Anda di halaman 1dari 6

TUGAS

PENGELOLAAN LIMBAH

INTERELASI FAKTOR-FAKTOR BIOTIK DAN ABIOTIK DALAM


MEMPENGARUHI PENCEMARAN LINGKUNGAN DAN DAYA
DUKUNG LINGKUNGAN

OLEH :
RANSI PASAE
P0302215007

PROGRAM STUDI PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP


UNIVERSITAS HASANUDDIN

INTERELASI FAKTOR-FAKTOR BIOTIK DAN ABIOTIK DALAM MEMPENGARUHI


PENCEMARAN LINGKUNGAN DAN DAYA DUKUNG LINGKUNGAN

Komponen Lingkungan Hidup


Secara umum, unsur dari lingkungan hidup dibedakan menjadi dua, dantaranya yaitu
lingkungan biotik dan abiotik.
1. Lingkungan Biotik
Lingkungan biotik atau lingkungan organik merupakan penghuni lingkungan yang berupa
mikroorganisme seperti virus, bakteri, hewan, tumbuhan dan manusia. Secara khusus, jenis
lingkungan biotik diklasifikasi menjadi

Produsen, yang menjadi produsen disini adalah tumbuhan karena tumbuhan


bertugas untuk memproduksi dan membuat makanan untuk dirinya sendiri dan
makhluk hidup lainnya.

Konsumen, yang menjadi konsumen disini ialah hewan dan manusia

Pengurai, tentunya yang menjadi pengurai yaitu mikroorganisme yang bertugas


untuk merombak dan menghancurkan sisa-sisa dari organisme yang telah mati, yang
termasuk dalam organisme pengurai adalah bakteri, jamur, dan cacing tanah.

2. Lingkungan Abiotik
Lingkungan abiotik adalah benda-benda mati (unsur anorganik) yang berada disekitar
lingkungan hidup seperti batu, air, tanah, mineral dan udara.
Dari sudut pandang ekologi manusia, yaitu ilmu yang menganalisis dan mempelajari
hubungan timbal balik (interaksi dan interelasi) antara manusia dan lingkungannya, unsur
dari lingkungan hidup itu dibedakan menjadi tiga kelompok utama yaitu yaitu lingkungan
alam (lingkungan fisik), budaya dan sosial

Lingkungan alam merupakan kondisi alamiah mengenai suatu wilayah yang meliputi
kondisi iklim, fisiografi, tanah dan batuan.

Lingkungan budaya adalah benda-benda yang merupakan hasil dari karya manusia,
seperti karya seni, bangunan, tata kelembagaan sosial dan sistem kepercayaan.

Lingkungan sosial merupakan manusia dengan segala karakternya melakukan


aktivitas, baik secara individu, maupun sebagai makhluk sosial,

Interaksi antara komponen biotik dengan abiotik membentuk ekosistem. Hubungan antara
organisme dengan lingkungannya menyebabkan terjadinya aliran energi dalam sistem itu.
Selain aliran energi, di dalam ekosistem terdapat juga struktur atau tingkat trofik,
keanekaragaman biotik, serta siklus materi. Dengan adanya interaksi-interaksi tersebut,
suatu ekosistem dapat mempertahankan keseimbangannya. Pengaturan untuk menjamin
terjadinya keseimbangan ini merupakan ciri khas suatu ekosistem. Apabila keseimbangan ini
tidak diperoleh maka akan mendorong terjadinya dinamika perubahan ekosistem untuk
mencapai keseimbangan baru
Hubungan
Ruang lingkup faktor abiotik dan biotik membentang di seluruh biosfer, atau jumlah
global semua ekosistem. Faktor-faktor tersebut dapat memiliki relevansi bagi seorang
individu dalam suatu spesies, komunitas atau seluruh penduduk. Misalnya, penyakit adalah
faktor biotik yang mempengaruhi kelangsungan hidup individu dan masyarakat. Suhu
merupakan faktor abiotik dengan relevansi yang sama.
Beberapa faktor memiliki relevansi yang lebih besar untuk seluruh ekosistem. Faktor
abiotik dan biotik bergabung untuk menciptakan sistem atau, lebih tepatnya, sebuah
ekosistem, yang berarti sebuah komunitas hidup dan tak hidup yang dipertimbangkan
sebagai satu unit. Dalam hal ini, faktor-faktor abiotik berkisar dari pH tanah dan air, jenis
nutrisi yang tersedia dan bahkan panjang hari. Faktor biotik seperti adanya autotrof atau
organisme sebagai nutrisi seperti tanaman, dan keragaman konsumen juga mempengaruhi
seluruh ekosistem.
Ekosistem disusun oleh komponen biotik dan abiotik. Kedua komponen ini saling
berinteraksi dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan kestabilan ekosistem. Pada
lingkungan yang seimbang akan terbentuk suatu ekosistem yang stabil. Seperti lingkungan ,
ekosistem merupakan suatu sistem yang dinamis. Aktivitas dan interaksi antarkomponen
ekosistem memungkinkan proses kehidulan terus berlangsung dan berkesinambungan.
Pengontrolan terhadap populasi setiap komponen biotik dalam ekosistem menjaga
kestabilan ekosistem. Walaupun demikian, dalam suatu ekosistem akan senantiasi terjadi
fluktuasi populasi komponen biotik secara teratur. Proses ini akan berlangsung selama
lingkungan dalam keadaan seimbang. Pada lingkungan yang seimbang, tidak akan terjadi
peningkatan atau penurunan populasi komponen biotik tertentu secara mencolok.
Selain interaksi antarkomponen biotik, juga terdapat interaksi lain, yaitu interaksi
antara komponen biotik dengan komponen abiotik. Keseimbangan lingkungan akan tercipta
bila

interaksi

antara

berkesinambungan.

komponen

biotik

dengan

abiotik

berjalan

sesuai

dan

Faktor-faktor lingkungan, seperti suhu, air, intensitas cahaya, kelembaban, dan


salinitas dapat menjadi faktor penentu persebaran organisme di muka bumi. Setiap jenis
organisme memiliki kisaran toleransi terhadap berbagai faktor lingkungan. Akibatnya. Ada
jenis-jenis organisme tertentu yang hanya mampu menempati lingkungan dengan kondisi
tertentu pula. Apabila faktor-faktor lingkungan mengalami fluktuasi yang demikian drastis,
populasi organisme yang ada pada lingkungan tersebut pun akan terpengaruh. Perubahan
kondisi lingkungan juga dalat mengancam keseimbangan lingkungan
Pengaruh
Faktor abiotik mempengaruhi kemampuan organisme untuk bertahan hidup dan
bereproduksi. Faktor pembatas abiotik membatasi pertumbuhan populasi. Mereka
membantu menentukan jenis dan jumlah organisme yang ada dalam lingkungan.
Faktor biotik adalah hal-hal yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi
organisme dalam lingkungan hidup. Ini termasuk organisme itu sendiri, organisme lain,
interaksi antara organisme hidup dan bahkan limbah mereka. Faktor biotik lainnya termasuk
parasitisme, penyakit, dan predasi (tindakan salah satu makan hewan lain).
Contoh interaksi
Pentingnya faktor abiotik dan biotik datang dalam berinteraksi antara satu sama lain.
Pada komunitas atau ekosistem untuk bertahan hidup, interaksi yang benar harus berada di
tempat.
Contoh sederhana adalah interaksi abiotik pada tanaman. Air, sinar matahari dan
karbon dioksida yang diperlukan tanaman untuk tumbuh. Interaksi biotik adalah bahwa
tanaman menggunakan air, sinar matahari dan karbon dioksida untuk membuat makanan
sendiri melalui proses yang disebut fotosintesis.
Pada skala yang lebih besar, interaksi abiotik dapat dilihat pada pola seperti iklim dan
musim. Faktor-faktor seperti suhu, kelembaban dan ada atau tidak adanya musim
mempengaruhi ekosistem. Misalnya, beberapa ekosistem mengalami musim dingin dengan
banyak salju. Hewan seperti rubah dalam ekosistem ini menyesuaikan dengan faktor-faktor
abiotik dengan menumbuhkan mantel berwarna putih tebal di musim dingin.
Dekomposer seperti bakteri dan jamur adalah contoh interaksi biotik pada skala
tertentu. Pengurai berfungsi pengurai organisme mati. Proses ini mengembalikan komponen
dasar dari organisme ke dalam tanah, yang memungkinkan mereka untuk digunakan kembali
dalam ekosistem itu.
Dibandingkan dengan komponen biotik lainnya, manusia merupakan jenis organisme
yang memiliki pengaruh yang kuat di bumi ini. Dengan kemampuan untuk mengembangkan

ilmu dan teknologi, manusia memiliki pengaruh besar dalam memanipulasi ekosistem.
Menyebabkan populasi manusia meningkat dengan cepat.
Meningkatnya populasi manusia, juga meningkatkan ancaman terhadap keseimbangan
lingkungan. Sikap manusia memberantas hama dengan bahan kimia, mengubah berbagai
ekosisten alami menjadi ekosistem buatan, memberikan dampak negatif pada ekosistem.
1. Fragmentasi dan Degradasi Habitat
Meningkatnya populasi penduduk dunia menyebabkan semakin banyak lahan yang
dibutuhkan untuk mendukung kesejahteraan manusia, seperti lahan untuk pertanian, tempat
tinggal, industri, dan lain sebagainya, penggunaan lahan yang tidak memperhatikan efek
ekologis dapat menyebabkan rusaknya atau berkurangnya habitat alami bagi organisme di
lahan tersebut. Fragmentasi dan degradasi habitat menyebabkan munculnya masalah lain
seperti kematian organisme karena hilangnya sumber makanan dan tempat tinggal dan
menurunnya keanekaragaman spesies pada habitat tersebut.
2. Terganggunya Aliran Energi di Dalam Ekosistem
Ekosistem alami yang dirusak dan diubah menjadi ekosistem buatan dapat
menyebabkan terjadinya perubahan aliran energi dalam ekosistem tersebut. Contohnya,
ketika proses penebangan atau pembakaran hutan selesai, maka kawasan hutan kemudian
ditanami dengan satu jenis tumbuhan (sistem monokultur). Hal tersebut menyebabkan
aliran energi yang semula bersifat kompleks, yaitu antara berbagai jenis produsen (pohonpohon besar dan kecil), konsumen (berbagai macam hewan), detritivora (jamur, bakteri, dan
sebagainya), menjadi aliran energi yang lebih sederhana, yaitu satu jenis produsen
(contohnya padi), beberapa konsumen, dan detritivor.
3.Resistensi Beberapa Spesies Merugikan
Penggunaan pestisida dan antibiotik

secara berlebihan untuk membunuh populasi

organisme yang merugikan (hama atau patogen) dapat menyebabkan munculnya populasi
organisme yang kebal terhadap pestisida dan antibiotik tersebut. Hama yang tidak atau
kurang sensitif (kebal) terhadap pestisida jenis tertentu dapat bertahan dari penggunaan
Pestisida tersebut. Pada akhirnya, populasi hama yang bertahan hidup dan mampu
berkembang biak merupakan hama yang kebal (resisten) terhadap pestisida jenis tersebut.
Demikian juga adanya jika antibiotik digunakan secara berlebihan, yaitu dalam dosis
yang terlalu tinggi atau frekuensi yang terlalu sering. Populasi spesies patogen yang dapat
bertahan dari dosis antibiotik tersebut berkembang biak menghasilkan populasi spesies

patogen yang kebal. Sehingga penggunaan antibiotik dalam dosis yang sama sudah tidak
membunuh populasi spesies patogen yang terbentuk.
Daya Dukung Lingkungan
Kemampuan untuk mendukung kelangsungan hidup makhluk hidup di dalamnya yang
disebut daya dukung lingkungan. Lingkungan juga memiliki kemampuan untuk
mengembalikan kondisi lingkungan ke keadaan seimbang ketika lingkungan mendapat
gangguan atau kerusakan sampai batas tertentu yang disebut daya dukung lingkungan.
Lingkungan mengacu kepada segala sesuatu yang menggelilingi suatu organisme dan
memengarui cara hidup organisme tersebut. Keseimbangan lingkungan dapat diartikan
sebagai kemampuan lingkungan untuk mengatasi tekanan dari alam maupun dari aktivitas
manusia,serta kemampuan lingkungan dalam menjaga kestabilan kehidupan di dalam
keseimbangan lingkungan dapat tercapai ketika interaksi antara organisme dengan faktor
lingkungan dan interaksi antarkomponen dalam suatu lingkungan dapat berjalan dengan
proporsional.