Anda di halaman 1dari 8

TUGAS ANALISIS LAPORAN

KEUANGAN
KASUS KRISIS AMERIKA 2008

OLEH
NAMA

: DIAN ASTUTI

NIM

: A1C014027

KELAS
PAGI

: A AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS M

Krisis Amerika 2008


1. Sebab
Krisis ekonomi global 2008 bermula pada krisis Subprime Mortgage
(pemberian kredit yang sangat ekspansif) di Amerika Serikat sehingga
menyebabkan lembaga keuangan dan penjamin simpanan mengalami kerugian
dan memberikan efek domino ke berbagai negara di dunia, khususnya negaranegara yang perekonomiannya memiliki keterkaitan dengan perekonomian
Amerika.
KPR Subprime adalah sebuah kredit perumahan yang diperuntukkan
bagi masyarakat Amerika Serikat (AS) yang memiliki kemampuan finansial
yang kurang memadai (non bankable).
Dipicu oleh perubahan arah kebijakan moneter AS yang mulai berubah
menjadi ketat memasuki pertengahan 2004, tren peningkatan suku bunga
mulai terjadi dan terus berlangsung sampai dengan 2006. Kondisi ini pada
akhirnya memberi pukulan berat pada pasar perumahan AS, yang ditandai
dengan banyaknya debitur yang mengalami gagal bayar. Bank Federal
Amerika (The Fed) menaikkan suku bunga, Subprime Mortgage mengalami
kemacetan. Banyak pemilik rumah yang menyerah karena tidak mampu
membayar cicilan utang dikarenakan meningkatnya bunga kredit dan sehingga
menyerahkan rumahnya untuk disita oleh bank. Kondisi ini terjadi tidak pada
satu atau dua pemilik rumah, tetapi pada banyak pemilik rumah dengan
Subprime Mortgage. Pasar perumahan menjadi oversupply, serta bad debt
ratio yang tinggi. Hal ini memberikan dampak yang buruk bagi sektor properti
di Amerika Serikat. Tidak hanya menyerang sektor properti, namun akibat
kredit macet ini juga merupakan awal dari krisis ekonomi di Amerika Serikat.
Kredit perumahan yang awalnya berjalan baik karena ditujukan
kepada nasabah prima akhirnya meluas kepada nasabah-nasabah yang tidak
layak, Nasabah yang pernah dilanda kredit macet memperoleh kembali kredit
baru. Selain itu, banyak kredit yang diberikan dengan uang muka yang sangat

rendah atau bahkan tanpa uang muka sama sekali. Banyak pula kredit yang
hanya mempersyaratkan pembayaran bunga (interest only) sehingga banyak
sekali nasabah-nasabah baru termasuk di dalamnya nasabah yang tidak layak
yang ditandai dengan kemacetan dalam pembayaran angsuran kredit oleh
nasabah-nasabah yang tidak layak tersebut, dari sini bank mulai hati-hati
menyalurkan kredit. Dampaknya, kehati-hatian bank tersebut menyebabkan
harga rumah berhenti naik, bahkan mulai turun. Penurunan harga itu
menyebabkan nasabah kredit pemilikan rumah mulai berpikir untuk
meneruskan cicilan. Akhirnya, kredit macet pun membesar. Jadilah problem
kemacetan kredit subprime menggelinding seperti bola salju yang akhirnya
berdampak luas terhadap perekonomian Amerika.
2. Dampak Krisis Ekonomi Amerika Terhadap Amerika dan Dunia
Krisis keuangan yang bermula di Amerika Serikat menimbulkan
goncangan ekonomi, sosial dan politik. Terjadi keruntuhan perusahaanperusahaan besar, peningkatan jumlah pengangguran, perlambatan
pertumbuhan ekonomi tidak hanya terjadi di Amerika tetapi juga di beberapa
negara. Perwujudan dari penyebaran krisis itu sendiri bermacam-macam dan
tergantung pada keadaan perekonomian domestik negara yang terkena
imbasnya.Penurunan atau perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia, selain
menyebabkan volume perdagangan global pada tahun 2009 merosot tajam,
juga akan berdampak pada banyaknya industri besar yang terancam bangkrut,
terjadinya penurunan kapasitas produksi, dan terjadinya lonjakan jumlah
pengangguran dunia.
Dampak krisis yang menyebar melalui jalur perdagangan ke negaranegara berkembang, walaupun lebih merupakan dampak kelanjutan
(contagion effect) dari krisis subprime mortgage, karena tidak semua negaranegara kawasan tersebut yang memiliki hubungan secara langsung dengan

aset-aset yang berbasis mortgage, namun dampaknya nyata dan dapat


mengganggu kinerja perekonomian riil.
Sektor finansial tergoncang, tidak hanya sampai di situ, dampak krisis
keuangan semakin berimbas ke sektor riil, seperti tercermin dari
meningkatnya pengangguran serta menurunnya angka penjualan di Amerika
Serikat dan di berbagai negara di Eropa. Pada Desember 2008 tercatat angka
pengangguran di Amerika Serikat sebagai angka tertinggi dalam 16 tahun
terakhir. Tingkat pengangguran merupakan salah satu indikator yang diyakini
dari adanya sebuah resesi.
Dalam dinamika ekonomi semua negara di dunia yang saat ini makin
mengglobal, tampak kecenderungan universal, manakala terjadi gejolak di
sebuah kawasan suatu negara, akan menimbulkan dampak kehidupan tata
perekonomian nasional pada negara-negara seluruh dunia (seperti yang terjadi
di Amerika Serikat).
Pergeseran nilai-nilai ekonomi dunia yang mengancam ke arah resesi
diperkirakan akan mempengaruhi kondisi perekonomian nasional pada semua
negara di dunia yang melakukan perdagangan internasional. Inilah resesi yang
belakangan ini menjadi wacana masyarakat internasional, semenjak
merebaknya isu perlambatan ekonomi Amerika Serikat.

3. Dampak Krisis Terhadap Perekonomian Indonesia


Krisis finansial global dan lumpuhnya sistem perbankan global yang
berlarut akan berdampak sangat negatif terhadap Indonesia, karena
pembiayaan kegiatan investasi di Indonesia (baik oleh pengusaha dalam
maupun luar negeri) akan terus menciut, penyerapan tenaga kerja melambat
dan akibatnya daya beli masyarakat turun, yang akhirnya akan menurunkan
pertumbuhan ekonomi.

Dampak krisis moneter di Amerika Serikat yang menyebabkan krisis


global yang berdampak terhadap perekonomian Indonesia tidak hanya pada
melemahnya nilai tukar Rupiah, namun juga pada berbagai sector lain yang
lebih rumit yaitu sector perbankan dan properti.
Pada krisis 2007 ini, sebenarnya Indonesia tidak terlalu terpengaruh.
Karena krisis pasar modal (saham dan surat utang) global pada dasarnya
hanya memengaruhi investor pasar modal. Tetapi krisis perbankan global bisa
mempengaruhi sektor riil ekonomi dunia, termasuk Indonesia.
Inti cerita yang terjadi adalah sektor perbankan AS sedang terpuruk,
kekurangan modal, dan enggan meminjamkan dolarnya, termasuk ke bankbank internasional di Eropa dan Asia. Akibatnya, perbankan internasional
kekurangan dolar untuk memberi pinjaman ke para pengusaha dunia yang
membutuhkan dolar untuk investasinya (untuk impor mesin, bahan baku, dan
sebagainya), termasuk di Indonesia. Sampai dengan saat ini dolar merupakan
mata uang yang dijadikan patokan di berbagai belahan di dunia.
Dampak nyata yang mungkin dirasakan dari imbas krisis ini terjadi
pada sector riil adalah mundurnya kegiatan perdagangan dengan negaranegara yang terkena dampak yang cukup parah dari kejadian ini. Krisis
keuangan yang terjadi di Amerika dan akhirnya menjalar sampai ke Eropa,
akan secara langsung menurunkan tingkat konsumsi di Negara-negara
tersebut. Sedangkan Indonesia juga menjalin kerjasama dalam bidang
perdagangan dengan negara-negara tersebut. Dengan hal seperti ini, sudah
barang tentu, permintaan ekspor barang-barang ke luar negeria akan
berkurang.
Menurut Chatib Basri (dalam Majalah Tempo, 26 Oktober 2008, hal
116-117) dampak krisis finansial yang bermula di AS mungkin agak lebih

lambat dan kecil pengaruhnya pada ekonomi Indonesia, karena adanya


integrasi jaringan produksi (production network) dimana negara-negara di
Asia Tenggara banyak mengekspor bahan mentah dan barang antara ke pusatpusat jaringan produksi seperti Cina, Korea dan Jepang. Walaupun demikian,
karena konsumen akhir dari barang jadi itu juga negara-negara maju, cepat
atau lambat Indonesia akan terkena dampak juga.
Momentum yang harus dijaga oleh pemerintah adalah meningkatkan
produksi untuk konsumsi dalam negeri yang masih merupakan pasar yang
besar bagi pertumbuhan ekonomi karena faktor jumlah penduduk Indonesia
yang besar. Di dalam hal ini jangan sampai hasil industri kita justru tidak laku
di pasar dalam negeri karena kalah bersaing dengan barang-barang murah dari
China atau Vietnam yang masuk ke Indonesia secara illegal melalui
pelabuhan-pelabuhan tidak resmi. Instansi pemerintah seperti Departemen
Pedagangan dan Departemen Keuangan atau Bea Cukai perlu mencermati
juga lonjakan import 10-15 persen untuk BBM, elektronik, pelumas dan besi
baja dari China.
Di masa krisis ini di samping kebijakan di bidang moneter dan
perdagangan yang perlu merespon dengan tepat, masyarakat Indonesia juga
harus bisa memanfaatkan momentum untuk memaksimalkan produksi yang
berbasis pada bahan baku dalam negeri, mencintai dan bangga dengan produk
nasionalnya.
Dengan pengaturan yang baik dan stimulus yang tepat Indonesia
terbukti dapat bertahan di masa krisis yang hampir menenggelamkan negaranegara besar dan berkuasa. Hal ini disebabkan oleh fundamental ekonomi
yang lebih baik saat ini, disamping kesiapan pemerintah dan Bank Indonesia
sendiri dalam menanggapi krisis tersebut yang ditunjukkan oleh

komprehensifnya kebijakan yang diambil. Sektor perbankan diperkirakan


akan lebih tahan menghadapi krisis saat ini karena dari sisi internal, yaitu
permodalan dan prudensialitas operasional, jauh lebih baik dibandingkan
krisis 1998.

4. Kesimpulan
Krisis Amerika 2008 disebabkan oleh krisis Subprime Mortgage
(pemberian kredit yang sangat ekspansif) di Amerika Serikat. Karena adanya
perubahan arah kebijakan moneter AS yang mulai berubah menjadi ketat yaitu
peningkatan tingkat suku bunga, maka menyebabkan ketidakmampuan para
kreditor perumahan untuk membayar kreditnya. Hal ini berimbas pada
kebangkrutan perusahaan properti yang ditandai dengan jatuhnya harga saham
di Wall Street. Koreksi besar-besaran di Wall Street kemudian mempengaruhi
alur permodalan pasar saham di hampir seluruh dunia.
Krisis Amerika 2008 berdampak tidak hanya terhadap Amerika saja
tetapi terhadap dunia, seperti menimbulkan goncangan ekonomi, sosial dan
politik. Terjadi keruntuhan perusahaan-perusahaan besar, peningkatan jumlah
pengangguran, perlambatan pertumbuhan ekonomi tidak hanya terjadi di
Amerika tetapi juga di beberapa Negara. Amerika mengalami peningkatan
pengangguran serta menurunnya angka penjualan di Amerika Serikat dan di
berbagai negara di Eropa.
Krisis Amerika 2008 juga berdampak terhadap Indonesia, namun tidak
terlalu berpengaruh atas krisis pasar modal (saham dan surat utang) global
pada dasarnya hanya memengaruhi investor pasar modal dan karena adanya
integrasi jaringan produksi (production network) dimana negara-negara di
Asia Tenggara banyak mengekspor bahan mentah dan barang antara ke pusatpusat jaringan produksi seperti Cina, Korea dan Jepang. Walaupun demikian,

karena konsumen akhir dari barang jadi itu juga negara-negara maju, cepat
atau lambat Indonesia akan terkena dampak juga.
Krisis yang terjadi di Amerika 2008 ini menyebabkan krisis global
yang berdampak terhadap perekonomian Indonesia tidak hanya pada
melemahnya nilai tukar Rupiah, namun juga pada berbagai sector perbankan
dan properti. Dalam bidang perbankan yaitu karena Amerika enggan
meminjamkan dolarnya, sehingga perbankan internasional kekurangan dolar
untuk memberi pinjaman ke para pengusaha dunia yang membutuhkan dolar
untuk investasinya (untuk impor mesin, bahan baku, dan sebagainya),
termasuk di Indonesia. Selain itu juga berdampak terhadap berkurangnya
permintaan ekspor barang-barang ke luar negeri.