Anda di halaman 1dari 17

PENGGUNAAN SPEKTRUM FREKUENSI RADIO DI INDONESIA

MAKALAH
Disusun sebagai tugas pada Mata Kuliah Regulasi

Oleh :
1.
2.
3.
4.

Eggy Fauzie Affandi


Jovi Brema Barus
Taufik Hidayat
Yanuar Agung Firmansyah

14101008
14101015
14101031
14101039

PROGRAM STUDI S1 TEKNIK TELEKOMUNIKASI


SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TELEMATIKA TELKOM PURWOKERTO
2016
1

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR....................................................................................... 3
BAB I........................................................................................................... 4
PENDAHULUAN........................................................................................... 4
1.1

Latar Belakang................................................................................ 4

1.2

Tujuan............................................................................................. 4

1.3

Permasalahan.................................................................................. 5

BAB II.......................................................................................................... 6
METODOLOGI.............................................................................................. 6
2.1 Pendekatan Secara Hukum...................................................................6
2.3 Pendekatan terhadap Kondisi Eksisting di Indonesia.............................7
2.4 Pendekatan Benchmark kepada Negara lain..........................................9
2.5 Pendekatan Literatur..........................................................................11
BAB III....................................................................................................... 13
ANALISA.................................................................................................... 13
BAB IV....................................................................................................... 14
REKOMENDASI KEPADA REGULASI TIK.....................................................14
BAB V........................................................................................................ 15
KESIMPULAN SARAN................................................................................. 15
5.2 Kesimpulan....................................................................................... 15
5.2 Saran................................................................................................ 16
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................... 17

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah
tentang Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio di Indonesia ini dengan baik
meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih pada
Bapak Ade Wahyudin, M.T selaku Dosen mata kuliah Regulasi Telematika yang
telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenai penggunaan spektrum frekuensi radio di
Indonesia. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat
kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya
kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang
akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang
membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang
membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami
sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila
terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan
saran yang membangun dari Anda demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan
datang.
Purwokerto, Oktober 2016

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Yang

dimaksud

dengan

Gelombang

Radio

adalah

Gelombang

Elektromagnetik yang disebarkan melalui Antena. Gelombang Radio memiliki


Frekuensi yang berbeda-beda sehingga memerlukan penyetelan Frekuensi
tertentu yang cocok pada Radio Receiver (Penerima Radio) untuk mendapatkan
sinyal tersebut. Frekuensi Radio (RF) berkisar diantara 3 kHz sampai 300 GHz.
Spektrum Frekuensi Radio adalah susunan pita frekuensi radio yang
mempunyai frekuensi lebih kecil dari 3000 GHz sebagai satuan getaran
gelombang elektromagnetik yang merambat dan terdapat dalam dirgantara
(ruang udara dan antariksa). Pengalokasian Spektrum Frekuensi Radio di
Indonesia mengacu kepada alokasi frekuensi radio internasional untuk region 3
(wilayah 3) sesuai dengan peraturan Radio yang ditetapkan oleh International
Telecommunication Union (ITU) atau Himpunan Telekomunisai Internasional.
Penepatan

Jalur

kegunaannya

ini

atau

Spektrum

bertujuan

untuk

Frekuensi

Radio

menghindari

yang

terjadinya

menentukan
gangguan

(Interference) dan untuk menetapkan protokol demi keserasian antara pemancar


dan penerima.
1.2 Tujuan
Adapun yang menjadi tujuan dari pembahasan dalam makalah ini dapat
diuraikan sebagai berikut:
1. Memberikan pengetahuan mengenai gambaran penggunaan spektrum
frekuensi dari sudut pandang badan regulasi.
2. Untuk mengetahui Perbandingan Pengaturan Pasal 362 KUHP dengan
penggunaan Frekuensi Radio tanpa izin berdasarkan UU Nomor 36 Tahun
1999.
3. Untuk mengetahui pertanggungjawaban pidana bagi pelaku penggunaan
frekuensi radio tanpa izin berdasarkan UU Nomor 36 tahun 1999 Tentang
Telekomunikasi.
4. Untuk mengetahui upaya penegakan hukum terhadap tindak pidana
penggunaan frekuensi radio tanpa izin berdasarkan Putusan Pengadilan

Salatiga Nomor 91/Pid.B/2013/PN.Sal hari Senin tanggal 11 November


2013.
1.3 Permasalahan
1. Apakah seluruh penggunaan spektrum frekuensi dikenakan bhp (biaya hak
penggunaan) ?
2. Bagaimana peran

pemerintah

menanggapi

penggunaan

spektrum

frekuensi ?
3. Bagaimana pertanggungjawaban pidana bagi pelaku penggunaan frekuensi
radio tanpa izin
4. Bagaimana upaya penegakan hukum terhadap tindak pidana penggunaan
frekuensi radio tanpa izin.

BAB II
METODOLOGI
2.1 Pendekatan Secara Hukum
Perbuatan melawan hukum Penggunaan spektrum frekuensi radio tanpa
izin, sesuai dengan teori yang di kemukakan oleh Langmayer, yang berdasarkan
delik yang bersangkutan, maka pencurian adalah suatu kontruksi hukum, suatu
pengertian tentang mengambil barang dengan maksud untuk memiliki secara
melawan hukum Berdasarkan persyaratan dan prosedur menurut UU No. 36
tahun

1999

bahwa

perbuatan

melawan

hukum

yang

dilakukan

akan

dibandingkan Pengaturannya dengan Pasal 362 KUHP dengan ketentuan pidana


UU Nomor 36 tahun 1999 Pasal 53 ayat (1).
Perbuatan

mengambil

tanpa

izin,

sebahagian

atau

seluruhnya,

pengambilan itu harus dengan sengaja dan dengan maksud untuk dimilikinya,
demi meraih keuntungan. Berdasarkan ketentuan Pasal 362 KUHP, diatas maka
perbandingan pengaturannya unsur pencurian dalam penggunaan frekuensi
radio tanpa izin adala sebagai berikut :
1. Dalam kalimat pada Pasal 362 KUHP diatas terdapat kata Barang Siapa
dalam penggunaan frekuensi tapa izin, namun di dalam UU Telekomunikasi
Nomor 36 tahun 1999 tidak dijelaskan mengenai Barang siapa kata siapa
menunjukan subjek hukum, Berarti badan usaha yang berbadan hukum
(yang memiliki izin dari pemerintah) maupun tidak berbadan hukum. Menurut
Subekti dalam hukum, perkataan orang (persoon) berarti pembawa hak atau
subyek di dalam hukum disamping orang-orang (manusia), telah nampak
pula di dalam hukum ikut sertanya badan-badan atau perkumpulanperkumpulan yang dapat juga memiliki hak-hak dan melakukan perbuatan
hukum seperti manusia. Badan atau perkumpulan yang sedemikian itu,
dinamakan badan hukum atau recht-persoon, artinya orang yang diciptakan
oleh hukum.
2. Bahasa mengambil sesuatu barang juga tidak di jelaskan dalam UU Nomor
36 tahun 1999, kata mengambil, 16 dan sesuatu barang,17 Yang berarti
benda yang bernilai ekonomis yaitu frekuensi radio akan tetapi di dalam
Pasal 362 KUHP menjelaskannya pengertian tersebut.

3. Kepunyaan orang lain, kepunyaan orang lain maksudnya mengandung unsur


dikuasai pemerintah (frekuensi) yang dalam pengambilan18 frekuensinya
melalui

izin

dari

pemerintah

berdasarkan

keputusan

KPI

Nomor

40/SK/KPI/08/2005 tentang Panduan Pelaksanaan Proses Administrasi


Permohonan Izin Penyiaran Jasa Penyiaran Radio dan Jasa Penyiaran
Televisi, bahasa kepunyaan disini maksudnya pemerintah (yang mengatur
frekuensi melalui proses dan persyaratan yang sesuai dengan ketentuan UU)
yang merupakan kekayaan nasional.19 Berdasarkan ketentuan UU Nomor
36 tahun 1999 Pasal 33 dengan Pasal 362

ayat (3) KUHP,20 maka

perbuatan tersebut merupakan perbuatan melawan hukum dan dapat


dihukum penjara.21 Agar putusan hakim dalam peristiwa konkret dapat
memenuhi tuntutan keadilan, dan kemanfaatan bagi pencari keadilan.
2.2 Pendekatan Secara Teknis
Secara teknis, pita spektmm frekuensi radio yang digunakan untuk televisi
analog dapat digunakan untuk penyiaran televisi digital. Perbandingan lebar pita
frekuensi yang digunakan teknologi analog dengan teknologi digital adalah 1 : 6 .
Jadi, bila teknologi analog memerlukan lebar pita 8 MHz untuk satu kanal
transmisi, teknologi digital dengan lebar pita yang sama (menggunakan teknik
multipleks) dapat memancarkan sebanyak 6 hingga 8 kanal transmisi sekaligus
untuk program yang berbeda.
Dalam rangka persiapan menghadapi implementasi TV digital yang akan
datang, Pemerintah telah menyediakan kanal frekuensi untuk keperluan TV
digital, yaitu dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Komunikasi dan
Informatika Nomor 23 Tahun 2011 tentang Rencana Induk (Master Plan)
Frekuensi Radio Untuk Keperluan Televisi Siaran Digital Terestrial Pada Pita
Frekuensi Radio 478 - 694 MHz.
Perencanaan frekuensi penyiaran televisi digital terestrial dialokasikan
pada pita frekuensi UHF Band IV dan sebagian UHF Band V. Proteksi rasio cochannel dan kanal beffetangga hams diperhatikan untuk menjaga agar tidak
terjadi interferensi, baik pada sinyal TV analog maupun pada sinyal TV digital.
2.3 Pendekatan terhadap Kondisi Eksisting di Indonesia
Pada dasarnya, Dpectrum frekuensi radio adalah milik Pemerintah
Republik Indonesia. Indonesia menganut rezim pengelolaan frekuensi yang
7

terpusat, tetapi sebagian pengelolaan telah mengikuti mekanisme pasar,


misalnya diberlakukannya lelang dalam pemberian lisensi. Penggunaan
Dpectrum frekuensi radio hanya dapat dilakukan atas izin Menteri Komunikasi
dan Informatika, dalam bentuk izin stasiun radio. Hak penggunaan Dpectrum
frekuensi radio diberikan selama lima atau sepuluh tahun dan dapat
diperpanjang dengan izin Menteri. Sejak tahun 2004, diterapkan Dpectr lisensi
modern

yang

mewajibkan

entitas

penyelenggara

jasa

telekomunikasi

melaksanakan komitmen lima tahunan atas pembangunan jaringan fisik


infrastruktur yang tertulis dalam proposal izin prinsip penyelenggaraan.
Pelanggaran atas pemenuhan komitmen tersebut dapat berdampak pada
pemberian sanksi denda hingga pada pencabutan lisensi.
1. Biaya Penggunaan Entitas yang mendapatkan hak penggunaan lisensi wajib
membayar Biaya Hak Pengunaan (BHP) frekuensi. Besaran BHP yang
dibayarkan oleh entitas dari tahun ke tahun akan menentukan nilai ekonomi
suatu pita frekuensi. Saat ini, BHP frekuensi memasuki masa transisi tahun
ketiga menuju implementasi BHP Pita, yakni perhitungan BHP frekuensi yang
menganut prinsip netralitas atas teknologi dan hanya didasarkan pada lebar
pita yang dialokasikan dan nilai ekonomi frekuensi tersebut.
2. Efisiensi Teknis Spektrum Frekuensi Radio Secara sederhana, formulasi
efisiensi dinyatakan sebagai hasil pembagian antara output dan input. Pada
kasus penggunaan Dpectrum, output dapat diekspresikan dalam bentuk
jumlah bit informasi yang ditransmisikan, dan input adalah jumlah Dpectrum
(dalam Hertz) yang digunakan.Ada tiga pendekatan yang dapat digunakan
dalam membandingkan efisiensi penggunaan Dpectrum frekuensi antar
operator telekomunikasi, yakni:
a. efisiensi Dpectrum frekuensi dalam satuan Jumlah Pelanggan/MHz
(FCC, 2002), yang didapatkan dengan membagi jumlah pelanggan
operator dengan besarnya bandwidth yang dimiliki;
b. efisiensi voice traffic dalam satuan Erlang/MHz/Km2/ tahun, yang didapat
dari hasil pembagian antara data pemakaian layanan suara (minutes of
usage) yang telah dikonversi ke satuan Erlang (per 60 menit) dengan
besarnya bandwidth untuk setiap DpectrumD persegi luas wilayah
cakupan lisensi;

c. efisiensi data traffic dalam satuan Byte/Hz/Km2/ tahun, yang didapat dari
hasil pembagian antara volume pemakaian layanan data (bytes) dengan
besarnya bandwidth untuk setiap DpectrumD persegi luas wilayah
cakupan lisensi.
Semakin tinggi nilai yang didapat, maka dapat dikatakan semakin baik pula
efisiensi yang terjadi. Meskipun hasil dari ketiga pendekatan pengukuran di atas
belum dapat menggambarkan secara akurat kondisi efisiensi penggunaan
Dpectrum frekuensi untuk setiap operator, namun hasil perbandingannya cukup
menggambarkan

adanya

persamaan

atau

perbedaan

tingkat

efisiensi

penggunaan Dpectrum frekuensi radio antar operator telekomunikasi.


2.4 Pendekatan Benchmark kepada Negara lain
Saat ini hanya beberapa negara di dunia yang telah menerapkan praktik
perdagangan (lisensi) spectrum frekuensi radio, di antaranya adalah Australia,
Selandia Baru, Amerika Serikat, dan Guatemala (Analysys et al., 2004). Masingmasing dapat ditinjau dari aspek implementasi secara umum, bentuk spectrum
spectrum frekuensi, penyelesaian masalah interferensi, kebijakan kompetisi, dan
informasi spectr (CEPT, 2002).
Lelang atas pita 500 MHz di Australia dilangsungkan pada tahun 1997,
dengan pertimbangan bahwa pita tersebut berisiko rendah. Ada dua jenis lisensi:
1) lisensi spectrum frekuensi, yakni yang terjual melalui lelang dan kemudian
dapat diperdagangkan secara penuh. Hak penggunaan spectrum frekuensi
didefinisikan dalam spectrumDDy geografi dan frekuensi. Lisensi diberikan
dalam bentuk Standard Trading Unit (STU), yang mirip dengan blok-blok
Dpectrum frekuensi, dan diberikan dalam jangka waktu tetap hingga 15 tahun,
dan 2) lisensi DpectrumD, yang merupakan lisensi atas suatu padanan
teknologi, lokasi dan layanan yang spesifik. Lisensi ini diperdagangkan dengan
tetap mempertahankan kondisi aslinya, kecuali ditentukan lain oleh Australian
Communications and Media Authority (ACMA), dan diberikan dengan periode
maksimum selama lima tahun namun dapat diperpanjang.Setiap lisensi memiliki
batasan emisi yang diperbolehkan untuk menghindari interferensi dengan lisensi
tetangga, dan level daya maksimum diatur untuk mencegah interferensi out-ofband.

Di negara ini, Dpectrum frekuensi radio diperlakukan sebagai aset, yang


permasalahan kompetisi dan akuisisinya ditangani oleh Australian Competition
and Consumer Commission (ACCC).Pada praktiknya, telah disusun sebuah
daftar online dari lisensi Dpectrum frekuensi yang tersedia, sehingga
memungkinkan calon pembeli untuk mencari penjual, namun tidak sebaliknya.
Berdasarkan catatan, kurang dari 100 buah lisensi jenis pertama telah
diperdagangkan, dan terdapat sekitar 2000 buah lisensi spectrumD yang
diperdagangkan, terutama dalam bisnis radio swasta.
Selanjutnya, di Selandia Baru, pasar Dpectrum frekuensi pertama kali
diperkenalkan pada tahun 1989 untuk kebutuhan reformasi broadcasting. Ada
dua jenis hak yang diberikan, yakni 1) hak pengelolaan (management right)
terhadap pita frekuensi tertentu, cakupan nasional, dan untuk periode tertentu
tetapi terbatas hingga maksimum 20 tahun), dan 2) hak lisensi (license right)
yang diberikan oleh pemilik hak pengelolaan untuk frekuensi dalam pita
frekuensi hak pengelolaan.Batas emisi frekuensi out-of-band didefinisikan di
dalam hak pengelolaan. Pemegang hak pengelolaan tidak bertanggung jawab
untuk

memastikan

bahwa

pemegang

hak

lisensi

mematuhi

batas

interferensi.Hak lisensi secara Dpect mengalami proses-proses penegakan


Dpect, konsiliasi, dan arbitrase yang dilakukan untuk mengatasi perselisihan.
Di sisi perlindungan kompetisi, pemerintah menerapkan Dpect kompetisi
umum (General Competition Law) dalam perdagangan Dpectrum frekuensi. Di
sisi informasi, telah disusun daftar Dpectr dari lisensi Dpectrum frekuensi yang
digunakan

oleh

pemerintah

dan

masyarakat

sipil,

dengan

beberapa

pengecualian yang tidak dimasukkan ke dalam daftar. Daftar ini pun telah
diusahakan agar dapat diakses melalui Internet. Di sisi perdagangan, terlihat
bahwa volume perdagangan Dpectrum frekuensi radio secara umum rendah,
dengan jumlah terbesar berada pada frekuensi penyiaran gelombang AM dan
FM.
Di Amerika Serikat, FCC telah memperkenalkan suatu aturan untuk
mendorong pasar sekunder Dpectrum frekuensi sejak 1996. Aturan ini
mempromosikan pemecahan lisensi dan penyewaan dan penjualan kembali
Dpectrum frekuensi radio. Pemindahtanganan lisensi dapat dilakukan sepanjang
memperoleh persetujuan dari FCC. Praktik-praktik penyewaan Dpectrum
frekuensi

pun

dimungkinkan

secara

temporer

untuk

keperluan

partisi,
10

disagregasi, atau alokasi dari sebagian dari hak penggunaan Dpectrum frekuensi
pemegang lisensi, tanpa pemindahtanganan Dpectru atas frekuensi tersebut
secara utuh dan permanen. Sistem penyewaan dibagi dua jenis, yakni: 1)
penyewaan spectrum manager, yakni bentuk penyewaan yang tidak memerlukan
persetujuan FCC terlebih dahulu, sepanjang pemegang lisensi mempertahankan
pengendalian lisensi secara de jure dan pengendalian Dpectrum frekuensi
secara de facto atas Dpectrum frekuensi yang disewakan. Dalam penegakan
aturan, FCC akan melihat masalah kepatuhan tersebut secara utama pada
pemegang lisensi, tetapi juga dimungkinkan dilihat pada penyewa lisensi, dan 2)
transfer de facto, yakni bentuk penyewaan yang harus mendapat persetujuan
terlebih dahulu dari FCC, di mana pemegang lisensi mempertahankan
pengendalian lisensi secara de jure dan melakukan transfer pengendalian
Dpectrum frekuensi secara de facto kepada penyewa. Untuk keperluan
penegakan Dpect, FCC akan melihat kepatuhan penyewa, dan penyewa akan
melakukan tindakan Dpect yang dibutuhkan. Kewenangan FCC juga diterapkan
dalam penyelesaian masalah interferensi.
Di sisi kompetisi, diterapkan Dpectr batas atas kepemilikian Dpectrum
frekuensi (spectrum caps) dan Dpect kompetisi (competition law). Sementara itu,
data lisensi wireless tersedia secara online, termasuk peta yang menunjukkan
cakupan

lisensi

dan

penyedia

layanan.

Di

sisi

perdagangan,

volume

pemindahtanganan lisensi mencapai angka ribuan dalam periode satu tahun.


Perbandingan terakhir, di Guatemala, lelang Dpectrum frekuensi sebesar
20,8 MHz pada rentang pita 800 MHz dilakukan pada 1996 untuk keperluan
trunking atau radio bergerak khusus. Hak (lisensi) diberikan atas permintaan,
dan ketika terdapat klaim dari pihak lain, maka baru dilakukan lelang. Hak
tersebut

dapat

diperdagangkan

secara

bebas,

dan

pemegang

lisensi

memperoleh hak eksplisit atas frekuensi radio.Pada setiap lisensi juga


dinyatakan mengenai besaran daya pancar maksimum pada perbatasan
frekuensi-frekuensi yang bersebelahan. Daftar penggunaan Dpectrum frekuensi
disimpan dalam basis data terkomputerisasi, di mana hingga saat ini tercatat
lebih dari 3400 hak/lisensi yang baru diberikan pada masa reformasi Dpectrum
frekuensi.

11

2.5 Pendekatan Literatur


Sistem komunikasi

satelit

telah

digunakan

di

Indonesia

untuk

menyambungkan lebih dari 17 000 pulau di Indonesia sejak September 1969,


ketika Indonesia pertama kali terhubung dengan satelit Intelsat. Pada tahun
1976, satelit Indonesia pertama yaitu Palapa A diluncurkan sebagai sistem
komunikasi satelit domestik (SKSD) yang memberi layanan telekomunikasi serta
relay TVRI. Sejak itu, Indonesia meluncurkan beberapa seri satelit seperti satelit
Palapa seri B, seri C, satelit Cakrawarta, Garuda, dan sebagainya.
Penggunaan spektrum frekuensi radio pada penyelenggaraan jaringan
telekomunikasi selular perlu dibahas tersendiri, mengingat penggunaan alokasi
pita frekuensi jaringan akses ke pelanggan bersifat eksklusif dalam penguasaan
pita frekuensi pada suatu wilayah layanan tertentu. Selain itu, perkembangan
telekomunikasi selular berkembang sangat cepat, yang menjangkau hampir
semua wilayah Indonesia dengan jumlah pengguna di atas 100 juta.

12

BAB III
ANALISA
Penggunaan spektrum frekuensi radio di Indonesia sudah diatur oleh . UU
No. 36 tahun 1999. Pemanfaatan spektrum frekuensi radio yang dialokasikan
regulator, terutama oleh penyelenggara telekomunikasi di Indonesia, belum
mencapai titik optimalnya. Akibatnya, ketersediaan dan permintaan layanan belum
berimbang. Memperkirakan bahwa konsep pasar sekunder berpotensi meningkatkan
efisiensi pemberian hak penggunaan spektrum frekuensi radio, studi ini mendukung
regulator dalam mengkaji penerapan pasar sekunder spektrum frekuensi di negara
lain, kondisi penggunaan spektrum frekuensi radio di dalam negeri, serta potensi
pasar sekunder dari aspek kebijakan dan ekonomi. Menggunakan pendekatan
kualitatif yang didukung data kuantitatif, data dikumpulkan melalui studi literatur,
focus

group

discussion,

dan

wawancara

mendalam,

kemudian

dianalisis

menggunakan teknik regulatory impact analysis dan cost benefit analysis. Hasil studi
menunjukkan perlunya peningkatan fleksibilitas kebijakan alokasi spektrum frekuensi
radio di Indonesia ketika memberlakukan pasar sekunder, agar menghasilkan benefit
maksimum di setiap transaksi dari aspek ekonomi. Hal tersebut juga telah terbukti
dengan hadirnya dampak positif bagi industri di negara-negara yang telah
memberlakukan pasar sekunder.

13

BAB IV
REKOMENDASI KEPADA REGULASI TIK

14

BAB V
KESIMPULAN SARAN
5.2 Kesimpulan
1. Perbandingan pengaturan penggunaan frekuensi radio tanpa izin dengan
tindak pidana pencurian Pasal 362 KUHP (barang siapa yang mengambil
sebahagian atau seluruhnya kepunyaan orang lain dengan cara melawan
hukum) Hal tersebut dapat dilihat pada unsur-unsur Pasal 362 KUHP tentang
pencurian dibandingkan dengan penggunaan spektrum frekuensi radio tanpa
izin Pasal 53 ayat (1) yaitu penggunaan frekuensi radio harus memiliki izin
dari pemerintah. Barang Siapa

Menunjukan

Subjek Hukum, Mengambil

sesuatu barang yang dimaksud adalah Frekuensi, Kepunyaan orang lain


Menunjukan dikuasai oleh Pemerintah.
2. Pertanggungjawaban pidana bagi pelaku penggunaan frekuensi radio tanpa
izin tercantum pada Pasal 53 ayat (1) yaitu dipidana penjara paling lama 4
(empat) tahun dan atau denda paling banyak Rp.400.000.000, setiap orang
yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (1)
yaitu penggunaan spektrum frekuensi radio dan orbit satelit wajib
mendapatkan izin Pemerintah. UU Telekomunikasi tidak mengatur secara
jelas tentang subjek hukum pidana sehingga dari pasal terebut dapat
dijabarkan unsur-unsurnya barang siapa yang mengadung arti sebagai
subjek hukum sedangkan unsur objektifnya yaitu frekuensi, dimintanya
pertanggungjawaban pidana bagi pelaku penggunaan frekuensi radio tanpa
izin tersebut adalah oleh si pengguna (Pasal 1 ayat (11): pengguna adalah
pelanggan dan pemakai) dari frekuensi tersebut tergantung dari berat
ringannya pelanggaran yang dilakukan.
3. Upaya penegakan hukum dalam penggunaan frekuensi radio merupakan
salah satu upaya pencegahan yang berbentuk sanksi terhadap tindak pidana
di dalam usaha penyiaran, Penerapan UU tindak pidana penggunaan
frekuensi radio tanpa izin dalam Putusan Pengadilan Negeri Nomor
91/Pid.B/2013/PN.Sal Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa oleh karna itu
dengan penjara selama 6 (enam) bulan dan denda sebesar Rp1000.000
(satu juta rupiah), barang bukti berupa: 1(satu) unit STL/Link merk tidak ada,
type tidak ada, Nomor serie tidak ada, cassing warna hitam dan ditempel

15

striker

bertuliskan

Radio

Bass

93.2

Mhz;

dirampas

untuk

dimusnahkan;Membebani biaya perkara kepada terdakwa sebesar Rp 2000,


(dua ribu rupiah), hakim tidak boleh sekedar menjadi corong UU, putusan
hakim tidak boleh hanya sekedar memenuhi formalitas hukum atau hanya
sekedar memilihara ketertiban, akan tetapi harus dapat memenuhi kepastian
hukum dan keadilan yang hidup di masyarakat.

5.2 Saran
1. Perlu adanya penyempurnaan UU penyiaran dalam penafsiran, regulasi yang
sistematis mengenai pengertian atau kualifikasi pencurian dalam perbuatan
penggunaan frekuensi radio tanpa izin baik syarat dan prosedurnya sehingga
dapat dikatakan pencurian frekuensi radio menurut UU Nomor 36 Tahun
1999 tentang Telekomunikasi.
2. Perlu adanya sosialisasi dari aparat penegak hukum dalam rangka mencari
hukuman yang efektif untuk dijatukan kepada sipelaku tindak pidana
penggunaan frekuensi radio tanpa izin dan masyarakat untuk meningkatkan
kesadaran akan bahaya dari penggunaan frekuensi radio tanpa izin
Pemerintah.
3. Perlu adanya peningkatan kualitas sumber daya Manusia yang telibat di
bidang penyiaran dalam mencegah dan memberantas penggunaan frekuensi
radio tanpa izin, terutama pada lembaga-lembaga penting seperti balai
monitoring (PPNS), Kepolisian, Kejaksaan, Kehakiman.

16

DAFTAR PUSTAKA
[1]

17