Anda di halaman 1dari 15

TUGAS MAKALAH FARMASETIKA DASAR

SEDIAAN LOTIO

Disusun oleh:
Anggita Novelina C 158114110
Elizabeth Vianita K

158114117

Monica Agustin B. S 158114126

Dosen Pengampu : Wahyuning Setyani, Msc., Apt.

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2015

BAB I
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Dalam Farmakope Indonesia larutan adalah sediaan cair yang mengandung
satu atau lebih zat kimia yang terlarut, misal: terdispersi secara molekuler dalam
pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur. Bentuk sediaan
larutan digolongkan menurut cara pemberiannya, misalnya Larutan oral, Larutan
topikal, atau penggolongan didasarkan pada sistem pelarut dan zat terlarut seperti
Spirit, Tingtur dan Larutan air. Larutan yang diberikan secara parenteral disebut
Injeksi. Larutan topikal adalah larutan yang biasanya mengandung air tetapi
seringkali mengandung pelarut lain, seperti etanol dan poliol, untuk penggunaan
topikal pada kulit, atau dalam hal Larutan Lidokain Oral Topikal, untuk
penggunaan pada permukaan mukosa mulut. Istilah Lotio digunakan untuk larutan
atau suspensi yang digunakan secara topikal. Pada makalah ini penulis akan
membahas larutan topikal lotio.
Penulis membuat makalah ini dikarenakan kurangnya pengetahuan
masyarakat tentang sediaan lotio, belum banyak masyarakat yang mengetahui
kekurangan maupun kelebihan lotio, serta pengetahuan lainnya tentang sediaan
lotio.
Pada makalah ini penulis juga akan membahas cara penggunaan,
pemakaian, penyimpanan, dan kontol kualitas sediaan lotio. Oleh karena itu
penulis membuat makalah ini supaya pembaca dapat mengetahui lebih lanjut
tentang sediaan lotio.
1.2 Rumusan Masalah
1. Menjelaskan definisi lotio.
2. Menyebutkan indikasi lotio.
3. Menjelaskan cara pembuatan lotio.
4. Menjelaskan syarat sediaan lotio.
5. Membandingkan contoh sediaan dengan ketentuan dalam Farmakope
Indonesia.

1.3 Tujuan
1. Dapat menjelaskan pengertian lotio.
2. Dapat menyebutkan indikasi lotio.
3. Dapat menjelaskan cara pembuatan lotio.
4. Dapat menyebutkan syarat sediaan lotio.
5. Dapat

membandingkan

contoh

sediaan

dengan

ketentuan

dalam

Farmakope Indonesia.

1.4 Metode Penulisan


Metode penelitian yang penulis pakai dalam pembuatan makalah ini
adalah metode baca pustaka.

BAB II
Dasar Teori
Lotio adalah larutan atau suspensi yang digunakan secara topikal. Pada
makalah ini penulis akan membahas larutan topikal lotio. Larutan topikal lotio
dapat berbentuk suspensi zat padat dalam bentuk serbuk halus dengan bahan
pensuspensi yang cocok atau emulsi tipe minyak dalam air (o/w atau m/a) dengan
surfaktan yang cocok. Lotio menurut The British Pharmaceutical Codex adalah
persiapan cair ditujukan untuk aplikasi ke kulit, atau menggunakan bulu sebagai
mencuci untuk irigasi aural, hidung, mata, lisan, atau uretra. Mereka biasanya
mengandung zat kimia tertentu dalam suspensi atau larutan di dalam transport
(pembawa) air.
Sedian lotio dapat berbentuk emulsi atau suspensi. Dalam bentuk emulsi,
lotio merupakan sistem dispersi semisolid, yaitu sistem dispersi antara minyak
dalam air (O/W) dengan surfaktan yang cocok. Proses pembuatan lotio disebut
emulsifikasi dimana fase air dan emulgator dihomogenkan kemudian di tambah
fase minyak atau lemak, bahan bahan tersebut adalah bahan basis lotio, sedangkan
bahan tambahannya dapat berupa zat aktif (vitamin, ekstrak, whitening, dsb) dan

atau parfum, pewarna, pengawet. Dalam bentuk suspensi, lotio adalah sediaan cair
yang digunakan sebagai obat luar dapat berbentuk suspensi zat padat dalam
serbuk halus dengan bahan pensuspensi yang cocok.
Lotio juga merupakan sediaan kosmetika golongan pelembut yang
mengandung air lebih banyak. Sediaan ini memiliki beberapa sifat, yaitu sebagai
sumber lembab bagi kulit, memberi lapisan minyak yang hampir sama dengan
sebum ( zat berminyak yang terutama terdiri dari lemak, keratin, dan bahan selular
yang diproduksi oleh kelenjar sebasea di kulit), membuat kulit menjadi lembut
tetapi tidak terasa berminyak dan mudah dioleskan.
Keuntungan bentuk sediaan lotio :

Lebih ekonomis

Umumnya dosis yang diberikan lebih rendah

Lebih mudah digunakan (penyebaran lotio lebih merata daripada krim)

Kerugian bentuk sediaan lotio :

Bahaya alergi umumnya lebih besar

Onsetnya lama

Deskripsi Lotio
a. Nama lain : obat gosok
b. Pemerian :
Sediaan cair yang digunakan untuk pemakaian luar pada kulit.
Tergantung dari zat aktifnya, lotio dapat berupa solutio, suspensi, emulsi.
c. Cara penggunaan :
Dioleskan pada permukaan kulit sehingga membentuk lapisan tipis
pada permukaan kulit.
d. Sifat :
Sebagai Pelindung / pengobatan tergantung dari komponennya
Sesudah dioleskan kulit segera kering dan meninggalkan lapisan tipis
komponen obatnya pada permukaan kulit
e. Cara mengenal kerusakan :
Seperti tertera pada sediaan solution/suspensi

f. Contoh :

Caladine Lotio

Caladryl Lotio

Menurut The British Pharmaceutical Codex Lotio dapat digolongkan


berdasarkan penggunaan :
1. Lotio untuk irigasi aural

Dimaksudkan untuk diaplikasikan ke telinga

Digunakan pada suhu tidak lebih dari 55 C

Diberikan untuk menghindari injeksi udara

2. Lotio untuk mencuci mulut

Digunakan dengan air hangat/panas

Dipertahankan selama beberapa menit di dalam mulut

3. Lotio untuk irigasi hidung

Diterapkan dengan douche kaca/jarum suntik dengan konstruksi yang


cocok

4. Lotio untuk uretra dan vaginal

Disuntikkan dengan menggunakan jarum suntik.


Selain itu, lotio juga memiliki berbagai macam bentuk antara lain :

Lotio dapat berbentuk Solutio


Larutan adalah sediaan cair yang mengandung bahan kimia terlarut
kecuali dinyatakan lain.

Lotio dapat berbentuk Suspensi


Sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk halus dan
tidak larut, terdipersi dalam cairan pembawa.

Lotio dapat berbentuk Emulsi


Sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan obat,
terdispersi dalam cairan pembawa, distabilkan dengan zat pengemulsi atau
surfaktan yang cocok.

1. Indikasi Lotio
Lotio dapat diaplikasikan ke kulit dengan kandungan obat/agen yang
berfungsi sebagai :

Antibiotik
Lotio berfungsi sebagai antibiotik berarti dalam penggunaannya,
lotio dapat membunuh atau menghalangi pertumbuhan bakteri.
Contoh :
o Actinac Lotio : Serbuk berisi Chloramphenicol, hydrocortisone
acetat, butoxyethylnicotinate, allantoin, sulfur precipitatum,
dalam tiap gramnya dilarutkan dalam pelarut yang tersedia.
Untuk mengobati jerawat, penyakit kulit yang sesuai.

Antiseptik
Lotio berfungsi sebagai antiseptik berarti dalam penggunaanya,
lotio dapat dioleskan untuk mencegah infeksi atau memperlambat
perkembangan kuman agar tidak menyebar.

Anti jamur (anti fungi)


Lotio berfungsi sebagai anti jamur (anti fungi) berarti dalam
penggunaannya, lotio dapat membasmi atau menghambat pertumbuhan
jamur terutama pada kulit.

Kortikosteroid
Lotio dalam penggunaanya dapat mengurangi pembengkakan,
merah pada kulit dan gatal-gatal pada kulit.

Anti jerawat (anti acne)


Lotio dalam penggunaanya dapat menghilangkan atau membasmi
jerawat.
Contoh :
1. Actinac Lotio : Serbuk dengan pelarutnya dimana terdiri dari
chloramphenicol, hydrocortisone acetat, butoxyethylnicotinate,
sulfur dalam setiap gram serbuk. Untuk mengobati jerawat dan lainlain dalam keadaan acne.

2. Action Acne Lotio : Tiap botol berisi belerang, comlex


aluminiumchlorydroksida. Penggunaan untuk jerawat.

Antipeuritika
Dalam penggunaannya, lotio dapat mencegah rasa gatal pada kulit.
Contoh :
1. Inadryl-C Lotio : Lotio berisi calamine, diphenhydramine.
Penggunaan untuk gatal-gatal pda kulit.
2. Caladryl : Lotio berisi diphenhydramine HCL, calamine, kamfer,
alcohol, dan glycerin. Penggunaan untuk gatal-gatal pada kulit,
gigitan serangga, gangguan kulit karena terik matahari.

Pelembut (smoothing)
Lotio juga dapat berperan sebagai pelembut pada saat dioleskan
pada bagian tubuh terutama pada kulit.

Pelembab atau agen pelindung


Lotio berperan untuk melindungi dan menenangkan kulit dari sinar
matahari, gigitan serangga, atau infeksi kulit lainnya

Proses Pembuatan Lotio


Proses pembuatan lotio (emulsi) secara garis besar adalah mencampurkan
fase minyak dengan fase air (emulsifikasi). Fase minyak dipanaskan terlebih
dahulu pada suhu 65C-75C di atas waterbath. Fase air juga dipanaskan pada
suhu 65C-75C di atas waterbath. Setelah itu dimasukkan fase minyak ke dalam
gelas beker sambil diaduk dengan alat pendispersi. Fase air ditambahkan sedikit
demi sedikit sambil terus diaduk dalam alat pendispersi dengan kecepatan
konstan. Lotio didinginkan sambil terus diaduk. Sediaan lotio yang telah terbentuk
dimasukkan ke dalam wadah tertutup dan dibiarkan selama 24 jam.
Tahap-tahap pembuatan Lotio :
1. Fase air dan emulgator dihomogenkan
2. Ditambahkan fase minyak. Kedua fase masing-masing dipanaskan hingga
larut kemudian baru dicampur

3. Setelah keduanya tercampur baru ditambahkan pengawet (sebagai anti


mikroorganisme) dan pewangi. Pengawet dan pewangi ditambahkan
setelah suhu campuran turun hingga 40C-30C.
Jenis Fase Minyak dan Air
1. Fase minyak

Asam Stearat

Gliseril monostearat

Cetil alcohol

Petrolatum USP

Minyak mineral

Isopropil Palmitat

2. Fase Air

Air bebas ion

Gelatin

Gliserin

Triethanolamine 99%

Bahan-bahan yang digunakan secara umum antara lain :


1. Zat aktif dapat berupa : vitamin, ekstrak, whitening/pemutih, dan
sebagainya.
2. Bahan tambahan dalam pembuatan lotio antara lain :
a. Bahan pengental
Bahan pengental dalam lotio misalnya : gum xanthan, gum guar,
karbomer, PEG-6000 distearat, PEG-120 metil glukosa diolet dan
gelatin. Tujuan penambahan pengental adalah untuk mengentalkan
campuran, memperbaiki vikositas, dan penstabil terhadap perubahan
panas dan pH.
b. Bahan pengawet
Bahan pengawet ditambahkan dalam lotio agar tidak terjadi
penguraian dan perusakan oleh organisme.

c. Bahan pewangi dan pewarna

Keuntungan beberapa bahan dalam pembuatan lotio dibandingkan bahan lain


antara lain :
1. Gelatin
Selain sebagai bahan pengental juga berfungsi sebagai pengemulsi,
penstabil, pengikat air, dan pembentuk gel. Selain itu pemakaian gelatin
sebagai bahan pengental juga dapat mengurangi resiko penyakit kanker
kulit yang ditimbulkan dari penggunaan bahan pengental golongan
akrilamid dalam jangka waktu panjang.
2. Glicerin
Untuk mencegah pengeringan berlebih (tetap lembab untuk jangka
waktu yang cukup).
3. Alkohol
Untuk meningkatkan pengeringan dan pendinginan.
Salah satu contoh proses pembuatan lotio adalah pembuatan Acidi Salycylici
Zincoxydi Lotio.
a. Komposisi :
Tiap 100 ml mengandung
Acidum Salicylicum 500 mg
Talcum 5 g
Zinc Oxydum 5 g
Amylum Manihot 5 g
Aethanolum 90 % hingga 100 ml
b. Cara pembuatan :
1. Siapkan alat dan bahan.
2. Timbang semua bahan.
3. Talkum diayak dengan ayakan nomor 120 mesh.
4. Zinc Oxydum diayak dengan ayakan nomor 100 mesh.

5. Ukur etanol 90% dengan gelas ukur.


6. Masukkan Acidum Salicylicum ke dalam mortir tambahkan etanol
90% sebanyak 1 atau 2 tetes.
7. Tambahkan Talcum aduk hingga homogen (campuran 1).
8. Masukkan Zinc Oxydum ke dalam mortir, tambahkan juga Amylum
Manihot ke dalam mortir aduk hingga homogen (campuran 2).
9. Masukkan campuran 1 dan campuran 2 ke dalam mortir lalu
tambahkan etanol 90 % aduk hingga homogen.
10. Masukkan ke dalam wadah, beri etiket biru.
Pada perhitungan, Talcum dan Zinc Oxydum ditambah 10 % karena
berat talcum akan diayak, jadi berat sesungguhnya akan berkurang. Menurut
Farmakope Indonesia edisi ketiga (FI edisi III), khasiat Acidi Salycylici
Zincoxydi Lotio adalah sebagai anti fungi (anti jamur).
Syarat Sediaan Lotio
Pengujian dalam proses dan setelah menjadi produk jadi lotio meliputi :
1. Organoleptis
Uji organolpetis termasuk uji yang sangat penting karena terkait
dengan

daya

tarik

konsumen

terhadap

tampilan

sediaan

lotio.

Pemeriksaan organoleptis meliputi bentuk, warna dan bau yang diamati


secara visual.
2. Homogenitas
Pengujian homogenitas dilakukan dengan cara mengoleskan zat
yang akan diuji pada sekeping kaca atau bahan transparan lain yang cocok,
harus menunjukkan susunan yang homogen (Depkes RI,1979).
3. Uji stabilitas fisik lotio
Stabilitas fisik Lotio dapat dilihat dari perubahan viskositas yang
terjadi selama masa penyimpanan 1 bulan. Jika selama penyimpanan tidak
terjadi perubahan viskositas maka sediaan lotio dapat dikatakan memiliki
stabilitas yang baik. Lotio yang diamati stabilitas fisik selama 4 minggu (1
bulan) penyimpanan meliputi pengukuran pH dengan kertas pH, pengujian

viskositas dengan viskometer VT-04 (Rion, Japan), daya lekat dan daya
sebar.
4. Pengukuran pH
Pengukuran pH kulit memiliki pH fisiologis antara 4,5-6,5. Jika
kadar pH terlalu rendah akan menyebabkan iritasi pada kulit, sedangkan
jika terlalu basa akan menyebabkan gatal-gatal dan kulit menjadi bersisik.
Alat pH meter dikalibrasi ca larutan dapar pH 7 dan pH 4. Satu gram
sediaan yang akan diperiksa diencerkan dengan air suling hingga 10 mL.
Elektroda pH meter dicelupkan ke dalam larutan yang diperiksa, jarum pH
meter dibiarkan bergerak sampai menunjukkan posisi tetap, pH yang
ditunjukkan jarum pH meter akan dicatat (Depkes RI,1995).
5. Uji viskositas lotio
Sediaan dimasukkan ke dalam wadah berbentuk tabung, lalu
dipasang rotor nomor 1 dan pastikan bahwa rotor terendam dalam sediaan
uji. Alat viskometer dinyalakan dan dipastikan bahwa rotor dapat berputar.
Diamati jarum penunjuk dari viskometer yang mengarah ke angka pada
skala viskositas untuk rotor nomor 1 yang tersedia, ketika jarum
menunjukkan ke arah yang stabil, maka angka itulah merupakan
viskositasnya dan dicatat dalam satuan dPa.S.
6. Uji daya sebar lotio
Sediaan seberat 0,5 gram diletakkan ditengah kaca bulat berskala
untuk menentukan formula optimum lalu didiamkan selama 1 menit lalu di
catat penyebarannya. Tiap tahap ditambah beban seberat 50 gram dan
didiamkan selama 1 menit lalu dicatat penyebarannya.
7. Uji daya lekat lotio
Sebanyak 0,1 gram sediaan dioleskan diatas objek gelas yang telah
ditentukan luasnya yaitu 2 x 2 cm, diatas sediaan tersebut diletakkan objek
gelas yang lain dan diberi beban 1 kg selama 5 menit. Kemudian objek
gelas dipasang pada alat uji, beban seberat 80 gram dilepaskan dan dicatat
waktunya hingga kedua objek gelas tersebut lepas.
8. Uji iritasi primer kualitatif

Hewan uji yang digunakan adalah kelinci putih betina dengan


waktu percobaan selama 72 jam. Kelinci yang telah dicukur bagian
punggungnya diaplikasikan sebanyak 0,5 gram formula optimum lotio.
Pengamatan eritema dan edema yang terjadi dilakukan pada jam ke-24 dan
ke-72 setelah pemejanan (Lu, 1995).

BAB III
Hasil Pembahasan
Sediaan umum lotio yang digunakan dalam pembahasan adalah Lotio
Caladine. Lotio Caladine mengandung 3 bahan aktif yaitu, Calamine 5%
(berfungsi mengatasi rasa gatal), Zinc Oxide 10% (antiseptik ringan), dan
Diphenhydramine HCL 2% (sebagai zat anti alergi). Caladine lotio ini berbahan
dasar air, sehingga sangat cocok untuk daerah tropis seperti Indonesia. Lotio
Caladine bermanfaat mengobati gatal karena biang keringat, udara panas, gigitan
serangga. Juga sebagai antiseptik kulit, astringensia dan anti alergi.
1. Deskripsi obat (Caladine Lotio)
a. Komposisi :
Calamine 5%, Zinc Oxide 10%, dan Diphenhydramine HCl 2%.
b. Indikasi :
Mengurangi gatal karena biang keringat, anti alergi, antiseptik,
biduran/kaligata, gigitan serangga, udara panas, terbakar ringan akibat
sinar matahari, dan sebagai penyejuk kulit.
c. Kontraindikasi :
Penderita yang hipersensitif terhadap salah satu komponen obat ini.
d. Cara pemakaian :
Bersihkan kulit yang gatal lalu oleskan Caladine Lotio 2-4 kali sehari.
Sebaiknya digunakan sehabis mandi pagi dan sore hari.
e. Peringatan :

Jangan dipakai pada kulit yang melepuh, mengelupas/mengeluarkan


cairan. Jika setelah memakai obat ini tidak ada perubahan, timbul rasa
terbakar, ruam (iritasi) kulit, hentikan pemakaian dan periksakan ke
dokter.
f. Cara penyimpanan :
Simpan pada suhu kamar (25 - 30C). Dalam wadah tertutup rapat,
terlindung cahaya.

2. Monografi Bahan Obat


a. Kalamin (Calamine)
Kalamin adalah zink oksida dengan sebagian kecil besi oksida,
mengandung tidak kurang dari 98,0% dan tidak lebih dari 100,5%
ZnO, dihitung terhadap zat yang telah dipijarkan.
Pemerian : serbuk halus; merah muda; tidak berbau; praktis tidak
berasa.
Kelarutan : tidak larut dalam air; mudah larut dalam asam mineral.
Wadah dan Penyimpanan: Dalam wadah tertutup baik. Wadah dan
penyimpanan Dalam wadah tertutup rapat baik, terlindung cahaya,
pada suhu tidak lebih dari 25C.
Cara Penyimpanan: Disimpan ditemput sejuk pada suhu kamar.
b. Difenhidramin Hidroklorida
Difenhidramin Hidroklorida mengandung tidak kurang dari 98,0% dan
tidak lebih dari 102,0% C17H21NO.HCl dihitung terhadap zat yang
telah dikeringkan.
Pemerian : serbuk hablur; putih; tidak berbau. Jika terkena cahaya,
perlahan-lahan warna menjadi gelap. Larutan praktis netral terhadap
kertas lakmus P.
Kelarutan : mudah larut dalam air, dalam etanol dan dalam kloroform;
agak sukar larut dalam aseton; sangat sukar larut dalam benzen dan
dalam eter.
Wadah dan penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat, tidak tembus
cahaya, pada suhu ruang.

c. Zink Oxida (ZnO)


Zink Oxida mengandung tidak kurang dari 99% zat aktif ZnO.
Pemerian : serbuk amorf, sangat halus, putih atau putih kekuningan,
tidak berbau, tidak berasa. Lambat laun menyerap karbondioksida dari
udara
Kelarutan : praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%), larut
dalam asam mineral encer dan dalam larutan alkali hidroksida
Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya
Kegunaan : antiseptikum lokal
(Dirjen POM, 1979 : 93)
Cara Pemakaian Obat Caladine
Bersihkan bagian kulit yang gatal, lalu oleskan 2-4 x sehari. Sebaiknya
digunakan sehabis mandi dan sore.
Perbandingan Bahan Obat Caladine dan Syarat Farmakope Indonesia
Produk lotio Caladine sudah sesuai dengan Farmakope Indonesia. Hal ini
dapat dilihat dari komposisi obat yang mengandung zat aktif Kalamin, Seng
Oksida, dan Difenhidramin Hidroklorida yang bobot/ jumlahnya sesuai dengan
yang dianjurkan di Farmakope Indonesia. Kegunaan Lotio Caladine secara
keseluruhan adalah menghilangkan gatal-gatal akibat alergi pada kulit.
BAB IV
Penutup
Kesimpulan
Lotio adalah sediaan cair berupa dispersi, digunakan sebagai obat luar
tubuh. Lotio menurut zat akrif dapat berupa solution, suspensi, dan emlusi. Dapat
berbentuk suspensi zat padat dalam bentuk partikel halus dengan bahan
pensuspensi yang cocok atau emulsi tipe minyak dalam air dengan surfaktan yang
cocok. Dapat ditambahkan zat pewarna, zat pengawet dan zat pewangi yang

cocok. Juga dapat ditambahkan zat aktif seperti vitamin, ekstrak, dan sebagainya
seperti indikasi yang sesuai.
Salah satu manfaat lotio adalah sebagai anti acne. Salah satu contoh lotio yang
ada di pasaran adalah Lotion Calamine dan lotion caladyne.

Saran
Setelah mengetahui bentuk-bentuk sediaan, cara pengunaan, penandaan
disarankan kepada para pembaca khususnya pasien agar menggunaan lotio sesuai
indikasi dan memperhatikan penandaan serta kontra indikasi dan efek samping
yang tertera pada kemasan. Serta melakukan penyimpanan dan penggunaan obat
secara tepat. Para pengguna obat disarankan dapat semakin teliti dalam memilih
obat yang akan digunakan, dapat dilakukan dengan selalu membaca deskripsi dan
petunjuk penggunaan obat pada kemasan obat.

Daftar pustaka
Anonim. 2013. Sebum. http://kamuskesehatan.com/arti/sebum/ . Diakses pada
tanggal 9 November 2015.
Anonim.

2012.

http://apotik.medicastore.com/obat/caladine-lotio-95-ml.html.

Diakses pada tanggal 10 November 2015.


Anonim. 2014. http://www.caladine.com/detail/products/Caladine-Lotio. Diakses
pada tanggal 10 November 2015.
Ditjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Ed . III . Depkes RI : Jakarta
Ditjen POM. 1911. The British Farmaceutical Codex. Diterbitkan oleh Dewan
Pharmaceutical Society of Great Britain.
Ditjen POM. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta: Departemen
Kesehatan R.I.
Ditjen POM. 2014. Farmakope Indonesia. Edisi V. Jakarta : Departemen
Kesehatan R.I.