Anda di halaman 1dari 19

blognya si pemula :)

This WordPress.com site is a place to learn

ASKEP PADA PASIEN GASTROENTERITIS


SEPTEMBER 17, 2013 | KENNY MARINDA
Keperawatan Dewasa II
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN GASTROENTERITIS

OLEH
KENNY MARINDA
1110323040

FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ANDALAS
2013
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat yang dicurahkan-Nya, penulis
dapat menyelesaikan tugas makalah ini tepat waktu yang berjudul Asuhan Keperawatan pada Klien
dengan Gastroenteritis. Terima kasih kepada dosen pembimbing, teman-teman, dan juga orang tua,
atas dorongan yang telah diberikan kepada penulis sehingga makalah ini dapat terbentuk.
Makalah ini juga tidak luput dari kekurangan dan kekeliruan yang disebabkan oleh keterbatasan
kemampuan dan literatur yang sangat kurang yang ada pada penulis, kepada dosen penulis mohon
maaf. Penulis menyadari sepenuhnya makalah ini masih jauh dari sempurna, segala sumbang saran,
gagasan, pemikiran dan koreksi dari semua pihak yang dapat memperkaya, menambah kelengkapan
tulisan ini sangat kami harapkan.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca terutama bagi penulis sendiri, dan dapat

berguna dimasa yang akan datang. Aamiin,,,


Padang, 21 Januari 2013
penulis
DAFTAR ISI
Halaman Judul
Kata Pengantar . i
Daftar Isi ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah .. 1
1.3 Tujuan . 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi & Fisiologi Sistem Pencernaan .... 3
2.2 Landasan Teoritis Penyakit Gastroenteritis. 7
2.2.1

Defenisi Gastroenteritis ... 7

2.2.2

Klasifikasi . 8

2.2.3

Etiologi .. 9

2.2.4

Patofisiologi ... 10

2.2.5

Manifestasi Klinis ...... 10

2.2.6

Pemeriksaan Fisik ... 11

2.2.7

Pemeriksaan Penunjang & Diagnostik .... 11

2.2.8

Penatalaksanaan Medis & Keperawatan . 12

2.2.10

WOC .... 13

2.3 Landasan Teoritis Asuhan Keperawatan Pada Klien Gastroenteritis 14


2.3.1

Pengkajian . 14

2.3.2

Pengkajian 11 Pola Fungsional Gordon ... 14

2.3.3

Perumusan NANDA, NOC, dan NIC . 16

2.3.4

Evaluasi 19

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan .. 20
3.2 Saran .. 20
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Gastroenteritis biasa disebut diare adalah salah satu penyakit yang banyak terjadi di Indonesia.
Gastroenteritis dapat menyerang pada semua kelompok usia. Tidak jarang penyakit ini menyebabkan
kematian pada si penderita. Hal ini dikarenakan oleh ketidakmampan si penderita menoleransi
kehilangan elektrolit dan cairan dari tubuhnya.
Gastroenteritis adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus yang memberikan gejala
diare dengan atau tanpa dehidrasi disertai muntah. Gastroenteritis diartikan sebagai buang air besar
yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekuensi yang lebih banyak dari biasa
(Sowdent, 2005).
Angka kejadian diare, di sebagian besar wilayah Indonesia hingga saat ini masih tinggi. Hasil Survei
Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2004 angka kematian akibat diare 23 per 100 ribu penduduk.
Selama tahun 2006 sebanyak 41 kabupaten di 16 provinsi melaporkan KLB diare di wilayahnya.
Jumlah kasus diare yang dilaporkan sebanyak 10.980 dan 277 diantaranya menyebabkan kematian.
Hal tersebut, utamanya disebabkan rendahnya ketersediaan air bersih, sanitasi buruk dan perilaku
hidup tidak sehat (Tadda, asri. 2010).
Sebenarnya banyak hal yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya diare, seperti masyarakat
harus menyadari bahwa kesehatan itu lebih dari segalanya. Berdasarkan hal di atas penulis
menyusun makalah dengan judul Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gastroenteritis .
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana anatomi fisiologi sistem percenaan?
1.2.2 Bagaimana landasan teoritis penyakit gastroenteritis?
1.2.3 Bagaimana landasan teoritis asuhan keperawatan pada klien gastroenteritis?
1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui dan memahami anatomi dan fisiologi dari sistem pencernaan.
1.3.2 Untuk mengetahui dan mengerti tentang landasan teoritis penyakit gastroenteritis.
1.3.3 Untuk mengetahui dan mengerti tentang landasan teoritis askep pada klien gastroenteritis.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Anatomi dan Fisiologi Sistem Pencernaan

Sistem pencernaan atau sistem gastroinstestinal (mulai dari mulut sampai anus) adalah sistem organ
dalam manusia yang berfungsi untuk menerima makanan, mencernanya menjadi zat-zat gizi dan
energi, menyerap zat-zat gizi ke dalam aliran darah serta membuang bagian makanan yang tidak
dapat dicerna atau merupakan sisa proses tersebut dari tubuh. Saluran pencernaan terdiri dari mulut,
tenggorokan (faring), kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, rektum dan anus. Sistem
pencernaan juga meliputi organ-organ yang terletak diluar saluran pencernaan, yaitu pankreas, hati
dan kandung empedu.
1. Mulut
Mulut adalah suatu rongga terbuka tempat masuknya makanan dan air pada hewan dan
manusia. Mulut biasanya terletak di kepala dan umumnya merupakan bagian awal dari sistem
pencernaan lengkap yang berakhir di anus. Mulut merupakan jalan masuk untuk sistem pencernaan.
Bagian dalam dari mulut dilapisi oleh selaput lendir. Pengecapan dirasakan oleh organ perasa yang
terdapat di permukaan lidah. Pengecapan relatif sederhana, terdiri dari manis, asam, asin dan pahit.
Sedangkan penciuman dirasakan oleh saraf olfaktorius di hidung dan teriri dari berbagai macam bau.
Makanan dipotong-potong oleh gigi depan (incisivus) dan di kunyah oleh gigi belakang (molar,
geraham) menjadi bagian-bagian kecil yang lebih mudah dicerna. Ludah dari kelenjar ludah akan
membungkus bagian-bagian dari makanan tersebut dengan enzim-enzim pencernaan dan mulai
mencernanya. Ludah juga mengandung antibodi dan enzim (misalnya lisozim), yang memecah
protein dan menyerang bakteri secara langsung. Proses menelan dimulai secara sadar dan berlanjut
secara otomatis.
B. Tenggorokan ( Faring)
Tenggorokan adalah penghubung antara rongga mulut dan kerongkongan. Berasal dari bahasa
yunani yaitu Pharynk. Didalam lengkung faring terdapat tonsil ( amandel ) yaitu kelenjar limfe yang
banyak mengandung kelenjar limfosit dan merupakan pertahanan terhadap infeksi, disini terletak
persimpangan antara jalan nafas dan jalan makanan, letaknya dibelakang rongga mulut dan rongga
hidung, didepan ruas tulang belakang. Keatas bagian depan berhubungan dengan rongga hidung,
dengan perantaraan lubang bernama koana, keadaan tekak berhubungan dengan rongga mulut
dengan perantaraan lubang yang disebut ismus fausium. Tekak terdiri dari; Bagian superior = bagian
yang sangat tinggi dengan hidung, bagian media = bagian yang sama tinggi dengan mulut dan bagian
inferior = bagian yang sama tinggi dengan laring.
Bagian superior disebut nasofaring, pada nasofaring bermuara tuba yang menghubungkan tekak
dengan ruang gendang telinga, Bagian media disebut orofaring, bagian ini berbatas kedepan sampai
diakar lidah. Bagian inferior disebut laring gofaring yang menghubungkan orofaring dengan laring
C. Kerongkongan (Esofagus)
Kerongkongan adalah tabung (tube) berotot pada vertebrata yang dilalui sewaktu makanan mengalir
dari bagian mulut ke dalam lambung. Makanan berjalan melalui kerongkongan dengan
menggunakan proses peristaltik. Sering juga disebut esofagus(dari bahasa Yunani: i, oeso
membawa, dan , phagus memakan). Esofagus bertemu dengan faring pada ruas ke-6
tulang belakang.
Menurut histology Esofagus dibagi menjadi tiga bagian: bagian superior (sebagian besar adalah otot
rangka), bagian tengah (campuran otot rangka dan otot halus), serta bagian inferior (terutama terdiri
dari otot halus).
D. Lambung

Lambung adalah organ otot berongga yang besar dan berbentuk seperti kandang keledai. Terdiri dari
3 bagian yaitu Kardia, Fundus, Antrum. Makanan masuk ke dalam lambung dari kerongkongan
melalui otot berbentuk cincin (sfinter), yang bisa membuka dan menutup. Dalam keadaan normal,
sfinter menghalangi masuknya kembali isi lambung ke dalam kerongkongan. Lambung berfungsi
sebagai gudang makanan, yang berkontraksi secara ritmik untuk mencampur makanan dengan
enzim-enzim.
Sel-sel yang melapisi lambung menghasilkan 3 zat penting :
1)

Lendir

Lendir melindungi sel-sel lambung dari kerusakan oleh asam lambung. Setiap kelainan pada lapisan
lendir ini, bisa menyebabkan kerusakan yang mengarah kepada terbentuknya tukak lambung
2)

Asam klorida (HCl)

Asam klorida menciptakan suasana yang sangat asam, yang diperlukan oleh pepsin guna memecah
protein. Keasaman lambung yang tinggi juga berperan sebagai penghalang terhadap infeksi dengan
cara membunuh berbagai bakteri.
3)

Prekursor pepsin (enzim yang memecahkan protein)

1. Usus halus (usus kecil)


Usus halus atau usus kecil adalah bagian dari saluran pencernaan yang terletak di antara lambung
dan usus besar. Dinding usus kaya akan pembuluh darah yang mengangkut zat-zat yang diserap ke
hati melalui vena porta. Dinding usus melepaskan lendir (yang melumasi isi usus) dan air (yang
membantu melarutkan pecahan-pecahan makanan yang dicerna). Dinding usus juga melepaskan
sejumlah kecil enzim yang mencerna protein, gula dan lemak. Lapisan usus halus ; lapisan mukosa (
sebelah dalam ), lapisan otot melingkar ( M sirkuler ), lapisan otot memanjang (M Longitidinal) dan
lapisan serosa ( Sebelah Luar ).
Usus halus terdiri dari tiga bagian yaitu usus dua belas jari (duodenum), usus kosong (jejunum), dan
usus penyerapan (ileum).
1. Usus dua belas jari (Duodenum)
Usus dua belas jari atau duodenum adalah bagian dari usus halus yang terletak setelah lambung dan
menghubungkannya ke usus kosong (jejunum). Bagian usus dua belas jari merupakan bagian
terpendek dari usus halus, dimulai dari bulbo duodenale dan berakhir di ligamentum Treitz. Usus
dua belas jari merupakan organ retroperitoneal, yang tidak terbungkus seluruhnya oleh selaput
peritoneum. pH usus dua belas jari yang normal berkisar pada derajat sembilan. Pada usus dua belas
jari terdapat dua muara saluran yaitu dari pankreas dan kantung empedu. Nama duodenum berasal
dari bahasa Latin duodenum digitorum, yang berarti dua belas jari. Lambung melepaskan makanan
ke dalam usus dua belas jari (duodenum), yang merupakan bagian pertama dari usus halus. Makanan
masuk ke dalam duodenum melalui sfingter pilorus dalam jumlah yang bisa di cerna oleh usus halus.
Jika penuh, duodenum akan megirimkan sinyal kepada lambung untuk berhenti mengalirkan
makanan.
2. Usus Kosong (jejenum)
Usus kosong atau jejunum (terkadang sering ditulis yeyunum) adalah bagian kedua dari usus halus,
di antara usus dua belas jari (duodenum) dan usus penyerapan (ileum). Pada manusia dewasa,
panjang seluruh usus halus antara 2-8 meter, 1-2 meter adalah bagian usus kosong. Usus kosong dan

usus penyerapan digantungkan dalam tubuh dengan mesenterium. Permukaan dalam usus kosong
berupa membran mukus dan terdapat jonjot usus (vili), yang memperluas permukaan dari usus.
Secara histologis dapat dibedakan dengan usus dua belas jari, yakni berkurangnya kelenjar Brunner.
Secara hitologis pula dapat dibedakan dengan usus penyerapan, yakni sedikitnya sel goblet dan plak
Peyeri. Sedikit sulit untuk membedakan usus kosong dan usus penyerapan secara makroskopis.
Jejunum diturunkan dari kata sifat jejune yang berarti lapar dalam bahasa Inggris modern. Arti
aslinya berasal dari bahasa Laton, jejunus, yang berarti kosong.
3. Usus Penyerapan (illeum)
Usus penyerapan atau ileum adalah bagian terakhir dari usus halus. Pada sistem pencernaan
manusia, ) ini memiliki panjang sekitar 2-4 m dan terletak setelah duodenum dan jejunum, dan
dilanjutkan oleh usus buntu. Ileum memiliki pH antara 7 dan 8 (netral atau sedikit basa) dan
berfungsi menyerap vitamin B12 dan garam-garam empedu.
F. Usus Besar (Kolon)
Usus besar atau kolon dalam anatomi adalah bagian usus antara usus buntu dan rektum. Fungsi
utama organ ini adalah menyerap air dari feses. Usus besar terdiri dari : Kolon asendens (kanan),
Kolon transversum, Kolon desendens (kiri), Kolon sigmoid (berhubungan dengan rektum).
Banyaknya bakteri yang terdapat di dalam usus besar berfungsi mencerna beberapa bahan dan
membantu penyerapan zat-zat gizi. Bakteri di dalam usus besar juga berfungsi membuat zat-zat
penting, seperti vitamin K. Bakteri ini penting untuk fungsi normal dari usus. Beberapa penyakit serta
antibiotik bisa menyebabkan gangguan pada bakteri-bakteri didalam usus besar. Akibatnya terjadi
iritasi yang bisa menyebabkan dikeluarkannya lendir dan air, dan terjadilah diare.
G. Usus Buntu (sekum)
Usus buntu atau sekum (Bahasa Latin: caecus, buta) dalam istilah anatomi adalah suatu
kantung yang terhubung pada usus penyerapan serta bagian kolon menanjak dari usus besar. Organ
ini ditemukan pada mamalia, burung, dan beberapa jenis reptil. Sebagian besar herbivora memiliki
sekum yang besar, sedangkan karnivora eksklusif memiliki sekum yang kecil, yang sebagian atau
seluruhnya digantikan oleh umbai cacing.
H. Umbai Cacing (Appendix)
Umbai cacing atau apendiks adalah organ tambahan pada usus buntu. Infeksi pada organ ini
disebut apendisitis atau radang umbai cacing. Apendisitis yang parah dapat menyebabkan apendiks
pecah dan membentuk nanah di dalam rongga abdomen atau peritonitis (infeksi rongga abdomen).
Dalam anatomi manusia, umbai cacing atau dalam bahasa Inggris, vermiform appendix (atau hanya
appendix) adalah hujung buntu tabung yang menyambung dengan caecum. Umbai cacing terbentuk
dari caecum pada tahap embrio. Dalam orang dewasa, Umbai cacing berukuran sekitar 10 cm tetapi
bisa bervariasi dari 2 sampai 20 cm. Walaupun lokasi apendiks selalu tetap, lokasi ujung umbai cacing
bisa berbeda bisa di retrocaecal atau di pinggang (pelvis) yang jelas tetap terletak di peritoneum.
Banyak orang percaya umbai cacing tidak berguna dan organ vestigial (sisihan), sebagian yang lain
percaya bahwa apendiks mempunyai fungsi dalam sistem limfatik. Operasi membuang umbai cacing
dikenal sebagai appendektomi.
I. Rektum dan anus

Rektum (Bahasa Latin: regere, meluruskan, mengatur) adalah sebuah ruangan yang berawal dari
ujung usus besar (setelah kolon sigmoid) dan berakhir di anus. Organ ini berfungsi sebagai tempat
penyimpanan sementara feses. Biasanya rektum ini kosong karena tinja disimpan di tempat yang
lebih tinggi, yaitu pada kolon desendens. Jika kolon desendens penuh dan tinja masuk ke dalam
rektum, maka timbul keinginan untuk buang air besar (BAB).
Mengembangnya dinding rektum karena penumpukan material di dalam rektum akan memicu
sistem saraf yang menimbulkan keinginan untuk melakukan defekasi. Jika defekasi tidak terjadi,
sering kali material akan dikembalikan ke usus besar, di mana penyerapan air akan kembali
dilakukan. Jika defekasi tidak terjadi untuk periode yang lama, konstipasi dan pengerasan feses akan
terjadi.
Anus merupakan lubang di ujung saluran pencernaan, dimana bahan limbah keluar dari tubuh.
Sebagian anus terbentuk dari permukaan tubuh (kulit) dan sebagian lainnya dari usus. Pembukaan
dan penutupan anus diatur oleh otot sphinkter. Feses dibuang dari tubuh melalui proses defekasi
(buang air besar BAB), yang merupakan fungsi utama anus.
2.2

Landasan Teoritis Penyakit

2.2.1 Defenisi Gastroentritis


Gastroentritis ( GE ) adalah peradangan yang terjadi pada lambung dan usus yang memberikan
gejala diare dengan atau tanpa disertai muntah (Sowden,et all.1996).
Gastroenteritis diartikan sebagai buang air besar yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer
dengan frekwensi yang lebih banyak dari biasanya (FKUI,1965).
Gastroenteritis adalah inflamasi pada daerah lambung dan intestinal yang disebabkan oleh bakteri,
virus dan parasit yang patogen (Whaley & Wongs,1995).
Dari ketiga defenisi di atas dapat disimpulkan bahwa Gastroentritis (GE) adalah terjadinya
peradangan pada lambung dan usus yang disebabkan oleh bakteri, virus dan parasit yang pathogen
dimana gejala yang umum terjadi adalah diare (bentuk tinja yang encer) dalam frekuensi yang lebih
banyak dari biasanya.
2.2.2 Klasifikasi
Gastroenteritis (diare) dapat di klasifikasi berdasarkan beberapa faktor :
1). Berdasarkan lama waktu :
a. Akut : berlangsung < 5 hari
b. Persisten : berlangsung 15-30 hari
c. Kronik : berlangsung > 30 hari
2). Berdasarkan mekanisme patofisiologik
a. Osmotik, peningkatan osmolaritas intraluminer
b. Sekretorik, peningkatan sekresi cairan dan elektrolit
3). Berdasarkan derajatnya
a. Diare tanpa dehidrasi

b. Diare dengan dehidrasi ringan/sedang


c. Diare dengan dehidrasi berat
4). Berdasarkan penyebab infeksi atau tidak
a. Infektif
b. Non infeksif
5). Berdasarkan penyebab organik atau tidak
a. Organik adalah bila ditemukan penyebab anatomik, bakteriologik, hormonal, atau toksikologik.
b. Fungsional merupakan bila tidak ditemukan penyebab organik.
Klasifikasi dehidrasi
dehidrasi dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa parameter, yaitu :
1. Berdasarkan jumlah cairan tubuh yang hilang dan keadaan klinis pasien, dehidrasi dapat
diklasifikasikan kedalam 3 kelompok yaitu :
a. Dehidrasi ringan (hilang cairan 2-5 % bb)
Gambaran kliniks : torgor kulit sudah mulai berkurang,suara serak, belum jatuh dalam persyok.
b. Dehidrasi sedang (hilang cairan 5-8 %bb)
Gambaran klinis : togor buruk, suara serak, pasien jatuh dalam presyok atau syok,nadi cepat, napas
cepat dan dalam.
c. Dehidrasi berat (hilang cairan 8-10% bb)
Gambaran klinis : kelanjutan dari tanda dehidrasi sedang, kesadaran menurun, otot-otot kaku., dan
sianosis.
2. Berdasarkan bj (berat jenis) plasma
a. Dehidrasi ringan, (bj plasma 1,032 -1,040)
b. Dehidrasi sedang (bj plasma 1,028 -1,032)
c. Dehidrasi berat (bj plasma 1,025 -1,028)
2.2.3 Etiologi
1. Faktor infeksi
a. Infeksi enteral : Infeksi saluran pencernaan makanan yang merupakan penyebab utama diare pada
anak meliputi infeksi enteral sebagai berikut :
1) Infeksi bakteri
2) Infeksi virus
rotavirus,
3) Infeksi parasit

: Vibrio, ecoli, salomonela, shigela, complylobacter, virginia, aeromonas, dll.


: enterovirus (virus echo, loksicicihie, plyomielitis) adenovirus,
aslecovirus, dll.
: cacing (oscaris, trichuris, dxyuris, strongloides) protozoa (eutamoebo

hystolitica, glardia lambia, trichomonashominis) jamur (candida albicaus).


1. Infeksi parenteral : Infeksi diluar alat pencernaan makanan seperti: otitis media akut, tonsilitis,
broncop, pneumonia, ensetalitis, dll. Keadaan ini terutama pada bayi dan anak berumur dibawah
2 th.
2. Faktor malabsorbsi
Malabsorbsi karohidrat : disakarida (intoleransi ketosa, maltosa dan sukrosa) monosakarida
(intoleransi glukosa, fruktosa dan laktosa).
1. Faktor makanan, makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan.
2. Faktor psikologis, rasa takut dan cemas (jarang, tetapi dapat terjadi pada anak yang lebih besar).
(Abdul Latief, 2007)
2.2.4 Patofisiologi
Penyebab gastroenteritis terdiri dari faktor infeksi, faktor malabsorbsi, faktor makanan, dan faktor
psikologis. Pertama, faktor infeksi akan mengalami reaksi inflamasi sehingga terjadi peningkatan
sekresi cairan dan elektrolit yang menyebabkan isi rongga usus meningkat. Kedua, faktor malabsorbsi
makanan di usus menyebabkan tekanan osmotik meningkat dan terjadi pergeseran cairan & elektrolit
ke usus, sehingga juga meneybabkan isi rongga usus meningkat. Ketiga faktor makanan, dimana
faktor makanan disini adlah makanan yang beracun, basi maupun alergi terhadap makanan dimana
hal ini akan menyebabkan gangguan motilitas usus. Keempat, faktor psikologis (cemas atau rasa
takut yag berlebih) yang menyebabkan adanya rangsangan simpatis dan juga terjadi gangguan
motilitas usus. Gangguan motilitas usus terbagi menjadi 2, yaitu hipermotilitas dan hipomotilitas.
Hipermotilitas akan menyebabkan terjadinya peningkatan sekresi air & elektrolit, sedangkan
hipomotilitas akan menyebabkan adanya pertumbuhan bakteri. Terjadinya peningkatan di isi rongga
usus, sekresi air dan elektrolit, serta adanya pertumbuhan bakteri menyebabkan terjadi penyakit
gastroenteritis.
Gastroenteritis memiliki gejala dehidrasi yaitu kehilangan cairan & elektrolit tubuh dimana pada saat
itu terjadi penurunan volume cairan ekstra sel dan juga terjadi penurunan cairan interstesial yang
menyebabkan turgor kulit menurun, maka dalam hal ini timbul masalah yaitunya kekurangan
volume cairan dan cemas pada kliennya. Gejala yang kedua yaitu kerusakan mukosa usus yang
menyebabkan si penderita merasakan nyeri. Gejala yang ketiga adalah sering terjadinya defekasi
yang menyebabkan terjadi resiko kerusakan integritas kulit. Gejala selanjutnya adalah terjadinya
peningkatan eksresi sedangakan asupan nutrisi tidak terpenuhi, pada hal terjadi ketidakseimbangan
nutrisi.
2.2.5 Manifestasi Klinis
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.

Nyeri perut ( abdominal discomfort )


Rasa perih di ulu hati
Mual, kadang-kadang sampai muntah
Nafsu makan berkurang
Rasa lekas kenyang
Perut kembung
Rasa panas di dada dan perut
Regurgitasi ( keluar cairan dari lambung secara tiba-tiba )
Diare
Demam
Membran mukosa mulut dan bibir kering
Lemah

2.2.6 Pemeriksaan Fisik


Pemeriksaan fisik berguna untuk mengetahui data subjektif dari klien. Pada pemeriksaan fisik
abdomen sistem yang sering digunakan adalah inspeksi, auskultasi, palpasi dan perkusi (IAPP) .
Tempatkan klien pada posisi supine. Kontur dan simetrisitas dari abdomen diinspeksi dengan
mengidentifikasi penonjolan lokal, distensi, atau gelombang peristaltik. Auskultasi dilakukan
sebelum perkusi dan palpasi (yang dapat meningkatkan motilitas usus dan dengan demikian
merubah bising usus). Karakter, lokasi dan frekuensi bising usus dicatat. Palpasi digunakan untuk
mengidentifikasi massa abdomen atau area nyeri tekan.
Pada pemeriksaan pada klien gastroenteritis umumnya terdapat:

Turgor kulit menurun, Mata mulai cekung

Asites (+) BB menurun, Bising Usus Meningkat.

Membran mukosa mulut tampak kering

BAK 3-5x/hari, 75 100 cc tiap BAK, warna kuning agak pekat

BAB encer 2-3 kali atau lebih dalam sehari.

Hb 10,6 gr% (N : 11-14 gr%)

Konjungtiva subanemis

Mukosa bibir pucat, agak kering

Klien terlihat letih/ lemah dan pucat

2.2.7 Pemeriksaan Penunjang dan Diagnostik


Pemeriksaan laboratorium yang meliputi :
1. Pemeriksaan Tinja
Makroskopis dan mikroskopis.
pH dan kadar gula dalam tinja dengan kertas lakmus dan tablet dinistest, bila diduga terdapat
intoleransi gula.
Bila diperlukan, lakukan pemeriksaan biakan dan uji resistensi.
1. Pemeriksaan Darah
pH darah dan cadangan dikali dan elektrolit ( Natrium, Kalium, Kalsium, dan Fosfor ) dalam
serum untuk menentukan keseimbangan asama basa.
Kadar ureum dan kreatmin untuk mengetahui faal ginjal.
1. Intubasi Duodenum ( Doudenal Intubation )
Untuk mengatahui jasad renik atau parasit secara kualitatif dan kuantitatif, terutama dilakukan pada
penderita diare kronik.
2.2.8 Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan
1. Medis
1. Pemberian cairan, jenis, cara dan jumlah pemberian cairan

2. Dietetik : pemberian makanan dan minuman khusus pada penderita dengan tujuan
penyembuhan dan menjaga kesehatan adapun hal yang perlu diperhatikan :
1)

Memberikan asi.

2)
Memberikan bahan makanan yang mengandung kalori, protein, vitamin, mineral, dan makanan
yang bersih.
1. Obat-obatan: berikan antibiotic, anti sekresi, dan anti spasmolitik
2. Keperawatan
Penyakit diare walaupun semua tidak menular (misal diare karena faktor malabsorbsi), tetapi perlu
perawatan di kamar yang terpisah dengan perlengkapan cuci tangan untuk mencegah infeksi (selalu
tersedia disinfektan dan air bersih) serta tempat pakaian kotor sendiri. Ini bertujuan untuk
mempercepat penyembuhan.
2.2.9 Komplikasi
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Dehidrasi
Renjatan hipovolemik
Kejang
Bakterimia
Mal nutrisi
Hipoglikemia
Intoleransi sekunder akibat kerusakan mukosa usus.

2.2.10

WOC

2.3

Landasan Teori Asuhan Keperawatan

2.3.1 Pengkajian
A. Identitas Klien
Nama

Umur

Jenis Kelamin

Alamat

Agama

Pekerjaan

Pendidikan

No. RM

Tanggal masuk

Diagnosa medis

1. Keluhan Utama
Biasanya klien sering mengeluhkan Feces semakin cair, muntah, terjadinya dehidrasi, dan berat
badan menurun.
1. Riwayat Kesehatan Sekarang

Biasanya klien masuk rumah sakit dengan keluhan berat badan menurun dari biasanya, nafas cepat,
mudah letih dan sakit kepala. Klien juga tidak mau makan, nyeri dada, cepat kenyang, nyeri
abdomen, mual dan muntah, serta feses yang encer.
1. Riwayat Kesehatan Terdahulu
Biasanaya klien mengatakan pernah mengkonsumsi alkohol dan obat obatan seperti
OAINS/NSAID, Kortikosteroid, Aspirin. Sering jajan disembarang tempat sehingga kebersihannya
tidak terjaga.
1. Riwayat Kesehatan Keluarga
Ada keluarga klien yang menderita penyakit yang sama.
2.3.2 Pengkajian 11 Pola Fungsional Gordon
1. Pola Persepsi Manajemen Kesehatan
Biasanya klien tidak mengetahui penyebab penyakitnya, Kebersihan klien sehari-sehari kurang baik.
1. Pola Nutrisi Metabolik
Biasanya klien tidak mau makan, dan klien mengalami penurunan berat badan.
1. Pola Eliminasi
Biasanya klien BAB lebih dari 4 kali sehari, dan BAK jarang.
1. Pola Latihan dan Aktivitas
Biasanya klien mengalami gangguan aktivitas karena kondisi tubuh yang lemah dan adanya nyeri
akibat distensi abdomen, aktivitas klien dibantu keluarga/ orang lain.
1. Pola Istirahat dan Tidur
Biasanya klien mengalami gangguan istirahat dan tidur karena adanya distensi abdomen yang akan
menimbulkan rasa tidak nyaman.
1. Pola Persepsi dan Kognitif
Biasanya klien masih dapat menerima informasi namun kurang berkonsentrasi karena nyeri pada
abdomennya.
1. Pola Persepsi dan Konsep Diri
Biasanya klien mengalami gangguan konsep diri karena kebutuhan fisiologisnya terganggu sehingga
aktualisasi diri tidak tercapai pada fase sakit.
1. Pola Peran dan Hubungan
Biasanya klien memiliki hubungan yang baik dengan keluarga dan peran klien pada kehidupan
sehari-hari mengalami gangguan (ex: tidak dapat menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga).
1. Pola Seksual Reproduksi
Biasanya klien mengalami gangguan seksual- reproduksi (ex: tidak teraturnya siklus menstruasi).

1. Pola Koping Toleransi Stress


Biasanya klien mengalami kecemasan yang berangsur-angsur dapat menjadi pencetus stress.
1. Pola Nilai & Kepercayaan
Biasanya klien tidak dapat melaksanakan sholat seperti biasanya Karena posisi klien dalam keadaan
tirah baring.
2.3.3 Perumusan Diagnosa (NANDA), Perumusan Kriteria Hasil (NOC), dan Perumusan Intervensi
Keperawatan (NIC)

NANDA

NOC

NIC

Kekurangan volume
cairan berhubungan
dengan kehilangan
volume cairan aktif.

Keseimbangan cairan

Manajemen cairan

Indicator

Aktivitas

Fungsi eliminasi
normal

Monitor
keseimbangan cairan

Keseimbangan intake
dan output cairan

Mencegah
komplikasi akibat kadar
cairan yang abnormal

Defenisi: keadaan
individu yang mengalami
penurunan cairan
intravaskuler, interstisial,
dan / atau cairan intrasel.
Diagnosis ini merujuk ke
dehidrasi yang
merupakan kehilangan
cairan saja tanpa
perubahan dalam
natrium.

TTV normal

Hidrasi
Indicator

Tidak ada tanda-tanda


dehidrasi

Keseimbangan intake
dan ouput cairan

TTV normal

Monitor TTV

Terapi Intravena

Periksa order
untuk terapi intravena

Jelaskan prosedur
kepada pasien

Pilih dan siapkan


intravena infusion pump
sesuai indikasi

Monitor TTV

Ketidakseimbangan
nutrisi: kurang dari
kebutuhan tubuh
berhubungan dengan
ketidakmampuan
mengabsorbsi makanan.
Defenisi: asupan nutrisi
tidak mencukupi untuk
memenuhi kebutuhan
metabolic.

Status nutrisi: asupan


makanan dan cairan
Indicator:

Mampu makan secara


normal (oral)

Mampu minum secara


normal

Tidak terjadi
penurunan badan yang berarti

TTV normal

Monitoring cairan
Aktivitas:

Monitor intake dan


output cairan

Monitor berat
badan

Kaji tentang
riwayat jumlah dan tipe
intake cairan dan pola
eliminasi

Monitor TTV

Nyeri akut berhubungan


dengan agen injuri.
Defenisi: pengalaman
emosional dan sensori
yang tidak
menyenangkan yang
muncul dari kerusakan
jaringan secara aktual dan
potensial atau
menunjukkan kerusakan.
Serangan mendadak atau
perlahan dari intensitas
ringan sampai berat yang
diantisipasi atau
diprediksi, durasi nyeri
kurang dari 6 bulan.

Control nyeri

Manajemen nyeri

Indicator:

Aktivitas:

Mengenali factor
penyebab

Lakukan
pengkajian nyeri secara
komperhensif termasuk
lokasi, karakteristik,
durasi, frekuensi, kualitas,
dan factor presipitasi

Adanya perubahan
nyeri
Level nyeri
Indicator:

Nyeri berkurang

Tingkatkan
istirahat

Pola istirahat cukup


adekuat

Evaluasi
pengalaman nyeri masa
lampau

Ekspresi wajah saat


nyeri normal

Berikan analgetik
untuk mengurangi nyeri
Analgesic administarton
Aktivitas:

Tentukan lokasi,
karakteristik, kualitas, dan
derajat nyeri sebelum
pemberian obat

Cek orderan
tentang jens obat, dosis,
dan frekuensi

Cek riwayat alergi

Monitor TTV
sebelum dan sesudah
pemebrian analgesic

Resiko kerusakan
integritas kulit
berhubugan dengan
eksresi.

Integritas jaringan:
membrane kulit dan mukosa

Defenisi: perubahan yang


beresiko untuk kulit
menjadi buruk.

Indicator:
Tidak ada lesi

Tidak ada tanda dan


gejala infeksi

Monitoring elektrolit
Aktivitas:

Monitor
keseimbangan asam basa

Monitor kehilangan
cairan/elektrolit

Sediakan diet yang


sesuia dengan
ketidakseimbangan cairan

Monitor TTV

Manajemen elektrolit
Aktivitas:

hari

Timbang BB tiap

Pertahankan intake
yang akurat

Berikan terapi IV

Pantau TTV

Cemas berhubungan
dengan stress
Defenisi: perasaan gelisah
yang tak jelas dari
ketidaknyamanan atau
kegiatan yang disertai
respon autonom (sumber
tidak spesifik atau tidak
diketahui oleh individu),
perasaan keperihatinan
disebabkan dari antisipasi
terhadap bahaya.

Control cemas

Penurunan kecemasan

Indicator:

Aktivitas:

Tidak ada tanda


kecemasan

Melaporkan tidak
adanya gangguan persepsi
sensori

Tidak ada manifestasi


perilaku kecemasan

TTV normal

Koping

Menunjukkan
fleksibilitas peran

Melibatkan keluarga
dalam membuat keputusan

Peduli terhadap
kebutuhan keluarga

Tenangkan klien

Berusaha
memahami keadaan klien

Sediakan aktivitas
untuk menurunkan
ketegangan

Berikan
pengobatan untuk
menurunkan cemas
dengan cara yang tepat

Monitor TTV

Peningkatan koping
Aktivitas:

Hargai
pemahaman pasien
tentang proses penyakit

Tentukan
kemampuan klien untuk
mengambil keputusan.

2.3.4 Evaluasi
1. Volume cairan dan elektrolit kembali normal sesuai kebutuhan.
2. Kebutuhan nutrisi terpenuhi sesuai kebutuhan tubuh.
3. Integritas kulit kembali normal.
4. Nyeri tidak lagi dirasakan.
BAB III
PENUTUP
3.1

Kesimpulan

Gastroenteritis (biasa disebut diare) adalah peradangan pada lambung dan usus yang disebabkan
oleh bakteri, virus dan parasit yang pathogen dimana gejala yang umum terjadi adalah diare (bentuk
tinja yang encer) dalam frekuensi yang lebih banyak dari biasanya. Gastroenteritis dapat menyerang
semua usia. Masalah keperawatan yang sering terjadi pada penderita gastroenteritis adalah
kekurangan volume cairan, nyeri akut, resiko kerusakana integritas kulit, san ketidakseimbangan
nutrisi: kurangan dari kebutuhan tubuh.

3.2

Saran

Dengan adanya makalah ini penulis berharap agar masalah kesehatan khususnya gastroenteritis
teratasi dengan baik, pola hidup sehat bisa lebih diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dan
semoga makalah ini bermanfaat, dapat menambah ilmu pengetahuan bagi pembaca dan khususnya
penulis sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Butcher, Howard. dkk. 2008. Nursing Intervention Classification (NIC): Fifth Edition. Miscourt: Mosby
Elsevier.
Heardman, Heather. 2009. Nuring Diagnosis: Definition & Classification. United Kingdom: Markono
Print Media.
http://nursingbegin.com/asuhan-keperawatan-pada-klien-dengan-gastroenteritis/
(http://nursingbegin.com/asuhan-keperawatan-pada-klien-dengan-gastroenteritis/), diakses pada
tanggal 18 januari 2013.
http://seputarsehat.com/asuhan-keperawatan-gastroenteritis (http://seputarsehat.com/asuhankeperawatan-gastroenteritis), diakses pada tanggal 18 januari 2013.
Muttaqin, Arif. 2010. Pengkajian Keperawatan (Aplikasi Pada Praktek Klinis). Jakarta: Salemba Medika.
Swanson, Elizabeth. dkk. 2008. Nursing Outcome Classification (NOC). Fourth Edition. Missouri: Mosby
Elsevier.
Syaifuddin. 2006. Anatomi Fisiologi Untuk Mahasiswa Keperawatan. Edisi 3. Jakarta: EGC.
Williams & Wilkins. 2008. Nursing: Memahami Berbagai Macam Penyakit. Jakarta Barat: Indeks.
Tentang iklan-iklan ini (https://wordpress.com/about-these-ads/)

MAKALAH
BLOG DI WORDPRESS.COM.