Anda di halaman 1dari 20

PEMBUATAN DAN EVALUASI UNGUENTA SALISILAT

A. Latar Belakang
Salep (unguenta, unguentum, ointment) adalah sediaan setengah padat yang mudah
dioleskan dan digunakan sebagai obat luar. Bahan obat harus larut atau terdispersi secara
homogen dalam dasar salep yang cocok (Syamsuni, 2005).
Obat Ungueta/Ointment (salep) juga diartikan sebagai sediaan setengah padat yang
digunakan untuk pemakaian topikal kulit atau selaput lendir. Bahan Obatnya larut atau
terdispersi (Dispersi = penyebaran suatu zat secara merata dalam zat lain) secara homogen
dalam dasar Unguentum/ Ointment (Salep) yang cocok. Salep harus stabil, artinya tidak
boleh mudah terpengaruh oleh kelembaban, suhu, dan sinar matahari. Biasanya zat aktif pada
salep akan bekerja saat diserap oleh kulit melalui pori pori tubuh, Tujuan penggunaan dan
pembuatan salep adalah untuk pengobatan pada kulit, melindungi kulit, serta melembabkan
kulit (Depkes RI, 1995).
Peraturan-peraturan pembuatan salep:
1. Zat-zat yang dapat larut dalam campuran lemak, dilarutkan kedalamnya, jika perlu
dengan pemanasan.
2. Bahan-bahan yang dapat larut dalam air. Jika tidak ada peraturan-peraturan
lain, dilarutkan lebih dahulu dalam air, asalkan jumlah air yang dipergunakan dapat
diserap seluruhnya oleh basis salep : jumlah air yang dipakai dikurangi dari basis
3. Bahan-bahan yang sukar atau hanya sebagian yang dapat larut dalam lemak dan air harus
diserbuk lebih dahulu, kemudian diayak dengan no. B4
4. Salep-salep yang dibuat dengan cara mencairkan, campurannya harus digerus sampai
dingin (Anief M., 2006)
Macam-macam basis salep antara lain :
1. Basis Salep Hidrokarbon (dasar bersifat lemak) bebas air, preparat yang berair mungkin
dapat dicampurkan hanya dalam jumlah sedikit saja, bila lebih minyak sukar bercampur.
Dasar hidrokarbon dipakai terutama untuk efek emolien. Dasar salep tersebut bertahan
pada kulit untuk waktu yang lama dan tidak memungkinkan larinya lembab ke udara dan
sukar dicuci. Kerjanya sebagai bahan penutup saja, tidak mengering atau tidak ada
perubahan dengan berjalannya waktu.
2. Basis Salep Serap, dapat dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama terdiri atas dasar
yangdapat bercampur dengan air membentuk emulsi air dalam minyak dan kelompok
kedua terdiri atas emulsi air dalam minyak yang dapat bercampur dengan sejumlah larutan
air tambahan.

3. Basis Salep yang dapat Dicuci dengan Air, adalah emulsi minyak dalam air antara lain
salep hidrofilik dan lebih tepatnya disebut krim. dasar salep ini mudah dicuci dari kulit
atau dilap basah, sehingga lebih dapat diterima untuk bahan dasar kosmetik.
Basis Salep Larut dalam Air, disebut juga dasar salep tak berlemak dan terdiri dari
konstituen larut air. Sama halnya dengan dasar salep yang dapat dicuci dengan air dasar
salep ini banyak memiliki keuntungan (Ansel, 1990).
Kualitas dasar salep yang baik adalah:
1. Stabil, selama dipakai harus bebas dari inkompatibilitas, tidak terpengaruh oleh suhu
dan kelembapan kamar.
2. Lunak, semua zat yang ada dalam salep harus dalam keadaan halus, dan seluruh produk
harus lunak dan homogen.
3. Mudah dipakai
4. Dasar salep yang cocok
5. Dapat terdistribusi merata (Ansel, 1990).
Petrolatum digunakan terutama pada formulasi sediaan topikal sebagai emollient-basis
ointment; yang sulit diabsorbsi oleh kulit. Petrolatum juga digunakan pada krim dan
formulasi transdermal serta sebagai bahan lubrikan bersama dengan minyak mineral pada
sebuah perusahaan. Petrolatum sebagai bahan tambahan digunakan secara luas pada kosmetik
dan beberapa aplikasi dalam makanan. Konsentrasi petrolatum yang digunakaan

pada

ointment topikal adalah hingga 100% (Rowe, 2006).


Cera flava (wax kuning) digunakan dalam makanan, kosmetik, dan pabrik obat.
Kegunaan utama dalam formulasi bidang farmasi, digunakan pada konsentrasi 5-20%
sebagai agen pengeras dalam ointment dan krim (Rowe, 2006).
PEG 400 berat rata-rata molekulnya 380-420. PEG 4000 berat molekulnya 30004800. Fungsi PEG adalah sebagai basis ointment, plasticizer, pelarut, basis suppositoria,
lubrikan tablet dan kapsul (Rowe, 2006).

Struktur kimia asam salisilat:

(Dirjen POM, 1995).


Asam salisilat bersifat sukar larut dalam air. Apabila asam salisilat diformulasikan sebagai
sediaan topikal, maka pemilihan dasar salep merupakan hal yang sangat penting, yang akan
menentukan efek terapi asam salisilat. Dasar salep yang digunakan dalam suatu sediaan,
dapat mempengaruhi pelepasan bahan aktif dari sediaan salep. Apabila bahan obat tidak dapat
dilepaskan dari pembawanya, maka obat tersebut tidak dapat bekerja efektif. Faktor-faktor
penting yang mempengaruhi penetrasi suatu obat ke dalam kulit di antaranya adalah
konsentrasi obat terlarut, koefisien partisi dan koefisien difusi (Astuti, 2007).
Uji Disolusi Unguenta
Secara matematik, proses disolusi dapat dirumuskan menurut persamaan berikut:
dW D
= S (C sC t )
dt
h
Dimana dW/ dt adalah kecepatan material melarut melewati suatu permukaan S, pada waktu
t, Cs-Ct adalah gradien konsentrasi antara konsentrasi solut dalam lapisan stagnan (ketebalan
h dan segera berada di samping permukaan melarut) di sekitar partikel melarut. Gradien
konsentrasi dianggap sama terhadap perbedaan di antara kelarutan jenuh obat (Cs) dan
konsentrasi salut pada medium sekita (Ct). Parameter D adalah fungsi koefisien difusi dari
molekul solut. Perkiraan kecepatan disolusi maksimal adalah apabila Ct= 0. Akibatnya,
apabila Ct meningkat, kecepatan disolusi menurun. Parameter D juga bergantung pada Cs-Ct
(Agoes, 2008).
Alat uji disolusi menurut Farmakope Indonesia (edisi 4)
Alat uji disolusi keranjang (basket)
Alat uji disolusi dayung (paddle) (Agoes, 2008)
B. Tujuan
Mengenal dan memahami cara pembuatan, jenis basis dan cara evaluasi bentuk
sediaan unguenta
C. Alat dan Bahan

Alat
Alat alat gelas ( gelas beaker, cawan porselin, batang pengaduk, pipet
tetes )
Roller Mill
Alat uji daya sebar unguenta
Waterbath
Alat uji daya lengket unguenta
Alat uji daya proteksi unguenta terhadap air
Alat uji disolusi unguenta
Stopwatch
Bahan
Asam salisilat
Vaselin
Cera flava
PEG 400
PEG 4000
Etanol
D. Formula
Formula
Asam salisilat
Vaselin
Cera flava
PEG 4000
PEG 400

I
0,5
99,5
-

II
0,5
93,9
5,6
-

III
0,5
55,3
44,2

IV
0,5
71,9
27,6

E. Skema Kerja
1. Cara pembuatan:
a) Unguenta formula I dan II
Dalam sebuah cawan porselin vaselin dan cera flava dilelehkan, diaduk
homogen, lalu didinginkan sampai kira-kira suhu 50C.

Dalam mortar hangat asam salisilat dimasukkan, ditambah etanol beberapa


tetes lalu ditambah campuran (1). Diaduk homogen dan spritus dibiarkan
menguap.

Sisa campuran (1) ditambahkan dan diaduk homogen

Penggilasan dilanjutkan dengan menggunakan Roller Mill, diulang 2-3 kali.

Unguenta disimpan dalam wadah untuk percobaan selanjutnya


b) Unguenta formula III dan IV
Dalam sebuah cawan porselin PEG 400 dan PEG 4000 dilelehkan, diaduk
homogen, lalu didinginkan sampai kira-kira suhu 50C.

Dalam mortar hangat asam salisilat dimasukkan, ditambah etanol beberapa


tetes lalu ditambah campuran (1). Diaduk homogen dan spritus dibiarkan
menguap.

Sisa campuran (1) ditambahkan dan diaduk homogen

Penggilasan dilanjutkan dengan menggunakan Roller Mill, diulang 2-3


kali.

Unguenta disimpan dalam wadah untuk percobaan selanjutnya


2. Instruksi preparasi dan evaluasi unguenta:
a) Uji homogenitas unguenta
Unguenta diletakkan secukupnya di atas object glass yang telah ditentukan
luasnya
Object glass yang lain diletakkan di atas unguenta tersebut. Ditekan dengan
beban 1 kg selama 5 menit

Diamati sebaran unguenta, apakah campuran homogen, halus (tidak ada


butiran)

Diulangi sebanyak 3 kali

Dilakukan tes untuk formula unguenta yang lain dengan masing-masing 3 kali
percobaan
b) Uji daya sebar unguenta
0,5 g unguenta ditimbang, kaca bundar diletakkan di tengah

Kaca penutup diletakkkan di atas massa unguenta setelah kaca penutup


tersebut ditimbang. Dibiarkan selama 1 menit

Diameter unguenta yang menyebar diukur (dengan mengambil panjang ratarata diameter dari beberapa sisi)

50 g beban tambahan ditambahkan, didiamkan selama 1 menit dan diulangi


langkah(3)

Dilanjutkan sebanyak 3 kali, dengan menambah tiapa kali dengan beban


tambahan 50 g, didiamkan 1 menit dan diukur diameternya seperti langkah (3)

Gambarkan dalam grafik hubungan antara beban dan luas unguenta yang
menyebar
3. Uji kemampuan proteksi
Sepotong kertas saring (10 x 10 cm) diambil. Dibasahi dengan larutan PP
untuk indikator. Setelah itu kertas dikeringkan

Olesilah keras tersebut pada no.1 dengan unguenta yang akan dicoba (satu
muka) seperti lazimnya orang mempergunakan unguenta

Sementara itu pada kertas saring yang lain, buat suatu areal (2,5 x 2,5 cm)
dengan pembatas paraffin padat yang dilelehkan

Kertas (3) ditempelkan diatas kertas (2)

Areal ditetesi/dibasahi dengan KOH 0,1 N

Diamati timbulnya noda kemerahan pada sebelah kertas yang dibasahi dengan
larutan PP pada waktu 15;30;45;60;180;300 detik

Lakukan percobaan untuk unguenta yang lain


4. Uji viskositas unguenta
Gel dimasukkan ke dalam bejana stainless steel

Dipilih rotor yang sesuai dengan konsistensi gel, rotor dipasang pada alat uji,
diatur sedemikian rupa sehingga tercelup dalam gel

Skala yang ditunjukkan dibaca sesuai dengan rotor yang dipakai


5. Uji disolusi unguenta
Sel disolusi unguenta dan membran selofan porous (sebelum dipergunakan
direndam dulu 24 jam dalam air suling) disiapkan

Unguenta yang akan dicoba dimasukkkan ke dalam sel sampai penuh dengan
menggunakan alat yang disediakan, diratakan lalu ditimbang. Ditutup dengan
membran selofan, dijaga supaya tidak ada gelembung udara antara unguenta
dan membrane. Lalu sel ditutup dengan penutupnya.

Aquadest 37C sebanyak 500 ml (ambil dengan labu takar) dituangkan ke


dalam bejana disolusi. Dijaga agara suhu medium 37C selama percobaan
Sel yang sudah diisi unguenta tersebut dimasukkan ke dalam medium.
Pengadukan dijalankan dan dicatat waktunya
Diambil 5 ml contoh medium pada waktu 5;10;15;25;35; dan 45 menit. Setiap
kali contoh diambil, kembalikan volume medium dengan menambahkan 5 ml
aquadest 37C

Tetapkan kadar salisilat dalam contoh tersebut dengan cara: 5 ml contoh


medium ditambah 1 tetes larutan FeCl3. Tetapkan absorban dengan
spektrofotometer pada panjang gelombang 525 nm. Ditambahkan kembali 5
ml medium ke dalam bejana disolusi segera setelah pengambilan sampel

Hitung berapa salisilat yang terlarut dalam medium pada tiap pengambilan
tersebut

Bandingkan pelepasan obat dari kedua jenis basis unguenta tersebut


F. Data
Uji Homogenitas
Replikasi Formula I
Formula II
I
+
II
+
+
III
+
+
+ : Homogen
- : Tidak homogeny (ada partikel)

Formula III
+
+
+

Formula IV
+
+
+

Uji Daya Sebar


Formula 1
Massa gel = 0.505 g

Tutup = 60.025 g

Beban

Sisi I (cm)

Sisi II (cm)

Sisi III (cm)

Sisi IV (cm)

0g
50 g
100 g
150 g

3
3.3
3.5
3.6

3,5
3.6
3.8
3.8

3,4
3.6
3.7
3.8

3
3.3
3.4
3.5

Rata-rata
(cm)
3.225
3.450
3.600
3.675

Formula 2
Massa gel = 0.500 g

Tutup = 60.201 g
Rata-rata

Beban

Sisi I (cm)

Sisi II (cm)

Sisi III (cm)

Sisi IV (cm)

0g
50 g
100 g
150 g

4.3
4.3
4.4
4.5

4.7
4.7
4.8
5

3.6
3.7
3.9
4

4.2
4.3
4.4
4.4

(cm)
4.200
4.250
4.375
4.475

Sisi IV (cm)

Rata-rata

Formula 3
Massa gel = 0.518 g
Beban

Sisi I (cm)

Tutup = 60.204 g
Sisi II (cm)

Sisi III (cm)

0g
50 g
100 g
150 g

1.6
1.8
1.8
1.9

1.3
1.4
1.4
1.5

1.6
1.6
1.6
1.6

1.7
1.7
1.8
1.8

(cm)
1.550
1.625
1.650
1.700

Formula 4
Massa gel = 0.534 g

Tutup = 60.204 g

Beban

Sisi I (cm)

Sisi II (cm)

Sisi III (cm)

Sisi IV (cm)

0g
50 g
100 g
150 g

2.5
2.5
2.6
2.6

1.8
1.8
1.8
1.8

2.2
2.2
2.2
2.3

2
2
2.1
2.2

Detik

Formula I

Formula II

Formula III

Formula IV

Ke15
30
45
60
180
300

+
+
+
+
+
+

Rata-rata
(cm)
2.125
2.125
2.175
2.225

Uji kemampuan
proteksi

Uji daya lekat unguenta


Replikasi
I
II
III

Formula I
2 detik
4 detik
3 detik

Formula II
4 detik
6 detik
7 detik

Uji Disolusi
Formula IV (PEG 4000 dan PEG 400)
Berat sel disolusi

: 197,60 g

Formula III
> 10 menit
> 10 menit
> 10 menit

Formula IV
> 10 menit
> 10 menit
> 10 menit

Berat sel disolusi + unguenta : 201,85 g


Berat unguenta

: 4,25 g

Kurva Baku
C (mg/ mL)
0,04
0,1
0,3
0,4
0,5
a = 0,4464

Abs
0,455
0,570
0,928
0,851
1,037
y = 0,4464 + 1,2009x

b = 1,2009
r = 0,9532

Absorbansi dan Konsentrasi Formula 4


Menit
5
10
15
25
35
45

Formula 4
Abs
C (mg/mL)
0,134
-0,2601
0,113
-0,2776
0,093
-0,2943
0,178
-0,2235
0,137
-0,2576
0,076
-0,3084

Perhitungan Konsentrasi Formula 2 :


a. 5 menit
y = 0,4464 + 1,2009x
0,134 = 0,4464 + 1,2009x x = -0,2601 mg/ mL 0
b. 10 menit
y = 0,4464 + 1,2009x
0,113 = 0,4464 + 1,2009x
c. 15 menit
y = 0,4464 + 1,2009x
0,093 = 0,4464 + 1,2009x
d. 25 menit
y = 0,4464 + 1,2009x
0,178 = 0,4464 + 1,2009x
e. 35 menit
y = 0,4464 + 1,2009x
0,137 = 0,4464 + 1,2009x
f. 45 menit
y = 0,4464 + 1,2009x
0,076 = 0,4464 + 1,2009x

x = -0,2776 mg/ mL 0
x = -0,2943 mg/ mL 0
x = -0,2235 mg/ mL 0
x = -0,2576 mg/ mL 0
x = -0,3084 mg/ mL 0

Kurva Baku Konsentrasi vs Absorbani


1.2
1

f(x) = 1.2x + 0.45


R = 0.91

0.8

Axbsorbansi

0.6
0.4
0.2
0
0

0.1

0.2

0.3

0.4

0.5

0.6

Konsentrasi

Kurva Waktu vs Absorbansi Formula IV


0.2
0.18
0.15

Absorbansi

0.14

0.13
0.11

0.1

0.09

0.08

0.05
0
0

10

15

20

25

30

35

40

45

50

Waktu

G. Pembahasan
Tujuan praktikum formulasi sediaan unguenta ini adalah mengenal dan memahami
cara pembuatan, jenis-jenis basis dan cara evaluasi bentuk sediaan unguenta. Unguenta
adalah sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar.

Unguenta dapat dikelompokkan berdasarkan basisnya, yaitu:


Basis hidrokarbon, yaitu suatu basis yang bersifat bebas air sehingga sulit dicuci, dan
biasanya digunakan sebagai emollient.

Basis absorpsi, yaitu suatu basis yang tidak mudah dicuci dengan air dan sering digunakan

sebagai emollient.
Basis yang mudah dicuci dengan air (water removable), yaitu suatu basis yang berupa

emulsi tipe O/W sehingga dapat dicuci dengan air.


Basis larut air (water soluble), yaitu suatu basis yang hanya terdiri dari komponen yang
larut air. Basis ini akan melunak dengan adanya penambahan air.
Praktikum ini menggunakan 4 jenis formula unguenta serta menggunakan asam

salisilat pada semua formulanya sebagai zat aktif. Perbedaan pada 4 macam formula ini
terdapat pada komposisi dan basisnya. Pada formula I hanya menggunakan basis vaseline,
formula II menggunakan basis vaseline dan cera flava, sedangkan pada formula III dan IV
menggunakan basis PEG 400 dan PEG 4000 dengan perbandingan komposisi PEG 400 dan
PEG 4000 yang berbeda. Basis vaseline merupakan basis yang masuk dalam penggolongan
basis hidrokarbon sedangkan basis PEG masuk dalam penggolongan basis larut air (water
soluble). Asam salisilat sebagai zat yang digunakan pada semua tiap formula berfungsi
sebagai keratolikum dan juga antifungi.
Basis salep jenis hidrokarbon dapat melembabkan kulit karena mencegah hilangnya
air dari lapisan kulit. Dikarenakan air tidak menguap dari kulit, maka lapisan kulit terbasahi,
sehingga kulit terasa lebih lembut. Sedangkan, basis larut air memberikan banyak keuntungan
seperti dapat dicuci dengan air dan tidak mengandung bahan yang tak larut dalam air,
seperti polietilenglikol.
Peraturan yang mendasari pembuatan sediaan unguenta ini adalah peraturan no 4 yaitu
salep-salep yang dibuat dengan cara mencairkan, campurannya harus digerus sampai dingin.
Di sini digunakan basis-basis yang dilelehkan terlebih dahulu sebelum dicampurkan dengan
asam salisilat. Pembuatan unguenta pada formula I adalah dengan cara peleburan. Dimana
vaseline yang merupakan basis dari unguenta dilelehkan hingga menjadi cairan. Setelah itu,
vaseline didinginkan hingga suhu sekitar 50%. Hal ini perlu dilakukan agar zat aktif dapat
terdispersi homogen dalam basis. Asam salisilat harus ditambahkan terlebih dahulu dengan
etanol untuk memperkecil ukuran partikel asam salisilat yang berupa kristal-kristal jarum
sehingga akan memperbesar daya larut dari asam salisilat. Digunakan etanol karena bersifat
mudah menguap sehingga tidak mempengaruhi formula. Penambahan etanol hanya beberapa
tetes saja, hingga mampu melarutkan asam salisilat. Percampuran antara basis dengan asam
salisilat dilakukan di mortir hangat supaya tidak terjadi shock termal. Apabila basis dituang
pada mortir yang belum dihangatkan maka basis dapat langsung memadat sehingga tidak
mampu bercampur dengan asam salisilat. Walaupun basis dan zat aktif telah bercampur

homogen tapi tetap harus dilakukan pengadukan hingga dingin, karena apabila hanya
didiamkan hingga dingin campuran dapat memisah kembali.
Pembuatan unguenta pada formula II, vaseline dan cera flava dilelehkan pada cawan
porselen yang sama, sehingga cera flava tidak bisa meleleh seluruhnya. Akibatnya unguenta
yang dihasilkan masih terdapat gumpalan dari cera flava yang tidak leleh. Selanjutnya
dilakukan sama seperti pada formula I. Pembuatan unguenta pada formula III dan IV adalah
dengan melelehkan PEG 4000 yang berbentuk padatan kemudian setelah meleleh
ditambahkan dengan PEG 400 yang berbentuk cairan. Dan dilakukan hal yang sama seperti
pada formula I dan II. Setelah semua basisnya sudah dilelehkan kemudian mencampurkannya
di mortir hangat yang terdapat asam salisilat yang sudah di gerus terlebih dahulu dengan
menggunakan stamper dan tambahan etanol untuk melarutkan dan memperkecil ukuran dari
asam salisilat.
Semua formula yang telah tercampur secara homogen dan dingin tersebut dilakukan
penggilasan dengan Roller Miller. Tujuannya adalah untuk lebih menghomogenkan campuran
serta memperkecil ukuran partikel sehingga luas permukaan kontak partikel dengan kulit
akan semakin besar sehingga efek yang ditimbulkan akan semakin besar dan untuk mencegah
iritasi pada kulit.
Pengujian unguenta sebaiknya dilakukan setelah 48 jam dari waktu pembuatan
unguenta. Hal ini dilakukan untuk memberi jeda atau waktu kepada formula dari unguenta
agar stabil secara fisik dan suhunya. Diharapkan setelah waktu 48 jam ini, seluruh energi
kinetik yang terjadi selama pembuatan unguenta sudah terbebas seluruhnya dan pada saat
pengujian terlihat profil sediaan yang sebenarnya. Pengujian yang dilakukan pada sediaan
unguenta asam salisilat meliputi:
a. Uji Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan untuk memastikan apakah bahan-bahan dalam pembuatan
sediaan unguenta telah tercampur merata atau belum. Uji homogenitas dilakukan dengan
cara meletakkan sediaan secukupnya pada object glass letakkan object glass lainnya diatas
object glass pertama dan ditekan. Selanjutnya di atas kedua object glass tersebut diberi
bebas seberat 1 kg dan didiamkan selama 5 menit dan setelah diamati apakah terdapat
butiran-butiran partikel bahan yang masih tidak merata.
Dari hasil percobaan, didapatkan hasil formula I dalam 3 kali replikasi terdapat 1 kali
replikasi yang menunjukkan bahan-bahan belum tercampur homogen. Sedangkan pada
formula II, III, dan IV semua hasil replikasi menunjukkan bahwa bahan-bahan telah

tercampur secara homogen. Ketidakhomogenan pada formula I ini bisa dikarenakan tidak
halusnya saat penggerusan bahan-bahan di dalam mortir
b. Uji Daya Sebar Unguenta
Tujuan dari uji daya sebar unguenta adalah untuk mengetahui kemampuan unguenta
untuk menyebar pada permukaan kulit. Faktor yang mempengaruhi penyebaran unguenta
adalah konsistensi dari sediaan unguenta. Ketika konsistensi unguenta semakin lunak,
maka daya sebar akan lebih luas dan absorbsi akan lebih mudah. Sediaan harus bersifat
mudah diabsorbsi supaya bahan obat dapat masuk ke dalam kulit dan menimbulkan efek,
apabila sulit diabsorbsi maka efek yang ditimbulkan oleh sediaan akan membutuhkan
waktu yang lama atau juga tidak dapat menimbulkan efek sama sekali.
Pengujian daya sebar dilakukan dengan meletakkan sediaan ditengah-tengah kaca
bundar dengan kertas milimeter block yang kemudian ditutup dengan kaca bundar lain
yang telah ditimbang sebelumnya dan kemudian diberi beban diatasnya.Pada uji ini
digunakan kaca bundar yang diumpakan sebagai kulit dan kaca bundar penutup serta
timbangan diumpakan sebagai kekuatan jari tangan ketika mengoleskan. Digunakan beban
timbangan yang berbeda-beda karena kekuatan jari tangan ketika mengoleskan juga
berbeda-beda, sehingga diumpamakan dengan beban yang berbeda-beda pula. Dilanjutkan
dengan pendiaman selama 1 menit dengan asumsi penyebaran sudah optimal dalam waktu
1 menit.
Secara teoritis urutan penyebarannya adalah formula I, formula II, formula III, dan
terakhir adalah formula IV. Hasil urutan penyebaran dengan diameter yang paling besar
(paling baik) yang didapat praktikan yaitu formula II, formula I, formula IV, dan terakhir
adalah formula III. Sehingga hasil yang didapat praktikan tidak sesuai dengan penyebaran
paling baik secara teoritis. Secara teori, Formula I memiliki penyebaran paling baik karena
basis formula I adalah basis hidrokarbon yang memiliki konsistensi yang lunak sehingga
daya penyebarannya luas dan lebih mudah pada kulit. Formula II daya menyebarnya lebih
kecil karena penambahan cera flava dimana sifatnya suka air sehingga dapat menyerap air
yang akan meningkatkan konsistensinya, lebih kental, dan ikatan obat dengan basis akan
lebih kuat maka bahan obat akan sulit terlepas dan memiliki absorpsi dan penyebaran yang
kurang baik. Penyebaran formula I dan II lebih baik dibandingkan dengan formula III dan
IV karena konsistensi formula I dan II lebih lunak dibandingkan konsistensi formula III
dan IV, selain itu formula I dan II merupakan basis hidrokarbon, sedangkan formula III
dan IV adalah basis larut air yang lebih mampu menarik air sehingga konsentrasinya akan
meningkat pula. Secara teori, formula IV konsistensinya lebih padat dan keras

dibandingkan dengan formula III karena PEG 4000 yang berbentuk padatan lebih banyak.
Ketidaksesuaian hasil yang kami dapatkan dengan teori dapat disebabkan adanya
kesalahan dalam penimbangan sehingga mempengaruhi formula atau ketidaktepatan
dalam pengadukan.
Daya sebar unguenta dipengaruhi oleh: banyaknya pemakaian, temperatur badan,
basis yang digunakan, konsistensi dan ukuran partikel. Unguenta yang memiliki karakter
rheogram pseudoplastis maka viskositas akan berbanding terbalik dengan daya sebarnya.
Maka dengan viskositas yang tinggi akan didapatkan daya sebar yang sempit atau kecil.
Lama pengadukan juga berpengaruh pada penyebaran sediaan dalam waktu yang
diinginkan atau tepat.
c. Uji Daya Proteksi
Pengujian Daya Proteksi salep dilakukan untuk mengetahui kemampuansalep untuk
melindungi kulit dari pengaruh luar seperti asam, basa, debu, polusidan sinar matahari.
Pengujian daya proteksi salep dilakukan dengan KOH 0, 1 N. Pada pengujian daya
proteksi menggunakan KOH 0, 1 N yang bersifat basa kuat dimana KOH 0, 1 N mewakili
zat yang dapat mempengaruhi efektivitas kerja salep terhadap kulit. Senyawa KOH 0, 1 N
akan bereaksi dengan phenoftalein yang akan membentuk warna merah muda, yang berarti
salep tidak mampu memberikan proteksi terhadap pengaruh luar. Sediaan salep yang baik
seharusnya mampu memberikan proteksi terhadap semua pengaruh luar yang ditandai
dengan tidak munculnya noda merah pada kertas saring yang ditetesi dengan KOH 0, 1 N
dapat mempengaruhi efektifitas salep tersebut terhadap kulit (Anonim, 2011). Perubahan
warna ini akan diamati pada detik ke 15; 30; 45; 60; 180 dan detik ke 300.
Dari hasil percobaan yang dilakukan, terlihat bahwa salep dengan formula III dan IV
memiliki daya proteksi yang lebih rendah dibandingkan dengan formula I dan II. Hal ini
terlihat dari terbentuknya warna merah muda yang sangat pekat yang mulai terbentuk pada
detik ke-15. Hasil yang didapat ini sesuai dengan teori, dimana sediaan unguenta basis
PEG memiliki kemampuan proteksi yang rendah dibandingkan dengan vaseline karena
PEG merupakan basis larut air yang akan mudah hilang apabila dicuci dengan air. Formula
I meskipun juga menunjukkan adanya perubahan warna merah muda, namun daya
proteksinya bisa dikatakan lebih baik karena warna merah muda yang terbentuk hanya
samar-samar (tidak pekat) dan hanya pada bagian kecil dari kertas saring yang ditetesi
KOH. Dari keempat formula ini, formula II adalah formula yang daya proteksinya paling
baik karena tidak terbentuk warna merah muda pada bagian yang ditetesi KOH. Formula I

dan II memiliki daya proteksi yang lebih baik karena formula ini menggunakan Vaseline
sebagai basisnya sehingga memiliki kemampuan proteksi yang tinggi karena termasuk
dalam basis hidrokarbon.
d. Uji Daya Lekat Unguenta
Tujuan uji daya lekat pada salep adalah untuk melihat kemampuan salep melekat pada
kulit, dimana hal ini dapat mempengaruhi kemampuan penetrasi salep ke dalam kulit
untuk menimbulkan efek. Jika salep melekat dengan kuat pada tempat aksi, maka absorpsi
obat akan lebih baik dan efisien pada tempat aksi. Pada percobaan ini pengujian dilakukan
dengan cara mengoleskan sampel salep pada gelas objek lalu ditutup dengan gelas objek
lainnya yang diposisikan lebih memanjang dibanding gelas objek sebelumnya. Setelah itu
gabungan gelas objek tersebut dijepit oleh penjepit yang terdapat tali di masing- masing
sisinya. Salah satu tali yang berada pada penjepit tersebut kemudian diberi beban seberat
80 g dan kemudian beban dilepaskan dari ketinggian, lalu diukur waktu yang diperlukan
untuk membuat kedua gelas objek terlepas.
Menurut teori, syarat untuk daya lekat pada sediaan topikal adalah tidak kurang dari 4
detik (Ulaen, dkk., 2012). Dari data hasil percobaan, seluruh ketiga formula kecuali
formula I telah sesuai dengan syarat tersebut. Data hasil percobaan juga dapat dilihat
bahwa formula yang memiliki daya lekat terbaik adalah formula III dan IV, formula II,
dan yang terakhir adalah formula I. Formula III dan IV memiliki daya lekat yang paling
baik, karena kedua obyek gelas tidak terpisah setelah waktu yang ditentukan yaitu selama
10 menit. Waktu ditentukan 10 menit dikarenakan kurangnya waktu pengujian sehingga
apabila sudah lebih dari waktu tersebut pengujian dihentikan. Hasil yang diperoleh ini
sudah sesuai dengan teori, dimana Formula III dan IV memiliki daya lekat yang baik
dibandingkan formula I dan II karena konsistensi pada formula III dan IV yang
menggunakan PEG 400 dan PEG 4000 sebagai basis lebih keras dibandingkan dengan
formula I dan II. Sedangkan untuk daya lekat formula II lebih baik dibandingkan dengan
formula I karena adanya penambahan cara flava yang meningkatkan konsistensi sediaan
sehingga konsistensi formula II lebih keras dibandingkan dengan formula I. Konsistensi
formula I sangat lunak karena hanya menggunakan Vaseline sebagai basis sehingga
kemampuan daya lekatnya kecil.
Uji Disolusi
Tujuannya untuk mengetahui kecepatan pelepasan obat dan memahami tentang profil
disolusi dari salep asam salisilat yang berbasis lemak maupun yang berbasis larut dalam
air. Mengetahui kecepatan pelepasan obat dari basis salepnya penting diketahui karena

dengan mengetahui pelepasan obat, kita dapat mengetahui kapan obat itu memberikan
efek farmakologis ke target aksi. Kecepatan pelepasan obat dari basis salep
menggambarkan kecepatan pelarutan obat pada medium. Pada praktium ini digunakan
metode difusi dengan menggunakan membran, yaitu membran porous yang dianggap
sebagai membran tubuh dengan analogi saat unguenta digunakan pada tubuh (misalnya
kulit). Pada praktikum ini kami hanya menguji unguenta formula IV karena kurangnya
waktu pengujian.
Tujuan membran porous direndam selama 24 jam dalam air suling adalah untuk
menjaga pori - pori membran tidak rusak atau kering. Membran porous dikondisikan
seperti keadaan kulit kita yang harus memenuhi persyaratan tertentu, misalnya tingkat
kelembaban pada kulit harus mencapai 10%. Karena membran yang digunakan memiliki
sifat pasif permeabel maka salep dapat menembus membran dimana konsentrasi bagian
dalam dan konsentrasi medium adalah sama. Membran porous diasumsikan sebagai bagian
terluar kulit manusia sekaligus membran lipid dimana bahan obat dapat berdifusi secara
pasif menembus membran porous menuju medium.
Suhu percobaan dibuat 37C untuk mensimulasikan suhu tubuh normal pada manusia.
Medium disolusi yang digunakan pada percobaan adalah air, air dipilih karena sebagian
besar tubuh manusia tersusun dari air. Sel disolusinya dicek, jangan sampai terdapat
gelembung udara diantara salep dengan membran porous karena adanya gelembung udara
tersebut dapat menghalangi difusi zat aktif.
Pengadukan dilakukan dengan tujuan menganalogikan terjadinya sirkulasi dari cairan
tubuh sehingga kadar asam salisilat dapat merata dan menciptakan kondisi zink. Kondisi
zink adalah suatu kondisi ketika konsentrasi obat dalam volume distribusi tidak
melampaui 10% dari kondisi jenuh. Kemudian dilakukan pengambilan pada 5 menit, 10
menit, 15 menit, 25 menit, 35 menit, dan 45 menit masing-masing sebanyak 5 ml. Pada uji
disolusi ini hanya hingga 45 menit dengan asumsi pada menit ke-45 zat aktif pada sediaan
unguenta telah diabsorbsi secara maksimal oleh kulit.
Volume medium harus dikembalikan dengan menambahkan 5 mL aquadest agar
volume medium tetap sehingga kondisi zink tercapai. Kemudian dilakukan pengambilan
sampel, pengambilan sampel ini dilakukan di daerah dekat dengan proses pengadukan
(ada bagian alat yang berputar). Dalam pengambilan sampel diusahakan selalu pada
tempat yang sama, hal ini dikarenakan agar kadar obat yang diambil diasumsikan tidak
berbeda dari menit sebelumnya.
10 menit merupakan operating time dimana diharapkan reaksi antara asam salisilat
dan FeCl3 telah sempurna sehingga senyawa kompleks ungu yang dihasilkan akan optimal

dan menghasilkan absorbansi yang valid. Pengukuran dilakukan menggunakan


spektrofotometri visibel karena larutan yang akan dianalisis merupakan larutan yang
berwarna ungu, dengan panjang gelombang 525 nm. Aquadest berfungsi untuk mencuci
dan sebagai faktor pengkoreksi (larutan blanko) yang ditambahkan dengan FeCl3. Dari
persamaan kurva baku yang sudah tersedia, maka selanjutnya menghitung kadar asam
salisilat pada sampel tersebut. Kami mendapatkan nilai absorbansi yang sangat kecil.
Kemudian nilai absorbansi yang didapat digunakan untuk mencari konsentrasi.
Konsentrasi yang didapat negatif

(-).

Reaksi pembentukan kompleks ungu :

Hasil yang didapatkan pada percobaan didapatkan nilai konsentrasi asam salisilat pada
formula II pada waktu 5 menit sampai waktu 45 menit yakni negatif (-) dan dianggap 0
mg/mL. Maka, kadar asam salisilat yang terdapat dalam unguenta tidak dapat diketahui.
Hal ini mungkin disebabkan karena adanya gelembung udara atau ketidakhomogenan pada
formula IV, sehingga absorbansi sampel terbaca sangat kecil.
Faktor faktor yang mempengaruhi pelepasan obat dari basis ke medium adalah :
1. Ukuran partikel bahan obat yang semakin kecil ukuran partikelnya maka pelepasan obat
akan semakin mudah.
2. Medium pelepasan, jika obat lebih mudah larut dalam medium dari basis maka dengan
mudah obat akan lepas dari basis.
3. Viskositas bahan obat yang semakin besar viskositasnya maka obat akan semakin sukar
untuk dilepaskan.
4. Konsentrasi obat semakin besar dalam suatu sediaan maka akan semakin mudah proses
pelepasannya dari basis.

5. Koefisien obat berdifusi kedalam basis semakin kecil maka pelepasan obat semakin
sukar.

H. Kesimpulan
Unguenta yang dibuat pada praktikum merupakan unguenta berbasis hidrokarbon dan
unguenta berbasis larut air. Hasil evaluasi yang didapatkan yaitu sediaan yang
memiliki daya penyebaran yang paling baik secara berurutan adalah formula II,
formula I, formula IV, dan terakhir adalah formula III. Sedangkan sediaan yang
memiliki daya lekat yang baik secara berurutan adalah formula III dan IV, II, dan I..
Sediaan yang memiliki homogenitas yang baik adalah formula II, III, IV, dan tidak
homogenitas yang kurang baik pada formula I. Dari keempat formula yang memiliki
daya proteksi paling baik ke yang paling buruk berturut-turut adalah formula II, I, III

dan IV.
Pada uji disolusi unguenta mengenai pelepasan obat, konsentrasi asam salisilat pada
basis vaselin menit ke-5 hingga menit ke-45 adalah 0,134; 0,113; 0,093; 0,178; 0,137;
0,076 mg/ mL.

Daftar Pustaka
Agoes, G., 2008, Pengembangan Sediaan Farmasi, Penerbit ITB, Bandung, pp. 376,
377, 379.
Agoes, G., 2008, Sistem Penghantaran Obat Pelepasan Terkendali, Penerbit ITB,
Bandung, pp. 258, 259.
Anief, M., 2008, Ilmu Meracik Obat Teori dan Praktik, Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta, pp. 143.
Anonim, 2011, Fenolftalein, ml.scribd.com/doc/68737153/Fenolftalein, diakses 13
Oktober 2016 pukul 19.50 WIB
Ansel , C.H.,1990, Pharmaceutical Dosage Forms and Drug Delivery System, 5th
edition, Lea and Febiger, Pensylvania, USA, pp. 241-243.
Astuti, I. Y., 2007, Pengaruh Konsentrasi adeps Lanae dalam Dasar Salep Cold Cream
Terhadap Pelepasan Asam Salisilat, Pharmacy, 5 (1), 23.
Depkes RI, 1995, Farmakope Indonesia, jilid IV, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, Jakarta, hal. 456.
Rowe, R, C.,
2006, Handbook of Pharmaceutical Excipients, 5th ed, Royal
Pharmaceutical Society of Great Britain, London, pp. 509, 545-547, 819.

Ulaen, dkk., 2012, Pembuatan Salep Anti Jerawat dari Ekstrak Rimpang Temulawak
(Curcuma xanthorrhiza Roxb.), Jurnal Ilmiah Farmasi 3(2): 45-49.
Syamsuni, H., 2005, Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi, Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta, pp. 92.