Anda di halaman 1dari 7

Pembakaran

II.

MATERI
1

Observasi
Pencetakan
Bahan baku yang digunakan oleh UKK Harapan Sehat adalah tanah sawah dan tanah

2
3

Pengeringan
darat dengan perbandingan 1:2.
Penggilingan
Hasil akhir dari bahan baku tersebut berupa genteng.
Secara singkat diagram alur proses produksi pada UKK Genteng Harapan Sehat:

Pajanan Potensial dan Faktor Resiko Kesehatan pada Pekerja

Fisik
Faktor fisik lingkungan kerja (faktor fisik di tempat kerja) dapat berpengaruh terhadap
baik buruknya kinerja tenaga kerja, bahkan dapat berpengaruh terhadap produktivitas kerja.
Pengaturan fisik lingkungan kerja yang kurang tepat akan mengakibatkan tingkat produktivitas
kerja yang rendah. Faktor fisik yang dimaksud adalah keadaaan fisik suatu lingkungan atau
tempat kerja, yang meliputi kebisingan, temperatur, pencahayaan, kelembaban udara, getaran,
radiasi sinar ultra violet, gelombang elektromagnetik, warna, serta bau-bauan.
Pada proses penggilingan dari pembuatan genteng, mesin molen yang digunakan
berbunyi sangat keras > 85 dB sehingga banyak pekerja genteng pergi ke Puskesmas dengan
keluhan sulit mendengar. Pemerintah Indonesia telah menetapkan nilai ambang batas fisik
lingkungan kerja, yaitu diatur dalam KEP-51/MEN/1999 dan SNI 16-7063-2004 yang
dikeluarkan oleh Badan Standar nasional (BSN) tentang Nilai Ambang Batas (NAB) Faktor
Fisika Di Tempat Kerja. Paparan suara > 85 dB dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan
2

terjadinya ketulian sementara hingga permanen. Efek kebisingan terhadap kesehatan dilaporkan
meningkatkan sensitivitas tubuh berupa peningkatan sistem kardiovaskuler seperti kenaikan
tekanan darah dan denyut jantung. Apabila hal ini terjadi dalam waktu yang lama maka akan
menyebabkan reaksi psikologis berupa menurunnya konsentrasi dan kelelahan
Tabel 1. NAB Kebisingan KEP-51/MEN/1999

Suhu yang cukup tinggi, terutama pada saat pembakaran genteng dapat berpotensi
menimbulkan dehidrasi. Suhu tinggi juga dapat menimbulkan heat exhaustion (kelelahan panas).
Kelelahan panas timbul sebagai akibat kolaps sirkulasi darah perifer karena dehidrasi dan
defisiensi garam. Dalam usaha menurunkan panas, aliran darah perifer bertambah, sehingga
produksi keringat bertambah. Penimbunan darah di perifer menyebabkan darah yang dipompa
dari jantung ke organ lainnya tidak mencukupi sehingga timbul gangguan. Untuk mencegah
dehidrasi, dianjurkan kepada para pekerja untuk membawa air minum di sekitar tempat kerja
yang bisa dicapai dalam jangkauan tangan. Sebaiknya minum air jangan saat haus saja, harus
cukup sering agar cairan dalam tubuh tetap terjaga keseimbangannya.
Kimia
Bahan kimia yang digunakan dalam proses pembuatan genteng hanyalah solar dan
minyak kelimir (minyak kelapa sawit). Solar digunakan sebagai tambahan pelumas genteng
untuk menghaluskan tanah liat sehingga genteng mudah di bentuk dan di cetak. Selain digunakan
sebagai penghalus tanah liat, solar juga dapat digunakan untuk melumasi mesin pencetak
genteng agar tanah tidak lengket ke mesin. Solar juga berfungsi untuk mempercepat proses
3

pembakaran saat genteng dipanasi dalam tungku. Para pekerja tidak ada yang menggunakan
sarung tangan sehingga langsung kontak dengan bahan baku. Solar ini dapat menyebabkan
dermatitis kontak iritan karena mengandung sulfur yang tak hanya mengiritasi kulit tapi juga
mengiritasi saluran pernapasan. Pada mesin, solar dapat membuat diesel berkarat dan dapat
sebabkan pembakaran yang tidak sempruna sehingga dapat menyebabkan keluhan sesak. Pajanan
debu tanah pada bagian lempung , asap dari proses pembakaran juga dapat membuat pekerja
mengalami keluhan sesak atau ISPA karena pekerja tidak ada yang memakai masker saat bekerja.
Biologis
Pengrajin pembuat genteng yang tidak menggunakkan APD (sepatu boots) membuat kaki
pengrajin genteng langsung terpajan dengan tanah. Hal ini yang dapat menyebabkan kaki
pengrajin terpapar dengan mikroorganisme maupun cacing yang ada dalam tanah tersebut. Hal
lain yang memungkinkan terjadinya PAK akibat pajanan biologis antara lain karena lingkungan
pekerjaan perngrajin genteng terlihat kotor hal ini dibuktikan karena terdapatnya kotoran ayam
yang ada di sekitar tempat kerja. Selain itu, atap tempat bekerja pengrajin terlihat lembab dan
juga terdapat penyimpanan air yang terbukan yang digunakan untu cuci tangan, hal ini juga dapat
menyebabkan demam berdarah dengue.
Ergonomi
Pada proses lempung, gerakan yang monoton yaitu mengaduk dan membentuk bahan
baku dalam rupa gelondongan dengan membungkuk tidak menutup kemungkinan bahwa pekerja
dapat mengalami nyeri pinggang yang terjadi secara mekanik akibat gerakan tersebut sehingga
pekerja akan mengalami penurunan produktivitas dalam bekerja. Pada akhirnya hal tersebut
dapat mempengaruhi hasil kualitas produksi dimana pengadukan secara merata dapat
mempengaruhi kuat atau tidaknya bahan yang akan dibuat untuk menjadi genteng tersebut, dan
oleh karena itu solusi untuk mengurangi resiko ini yaitu adanya pemberlakuan shift kerja antara
orang yang bertugas dalam hal tersebut, sehingga pekerja yang bekerja memiliki waktu untuk
bergantian bekerja dan berisitirahat tanpa harus mempengaruhi hasil kualitas dan jumlah
produksi tiap harinya.
Pada proses pencetakan dimana pada proses ini pekerja harus berdiri secara terus
menerus dikarenakan tinggi meja tempat alat cetak cukup tinggi, sehingga hal ini dapat
4

mempengaruhi kenyamanan dan ketahanan lamanya si pekerja dalam melakukan proses


pencetakan, oleh karena hal tersebut ada baiknya jika meja tempat pencetakan di perpendek di
bawah siku dan pekerja pun dapat diberi kursi untuk duduk serta memendekkan tongkat besi
yang digunakan dalam proses ini, sehingga hal tersebut dapat meningkatkan produktivitas
pekerja dalam melakukan pencetakan.
Pada proses pengangkatan barang dimana dimana seharusnya proses ini dilakukan
bertahap dan menggunakan tulang femur (paha) sebagai tumpuan karena tulang femur
merupakan tulang paling panjang dan kuat dan mendekatkan barang ke kita kemudian menekuk
lutut baru kemudian kita dapat memindahkan barang tersebut dengan berdiri, namun para pekerja
tidak melalukan hal demikian, para pekerja mengangkat barang dengan menggunakan tulang
vertebra (punggung) dimana apabila barang tersebut terlalu berat dan dilakukan terus menerus
dapat menyebabkan pergeseran pada tulang punggung tersebut dan dapat menyebabkan Low
Back Pain.
Psikologi
Meskipun tidak diketahui secara pasti, pekerja-pekerja bisa saja mendapatkan stressor
dari segi fisik atau ergonominya sehingga membuatnya semakin stress. Bisa juga karena
penempatan tenaga kerja yang tidak sesuai dengan bakat, minat, kepribadian, motivasi,
temperamen atau pendidikannya, sistem seleksi dan klasifikasi tenaga kerja yang tidak sesuai,
kurangnya keterampilan tenaga kerja dalam melakukan pekerjaannya sebagai akibat kurangnya
latihan kerja yang diperoleh, serta hubungan antara individu yang tidak harmoni dan tidak serasi
dalam organisasi kerja. Kesemuannya tersebut akan menyebabkan terjadinya stress akibat kerja.
Apabila tuntutan terhadap tubuh itu berlebihan makan hal ini juga dinamakan stress seperti
timbullah gangguan emosional ataupun penyimpangan diri berupa : cemas, gelisah, gangguan
kepribadian, ketagihan alkohol dan psikotropika.
Mengingat faktor psikologis ( stress ) kerja dapat mengakibatkan gangguan pada
kesehatan bahkan kecelakaan kerja, perlu adanya solusi untuk menanggulangi permasalah tersbut
diantaranya dengan melakukan penatalaksanaan untuk para pekerja supaya menciptakan
lingkungan kerja yang aman dan nyaman.
Gangguan Kesehatan dan Kecelakaan Kerja

Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah salah satu bentuk upaya
untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga
dapat mengurangi dan atau bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang pada
akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja. Pada pos UKK Harapan Sehat
ini sebenarnya telah ditetapkan perarutan oleh pemerintah setempat untuk pemakaian APD pada
UKK pembuatan genteng, namun para pekerja sudah terbiasa membuat genteng secara
tradisional tanpa menggunakan APD karena berbagai hambatan seperti:

Para pekerja menyampaikan dengan menggunakan sepatu boot sewaktu menginjak tanah
untuk diolah, sepatu boot yang digunakan sering terlepas, sehingga mereka tidak nyaman

menggunakan sepatu boot.


Pekerja juga tidak nyaman menggunakan sarung tangan oleh karena itu pekerja sering
mengeluhkan gatal-gatal terutama pada tempat percetakan genteng yang menggunakan

solar yang bersifat iritan pada kulit pekerja. Tangan pekerja juga menderita baal.
Di tempat penggilingan karena pekerja tidak menggunakan baik boot maupun sarung
tangan plastik maka tangan dan kaki pekerja seringkali tergiling. Rata-rata terjadi

kecelakaan ini sekali dalam setahun.


Pada proses akhir dari pembuatan genteng yaitu pembakaran dengan menggunakan kayu
bakar, para pekerja harus terpapar dengan asap, panas dan debu sehingga banyak pembuat

genteng pergi ke Puskesmas dengan keluhan sesak napas juga ISPA.


Beberapa pekerja juga terlihat memiliki kulit yang gosong tersengat matahari, karena
mereka tidak dibiasakan menggunakan pakaian yang menutupi seluruh badan dari

sengatan matahari.
Pekerja juga tidak memakai APD seperti ear plug/muff pada proses penghidupan mesin
diesel yang menimbulkan kebisingan hingga 90 DB.
Pihak puskesmas setempat sudah memberikan penyuluhan dan pelatihan kepada pekerja

tentang penggunaan APD, tetapi hal ini sulit diterapkan karena dari pekerja sendiri yang rata-rata
memiliki pendidikan yang rendah tidak sampai tamat SMA, maka untuk menumbuhkan
kesadaran dalam diri masing-masing pekerja tampaknya terasa sulit. Dari pekerja terdapat
laporan adanya kecelakaan akibat kerja seperti jari kaki atau tangan yang tergiling terjadi ratarata sekali dalam setahun, tetapi laporan ini tidak disampaikan pada pihak puskesmas. Hal ini
menandakan belum adanya pengertian dari pihak pekerja tentang pentingnya kesehatan dan

keselamatan ketenagakerjaan, sehingga jika terjadi kecelakaan mereka tidak langsung


memberikan laporan.

Lingkungan di Dalam Pabrik


Kondisi UKK Genteng Harapan Sehat berupa bangunan yang dibangun sederhana yang

beralaskan dengan tanah. Masalah ventilasi, UKK Genteng Harapan Sehat memiliki banyak
pertukaran udara karna UKK Genteng Harapan Sehat tidak di tutupi oleh dinding melainkan
hanya diberikan fondasi berupa batang kayu sehingga banyak angin yang lewat. Untuk tata letak
barang terlihat tidak terlalu berantakan tetapi sangat kotor karna tidak dibersihkan, banyak debu
dan pasir yang berserakan di meja ataupun di tempat peletakan genteng. Untuk masalah higine
terlihat tidak terlalu bersih karna para pekerja tidak terlalu memperdulikan kebersihan diri
mereka. Tidak terlihat adanya kotak P3K ataupun alat pemadam kebakaran. Pada bagian proses
penggilingan tergolong panas karena mesin yang bekerja dan memiliki tingkat kebisingan 90 dB,
sehingga para pekerja dibagian tersebut diharuskan memakai ear-plug untuk menghindarkan
terjadinya gangguan pendengaran . Bagian mencetak genteng juga memiliki pajanan kimia yang
sangat besar sehingga para pekerja dianjurkan untuk memakai sarung tangan karena
digunakannya solar dan ampas minyak kelapa sawit dalam proses tersebut untuk mencegah
terjadinya dermatosis kontak iritan maupun gatal-gatal karena alergi. Bagian pembakaran
dilakukan oleh beberapa orang dimana pada pembakaran ini pekerja seharusnya menggunakan
masker dan disediakan air minum didekatnya, namun hal ini tidak terlihat pada proses tersebut.
6

Lain-Lain
Pada UKK Genteng Harapan Sehat memiliki kapasitas penyimpanan genteng hanya

sebanyak 1500 buah saja, jadi jika genteng telah mencapai batas kapasitas penyimpanannya,
pekerjaan akan ada jeda sampai semua genteng telah terjual. Target pencetakan genteng dalam 1
hari untuk 1 orang adalah sebanyak 500 buah. UKK Genteng Harapan Sehat memiliki 10
karyawan yang dibagi menjadi 5 orang perempuan mencetak, 1 orang laki-laki
mengaduk/mencampur tanah dan 4 orang laki-laki yang membakar genteng.