Anda di halaman 1dari 25

Noise Induced Hearing Loss

Priscilia lewerissa
102011093
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Alamat: Jalan Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat, 11510
E-mail: priscilia.lewerissa@gmail.com

Pendahuluan
Kemajuan teknologi, penggunaan bahan kimia, perubahan sikap dan perilaku, pengembangan
sistem manajemen serta cara deteksi lingkungan kerja, berpengaruh pada kesehatan dan
keselamatan di tempat kerja, yang tercermin pada peningkatan upaya pengenalan, penilaian
dan pengendalian aspek tersebut sebagai kegiatan perlindungan bagi pekerja. Pendapat bahwa
kejadian kecelakaan, timbulnya penyakit atau peristiwa bencana lain yang mungkin dialami
oleh pekerja merupakan resiko yang harus dihadapi tanpa bisa dihindari, sekarang mulai
banyak ditinggalkan. Sebaliknya, kegiatan hygiene perusahaan, ergonomi, kesehatan dan
keselamatan kerja yang mengupayakan terciptanya tempat kerja yang aman, nyaman dan
higienis serta tenaga kerja sehat, selamat dan produktif semakin dibutuhkan.1
Dalam hubungan dengan industri, maka faktor yang paling berbahaya bagi keutuhan faal
pendengaran ialah suara bising (noise). Bising industri sudah lama merupakan masalah yang
sampai sekarang belum bisa ditanggulangi secara baik sehingga dapat menjadi ancaman
serius bagi pendengaran para pekerja, karena dapat menyebabkan kehilangan pendengaran
yang sifatnya permanen. Sedangkan bagi pihak industri, bising dapat menyebabkan kerugian
ekonomi karena biaya ganti rugi. Oleh karena itu untuk mencegahnya diperlukan pengawasan
terhadap pabrik dan pemeriksaan terhadap pendengaran para pekerja secara berkala.2
Gangguan pendengaran akibat bising (noise induced hearing loss / NIHL) adalah tuli akibat
terpapar oleh bising yang cukup keras dalam jangka waktu yang cukup lama dan biasanya
diakibatkan oleh bising lingkungan kerja. Tuli akibat bising merupakan jenis ketulian
sensorineural yang paling sering dijumpai setelah presbikusis. Secara umum bising adalah
bunyi yang tidak diinginkan. Bising yang intensitasnya 85 desibel (dB) atau lebih dapat
menyebabkan kerusakan reseptor pendengaran Corti pada telinga dalam. Sifat ketuliannya
adalah tuli saraf koklea dan biasanya terjadi pada kedua telinga. Banyak hal yang
mempermudah seseorang menjadi tuli akibat terpapar bising antara lain intensitas bising yang
1

lebih tinggi, berfrekwensi tinggi, lebih lama terpapar bising, kepekaan individu dan faktor
lain yang dapat menimbulkan ketulian.2
Suara bising itu dapat mengganggu pendengaran dan menyebabkan tuli telah lama
dikemukakan oleh banyak ahli. Ramazzini dalam bukunya De Morbus Artificium (1713)
menyatakan bahwa banyak pekerja dalam pertukangan barang-barang kuningan menjadi tuli.
Setelah James Watt (1736-1810), seorang ahli fisika dan ahli mesin bangsa Inggris berhasil
membuat mesin-uapnya, maka penggunaan mesin-mesin pengganti tenaga manusia meluas
dengan cepat. Akibatnya suara bising karena mesin pun bertambah hebat dan meluas. Industri
pada abad ke 20 ini lebih cepat berkembang dan makin banyak digunakan mesin dalam
berbagai industri, yang semuanya menambah kebisingan di lingkungan kerja dan lingkungan
hidup kita. Sudah jelas adanya pengotoran udara oleh suara bising (airpollution by noise)
dapat mengakibatkan gangguan pendengaran sekarang dikenal sebagai occupational
deafness. Occupational deafness adalah tuli sebagian ataupun total yang bersifat menetap
pada satu atau kedua telinga dan disebabkan oleh suara bising yang terusmenerus di
tempat/lingkungan kerja.3
Akhirnya setelah berjuang lama dan gigih pada tahun 1940 di Amerika disusunlah
occupational law yang di dalamnya mengatakan bahwa pekerja yang menjadi tuli akibat
kebisingan di tempat kerja harus diberi ganti rugi. Meskipun demikian, belum ada ketentuan
atau peraturan mengenai pencegahan kerusakan pendengaran. Ganti rugi diberikan setelah
korban jelas menjadi tuli. Sebaliknya para pengusaha menuntut jaminan bahwa ketulian itu
memang tidak terdapat sebelum orang itu bekerja padanya. Kemajuan tehnik akhir-akhir ini,
terutama di bidang elektrotehnik dan elektroakustik menghasilkan alat-alat yang
memungkinkan kita meneliti dengan cermat dan tepat ada tidaknya kelainan dalam fungsi
pendengaran. Misalnya audiometer yang dapat dipergunakan untuk screening, untuk
diagnosis, speech audiometer dsb. Juga ada alat-alat untuk mengukur intensitas suara bising
(sound level meter).3

Pembahasan
Pendekatan Klinis (Individu) 7 langkah diagnosis okupasi
1. Diagnosis Klinis
A. Anamnesis
-

Riwayat penyakit : riwayat penyakit sekarang, dulu dan yang ada dalam keluarga
2

Tanyakan kepada pasien apa ia memiliki penyakit saat ini, jika tidak merasa ada berarti
ia hanya tahu mengenai masalah keluhan sakitnya,misalnya merasakan kedua
telinganya berdenging setelah habis bekerja.Perlu pula menanyakan riwayat sakit
terdahulunya untuk tahun apakah ia ada riwayat keluhan yang sama atau mengakibatkan
penyakitnya yang saat ini. Riwayat medis harus menentukan apakah pegawai pernah
menderita sakit telinga sebelumnya dan apakah dia pernah makan obat ototoksik,
misalnya, streptomycin. 1,2
- Riwayat pekerjaan :
Riwayat pekerjaan harus meliputi informasi pekerjaan sekarang dan semua pekerjaan
sebelumnya (khususnya yang berhubungan dengan pajanan terhadap bising, termasuk
pekerjaan paruh waktu). Beberapa pertanyaan yang menyangkut riwayat pekerjaannya,
seperti berikut ini : 1

Sudah berapa lama bekerja hingga sekarang ini


Bagaimana riwayat pekerjaan sebelumnya
Alat kerja, bahan kerja dan proses kerja yang digunakan
Barang yang diproduksi/dihasilkan
Waktu bekerja dalam sehari berapa lama dan waktu kerja dalam seminggu berapa

kali
Ada kemungkinan pajanan apa saja yang dialami
APD yang dipakai apa saja
Hubungan antara gejala dan waktu kerja
Pekerja lainnya ada yang mengalami hal yang sama

B. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan

Umum:

keadaanumum,

tanda-tanda

vital,

dan

pemeriksaan

fisik

menyeluruh. Pada pasien di skenario ini tidak disebutkan pemeriksaan umumnya, jadi
kemungkinan keadaan umumnya baik dan pemeriksaan fisik menmyeluruh juga bisa
baik. Sering penyakit akibat kerja efeknya berpengaruh terhadap tanda-tanda vital.
Misalnya adanya kenaikan tekanan darah ataupun detak jantung dikarenakan stres kerja
akibat dari kebisingan di tempat kerjanya. 1,2
- Pemeriksaan Khusus : karena pasien mengeluh telinga kirinya berdenging, maka
dilakukan pemeriksaan khususnya pada telinga pasien dengan menggunakan otoskop dan
beberapa tes seperti tes penala.

1,2,6

C. Pemeriksaan Penunjang
3

Audiometri nada murni (Pure Tone Audiometry atau PTA)


Audiometer nada murni dapat mengukur ambang batas pendengaran. Pemeriksaan ini
penting sekali untuk memastikan NIHL baik untuk penyaringan (konduksi udara) dan
diagnosis (konduksi tulang dan udara). Selama pemeriksaan PTA, nada murni
disampaikan menuju telinga melalui earphone yang sesuai. Ketulian timbul secara
bertahap dalam jangka waktu bertahun-tahun, yang biasanya terjadi dalam 8-10 tahun
pertama paparan. Pemeriksaan audiometri nada murni didapatkan tuli sensorineural
pada frekuensi tinggi (umumnya 3-6 kHz) dan pada frekuensi 4 kHz sering terdapat takik
(notch) yang patognomonik untuk jenis ketulian ini.
Terdapat ambang batas intensitas nada murni yaitu nada di atas ambang tersebut akan
terdengar dan sebaliknya, nada di bawah ambang tersebut tidak akan terdengar. Namun
hasil pemeriksaan dapat berbeda pada waktu pemeriksaan yang berbeda dipengaruhi
keterampilan operator alat, motivasi pekerja, dan adanya bising di sekitar tempat
pemeriksaan. 1,2
Tes PTA di tempat kerja digunakan untuk mencatat kondisi pendengaran para pegawai,
guna menemukan individu yang rentan terhadap bising (bisa untuk penyaringan pekerja
baru yang mau masuk), memonitor keadaan pendengaran berkurang selama bekerja
sebagai

pegawai,

dan

mengatur

program perlindungan

pendengaran.Pentingnya

mengetahui tingkat pendengaran awal para pekerja dengan melakukan pemeriksaan PTA
sebelum bekerja adalah bila audiogram sebelum bekerja baik, lalu setelah bekerja
menunjukkan ada ketulian, maka dapat diperkirakan berkurangnya pendengaran tersebut
akibat kebisingan di tempat kerja. Data dasar audiometri ini bisa dilakukan saat pertama
kali masuk ke tempat kerja (paling mudah bila pemeriksaan ini dimasukkan ke dalam
bagian pemeriksaan kesehatan sebelum diterima bekerja) dan nanti bisa sebagai rujukan
perbandingan hasil tes audiometri di kemudian hari. 1,2,6
Audiometri dilakukan berkala (tiap tahun atau tiap dua tahun sekali) untuk memonitor
nadanya pendengaran yang berkurang di antara pekerja yang bekerja di tempat tersebut
dan untuk mengkaji jumlah pekerja yang telah kehilangan pendengaran (bila ada) yang
terjadi selama ia bekerja sebagai pegawai di tempat tersebut. Pegawai harus terhindar
pajanan bising yang tinggi setidaknya 16 jam sebelum pemeriksaan audiometri berkala.
Audiometer yang dipakai untuk PTA harus sesuai dengan standar nasional atau
internasional. Petunjuk kalibrasi harus diikuti secara ketat. Bising pada latar belakang
harus kecil dan memenuhi standar yang ditentukan. Tes audiometri dilakukan oleh
petugas yang telah terlatih dan diawasi dokter. 2,3
4

Gambar 1. Normal Audiogram. 7

Gambar 2. NIHL Audiogram. 7

Profil audiologi NIHL


Profil audiologi NIHL adalah tuli sensorineural yang khas sebagai lesi koklea dan lebih
jelas terlihat pada daerah frekuensi tinggi audiogram antara 3-6 kHz. Jumlah
pendengaran berkurang paling banyak terjadi pada sekitar frekuensi 4 kHz dengan
jumlah kehilangan lebih sedikit di atas dan di bawah frerkuensi ini. Konfigurasi
audiometri ini disebut cekungan atau takik 4 kHz. Cekungan ini adalah tanda utama
NIHL bila ditemukan pada seseorang dengan riwayat pajanan terhadap bising.
Konfigurasi audiometri ini simetris pada kedua sisi. Pajanan yang terus berlangsung akan
menghasilkan pertambahan ukuran cekungan 4 kHz yang menyebar ke frekuensi yang
lebih tinggi dan lebih rendah. Frekuensi yang lebih tinggi pada 6 kHz ke atas biasanya
terkena pengaruh yang lebih besar dibandingkan dengan frekuensi 2 kHz ke bawah. Pada
kasus yang berat, frekuensi 1 kHz dapat dipengaruhi tapi jarang hingga berat. 2,6,7
Kerusakan dan profil biasanya simetris pada kedua sisi telinga walaupun dapat terjadi
perbedaan akibat perbedaan kerentanan kedua telinga, perbedaan ambang pendengaran
pada awal pemeriksaan dan keadaan pekerjaan yang spesifik. Profil audiologi serupa
dengan kehilangan konduksi pada frekuensi tinggi yang lain, lesi pada koklea dan
5

suprakoklea. Sebuah audiogram tanpa cadangan koklea (tidak ada perbedaan hantaran
udara dan hantaran tulang) menyingkirkan tuli konduksi pada frekuensi tinggi.
Keputusan apakah kelainan pendengaran terjadi akibat bising harus dibuat oleh dokter
setelah dokter melakukan pengkajian riwayat medis, pekerjaan, pemeriksaan telinga, dan
audiogram. 2,3,6
D. Pemeriksaan Tempat Kerja
Guna dari pemeriksaan ke tempat kerja ini untuk menemukan pajanan apa saja yang bisa
dialami oleh pasien.Terdapat beberapa faktor pajanan yang bisa menyebabkan penyakit
akibat kerja, yakni pajanan fisik, kimia, biologis, ergonomi, dan psikososial. Faktor ini
menjadi penyebab pokok dan menentukan terjadinya penyakit. Contoh keluhan sakit
punggung kemungkinan disebabkan karena masalah ergonomik; dermatitis kontak pada
pasien mungkin disebabkan oleh karena pajanan kimia ataupun biologis. Pasien di
skenario ini bekerja di bagian perakit mobil yang bisa menimbulkan kebisingan yang jika
diukur hasilnya >85dBA.

2,5

2. Pajanan yang Dialami


Pajanan saat ini dan sebelumnya (sejak 5 tahun yang lalu) yang dialami pasien masih
sama yakni bising dikarenakan pasien bekerja di bagian perakit mobil. Biasanya mesin
perakit memiliki tingkat kebisingan dari 100 dBA.
3. Hubungan Pajanan dengan Penyakit
Pasien mengatakan keluhan pendengaran sejak 3 tahun yang lalu,makin parah sejak 1
bulan yang lalu. Masa kerjanya 8jam/ hari dan tidak menggunakan APD .Dari sini dapat
disimpulkan memang ada hubungan antara pajanan dengan keluhan sakitnya. Mesin
perakit mobil memiliki tingkat kebisingan dari 90-105 dBA dan itu artinya sudah
melewati nilai ambang batas normal bising yakni 85 dBA/8 jam/hari. Bila kebisingan
melewati 85 dBA, lama-kelamaan menimbulkan keluhan berdenging (TTS) hingga
akhirnya kemampuan pendengaran berkurang dan mengakibatkan tuli akibat kerja
(NIHL).1,2
4. Pajanan yang Dialami Cukup Besar
- Patofisiologi NIHL
Mekanisme yang mendasari NIHL diduga berupa adanya proses mekanis dan
metabolikpada organ sensorik auditorik bersamaan dengan kerusakan sel sensorik atau
bahkan kerusakan total organ Corti di dalam koklea. Kehilangan sel sensorik pada daerah
yang sesuai oleh karena frekuensi yang terlibat dari pajanan merupakan penyebab NIHL
6

yang paling penting. Kepekaan terhadap stress pada sel rambut luar berada dalam kisaran
0-50 dB, sedangkan untuk sel rambut dalam di atas 50 dB. Biasanya bila ada terjadinya
TTS (Temporary Threshold Shift atau tuli sementara) sebelum NIHL, itu berarti sudah
ada kerusakan bermakna pada sel rambut luar telinganya. Frekuensi yang sangat tinggi
lebih dari 8 kHz mempengaruhi dasar koklea. 1,2
Proses mekanis
Berbagai proses mekanis yang dapat menyebabkan kerusakan sel rambut akibat pajanan
terhadap bising meliputi : 1-3
1. Aliran cairan yang kuat pada sekat koklea dapat menyebabkan robeknya membran
Reissner sehingga cairan endolimfe dan perilimfe bercampur mengakibatkan kerusakan
sel rambut.
2. Gerakan membran basilar yang kuat

dapat menyebabkan gangguan organ Corti

dengan pencampuran endolimfe dan kortilimfe yang mengakibatkan kerusakan sel


rambut.
3. Aliran cairan yang kuat pada sekat koklea dapat langsung merusak sel rambut dengan
melepaskan organ Corti atau merobek membran basilar. Proses di atas dikarenakan
bising intensitas tinggi dan NIHL bisa terjadi dengan cepat.
Proses metabolik
Proses metabolik yang dapat merusak sel rambut akibat pajanan bising meliputi : 2,3
1.Pembentukan vesikel/vakuol di dalam retikulum endoplasma sel rambut serta
pembengkakan mitokondria dapat berlanjut menjadi robeknya membran sel dan
hilangnya sel rambut.
2.Kehilangan sel rambut mungkin

disebabkan oleh kelelahan metabolik akibat

gangguan sistem enzim yang esensial untuk produksi energi, biosintesis protein, dan
pengangkutan ion.
3. Cedera stria vaskularis menyebabkan gangguan kadar Na,K,dan ATP. Hal ini
menyebabkan hambatan proses transport aktif dan pemakaian energi oleh sel sensorik.
Kerusakan sel sensorik menimbulkan lesi kecil pada membran retikular bersamaan
dengan percampuran cairan endolimfe dan kortilimfe serta perluasan kerusakan sel
sensorik lain.
4. Sel rambut luar lebih mudah terangsang suara dan membutuhkan energi yang lebih
besar sehingga menjadi lebih rentan terhadap cedera akibat iskemia.
7

5. Mungkin terdapat interaksi sinergis antara bising dengan pengaruh lain yang merusak
telinga. Daerah organ Corti sekitar 8-10 mm dari ujung basal (sesuai dengan daerah 4
kHz pada audiogram) dianggap sebagai daerah yang secara khas rentan terhadap
kebisingan. Walaupun penjelasan mengenai cekungan 4 kHz yang paling mungkin adalah
adanya ciri resonansi saluran telinga, penyebab lain juga telah dikemukakan. Hal ini
meliputi bahwa daerah 4 kHz mungkin lebih rentan karena insufisiensi vaskular akibat
bentuk anatomisnya yang tidak biasa di daerah ini dan amplitudo pemindahan di dalam
saluran koklea mulai terbentuk di daerah 4 kHz ini saat kecepatan perambatan
gelombang yang berjalan masih cukuip tinggi dan struktur anatomi koklea menyebabkan
pergeseran cairan pada daerah 4 kHz. 2,3
Efek Pendengaran Lain Akibat Bising
Tinitus (suara berdenging di dalam telinga) biasanya timbul segera setelah pajanan
terhadap bising dan dapat menjadi permanen bila pajanan bising tersebutterus
berlangsung dialami.Tinitus merupakan akibat pajanan bising bernada tinggi. Selain
tinitus, efek lain akibat kebisingan adalah vertigo. Vertigo hanya timbul setelah
mengalami pajanan bising dari suara mesin jet yang sedang menyala ataupun bisa
terjadinya vertigo sementara atau permanen jika mendapat pajanan bising setelah
ledakan senjata api. Namun vertigo tidak terjadi pada pajanan bising industri biasa
seperti yang terjadi pada tinitus. 1,2
Presbiakusis merupakan gangguan pendengaran akibat usia lanjut yang

timbul pada

tinggi.Sedangkan Socioacusis adalah istilah yang digunakan untuk tuli akibat


penyebab selain usia dan pajanan bising. 1
Efek Bising Pada Organ Selain Organ Pendengaran
Meningkatnya kadar kebisingan bisa menimbulkan stres dengan variasi detak jantung,
tekanan darah, pernapasan, gula darah, dan kadar lemak darah. Bertambahnya motilitas
saluran pencernaan dan tukak lambung juga dilaporkan ada. Penelitian mengemukakan
bahwa tingkat kebisingan >55 dBA menyebabkan timbulnya rasa terganggu dan
berkurangnya efisiensi kerja. 1,3
- Bukti Epidemiologis
Laporan dini tentang NIHL meliputi uraian tentang ketulian seorang pekerja
di pembangkit listik di daerah Kalimantan yang telah diteliti mengalami pajanan sekitar
94 dB dengan jam kerja 8 jam dan kurangnya pemberian APD. Akhirnya setelah para
pekerjanya diperiksa audiometri hasilnya terdapat pola NIHL dan mngeluhkan adanya
8

pengurangan dalam mendengar. Pada para pegawai di bandara pesawat yang sering
mendengar kebisingan suara pesawat terbang setelah diteliti dengan audiometri
terbanyak ditemukan pola NIHL (cekungan pada frekuensi sekitar 4 kHz) dan beberapa
diantaranya mengalami tuli sedang pada 6-8 kHz. 2,3
- Kualitatif
Cara atau Proses kerja : Pasien bekerja di bagian perakit mobil yang kebisingannya
sekitar 100 dB. Secara umum telah disetujui bahwa untuk amannya, pemaparan bising
selama 8 jam perhari, sebaiknya tidak melebihi ambang batas 85 dBA. Akibat dari
pajanan inilah membuat kerusakan pada sel rambut di telinga luarnya yang membuat
kemampuan mendengar semakin menurun (tidak sepeka dulu) menjadi tuli sementara
hingga akhirnya tuli permanen. 1,2
Lama kerja : Pasien bekerja 8 jam/hari
- Observasi Tempat dan Lingkungan Kerja
Tempat kerja pasien di bagian perakit dimana tingkat kebisingan mesin perakit mobil
sekitar 100 dB. Perlu diperhatikan juga apakah di area kerjanya ada peredam suara
ataupun ventilasi yang baik, lalu periksa juga apakah para pekerja mendapat alat
pelindung diri yang baik dan sesuai standar. Selain itu perlu diketahui apakah disana ada
pengontrolan pajanan.
- Pemakaian APD
Jenis-jenis alat pelindung telinga yang digunakan : 2,4,6
a. Sumbat telinga (ear plugs /insert device/ aural insert protector)
Dimasukkan ke dalam liang telinga sampai menutup rapat sehingga suara tidak
mencapai membran timpani. Sumbat telinga ini bisa mengurangi bising hingga 30 dBA
lebih.
b. Tutup telinga (ear muff/ protective caps/ circumaural protectors)
Menutupi seluruh telinga eksternal dan dipergunakan untuk mengurangi bising hingga
40- 50 dBA atau frekuensi 100 - 8000 Hz.
Pakailah APD yang sudah

sesuai dengan standar nasional/internasional. Yang perlu

diperhatikan dalam pemilihan alat pelindung telinga adalah : 2,4


1.Ear plug digunakan bila bising di atas 85 dBA
2.Ear muff dgunakan bila di atas 100 dBA
3.Kemudahan perhatikan cara pemakaian alat yang benar, biayanya agar tidak merugikan
perusahaan/tempat

kerjanya,lalu

kemudahan

membersihkan

APD

tersebut

dan

kenyamanan selama pemakaian APD.


9

- Jumlah pajanan
Dalam skenario hanya disebutkan 1 pajanan saja di tempat kerjanya yakni kebisingan.
5. Faktor Individu
Status kesehatan pasien : Perlu diketahui riwayat sakit pasien seperti riwayat infeksi,
riwayat dalam keluarga, kebiasaan olahraga, apakah pernah mengalami trauma kepala
atau sekitar daerah telinga. Perlu ditanyakan juga apakah dulu ada riwayat gangguan
pendengaran juga yang sama seperti saat ini atau dalam keluarga juga ada yang
mengalami hal yang sama. Penting juga menanyai riwayat pengobatan pasien karena
perlu dicurigai adakah pemakaian obat-obatan yang ototoksik seperti obat anti
tuberkulosis (isoniazid), aminoglikosida, klorokuin dan lain-lainnya.
Dalam skenario tidak disebutkan adanya riwayat sakit lainnya dan riwayat keluarga,
tidak ada riwayat pengobatan ataupun trauma. Umur pasien 45 tahun, masih bisa
dikatakan dalam tahap aman belum mengalami proses kehilangan sel rambut (sel
sensori) di telinga sehingga kemungkinan mengalami presbikusis tidak ada juga. 1,2
Status kesehatan mental : Tidak diketahui secara jelas. Tetapi pasien yang mengalami
pajanan di tempat kerja biasanya lama-lama akan menimbulkan stress kerja dikarenakan
pajanan tersebut telah mengurangi efisiensi kinerjanya, bisa sering mengalami kesalahan
saat bekerja ataupun kesulitan dalam komunikasi saat bekerja. 1,3
Higiene perorangan : Ini berguna untuk mengetahui apakah ada riwayat infeksi yang
bisa menjadi faktor penyebab sakit pasien. Misalnya infeksi telinga yang sampai-sampai
menyumbat saluran telinga (otitis media) atau bahkan merusak membran timpani
(penyakit meniere). 1
6. Faktor Lain di luar Pekerjaan
- Hobi : Di skenario pasien tidak mempunyai hobi mendengarkan musik dengan
earphone.
- Kebiasaan : tidak ada
- Pajanan yang ada di rumah : Tidak diketahui. Pajanan di rumah bisa berupa ke
psikisnya yakni stres bila ada permasalahan di rumah.
- Pekerjaan sambilan : Tidak diketahui.
7. Diagnosis Okupasi
Diagnosis okupasi berdasarkan hubungan dengan kausalnya, terbagi menjadi 4 tipe yakni
A) PAK atau PAHK (penyakit akibat hubungan kerja)
B) penyakit yang diperberat pajanan di tempat kerja
C) belum dapat ditegakkan informasi tambahan
10

D) bukan PAK.
Diagnosis okupasi untuk pasien skenario ini adalah penyakit akibat kerja (tipe A) yakni
NIHL (Noise Incuded Hearing Loss). Diagonis NIHL akibat kerja ini ditegakkan
berdasarkan riwayat pajanan terhadap bising di tempat kerja dan tidak di tempat lainnya,
pemeriksaan fisik yang telah menyingkirkan penyebab tuli lain dan profil audiologi. 1,2
Efek bising terhadap pendengaran mungkin terjadi sementara atau menetap. Efek ini
merupakan perubahan ambang batas pendengaran, bila hanya tuli sementara dan
reversible setelah penghentian pajanan bising disebut Noise induced temporary threshold
shift (NITTS) dan bila tulinya irreversible disebut Noise induced permanent threshold
shift (NIPTS) atau NIHL. 2,3
Pergeseran ambang

batas sementara (TTS) merupakan mekanisme perlindungan diri

akibat bising berintensitas tinggi yang dapat pulih setelah pajanan bising dihentikan.
Waktu yang dibutuhkan untuk kembali pulih dari TTS bervariasi. TTS timbul hanya
dalam waktu 2 menit setelah terjadi gejala TTS. Nilai TTS maksimum sekitar setengah
oktaf lebih tinggi daripada frekuensi kebisingan. TTS muncul pada 70-75 dB masingmasing pada frekuensi rendah dan frekuensi tinggi. Pemulihan TTS dimulai segera
setelah pajanan dihentikan dan hampir seluruh proses pemulihan terjadi dalam 16 jam.
Pada beberapa kasus, dari audiologi tampak pulih sempurna setelah 30 hari. Diduga
bahwa TTS merupakan kondisi yang mendahului terjadinya tuli secara permanen namun
hal ini belum dapat dibuktikan. Dikatakan bahwa untuk merubah NITTS menjadi NIPTS
diperlukan waktu bekerja dilingkungan bising selama 10-15 tahun, tetapi hal ini
bergantung juga kepada tingkat bising dan kepekaan seseorang terhadap bising. 1,2
NIHL merupakan tuli permanen sensorineural yang biasanya bilateral dan tidak ada
penyembuhan pendengaran walaupun pajanan dihentikan. NIPTS biasanya mulai terjadi
disekitar frekuensi 4 kHz dan perlahan-lahan meningkat dan menyebar ke frekuensi
sekitarnya. NIPTS mula-mula tanpa keluhan, tetapi apabila sudah menyebar sampai ke
frekuensi yang lebih rendah (2-3 kHz) keluhan akan timbul. Pada mulanya seseorang
akan mengalami kesulitan untuk mengadakan pembicaraan di tempat yang ramai, tetapi
bila sudah menyebar ke frekuensi yang lebih rendah maka akan timbul kesulitan untuk
mendengar suara yang sangat lemah. Takik bermula pada frekuensi 3-6 kHz, dan setelah
beberapa waktu gambaran audiogram menjadi datar pada frekuensi yang lebih tinggi.
Kehilangan pendengaran pada frekuensi 4 kHz akan terus bertambah dan menetap
setelah 10 tahun kemudian perkembangannya menjadi lebih lambat. 1,2
11

Differential Diagnosis
NIHL harus bisa dibedakan dengan tipe tuli sensorineural lainnya seperti presbycusis
ataupun tuli tipe konduktif. Pastinya untuk membedakan tipe tuli ini harus berdasarkan
dari pemeriksaan penunjangnya seperti tes penala dan audiometri. Namun anamnesis
juga diperlukan untuk mengetahui faktor resiko apa saja yang ada dan riwayat sakitnya.
Untuk diagnosa banding yang mendekati NIHL adalah presbikusis. Presbikusis ini
dipengaruhi oleh faktor usia. Sekitar usia 55-60 tahun seseorang mulai mengalami
gangguan pendengaran namun ada juga presbikusis dini yang bisa terjadi pada umur 40
tahun. Presbikusis ini termasuk dalam tipe tuli sensorineural.
Patofisiologinya dikarenakan adanya devaskularisasi pada koklea sehingga terjadi
pengurangan fungsi dari sel rambut. Hal ini akan terjadi dengan semakin bertambahnya
usia.

Gambar 3. Audiogram Presbycusis. 7


Diagnosa banding yang keduanya adalah penyakit meniere. Penyakit ini mengenai
telinga bagian dalam dengan karekteristiknya terdapat episode vertigo selama beberapa
menit hingga hitungan jam, ada fluktuasi antara kehilangan/pengurangan pendengaran
12

dan tinnitus. Dan sering juga pasien merasakan adanya tekanan yang penuh di
telinganya selama terjadi serangan. Biasanya ini terjadi pada satu telinga saja. Penyakit
meniere ini termasuk tuli sensorineural.
Patofisiologinya dikarenakan adanya distensi pada membran telinga dalam oleh karena
adanya kelebihan cairan atau inadekuatnya drainase cairan. Akibat distensi, membran
menjadi rupture sehingga terjadi percampuran antara endolimfe (inner) dan perilimfe
(outer) yang menyebabkan disturbansi yang memicu dizziness. Setelah membran kolaps
akan mengalami pemulihan, namun bisa terjadi eksaserbasi dan remisi.

Tabel 2. Berbagai Macam Kelainanan Tuli.


CONDUCTIVE HEARING LOSS SENSORINEURAL HEARING LOSS
1. Otitis Eksternal (akut dan kronik)

1.Occupational or noise induced hearing loss (NIHL)

2. Wax/lilin

2. Presbycusis

3. Eksostosis/osteoma

3. Penyakit Menire

4. Otitis media akut (OMA)

4. Sudden sensoriagnosneural loss (biasanya pada

5. Otitis media dengan efusi

1 telinga saja)

6. Perforasi membrane timpani

5. Cochlear otosclerosis

7. Otitis media supuratif kronik

6. Trauma (fraktur os temporal)

(OMSK)

7. Acoustic neuromas (vestibular schwannomas)

a. Kena pada mukosa


b. Ada Cholesteatoma
8. Otosclerosis

8. Ototoksisitas (Obat sistemik dan topikal) seperti obat


aminoglikosia, klorokuin, cisplatinum)

Pendekatan Epidemiologis (Komunitas) Identifikasi hubungan kausal antara


pajanan dan penyakit:
- Kekuatan Asosiasi
13

Bising didefinisikan sebagai suara yang tidak dikehendaki. Ada dua aspek penting untuk
mengatahui bahaya dari kebisingan yakni kualitas bunyi yang bisa diperoleh dari
frekuensi dan intensitas bunyi. Frekuensi (Hertsz/Hz) adalah rentangan fluktuasi partikel
udara yang dihasilkan oleh sumber suara. Frekuensi inilah yang memberikan kualitas
suara rendah tingginya suara.
Frekuensi yang dapat direspon oleh telinga manusia antara 20 20.000 Hz dan sangat
sensitive pada frekuensi antara 1-4 kHz. Frekuensi saat bicara biasanya berkisar 5004000 Hz (sekitar 50-60 dB), bila ada kerusakan pendengaran maka suara vokal yang
sekitar 4 kHz tidak akan terdengar. Intensitas bunyi adalah suatu ukuran banyaknya
energi yang menyebabkan vibrasi partikel udara yang dikirimkan ke telinga. Skala bagi
intensitas bunyi adalah skala logaritma dalam unit desibel (dB). 1
Bila tingkat suara meningkat 10 dB, maka intensitas suara yaitu banyaknya

energi

yang ditransmisikan ke telinga meningkat 10 kali lipat. Contoh 80 dB merupakan 10 kali


lipat dari 70 dB, dan 70 dB merupakan 10 kali lipat dari 60 dB, maka 80 dB
intensitasnya adalah 100 kali lipat intensitas 60 dB. 1,2
Ada asosiasi yang kuat antara pajanan bising yang berlebihan dengan gangguan
pendengaran. Peningkatan tingkat kebisingan yang terus-menerus dari berbagai aktivitas
manusia pada lingkungan industri dapat berujung kepada gangguan akibat kebisingan.
Efek kebisingan terhadap perilaku sebagai berikut ini : 1,3
1. Efek psikologis pada manusia (kebisingan dapat membuat kaget,mengganggu,
mengacaukan konsentrasi);
2. Menginterferensi komunikasi dalam percakapan dan lebih jauh lagi akan
menginterferensi hasil pekerjaan dan keselamatan bekerja.
3. Efek fisis (kebisingan dapat mengakibatkan penurunan kemampuan pendengaran dan
rasa sakit pada tingkat yang sangat tinggi).
Efek kebisingan terhadap telinga sebagai berikut ini : 3
- Bisa menimbulkan kerusakan permanen pada sel-sel rambut di dalam koklea yang
mengakibatkan penurunan kemampuan mendengar, tinnitus (berdenging), dan ada
pergeseran ambang pendengaran dengan meningkatnya kesulitan mendengar, khususnya
semakin kentara bila di ruang yang gaduh.
Namun gangguan pendengaran juga bisa disebabkan oleh hal-hal medis lain, misalnya: 1,3

Adanya sumbatan di telinga luar


Ada radang selaput lendir hidung yang menghalangi saluran eustachius dan
menyebabkan tekanan yang berlebihan di telinga bagian tengah.
14

Berbagai kondisi medis lainnya yang juga bisa menimbulkan gangguan


keseimbangan.

- Konsistensi : Tidak diberitahu dalam skenario kasus. Tapi bila berdasarkan


epidemiologi, kasus penyakit akibat kerja yang disebabkan pajanan bising seperti ini
biasanya konsisten ada setiap tahunnya, apalagi bila pihak pabrik tidak melakukan
pencegahan segera untuk mengendalikan kebisingan. 1
- Spesifisitas : Berdasarkan dari penelitian epidemiologi, di area kerja yang berhubungan
dengan mesin memang sering memberikan pajanan bising dengan intensitas yang tinggi
dan biasanya melebihi nilai ambang batas. Berikut ini contoh mesin dengan jumlah
intensitasnya : 4
Mesin print 90 dB
Kendaraan Motor 95 dB
Perlengkapan mesin pertanian 100 dB
Konser rock 110 dB
Mesin berat 110 dB
- Hubungan Waktu : Berdasarkan dari skenario, pasien merasakan kedua telinganya
berdenging setelah habis bekerja dan itu terjadi sejak 3 tahun ia bekerja.
Ambang batas keamanan akan pajanan bising yang direkomendasikan oleh Occupational
Safety and Health Admistration (OSHA) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah
ada dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. KEP-51/MEN/1999, tentang baku mutu
tingkat kebisingan, yaitu intensitas bising rata-rata tidak lebih dari 85 dBA selama 8 jam
per hari atau 40 jam per minggu. Nilai ambang batas kebisingan yang berlaku di tempat
kerja ini merupakan intensitas tertinggi dan nilai rata-rata yang masih dapat diterima. 1,2
Biasanya alat mesin selain memiliki pajanan bising juga bisa memiliki pajanan vibrasi
atau getaran. Getaran alat kerja yang kontak langsung maupun tidak langsung pada
lengan dan tangan tenaga kerja juga sudah ditetapkan batas keamanannya yakni sebesar 4
m/s2.1,2
- Hubungan Dosis
Kegiatan operasional di pabrik-pabrik yang menggunakan peralatan-peralatan seperti
mobil dan compressor serta pengaliran fluida dalam pipa-pipa, valve, gas exhaust
merupakan sumber kebisingan yang bisa sampai 90 dBA. Peralatan-peralatan tersebut
dalam kegiatan produksi diasumsikan sebagai sumber bising.

15

Kebisingan berpotensi mempengaruhi kenyamanan dan kesehatan operator yang bekerja


di dalam lingkungan pabrik. Gangguan yang tidak dicegah maupun diatasi bisa
menimbulkan kecelakaan, baik pada pekerja maupun orang di sekitarnya. Peningkatan
kebisingan yang terus-menerus pada lingkungan industri dapat berujung kepada ketulian
yang permanen (NIHL). 3
Tabel 2. Lama Pajanan yang Diperbolehkan Menurut Tingkat Pajanan yang
Diperbolehkan. 5
Lama Kebisingan yang

Maksimum (dBA)

Diperbolehkan/hari (Jam)
8 jam
6 jam
4 jam
2 jam
1 jam
0.5 jam
0.25

85
88
90
95
100
105
110

PENATALAKSANAAN
Sesuai dengan penyebab ketulian, penderita sebaiknya dipindahkan kerjanya dari
lingkungan bising. Bila tidak mungkin dipindahkan dapat dipergunakan alat pelindung
telinga terhadap bising, seperti sumbat telinga (ear plug), tutup telinga (ear muff) dan
pelindung kepala (helmet). 9
Oleh karena tuli akibat bising adalah tuli sensorineural koklea yang bersifat menetap
(irreversible), bila gangguan pendengaran sudah mengakibatkan kesulitan berkomunikasi
dengan volume percakapan biasa, dapat dicoba pemasangan alat bantu dengar/ABD
(hearing aid). Apabila pendengarannya telah sedemikian buruk, sehingga dengna
memekai ABD pun tidak dapat berkomunikasi dengan adekuat perli dilakukan
psikoterapi agar dapat menerima keadaanya. Latihan pendengaran (auditory training)
agar dapat menggunakan sisa pendengaran dengan ABD secara efisien dibantu dengan
membaca ucapan bibir (lip reading), mimik dan gerakan anggota badan, serta bahasa
isyarat untuk dapat berkomunikasi. Di samping itu, oleh karena pasien mendengar
suaranya sendiri sangat lemah, rehabilitasi suara juga diperlukan agar dapat
mengendalikan volume, tinggi rendah dan irama percakapan. 9
Pada pasien yang telah mengalami tuli total bilateral dapat dipertimbangkan untuk
pemasangan implan koklea (cochlear implant). 9
PENCEGAHAN
16

Tabel 2. Batas lama pajanan dan intensitas yang didengar


Lama pajan/hari
24
16
8
4
2
1
30
15
7,5
3,75
1,88
0,94
28,12
14,06
7,03
3,53
1,76
0,88
0,44
0,22
0,11

Jam

Menit

Detik

Intensitas (dB)
80
82
85
88
91
94
97
100
103
106
109
112
115
118
121
124
127
130
133
136
139

Tidak boleh terpajan lebih dari 140 dB, walau sesaat


Tujuan utama perlindungan terhadap pendengaran adalah untuk mencegah terjadinya NIHL
yang disebabkan oleh kebisingan di lingkungan kerja. Program ini terdiri dari 3 bagian yaitu :
10

1. Pengukuran pendengaran
Test pendengaran yang harus dilakukan ada 2 macam, yaitu :

Pengukuran pendengaran sebelum diterima bekerja.


Pengukuran pendengaran secara periodik.

2. Pengendalian suara bising


Dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu :

Melindungi telinga para pekerja secara langsung dengan memakai ear muff ( tutup
telinga), ear plugs ( sumbat telinga ) dan helmet ( pelindung kepala ).
Mengendalikan suara bising dari sumbernya, dapat dilakukan dengan cara :
memasang peredam suara
menempatkan suara bising ( mesin ) didalam suatu ruangan yang terpisah dari
pekerja
3. Analisa bising

17

Analisa bising ini dikerjakan dengan jalan menilai intensitas bising, frekwensi bising, lama
dan distribusi pemaparan serta waktu total pemaparan bising. Alat utama dalam pengukuran
kebisingan adalah sound level meter .
Program pencegahan yang dapat dilakukan meliputi hal-hal berikut (NIOSH, 1996):
1. Monitoring paparan bising
2. Kontrol engineering dan administrasi
3. Evaluasi audiometer
4. Penggunaan Alat Pelindung Diri (PPE)
5. Pendidikan dan Motivasi
6. Evaluasi Program
7. Audit Program
Manfaat utama program ini adalah mencegah kehilangan pendengaran akibat kerja;
kehilangan pendengaran akan mengurangi kualitas hidup seseorang dalam pekerjaannya.
Hubungan antara tenaga kerja dengan pengusaha akan lebih baik, angka turn-over karena
lingkungan kerja akan rendah.
1. Bagi pengusaha
Taat hukum, hubungan baik dengan karyawan, menunjukkan itikad baik, meningkatkan
produktivitas, mengurangi angka kecelakaan, mengurangi angka kesakitan, mengurangi lost
day dan menaikkan kepuasan karyawan.
2. Bagi karyawan
Mencegah ketulian; ketulian akibat bising tidak terasa (tanpa sakit), bersifat menetap
(irreversible). Serta bisa mengurangi stres.
Untuk melaksanakan program ini diperlukan hal-hal sebagai berikut :
1. Dukungan manajemen
2. Berupa policy statement
3. Integrated dengan program K3
4. Ada penanggung jawab program yang ditunjuk resmi Penanggung jawab bekerja sama
dengan manajemen dan karyawan membuat Hearing Lost Prevention Plan and Policy.
Manajemen dan karyawan konsisten melaksanakan program.
5. SOP dari setiap langkah dalam plan & policy harus jelas
6. Kontraktor dan vendor harus taat pada plan & policy tersebut.
Dalam menyusun program konservasi pendengaran ini perlu diperhatikan beberapa hal,
antara lain:
18

1. Berpedoman bahwa pekerja tetap sehat dalam lingkungan bising.


2. Dilaksanakan oleh semua jajaran, dari pimpinan tertinggi sampai pekerja pelaksana.
Komitmen pimpinan dan pekerja sangat penting.
3. Mengurangi dosis paparan kebisingan dengan memperhatikan tiga unsur :
a. Sumber: mengurangi intensitas kebisingan (disain akustik, menggunakan mesin/alat
yangkurang bising dan mengubah metode proses).
b. Media: mengurangi transmisi kebisingan (menjauhkan sumber bising dari pekerja,
mengaborsi dan me-ngurangi pantulan kebisingan secara akustik pada dinding, langit-langit
dan lantai, menutup sumber kebisingan dengan barrier.
c. Tenaga kerja: mengurangi penerimaan bising (penggunaan alat pelindung diri, ruang
isolasi. rotasi kerja, jadwal kerja , dan lain-lain).
4. Mempertimbangkan kelayakan teknis dan ekonomis.
5. Utamakan pencegahan bukan pengobatan, proaktif bukan reaktif, kesejahteraan bukan
santunan.
6. NAB bukanlah garis pemisah antara sakit dan sehat, namun merupakan pedoman.
Penilaian dilakukan dengan memantau kebisingan lingkungan dan kesehatan pendengaran
tenaga kerja (IDKI, 1994).
Program selengkapnya adalah sebagai berikut
I. MONITORING PAPARAN BISING
Tujuan monitoring paparan bising, yang sering juga disebut survei bising, bertujuan untuk :
1. Memperoleh informasi spesifik tentang tingkat kebisingan yang ada pada setiap tempat
kerja.
2. Menetapkan tempat-tempat yang akan diharuskan meng-gunakan APD.
3. Menetapkan pekerja yang harus (compulsory) menjalani pemeriksaan audiometri secara
periodik.
4. Menetapkan kontrol bising (baik administratif maupun teknis).
5. Menilai apakah perusahaan telah memenuhi persyaratan UU yang berlaku.
Prinsip monitoring paparan bising :
Pengukuran dilakukan oleh pegawai yang mempunyai kualifikasi sebagai berikut :
1. SOP pengukuran harus ada dan jelas.
2. Hasil dikomunikasikan pada manajemen dan pegawai,
- paling lama dalam waktu 2 minggu
- untuk Jamsostek di Indonesia : 2 x 24 jam
19

Ada 2 macam monitoring paparan bising :


1. Monitoring pendahuluan
Pengukuran bising pendahuluan untuk menentukan masalah yang potensial berbahaya untuk
pendengaran, berdasarkan lokasi tempat kerja. Survei ini dilaksanakan jika terdapat kesulitan
dalam berkomunikasi, adanya keluhan pekerja bahwa telinga berdengung setelah bekerja.
2. Monitoring bising terperinci
Dilakukan berdasarkan hasil monitoring bising pendahuluan, dengan menetapkan lokasi
khusus yang memerlukan penelitian lebih lanjut. Pemeriksaan dilakukan secara terperinci
di setiap lokasi. Monitoring bising terperinci dilakukan dalam tiga tahap :
a. Pengukuran lingkungan kerja slow response dengan skala A (dB).
Buat gambar peta bising (luas < = 93 meter). Bila hasil lebih dari 80 dB maka lingkungan
tersebut cukup aman untuk bekerja, sedangkan bila antara 80-92 dB perlu pengukuran dan
tindakan lebih lanjut (skala b).
b. Pengukuran di tempat kerja (<85 dB)
Dilakukan dengan skala B (intensitas bunyi) , pengukuran dengan peta, ukur tempat dan
ruang kerja, ukur maximun dan minimumnya., bila lebih dari 85 dB, lakukan tahap
selanjutnya
c. Lamanya paparan (jumlah jam terpapar)
Buat logbook untuk setiap orang berdasarkan job classification, catat lamanya terpapar
(sekarang digunakan audiometer).
II. KONTROL - engineering dan administratif
Kontrol engineering ditujukan pada sumber bising dan
sebaran bising; contohnya :
1. Pemeliharaan mesin (maintenance) yaitu mengganti, mengencangkan bagian mesin yang
longgar, memberi pelumas secara teratur, dan lain-lain.
2. Mengganti mesin bising tinggi ke yang bisingnya kurang.
3. Mengurangi vibrasi atau getaran dengan cara mengurangi tenaga mesin, kecepatan putaran
atau isolasi.
4. Mengubah proses kerja misal kompresi diganti dengan pukulan.
5. Mengurangi transmisi bising yang dihasilkan benda padat dengan menggunakan lantai
berpegas, menyerap suara pada dinding dan langit-langit kerja.
6. Mengurangi turbulensi udara dan mengurangi tekanan udara.
7. Melakukan isolasi operator dalam ruang yang relatif kedap suara.
20

Pengendalian administratif dilakukan dengan cara :


1. Mengatur jadual produksi
2. Rotasi tenaga kerja
3. Penjadualan pengoperasian mesin
4. Transfer pekerja dengan keluhan pendengaran
5. Mengikuti peraturan
III. EVALUASI AUDIOMETRI
Pengukuran audiometrik sebaiknya dilakukan pada :
1. Pre-employment
2. Penempatan ke tempat bising
3. Setiap tahun, bila bising > 85 dB
4. Saat pindah tugas keluar dari tempat bising
5. Saat pensiun/purna tugas
Tipe audiogram :
1. Pre-employment/preplacement/Baseline
2. Annual monitoring
3. Exit
Policy mengenai audiogram :
1. Base line atau data dasar :
- dalam 6 bulan mulai bekerja di tempat bising (85 dA)
- untuk baseline 14 jam bebas bising, atau menggunakan APD
2. Annual audiogram Bagi yang TWA > 85 dBA
3. Evaluasi :
- setiap tahun dibandingkan dengan base-line
- bila STS (Significant Threshold Shift) > 10 dB (rata-rata pada 2000-3000-4000 Hz), maka
disebut + (positif)
Bila STS (+) maka yang dilakukan adalah :
- periksa dokter
- periksa tempat kerja
- periksa data kalibrasi alat
- komunikasikan dengan karyawan tersebut
- jika karena penyakit, konsulkan ke dokter THT
- periksa ulang dalam waktu 1 (satu) tahun
Bila STS (+) karena pekerjaannya :
21

- Bila belum menggunakan APD, diharuskan memakai


- Bila sudah memakai, beri petunjuk ulang
- Komunikasikan dengan pegawai dan atasan secara tertulis
- Bila perlu, konsul THT
Lakukan revisi baseline, bila STS persisten atau membaik
IV. PENGGUNAAN APD
Beberapa faktor yang mempengaruhi penggunaan alat pelindung telinga :
1. Kecocokan; alat pelindung telinga tidak akan memberikan perlindungan bila tidak dapat
menutupi liang telinga rapatrapat.
2. Nyaman dipakai; tenaga kerja tidak akan menggunakan APD ini bila tidak nyaman dipakai.
3. Penyuluhan khusus, terutama tentang cara memakai dan merawat APD tersebut.
Jenis-jenis alat pelindung telinga :
1. Sumbat telinga (earplugs/insert device/aural insert protector)
Dimasukkan ke dalam liang telinga sampai menutup rapat sehingga suara tidak mencapai
membran timpani.
Beberapa tipe sumbat telinga :
a. formable type
b. custom-molded type
c. premolded type
Sumbat telinga bisa mengurangi bising s/d 30 dB lebih.
2. Tutup telinga (earmuff/protective caps/circumaural protectors)
Menutupi seluruh telinga eksternal dan dipergunakan untuk mengurangi bising s/d 40- 50 dB
frekuensi 100 - 8000 Hz.
3. Helmet/ enclosure
Menutupi seluruh kepala dan digunakan untuk mengurangi maksimum 35 dBA pada 250 Hz
sampai 50 dB pada frekuensi tinggi
Pemilihan alat pelindung telinga :
1. Earplug bila bising antara 85 - 200 dBA
2. Earmuff bila di atas 100 dBA
3. Kemudahan pemakaian, biaya, kemudahan membersihkan dan kenyamanan

22

Pedoman yang sering digunakan adalah sebagai berikut:


TWA/dBA
< 85

Pemakaian APD
Tidak wajib

Pemilihan APD
Bebas memilih

85-89

Optional

Bebas memilih

90-94

Wajib

Bebas memilih

95-99
>100

Wajib
Wajib

Pilihan terbatas
Pilihan sangat terbatas

APD ini harus tersedia di tempat kerja tanpa harus membebani pekerja dari segi biaya,
perusahaan harus menyediakan APD ini. Cara terbaik sebenarnya bukan penggunaan APD
tetapi pengendalian secara teknis pada sumber suara.
V. PENDIDIKAN DAN MOTIVASI
Program pendidikan dan motivasi menekankan bahwa program konservasi pendengaran
sangat bermanfaat untuk melindungi pendengaran tenaga kerja, dan mendeteksi perubahan
ambang pendengaran akibat paparan bising. Tujuan pendidikan adalah untuk menekankan
keuntungan tenaga kerja jika mereka memelihara pendengaran dan kualitas hidupnya.
Lebih lanjut penyuluhan tentang hasil audiogram mereka, sehingga tenaga kerja termotivasi
untuk berpartisipasi melindungi pendengarannya sendiri. Juga melalui penyuluhan
diharapkan tenaga kerja mengetahui alasan melindungi telinga serta cara penggunaan alat
pelindung telinga
VI. EVALUASI PROGRAM
Evaluasi program ditujukan untuk mengevaluasi hasil program-program konservasi, dengan
sasaran :
1. Review program dari sisi pelaksanaan serta kualitasnya, misalnya pelatihan dan
penyuluhan, kesertaan supervisor dalam program, pemeriksaan masing-masing area untuk
meyakinkan apakah semua komponen program telah dilaksanakan.
2. Hasil pengukuran kebisingan, identifikasikan apakah ada daerah lain yang perlu dikontrol
lebih lanjut.
3. Kontrol engineering dan administratif.
4. Hasil pemantauan audiometrik dan pencatatannya; bandingkan data audiogram dengan
baseline untuk mengukur keberhasilan pelaksanaan program.
5. APD yang digunakan.
VII. PROGRAM AUDIT
23

1. Audit Eksternal, dapat dilakukan program audit oleh pihak luar untuk mengetahui costeffectiveness dan cost-benefit dari program konservasi pendengaran.
2. QQ program (Quality Qontrol Program) dilakukan secara internal, terus menerus untuk
menilai efektivitas program konservasi pendengaran

PROGNOSIS
Kerusakan yang ditimbulkan tidak dapat kembali seperti semula. Tetapi sifatnya akan
tetap stabil selama menghindari faktor pajanan.
KESIMPULAN
NIHL (Noise Induced Hearing Loss) dapat ditegakkan dengan menggunakan 7 langkah
diagnosis Penyakit Akibat Kerja, dengan anamnesis dan pemeriksaan yang baik, NIHL
sangat mudah untuk ditegakan. Pengetahuan akan dapat rusaknya pendengaran oleh
karena pajanan bising harus dijadikan suatu dasar dalam pencegahan terjadinya NIHL,
karena NIHL sendiri sangat sulit untuk diobati. Perlindungan untuk setiap pekerja wajib
dilakukan untuk menghindari terjadinya NIHL pada pekerja.

24

DAFTAR PUSTAKA
1. J Jeyaratnam, K David. Buku ajar praktik kedokteran kerja. Jakarta : EGC; 2010.
2. Roestam AW. Cermin Dunia Kedokteran No 144 : Gangguan pendengaran akibat
bising.Juli 2013. Diunduh dari : http://www/telmed.fkumy.net; 27 Oktober 2016.
3. Ridley J. Ikhtisar kesehatan dan keselamatan kerja. Edisi 3. Jakarta : Erlangga;
2010.
4. Brookshausher.

Protect

Your

Ears.

Juni

2013.

Diunduh

dari

http://www.nidcd.nih.gov/health/hearing/pages/ruler.aspx; 27 Oktober 2016.


5. Kelly WJ. Noise Exposure Assessment. July 2012. Diunduh dari
:http://www.cdc.gov/niosh/docs/98-126/chap1.html; 26 Oktober 2016.
6. Boyle PJ, Barahona M, Shanahan F. Current occupational and environmental
medicine.Edisi 4. USA : McGraw Hill Company; 2010.
7. Siegel E. Noise induced hearing loss. June 2010.

Diunduh

dari

:http://www.osh.dol.govt.nz/publications/booklets/health-tools-09/pg4.shtml;26
Oktober 2016.
8. Mathur,NN.Telinga bagian dalam, kebisingan-induced gangguan pendengaran
perawatan&manajemen.Edisi2009.Diunduhdari,http://www.medcsape.org/article
NIHL/aer.html, 26 Oktober 2016.
9. Bashiruddin J, Soetirto I. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok
kepala &leher. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.2010.h. 10-3,
21-56.
10. Oedono RMT. Penatalaksanaan penyakit akibat lingkungan kerja dibidang THT.
Disampaikan pada PIT Perhati, Batu-Malang, 27-29 Oktober, 1996.

25