Anda di halaman 1dari 2

PEMANFATAAN KEMBALI PABRIK GULA COLOMADU

MELALUI PROGRAM
FABRIEK FIKR 2 EXPANDED PERFORMANCE
Program Fabriek Fikr Pabrik Gula Colomadu tahun 2016 merupakan
program yang memiliki latar belakang kata , Fabriek berasal dari bahasa
Belanda y ang berarti pabrik danFikr berasal dari bahasa Arab yang berarti
konsep, gagasan, atau pikiran. Fabriek Fikr dilaksanakan di lokasi yang tidak
terpakai dan tempat yang tidak mainstream atau di ruang pertunjukan, namun
ditempat Industrial Heritage, yaitu tempat bekas industri yang sudah tidak
berfungsi, yang dimulai dari pabrik gula Colomadu.

Gambar : Pabrik Gula Colomadu

Sebagai maksud dan tujuan program Fabriek Fikr 2016 ini adalah untuk
menggali gagasan dari tempat-tempat yang selama ini tidak berfungsi atau
terabaikan. Pelaksanaan program strategis ini tidak semata menawarkan
material estetik,dimana banyak orang kreatif berkumpul, berproses bersama dan
berolaborasi sehingga menghasilkan berbagai produk kreatif (pabrik gagasan).
Untuk menghidupkan kembali Pabrik Gula Colomadu dan memperkuat
positioning brand Colomadu sebagai pusat indutry kreatif.
Target atau sasaran yang ingin dicapai dalam kegiatan ini antara lain
mewujudkan terbentuknya pabrik gagasan sebagai ekosistem para pelaku
industry kreatif , bangunan Pabrik Gula Colomadu menjadi atraksi utama.Para
seniman dari berbagai latar belakang seni (multi disiplin) terlibat dan
berkolaboasi ,saling mengisi ruang pabrik selama dua hari pertunjukan. Berbagai
bentuk seni dihadirkan kepada para penonton daan terjadi engangement
antara penonton dengan pertunjukan di ruang pabrik yang kini bertransformasi
menjadi ruang gagasan para seniman.

Pertunjukan Fabriek Fikr 2 adala pertunjukan yang mengangkat nilai


sebuah ruang yang kuat pada bangunan pabrik yang telah lama tidak
beroperasi . Ruang- ruang pada Pabrik Gula Colomadusebuah peninggalan
bangunan tua yang didirikan tahun 1861, mampu mendorong orang untuk
masuk ke dalam ruang imajinasi yang bebas dan liar , tidak mengenal formalism,
dan tidak terbelenggu pada norma seni mainstream. Begitu pula dengan
penotonnya yang bebas dari kurungan ruang arsitektur normatif seperti gedung
teater auditorium dan lain-lain. Maka dalam konteks kebebasan ini, penonton
tidak terlalu menuntut produk-produk normatif yang bersifat selesai. Dalam
kesempatan itu, penoton siap menciptakan gagasannya sendiri karena penonton
terlibat aktif sebagai bagian dari pertunjukan bukan berada di posisi penonton
yang pasif menerima tontonan. Penonton maramu imajinasi mengembangkan
asosisasi, menebak-nebak, sibuk menciptakan, dan menyusun kepingankepingan gambar di Pabrik Gula Colomadu.