Anda di halaman 1dari 50

1

LAPORAN KEGIATAN
KEPANITERAAN KLINIK SENIOR
KANTOR KESEHATAN PELABUHAN KELAS II
PANJANG 08 12 AGUSTUS 2016

Disusun oleh :
Ahmad Amsori
Novia Isna Patmala
Tri Rahayu Marbaniati
Revi Fitradewi
Rino Aguatian Praja

11310022
11310263
11310381
11310311
11310328

Diajukan kepada :
Kepala KKP Kelas II Panjang

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MALAHAYATI
BANDAR LAMPUNG
2016
LEMBAR PERSETUJUAN
Laporan Kegiatan Kepaniteraan Klinik Senior Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati di Kantor Kesehatan Pelabuhan
(KKP) Kelas II Panjang 08 - 12 Agustus 2016 telah disetujui dan diterima pada :
Hari/Tanggal :

Agustus 2016

Judul

: Laporan Kegiatan Kepaniteraan Klinik Senior Kantor Kesehatan


Pelabuhan Kelas II Panjang 08 - 12 Agustus 2016

Penulis :

Ahmad Amsori
11310022
Novia Isna Patmala 11310263
Tri Ayu Marbaniati
11310381
Revi Fitradewi
11310311
Rino Aguatian Praja
11310328

Mengetahui,
Kepala KKP Kelas II Panjang,

Suyadi, SH., SKM

Kepala Departemen IKM


FK Universitas Malahayati,

dr. T. Marwan Nusri,

M.P.H
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami ucapkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
rahmat dan karuniaNya sehingga kami dapat menyelesaikan laporan kegiatan di
Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas II Panjang yang dilaksanakan pada
tanggal 08-12 Agustus 2016 sebagai salah satu syarat Kepaniteraan Klinik Senior
di Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat / Ilmu Kedokteran Pencegahan / Ilmu
Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati Bandar
Lampung. Penyusunan laporan ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari

berbagai pihak, baik secara moral maupun material. Oleh karena itu, penulis
menyampaikan terima kasih kepada:
1. Bapak Suyadi, SH, SKM, selaku Kepala KKP Kelas II Panjang
2. Bapak Suprapto, SKM, M. Epid., selaku Kepala Seksi Upaya Kesehatan dan
Lintas Wilayah (UKLW) KKP Kelas II Panjang
3. Bapak H. Hazairin, SKM, selaku Kepala Seksi Pengendalian Karantina dan
Surveilans Epidemiologi (PKSE) KKP Kelas II Panjang
4. Bapak Ferdinan Gultom, S.Kep, NERS, M.Kes, selaku Seksi Upaya
Kesehatan dan Lintas Wilayah (UKLW) KKP Kelas II Panjang
5. Bapak Rudiyanto, SKM., M.Epid, selaku Seksi Pengendalian Karantina dan
Surveilans Epidemiologi (PKSE) KKP Kelas II Panjang
6. Bapak Thamrin, SKM, MKM, selaku Kepala Seksi Pengendalian Risiko
Lingkungan (PRL) KKP Kelas II Panjang
7. Bapak Suparyoto, SKM, selaku Seksi Pengendalian Risiko Lingkungan (PRL)
KKP Kelas II Panjang
8. Seluruh rekan staf KKP Kelas II Panjang
9. Seluruh rekan penulis yang terlibat dalam pembuatan laporan kegiatan ini
Bandar Lampung, 11 Agustus
2016
Penulis
DAFTAR ISI
iii
LEMBAR PERSETUJUAN
KATA PENGANTAR
....................................................................................................................................
1
DAFTAR ISI
....................................................................................................................................
2
BAB I PENDAHULUAN
....................................................................................................................................
3

1.1 Latar Belakang


....................................................................................................................................
3
1.2 Tujuan
....................................................................................................................................
3
1.3 Manfaat
....................................................................................................................................
4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
....................................................................................................................................
5
2.1. Definisi KKP
....................................................................................................................................
5
2.2. Tugas Pokok dan Fungsi KKP
....................................................................................................................................
5
2.3. Tata Cara Pemeriksaan Kesehatan Kapal
.........................................................................................................................
6
2.4. Tata Cara Karantina Kapal
.........................................................................................................................
8
2.5. Imunisasi Haji.........................................................................................
.........................................................................................................................
14
2.6. Macam-Macam Dokumen Kesehatan Karantina .............................................
.........................................................................................................................
19
2.7. Macam-Macam Penyakit Karantina ..................................................................
.........................................................................................................................
24
2.8. Fumigasi .......................................................................................................
.........................................................................................................................
25

BAB III JADWAL KEGIATAN


.........................................................................................................................
29
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................... 30
BAB V DOKUMENTASI KEGIATAN
.........................................................................................................................
39
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................... 44

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Salah satu rangka mewaspadai penyebaran masuknya vektor penular
penyakit melalui pelabuhan, maka dilakukan upaya penyehatan lingkungan
pelabuhan yang sesuai dengan dengan International Health Regulation (IHR)
tahun 2005 yang memberikan perhatian khusus kepada Public Health Emergency
International Concern (PHEIC). Hal ini diberlakukan di wilayah pelabuhan,
Bandara dan lintas batas darat negara sebagai pintu masuk dan keluarnya penyakit
untuk cegah tengkal masuknya penyakit
Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor
356/MENKES/Per/IV/2008, Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) merupakan Unit
Pelaksana Teknis (UPT) Kementrian Kesehatan RI yang berwenang mencegah
dan mengendalikan vektor penularan penyakit yang masuk dan keluar pelabuhan.
Upaya yang dilakukan berupa pemutusan mata rantai penularan penyakit secara

profesional menurut standar dan persyaratan yang telah ditetapkan. Begitupun


dengan KKP Kelas II Panjang yang bertugas melaksanakan pencegahan penyakit
potensial wabah, surveilans epidemiologi, kekarantinaan, pengendalian dampak
kesehatan lingkungan, pelayanan kesehatan, pengawasan OMKABA, serta
pengamanan terhadap penyakit baru dan penyakit yang muncul kembali,
bioterorisme, unsur biologi, kimia dan pengamanan radiasi di wilayah kerja
bandara, pelabuhan, dan lintas darat negara di titik-titik yang termasuk ruang
lingkup kerja KKP Kelas II Panjang
1.2

Tujuan
1.2.1. Tujuan Umum
Mengetahui tentang organisasi, tugas dan fungsi terkait kesehatan di
KKP Kelas II Panjang dalam upaya cegah tangkal penyakit dari dan
dalam negri
1.2.2. Tujuan Khusus
1.2.2.1 Untuk mengetahui definisi KKP
1.2.2.2 Untuk mengetahui tugas pokok dan fungsi KKP
1.2.2.3 Untuk mengetahui tata cara pemeriksaan kesehatan kapal
1.2.2.4 Untuk mengetahui tata cara karantina kapal oleh tim KKP
1.3

Manfaat
1.3.1. Bagi mahasiswa, sebagai sumber informasi mengenai kegiatan
KKP dalam rangka cegah tangkal penyakit
1.3.2. Bagi KKP Kelas II Panjang, sebagai evaluasi untuk menyempurnakan kegiatan KKP di masa yang akan datang
1.3.3. Bagi masyarakat, sebagai sumber informasi mengenai peranan
KKP
1.3.4. Bagi instansi pendidikan kesehatan, sebagai evaluasi kegiatan
pendidikan kesehatan komunitas di masa depan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Definisi KKP
Berdasarkan Kepmenkes RI nomor 64 tahun 2015 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan, Kantor Kesehatan
Pelabuhan (KKP) adalah unit pelaksana teknis di lingkungan Kementerian
Kesehatan yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada
Direktorat Jenderal Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit.

2.2.

Tugas Pokok dan Fungsi KKP


KKP memiliki 16 Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi), yaitu :
1. Pelaksanaan kekarantinaan
2. Pelaksanaan pelayanan kesehatan
3. Pelaksanaan pengendalian risiko lingkungan di bandara, pelabuhan,
dan lintas batas negara

4. Pelaksanaan pengamatan penyakit, penyakit potensial wabah, penyakit


baru, dan penyakit yang muncul kembali
5. Pelaksanaan pengamanan radiasi pengion dan non pengion, biologi,
dan kimia
6. Pelaksanaan sentra/simpul jejaring surveilans epidemiologi sesuai
penyakit yang berkaitan dengan lalu lintas nasional, regional, dan
internasional.
7. Pelaksanaan, fasilitasi, dan advokasi kesiapsiagaan dan penaggulangan
kejadian luar biasa (KLB) dan bencana bidang kesehatan, serta
kesehatan matra termasuk penyelenggaraan kesehatan haji
8. Pelaksanaan, fasilitasi, dan advokasi kesehatan kerja di lingkungan
bandara, pelabuhan, dan lintas batas negara
9. Pelaksanaan pemberian sertifikat kesehatan obat, makanan, kosmetika
dan alat kesehatan serta bahan adiktif (OMKABA) ekspor dan
mengawasi persyaratan dokumen kesehatan OMKABA impor
10. Pelaksanaan pengawasan alat angkut dan muatannya
11. Pelaksanaan pemberian pelayanan kesehatan di wilayah kerja bandara,
pelabuhan dan lintas batas negara
12. Pelaksanaan jejaring infomasi dan teknologi bidang kesehatan
bandara, pelabuhan dan lintas batas negara
13. Pelaksanaan jejaring kerja dan kemitraan bidang kesehatan di bandara,
pelabuhan dan lintas batas negara
14. Pelaksanaan kajian kekarantinaan, pengendalian risiko lingkungan,
dan surveilans epidemiologi
15. Pelaksanaan pelatihan tehnis dibidang kesehatan bandara, pelabuhan,
dan lintas batas darat negara
16. Pelaksanaan ketatausahaan dan kerumahtanggaan KKP
2.3.

Tata Cara Pemeriksaan Kesehatan Kapal


Berdasarkan KMK nomor 425/Menkes/SK/IV/2007 tentang
Pedoman Penyelenggaraan Karantina Kesehatan di KKP yang bertujuan
untuk membuat terlaksananya kegiatan kekarantinaan kesehatan di
pelabuhan, penyelenggaraan identifikasi faktor risiko menyangkut alat

angkut dan muatannya, crew, serta lingkungan pelabuhan dan bandara.


Maka manusia, barang, kontainer, dan alat angkut adalah sasaran
identifikasi faktor risiko dengan perhatian kepada :
1. Alat angkut :
a. Pelabuhan tempat kapal singgah terakhir kali sebelum sekarang
b. Asal asli kapal
2. Penumpang, meliputi awak dan orang yang diantar :
a. Penumpang yang sakit
b. Penumpang yang menderita penyakit menular
c. Jenis penyakit menular yang menyerang
d. Daerah asal penumpang
3. Barang :
a. Bahan berbahaya
b. Bahan makanan dan/atau minuman busuk
c. Binatang dan/atau tumbuhan
4. Lingkungan :
a. Vektor suatu peyakit
b. Pencemaran udara, air, dan tanah sekitar wilayah kerja
c. Higienitas dan sanitasi makanan dan/atau minuman
Tahap tidak lanjut dilakukan pada keadaan sebagai berikut :
1. Bila dalam pemeriksaan kapal dan pemeriksaan perorangan tidak
ditemukan hal-hal yang membahayakan atau dapat menularkan
penyakit karantina, kepada kapal tersebut diberikan izin bebas
karantina (free pratique) oleh petugas KKP dan selanjutnya kapal
dapat berlabuh
2. Bila dalam pemeriksaan kapal dan pemeriksaan perorangan ditemukan
hal-hal yang memungkinkan terjadinya penularan penyakit karantina,
petugas KKP melakukan tindakan kesehatan untuk penyehatan kapal
dan sesudah itu kepada kapal diberikan izin bebas karantina (free
pratique) oleh petugas KKP dan selanjutnya kapal dapat berlabuh
3. Untuk kapal yang datang dari pelabuhan luar negeri
tersangka/terjangkit penyakit karantina, kepada kapal tersebut
dilakukan pemeriksaan kesehatan kapal dan bila perlu dilakukan
tindakan kesehatan untuk penyehatan kapal. Setelah pemeriksaan

10

selesai, kepada kapal tersebut diberikan izin bebas karantina (free


pratique) oleh petugas KKP dan selanjutnya kapal dapat berlabuh
4. Untuk kapal yang telah diberikan radio pratique setelah kapal sandar,
petugas KKP dengan membawa surat tugas mendatangi nahkoda kapal
untuk konfirmasi pemberian radio pratique dan :
a. Memeriksa kesehatan kapal (bila perlu)
b. Menyerahkan rekam (copy of) free pratique
5. Pelanggaran nyata terhadap pratique dikenai sanksi hukum berdasar
UU melalui PPNS (Penyidik PNS)
Berkaitan dengan organisasi bagi Tim Karantina Kesehatan di KKP adalah
sebagai berikut :

2.4

Tata Cara Karantina Kapal


Berdasarkan UU nomor 1 tahun 1962 tentang Karantina Laut pasal
29, karantina kapal memiliki karakteristik sebagai berikut :

11

1. Tindakan karantina mencakup pemeriksaan kesehatan dan segala


usaha penyehatan terhadap kapal, bagasi, muatan barang, muatan
hewan dan muatan tanaman
2. Tindakan penyehatan terhadap bagasi dan muatan barang dilakukan,
bila hama penyakit karantina dan barang-barang tersebut akan
diturunkan dipelabuhan.
3. Terhadap hewan, diturunkan atau tidak, atau dipindahkan ke kapal lain
dilakukan usaha-usaha penyehatan, kalau dokter pelabuhan
menganggap perlu
4. Pelaksanaan tindakan penyehatan harus dilakukan secepat mungkin
dengan sedapat-dapatnya tidak menyebabkan kerusakan pada alat
pengangkutan dan muatan
5. Surat pos, buku-buku dan barang-barang cetakan lainnya dibebaskan
dari segala usaha penyehatan dimaksudkan pada poin 1 dan 2,
terkecuali paket yang dicurigakan
Berdasarkan UU nomor 1 tahun 1962 tentang Karantina Laut pasal 20
sampai 28, tata cara karantina kapal adalah sebagai berikut :
1. Tata cara pada kedatangan kapal :
a. Tiap kapal yang datang dari luar negeri berada dalam karantina
b. Tiap kapal yang datang dari suatu pelabuhan dan/atau daerah
wilayah Indonesia yang ditetapkan terjangkit suatu penyakit
karantina berada dalam karantina
c. Tiap kapal yang mengambil penumpang dan/atau muatan dari
kapal yang disebut dalam poin a dan b berada dalam karantina.
d. Kapal yang disebut pada poin a, b, dan c dinyatakan bebas dari
karantina bila telah mendapat surat izin karantina
e. Nakhoda kapal yang dalam karantina dilarang menurunkan atau
menaikkan orang barang, tanaman dan hewan, sebelum
memperoleh surat izin karantina
f. Nakhoda kapal menyampaikan permohonan untuk memperoleh
suatu izin atau memberitahukan suatu keadaan di kapal dengan
memakai isyarat sebagai berikut :

12

Siang hari :
1. Bendera Q :
Kapal saya sehat/saya minta izin karantina
2. Bendera Q diatas panji pengganti kesatu :
Kapal saya tersangka
3. Bendera Q diatas bendera L :
Kapal saya terjangkit
Malam hari :
Lampu merah diatas lampu putih dengan jarak maksimum 1,80
meter : saya belum mendapat izin karantina
g. Izin lepas karantina diberikan oleh dokter pelabuhan setelah
dilakukan pemeriksaan-pemeriksaan dan terdapat bahwa kapal itu
sehat atau kalau segala tindakan yang dianggap perlu oleh dokter
pelabuhan telah selesai dilakukan
h. Jika kepada suatu kapal tidak dapat diberikan izin lepas karantina,
tetapi dokter pelabuhan berpendapat bahwa bahaya kemasukan
serangga suatu penyakit karantina tidak seberapa membahayakan,
maka dokter pelabuhan dapat memberikan izin terbatas karantina
kepada kapal yang bersangkutan untuk jangka waktu yang tertentu
i. Jika dalam waktu berlakunya izin lepas dan/atau izin lepas terbatas
karantina timbul suatu kematian atau penyakit karena suatu
penyakit karantina, izin yang dimaksud pada poin g dan h tidak
berlaku lagi. Dalam hal itu kapal menuju ke suatu pelabuhan
karantina untuk mendapat tindakan-tindakan karantina yang
diperlukan
j. Untuk kapal yang datang dari luar negeri dan akan singgah di suatu
pelabuhan bukan pelabuhan karantina dan untuk kapal yang
mempunyai pelayaran tertentu antar luar negeri dan pelabuhanpelabuhan Indonesia bukan pelabuhan karantina oleh Menteri
Kesehatan dapat diberikan surat izin sementara karantina tanpa
dibebaskan dari tindakan karantina
k. Surat izin yang dimaksudkan pada poin j dapat diberikan atas
permintaan perusahaan pelayaran kapal tersebut yang bertempat

13

kedudukan di Indonesia atau mempunyai hubungan lalu-lintas


pelayaran tetap dengan tempat-tempat tertentu
l. Kepada kapal yang tidak mau tunduk pada peraturan karantina
tidak diberikan "izin karantina", kepadanya diperintahkan supaya
berangkat lagi atas tanggungan sendiri dan tidak diizinkan
memasuki pelabuhan lain di Indonesia
m. Kapal tersebut pada poin l diizinkan mengambil bahan bakar, air
dan bahan makanan di bawah pengawasan dokter pelabuhan.
n. Kapal yang tersebut pada poin l yang terjangkit demam kuning
terhadapnya dilakukan tindakan karantina
o. Pemeriksaan kesehatan atas suatu kapal oleh dokter pelabuhan
dilakukan secepat mungkin kecuali kalau keadaan cuaca tidak
mengizinkan
p. Urutan pemeriksaan yang dimaksudkan pada poin o ditetapkan
dokter pelabuhan
q. Nakhoda kapal menyampaikan segala keterangan kepada dokter
pelabuhan dan memberi segala bantuan yang diminta oleh penjabat
tersebut. Jika di kapal bekerja seorang dokter kapal, maka dokter
tersebut ikut serta melakukan pemeriksaan kesehatan yang
dimaksudkan pada poin o
r. Keterangan mengenai keadaan kesehatan kapal diberikan oleh
nakhoda (dan jika ada dokter kapal, juga oleh dokter tersebut) atau
dokter kapal di bawah sumpah kepada dokter pelabuhan
s. Pada waktu kapal tiba di pelabuhan orang yang terjangkit dapat
diturunkan dari kapal dan diasingkan, jika diminta oleh nakhoda,
hal ini adalah suatu keharusan
t. Dokter pelabuhan dapat melakukan pengawasan karantina terhadap
seorang tersangka
u. Pengawasan karantina ini tidak boleh diganti dengan isolasi,
kecuali bila dokter pelabuhan berpendapat, bahwa kemungkinan
penularan oleh si tersangka besar sekali

14

v. Terhadap kapal Angkatan Bersenjata pemeriksaan kesehatan dapat


diganti dengan keterangan-keterangan tertulis atas pertanyaanpertanyaan yang diajukan oleh dokter pelabuhan; keteranganketerangan tertulis itu dibuat oleh komandan kapal tersebut
w. Jika keterangan-keterangan yang dimaksudkan pada poin v
berdasarkan pendapat/pertimbangan dokter pelabuhan tidak
mencukupi, maka dilakukan pemeriksaan kesehatan
x. Pada waktu tiba dipelabuhan nakhoda kapal menyediakan

dokumen-dokumen sebagai berikut :


Keterangan kesehatan maritim
Keterangan hapus-tikus, atau bebas hapus-tikus yang berlaku
Sertifikat-sertifikat vaksinasi
Buku kesehatan sekedar mengenai kapal-kapal yang dimaksud dalam pasal
19 UU nomor 1 tahun 1962 tentang Karantina Laut
y. Dokter pelabuhan dapat memeriksa daftar penumpang, awak kapal
dan muatan
2. Tata cara pada pemberangkatan kapal :
a. Dokter pelabuhan mengambil tindakan untuk :
Mencegah pemberangkatan orang yang terjangkit atau
tersangka berpenyakit karantina
Mencegah dimasukkannya barang-barang, tanamanan atau
hewan, dan lain-lain benda yang dapat diduga akan
menyebarkan infeksi penyakit karantina di dalam kapal yang
akan berangkat
b. Untuk mempercepat pemberangkatan kapal, maka pemeriksaan
kesehatan terhadap penumpang dilakukan pada waktu yang sama
dengan pemeriksaan Jawatan Bea dan Cukai dan lain-lain jawatan
c. Seorang dalam perjalanan antar negara yang pada waktu tiba
dipelabuhan berada dalam pengawasan karantina diperkenankan
untuk meneruskan perjalanannya
d. Nakhoda kapal menyiapkan pada waktunya segala dokumen
kesehatan yang dimaksud pada pasal 16, 17 dan 19 UU nomor 1
tahun 1962 tentang Karantina Laut

15

e. Dokter pelabuhan memeriksa segala dokumen kesehatan dan


mencegah pemberangkatan sesuatu kapal yang tidak mempunyai
f. dokumen yang dimaksud pada pasal 17 UU nomor 1 tahun 1962
tentang Karantina Laut yang berlaku
g. Jika diminta, diberikan surat keterangan perihal tindakan-tindakan
yang dilakukan terhadap kapal serta alasannya dan cara
melakukannya tanpa pembayaran keterangan dapat juga diberikan
mengenai penumpang dan muatan
2.5 Vaksin Meningitis
Berdasarkan Nota Diplomatik dari Kedutaan Besar Kerajaan Saudi
Arabia di Jakarta dengan Surat Dirjen Protokol dan Konsubr
No.5881PWIIO6161 tanggal 7Juni 2006 yang antara lain rnemuat tentang
persyaratan pemberian Vaksinasi Meningitis (ACYW 135) sebagai
prasyarat mendapatkan visa haji dan umroh perlu dilengkapi dengan bukti
vaksinasi yaitu International Certificate of Vaccination ( ICV). Selama ini
belum ada peraturan kebijakan yang mengatur pelaksanaan vaksinasi
Meningitis rneningokokus bagi jemaah ibadah umroh, karena itu
dipanbang perlu untuk menetapkan suatu prosedur tetap tentang
pelaksanaan vaksinasi Meningitis menlngokokus dan penerbitan ICV bagi
jernaah ibadah umroh.
I. Landasan Hukum
1. Undang Undang No.13 tahun 2008 tentang Penyelenggaraan lbadah
Haji;
2. Undang-Undang No.4 tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular;
3. Undang-Undang No.1 Tahun 1962 tentang Karantina Laut;
4. Undang-Undang No.2 Tahun 1962, tentang Karantina Udara;
5. Peraturan Pemerintah No.13 tahun 2009 tentang Jenis dan Tarif atas
Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak;

16

6.Peraturan Menteri Kesehatan RI No.356/MENKES/PER/IV/2008


tentang Organisasi & Tata Kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan;
7.Peraturan Pemerintah No.40 tahun 1991 tentang Pedoman
Penanggulangan Wabah Penyakit Menular;
8.Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
No.4241Menkes/SWIV12007 tentang Pedoman Upaya Kesehatan
Pelabuhan dalam rangka Karantina Kesehatan; .
9. Peraturan Menteri Kesehatin .RI No. 131lMenkeslPerllllll984 tentang
Pengamanan Kesehatan Perjalanan Peserta Umrah;
10. Instruksi Direktur .Jenderal Pengendalian Penyakit' dan
Penyehatan . Lingkungan No.HK.07.01/D111.4/217/2008 tentang
~emberlakuan Kartu ICV baru;
11. International Travel and Health 2008
12. lnternational Health Regulations (IHR) 2005
Il. Vaksinasi Meningitis Meningokokus Bagi Jemaah Umroh
II.1 Institusi Vakslnasl :
Kepala Dinas Kesehatan Propinsi berkoordinasi dengan
Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan di wilayah kerjanya untuk
mengusulkan kepada Menteri Kesehatan tentang penunjukkan
lnstitusi Pelayanan Kesehatan selain KKP sebagai pelaksana
vaksinasi Meningitis meningokokus bagi jemaah ibadah umroh.
11.2 Perencanaan & Pengadaan Vaksin:
Pengadaan Vaksin Meningitis meningokokus (ACYW 135)
untuk jemaah ibadah umroh diselenggarakan oleh masing-masing
lnstitusi Pelayanan Pelaksana Vaksinasi .
11.3 Sarana Dan Prasarana
a. Ruang Vakslnasl
Berisi : meja periksa, meja instrumen, tirai penutup.

17

b. Peralatan :
1. Tensimeter dan stethescope
2. Thermometer
3. Alat penghancur jarum suntik
4. Coldchain
5. Coolbox
6. Ice pack
7. Nierbeken
8. Pinset serurgis
9. Gunting
c. Bahan :
1. Vaksin
2. Adrenalin
3. lnfus set, Abbocath
4.Cairan Nacl 0,9 % atau RL Bahan penanggulangan syok
anafilaksis
5. Kapas
6. Alkohol70% ') 7. Disposible Syringe 1 cc dan 3 cc
8. Handscoen
9. Plester,Tabung 02, isi, regulator beserta Facemask
d. Formulir:
1. Formulir permohonan vaksinasi,
2. Form status pasien,
3. Surat Keterangan kontra indikasi Vaksinasi ( Bahasalnggris)
4. Buku ICV
11.4 Jenis kegiatan dan langkah-langkah
a. Jenis Kegiatan:
1. Pemeriksaan Kesehatan
2. Pemberian Vaksinasi

18

3. Penerbitan buku ICV


b. Langkah-Langkah Kegiatan
1. Pemohon vaksinasi mendaftar di loket pendaftaran;
2. Pemohon vaksinasi diarahkan menuju ruangan pelayanan
vaksinasi;
3. Pemohon vaksinasi mengisi formulir permohonan Vaksinasi
yang meliputi : Nama, umur, tempat tanggal lahir, jenis
kelamin, pekerjaan, alamat, No Telp, No.Pasport; Negara
tujuan, jenis vaksinasi, nama dan alamat agen perjalanan.
Selain itu formulir ini juga berisi bahwa pernohon telah
mengetahui informasi tentang vaksinasi dan kemungkinan
efek sarnpingnya. Untuk wanita usia subur, perlu dilengkapi
data bahwa pada saat pemeriksaan dilakukan, pemohon tidak
dalam keadaan hamil. Kemudian formulir ditandatangani
oleh pemohon. Selain sebagai alat administrasi, formulir ini
juga berfungsi sebagai Inform Consent;
4. Petugas mencatat identitas pemohon ke dalam buku registrasi
khusus vaksinasi yang meliputi: Nomor buku ICV, Nama,
Nomor pasport, umur, tempat tanggal lahir, jenis kelamin,
pekerjaan, alamat, Negara tujuan, jenis vaksin, tanggal
pemberian vaksin dan masa berlaku vaksinasi, Nomor Batch
Vaksin dan tanggal kadaluarsanya;
5. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan kepada pemohon berupa
pemeriksaan fisik. Hasil pemeriksaan ini dicatat dalam form
status pasien, yang juga berisi tentang riwayat alergi, riwayat
vaksinasi dan riwayat penyakit dahulu;
6. Bila ditemukan kontra indikasi atas keterangan dokter ahli,
maka pemberian vaksinasi tidak dilakukan, maka kepada
pemohon diberikan penjelasan tentang akibat yang rnungkin

19

timbul bila tidak mendapatkan imunisasi, dan diberikan surat


keterangan secara tertulis;
7. Bila tidak ditemukan kontra indikasi, selanjutnya :
a. Vaksinator mencuci tangan dengan sabun, kemudian
dilanjutkan dengan memakai handscoon
b. Ambil vaksin yang akan dipakai, lakukan pengecekan vial
vacsin untuk memastikan nama jenis vaksin, tanggal
kadaluarsa dan warna larutan vaksin
c. Untuk kemasan vaksin yang berbentuk beku kering,
dilakukan pencampuran dengan cairan pelarutnya sesuai
dengan petunjuk.Kemudian dikocok sampai rata, lalu
perhatikan warna larutan vaksin. Warna larutan vaksin yang
baik yaitu putih
bening jernih, jika tidak maka berarti larutan vaksin tersebut
sudah rusak walaupun belum kadaluarsa, jadi vaksin tersebut
tidak dapat digunakan.
d. Untuk vaksin multi dosis yang sudah dioplos, maka
sebaiknya di habiskan dalam waktu 8 jam, jika sudah lewat
batas waktu tersebut maka efektifitas vaksin sudah
berkurang, sisa vaksin tersebut tidak dapat dipakai dan harus
dibuang sesuai dengan prosedur
e. Kemudian aspirasi larutan vaksin yang sudah siap pakai,
lalu ganti jarum suntiknya dengan yang baru. Vaksin sudah
siap untuk disuntikkan.
f. Setelah dilakukan dlsinfeksi pada kulit dengan kapas air
hangat, kemudian dilakukan penyuntikan vaksin.
Penyuntikan secara sub kutan yaitu posisi jarum suntik
menembus kulit dengan kemiringan 45 pada daerah
deltoid). Setelah jarum

20

menembus kulit dilakukan aspirasi sedikit untuk memastikan


bahwa jarum suntik tidak masuk kedalam pembuluh darah.
Selanjutnya dilakukan penyuntikan secara perlahan sampai
larutan vaksin habis. Setelah itu jarum dicabut, lalu lubang
bekas penyuntikan segera ditutupi dengan kapas dan
diplester.
Bila terjadi syok anafilaktik, atasi dengan segera
menyuntikkan adrenalin 1:1000 dengan dosis 0,2 sld 0,3 cc
secara intramuskular. Pasang infus dan berikan oksigen.
Lanjutkan dengan observasi ketat tanda-tanda vital seperti
tensi, nadi dan pernafasan serta kesadaran. Bila sampai
terjadi henti nafas dan henti jantung lakukan RJP. Sementara
itu siapkan fasilitas ambulan untuk merujuk pasien ke Rumah
sakit. Bila dalam 15 menit belum ada perubahan, penyuntikan
adrenalin dapat dilakukan lagi seperti sebelumnya.
h. Setelah semua proses penyuntikan selesai, pisahkan syringe
disposible dari sampah medis yang lain untuk kernudian dilakukan
penghancuran jarum suntik dengan alat khusus.
11.5 Pemeliharaan Mutu Vaksin
Vaksin Meningitis meningokokus (ACYW 135) yang digunakan
adalah yang sudah disetujui oleh WHO, dengan persyaratan :
a. belum kadaluarsa
b. tersimpan dengan baik dalam cold chain dengan suhu 2'C sld 8 C
c. tidak berubah secara fisik.
11.6 Institusi Penerbitan ICV
a. Vaksinasi yang dilakukan di lnstitusi Pelayanan Kesehatan di
luar KKP :

21

1. lnstitusi Pelayanan Kesehatan memberikan Surat Keterangan


Vaksinasi Meningitis meningokokus yang memuat nama
institusi, nama, tanggal lahir dan jenis kelamin yang
bersangkutan; tanggal; bulan dan tahun pelaksanaan vaksinasi;
nama vaksin, dosis, No.Batch, masa berlaku vaksin sebagaimana
terlampir.
2. Surat Keterangan Vaksinasi digunakan untuk mendapatkan
ICV dari KKP sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI
No.3561MENKESlPERllV12008 tentang Organisasi & Tata
Kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan;
b. Vaksinasi yang dilakukan di Klinik Kantor Kesehatan
Pelabuhan :
1. Buku ICV ditandatangani oleh yang bersangkutan dihadapan
petugas vaksinasi, bagi anak-anak tandatangan dapat diwakili
oleh orang tua wali, sedangkan bagi yang buta huruf dapat
mempergunakan cap jempol jari kanan.
2. Buku ICV diserahkan pada yang bersangkutan setelah
Ditandatangani oleh Pejabat KKP yang berwenang berdasarkan
Peraturan perundangan yang berlaku (Kepala KKPl Pejabat
yang telah ditunjuk berdasarltan Surat Keputusan Direktur
Jenderal Pengendalian Penyakit & Penyehatan Lingkungan).
11.7 Penarikan Retrlbusl Dalam Rangka Penerbitan ICV
Diatur sesuai ketentuan yang berlaku pada PP No.13 tahun
2009 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara
Bukan Pajak;
III. Pelaporan pelaksanaan :

22

- Kepala Dinas Kesehatan Propinsi dan Kepala Kantor Kesehatan


Pelabuhan melakukan pendataan dan membuat laporan tentang
pelaksanaan vaksinasi Meningitis rneningokokus, stok vaksin, dan
penerbitan dokumen ICV di wilayah kerjanya;
- Laporan ditujukan kepada Menteri Kesehatan Direktur Jenderal
pengendalian dan pemberantasan penyakit Penyakit setiap bulan pada
minggu pertama bulan berikut.
IV. Pengawasan dan pengendalian
Pengawasan dan pengendalian pelaksanaan vaksinasi Meningitis
meningokokus dilakukan oleh Kepala Dinas Kesehatan Propinsi dan
Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan.
V. Koordinasi dan jenjang kerja
1. Administratur Pelabuhan bandara
2. lmigrasi
3. Bea Cukai
4. Kedutaan Kerajaan Arab Saudi
5. Biro perjalanan wisata Haji dan Umroh
6. Asosiasi Muslim Penyelenggara
2.6 Macam-Macam Dokumen Kesehatan Karantina
Penertiban Free Pratique Kedatangan Kapal dari Luar Negri
a. Penertiban Free Pratique Kedatanngan Kapal dari Luar Negri
Free Pratique adalah dokumen kesehatan yang diberikan kepada kapal
yang datang dari luar negeri. Dimana dokumen free pratique diberikan
jika setelah pemeriksaan kapal oleh tim dari Kantor Kesehatan
Pelabuhan dinyatakan kapal bebas dari faktor risiko penyakit menular
dan penyakit potensial wabah.
Langkah langkah penerbitan free pratique :

23

1. Agent pelayaran membuat surat permohonan penerbitan free


pratique kepada Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan. Surat
permohonan disampaikan paling lambat 1 x 24 jam.
2. Petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan menerima surat permohonan
penerbitan free pratique dari agent pelayaran
3. Dilakukan pemeriksaan kapal ( sebelum dilakukan pemeriksaan
diatas kapal, kapal yg datang dari Luar Negeri wajib mengibarkan
bendera Kuning, setelah dilakukan pemeriksaan oleh petugas KKP
dan dinyatakan aman baru bendera kuning diturunkan )
4. Penerbitan free pratique
b. Penertiban Ship Sanitation Control Certificate (SSCC)/Ship Sanitation
Control Exemption Certificate (SSCEC)
SSCEC adalah dokumen kesehatan yang diberikan kepada alat angkut
kapal yang setelah dilakukan pemeriksaan kapal tim Kantor Kesehatan
Pelabuhan Kelas II Balikpapan dan dinyatakan kapal bebas dari tanda
tanda kehidupan tikus. SSCEC berlaku selama 6 bulan. Jika dalam
pemeriksaan terdapat tanda tanda kehidupan tikus maka diterbitkan SSCC
dan dilakukan tindakan pengedalian oleh Kantor Kesehatan Pelabuhan
Kelas II Balikpapan.
Langkah langkah penerbitan SSCEC/SSCC
1. Agent pelayaran membuat surat permohonan penerbitan SSCEC
kepada Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan
2. Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan mendisposisikan permohonan
tersebut kepada Kepala Seksi Pengendalian Karantina dan SE
(Untuk menerbitkan SSCEC) dan Kepala Seksi Pengendalian
Risiko Lingkungan (Untuk pemeriksaan kapal dalam rangka
penerbitan SSCEC)
3. Kepala seksi Pengendalian Risiko Lingkungan melaporkan hasil
pemeriksaan kepada kepala KKP
4. Kepala KKP mendisposisikan hasil pemeriksaan tersebut
5. Agent pelayaran melakukan penyelesaian pembayaran

24

6. Petugas KKP meregistrasi SSCEC / SSCC yang akan dikeluarkan


kedalam buku registrasi penerbitan SSCEC /SSCC.
7. Petugas KKP menyerahkan Sertifikat kepada Agent Pelayaran
c. Penertiban Buku Kesehatan Kapal
Setiap kapal yang melakukan pelayaran wajib mempunyai buku
kesehatan kesehatan kapal (Health Book) sebagai alat koordinasi antar
Kantor Kesehatan Pelabuhan dengan nakhoda. Apabila dalam
pemeriksaan dokumen kesehatan kapal ditemukan kapal yang tidak atau
belum mempunyai buku kesehatan kapal maupun lembaran buku
kesehatan tersebut telah habis, maka diharuskan membuat buku
kesehatan baru yang diterbitkan oleh Kantor Kesehatan Pelabuhan
setempat
Langkah langkah penerbitan buku kesehatan kapal :
1. Agent pelayaran membuat surat permohonan kepada Kepala Kantor
Kesehatan Pelabuhan untuk penerbitan buku kesehatan kapal baru
atau berganti nama serta yang telah habis atau buku hilang
2. Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan mendisposisikan kepada
Kepala Seksi Pengendalian Karantina dan Surveilans Epidemiologi
untuk melakukan pemriksaan fisik dan dokumen kesehatan pada
setiap kapal yang melakukan pelayaran di wilayah Indonesia.
3. Bagi kapal baru atau kapal berganti nama, Buku Kesehatan Kapal
harus didahului dengan pemeriksaan fisik kapal serta pemeriksaan
sanitasi kapal dalam rangka penerbitan SSCEC/SSCC.
4. Bagi kapal yang buku kesehatannya habis, Buku Kesehatan Kapal
langsungsung diterbitkan bila dokumen lainnya lengkap dan
berlaku.
5. Bagi kapal yang buku kesehatannya hilang, surat permohonan perlu
disertai dengan berita acara kehilangan dari kepolisian setempat.
6. Agent pelayaran menyelesaikan pembayaran
7. Petugas menyerahkan Buku Kesehatan yang telah diisi kepada agent
pelayaran

25

d. Penertiban Surat Izin Berlayar Kapal (PORT HEALTH CLEARANCE)


Setiap kapal yang akan berlayar kedalam maupun luar negeri diberikan
surat ijin berlayar (SIB). SIB akan diberikan jika memenuhi persyaratan
kesehatan seperti SSCEC yang masih berlaku, buku kesehatan yang
valid.
Langkah langkah penerbitan surat ijin berlayar kapal :
1. Agent pelayaran membuat permohonan penerbitan surat izin
berlayar kapal (PHC)
2. Petugas KKP memeriksa kelengkapan dokumen kesehatan kapal
a. Dokumen kesehatan
b. Pengisian buku kesehatan
c. Membubuhkan stempel
d. Membubuhkan tanda tangan
e. Legalisasi crew list
f. Hasil pengamatan langsung
3. Petugas KKP memasukkan dan mencatat data kedalam buku
registrasi in out clearance
4. Bila dokumen kesehatan lengkap maka kapal melalui agent
pelayaran diterbitkan izin berlayar kesehatan.
5. Agent pelayaran menyelesaikan pembayaran.
6. Penerbitan surat ijin berlayar kapal (PHC) beserta kelengkapan
dokumen kepada agent pelayaran
e. Penertiban Sertifikat OMKABA Ekspor/Import
1. Agent/eksportir/pemohon mengajukan permohonan health
certificate yang ditujukan kepada kepala KKP dengan membawa
kelengkapan dokumen :
a. COA ( Certificate Of Analysis )
b. Invoice
c. PEB ( Pemberitahuan Eksport Barang )
d. Ocean Bill of Loading
e. Surat pernyataan penggunaan barang
f. Surat kuasa dari ekportir kepada agen yang ditunjuk untuk
mengurus perijinan eksport barang (dikuasakan pihak ke tiga)
yang dibubuhi materai secukupnya.
g. Nomor registrasi dari Badan POM jika produk tersebut telah
dipasarkan di dalam negeri dan telah diolah

26

2. Petugas KKP mengambil sampel di lapangan melakukan


pemeriksaan/dan melakukan pemeriksaan fisik barang, apabila :
a. Hasilnya dokumen lengkap dan berlaku maka barang diberikan
stiker Passed Health Security Check kemudian diterbitkan
Health Certificate
b. Hasilnya dokumen lengkap dan berlaku tetapi fisik barang tidak
memenuhi syarat, barang diberikan Label Health Security
Check dan diterbitkan Health Certificate
c. Hasilnya dokumen tidak lengkap dan tidak berlaku dan fisik
barang tidak memenuhi syarat maka tidak diterbitkan Health
Certificate
3. Untuk perusahaan/eksportir yang baru pertama kali mengajukan
Health Certificate maka dilakukan kunjungan pemeriksaan
lapangan ke lokasi pabrik/gudang penyimpanan, guna melihat
proses produksi, hygiene dan sanitasi gedung.
4. Untuk persyaratan barang barang yang tidak diperdagangkan dan
hanya digunakan untuk keperluan sendiri harus memenuhi syarat
sebagai berikut :
a. Surat permohonan yang ditujukan kepada kepala Kantor
Kesehatan Pelabuhan
b. Daftar jenis dan jumlah barang OMKABA yang dibawa
c. Surat pernyataan penggunaan yang isinya hanya digunakan
untuk keperluan sendiri tidak untuk diperdagangkan
d. Untuk produk obat disertakan surat keterangan dari dokter yang
menerangkan bahwa pembawa menderita penyakit tertentu
2.7 Macam-Macam Penyakit Karantina
a. Ruang Lingkup
Secara operasional penyelenggaraan faktor resiko penyakit karentina dan
penyakit menular potensial wabah meliputi:
Alat angkut (kapal laut, pesawat) dan muatannya (termaksut

kontainer)
Manusia (ABK/crew, penumpang)

27

Lingkungan pelabuhan dan bandara


b. Jenis-jenis faktor resiko penyakit karentina dan penyakit menular

potensial wabah
Virus yang menginfeksi penumpang maupu crew kapal/pesawat
Bakteri yang menginfeksi penumpang maupu crew kapal/pesawat
Protozoa yang menginfeksi penumpang maupu crew kapal/pesawat
Vektor yang menjadi perantara penyakit karantina dan penyakit
menular wabah

Alat angkut/kapal yang singgah/berlabuh dalam waktu pendek ata panjang


perluh di curigai adanya faktor resiko munculnya penyakit menular
potensial wabah, seperti SARS, flu burung, influenza A (AI). Pengawasan
kapal di lakukan sesaat setelah kapal bersandar di pelabuhan dengan
memperhatikan hal-hal tersebut dibawah ini antara lain :

Pelabuhan singgah terakhir, dengan tujuan untuk memastikan

wabah/ KLB penyakit menular di wilayah tersebut (affected area)


Asal kapal, dengan tujuan untuk menentukan riwayat penjalanan

yang pernah dilakukan


Penumpang kapal meliputi ABK/crew, penumpang dari pelabhan asal ke
pelabuhan tujuan dengan menggunakan kapal/pesawat. Penumpang
merupakan faktor resiko yang paling rentan untuk menjadi suatu penyakit
menular potensial wabah. Hal-hal yang perluh di perhatikan :
Ada tidaknya penumpang kapal yang sedang sakit
Ada tidaknya penumpang yang menderita penyakit menular
Jumlah penumpang kapal yang sedang sakit menular
Jenis penyakit menular yang menyerang penumpang kapal
Ada tidaknya penumpangyang berasal dari wilayah terjangkitnya
suatu penyakit menular
Identifikasi pada barang. Barang yang dibawah penumpang maupun awak
kapal yang di letakan dalam kabin maupun yang di bagasikan juga bisa
menjadi faktor risiko munculnya penyakit menular potensial wabah. Hal-hal
yang perluh diperhatikan:

28

Ada tidaknya bahan berbahaya yang terbawah oleh penumpang di

kabin maupun di bagasi


Ada tidaknya bahan makanan/minuman yang mudah busuk yang

terbawah penumpang di kabin maupun bagasi


Ada tidaknya binatang/tumbuhan yang terbawah penumpang di
kabin maupun bagasi

Identifikasi masalah di pelabuhan. Media lingkungan (air, tanah, udara,


biota) dengan segala komponen dan sifatnya merupakan faktor resiko yang
harus di kendalikan. Adapun kegiatan identifikasi di lingkungan yang perluh
di perhatikan adalah:

Ada vektor di lingkungan di pelabuhan yang menjadi perantara

penularan penyakit
Ada tidaknya pencemaran air, udara, dan tanah yang dapat

menimpulkan masalah kesehatan masyarakat


Hygienie dan sanitasi makanan dan minuman yang dapat
menimbulkan masalah kesehatan

2.8 Fumigasi
Fumigasi adalah suatu cara melestarikan lingkungan terutama komoditi
ekspor dengan cara mengasapi (pembakaran atau penguapan zat kimia yang
mengandung racun) agar semua jenis perusak komoditi ekspor tidak
tumbuh/ mati dan kerusakan lingkungan dapat dihindari. (Yuni, Nurjanah
2010).
Fumigasi merupakan syarat diterimanya barang import pada negara barat.
Tidak jarang barang yang terkontaminasi harus terkena claim/ditolak di
negara tujuan, bahkan beberapa perusahaan fumigator/pelaksana
fumigasinya terkena black list di negara tersebut. Faktor utama kegagalan
nya adalah profesinalisme aplikator, serta kecurangan dalam aplikasi
standar.

29

Fumigan adalah pestisida yang dalam suhu dan teknan tertentu berbentuk
gas dan dalam dalam kosentrasi serta waktu tertentu dapat membunuh
organismae penggangu tanaman. Pestisida sangat beracun untuk semua
organisme hidup. Prosedur yang benar dilakukan harus oleh fumigator
terlatih memastikan bahwa fumigan tidak menimbulkan resiko bagi
kesehatan manusia dan hewan. Keterampilan dan keputusan yang tepat juga
diperlukan untuk memastikan bahwa fumigasi berhasil dan tidak merusak
Fumigasi Kapal adalah suatu upaya pengendalian hama yang mutlak harus
dilakukan pada sebuah kapal baik kapal penumpang, kapal cargo atau jenis
kapal lainnya. Tujuan utama dari fumigasi kapal adalah pembersihan kapal
dari hama pengganggu komoditas kapal yang sering kali bahkan menggangu
penumpang (Kartasapoetra, 1987).
Fumigasi Gudang ialah memasukkan atau melepaskan pestisida kedalam
ruangan tertutup atau kedap udara untuk beberapa waktu dalam dosis dan
konsentrasi yang dapat mematikan hama. fumigasi hanya dilaksanakan pada
sebagian ruangan atau terbatas pada komoditas yang difumigasi
(Priyambodo, S. 2003 ).
Sasaran Fumigasi
Fumigasi dapat dilakuakan oleh :
1. Kantor Kesehatan Pelabuhan
2. Badan Usaha Swasta yang telah mendapat izin dari Kepala Direktorat
Pengamatan Epidemiologi, Imunisasi dan Kesehatan Matra atas
Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan
Lingkungan dan didalam pelaksanaan operasi berada dibawah
pengawasan.
3. Eksportir Industri Rotan, Furniture, Kayu, Kerajinan/keramik
4. Eksportir Industri Pertanian: kopi, Kopra, Pelet, Jagung, Gaplek

30

5.

Industri makanan: barang yang harus steril dari kontaminasi hama

6.

Usaha pergudangan yang perduli pada kualitas barang simpanan.

Jenis Jenis Fumigan


1. Berdasarkan kebutuhan penagannya.
a. Fumigasi perawatan
Fumigasi ini dilakukan untuk mengendalikkan hama bagi
komoditas dalam penyimpanan maupun property.
b. Fumigasi tindakkan karantina
Pengendalian hama bagi komoditas sebagai suatu syarat karantina.
2. Berdasarkan aplikasi pengerjaanya.
a. Space fumigation
Perlakuan fumigasi pada seluruh wadah / ruangan. Misal : silo,
kapal, rumah dll.
b. Under shet fumigation
Pelaksanakan terbatas pada komoditasyang akan difumigasi
dengan melakukan penyungkupan dibawah plastic.
c. Countainer fumigation
Fumigasi untuk komoditas di dalam container.

No

Fumigan

Dosis Standar

Keterangan

31

Methyl

48 - 128 gr/m3

Dipeuntukan untuk Tindakan

Bromida

Karantina dan Pra Pengapalan

( Ch3Br)

Sifat kimia lainnya:


-

Cairan Bereaksi
dengan Al, karet
alam

Meninggalkan
residu pada lemak
& protein tinggi

Waktu pemaparan :
1 x 24 jam

Hydrogen

Standar berat

Phospide

phospine = 1/3 berat

(PH3)

padatan

Misalnya :
-

3 gr tablet
mengandung 1 gr
Phospine

0,6 gr pellet
mengandung 0,2 gr
Phospine
33 gr plate
mengandung 11gr
Phospine

Sifat kimia lainnya :


-

Gas yang timbul


mereaksi dengan
semua jenis metal

Waktu
pemaparan : 3 x 24
jam

32

Sulfuril

Dapat diaplikasikan pada semua

Fluoride

Normal/umum : 8 -

( SO2F2)

10 gr /m3

media
-

Waktu pemapatan :

Kayu ketebalan max

1,2,4,6,8,12jam -

35 cm

24/ 48 jam

: 16 -48 gr

BAB III
JADWAL KEGIATAN
Adapun agenda kegiatan kepaniteraan klinik senior Ilmu Kesehatan Masyarakat
yang telah ditetapkan oleh pihak Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Panjang ialah:

33

Hari/Tangga

Waktu

(WIB)

Senin, 8
Agustus 2016

09.00-12.00

Tempat

Kegiatan

- Ruang - Struktur organisasi


- Tugas dan Fungsi
Pertemuan
Unit Kerja KKP
KKP

Fasilitator

Bpk. Suyadi, SH, SKM


Suyanto, SE

- Pemeriksaan
Ruang

Selasa, 9
Agustus 2016

09.00-12.00

karantina
Pertemuan - Imunisasi Haji
- Macam penyakit
KKP
karantina

Ruang

Rabu, 10

09.00-12.00

Agustus 2016

kesehatan karantina
Pertemuan - Tatacara pemeriksaan
KKP
karantina
Ruang

Kamis, 11

09.00-12.00

Agustus 2016
Jumat, 12
Agustus 2016

09.00-11.30
13.30-1630

- Macam dokumen

Pertemuan
KKP

Suprapto, SKM, M.Kes


(Epid)

Bima Uramanda, SKM,


MM.
Rudiyanto, SKM, M.
Epid

- Pengendalian risiko
lingkungan

Ruang

- Review hasil praktek

Pertemuan
KKP

kepaniteraan di
KKP II Panjang

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Suparyono,SKM
Salim Daroeni, SKM

Mahasiswa

34

4.

KKP II Panjang
Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Panjang terletak Jl. Soekarno Hatta
No. 8 (By Pass) Sukarame Bandar Lampung. KKP II mempunyai visi dan
misi yaitu :
Visi
Masyarakat Pelabuhan yang Sehat, Mandiri Dan Berkeadilan.
Misi
1. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, melalui pemberdayaan
masyarakat, termasuk swasta dan masyarakat madani.
2. Melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya
kesehatan yang paripurna,merata,bermutu, dan berkeadilan.
3. Menjamin ketersediaan dan pemerataansumber daya kesehatan.
4. Menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik.
Selain itu KKP mempunyai kiva devisi yang mempunyain tugas dan fungsi
masing-masing diantaranya yaitu :
Seksi Pengendalian Karantina dan Surveilans Epidemologi
Tugas : Seksi Pengendalian Karantina dan Surveilans Epidemologi
mempunyai tugas melaksanakan perencanaan dan evaluasi serta penyusunan
laporan di bidang kekarantinaan, surveilans epidemologi penyakit dan
penyakit potensial wabah serta penyakit baru dan penyakityang muncul
kembali,pengawasan alat angkut dan uatannya, lalu lintas OMKABA,
jejaring kerja, pendidikan dan pelatihan bidang Kekarantinaan di wilayah
kerja bandara, pelabuhan dan Lintas atas darat Negara

35

Fungsi
Dalam melaksanakan tugas bidang Pengendalian Karantina dan Surveilans
Epidemologi Menyelenggarakan fungsi :
1. Kekarantinaan Suveilans Epidemologi penyakit menular dan penyakit
potensial Wabah serta penyakit baru dan penyakityang muncul kembali
2. Kesiapsiagaan, pengkajian, serta advokasi penanggulangan KLB dan
bencana / pasca bencana bidang kesehatan
3. Pengawasan lalu lintas OMKABA ekspor dan impor serta alat angkut,
termasuk muatannya.
4. Kajian dan diseminasi imformasi kekarantinaan di wilayah kerja bandara,
pelabuhan dan lintas batas darat negara
5. Pendidikan dan pelatihan bidang kekarantinaan
6. Pelaksanaan jejaring kerja dan kemitraan bidang kekarantinaan
7. Penyusunan laporan seksi pengendalian karantina dan surveilans
epidemiologi
Bidang pengendalian karantina dan surveilans Epidemologi terdiri dari :
1. Seksi Pengendalian Karantina. Seksi Pengendalian Karantina mempunyai
tugas melakukan penyiapan bahan perencanaan, pemantauan,
evaluasi,penyusunan laporan, dan koordinasi pelaksanaan pemeriksaan dan
sertifikasi OMKABA ekspor dan impor, pengembangan pengawasan dan

36

tindakan kekarantinaan terhadap kapal, Pesawat udara, dan alat transportasi


lainnya, penerbitan dokumen kesehatan kapal laut, pesawat udara, dan alat
transportasi lainnya, pengangkutan orang sakit/jenajah, kajian
pengembangan teknologi, serta pendidikan dan pelatihan di bidang
kekarantinaan.
2. Seksi Surveilans Epidemologi. Seksi Surveilans Epidemiologi
mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perencanaan, pemantauan,
evaluasi, penyusunan laporan, dan koordinasi pelaksanaan surveilans
epidemiologi penyakit, penyakit potensial wabah, penyakit baru, dan
penyakit yang muncul kembali, jejaring kerja surveilans epidemiologi
nasional/internasional, serta kesiapsiagaan, pengkajian, advokasi, dan
penanggulangan KLB, bencana/pasca bencana.
Seksi Pengendalian Resiko Lingkungan
Tugas : Seksi Pengendalian Risiko Lingkungan mempunyai tugas
melaksanakan perencanaan, pemantauan, dan evaluasi serta penyusunan
laporan di bidang Pengendalian vektor dan binatang penular penyakit,
pembinaan sanitasi lingkungan, jejaring kerja, kemitraan, kajian dan
pengembangan teknologi, serta pendidikan dan pelatihan bidang
pengendalian risiko lingkungan di wilayah kerja bandara, pelabuhan, dan
lintas batas darat negara.
Fungsi dalam melaksanakan tugas Seksi Pengendalian Risiko Lingkungan
menyelenggarakan fungsi:
1. Pengawasan penyediaan air bersih, serta pengamanan makanan dan
minuman;
2. hygiene dan sanitasi lingkungan gedung/bangunan

37

3. Pengawasan pencemaran udara, air dan tanah


4. Pemeriksaan dan pengawasan higiene dan sanitasi kapal/pesawat/alat
transportasi lainnya di lingkungan bandara, pelabuhan, dan lintas batas
darat negara;
5. Pemberantasan serangga penular penyakit, tikus dan pinjal di lingkungan
bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat negara
6. Kajian dan pengembangan teknologi di bidang pengendalian risiko
lingkungan bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat negara
7. Pelaksanaan jejaring kerja dan kemitraan di bidang pengendalian risiko
lingkungan bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat negara
8. Penyusunan laporan di seksi pengendalian risiko lingkungan.
Seksi Upaya Kesehatan dan Lintas Wilayah
Tugas : Seksi Upaya Kesehatan dan Lintas Wilayah mernpunyai tugas
melaksanakan

perencanaan dan evaluasi serta penyusunan laporan di

bidang pelayanan kesehatan terbatas, kesehatan haji, kesehatan kerja,


kesehatan matra, vaksinasi internasional, pengembangan jejaring kerja,
kemitraan, kajian dan teknologi, serta pendidikan dan pelatihan bidang
upaya kesehatan pelabuhan di wilayah kerja bandara, pelabuhan, dan lintas
batas darat negara.
Fungsi dalam melaksanakan tugas, Seksi Upaya Kesehatan dan Lintas
Wilayah menyelenggarakan fungsi:
1. Pelayanan kesehatan terbatas, rujukan dan gawat darurat medik di wilayah
kerja bandara,pelabuhan, dan lintas batas darat negara.

38

2. Pemeriksaan kesehatan haji, kesehatan kerja, kesehatan matra di wilayah


kerja bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat negara.
3. Pengujian kesehatan nahkoda/pilot dan anak buah kapal/pesawat udara
serta penjamah makanan
4. Vaksinasi dan penerbitan sertifikat vaksinasi internasional
5. Pelaksanaan jejaring kerja dan kemitraan di wilayah kerja bandara,
pelabuhan, dan lintas batas darat negara
6. Pengawasan pengangkutan orang sakit dan jenazah di wilayah kerja
bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat negara, serta ketersediaan obatobatan/peralatan P3K dikapal/pesawat udara/alat transportasi lainnya
7. Penyusunan laporan di seksi upaya kesehatan dan lintas wilayah.
Subbagian Tata Usaha
Tugas : melaksanakan koordinasi dan penyusunan program, pengelolaan
informasi, evaluasi, pelaporan, urusan tata usaha, keuangan,
penyelenggaraan pelatihan, kepegawaian, serta perlengkapan dan rumah
tangga
Fungsi:
1. pelaksanaan koordinasi dan penyusunan program serta pelaporan
2. pelaksanaan urusan keuangan
3. pelaksanaan urusan kepegawaian
4. pelaksanaan urusan umum

39

5. koordinasi penyiapan pelatihan


4.1.

Struktur Organisasi KKP Kelas II Panjang

40

4.2.

Peta KKP Se-Indonesia

Panjang Lampung

4.3

Tujuan Umum KKP Panjang


Menyelenggarakan pelayanan kesehatan, menurunkan risiko
kecacatan dan kematian, mencegah dan mendeteksi terjadinya Kejadian
Luar Biasa (KLB) penyakit di seluruh Wilayah Kerja Kantor Kesehatan
Pelabuhan Kelas II Panjang.

4.4
1.
2.
3.
4.

Tujuan Khusus KKP Panjang


Tersedianya fasilitas pelayanan kesehatan dan rujukan
Terlaksananya kegiatan kekarantinaan dan surveilans epidemiologi
Terlaksananya kegiatan pengendalian risiko lingkungan.
Terlaksananya kegiatan pengumpulan data, pengolahan data, analisa
data dan diseminasi informasi tentang kegiatan penyelenggaraan
pelayanan kesehatan Pada arus mudik/balik Hari Raya Idul Fitri Tahun
1437 H/2016

41

4.5 Koordinasi LS/LP


1. Administrator Pelabuhan Panjang
2. ASDP Cabang Bakauheni
3. Administrator Pelabuhan Bakauheni
4. Administrator Bandara Radin Inten II
5. KPPP (KP3) Bakauheni
6. Dinas Kesehatan Propinsi Lampung
7. Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selatan
8. RSUD dr. H. Abdul Moeluk Lampung
9. RSUD dr. Boob Bazar, SKM Kalianda
10. Dinas Perhubungan Propinsi Lampung
11. PT. Asuransi Jasa Raharja
12. Palang Merah Indonesia (PMI)
13. GAPASDAP
14. ORGANDA Lampung
15. PT. JAMSOSTEK Bandar Lampung
16. PT. BPJS Lampung
4.6

Posko KKP II Panjang Tahun 2016

BAND. R
INTAN II
PELB.
BAKAUHE
NI

POSK
O
KKP
4.7

DITJEN
PP PL

Kegiatan Matra Di Kkp Panjang


1. Pem Kes Haji & Umroh

42

Kesehatan haji dan umrah merupakan Kesehatan Matra yang


dilakukan terhadap jemaah haji dan umrah serta pihak petugas

yang terkait.
Untuk perjalanan Haji mulai dari perjalanan pergi, selama di Arab
Saudi, pulang dari Arab Saudi sampai dengan 2 (dua) minggu
setelah tiba kembali ke tanah air.

Rencana Posko KKP II Panjang Tahun 2016

PELB.
BAKAUHE
NI
PELB.
PANJANG

BAND. R
INTAN II

POSK
O
KKP

DITJEN PP
PL

4.8 Contoh Kegiatan Pengendalian Risiko Lingkungan Di KKP Panjang


1.

2.

3.

4.

Pengawasa Air Bersih


Fisik (bau, rasa, warna)
Kimia (Ph, sisa chlor)
Inspeksi Sanitasi Temp Pengelolaan Makanan, permasalahannya :
Makanan masak tdk tertutup
Ditemukan lalat
Makanan kemasan rusak
Makanan kemasan ED
Kebersihan (-)
Inspeksi Sanitasi Tempat-tempat umum Bakauheni, permasalahannya
Halaman Kebersihan (-)
Ruang Kedatangan (-)
Ruang Tunggu Kebersihan (-)
Toilet Kebersihan (-)
Pengendalian Vektor
Survey Nyamuk
Fogging

43

Pemasangan Perangkap Tikus


5. Sanitasi Alat Angkut
4.9 Hasil Pemeriksaan Kapal
Pada saat pemeriksaan pada deck kapal terlihat bersih dan barang-barang
tersusun dengan rapih. Kamar ABK/penumpang tidak diperiksa. Kamar
mandi terlihat bersih , ventilasi cukup, kran berfungsi baik dan bukan tempat
penyimpanan. Kakus tidak di periksa. Dapur bersih , makanan masak
tertutup, peralatan bersih dan terdapat tempat sampah tertutup. Gudang
persediaan makanan bersih, bahan makanan tersimpan pada rak, bahan
makanan tersimpan dengan baik, kamar pendingin bersih dan suhu di bawah
10 derajat celcius dan tidak berbau. Penjamah makanan tidak dilakukan.
Pemeriksaan air, air tidak berwarna, tidak berbau, tidak keruh dan tidak
berasa. PH air 8,6. Cholorine tidak diperiksa. Jadi ceklis yang ada dengan
pemeriksa yang ada di lapangan tidak semuanya diperiksa, dikarenakan kapal
yang diperiksa sudah terlihat rapih dan bersih.
Berdasarkan dari data dari bidang kekarantinaan, tidak didapatkan data
penyakit yang masuk ataupun keluar dari dalam maupun luar negri, begitu
juga saat pemberangkatan dan emberkasi jamaah haji, tidak didapatkan satu
orangpun warga negara yang mengidap penyakit infeksius dari dan dalam
luar negeri.

44

BAB V
PENUTUP
6.1.

Kesimpulan

1. Berdasarkan Kepmenkes RI nomor 64 tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata


Kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan, Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP)
adalah unit pelaksana teknis di lingkungan Kementerian Kesehatan yang
berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktorat Jenderal
Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit.
2. KKP Kelas II Panjang secara umum melaksanakan tugas-tugas pokok
berupa melaksanakan pencegahan masuk dan keluarnya penyakit, penyakit
potensial wabah, surveilans epidemiologi, kekarantinaan, pengendalian
dampak kesehatan lingkungan, pelayanan kesehatan, pengawasan
OMKABA, serta pengamanan terhadap penyakit baru & penyakit yang
muncul kembali, bioterorisme, unsur biologi, kimia dan pengamanan
radiasi di wilayah kerja bandara, pelabuhan dan lintas batas darat negara.
6.2

Saran
1. Memberikan edukasi kepada masyarakat terutama
sebelum atau setelah penyuntikan vaksinasi
meningitis.
2. Memberikan pemahaman kepada kapten kapal atau
pesawat mengenai tatacara atau sesuai ceklist yang
benar tentang tata cara kapal atau pesawat yang baik
dari segi obat-obatan, sanitasi ruangan atau
makanan.
3. Ketegasan dan sanksi bagi kapal yang tidak
mengikuti peraturan dapat lebih di tingkatkan.

45

DAFTAR PUSTAKA
1. H. R. A. Sofyan, MPH, M.Kes. Khusus Kecoa Di Kapal. Dalam:
Pedoman Pengendalian Vektor Di Angkutan Umum. Jakarta; 2003. Hal:
1-25 Diakses pada: 8 November 2011
2. Peraturan Mentri Republik Indonesia Nomor 374/Mekes/PER/III/2010.
Pengendalian Vektor. Diperoleh dari:
http://www.depkes.go.id/downloads/Pengendalian Vektor%20.pdf.
Diakses pada: 9 November 2011.
3. Depkes. RI., 2008. Permenkes No 3 Tentang Organisasi dan Tata Kerja
Kantor Kesehatan Pelabuhan.
4. Depkes.RI., 2009. Standar Operasional Prosedur Nasional Kegiatan
Kantor Kesehatan Pelabuhan Di Pintu Masuk Negara.
5. Peraturan Pemerintah RI No 69 tahun 2001 tentang Kepelabuhan.
6. WHO (World Health Organization). IHR (International Health
Regulation).2005

46

LAMPIRAN

47

PEMERIKSAAN KAPAL

48

49

PEMERIKSAAN HIV DAN SIFILIS


KARYAWAN PELABUHAN

50