Anda di halaman 1dari 41

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK PELEDAKAN

BAHAN PELEDAK

Disusun Oleh :

ANDY YANOTTAMA
F1D114008

PRODI TEKNIK PERTAMBANGAN


JURUSAN TEKNIK KEBUMIAN
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS JAMBI
2016

LEMBAR PENGESAHAN
Laporan praktikum Teknik Peledakan dengan Judul BAHAN PELEDAK yang
disusun oleh ANDY YANOTTAMA, NIM : F1D114008 telah disahkan oleh Dosen
Pembimbing dan Asisten Praktikum pada Tanggal 21 Oktober 2016.

Disetujui:

Asisten Praktikum I,

Asisten Praktikum II,

Nadya Farah Kamilia

Miftahul Janna

NIM. F1D113018

NIM. F1D114016

Diketahui:
Dosen Pembimbing,

Widowati, S.T., M.T.


NIDK. 2014010720120012018305

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dalam kegiatan penambangan, salah satu kegiatan awal yang
dilakukan dan penting baik dari sisi teknis maupun ekonomis adalah
kegiatan

pengupasan

tanah

penutup

(over

burden).

Untuk

menunjang kelancaran proses pengupasan tanah penutup tersebut,


dapat menggunakan metode pengeboran dan peledakan untuk
membongkar

batuan.

Peledakan

adalah

merupakan

kegiatan

pemecahan suatu material (batuan) dengan menggunakan bahan


peledak atau proses terjadinya ledakan. Suatu operasi peledakan
batuan akan mencapai hasil optimal apabila perlengkapan dan
peralatan yang dipakaisesuai dengan metode peledakan yang
diterapkan.
Pekerjaan peledakan adalah pekerjaan yang penuh bahaya.
Oleh karena itu, harus dilakukan dengan penuh perhitungan dan
hati-hati agar tidak terjadi kegagalan atau bahkan kecelakaan.
Untuk itu operator yang melakukan pekerjaan peledakan harus
mengerti benar tentang carakerja, sifat dan fungsi dari peralatan
yang digunakan. Karena persiapan peledakan yang kurang baik
akan menghasilkan bisa menyebabkan hasilyang tidak sempurna
serta mengandung resiko bahaya terhadap keselamatan pekerja
maupun peralatan. Dalam hal ini pemilihan metode peledakan,
pemilihan serta penggunaan peralatan dan perlengkapan juga
berpengaruh terhadap hasil yang dicapai.

1.2. Tujuan

1. Praktikan dapat membedakan masing-masing handak


2. Praktikan dapat membuat handak

BAB II
DASAR TEORI
2.1. Bahan Peledak
Bahan peledak dapat di defenisikan sebagai suatu bahan atau
campuran bahan yang dengan spontan dapat berubah secara kimia
tanpa suplay oksigen dari luar dan melepaskan energi dalam jumlah
besar yang ditandai dengan pengembangan gas panas, atau
dengan kata lain adalah suatu bahan kimia berupa senyawa tunggal
atau campuran yang berbentuk padat atau cair yang apabila
dikenai oleh suatu aksi panas, benturan, gesekan atau ledakan awal
akan berubah menjadi bahan-bahan yang lebih stabil yang sebagian
atau seluruhnya dalam berbentuk gas dan disertai dengan tekanan
dan panas yang sangat tinggi.
Secara legal bahan peledak banyak digunakan dalam dunia
industri

yang

digunakan

dalam

pertambangan

seperti

pada

pengeboran minyak, mmenghancurkan batu-batuan dipegunungan


dan kebutuhan pertambangan lainnya, demikian juga banyak
digunakan untuk kepentingan militer misalnya sebagai demolisi,
roket, propellant dan kebutuhan militer yang lain, dimana bahan
peledak untuk kedua kegunaan tersebut diatas setelah diproduksi
secara berkala dianalisa untuk quality control. Akan tetapi secara
illegal bahan peledak juga digunakan oleh kelompok terorist dan
pelaku-pelaku kriminal untuk pembuatan bom rakitan yaitu dengan
rancangan sedemikian rupa dengan bahan-bahn lain secara tidak
sah untuk tujuan dapat menimbulkan ledakan ( Lentz, R. Robert
1976 ).

Pada prinsipnya suatu ledakan adalah merupakan reaksi kimia


yang terjadi secara spontan dimana pada umumnya kita mengenal
reaksi kimia dapat terjadi secara termodinamika dan termokinetika.
Namun demikian pada reaksi kimia bahan peledak terjadinya
suatu reaksi juga sangat dipengaruhi oleh adanya suatu energi
gelombang yang dikenal dengan shock wave dimana jenis reaksi ini
dikenal dengan sono chemistry karena terjadinya reaksi kimia
adalah disebabkan oleh energi gelombang dan reaksi ini umumnya
dikelompokkan dalam reaksi detonasi yaitu merupakan reaksi kimia
sangat cepat dan biasanya berada dalam wilayah kecepatan
subsonic yang diawali dengan panas, disertai dengan shock
compression dan membebaskan energi yang mempertahankan
shock wave serta berakhir dengan ekspansi hasil reaksi, tetapi
apabila reaksi yang terjadi berada pada kecepatan dibawah
subsonic dikenal dengan deflagrasi (deflagration) yang umumnya
terjadinya reaksi disebabkan oleh adanya konduksi panas.
Bahan peledak secara umum dapat dikelompokkan menjadi
bahan peledak organik misalnya TNT, PETN, RDX, Nitrogliceryne dan
lain-lain yang dapat meledak berupa senyawa tunggal tanpa
membutuhkan penambahan reduktor karena pada reaksinya terjadi
autoredoks,

sedangkan

bahan

peledak

anorganik

biasanya

berfungsi sebagai bahan peledak berupa campuran senyawa


misalnya campuran kalium nitrat, belerang dan karbon black
powder, campuran kalium klorat dan aluminium powder (flash
powder) yang mana reaksinya adalah berupa reaksi reduksioksidasi antara oksidator dan reduktor. Demikian juga sebagai
pemicu ledakan dari kedua jenis bahan peledak ini berbeda yaitu
untuk senyawa organik ledakan terjadi dengan adanya shock wave

sedangkan untuk senyawa anorganik ledakan yang terjadi pada


umumnya dipicu oleh adanya konduksi panas (Murray S G,
Mechanism of Explosion in Encyclopedia of Forensic Science .Ed
By Siegel J,A.,at al. 2000).

2.2.

Penggolongan Bahan Peledak

Penggolongan

bahan

peledak

bukan

hanya

ditentukan

berdasarkan kedua jenis tersebut diatas tetapi juga dapat dilakukan


berdasarkan struktur kimia, kegunaannya, penempatannya dalam
rantai detonasi dan berdasarkan sifat-sifat ledakannya yang dapat
dijelaskan sebagai berikut :
a) Berdasarkan Struktur Kimianya
1. Bahan peledak nitro organik yang umumnya terdiri dari :

Nitro Aromatis : asam pikrat, TNT, 2,4 DNT dan lainlain.

Nitrate

ester

ethyleneglycol

Dinitrate

(EGDN),

Glycerol Trinitrate (NG), Penta Eryhrithol Tetra Nitrat


(PETN) dan lain-lain.

Nitramine : 1, 3, 5 trinito 1, 3, 5 triazacyclo hexane


(RDX), 1, 3, 5, 7 tetra nitro - 1, 3, 5, 7 tetraza
cyclooctane (HMX).

2. Peroksida organik : TATP, HMTD dan lain-lain.


3. Garam organik : ammonium nitrat.

4. Campuran

oksidator

dan

reduktor,

black

powder,

propellant dan lain-lain.


b) Berdasarkan kegunaannya
1. Bahan peledak militer : TNT, PETN, RDX.
2. Bahan peledak industri dinamit, amonium nitrat, emulsion
explosives.
3. Bahan peledak improvisasi pembuatan illegal : kalium
klorat dan gula : kalium klorat, sulfur dan aluminium
powder dan lain-lain.
c) Berdasarkan penempatan dalam rangkaian detonasi
1. Primary Explosive : mercury fulminate, lead azide, dan
lain-lain.
2. Booster : PETN
3. Main charge : TNT, RDX, black powder, flash powder .
d) Berdasarkan sifat ledakannya
1. High explosive : TNT, RDX.
2. Low explosive : black powder, smokless powder.

2.3.

Sifat-Sifat Fisik Bahan Peledak

1. Density
Massa jenis bahan peledak merupakan factor yang sangat
penting dalam menentukan efek ledakan. Makin tinggi massa

jenis terpusat energy dalam bahan peledak tersebut sehingga


makin besar efek ledakan.
Untuk

menunjukkan

massa

jenis

kadang-kadang

ditemukan istilah cartridge bahan peledak. Loading density


(de) adalah berat bahan peledak per satuan panjang muatan
dan dalam satuan British dinyatakan dalam lb/ft. sedang
diameter muatan (De) dinyatakan dalam inci.

2. Sensitifity
Sensitifitas

adalah

sifat

yang

menunjukkan

tingkat

kemudahan inisiasi bahan peledak atau kemudahan bagi


suatu reaksi kimia bahan peledak yang terjadi dalam lubang
tembak untuk menjalar melalui seluruh muatan. Sifat sensitif
bahan peledak bervariasi tergantung pada komposisi kimia
bahan peledak, diameter, dan temperature.
3. Water Resistance
Ketahanan bahan peledak terhadap air adalah ukuran
kemampuan

suatu

bahan

peledak

untuk

melawan

air

disekitarnya tanpa kehilangan sensitifitas atau efesiensi.


Apabila suatu bahan peledak larut dalam air dalam waktu
yang pendek, berarti bahan peledak tersebut di kategorikan
mempunyai ketahanan terhadap air yang buruk atau por.
Sebaliknya bila tidak larut dalam air disebut sangat baik
atau excellent. Contoh bahan peledak jenis emulsi. Watergel

atau slurries dan bahan peledak berbentuk cartridge sangat


baik daya tahannya terhadap air. Apabila didalam lubang
ledak terdapat air dan akan digunakan ANFO sebagai bahan
peledak. Umumnya digunakan selubung plastik khusus untuk
membungkus ANFO tersebut sebelum dimasukkan ke dalam
lubang ledak.
4. Chemical Stability
Kestabilan

kimia

bahan

peledak

maksudnya

adalah

kemampuan untuk tidak berubah secara kimia dan tetap


mempertahankan sensitifitas selama dalam penyimpanan di
dalam gudang dengan kondisi tertentu.
Factor-faktor yang mempercepat ketidak-stabilan kimiawi
antara lain panas, dingin, kelembaban, kualitas bahan baku,
kontaminasi,

pengepakan,

dan

fasilitas

gudang

bahan

peledak.
5. Characteristics Of Fumes (Karakteristik Gas)
Detonasi bahan peledak akan menghasilkan fume, yaitu
gas-gas, baik yang tidak beracun (non-roxic) maupun yang
mengandung acun (toxic). Gas-gas hasil peledakan yang tidak
beracun seperti uap air, karbon dioksida, dan nitrogen,
sedangkan yang beracun adalah nitrogen monoksida, nitrogen
oksida, dan karbon monoksida. Pada peledakan di tambang
bawah tanah gas-gas tersebut perlu mendapat perhatian
khusus, yaitu dengan system ventelasi yang memadai,
sedangka tambang terbuka kewaspadaan ditingkatkan bila
gerakan angina yang rendah.

Fumes

hasil

peledakan

memperlihatkan

warna

yang

berbeda yang dapat dilihat sesaat setelah peledakan terjadi.


Gas berwarna coklat-orange adalah fume dari gas nitrogen
oksida reaksi bahan peledak basah karena lubang ledak
berair, gas berwarna putih diduga kabut dari uap air yang
juga menandakan terlalu banyak air di dalam lubang ledak,
karena panas yang lar biasa merubah seketika fase cair
menjadi kabut. Kadang-kadang muncul pula gas berwarna
kehitaman yang mungkin hasil pembakaran yang tidak
sempurna,
1.

BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum Teknik Peledakan dilaksanakan pada Sabtu, 8
Oktober 2016, yang bertempat di Laboratorium Energi, Material dan
Rekayasa dan juga di laksanakan di halaman Fakultas Sains dan
Teknologi, Universitas Jambi.

3.2. Alat dan Bahan


Alat :
1. Gergaji kayu
2. Palu
3. Gunting
4. Ayakan 40 skala mesh (0,4 mm)
5. Alat Pelindung Diri (APD) lengkap
Bahan :
1. Pupuk Urea
2. Pewarna Makanan (warna merah)
3. Tanah Lempung
4. Batu Bara
5. Krikil

6. Pasir
7. Tali tambang ukuran kecil
8. Paku Payung
9. Kayu bulat (diameter 2-4 cm, panjang 100 cm)
10.

Kantung plastik kecil

3.3. Prosedur Kerja


A. Pembuatan Bahan Simulasi Peledakan
1. Disiapkan alat dan bahan simulasi peledakan sederhana
seperti diatas
2. Dipotong kayu bulat dengan menggunakan gergaji untuk
pembuatan dynamite menjadi 5 bagian dengan panjang
masing-masing 15 cm
3. Ditanjapkan paku paying dengan menggunakan palu pada
bagian tengah jari-jaring dari bulatan kayu
4. Dicampurkan tanah lempung dengan sedikit air untuk
pembuatan

dodol

sepanjang 15 cm

dan

masukkan

ke

dalam

plastik

5. Dihancurkan batubara sehalus mungkin untuk pembuatan


black

powder

dan

kemudian

disaring

dengan

menggunakan ayakan ukuan 0,4 skala mesh


6. Dicampurkan pupuk urea

dengan pewarna makanan

berwarna merah agar mirip seperti ANFO sebagai bahan


peledak
7. Dipotong tali tambang kecil sebanyak 2 utas tali dengan
pangjang 2 m dan 3 m sebagai kabel penghubung dari
dynamite ke blasting machine

B. Pembuatan Simulasi Lubang Ledak ANFO


1. Dibentuk simulasi geometri lubang ledak pada dataran
tanah sebagai tampak melintang (tampak samping) dari
lubang ledak
2. Dibuat gari sebagai lubang ledak sepanjang 2,5 m dengan
diameter 10 cm
3. Diletakkan dynamite pada spasi 15 cm dari dasar lubang
ledak
4. Diisi ANFO dengan ukuran 2 m pada lubang ledak
sehingga mengisi lubang ledak hingga tidak ada rongga
tersisa
5. Diisi steaming campuran krikil dan pasir dengan ukuran
0,5 m pada lubang ledak setelah pengisian ANFO
6. Dihubungkan
machine

kabel

penghubungan

menuju

blasting

7. Dipersentasekan pembuatan lubang ledak ANFO pada


asisten praktikum teknik peledakan

C. Pembuatan Simulasi Lubang Ledak Black Powder


1. Dibentuk simulasi geometri lubang ledak pada dataran
tanah sebagai tampak melintang (tampak samping) dari
lubang ledak
2. Dibuat gari sebagai lubang ledak sepanjang 1,5 m dengan
diameter 10 cm
3. Diletakkan dynamite pada spasi 15 cm dari dasar lubang
ledak
4. Diisi black powder dengan ukuran 1 m pada lubang ledak
sehingga mengisi lubang ledak hingga tidak ada rongga
tersisa
5. Diisi steaming campuran krikil dan pasir dengan ukuran
0,5 m pada lubang ledak setelah pengisian black powder
6. Dihubungkan

kabel

penghubungan

menuju

blasting

machine
7. Dipersentasekan pembuatan lubang ledak ANFO pada
asisten praktikum teknik peledakan

BAB IV
HASIL
5.1. Hasil Geometri Lubang Ledak ANFO

5.2. Hasil Geometri Lubang Ledak Black Powder

BAB V
PEMBAHASAN
6.1.

Lubang Ledak dengan Bahan Peledak ANFO


Amonium Nitrat Fuel Oil atau yang sering disebut juga dengan ANFO, yang

mana ANFO dengan senyawa Amonium Nitrat (AN) sebagai pengoksida dan Fuel Oil
(FO) sebagai bahan bakar. Bahan peledak ANFO termasuk ke klasifikasi bahan
peledak dengan daya ledak kuat (high explosive) dengan kecepatan detonasi 1.0008.500 m/s dan saat ini masih banyak digunakan pada industri-industri pertambangan
karena bahan peledak ANFO ini sangat sederhana, banyak digunakan, mudah untuk
dibuat, dan dengan cost yang efektif tetapi bahan peledak ANFO ini sifatnya tidak
tahan air.. Dalam hal pembuatan ANFO ini, kita harus memperhatikan komposisi
yang tepat agar komposisi kimia dari bahan peledak tersebut setimbang sehingga gas
yang dihasilkan dari kegiatan peledakan tidak menimbulkan gas beracun yang sangat
berbahaya bagi lingkungan, perbandingan antara senyawa AN = 94,3% dan senyawa
FO = 5,7% untuk memperoleh zero oxygen. Dimana dalam teorinya zero oxygen
adalah kesetimbangan jumlah oksigen yang tepat dalam suatu campuran bahan
peledak sehingga seluruh reaksi menghasilkan hydrogen menjadi hidrogen dioksida
(H2O), Carbon menjadi CO2 dan nitrogen menjadi N2 bebas, sehingga dalam hasil
reaksinya hanya ketiga unsur tersebut yang terbentuk. Kelebihan senyawa FO atau
yang disebut overfuelled akan menghasilkan reaksi peledakan dengan konsentrasi CO
yang berlebih, sedangkan bila kekurangan senyawa FO atau yang disebut
underfuelled akan menambah konsentrasi NO2. Seperti reaksi kimia setimbang
pembuatan ANFO dibawah ini :
2NH4NO3 + CH2

5H2O + CO + N2

(AN)

(SMOKE)

(FO)

Praktikum kegiatan pertama dilakukan dengan membuat geometri lubang


ledak pada bidang horizontal mendatar di atas permukaan tanah yang terlihat seperti
tampak samping dari kedudukan sebernanya pada lubang ledak. Geometri lubang
ledak yang pertama ini di buat dengan isian bahan peledak berupa ANFO, yang mana
bubuk ANFO ini disimulasikan pada pupuk urea yang diberi pewarna makanan
berwarna merah yang ditambahkan sedikit air. Untuk ukuran kedalaman lubang ledak
ini yaitu 2,5 meter dengan 2 meter untuk isian bahan peledak ANFO dan 0,5 meter
untuk isian stemming (peredam) berupa campuran kerikil dan pasir, dan ukuran
diameter lubang ledaknya yaitu 10 cm. Penggunaan steaming (peredam) yang berupa
kerikil dan pasir ini sangat bagus, karena steaming yang berupa campuran kerikil dan
pasir ini dapat meredam suara dari hasil peledakan dan meredam batuan-batuan yang
terbang dari hasil peledakan. Dalam teori dan praktiknya dilapangan, komposisi
steaming kerikil agak lebih sedikit dibandingkan dengan pasir yang agak banyak. Hal
ini dikarenakan bahwa memperbanyak komposisi steaming pasir dapat mengisi penuh
rongga-rongga dalam ruang lubang ledak sehingga hasil peledakan akan optimal.
Pada lubang ledak isian bahan peledak ANFO ini menggunakan dynamite
(primer) yang dibentuk dengan menggunakan kayu bulat ukuran diameter 2-4 cm
yang di potong sepanjang 15 cm, dan kemudian dynamite tersebut dihubungkan
dengan tali yang disimulasikan sebagai kabel penghubung menuju ke blasting
machine. Peletakan kedudukan dari dynamite ini tidak boleh langung bersentuhan
dengan dasar lubang ledak, dikarenakan hasil peledakan nantinya kurang efektif.
Dynamite hasrus diletakkan kira-kira 15 cm dari dasar lubang ledak. Pengisian bahan
peledak pada lubang ledak ini pun tidak sembarang, bahan peledak ANFO harus di isi
dengan takaran volume isian yang pas pada lubang ledak tanpa adamya rongga dan
begitu juga untuk pengisian steaming (peredam) agar proses peledakan berjalan
dengan efektif.
Dari kegiatan pembuatan geometri lubang ledak dengan isian bahan peledak
ANFO, maka akan diperoleh perhitungan yang terkait dengan volume dari bahan
peledak ANFO yang dibutuhkan yaitu sebagai berikut :

a) Volume ANFO
Diketahui :

Tinggi = 2 m
r = d. = x 0.1 = 0.05 m

Jawab :
2

v = r t
Volume = 3.14 x (0.05)2 x 2
= 0.0157 m3
b) Volume stemming
Diketahui :

Tinggi = 0.5 m
r = . d = x 0.1 = 0.05 m

Jawab :
v = r 2 t
Volume = 3.14 x (0.05)2 x 0.5
= 0.003925 m3
c) Volume dodol
Diketahui :

Tinggi = 0.15 m
r = . d = x 0.03 = 0.015 m

Jawab :
2
: v = r t

Volume = 3.14 x (0.015)2 x 0.15 = 1.05 x 10-4 m3


d) Volume dynamit
Diketahui :

Tinggi = 0.15 m
r = . d = x 0.04 = 0.02 m

Jawab :

v = r t
Volume = 3.14 x (0.02)2 x 0.15
= 1.88 x 10-4 m3
6.2.

Lubang Ledak dengan Bahan Peledak Black Powder


Bahan peledak black powder ini termasuk jenis bahan peledak dengan

komposisi campuran dari berbagai macam senyawa tunggal dan black powder ini
merupakan jenis bahan peledak dengan daya ledak rendah (low explosive) yang
memiliki kecepatan dotonasinya sekitar 400-800 m/s. Pemakaian bahan peledak black
powder saat ini berkurang pada industry pertambang dikarenakan bahan peledak ini
tidak ekonomis dan tidak aman untuk digunakan.
Praktikum kegiatan kedua dilakukan dengan membuat geometri lubang ledak
yang juga pada bidang horizontal mendatar di atas permukaan tanah yang terlihat
seperti tampak samping dari kedudukan sebernanya pada lubang ledak. Geometri
lubang ledak yang kedua ini di buat dengan isian bahan peledak berupa Black
Powder, yang mana bubuk bahan peledak Black Powder ini disimulasikan pada
Batubara yang dihancurkan hingga dapat lolos dengan ayakan ukuran 40 skala mesh
(0,4 mm). Ukuran kedalaman lubang ledak ini yaitu 1,5 meter dengan 1 meter untuk
isian bahan peledak Black Powder dan 0,5 meter untuk isian stemming (peredam)
berupa campuran kerikil dan pasir, dan ukuran diameter lubang ledaknya yaitu 10
cm. Penggunaan steaming (peredam) yang berupa kerikil dan pasir ini sangat bagus,
karena steaming yang berupa campuran kerikil dan pasir ini dapat meredam suara
dari hasil peledakan dan meredam batuan-batuan yang terbang dari hasil peledakan.
Dalam teori dan praktiknya dilapangan, komposisi steaming kerikil agak lebih sedikit
dibandingkan dengan pasir yang agak banyak. Hal ini dikarenakan bahwa
memperbanyak komposisi steaming pasir dapat mengisi penuh rongga-rongga dalam
ruang lubang ledak sehingga hasil peledakan akan optimal.
Pada lubang ledak isian bahan peledak Black Powder ini juga menggunakan
dynamite (primer) yang dibentuk dengan menggunakan kayu bulat ukuran diameter

2-4 cm yang di potong sepanjang 15 cm, dan kemudian dynamite tersebut


dihubungkan dengan tali yang disimulasikan sebagai kabel penghubung menuju ke
blasting machine. Peletakan kedudukan dari dynamite ini tidak boleh langung
bersentuhan dengan dasar lubang ledak, dikarenakan hasil peledakan nantinya kurang
efektif. Dynamite hasrus diletakkan kira-kira 15 cm dari dasar lubang ledak.
Pengisian bahan peledak pada lubang ledak ini pun tidak sembarang, bahan peledak
Black Powder harus di isi dengan takaran volume isian yang pas pada lubang ledak
tanpa adamya rongga dan begitu juga untuk pengisian steaming (peredam) agar
proses peledakan berjalan dengan efektif.
Dari kegiatan pembuatan geometri lubang ledak dengan isian bahan peledak
Black Powder, maka akan diperoleh perhitungan yang terkait dengan volume dari
bahan peledak Black Powder yang dibutuhkan yaitu sebagai berikut :
a) Volume Black Powder
Diketahui :

Tinggi = 1 m
r = . d = x 0.1 = 0.05 m

Jawab :
2

v = r t
Volume = 3.14 x (0.05)2 x 1
= 7.85 x 10-3 m3
b) Volume stemming
Diketahui :

Tinggi = 0.5 m
r = . d = x 0.1 = 0.05 m

Jawab :
v = r 2 t
Volume = 3.14 x (0.05)2 x 0.5
= 0.003925 m3
c) Volume dodol
Diketahui :

Tinggi = 0.15 m
r = . d = x 0.03 = 0.015 m

Jawab :
v = r 2 t
Volume = 3.14 x (0.015)2 x 0.15
= 1.05 x 10-4 m3
d) Volume dynamit
Diketahui :

Tinggi = 0.15 m
r = .d = x 0.04 = 0.02 m

Jawab :
v = r 2 t
Volume = 3.14 x (0.02)2 x 0.15
= 1.88 x 10-4 m3

BAB VI
PENUTUP
6.1. Kesimpulan
Berdasarkan tujuan dan praktikum yang telah dilaksanakan, maka dapat
disimpulkan bahwa
1. Bahan peledak ANFO dan black powder dapat kita bedakan berdasarkan
komposisi penyusun bahan kimianya ataupun kenampakan fisiknya,
ANFO merupakan bahan peledak yang mengandung alumunium nitrat dan
fuel oil, sedangkan black powder merupakan bahan peledak yang
digunakan pada periode terdahulu bersifat eksplosif
2. Kita dapat membuat bahan peledak baik ANFO ataupun black powder
dengan prosedur yang ada, pada prmbuatan ANFO praktikum ini
menggunakan urea dan pewarna,s edangkan black powdernya dibuat
dengan mengguanakan batubara yang telah dihaluskan

6.2. Saran

DAFTAR PUSTAKA
Agung, Tedy Cahyadi . Dkk. 2006. Kajian TeknismOperasi Peledakan
untuk Meningkatkan Nilai Perolehan Hasil Peledakan Tambang
Batubara Kab. Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur.
http:

//

repository.

upnyk.

ac.

id/

3158/1/7_Kajian_Teknis_Operasi_Peledakan_Untuk_Meningkatka
n_Nilai_Perolehan_Hasil_Peledakan_di_Tambang_b.pdf.

UPV

Yogyakarta.
Anonim.

2011.

Bahan

Peledak.

file:///C:/Users/user/Downloads/Bahan%20Peledak-USU
%20Medan.pdf. (Diakses pada 14 Oktober 2016)
Taufik, Achmad. 2010. Makalah Teknik Peledakan. https: // www.
scribd.

com/

doc/

42119480/MAKALAH-TEKNIK-PELEDAKAN.

(Diakses pada 14 Oktober 2016)


Michael. 2008. Bahan Peledak. ITB : Bandung

LAMPIRAN TUGAS
Soal :
1. Jelaskan sejarah dari bahan peledak
2. Sebutkan klasifikasi dari bahan peledak

Jawab :
1. Sejarah dari bahan peledak
a. Black Powder( Hitam Bubuk)
Bahan peledak telah dikenal manusia sejak abad ke 13 oleh bangsa
Cina jaman dinasti Sung, terutama sebagai mesiu atau serbuk hitam, yang
dikenal dengan nama black powder. Roger Bacon (1242) telah menulis
formula dari black powder. Berthold Schwarz (1300) juga menulis tentang
black powder sebagai senjata api.
Tiga abad kemudian Kasper Weindl (1627), untuk pertama kalinya
black powder digunakan pada operasi penambangan di Hungaria.
Amerika ( 1675) membangun pabriknya di Massachusetts. Selanjutnya
Inggris (1689) menggunakan bahan ini untuk penambangan timah. Begitu
juga dengan Switzeland (1696) menggunakannya untuk konstruksi jalan.
Sedangkan di Amerika (1705) digunakan untuk penambangan tembaga..

Gambar : Black Powder


Perang dunia I (1917) menghabiskan sebanyak kurang lebih 115.000
ton black powder, akhirnya pada tahun 1940 pemakaian black powder
berkurang dan banyak pabrik tutup, selanjutnya bahan ini jarang digunakan
dalam dunia pertambangan dan diganti bahan peledak lain yang lebih aman
dan ekonomis, sementara untuk keperluan militer masih dipakai sebagai mesiu
(proyektil peluru).
b. Fuse Sekering Keamanan

Gambar : William Bickford


Pada 1831, William Bickford seorang pedagang kulit Inggris
menemukan sekering keselamatan pertama. PADA tahun 1831, William
Bickford seorang Pedagang kulit Inggris Menemukan sekering keselamatan
Pertama. Menggunakan pengaman sekering peledak bubuk hitam dibuat lebih
praktis dan lebih aman. Menggunakan bahan peledak sekering Pengaman cara
membuat bubuk hitam Lebih Praktis murah aman.

Gambar : Fuse Sekering Keamanan

c. Nitrogliserin

Gambar : Ascanio Sobrero


Nitroglycerin adalah peledak kimia yang ditemukan oleh ahli kimia
Italia Ascanio Sobrero pada tahun 1846. Nitrogliserin adalah peledak kimia
Yang ditemukan oleh Ahli kimia Italia Ascanio Sobrero PADA Tahun 1846.
Nitroglycerinis campuran asam nitrat dan gliserin. Campuran asam Nitrat
Nitroglycerinis murah gliserin. Nitroglycerin adalah campuran asam nitrat,
asam sulfat, dan gliserol. Nitrogliserin adalah Campuran asam Nitrat, asam
sulfat, murah gliserol.

Gambar : Nitrogleserin

d. Nitroselulosa

Gambar : Schonbein
Pada 1846, Chemist Kristen Schonbein menemukan nitroselulosa atau
guncotton ketika ia sengaja menumpahkan campuran asam pada kapas dan
celemek apron meledak. PADA 1846, Chemist Kristen Schonbein
Menemukan

nitroselulosa

atau

guncotton

ketika

AGLOCO

sengaja

menumpahkan asam PADA Campuran Kapas murah celemek Meledak


celemek.

Gambar : Nitroselulosa

e. TNT (Trinitrotoluene)

Gambar : Joseph Wilbrand


Pada tahun 1863, TNT atau trinitrotoluene diciptakan oleh kimiawan
Jerman Joseph Wilbrand. PADA Tahun 1863, Hal ini dianggap sebagai ledak
tinggi

Gambar : TNT (Trinitrotoluene)


f. Cap blasting

Gambar : Albert Nobel


Pada tahun 1865, Albert Nobel menemukan topi peledakan. PADA
Tahun 1865, Albert Nobel Menemukan topi peledakan. Tutup peledakan

disediakan sarana yang lebih aman dan dapat diandalkan dari nitrogliserin
detonator. Tutup peledakan disediakan Sarana Yang Lebih aman murah dapat
diandalkan Dari nitrogliserin detonator.

Gambar : Cap Blasting


g. Dinamit (1833-1896)
Pada tahun 1867, Albert Nobel dinamit dipatenkan. PADA Tahun
1867, Albert Nobel dipatenkan dinamit. Smokeless Bubuk Bubuk Tanpa Asap
Pada 1888, Albert Nobel menemukan bubuk tanpa asap ledakan padat disebut
ballistite. PADA 1888, Albert Nobel Menemukan bubuk Tanpa Asap ledakan
Padat disebut ballistite. Pada tahun 1889, Sir James Dewar dan Sir Frederick
Abel ditemukan mesiu tanpa asap lain yang disebut mesiu. PADA Tahun 1889,
Sir James Dewar murah Sir Frederick Abel Menemukan mesiu Tanpa Asap
Yang lain disebut mesiu. Mesiu terbuat dari nitrogliserin, guncotton, dan zat
minyak gelatinized dengan penambahan aseton. Mesiu terbuat Dari
nitrogliserin,

guncotton,

Penambahan aseton.

murah

Zat

minyak

gelatinized

DENGAN

Gambar : Dinamit
h. Bahan Peledak modern
Pada tahun 1955, bahan peledak tinggi modern dikembangkan. PADA
Tahun 1955, bahan peledak Tinggi yang modern dikembangkan. Bahan
peledak seperti nitrat-bahan bakar campuran minyak atau ANFO dan
amonium nitratbasis air gel sekarang account untuk tujuh puluh persen dari
pasar peledak. Bahan peledak seperti Nitrat-bahan bakar minyak atau ANFO
Campuran murah amonium Nitrat-dasar gel udara SEKARANG UNTUK
Tujuh Puluh akun Persen Dari pasar peledak.

Gambar : Peledak Modern


i. Amonium Nitrat
Amonium nitrat menjadi sumber utama dinamit pada tahun 1884. Ini
digunakan dalam operasi pertambangan dan dicampur di situs sebagai ukuran
keamanan. Peledak termasuk menambahkan dan oksidasi bahan bakar
bersama-sama, yang tidak dianggap bahan peledak dengan sendirinya. Para
agen peledakan adalah bahan bakar karbon dan nitrat anorganik.

Gambar : Amonium Nitrat


j. Bom Nuklir

Gambar : J.Robert Oppenheimer


J. Robert Oppenheimer adalah ayah dari bom atom. Proyek Manhattan
diluncurkan 1939 atas saran Albert Einstein dan fisikawan lain untuk
mengembangkan sebuah bom nuklir. Proyek Manhattan diluncurkan 1939
Atas saran Albert Einstein fisikawan lain untuk mengembangkan sebuah bom
nuklir. Di bawah arahan J. Robert Oppenheimer, sebuah tim rahasia di Los
Alamos, NM, mengembangkan formula untuk pemurnian Uranium. Pada
tangal 16 Juli 1945, sebuah bom nuklir dilambangkan di Pegunungan Jemez.
Tanggal 6 Agustus, 1/2-ton 4 "Little Boy" dijatuhkan di Hiroshima, langsung
membunuh 69.000 orang. Tiga hari kemudian, "Fat Man" jatuh di Nagasaki,
menewaskan 39.000, menurut buzzle.com.

Gambar : Bom Nuklir

k. Oklahoma City Bom


Pengeboman Oklahoma City, di mana teroris dapat menggunakan nonmematikan bahan yang dibeli di atas meja untuk menciptakan sebuah ledakan
merusak ditunjukkan ketika Timothy McVeigh menggunakan amonium nitrat,
pupuk dan bahan bakar nitro metana balap dalam sebuah truk sewaan untuk
meledakkan Alfred P. Murrah Federal Building pada 19 April 1995 yang
menewaskan 168 orang.

Gambar : Bahan akar nitro metana


2. Penggolongan

bahan

peledak

bukan

hanya

ditentukan

berdasarkan kedua jenis tersebut diatas tetapi juga dapat


dilakukan

berdasarkan

struktur

kimia,

kegunaannya,

penempatannya dalam rantai detonasi dan berdasarkan sifatsifat ledakannya yang dapat dijelaskan sebagai berikut :
1) Berdasarkan Struktur Kimianya

Bahan peledak nitro organik yang umumnya terdiri dari :


-

Nitro Aromatis : asam pikrat, TNT, 2,4 DNT dan lainlain.

Nitrate ester : ethyleneglycol Dinitrate

(EGDN),

Glycerol Trinitrate (NG), Penta Eryhrithol Tetra Nitrat


(PETN) dan lain-lain.

Nitramine : 1, 3, 5 trinito 1, 3, 5 triazacyclo hexane


(RDX), 1, 3, 5, 7 tetra nitro - 1, 3, 5, 7 tetraza
cyclooctane (HMX).

Peroksida organik : TATP, HMTD dan lain-lain.

Garam organik : ammonium nitrat.

Campuran

oksidator

dan

reduktor,

black

powder,

propellant dan lain-lain.


2) Berdasarkan kegunaannya

Bahan peledak militer : TNT, PETN, RDX.

Bahan

peledak

industri

dinamit,

amonium

nitrat,

emulsion explosives.

Bahan peledak improvisasi pembuatan illegal : kalium


klorat dan gula : kalium klorat, sulfur dan aluminium
powder dan lain-lain.

3) Berdasarkan penempatan dalam rangkaian detonasi

Primary Explosive : mercury fulminate, lead azide, dan


lain-lain.

Booster : PETN

Main charge : TNT, RDX, black powder, flash powder .

4) Berdasarkan sifat ledakannya

High explosive : TNT, RDX.

Low explosive : black powder, smokless powder.

Klasifikasi Bahan Peledak menurut beberapa tokoh


a) Menurut R.L. Ash (1962), bahan peledak kimia dibagi menjadi :
- Bahan peledak kuat (high explosive),yang mana bila memiliki sifat
detonasi atau meledak dengan kecepatan reaksi antara 5.000-

24.000 fps (1.650 8.000 m/s)


Bahan peledak lemah (low explosive), yang mana bila memiliki
deflagrasi atau terbakar kecepatan reaksi kurang dari 5.000 fps
(1.650 m/s)

Gambar : Klasifikasi Bahan Peledak


b) Menurut Anon (1977), bahan peledak kimia dibagi menjadi
3 jenis seperti pada table di bawah ini :
Tabel : Klasifikasi Bahan Peledak Menurut Anon
(1977)
JENIS
Bahan peledak lemah (low

REAKSI
Deflagrate

CONTOH
Black Powder

explosive)
Bahan peledak kuat (high

(terbakar)
Detonate

NG, TNT, PETN

explosive)
Blasting agent

(meledak)
Detonate

ANFO, Slurry,

(meledak)

Emulsi

LAMPIRAN DOKUMENTASI

Foto Kelompok 2 Bersama Asisten Praktikum

Pembuatan Simulasi Bahan Peledak

Pemotongan Kayu (Pembuatan Dinamit)

Pencampuran Pewarna Makanan dengan Pupuk Urea (Pembuatan ANFO)

Pembuatan Black Powder

Pembuatan Dodol

Pembuatan Geometri Lubang Ledak Isian ANFO

Pembuatan Geometri Lubang Ledak Isian Black Powder

Blasting Machine & Dodol

Hasil Geometri Lubang Ledak ANFO & Black Powder