Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FARMAKOKINETIKA DASAR

PERCOBAAN 4
PENGARUH RUTE PEMBERIAN TERHADAP BIOAVAILABILITAS SUATU
OBAT DENGAN MENGGUNAKAN DATA DARAH

Disusun oleh :
Golongan / Kelompok

:I/1

Nama Mahasiswa

: 1. Oki Lia Saputri

(G1F014001)

2. Melani Dian Arini

(G1F014017)

3. Ismah Maziyah

(G1F014033)

4. Amyda Ayu Dianritami

(G1F014053)

5. Irenne Agustina Tanto

(G1F014071)

Tanggal Praktikum

: 18 Mei 2016

Nama Asisten

: Farah K., Dwi Agus, Defi.

Nama Dosen Pembimbing

: Laksmi Maharani, M. Sc., Apt.

LABORATORIUM FARMASI KLINIK


JURUSAN FARMASI
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2016
PERCOBAAN 4

PENGARUH RUTE PEMBERIAN TERHADAP BIOAVAILABILITAS SUATU OBAT


DENGAN MENGGUNAKAN DATA DARAH
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Jalur pemberian obat ada 2 yaitu intravaskular dan ekstravaskular. Pada
pemberian secara intravaskular, obat akan langsung berada di sirkulasi sistemik tanpa
mengalami absorpsi, sedangkan pada pemberian secara ekstravaskular umumnya obat
mengalami absorpsi (Zunilda,.dkk, 1995).
Bioavailabilitas adalah jumlah dan kecepatan obat yang diabsorpsi melalui
jalur pemberian tertentu masuk ke sirkulasi sistemik (Batubara, 2008). Faktor-faktor
yang mempengaruhi bioavailabilitas :
1. Obat : sifat fisiko-kimia zat aktif, formulasi, dan teknik pembuatan.
2. Subjek : karakteristik subjek (umur, bobot badan), kondisipatologis, posisi, dan
aktivitas tubuh (pada subjek yang sama).
3. Rute pemberian
4. Interaksi obat atau makanan

(Batubara, 2008).

Penilaian ketersediaan hayati pada sukeralawan dapat dilakukan dengan


beberapa metode :
1. Metode menggunakan data darah
2. Data urin
3. Data efek farmakologis
4. Data respon klinis
Pemilihan metode bergantung pada tujuan studi, metode analisis utntuk
penetapan kadar obat dan sifat produk obat. Data darah dan data urin lazim digunakan
untuk menilai ketersediaan hayati sedian obat yang metode analisis zat berkhasiatnya
telah diketahui cara dan validitasnya. Jika cara validitas analisi belum diketahui dapat
digunakan data farmakologi dengan syarat efek farmakologik yang timbul dapat
diukur secara kuntitatif, seperti efek pada kecepatan denytu jantung atau tekanan
darah yang dapat digunakan sebagai indeks dari ketersediaan hayati obat. Untuk
evaluasi ketersediaan hayati menggunakan data respons klinik dapat mengalami
perbedaan antar individu akibat farmakokinetika dan farmakodinamik obat yang
berbeda. Faktor farmakodinamik yang mempengaruhi meliputi : umur, toleransi obat,
interaksi obat, dan faktor- faktor patofisiologik yang tidak diketahui. (Rowland, 1980)
1

Pada praktikum ini dilakukan melalui pemberian peroral saja pada tikus
kemudian dilihat bioavailabilitasnya menggunakan data darah yang diambil dengan
disposable syringe.
2. Dasar Teori
Rute pemberian obat dibagi 2, yaitu enternal dan parenteral (Priyanto, 2008).
Jalur Enternal Jalur enteral berarti pemberian obat melalui saluran gastrointestinal
(GI), seperti pemberian obat melalui sublingual, bukal, rektal, dan oral. Pemberian
melalui oral merupakanjalur pemberianobat paling banyak digunakankarena paling
murah, paling mudah, dan paling aman. Kerugian dari pemberian melalui jalur
enternal adalah absorpsinya lambat, tidak dapat diberikan pada pasien yang tidak
sadar atau tidakdapat menelan. Kebanyakan obat diberikan melalui jalur ini, selain
alasan di atas jugaalasan kepraktisan dan tidak menimbulkan rasa sakit. Bahkan
dianjurkan jika obatdapat diberikan melalui jalur ini dan untuk kepentingan emergensi
(obat segera berefek), obat harus diberikan secara enteral.
1. Parenteral

berarti

tidak

melalui

enteral.

Termasuk

jalur

parenteral

adalahtransdermal (topikal), injeksi, endotrakeal (pemberian obat ke dalam


trakeamenggunakan endotrakeal tube), dan inhalasi. Pemberian obat melalui jalur
ini dapatmenimbulkan efek sistemik atau lokal.
Bioavailabilitas adalah jumlah dan kecepatan obat yang diabsorpsi melalui
jalur pemberian tertentu masuk ke sirkulasi sistemik (Batubara, 2008). Untuk suatu
dosis intravena dari obat, bioavailabilitas adalah sama dengan satu (Holford, 1998),
atau dianggap 100% masuk ke dalam tubuh (Batubara, 2008). Untuk obat yang
diberikan peroral, bioavailabilitas dapat berkurang 100% karena absorpsi yang tidak
lengkap dan eliminasi first-pass (Holford, 1998).
Menurut

(Mutschler,

1999),

konsep

bioavailabilitas

pertama

kali

diperkenalkan oleh Osser pada tahun 1945, yaitu pada waktu Osser mempelajari
absorpsi relatif sediaan vitamin. Istilah yang dipakai pertama kali adalah availabilitas
fisiologik, yang kemudian diperluas pengertiannya dengan istilah bioavailabilitas.
Dimulai di negara Amerika Serikat, barulah pada tahun 1960 istilah bioavailabilitas
masuk ke dalam arena promosi obat. Hal ini disebabkan oleh semakin banyaknya
produk obat yang sama yang diproduksi oleh berbagai industri obat, adanya keluhan
dari pasien dan dokter di man obat yang sama memberikan efek terapeutik yang
berbeda, kemudian dengan adanya ketentuan tidak diperbolehkannya Apotek
2

mengganti obat yang tertulis dalam resep dengan obat merek lainnya. Sebagai cabang
ilmu yang relatif baru, ditemukan berbagai definisi tentang bioavailabilitas dalam
berbagai literatur. Bagian yang esensial dalam konsep bioavailabilitas adalah absorpsi
obat ke dalam sirkulasi sistemik. Ada 2 unsur penting dalam absorpsi obat yang perlu
dipertimbangkan, yaitu :
1) kecepatan absorpsi obat
2) jumlah obat yang diabsorpsi
Ke dua faktor ini sangat kritis dalam memperoleh efek terapeutik yang
diinginkan dengan toksisitas yang minimal. Atas dasar kedua faktor ini dapat
diperkirakan bagaimana seharusnya definisi tentang bioavailabilitas. Dua definisi
berikut ini merupakan definisi yang relative lebih sesuai dengan kedua faktor di atas
adalah:
Definisi 1: Bioavailabilitas suatu sediaan obat merupakan ukuran kecepatan absorpsi
obat dan jumlah obat tersebut yang diabsorpsi secara utuh oleh tubuh, dan masuk ke
dalam sirkulasi sistemik.
Definisi 2 : Bioavailabilitas suatu sediaan obat merupakan ukuran kecepatan absorpsi
obat dan jumlah obat tersebut yang diabsorpsi.
Menurut (Shargel, 2005), parameter yang harus diperhatikan ketika
menggunakan data darah adalah sebagai berikut:
1. T maks
Waktu kadar plasma mencapai puncak dapat disamakan dengan waktu yang
diperlukan obat untuk mencapat kadar maksimum. Pada T maks absorbsi adalah
terbesar dan laju absorbsi sama dengan laju eliminasi obat.
2. Cp maks
Kadar plasma puncak menunjukan kadar obat maksimum dalam darah setelah
pemberian obat secara oral. Cp maks memberi suatu petunjuk bahwa obat cukup
diabsoorbsi secara sistemik untuk memberikan respon terapetik.
3. AUC
AUC adalah kadar obat dalam plasma terhadap waktu, yaitu suatu ukuran dari
jumlah bioavailabilitas suatu obat.
Untuk mendapatkan data yang benar dari parameter tersebut, maka data darah
yang dipakai harus memenuhi persyaratan yang ditentukan yaitu:
- Pengambilan darah harus kontinyu selama paling sedikit tiga atau lebih baik lima
-

kali dari waktu paruh biologiknya


Waktu pengambilan sampel harus menggambarkan tiga titik fase absorbsi, fase
puncak dan fase distribusi (untuk kompartemen dua), serta fase eliminasi.
3

3. Tujuan Percobaan
Tujuan Umum : Membandingkan bioavailabilitas suatu obat dari rute

pemakaian yang berbeda


Tujuan Khusus :
- Melakukan uji bioavailabilitas suatu obat dari sediaan suspensi
(peroral) dan larutan injeksi (intramuscular dan intravena) dengan
-

menggunakan data darah.


Menghitung dan mengintepretasikan bioavailabilitas suatu obat

B. BAHAN DAN ALAT YANG DIGUNAKAN


Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah spektrofotometer, alat
pemusing, disposable syringe 1 cc, timbangan untuk binatang percobaan, cage (kotak
tikus), vortex mistare, alat pencukur, alat gelas, dan feeding. Bahan yang digunakan
adalah sulfadiazin, asam trikloroasetat 1,5%, natrium nitrit 0,1%, asam sulfamat
0,5%, N(naftil) etilen diamin dihidroklorida 0,1%.
C. CARA KERJA
1. Pembuatan larutan baku kerja sulfadiazin
Sulfadiazin
- dibuat larutan baku induk 100 g/ml dari 5 mg sulfadiazin
- dilarutkan dalam NaOH 0,1 N dan H2SO4 4 N ( 1 : 5 )
- ditambahkan air suling hingga 100 ml
Larutan baku induk
- diencerkan larutan baku induk dengan air suling sampai di dapat larutan
dengan kadar 5, 10, 25, 50 dan 75 g/ml
Larutan baku kerja sulfadiazin

2. Penentuan panjang gelombang maksimum


Larutan baku kerja 5 dan 75 g/ml
- dilakukan sesuai prosedur penetapan kadar sulfadiazin
- diamati nilai serapannya pada panjang gelombag antara 520 - 560 nm
- dibuat kurva serapan pada grafik berskala sama
- ditentukan panjang gelombang maksimum
Hasil
4

3. Pemberian Obat secara peroral


Tikus

Sulfadiazin

- ditimbang

- dihitung dosis dan volume suspensi dosis 50


mg/kg BB ( 1 ml suspensi = 4,5 mg sulfadiazin)
- diberikan obat secara peroral

Hasil
4. Pengambilan sampel darah dengan disposable syringe
Tikus
-

diambil disposable syringe steril dan dibilas dengan larutan heparin


dibersihkan bulu-bulu pada ekor tikus sekitar vena
diolesi xycol pada daerah sekitar vena
diambil darah dengan disposable syringe kurang lebih 1 ml darah
dikocok syringe
dilakukan pengambilan sampel pada menit ke 0, 5, 10, 20, 30, 45, 60, 90
setelah pemberian obat
dilakukan pengambilan sampel sebelum pemberian obat sebagai blanko

Hasil
5. Metode penetapan kadar sulfadiazin dalam darah dengan metode Azotasi dari
Bratton Marshal
250 L darah
-

ditambahkan 250 L aquadest


ditambahkan 2 ml TCA 5%
dilakukan vortex
disentrifuge 2500 rpm selama 15 menit
diambil beningannya sebanyak 1,5 ml
ditambahkan 2ml aquadest

beningan
beningan
- ditambahkan 0,1 ml NaNO2 0,1% dan didiamkan selama 3 menit
- ditambahkan 0,2 ml asam sulfat 0,5% dan didiamkan selama 2 menit
- ditambahkan 0,2 ml N-EDTA 0,1% dan didiamkan di tempat gelap
selama 5 menit
cairan berwarna
-

diukur absorbansinya pada panjang gelombang 546 nm

Hasil
5

6. Menentukan kesalahan acak


Kadar yang terukur setiap menit
-

dihitung rata-rata kadar terukur


dihitung simpangan baku kadar terukur
dihitung menggunakan rumus kesalahan acak

Hasil
D. HASIL PERCOBAAN
1. Pembuatan Larutan Baku
5 mg ad 50 ml = 5 mg/ 50 ml
= 5000 g/ 50 ml
= 100 g/ml
2. Pengenceran Larutan Baku
75 g/ml
M1 . V1 = M2 . V2
100 g/ml V1 = 75 g/ml . 10 ml
V1 = 7,5 ml ad 10 ml
50 g/ml
M1 . V1 = M2 . V2
100 g/ml V1 = 50 g/ml . 10 ml
V1 = 5 ml ad 10 ml

25 g/ml
M1 . V1 = M2 . V2
50 g/ml V1 = 25 g/ml . 10 ml
V1 = 5 ml ad 10 ml
10 g/ml
M1 . V1 = M2 . V2
100 g/ml V1 = 10 g/ml . 10 ml
V1 = 1 ml ad 10 ml
5 g/ml
M1 . V1 = M2 . V2
50 g/ml V1 = 5 g/ml . 10 ml
V1 = 1 ml ad 10 ml

3. Pemberian obat peroral


Berat badan tikus = 80 gram
Dosis sulfadiazin = 50 mg/kg BB
50 mg 50 mg
=
=0,05
1 kg 1000 gr

mg/gr BB

50 mg
Dosis untuk tikus 1000 gram 80 gram=4 mg

Data penimbangan tablet

Wadah
Wadah + tablet
Tablet

0,4174 gram
0,9804 gram
0,563 gram

Obat yang diambil

4 mg
563 mg=4,504 mg
500 mg

= 0,0045 gram/ml
= 0,1125 gram/ 25 ml

Data penimbangan obat


Wadah
Wadah + obat
Tablet

0,3066 gram
0,4190 gram
0,1124 gram

4. Data in vitro
Cobat

Creal dalam sampel

(mcg/ml)

(mcg/ml)

2,5

0,287

10

0,355

25

12,5

0,667

50

25

0,746

75

37,5

0,918

Absorbansi
a = 0,037
b = 0,539
r = 0,98
y = 0,037 + 0,539 x

log C vs Absorbansi
1
0.8

f(x) = 0.54x + 0.04


R = 0.97

0.6
Absorbansi

0.4
0.2
0
0.2

0.4

0.6

0.8

1.2

1.4

log C

5. Data pengamatan sampel


Kel

Kel

II

III

IV

t
5
10
20
30
45
60
90
t
5
10
20
30
45
60
90
5
10
20
30
45
60
90
5
10
20
30
45
60
90

Absorbansi
0,159
0,154
0,149
0,178
Absorbansi
0,195
0,134
0,333
0,160
0,188
0,175
0,165
0,199
0,173
0,127
0,095
0,164
0,438
0,431
0,103
0,237
0,282
0,161
0,264
0,321
0,294

Kadar (Cp)
0,2263
0,2170
0,2077
0,2615
Kadar (Cp)
0,293
0,179
0,549
0,228
0,280
0,256
0,233
0,300
0,252
0,166
0,107
0,235
0,743
0,730
0,122
0,371
0,454
0,230
0,421
0,526
0,476

Log Cp
-0,6453
-0,6635
-0,6825
-0,5825
Log Cp
-0,533
-0,747
-0,260
-0,642
-0,553
-0,592
-0,633
-0,523
-0,598
-0,779
-0,971
-0,628
-0,129
-0,136
-0,914
-0,431
-0,343
-0,638
-0,376
-0,279
-0,322

1.6

1.8

Nilai K eliminasi ditentukan dengan menggunakan 3 data terakhir kelompok


II, didapat nilai regresi linier:
Kel
IV

t
45
60
90

Absorbansi
0,188
0,175
0,165

Kadar (Cp)
0,280
0,256
0,233

a = -0,4809
b = -1,7147 x 10-3
r = -0,9845

Log Cp
-0,553
-0,592
-0,633

Ke = 2,303 x (-b)
= 2,303 x 1,7147 x 10-3
= 3,9489 x 10-3 /menit
T = 175,5 menit

y = -0,4809 -1,7147 x 10-3x

t vs Log Cp eliminasi
-0.5
40
-0.52

50

60

70

80

90

100

-0.54
Absorbansi

-0.56
-0.58

f(x) = - 0x - 0.48
R = 0.97

-0.6
-0.62
-0.64
Log Cp

Nilai Ka ditentukan dengan menggunakan 3 data pertama kelompok IV,


didapat nilai regresi linier:
Kel

IV

Log C

Log [C C]

5
10

-0,4809
-0,4980

0,330
0,318

-0,682
Math ERROR

20

-0,5152

0,305

Math ERROR

6. AUC
9

t vs Log [C
C]
Ka tidak
dapat
ditentukan

Kelompok I
10

[ AUC ] 5 =

( C5 +C 10 )( t 10t 5 )
2

[ AUC ] 10
5 =1,1083 mg.menit/ml
20

[ AUC ]1 0=

(C 1 0+ C20 )(t 20 t 10)


2

[ AUC ]30
15 =2,1235
mg.menit/ml
[ AUC ]30
20 =

(C 2 0+ C30 )(t 30t 20 )


2

[ AUC ]15
0 =2,346
-

mg.menit/ml

Kelompok II
10

[ AUC ] 5 =

( C5 +C 10 )( t 10t 5 )
2

10

[ AUC ] 5 =1,18 mg.menit/ml


[ AUC ]20
1 0=

(C 1 0+ C20 )(t 20 t 10)


2

[ AUC ]30
15 =3,64
30

[ AUC ]20=

mg.menit/ml

(C 2 0+ C30 )(t 30t 20 )


2

[ AUC ]15
0 =3,885
mg.menit/ml
[ AUC ]45
30 =

(C 30 +C 45)(t 45t 35 )
2

[ AUC ]15
0 =3,81
mg.menit/ml
60

[ AUC ]45=

(C 45 +C 60)(t 60t 45 )
2

[ AUC ]15
0 =4,02
mg.menit/ml
[ AUC ]90
60 =

(C 60 +C90 )(t 90t 60 )


2

[ AUC ]15
0 =7,335
mg.menit/ml
-

Kelompok III

10

10

[ AUC ] 5 =

( C5 +C 10 )( t 10t 5 )
2

[ AUC ] 10
5 =1,38 mg.menit/ml
[ AUC ]20
1 0=

(C 1 0+ C20 )(t 20 t 10)


2

30

[ AUC ]15=2,09 mg.menit/ml


[ AUC ]30
20 =

(C 2 0+ C30 )(t 30t 20 )


2

15

[ AUC ]0 =1,365 mg.menit/ml

[ AUC ]45
30 =

(C 30 +C 45)(t 45t 35)


2

[ AUC ]15
0 =2,565
mg.menit/ml
60

[ AUC ]45=

(C 45 +C 60)(t 60t 45 )
2

[ AUC ]15
0 =7,335
mg.menit/ml
[ AUC ]90
60 =

(C 60 +C90 )(t 90t 60 )


2

15

[ AUC ]0 =22,095 mg.menit/ml


-

Kelompok IV
( C +C )( t t )
10
[ AUC ] 5 = 5 10 10 5
2
10

[ AUC ] 5 =1,2325 mg.menit/ml


[ AUC ]20
1 0=

(C 1 0+ C20 )(t 20 t 10)


2

[ AUC ]30
15 =4,125
mg.menit/ml
30

[ AUC ]20=

(C 2 0+ C30 )(t 30t 20 )


2

[ AUC ]15
0 =3,42
mg.menit/ml
[ AUC ]15
0 =4,8825
mg.menit/ml
60

[ AUC ]45=

(C 45 +C 60)(t 60t 45 )
2
11

[ AUC ]45
30 =

(C 30 +C 45)(t 45t 35 )
2

15

[ AUC ]0 =7,1025 mg.menit/ml


[ AUC ]90
60 =

(C 60 +C90 )(t 90t 60 )


2

[ AUC ]15
0 =15,03
mg.menit/ml
7. Perhitungan kesalahan acak
Kel
I
II
III

Kadar

terukur

terukur)

acak

0,235

SD = 0,082
0,082
x 100
0,235

0,254

= 34,89%
SD = 0,083
0,083
x 100
0,254

0,344

= 32,67%
SD = 0,186
0,186
x 100
0,344

0,208

= 54,06%
SD = 0,68
0,68
x 100
0,208

0,312

= 32,69%
SD = 0,079
0,079
x 100
0,312

0,508

= 25,32%
SD = 0,199
0,199
x 100
0,508

0,479

= 39,17%
SD = 0,202
0,202
x 100
0,479

0,2263
0,293
0,300

IV

0,122

I
II
III

0,2170
0,179
0,252

10

IV

0,371

I
II
III

0,2077
0,549
0,166

20

IV

0,454

I
II
III

0,2615
0,228
0,107

30

IV

0,230

I
II
III

0,280
0,235

45

IV

0,421

I
II
III

0,256
0,743

60

IV

0,526

I
II
III

0,233
0,730

90

IV

(kadar

0,476

Kesalahan

= 42,17%

E. PEMBAHASAN
12

Tujuan praktikum kali ini adalah membandingkan bioavailabilitas suatu obat


dari rute pemakaian yang berbeda menggunakan data darah, tetapi karena pada
praktikum data pengamatan yang diperoleh masih banyak terdapat kesalahan maka
bioavailabilitas, recorvery suatu obat tidak dapat ditentukan, melainkan hanya
ditentukan kesalahan acak. Obat yang digunakan adalah sulfadiazin yang dianalisis
dalam darah tikus. Sulfadiazin merupakan suatu derivat dari sulfonamid yang
memiliki daya absorpsi dan ekskresi yang cepat. Absorpsi di usus terjadi cepat dan
kadar maksimal dalam darah dicapai dalam waktu 3-6 jam sesudah pemberian dosis
tunggal. Kira-kira 15-40% dari obat yang diberikan di ekskresikan dalam bentuk
senyawa asetil. Hampir 70% obat ini mengalami reabsopsi di tubuli. Karena beberapa
macam sulfa sukar larut dalam urin yang asam, maka sering timbul kristaluria dan
komplikasi ginjal lainnya. Untuk mencegah ini pasien dianjurkan minum banyak air
agar produksi urin tidak kurang dari 1200 mL/hari atau diberikan sediaan alkalis
seperti natrium bikarbonat untuk menaikkan PH urin (Setiabudy, 2007).
Langkah awal yang dilakukan yaitu dengan membuat larutan stok sulfadiazin.
Pembuatan larutan stok diawali dengan menimbang sulfadiazin sebanyak 5 mg
kemudian dilarutkan dengan NaOH 1 N hingga homogen setelah itu diencerkan
dengan aquades ad 100 ml dan didapat larutan dengan konsentrasi 100 g/ml.
Penambahan NaOH dilakukan untuk melarutkan sulfadiazin yang tidak larut dalam
air. Kelarutan sulfadiazine praktis tidak larut dalam air, mudah larut dalam asam
mineral encer, dalam larutan kalium hidroksida, dalam larutan natrium hidroksida dan
dalam larutan amonium hidroksida, agak sukar larut dalam etanol dan dalam aseton,
sukar larut dalam serum manusia pada suhu 37oC (Depkes RI, 1995). Selanjutnya
dilakukan pengenceran untuk mendapatkan 5 konsentrasi berbeda yaitu 5 g/ml, 10
g/ml, 25 g/ml, 50 g/ml, dan 75 g/ml. Tetapi langkah ini tidak dilakukan
praktikan,

melainkan

dilakukan

oleh

asisten,

hal

ini

dikarenakan

untuk

mempersingkat waktu praktikum. Pada praktikum ini juga sudah tersedia data in vitro
yang sudah dilakukan sebelumnya.
In vitro (dalam kaca) mengacu prosedur perlakuan yang diberikan dalam
lingkungan terkendali di luar organisme hidup. Teknik in vitro mudah dilakukan.
Kadang-kadang peneliti memiliki keterbatasan dalam mengakses organisme hidup
dan pendekatan vitro menjadi solusi dalam hal ini. Penelitian in vitro dapat
menghasilkan kesimpulan yang tidak sesuai dengan keadaan organisme hidup
(Anonim, 2015).
13

In vivo (dalam hidup) mengacu pada eksperimen menggunakan keseluruhan


organisme hidup. In vivo berusaha menghindari penggunaan organisme secara parsial
atau organisme mati.Penelitian pada hewan dan uji klinis adalah salah satu penerapan
in vivo. Pendekatan ini biasanya dilakukan untuk menguji hasil temuan in vitro
karena lebih cocok untuk mengamati efek keseluruhan pada subjek hidup (Anonim,
2015).
Langkah berikutnya yaitu memberikan obat secara peroral kepada tikus.
Pertama tikus ditimbang terlebih dahulu, pada kelompok kami, berat badan tikus
sebesar 80 gram. Sedangkan dosis sulfadiazin sebesar 50 mg/kg BB, maka besar dosis
yang diberikan untuk tikus sebanyak 4 mg. Sulfadiazin yang tersedia adalah sediaan
tablet, sehingga kami harus menumbuk obat dengan mortar dan stamper, lalu setelah
perhitungan, diambil obat sebanyak 4,504 mg, kemudian dimasukkan ke dalam gelas
beaker. Obat dilarutkan terlebih dahulu dengan NaOH secukupnya, penambahan
NaOH dilakukan untuk melarutkan sulfadiazin yang tidak larut dalam air (Depkes RI,
1995). Lalu obat diaduk hingga homogen, setelah homogen, larutan dimasukkan ke
dalam labu ukur 25 ml, ditambahkan air hingga tanda batas, lalu dikocok hingga
homogen.
Kegiatan selanjutnya adalah pengambilan sampel darah dari tikus. Pertama,
diambil disposable syringe steril dan dibilas dengan larutan heparin, lalu dibersihkan
bulu-bulu pada daerah ekor sekitar vena, kemudian diolesi xyeol pada daerah sekitar
vena, diambil darah dengan disposable syringe kurang lebih 1 ml darah, kocok
syringe

untuk

mencegah

penggumpalan.

Darah

diambil

pada

menit

ke-

0,10,20,30,45,60,90 dan diambil satu sampel darah sebelum pemberian obat sebagai
blanko.
Langkah selanjutnya adalah pemrosesan sampel darah in vitro yaitu 250 l
darah yang diambil setiap menit ke- 0,10,20,30,45,60,90 ditambahkan dengan 250 l
aquadest dan 2 ml TCA 5%. Penambahan TCA berfungsi untuk memberikan suasana
asam bagi reaksi diazotasi; sebagai donor proton untuk reaksi selanjutnya, serta
merupakan

senyawa

yang

dapat

menghentikan

kerja

enzim

yang

dapat

memetabolisme obat sekaligus akan menyebabkan denaturasi protein plasma. TCA


akan mengikat protein dan mengendapkannya saat sentrifugasi sehingga keberadaan
protein tidak mengganggu pembacaan absorbansi (Lethe dan Syahruddin, 2006).
Kemudian larutan divortex selama 5 menit untuk mempercepat proses
homogenisasi dan di sentrifugasi 2500 rpm selama 15 menit, hal ini dilakukan untuk
menyempurnakan pengendapan. Setelah disentrifus akan didapatkan supernatan
14

cairan bening. Cairan bening yang diambil harus tanpa endapan. Hal ini bertujuan
untuk mengambil obat yang bebas dari protein plasma karena obat yang terikat pada
protein plasma tidak akan aktif secara farmakologik sehingga tidak memiliki efek
terapeutik atau dengan kata lain akan dapat menyebabkan data hasil pengamatan tidak
valid (Anggraeni, 2010).
Supernatan yang didapat sebanyak 1,5 ml ditambahkan dengan aquadest
sebanyak 2 ml, kemudian ditambahkan 0,1 ml NaNO2 0,1% dan didiamkan selama 3
menit. Penambahan NaNO2 ini berfungsi sebagai reaksi diazotasi. Reaksi diazotasi
yaitu pembentukan garam diazonium yang sangat reaktif. NaNO2 akan membentuk
NaOH dan HNO2 dengan adanya H2O dalam darah. Lalu HNO2 terbentuk akan
membentuk ionnitronium dengan adanya keasaman dari TCA. HNO 2 bersifat
oksidator, dapat mengoksidasi senyawa kopling hasil reaksi antara garam diazonium
dengan N-1-naftil etilen diamin. Sehingga kelebihan HNO2 harus dihilangkan dengan
cara menambahkan 0,2 ml asam sulfat 0,5%. Asam sulfat merupakan suatu reduktor
sehingga dapat bereaksi redoks dengan HNO2 (Hart, 2003).
Setelah itu ditambahkan N-1-naftil etilen diamin 0,1% sebanyak 0,2 ml
sehingga terbentuk senyawa kopling yang mempunyai ikatan rangkap terkonjugasi
yang lebih panjang. Lalu ditempatkan ditempat gelap selama 5 menit agar
pembentukan warna lebih sempurna. Adanya cahaya dapat memutus ikatan
konjugasinya sehingga ikatannya menjadi lebih pendek dan tidak dapat dideteksi
dengan UV-Vis. Kemudian akan terbentuk warna ungu yang menandai adanya reaksi
kopling. Mekanisme reaksi diazotasi dan pembentukan senyawa kopling:

15

(Hart, 2003).
Setelah itu, dilakukan pengukuran panjang gelombang maksimum dan
penentuan operating time. Namun, pada percobaan ini tidak dilakukan kedua hal
tersebut hanya saja pada saat penambahan N-1-naftil etilen diamin didiamkan selama
5 menit yang diibaratkan sebagai operating time. Kemudian dilakukan pengukuran
absorbansi menggunakan spektorofometer dengan panjang gelombang 546 nm.
Hasil vs Pustaka
Data pengamatan yang diperoleh adalah persamaan regresi linier dari data
invitro, kemudian dihitung konsentrasi sampel berdasarkan persamaan regresi
tersebut. Kemudian dihitung juga AUC yang diperoleh, K eliminasi, K absorbsi, dan
kesalahan acak. Data yang digunakan untuk menghitung K eliminasi yaitu data
kelompok 2 pada menit ke- 45,60,dan 90, sedangkan untuk menghitung K absorbsi
yaitu data kelompok 4 pada menit ke -5,10,20. Hal ini dilakukan karena data yang
diperoleh setelah percobaan ternyata masih banyak terdapat kesalahan, sehingga
hanya dipakai data beberapa kelompok saja.
Nilai K eliminasi yang didapatkan adalah 0,00394/menit, sedangkan K
absorbsi tidak dapat ditentukan. Pada menit ke- 5,10,20 konsentrasi yang diperoleh
berturut-turut adalah 0,122; 0,371; 0,454 dan pada menit ke -45,60,90 konsentrasi
yang diperoleh berturut-turut adalah 0,280; 0,256; 0,233. Hasil yang diperoleh pada
semua kelompok sesuai dengan literatur karena ketika obat diberikan dengan rute
peroral, obat baru saja diberikan kepada subyek (pada t=0), kadar obat di dalam darah
C=0, karena belum ada proses absorpsi. Kemudian, karena jumlah obat yang
diabsorpsi pada waktu-waktu awal lebih besar dari jumlah obat yang dieliminasi,
kadar obat di dalam darah terus meningkat (pada menit ke-5 sampai menit ke-20),
sampai mencapai kadar puncak (Cmaks). Pada kadar puncak ini, kecepatan absorpsi
sama dengan kecepatan eliminasi obat. Begitu mencapai kadar puncak, kadar obat
terus menurun (pada menit ke-45 sampai menit ke- 90), sebab jumlah obat yang
tersedia untuk diabsorpsi makin berkurang, sehingga menyebabkan penurunan
kecepatan absorpsi (Shargel dkk., 2005).
Kesalahan acak menunjukkan presisi atau ketepatan suatu analisis. Kesalahan
pada percobaan seharusnya kurang dari 10% agar dapat dikatakan presisi atau akurat
(Shargel, 2005). Kesalahan acak pada menit ke-5 sebesar 34,89% , pada menit ke-10
sebesar 32,67% , pada menit ke- 20 sebesar 54,06% , pada menit ke- 30 sebesar
32,69%, pada menit ke- 45 sebesar 25,32%, pada menit ke-60 sebesar 39,17% , dan
16

pada menit ke- 90 sebesar 42,17%. Hasil percobaan menunjukkan nilai kesalahan
acak yang melebihi 10%. Hal ini menunjukkan bahwa percobaan yang dilakukan tidak
presisi dan tidak memenuhi syarat. Kesalahan ini umumnya disebabkan masalah
pengukuran berulang dan alat yang digunakan kurang sensitif. Selain itu pada
pengukuran saat praktikum terjadi kesalahan saat penetapan blanko spektrofotometri
sehingga mempengaruhi nilai pembacaan absorbansi. Tujuan praktikum kali ini
adalah membandingkan bioavailabilitas suatu obat dari rute pemakaian yang berbeda
menggunakan data darah, tetapi karena pada praktikum data pengamatan yang
diperoleh masih banyak terdapat kesalahan maka bioavailabilitas, recovery suatu obat
tidak dapat ditentukan, melainkan hanya ditentukan kesalahan acak
AUC atau Area Under Curve adalah permukaan di bawah kurva (grafik) yang
menggambarkan naik turunnya kadar plasma sebagai fungsi dari waktu. AUC
dihitung secara matematis dan merupakan ukuran untuk

bioavailabilitas

suatu

obat. AUC dapat digunakan untuk membandingkan kadar masing-masing plasma


obat bila penentuan kecepatan eliminasinya tidak mengalami perubahan. Selain
itu antara kadar plasma puncak dan bioavailabilitas terdapat hubungan langsung
(Tjay dan Rahardja, 2002). Hasil praktikum menunjukkan AUC total sebesar 5,5778
mg.menit/mL. Nilai AUC total kecil berarti bahwa kadar obat dalam darah
(bioavailabilitas) juga kecil. Hal ini disebabkan pengukuran data darah yang
seharusnya sampai menit ke-90, namun hanya sampai pada menit ke-30 dikarenakan
darah tikus sudah tidak bisa keluar lagi, sehingga hasil yang didapatkan kurang
optimal.
Berdasarkan pengukuran agar nilai-nilai parameter kinetik obat dapat
dipercaya, metode penetapan kadar harus memenuhi berbagai kriteria, yaitu: selektif
atau spesifik, sensitive atau peka, teliti dan cepat. Dari data yang didapat kemudian
dihitung menghitung nilai kesalahan sistemik, kesalahan acak, dan perolehan kembali.
Nilai perolehan kembali (recovery) merupakan parameter atau tolak ukur efisiensi
analisis yang menggambarkan akurasi (ketelitian) metode yang digunakan. Ketelitian
ditunjukan oleh kemampuan metode memberikan hasil pengukuran sedekat mungkin
dengan nilai sesungguhnya (true value). Ini dapat diketahui dari harga perolehan
kembali (recovery) yang dinyatakan sebagai % error (harga sesungguhnya dikurangi
harga uji dibagi harga sesungguhnya, dikali 100%). Perolehan kembali merupakan
tolok ukur efisiensi analisis (Hakim, 2014; Pashla, dkk, 1986).
F. KESIMPULAN
17

Pada menit ke- 5,10,20 konsentrasi yang diperoleh berturut-turut adalah 0,122;
0,371; 0,454 dan pada menit ke -45,60,90 konsentrasi yang diperoleh berturut-turut
adalah 0,280; 0,256; 0,233. Sedangkan kesalahan acak pada menit ke-5 sebesar
34,89% , pada menit ke-10 sebesar 32,67% , pada menit ke- 20 sebesar 54,06% , pada
menit ke- 30 sebesar 32,69%, pada menit ke- 45 sebesar 25,32%, pada menit ke-60
sebesar 39,17% , dan pada menit ke- 90 sebesar 42,17%. AUC total yang diperoleh
sebesar 5,5778 mg.menit/mL. Perubahan konsentrasi obat pada waktu pengukuran
sesuai dengan perubahan konsentrasi pemberian per oral, namun pengukuran yang
dilakukan belum baik karena belum memenuhi persyaratan parameter.
G. DAFTAR PUSTAKA
Anggraeni, I. I., 2010, Penetapan kadar Medroksiprogesteron Asetat Dalam Plasma
Secara In vitro Dengan KCKT, Skripsi, Universitas Negeri Syarif
Hidayatullah, Jakarta.
Anonim,

2015,

Teknik

In

Vitro,

In

Vivo

dan

In

Silico,

http://tu.laporanpenelitian.com/2015/07/40.html, diakses tanggal : 31 Mei


2016.
Batubara, P. L., 2008, Farmakologi Dasar, Edisi II. Lembaga Studi dan Konsultasi
Farmakologi, Jakarta.
Depkes RI, 1995, Farmakope Indonesia Edisi IV, Ditjen POM, Jakarta.
Hakim, L., 2014, Farmakokinetika, Bursa Ilmu, Yogyakarta.
Hart, H., 2003, Kimia Organik, Erlangga, Jakarta.
Holford, N.H., 1998, Farmakokinetik dan Farmakodinamik: Pemilihan Dosis yang
Rasional dan Waktu Kerja Obat Dalam Farmakologi Dasar dan Klinik Edisi
IV, Penerbit Salemba Medika, Jakarta.
Lethe, Christiana dan Syahruddin Kasim, 2006, Penuntun Praktikum Kimia Klinik
Dasar, Laboratorium Kimia Farmasi, Universitas Hasanuddin.
Mutschler, Ernest, 1999, Dinamika Obat, Penerjemah: Mathilda B, Widianto dan
Anna Setiadi Ranti, Edisi V, Cetakan Ketiga, Penerbit ITB, Bandung.
Pasha, L.A., Wright, D.S., dan Reinlods, D.L., 1986, Bioanalytic Consideration for
Pharmacokinetik and Biopharmaceutic Studies, J. Clin, Pharmacol.
Priyanto, 2008, Farmakologi Dasar Untuk Mahasiswa Farmasi & Keperawatan,
Edisi II, Leskonfi, Jakarta.
Rowland, M. and Tozer., T. M., 1980, Clinical Pharmacokinetics : Concept and
Application, Lea and Febiger, Philadelphia.
18

Setiabudy, Rianto, 2007, Farmakologi dan Terapi Edisi 5, Fakultas Kedokteran


Universitas Indonesia, Jakarta.
Shargel, Leon, 2005, Biofarmasetika Dan Farmakokinetika Terapan, Airlangga
University Press, Surabaya.
Tjay, T.H., Rahardja, K. 2002. Obat-obat Penting : Khasiat, Penggunaan, dan. EfekEfek Sampingnya. Edisi VI. Jakarta: Penerbit PT. Elex Media Komputindo.
Zunilda, S.B, dan F.D. Suyatna, 1995, Pengantar Farmakologi. Dalam Farmakologi
dan Terapi Edisi kelima, Penerbit Universitas Indonesia Press, Jakarta.
Purwokerto, 31 Mei 2016,

(Irenne Agustina Tanto)


NIM G1F014071

Pertanyaan
1. Bagaimana cara pengambilan sampel darah pada tikus?
Jawab : pengambilan sampel darah pada tikus dapat dilakukan melalui beberapa cara
berikut :
a. Plexus Retroorbitalis pada mata
tikus dipegang dan di jepit bagian tengkuk jari tangan.setelah itu tikus
dikondisikan

senyaman

mungkin,kemudian

Mikrohematikrit

digoreskan

pada medial canthus mata dibawah bola mata ke arah foramen opticus.Kemudian
mikrohematokrit diputar sampai melukai plexus, jika diputar 5X maka harus
dikembalikan 5X. Darah ditampung pada Eppendorf yang telah diberi EDTA
untuk tujuan pengambilan plasma darah

dan

pengambilan

dengan penambahan heparin sebagai

serumnya,bisa

juga

antikoagulan.
b. Pada Vena Ekor (V. Lateralis ekor)
19

tanpa

EDTA

untuk

tujuan

Tikus dimasukkan dalam selongsong yang sesuai ukurannya tubuh tikus. Ekor
tikus dijulurkan keluar dan Vena lateralis pada ekor di Incisi (dipotong) 0,2 2 cm
dari pangkal ekor dengan silet atau gunting yang steril. Darah ditampung pada
eppendorf, kemudian diletakkan miring 45 dan dibiarkan mengendap pada
suhu kamar, selanjutnya dilakukan sentrifugasi untuk mendapatkan serum yang
dimaksud.
c. Pengambilan darah melalui vena sapena pada kaki
Mencit dipegang pada posisi setengah tegak,jarum
paha belakang sebelah
bantuan

dalam

agar

posisi

jarum

diinjeksikan

tidak

berubah,

pada
perlu

untuk memegang kaki hewan tersebut lalu tampung darah pada

Eppendorf.
d. Pengambilan darah langsung ke jantung
e. Teknik ini umumnya dilakukan jika darah yang dibutuhkan banyak dan tikus yang
diambil darahnya ini akan sekalian dibedah untuk diambil organnya. Cara
memperoleh darah dari jantung tikus lebih sering dipakai daripada mencit.
Diperlukan anastesi dan cara ini sama pada mencit. Prinsip ini umumnya
dilakukan jika darah yang dibutuhkan banyak dan tikus yang diambil darahnya ini
akan sekalian dibedah untuk diambil organnya. Caranya dengan menusukkan
syringe langsung ke jantung dan disedot perlahan.
2. Jelaskan prinsip dan bagaimana reaksi penetapan kadar sulfadiazin dalam darah?
Jawab :
Penetapan kadar sulfadiazin menggunakan metode bratton marshal dengan prinsip
klorimetri, yaitu terbentuknya senyawa-senyawa berwarna yang intensitasnya dapat
ditentukan secara spektrofotometri visibel. Reaksi penetapan kadar melalui 3 tahap
yaitu pembentukan senyawa diazo, penghilangan sisa asam nitrit dengan penambahan
asam sulfat dan pengkoplingan garam diazonium-NED.
3. Mengapa pada percobaan ini dilakukan recovery dan apa tujuannya?
Jawab :
Recovery adalah akurasi yang dinyatakan dalam nilai perolehan kembali. Akurasi
adalah ukuran untuk menunjukkan derajat kedekatan hasil analis dengan kadar analit
sebenarnya. Tujuan recovery adalah untuk mencapai data yang akurat.
4. Jelaskan secara ringkas pentingnya pKa suatu obat, pH tempat pemakaian dan
koefisien partisi lipid/air untuk absorpsi obat melalui difusi pasif!
Jawab :
pka adalah derajat ionisasi suatu senyawa yang menentukan pH dari suatu obat.
Kecepatan absorbsi obat sangat dipengaruhi oleh koefisien partisi. Hal ini disebabkan
oleh komponen dinding usus yang sebagian besar terdiri dari lipid. Dengan demikian
obat-obat yang mudah larut dalam lipida akan dengan mudah melaluinya dan
20

sebaliknya. Pada umumnya obat-obat bersifat asam lemah atau basa lemah. Jika obat
tersebut dilarutkan dalam air, sebagian terionisasi. Besarnya fraksi obat terionkan
tergantung pH larutannya.
5. Alasan apa untuk fakta bahwa beberapa obat tersedia untuk rute pemakaian yang
berbeda?
Jawab :
Rute pemberian obat ( Routes of Administration ) merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi efek obat, karena karakteristik lingkungan fisiologis anatomi dan
biokimia yang berbeda pada daerah kontak obat dan tubuh karakteristik ini berbeda
karena jumlah suplai darah yang berbeda; enzim-enzim dan getah-getah fisiologis
yang terdapat di lingkungan tersebut berbeda. Hal-hal ini menyebabkan bahwa
jumlah obat yang dapat mencapai lokasi kerjanya dalam waktu tertentu akan berbeda,
tergantung dari rute pemberian obat. Memilih rute penggunaan obat tergantung dari
tujuan terapi, sifat obatnya serta kondisi pasien. Oleh sebab itu perlu
mempertimbangkan masalah-masalah seperti berikut:
a) Tujuan terapi menghendaki efek lokal atau efek sistemik
b) Apakah kerja awal obat yang dikehendaki itu cepat atau masa kerjanya lama
c) Stabilitas obat di dalam lambung atau usus
d) Keamanan relatif dalam penggunaan melalui bermacam-macam rute
e) Rute yang tepat dan menyenangkan bagi pasien dan dokter
f) Harga obat yang relatif ekonomis dalam penyediaan obat melalui bermacammacam rute
g) Kemampuan pasien menelan obat melalui oral

21