Anda di halaman 1dari 8

KASUS

Profil Pasien
Nama Pasien
Umur
Keluhan
Riwayat penyakit
Riwayat obat
Riwayat alergi
Riwayat lifestyle
Diagnosa

: An. R
: 18 bulan
: Mencret sejak jumat siang 1x/hari, ampas (+), air (+), lendir (-), darah
(-), muntah tiap kali minum obat, minum masih mau, panas (+), diberi
obat langsung turun kemudian langsung naik lagi
: tidak ada
: tidak ada
: tidak ada
: tidak ada
: Diare akut + Vomiting profus

Parameter Penyakit
TTV
02/12/08
124
30
37,3
+
++

TD
N
RR
Suhu
Diare
Muntah

Tanggal
03/12/08
125
32
37
+
++

04/12/08
124
31
37
+
+

Laboratorium
Pemeriksaan

Normal

WBC
Hb
Hct
Plt

3,5-10,0

Satuan

Tanggal
02/12/08
16,1 x 103
11,2
31,0
560 x 103

PATOFISIOLOGI
Diare atau mencret didefinisikan sebagai buang air besar dengan feses tidak berbentuk
(unformed stools) atau cair dengan frekuensi lebih dari 3 kali dalam 24 jam. Bila diare
berlangsung kurang dari 2 minggu, di-sebut sebagai diare akut. Diare akut karena infeksi dapat
disertai muntah-muntah dan/atau demam, tenesmus, hematochezia, nyeri perut atau kejang perut
(Amin, 2015). Diare merefleksikan peningkatan kandungan air dalam feses akibat gangguan
absorpsi dan atau sekresi aktif air usus. Secara patofisiologi, diare akut dapat dibagi menjadi
diare inflamasi dan noninflamasi (tabel 2).

SUBJECTIVE
Nama Pasien
Umur
Keluhan
Riwayat penyakit
Riwayat obat
Riwayat alergi
Riwayat lifestyle
Diagnosa

: An. R
: 18 bulan
: Mencret sejak jumat siang 1x/hari, ampas (+), air (+), lendir (-), darah
(-), muntah tiap kali minum obat, minum masih mau, panas (+), diberi
obat langsung turun kemudian langsung naik lagi
: tidak ada
: tidak ada
: tidak ada
: tidak ada
: Diare akut + Vomiting profus

OBJECTIVE
Parameter Penyakit
TTV
TD
N
RR
Suhu

02/12/08
124
30
37,3

Tanggal
03/12/08
125
32
37

04/12/08
124
31
37

Diare
Muntah

+
++

+
++

+
+

Laboratorium
Pemeriksaan

Normal

WBC
Hb
Hct
Plt

3,5-10,0

Satuan

Tanggal
02/12/08
16,1 x 103
11,2
31,0
560 x 103

ASSESMENT
Diagnosa Pasien

: Diare Akut + Vomiting profus

Problem medik pasien

Assement Problem Medik pada Pasien


Tg
l
2

Subyektif

Obyektif

Mencret 1x / hari sejak jumat siang,


demam,
Muntah tiap kali minum obat

Peningkatan WBC dan Diare Akut


Platelet
Muntah 2x dalam
Vomiting profus
sehari
Muntah 2x
Vomiting profus

Muntah 1x

PLAN
-

Memberikan terapi rehidrasi


Mengatasi diare
Monitoring vomiting profus

Terapi Farmakologis
Terapi farmakologis pasien menggunakan prinsip 4T 1W
1. Tepat indikasi
Assement

Assement

Vomiting profus

Tg
l
2

Subyektif

Obyektif

Mencret 1x / hari sejak jumat siang,


demam,
Muntah tiap kali minum obat

Peningkatan WBC dan Diare Akut


Platelet
Muntah 2x dalam
Vomiting profus
sehari
Muntah 2x
Vomiting profus

Muntah 1x

Assement

Vomiting profus

Berdasarkan assement tersebut diketahui bahwa pasien terindikasi diare akut. Sehingga
perlu diberikan terapi untuk indikasi diare akut. Pilihan terapi yang digunakan untuk
indikasi diare antara lain antimotilitas, adsorbents, antisekretori, antibiotic, enzim, dan
mikroflora intestinal. Loperamide merupakan obat yang sering digunakan untuk
mengatasi diare akut maupun diare kronis (Dipiro, 2007).

2. Tepat Obat
Algoritma terapi untuk pasien diare mengikuti saran terapi berikut (Dipiro,2007) :

Terapi diare pada pasien menurut algoritma terapi tersebut, pasien mengalami
gejala diare akut, diare < 3 hari, selanjutnya dilakukan pemeriksaan apakah disertai
dengan demam atau tidak. Suhu badan panas tetapi belum mencapai kriteria demam.

Apabila masuk dalam kategori demam maka dilakukan pemeriksaan kandungan feses.
Keluhan pasien mencantumkan bahwa feses yang dikeluarkan terdiri dari ampas dan air
tanpa disertai darah dan lendir. Hal tersebut menunjukkan hasil yang negatif terhadap
demam, darah dan lendir, sehingga alur terapi yang digunakan adalah terapi simtomatik.
Terapi simtomatik yaitu dengan urutan memberikan pengganti elektrolit tubuh,
pemberian antidiare dan melakukan diet (Dipiro, 2007).
Pemberian penggantian elektrolit tubuh pada pasien ini dengan pemberian cairan
intravena Ringer Lactat atau NaCl 0,9 % (Kemenkes, 2011). Pemilihan cairan intravena
dilakukan karena pasien mengalami vomiting profus, sehingga apabila diberikan ORS
(Oral Rehidrasi Solution) menjadi kurang efektif. Vomiting profus yang terjadi karena
pasien mengalami hipermotilitas pada usus sehingga digunakan obat antimotilitas seperti
Loperamide dan Difenoksilat, akan tetapi karena pasien tersebut merupakan pasien
pediatric berusia 18 bulan penggunaan kedua obat tersebut tidak dianjurkan. Hal tersebut
karena obat jenis ini dapat menghambat pergerakan usus sehingga racun (yang
dikeluarkan oleh kuman penyebab diare) yang seharusnya dikeluarkan dari tubuh menjadi
tertahan sehingga dapat membahayakan tubuh (Anonim, 2013). Oleh sebab itu, dilakukan
penggantian obat antimotilitas dengan menggunakan Zinc yang terbukti lebih aman dan
baik untuk pengobatan diare, serta untuk mempercepat penyembuhan (Kemenkes, 2011).
3. Tepat pasien
Pasien berumur 18 bulan tersebut mengalami diare akut dengan vomiting profus. Pasien
tersebut tidak memiliki riwayat penyakit lain. Penggunaan obat diare seperti loperamide
dan diphenoxylate tidak dianjurkan untuk bayi dan anak-anak, karena obat jenis ini dapat
menghambat pergerakan usus sehingga racun yang dikeluarkan oleh kuman penyebab
diare yang seharusnya dikeluarkan dari tubuh menjadi tertahan sehingga dapat
membahayakan tubuh ( Anonim, 2013).
Terapi cairan yang diberikan pada pasien diare dengan dehidrasi ringan atau sedang
adalah pemberian oralit namun pasien muntah setiap kali diberi minum, sehingga dipilih
rehidrasi dengan menggunakan ringer laktat (cairan yang memiliki komposisi elektrolit
mirip dengan plasma) (dewantari, 2015).
Selain mengatasi diare pasien juga diberikan suplementasi zinc. Zinc sulfat diberikan
pada usia lebih dari 6 bulan sebanyak 20 mg/hari. Zinc merupakan salah satu zat gizi
mikro yang penting untuk kesehatan dan pertumbuhan anak. Zinc meningkatkan sistem
kekebalan tubuh sehingga mencegah resiko terulangnya diare selama 2-3 bulan setelah
anak sembuh dari diare. Penggunaan zinc selama diare akut diperkirakan akan
mempengaruhi fungsi imun atau fungsi dan struktur intestinal serta proses pemulihan
epitel selama diare, sehingga akan mencegah diare lebih lanjut atau mempercepat proses
penyembuhan (dewantari, 2015).

4. Tepat dosis
Dosis yang digunakan untuk ringer laktat adalah sebanyak 70 ml x BB (kg) = 70 ml x 9,1
kg = 637 ml (dewantari, 2015). Sedangkan dosis yang digunakan untuk zinc anak usia 6
bulan-5 tahun yaitu 1 tablet (20mg zinc) diberikan sehari selama 10 hari berturut-turut
bahkan ketika diare telah berhenti (sukandar, 2008).
5. Waspada Efek Samping Obat
Efek samping zinc sulfate yaitu pemakaian jangka panjang dosis tinggi menyebabkan
konsentrasi lipoprotein plasma dan absorbsi tembaga, sehingga perlu dimonitoring untuk
dosis tidak terlalu tinggi dengan jangka panjang agar tidak menimbulkan efek samping
(sukandar,2008).
Terapi Non Farmakologis
-

Pada pasien balita yang masih mendapatkan ASI harus diberikan ASI sesering mungkin
(Atia, 2009).
Menghentikan konsumsi makanan padat selama 24 jam (Dipiro, 2007).
Mengonsumsi makanan rendah serat (Dipiro, 2007).

KIE
1. Komunikasi kepada dokter yang merawat pasien
2. KIE untuk tenaga kesehatan yang merawat pasien
3. KIE untuk keluarga pasien
Cara minum obat dan frekuensinya
Nama Obat

Jadwal

Jumlah

Manfaat

Ringer
Laktat
Zinc Sulfat

1x sehari

637 ml

1 x sehari
selama 10 hari
berturut-turut

20 mg (1sdtk)

Mengatasi
dehidrasi
Mengatasi diare

4. KIE untuk pasien


Monitoring

Hal yang harus


diperhatikan
Hindari
pemakaian
jangka panjang
dosis tinggi.

Hal yang perlu dimonitoring dari pengobatan adalah:


Obat
Zinc Sulfate

Monitoring
Keberhasilan
Diare

Ringer Laktat

Dehidrasi

Target keberhasilan
ESO
pemakaian jangka
panjang dosis tinggi
menyebabkan
konsentrasi
lipoprotein plasma
dan absorbsi tembaga
panas, infeksi pada
tempat penyuntikan,
thrombosis vena.

Pengobatan diare pada


anak

Mengembalikan
keseimbangan
elektrolit pada
dehidrasi

KESIMPULAN
1. Problem medik pasien sesuai diagnose adalah diare akut dan vomiting profus.
2. Penatalaksanaan terapi farmakologis untuk mengatasi diare akut adalah dengan
pemberian Ringer Lactat sebanyak 70 ml x BB (kg) = 70 ml x 9,1 kg = 637 ml untuk
mencegah dehidrasi, pemberian Zinc yaitu 1 tablet (20mg zinc) diberikan 1x sehari
selama 10 hari berturut-turut bahkan ketika diare telah berhenti. Terapi non farmakologis
dengan pemberian ASI secara intensif dan menghindari makanan padat tinggi serat.
3. Penatalaksanaan terapi vomiting profus tidak diberikan antiemetik.

DAFTAR PUSTAKA
Amin, Lukman Zulkifli. 2015. Tatalaksana Diare Akut. Departemen Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Vol. 42
Anonim, 2008. Pertolongan Pertama Pmr Wira. Palang Merah Indonesia, Jakarta.
Anonim, 2013, MIMS Petunjuk Konsultasi, Jakarta, Medidata Indonesia
Atia AN, Buchman AL. Oral rehydration solutions in non-cholera diarrhea: A review. Am J
Gastroenterol. 2009. 104:2596-604
Dewantari, Easy Orient, 2015, Manajemen Terapi pada Diare Akut dengan Dehidrasi Ringan
Sedang dan Muntah Profuse pada Anak Usia 22 Bulan, Universitas Lampung.
Dipiro, J.T., Robert, L.T., Gary, C.Y., Gary, R.M., Barbara, G.W., L.Michael P. 2007.
Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach. 7th Edition. New York: Mc Graw Hill.
Eppy, 2009. Diare akut. Medicinus, Vol.2 no.3
Kemenkes, 2011. Panduan Sosialisasi Tatalaksana Diare Balita. Departemen Kesehatan RI,
Jakarta.
Kemenkes, 2011. Pedoman Interpretasi Klinik. Direktorat Jendral Bina Kefarmasian dan Alat
Kesehatan, Jakarta
Sukandar, 2008, Informasi Spesialte obat Indonesia, ISFI Penerbitan, Jakarta