Anda di halaman 1dari 2

Obat Batuk yang Ditarik BPOM karena Mengandung Desktrometorfan

Ditulis di TheAsianparent

Awal bulan ini, BPOM mengeluarkan berita bahwa ada sebagian dari obat batuk
dipasaran yang akan ditarik kembali ijinnya. Alasannya karena obat-obat batuk tersebut
mengandung Desktrometorfan jenis tunggal yang akhir-akhir ini banyak disalahgunakan sebagai
pengganti obat-obatan Halusinogenik seperti putaw, shabu, ekstasi dan ganja.
Efektivitas Desktrometorfan dalam Obat Batuk
Semula Desktrometorfan merupakan obat meringankan batuk yang timbul karena
gangguan ringan di tenggorokan dan iritasi bronkhitis seperti batuk yang menyertai flu. Di dalam
obat batuk, Desktrometorfan berada dalam bentuk tunggal atau merupakan kombinasi dari obat
yang lain.
Sayangnya, hasil penelitian terhadap obat ini pada tahun 2004 membuktikan bahwa zat
ini tidak lebih efektif dibanding Placebo untuk meredakan sakit pada anak-anak.
Selain itu, dalam bentuk tunggal, zat ini ternyata juga tidak begitu banyak manfaatnya.
Untuk itu, sejak beberapa tahun yang lalu, zat ini sudah jarang digunakan dalam bentuk tunggal.
Pada dosis yang sedikit lebih tinggi, Desktrometorfan dapat menimbulkan efek yang
menenangkan, serta halusinasi pandangan dan pendengaran. Khasiat inilah yang kemudian
banyak disalahgunakan oleh remaja sebagai alternatif dari obat-obatan seperti putaw, shabu dan
ganja.
Alasan Penarikan Obat Batuk dengan Desktrometorfan Tunggal
Mengingat bahaya yang mungkin timbul di masyarakat, maka sesuai dengan Keputusan
Kepala Badan POM No. HK.04.1.35.07.13.3855 tanggal 24 Juli 2013, obat batuk yang
mengandung Dekstrometorfan sediaan tunggal akan ditarik peredarannya dari pasaran.
Adapun batas waktu yang diberikan untuk menarik produk dengan Desktrometorfan
tunggal adalah 30 Juni 2014.

Analisa
Dekstrometorfan (DXM) adalah zat aktif dalam bentuk serbuk berwarna putih, yang
berkhasiat sebagai antitusif atau penekan batuk. Obat batuk dekstrometorfan sering
disalahgunakan karena dapat menyebabkan euforia dan rasa tenang (seperti halnya psikotropika)
ketika digunakan dalam dosis besar. Selain itu, obat ini juga dapat dibeli secara bebas sehingga
dianggap obat yang aman.
Ada beberapa alasan mengapa dekstrometorfan banyak disalahgunakan, diantaranya
adalah :
- Harga yang relatif murah. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
No. 092/Menkes/ SK/II/2012 tentang Harga Eceran Tertinggi Obat Generik Tahun
2012, harga eceran tertinggi Desktrometorfan HBr tablet 15 mg dengan kemasan
kotak isi 10 x 10 tablet adalah Rp. 14.850,- . Dekstrometorfan HBr tablet 15 mg
dengan kemasan botol isi 1000 tablet, harga eceran tertingginya adalah Rp. 53.406,-.
Jadi rata-rata harga eceran tertinggi untuk 1 tablet Dekstrometorfan HBr adalah Rp.
50,- hingga Rp. 150,- Dekstrometorfan mudah didapat. Dekstrometorfan merupakan yang dapat diperoleh
secara bebas baik di apotek maupun di warung-warung. Dekstrometorfan yang
disalahgunakan umumnya dalam bentuk sediaan tablet, karena dalam bentuk tablet
dapat diperoleh dosis yang lebih tinggi dibandingkan dengan bentuk sediaan lain
seperti sirup.
- Persepsi masyarakat bahwa obat bebas itu aman, karena dekstrometorfan dapat dibeli
secara bebas sebagai obat batuk, sehingga banyak orang beranggapan bahwa
penyalahgunaan dekstrometorfan relatif lebih aman dibandingkan dengan obat
golongan narkotika atau psikotropika yang regulasinya lebih ketat.
Pada kasus penyalahgunaan, dosis yang digunakan biasanya jauh lebih besar daripada
dosis lazim. Pada dosis 5-10 kali lebih besar dari dosis yang lazim, efek samping yang timbul
menyerupai efek samping yang diamati pada penggunaan ketamin atau PCP, dan efek ini
meliputi: kebingungan, keadaan seperti mimpi, rasa kehilangan identitas pribadi, gangguan
bicara dan pergerakan, disorientasi, keadaan pingsan, mengantuk (Klein et al., 1989).
Dekstrometorfan banyak dijual di berbagai tempat, namun dosis penggunaannya memang
telah dibatasi dan tidak tepat jika digunakan melebihi dosis yang dianjurkan, dan mengingat
statusnya pernah sebagai Obat Keras, maka tetap perlu kehati-hatian dan tidak serta merta
menganggapnya aman.
DAFTAR PUSTAKA
SK Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 092/MENKES/SK/II/2012 tentang Harga
Eceran Tertinggi Obat Generik Tahun 2012
Frank Romanelli and Kelly M. Smith, Review Article: Dextromethorphan abuse: Clinical effects
and Management.