhitungan dalam suatu sistem tertentu yang berfungsi sebagai titik
kontrol atau titik ikat untuk keperluan pengukuran dan rekonstruksi batas (Pasal 1 butir 13
Peraturan Pemerintah No.24/1997). Warna, ukuran, dan ukuran dari TDT juga memiliki aturan
tersendiri yaitu :
1. Titik dasar teknik orde 2 dibuat dengan konstruksi beton dari campuran semen, pasir
dan kerikil dengan perbandingan 1 : 2 : 3 dengan diameter tulang besi 12 mm, yang
besarnya sekurang-kurangnya 0,35 m x 0,35 m dan tinggi sekurang-kurangnya 0,80
m,dan berdiri di atas beton dasar dengan ukuran 0,55 m x 0,55 m dan tinggi 0,2 m,
diber i warna biru dan dilengkapi dengan marmer dan logam yang berbentuk tablet
yang memuat sekurang-kurangnya nomor titik dasar teknik tersebut.
2. Titik dasar teknik orde 3 dibuat dengan konstruksi beton dar i campuran semen, pasir
dan kerikil dengan perbandingan 1 : 2 : 3 dengan diameter tulang besi 8 mm, yang
besarnya sekurang-kurangnya 0,30 m x 0,30 m dan tinggi sekurang-kurangnya 0,60 m,
dan berdiri di atas beton dasar dengan ukuran 0,40 m x 0,40 m dan tinggi 0,20 m,
diberi warna biru dan dilengkapi dengan logam yang berbentuk tablet yang memuat
sekurang kurangnya nomor titik dasar teknik tersebut.
3. Titik dasar teknik orde 4 dibuat dengan konstruksi yang dapat disesuaikan dengan
kondisi di lapangan.
Kemudian adapula aturan dalam penomoran TDT dengan aturan nya sebagai berikut:
1. Titik dasar teknik orde 2 diberi nomor yang unik/tunggal sebanyak lima digit yang
terdiri dari dua digit kode propinsi dan tiga digit nomor urut
2. Titik dasar teknik orde 3 diberi nomor yang unik/tunggal sebanyak tujuh digit yang
terdiri dari dua digit kode propinsi, dua digit kode kabupaten/kota madya dan tiga digit
nomor urut.
3. Titik dasar teknik orde 4 diberi nomor yang unik/tunggal berdasarkan wilayah
desa/kelurahan sebanyak tiga digit.
Pemasangan titik dasar teknik dilaksanakan berdasarkan kerapatan dan dibedakan atas;
orde 0,1,2,3,4 serta titik dasar teknik perapatan. Pemasangan titik dasar teknik orde 0 dan 1
dilaksanakan oleh Bakosurtanal sedangkan orde 2,3,4 dan titik dasar teknik perapatan
dilaksanakan oleh Badan Pertanahan Nasional. Berdasarkan pemasangannya, titik dasar teknik
dibedakan atas 2 (dua) bagian, yaitu sebagai perapatan dan sebagai pengikatan.

Pemasangan titik dasar teknik yang berfungsi sebagai pengikatan berarti bahwa setiap
bidang tanah dalam pendaftaran tanah sistematik ataupun sporadik harus diikatkan kepada titik
dasar teknik tersebut, sedangkan yang berfungsi sebagai perapatan berarti bahwa pemasangan
titik dasar teknik tersebut adalah merapatkan titik dasar teknik yang telah ada dan tersebar di
suatu wilayah. Mengingat fungsi-fungsi tersebut di atas, tahapan kegiatan pemasangan titik
dasar teknik adalah sebagai berikut :
a.
Inventarisasi
b.
Perencanaan
c.
Survei Pendahuluan
d.
Monumentasi
B. Pengukuran Teknik Dasar Teknik
Pengukuran titik dasar teknik dilaksanakan dengan menggunakan metoda pengamatan
satelit atau metoda lainnya. Titik Dasar Teknik dipakai sebagai pengikatan bidang tanah dan
pengikatan bagi perapatan titik dasar teknik dengan ketelitian di bawahnya.
Berkaitan dengan pengukuran titik dasar teknik yang harus diikatkan kepada titik dasar
teknik yang lebih tinggi ordenya, titik dasar teknik orde 2 harus lebih teliti dibandingkan
dengan titik dasar teknik orde 3,4 dan titik dasar teknik orde 3 harus lebih teliti dibandingkan
titik dasar teknik orde 4. Sehubungan dengan keterbatasan sumber daya dan peralatan yang
ada, Kantor Wilayah dan Kantor Pertanahan hanya melaksanakan pengukuran titik dasar
teknik orde 4 dan titik dasar teknik perapatan serta Direktorat Pengukuran dan Pemetaan
melaksanakan pengukuran titik dasar teknik orde 2, 3, 4 dan titik dasar teknik perapatan.
Pengukuran titik dasar teknik orde 2 dan 3 dapat dilaksanakan oleh Kanwil Propinsi dan atau
Kantor Pertanahan setelah mendapat pelimpahan wewenang dari Direktur Pengukuran dan
Pemetaan setelah mempertimbangkan kesiapan sumber daya manusia dan peralatannya.
Metoda pengukuran yang dapat dipakai adalah pengamatan satelit, pengukuran terrestrial dan
pengukuran fotogrametrik.
a. Pengamatan Satelit
Pengamatan satelit adalah model penentuan posisi titik-titik di permukaan bumi dimana
posisi titik dinyatakan dengan melakukan pengukuran terhadap konstelasi satelit. GPS (Global
Positioning System) merupakan salah satu sistem dari model pengamatan satelit yang ada.
GPS adalah sistem radio navigasi dan penentuan posisi menggunakan satelit yang
dimiliki dan dikelola oleh Amerika Serikat. GPS dapat digunakan setiap saat tanpa bergantung
pada waktu dan cuaca. Karena karakteristiknya ini, penggunaan GPS dapat meningkatkan
efisiensi dan fleksibilitas pelaksanaan pengukuran dengan memperpendek waktu pelaksanaan
dan menekan biaya operasional.
GPS mempunyai ketinggian orbit yang cukup tinggi dan jumlah satelit yang relatif
banyak sehingga dapat meliput wilayah yang cukup luas dan dapat digunakan oleh banyak
orang pada waktu yang bersamaan. Berdasarkan pengamatan satelit, titik dasar teknik diukur
dengan cara :

1. Static Positioning
Penentuan posisi secara static positioning adalah penentuan posisi dari titik-titik
yang statik (diam). Penentuan posisi tersebut dapat dilakukan secara absolut maupun
differensial, dengan menggunakan data pseudorange dan atau fase. Karakteristik secara
umum :

Memerlukan waktu pengamatan yang lama (dalam selang waktu jam).


Perhitungan dilakukan baseline per baseline yang kemudian diikuti perataan jaringan.
Perhitungan dapat dilakukan dengan ambiguity float (cycle ambiguity dianggap
sebagai bilangan pecah) atau ambiguity fixed (cycle ambiguity dijadikan bilangan
bulat).
Ukuran lebih pada suatu epoch pengamatan biasanya banyak.
Ketelitian posisi yang diperoleh mm sampai cm.
Metoda pengamatan satelit ini dilakukan untuk pengukuran titik dasar teknik orde 2
atau 3.

2. Rapid Static
Penentuan posisi secara rapid static pada dasarnya adalah survai statik dengan
waktu pengamatan yang lebih singkat. Metoda ini bertumpu pada proses penentuan
ambiguitas fase yang cepat . Karakteristik secara umum :

Lama pengamatan bergantung pada panjang baseline, jumlah satelit serta geometri
satelit.
Berbasiskan differential positioning dengan menggunakan data fase.
Persyaratan mendasar ; penentuan ambiguitas fase secara cepat.
Memerlukan geometri satelit yang baik, tingkat bias dan kesalahan data yang relatif
rendah, serta lingkungan yang relatif tidak menimbulkan multipath.
Satu baseline umumnya diamati dalam dua sesi pengamatan.
Ketelitian posisi yang diperoleh cm.
Metoda pengamatan satelit ini dilakukan untuk pengukuran titik dasar teknik orde 4.

3. Stop and Go
Pada metoda penentuan posisi ini, titik-titik yang akan ditentukan posisinya
tidak bergerak sedangkan receiver GPS bergerak pada titik-titik dimana pada setiap
titiknya receiver yang bersangkutan diam beberapa saat di titik-titik tersebut.
Karakteristik secara umum :

Moving receiver bergerak dan stop (selama beberapa menit) dari titik ke titik.
Ambiguitas fase pada titik awal harus ditentukan sebelum receiver bergerak.
Selama pergerakan antara titik ke titik, receiver harus selalu mengamati sinyal
GPS (tidak boleh terputus).

Berbasiskan differential positioning dengan menggunakan data fase.


Ketelitian posisi yang diperoleh cm.
Metoda pengamatan satelit ini dilakukan untuk pengukuran titik dasar teknik
orde 4.

C. Spesifikasi Teknik
Digunakan untuk mempermudah kita untuk tahu standar dari oengukuran yang kita
lakukan. Spesifikasi teknik diantara nya:
1. Rencana/desain jaringan harus dibuat di atas fotocopy peta topografi yang meliputi;
desain dan geometris jaringan. Perencanaan ini harus memperhitungkan kekuatan
jaringan titik dasar teknik.
2. Jumlah baseline yang membentuk suatu loop paling banyak adalah 4 (empat) buah
baseline. Setiap stasiun dihubungkan dengan minimal tiga buah baseline non trivial
yang diperoleh dari minimal 2 (dua) session pengamatan yang berbeda.
3. Tiap baseline sebaiknya terdistribusi secara merata di seluruh jaringan yang
ditunjukkan dengan jarak yang relatif sama. Sekurang-kurangnya terdapat 10
(sepuluh) persen common baseline sehingga dapat dilakukan pemeriksaan
konsistensi pengukuran.
4. Pengamatan satelit GPS carrier phase dipergunakan dalam model penentuan posisi
relatif untuk menentukan komponen baseline antara 2 (dua) titik.
5. Teknik pengamatan dilakukan secara Rapid Static ataupun Static dengan lama
pengamatan yang disesuaikan dengan panjang baseline, dengan syarat; tersedia 6
satelit, GDOP yang lebih kecil dari 8 (delapan), kondisi atmosfer dan ionosfer yang
memadai dan interval antar epoch 15 detik.
6. Terdapat minimal satu titik sekutu yang menghubungkan dua session pengamatan
dan lebih diharapkan menggunakan baseline sekutu.
7. Pengamatan satelit tidak dilakukan dengan elevasi dibawah 15.
8. Ketinggian dari antena harus diukur pada tiap titik sebelum dan sesudah data dari
satelit dicatat. Kedua data ketinggian tersebut tidak boleh berbeda lebih dari 2 mm.

BAB III
PELAKSANAAN
III.1.

Waktu dan Tempat


Waktu pelaksanaan: 19 Agustus 2016

Tempat
Informatika
III.2.

Lingkungan

Gedung

Teknik

Elektro

dan

Alat dan Bahan


1.
2.
3.
4.
5.

III.3.

GPS Geodetik Leica


Statif
Roll meter
Alat Tulis
Flasdisk

Langkah Pelaksanaan

a. Proses pengukuran
1. Mempersiapkan peralatan yang diperlukan untuk pengukuran

2. Masing-masing tim melakukan mobilisasi ke lokasi TDT yang telah ditentukan


3. Mendirikan statif di atas TDT, kemudian memasang tribrach pada statif
4. Melakukan sentering pada tribrach, kemudian memasang antenna dan receiver
GPS pada tribrach

5. Melakukan pengukuran tinggi alat (tinggi diukur dengan metode slope/jarak


miring dari TDT ke bagian tepi receiver, diukur sebanyak tiga kali dari sisi yang
berbeda)

6. Menghidupkan receiver GPS dan Controller

7. Pada saat dihidupkan, receiver akan langsung terhubung dengan controller via
Bluetooth
8. Melakukan setting parameter-parameter pengukuran pada controller.

9. Melakukan komunikasi dengan tim lain yang mendirikan alat di titik TDT
lainya. Apabila alat sudah siap, Memulai proses perekaman data dengan tombol
MEAS pada controller. Perekaman data dilakukan pada waktu yang bersamaan
dan pada jangka waktu yang sama (satu jam)

10. Mendokumentasikan arah pandang GPS (dari arah utara, selatan, barat dan
timur)
Contoh foto arah pandang dari arah utara.

11. Melakukan pengukuran tinggi receiver pada saat pertengahan pengukuran (kirakira setengah jam sejak pengukuran dimulai) dan setelah proses perekaman data
selesai
12. Memilih menu store untuk menyimpan data hasil perekaman.

b. Proses Dwonload Data


1. Menghidupkan Controller GPS

2. Menghubungkan Flash Disk dengan Controller GPS melalui port USB


yang tersedia

3. Masukke menu My Document >pilih CF Card >pilih GPS >pilih Data


>pilih RINEX >mengurutkan data berdasarkan tanggal pengukuran

terakhir>blok seluruh data yang ingin di-copy dengan ekstensi *.o; *.n
dan *.g > tahan kursor hingga muncul pilihan copy >pilih Copy >keluar
dari menu CF Card >pilih Flash Disk > copy data pada Flash Disk

Rundown Pengukuran Titik Dasar Teknik

No
1
2
3

Kegiatan
Persiapan alat
Moving
Setting Alat

Perekaman

6
7

Moving
Download Data

Receiver
-Receiver 1 (N0005)
-Receiver 2(TDT 13.04.001)
-Receiver 3 (TDT 13.04.002)
-Receiver 4(TDT 13.04.003)
-Receiver 1 (N0005)
-Receiver 2 (TDT 13.04.001)
-Receiver 3 (TDT 13.04.002)
-Receiver 4 (TDT 13.04.003)
-Receiver 1 (N0005)
-Receiver 2 (TDT 13.04.001)
-Receiver 3 (TDT 13.04.002)
-Receiver 4 (TDT 13.04.003)
-Receiver 1 (N0005)
-Receiver 2 (TDT 13.04.001)
-Receiver 3 (TDT 13.04.002)
-Receiver 4 (TDT 13.04.003)

Tim
Semua
Semua
- Tim 1,5, dan 9
- Tim 2,6, dan 10
- Tim 3,7, dan 11
- Tim 4,8,12, dan 3
- Tim 1,5, dan 9
- Tim 2,6, dan 10
- Tim 3,7, dan 11
- Tim 4,8,12, dan 3
- Tim 1,5, dan 9
- Tim 2,6, dan 10
- Tim 3,7, dan 11
- Tim 4,8,12, dan 3
Semua
- Tim 1,5, dan 9
- Tim 2,6, dan 10
- Tim 3,7, dan 11
- Tim 4,8,12, dan 3

Rencana Jaring Pengukuran

Waktu (WIB)
12.00-12.30
12.30-13.00
13.00-13.39

13.39-14.45

14.45-15.15

15.15-15.45
15.45-16.00

DAFTAR PUSTAKA
http://pengukurantitikdasarteknikorde4.blogspot.co.id/
https://plus.google.com/110559056206312359079/posts/6SRmnnFZwa5